May 11, 2013

:(

Tadi malam tepatnya pukul 01:22, saya dikejutkan dengan pesan yang dikirim oleh kakak saya yang berisi, "Uci Angah meninggal, zu". Padahal sembilan belas menit sebelumnya saya dan kakak saya masih chatting dengan bahasan yang lain. Belum sempat saya membalasnya, kakak saya sudah mengirimkan pesan yang isinya memberitakan bahwa nenek saya meninggal dunia. Sempat semenit sebelumnya saya tidak bisa merespon apapun. Antara masih mencerna perkataan kakak saya dan masih terlalu kaget dengan berita tersebut. Baru setelah itu hati saya langsung terasa sangat sesak dan tidak bisa berhenti menangis hingga saya benar - benar tidak memiliki tenaga lagi untuk menangis.

Ini pertama kalinya saya baru merasakan ketika kehilangan salah satu orang paling saya sayangi. Walaupun Uci Angah bukan nenek kandung saya secara langsung, beliau adalah kakak dari nenek dari pihak bunda saya, tetapi hubungan saya dengan beliau jauh lebih dekat dibandingkan hubungan saya dengan nenek dari kedua orangtua saya. Dan bahkan, tanpa adanya beliau, saya serta kakak - kakak dan adik - adik saya enggak akan pernah merasakan kedekatan hubungan antara antara cucu dengan neneknya. Dulu waktu kami kecil, Uci lah yang mengajak kami jalan - jalan ketika ayah dan bunda sedang sibuk bekerja, bahkan beberapa kali Uci juga yang mengantar saya ke sekolah. Beliau pula yang sering mengajak saya sholat taraweh saat bulan Ramadhan. Sebagian masa kecil saya sering dilewati bersama beliau dan menginap di rumah beliau. Tetapi seiring berjalannya waktu, ketika saya dan saudara - saudara saya sudah mulai sibuk dengan kegiatan masing - masing, terutama ketika saya pindah untuk melanjutkan kuliah di Bandung, saya semakin jarang bertemu dengan Uci Angah. Bahkan masih bisa dihitung berapa kali saya menjenguk beliau ke rumahnya dalam setahun. Sejujurnya saya sering merasa bersalah karena menurut saya kesibukan bukan menjadi penghalang untuk berkunjung ke rumah beliau. Tetapi saat ada momen - momen terpenting yang berkaitan dengan Uci, entah saat Uci ulang tahun dan begitu juga ketika saya mendapatkan gelar sarjana saya, beliau adalah orang ketiga yang saya telefon setelah ayah dan bunda saya.  Satu - satunya hal yang saya syukuri adalah tahun lalu ketika Uci ulang tahun dan masuk rumah sakit beberapa bulan sebelum saya berangkat, saya masih bisa menemani beliau.

Lebaran hari kedua tahun lalu, saat terakhir kali saya bertemu dengan uci Angah :(

Bagi saya, uci Angah adalah salah satu wanita paling mandiri, kuat dan hebat yang pernah saya kenal. Saya sering memposisikan diri saya menjadi beliau, dan bahkan ketika saya hanya memikirkan saja, saya rasa saya enggak akan mampu sekuat dan setabah beliau dalam menjalani kehidupan yang beliau jalani sebelumnya. Melihat kehidupan beliau saya banyak belajar dan membuka mata saya tentang banyak hal. Seringkali saya juga merasa kesal dengan diri saya karena belum bisa membantu beliau dan belum bisa mewujudkan salah satu mimpi saya untuk memberikan kehidupan yang lebih baik untuk beliau. Salah satu hal yang paling saya sesali saat ini adalah saya belum pernah berbicara lagi dengan beliau semenjak saya pindah kesini. Terakhir pertemuan saya dengan beliau adalah ketika lebaran tahun lalu, saat saya memberitahu beliau bahwa saya akan kuliah ke Inggris. Beliau terlihat tampak sangat bahagia ketika tahu hal tersebut. Bagi uci Angah, pendidikan sangat penting, apalagi untuk kaum perempuan. Saya selalu ingat pesan beliau untuk terus mengenyam pendidikan dan jangan pernah tinggalkan sholat. Semenjak itu saya enggak pernah berkomunikasi lagi dengan beliau sampai akhirnya saya mendengar berita tersebut tadi pagi. Beberapa kali niat untuk menelefon beliau selalu tertunda sampai akhirnya sekarang saya enggak memiliki kesempatan untuk berbicara dengan beliau lagi. Saat ini saya tahu bagaimana mengalami perasaan menyesal yang sangat dalam ketika orang yang kita sayangi benar - benar meninggalkan kita untuk selamanya dan tidak ada kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal untuk yang terakhir kalinya.

Aku tahu ini enggak mungkin, tetapi seandainya ada cara supaya Uci Angah bisa tahu, selama disini aku enggak pernah sekalipun lupa dengan uci Angah. Uci Angah adalah salah satu orang yang pertama kali aku doakan setiap kali selesai sholat. Aku selalu berdoa supaya Allah selalu melindungi dan memberikan kemudahan serta kebahagiaan selalu untuk uci. Maafin aku ya Uci, aku enggak bisa mencium dan mengantarkan Uci untuk terakhir kalinya. Aku sangat sangat sedih, dan mungkin ini hal yang paling sulit untuk aku terima sejauh ini dalam hidup aku, tetapi aku tahu ini pasti yang jalan terbaik untuk Uci supaya Allah bisa memberikan tempat yang lebih indah dan bahagia untuk Uci di sisi-Nya. Aku sangat sayang dan akan selalu sayang dengan Uci. Semoga Uci selalu baik - baik ya disana. Aku akan selalu terus berdoa untuk Uci Angah. Peluk cium untuk Uci.

2 comments:

  1. Innalillahi..i'am sorry to hear that :(
    aku turut berduka cita
    dan semoga kasih sayangmu tetap abadi selamanya
    Doa anak yg sholehah tidak akan pernah terputus

    http://esyabachri.blogspot.com/

    ReplyDelete
  2. terima kasih ya esya buat doanya :")

    ReplyDelete