August 18, 2013

Surat Untuk Indonesia

Bournemouth, 17 Agustus 2013

Mungkin ini adalah surat pertama yang sengaja aku tulis tepat di  hari ulang tahunmu selama dua puluh dua tahun aku menjadi warga negaramu. Enggak. Kamu enggak akan mendengarkan kata - kata klise tentang seberapa besar rasa rindu seorang perantau sepertiku, atau melihat sebuah puisi sebagai hadiah ulang tahun kamu, atau kata - kata nasionalisme seperti yang sudah banyak orang - orang berikan di hari ulang tahunmu, atau bahkan foto - foto peringatan ulangtahunmu hari ini. Disini aku hanya ingin mengungkapkan pikiran yang sudah lama mengganjal tentang kamu. 



Aku tau, mungkin kalau ada indikator untuk seorang warga negara yang baik, aku masih jauh dari kriteria itu. Aku masih belum bisa memberikan kontribusi nyata untukmu. Jangankan untuk hal yang besar, bahkan hal terkecil dan termudah seperti berkomitmen untuk membeli produk lokal saja tampaknya masih sulit untuk aku lakukan secara konsisten. Aku juga sering merasa rendah ketika melihat banyak orang di luar sana yang rela untuk bekerja keras demi membuat kamu dan rakyatmu menjadi lebih baik dari saat ini. Seringkali ketika aku melihat orang - orang itu, yang tampak tidak pernah lelah untuk membantu rakyatmu yang tidak mampu, yang tampak selalu bersemangat mengajar para anak anak negerimu, yang tampak selalu bersemangat untuk menjadikanmu lebih baik dari sekarang, membuatku semakin merasa bahwa aku bukanlah warga yang baik untukmu. Dari dulu sudah banyak impian - impian kecil yang sangat ingin aku lakukan, yang menjadi pacuan bagi diriku sendiri atas suara - suara yang sering bergema di dalam pikiran dan hatiku. "Mana kontribusimu? kata kamu, kamu cinta pada negerimu, tetapi mana buktinya? enggak malu ya dengan teman - temanmu yang sudah bergerak dan banyak membantu negerimu?" . Dulu  selalu saja ada alasan dan prioritas lain yang lebih penting, yang akhirnya membuatku tidak bergerak kemana - mana. Namun kali ini, aku bisa meyakinkanmu bahwa aku sedang dalam perjalanan untuk bisa menjawab suara - suara itu.



Aku enggak tau apakah kamu berpikiran bahwa aku pergi jauh untuk kabur darimu. Tetapi kalau kamu berpikiran seperti itu, kamu salah besar. Ingin melihat dunia lebih luas dan mencicipi kehidupan di negara lain memang salah satu mimpiku dari kecil. Tetapi bukan sebatas itu, alasanku datang kesini juga karena kamu. Ada mimpi yang jauh lebih besar dari mimpi - mimpiku itu, yang bukan lagi hanya menyangkut aku, tetapi juga orang lain. Maka dari itu, aku ingin belajar di tempat yang bisa memberikan ilmu yang lebih banyak dengan pola pikir dan penyampaian yang berbeda dari orang - orang dan sistem di tempatmu, supaya kelak aku bisa mewujudkan salah satu cita - cita besarku untukmu. Aku belum bisa memberitahu apa itu, karena aku takut untuk memberikan harapan tentang sesuatu yang besar dan belum pasti. Aku takut  kalau nantinya harapan itu hanya omong kosong, yang pada akhirnya membuatku tidak lebih baik dari beberapa orang - orang besar di negerimu yang melanggar janji yang mereka dulu berikan kepadamu. 


Aku tidak mau munafik. Negara yang aku tumpangi saat ini memang terasa lebih nyaman dibandingkan kamu. Makanya tidak heran kalau banyak anak - anakmu yang sedang merantau ke negeri lain lebih memilih untuk meneruskan hidup mereka disana dibandingkan hidup denganmu. Aneh, tetapi aku merasa sedih ketika beberapa diantara mereka mengatakan dengan tegas untuk benar - benar meninggalkanmu dengan alasan mereka yang sudah bulat bahwa mereka tidak suka hidup denganmu, mengeluhkan kondisimu dan bahkan selalu melihat sisi burukmu dibanding sisi baikmu. Aku mengatakan ini bukan karena aku mau menjadi warga negara yang sok baik atau sok nasionalis. Tetapi aku benar - benar merasa miris. Apakah sebegitu jeleknya sosok kamu di mata mereka? Apakah sebegitu kronisnya kondisimu di mata mereka? Sehingga yang mereka lihat bukanlah lagi harapan, tetapi hanya keluhan dan putus asa. Sekali lagi, aku bukan ingin menyenangkan kamu di hari ulang tahunmu dengan menjadi warga yang sok nasionalis, tetapi aku benar - benar merasa miris ketika mendengar anak - anak negerimu yang memiliki potensi tinggi untuk membuatmu lebih baik, tetapi mereka justru meninggalkanmu untuk mengabdi pada negara lain. 



Sebenarnya masih banyak hal - hal lain yang ingin aku ungkapkan, tetapi berhubung saat ini aku sedang mengejar sebuah kewajibanku yang lain, surat ini harus berhenti dulu sampai disini. Nanti, akan aku tulis lagi surat untukmu di lain waktu. 

Sekali lagi, selamat ulang tahun Indonesia, negeri yang kaya raya dan makmur, negeri yang beriman, negeri yang terkenal dengan budaya ramah tamahnya, negeri yang memiliki toleransi dan tenggang-rasa yang tinggi; negeri yang aku banggakan. Semoga semakin banyak orang - orang besar di negerimu yang bertanggung jawab atas amanah yang diberikan kepada mereka, semoga semakin banyak anak - anak negerimu yang bangga denganmu, semoga semakin banyak generasi penerusmu yang mendapatkan pendidikan, pekerjaan dan kehidupan yang lebih dari layak, semoga semakin banyak orang - orang di negerimu yang optimis dan rela berjuang untukmu. 

Salam rindu,

Salah seorang anak negerimu

No comments:

Post a Comment