August 30, 2012

Sebuah Cerita Tentang Hijab

Beberapa waktu lalu saya sempat bertemu dengan dua teman lama. Pertemuan saya yang pertama ditemani dengan salah seorang sahabat lama yang bisa dikatakan belum lama menggunakan hijab. Dari berbagai obrolan kami, akhirnya ia melontarkan satu pertanyaan."Zu, lo sampe sekarang masih ada kepikiran buat buka jilbab engga?". Saat itu saya cuma tersenyum sebelum memberikan jawaban.
Hampir sebulan setelahnya, saya bertemu dengan salah satu sahabat saya yang saya kenal dari waktu dan tempat yang berbeda dari sahabat saya yang sebelumnya. Dari berbagai topik obrolan yang kami bicarakan, ada satu pertanyaan yang ia berikan"Zu, lo nanti kalo udah di Inggris bakalan buka jilbab engga?" Dan kali ini saya bukan hanya tersenyum... tetapi tertawa.

Sangat mudah sebenarnya menjawab pertanyaan yang sudah familiar di telinga saya, yang sudah dilontarkan dari berbagai mulut yang berbeda. Sulit adalah ketika harus meyakinkan orang lain tentang sesuatu hal yang saya sendiri aja baru bisa meyakini diri saya setelah beberapa tahun menjalaninya. Jadi engga salah sih kalau masih banyak orang yang mempertanyakan keteguhan saya dalam memakai hijab ini hehehe. Sebelum diberikan pertanyaan - pertanyaan tersebut, sejujurnya engga pernah terlintas lagi untuk membuka hijab, sekalipun nanti ketika saya tinggal di negara yang mayoritas penduduknya bukan Muslim.
Memang, engga ada satupun dari kita yang tau apa yang disimpan oleh masa depan, tapi saat ini saya bisa mengatakan bahwa tampaknya keputusan untuk membuka hijab akan menjadi sebuah keputusan terbodoh yang bisa saya buat dalam hidup saya. Setelah bertahun - tahun berjuang mempertahankannya, saat ini hijab bukan hanya sebagai sebuah kewajiban, tetapi menjadi bagian dari diri saya.

Dan untuk mencapai tahap tersebut bisa dibilang sangat jauh dari mudah.

--------------------------------------------------------

Berawal dari sepuluh tahun yang lalu, saat saya masih duduk di kelas 1 SMP. Saat itu seperti biasanya, setelah les matematika dengan guru private saya, kami melakukan ritual yang hampir selalu kami lakukan seusai les, yaitu sholat ashar berjamaah dilanjutkan dengan obrolan ringan seputar agama. Biasanya sih obrolannya mulai dari saling mengingatkan apa aja hal buruk yang seringkali terlupakan, cerita tentang para nabi, atau cerita hal lainnya yang intinya mengingatkan saya tentang norma - norma dalam agama Islam. Hari itu, topik yang diangkat oleh ibu guru adalah tentang kewajiban untuk menutup aurat bagi perempuan. Engga usah dibahas lebih dalam lah yaa disini tentang apa aja kewajiban kita sebagai perempuan untuk menutup aurat. Intinya, dari pembicaraan itulah saya benar - benar bertekad jika nanti saya sudah baligh (baca : menstruasi), saya akan langsung menggunakan hijab.

Engga lama sejak pembicaraan kami di sore itu, akhirnya sampailah waktu dimana saya sudah dinyatakan baligh. Setelah membicarakan dengan orang tua dan meyakinkan diri saya kembali, akhirnya beberapa minggu kemudian saya pun sudah menutup aurat sebagaimana yang diajarkan dalam Islam. Bisa dibilang awal saya memakai hijab ini engga berjalan semudah yang saya bayangkan. Tekanan sempat terasa dari berbagai pihak. Mulai dari orang tua saya yang sempat meragukan keputusan saya dan khawatir jika suatu saat saya akan membuka kembali hijab saya dikarenakan usia saya yang pada saat mengambil keputusan tersebut masih sangat muda, yaitu sekitar 11 tahun. Bukan hanya itu, tekanan juga terasa dari teman - teman saya. Ada beberapa dari mereka yang mulai menjauh karena saya menggunakan hijab, bahkan ada yang bilang kalau saya sok suci. Sempat sakit hati sih dikiiittt hahaa. Tapi mungkin karena saat itu saya benar - benar udah yakin dan keputusan memakai hijab juga sepenuhnya dari diri saya, jadi apapun pendapat orang saat itu saya terima dengan "masuk telinga kanan keluar telinga kiri" ajaa hehe.

Setelah melewati masa transisi dari sebelum ke setelah memakai hijab, dua tahun setelahnya saya lalui dengan baik. Walaupun terkadang saat melihat teman - teman saya lainnya yang belum memakai hijab, masih terlintas di pikiran saya bahwa mungkin dengan engga memakai hijab bisa lebih menyenangkan dan bebas berekspresi. Tetapi dengan cukup banyaknya teman saya yang menggunakan hijab dan sempat berada di dalam lingkungan anak - anak rohis, pikiran saya ini engga sampai membuat ingin melepas hijab ini.



Dari bertahun - tahun saya memakai hijab, masa terberat yang saya lalui adalah selama saya duduk di kursi SMA. Mulai dari minggu pertama masuk sampai minggu terakhir sekolah, sudah enggak terhitung berapa kali saya ingin membuka hijab. Kenyataan yang lebih parah adalah saya juga sempat merasa  hijab yang saya kenakan saat itu bahkan menjadi penghalang saya dalam bergaul dan benar - benar menurunkan rasa percaya diri saya. Perbedaan lingkungan sekolah saya saat itu dengan sebelumnya terlihat dengan sangat jelas. Besarnya tuntutan penampilan fisik dan kesanggupan materi, sangat minimnya jumlah perempuan yang menggunakan hijab, hingga lingkungan pergaulan yang sangat berbeda dari yang saya rasakan sebelumnya, menjadi faktor utama dari jatuhnya keyakinan pada diri saya sendiri maupun terhadap prinsip untuk menutup aurat yang sudah saya pegang bertahun - tahun.

Terlepas dari kenyataan bahwa pada akhirnya banyak kenangan indah dan menyenangkan yang saya dapatkan selama memakai seragam putih abu - abu ini, pemikiran untuk melepas hijab tetap belum berubah di benak saya. Sudah terlalu banyak hari yang saya lalui di tempat itu dan membuat cara pandang saya berubah total terhadap hijab. Yang ada di dalam pikiran saya saat itu adalah saya ingin melepas hijab karena saya merasa lebih nyaman dan percaya diri tanpanya.

Sampai akhirnya pada suatu hari, ketika saya seorang diri sedang menunggu hasil pemeriksaan dokter di suatu rumah sakit. Seperti biasanya, saat lagi melamunkan banyak hal, sampailah saya memikirkan tentang rencana saya membuka hijab. Saat itu saya membulatkan tekad untuk melepas hijab begitu saya mulai masuk kuliah. Engga lama setelah itu, sekitar sepuluh menit kemudian, saat saya sedang mem-fotokopi hasil pemeriksaan dokter, tiba - tiba aja tanpa adanya interaksi apapun sebelumnya, si penjual kacamata di sebelah tempat fotokopi tersebut mengatakan hal yang mengubah total pemikiran dan tekad saya sebelumnya. "Mbak, mbak udah cantik kaya gitu, pake jilbab..jangan dilepas ya mbak", katanya sambil tersenyum. Saya saat itu cuma diam aja, masih bingung. Terus saya memastikan kembali sambil melihat ke sekeliling saya, yaa kali aja dia ngomong gitu ke yang lain kan hehe. Lalu dia ngomong lagi, "Iya, saya ngomong ke mbak", lanjutnya sambil tersenyum lagi. Mungkin kalau sebelumnya saya engga memiliki keinginan untuk melepas hijab saya, mungkin perkataan mas penjual kacamata itu engga akan segitu membekasnya di ingatan saya.

Kejadian saat itu benar - benar menyadarkan saya akan satu hal, yaitu Allah masih segitu sayangnya sama saya. Kalau bisa diibaratkan, saat itu saya udah berada di ujung jurang, dan saat itu juga Allah langsung memberikan cara untuk menyadarkan saya. Bukan sekedar itu, tetapi memberikan hidayah-Nya. Coba saat itu mas - masnya bilang seperti itu, tetapi saya engga sadar atau engga mempengaruhi tekad saya. Mungkin perkataannya engga akan berpengaruh apa - apa ke saya. Makanya, seandainya saya masih punya pemikiran untuk melepas hijab setelah kejadian itu, kayanya saya akan menjadi manusia paling bodoh yang ada di dunia ini. Mungkin terdengar berlebihan sih hahaha. Tapi itulah yang saya rasakan sampai saat ini. Pikiran saya sih simpel aja, saya mengenal banyak orang yang terlihat lebih baik dibanding saya, tapi sampai saat ini belum memakai hijab. Itu hak mereka masing - masing dan pastinya ada pemikiran tersendiri. Mungkin mereka ingin saat memakai hijab nanti mereka benar - benar berperilaku seperti seorang muslimah yang diajarkan oleh Islam. Tapi terlepas dari itu, saya percaya bahwa semua itu balik lagi ke kehendak yang diatas. Allah belum memberikan mereka hidayah-Nya atau mereka belum sepenuhnya melihat peluang adanya hidayah yang diberikan untuk mereka.


Kuliah di perguruan tinggi negeri memberikan kebahagiaan tersendiri bagi saya. Bukan hanya merupakan impian saya sejak duduk di bangku SMA, tetapi tempat ini juga merupakan awal dimana rasa percaya diri dan kenyamanan saya dalam memakai hijab meningkat dengan pesat. Salah satu yang sangat berpengaruh adalah banyaknya perempuan yang memakai hijab disana. Bahkan, banyak diantara mereka yang patut dijadikan sebagai role model dengan kelebihan yang mereka miliki. Hal ini bukan hanya membuat saya merasa memiliki teman "seperjuangan", tetapi juga memicu saya untuk menjadi lebih baik dalam membawa hijab ini.

Keyakinan saya untuk terus memakai hijab yang pada saat itu udah mencapai fase dimana udah engga bisa diganggu gugat ,ternyata bukan hanya menimbulkan efek baik bagi saya, tetapi juga menciptakan tantangan tersendiri. Efek baik yang "sempat" terasa adalah ketika di awal masa perkuliahan, saya memutuskan untuk memakai hijab hingga menutupi dada, seperti yang diajarkan dalam Islam. Saat itu saya juga merasa seperti kembali ke masa SMP, ketika saya memakai hijab panjang, merasa nyaman dan tepat dalam memakai hijab.

Tetapi keteguhan saya untuk memakai hijab seperti itu tidak bertahan lama. Memang, niat untuk melepas hijab udah tersapu bersih dari pikiran saya, tetapi bukan berarti engga ada lagi halangan dalam memakainya. Salah satu dari beberapa halangan tersebut yang paling berat sekaligus sering mengundang kritik dari berbagai pihak, apalagi kalau bukan penampilan saya. Bukan hanya kembali memakai hijab yang dilipat, tetapi saya juga mulai "bereksperimen". Jadilah itu yang namanya pake hijab, tetapi pake dress diatas lutut dengan tights, pakai baju lengan panjang tetapi cuma pakai legging atau super skinny pants yang keliatannya udah sama kaya legging. Saat itu saya sadar bahwa engga sepantasnya perempuan berhijab menggunakan itu semua. Tetapi entah kenapa, kesadaran saya dan rasa malu saya itu belum bisa sepenuhnya membuat saya untuk berhenti menggunakannya.

Engga cukup sadar dari dalam diri sendiri, mulailah "dorongan" dari pihak luar. Mulai dari diliatin banyak orang dengan tatapan yang amazed sampai tatapan tajam yang ngeliat dari ujung kepala sampai kaki, dibilangin untuk mending buka hijab aja, niat engga sih pake hijab, sampai diceramahin kalau perempuan berhijab itu engga sepantasnya kaya gitu.. semua itu udah pernah saya alamin. JLEB siih. Sedih, sakit hati, ya iyalah yaa, namanya juga manusia punya hati hahaha. Tapi tetap aja ujungnya engga banyak mempengaruhi saya dalam berpakaian, selain saya sendiri yang akhirnya sadar bahwa udah saatnya berpakaian yang lebih baik dari itu, yang walaupun belum bisa sesuai apa yang diajarkan agama, setidaknya bisa selangkah lebih mendekati itu. 


Itu baru satu contoh dari sekian banyak "cobaan" yang saya dapat selama memakai hijab. Kebanyakan sih datangnya justru dari dalam diri saya sendiri, gimana cara saya bisa mengontrol diri saya supaya bisa tetap menjalankan apa yang sepantasnya dilakukan oleh seorang perempuan berhijab. Kadang saya mikir, mungkin kebanyakan orang yang belum memakai hijab karena "belum siap" itu ya mereka memang belum siap dengan berbagai halangan yang mereka dapat nantinya setelah memakai hijab. Tetapi kalau saya sendiri sih mikirnya karena memang ini udah kewajiban, ya siap engga siap harus dijalankan. Ibaratnya kaya sholat dan puasa Ramadhan. Siap atau engga kan tetap harus dijalankan. Dan orang - orang yang menjalankannya belum tentu sepenuhnya bisa menjauhi semua yang salah kan?

Salah satu teman pernah mengatakan bahwa "perempuan yang mengenakan hijab belum tentu lebih baik dari yang tidak mengenakannya". Saya setuju dengan pernyataan tersebut, dan saya yakin banyak orang di luar sana yang sependapat dengan itu ketika melihat hijaber yang seperti saya ini hehe. Bagaimanapun orang memandang hijab, saya yakin setiap orang punya cara dan pikirannya masing - masing. Satu contoh sederhana adalah ketika kebanyakan orang belajar supaya bisa "sempurna" baru kemudian mengenakan hijab, saya justru belajar banyak dari hijab supaya bisa menjadi orang yang lebih baik. Saat ini hijab adalah guru terbaik bagi saya setelah bunda saya dan pengalaman yang saya lalui. Hijab bukan hanya memberi banyak pembelajaran dari segi agama, tetapi secara keseluruhan, baik hal kecil maupun besar. Mulai dari akhirnya menyadarkan diri saya untuk mengenakan pakaian yang lebih "pantas", bersikap sepantasnya muslimah yang baik, sampai memotivasi saya untuk terus bisa menjadi pribadi yang lebih baik dalam segala aspek.

Satu hal yang perlu saya tekankan adalah menjadi lebih baik bukan berarti sempurna. Masih inget pepatah jaman SD kan, bahwa tidak ada gading yang tak retak? Jadi baik saya, para perempuan berhijab lainnya, maupun yang engga berhijab, kita semua, pasti tetap banyak kekurangannya. Engga perlu takut dengan kekurangan, karena dengan itu bisa menyadarkan kita untuk belajar supaya bisa lebih dari itu. Dan yang lebih penting lagi, sebuah pembelajaran itu engga selalu berjalan sebentar, tetapi kadang memerlukan proses yang panjang supaya bisa bertahan lama. Nikmati aja proses itu, engga usah dihiraukan apa kata orang tentang kita dan proses yang kita jalani. Karena orang lain hanya melihat apa yang mereka bisa lihat dan dengar, tetapi engga merasakan apa yang kita alami sebenarnya. Yang terpenting adalah kita sendiri yang tau seberapa banyak kita berubah lebih baik dan orang - orang terdekat kita yang benar - benar mengerti kita.

Baiklaah. Sekian pernyataan dari saya di sore hari ini. Pernyataan ini bukan ditujukan untuk siapa - siapa, melainkan untuk diri saya sendiri. Seandainya suatu saat saya lupa apa arti penutup kepala yang saya pakai ini, maka semoga dengan postingan ini bisa mengingatkan kembali semuanya hehehee.  

4 comments:

  1. Bertudung Belum Tentu Lagi Menutup Aurat.
    Tudung Dan Pakaian Di Badan Harus Sama Selari.
    Untuk Peringatan Kita Bersama.

    http://wanitamelayuseksa.blogspot.com

    ReplyDelete
  2. ozuuu, aku terharu pas baca ini.
    aku malah baru mengalami "cobaan" pas udah di bumi eropa ini. cobaan bukan hanya ke hijab saja tp juga komitmen2 lain seperti menghindari babi, wine, tidak menyentuh lawan jenis, & yg plg ptg: solat.

    semangat, ozuuu! kita pasti bisa survive (bahkan siapa tahu bs memperkenalkan indahnya Islam) di benua eropa. :)

    aku lupa pernah baca dimana, tapi kalimat ini selalu jd penenang & penyemangat aku selama ini. sepertinya potongan ayat AlQur'an. kurang lebih kalimatnya begini: barangsiapa menolong agama-Ku, niscaya Aku akan mempermudah jalannya.

    Kiss from Porto, B.

    ReplyDelete
  3. aaaaa bhelllaaaaaa. ayoo kamu semangaat jugaa! samaa2 berjuang yaa kitaa supaya bisa tetep bertahan dan lebih baik selama tinggal di negeri orang. dan beneer kata kamu, bahkan mungkin bisa nunjukkin hal - hal positif tentang Islam dan hijab :)

    bagus beeel kalimatnya. singkat tapi langsung ngena. bakal aku jadiin pegangan juga selama disini hehee.

    good luck and take care bheeel.

    Tons of hugs from Bournemouth, O.

    ReplyDelete
  4. Subahanallah. Senang bisa baca artikel ini. Sangat menyentuh. Trims telah berbagi, ukhti ^^

    ReplyDelete