March 04, 2016

Last Month, Today.

Saya enggak mau terdengar klise dengan mengatakan "wah, enggak terasa ya udah satu bulan aja saya tinggal di Rotterdam". Karena bagi saya, Februari terasa berjalan jauh lebih lama daripada Desember dan Januari. Kalau mau jujur nih yaa, terlepas dari postingan saya sebelumnya yang terdengar sangat bahagia tinggal di kota ini dan foto - foto Instagram saya yang terlihat menyenangkan, saya sempat merengek sambil menangis ke orangtua saya buat pulang ke Jakarta. Bahkan saya sempat menyesali keputusan untuk lanjut kuliah saat ini. Ehhh, tapi sebelum kamu merasa kasihan atau justru mau marahin, ceramahin, atau cubit saya karena enggak bersyukur dengan apa yang udah saya dapatkan saat ini, saya cuma mau bilang: "tenang aja kok, sekarang saya mah sama sekali enggak ada pikiran kaya gitu lagi". Hehehee. Itu hanya pikiran sesaat dari 'versi lain diri saya' yang udah terlanjur menikmati hidup dikelilingi oleh orang - orang yang membuat saya nyaman, berada di tempat yang familiar, serta budaya yang sama sejak saya lahir dan dibesarkan.

Atau mungkin itu hanya salah satu cara Tuhan untuk menyadarkan saya kembali. Karena ternyata tanpa disadari, selama ini saya telah besar kepala. Saya sempat punya pikiran bahwa dengan pernah memiliki pengalaman tinggal dan sekolah di luar negeri, maka enggak akan sulit bagi saya untuk mengalami fase yang sama lagi. Namun saya lupa bahwa saya hanyalah manusia biasa, yang sekali tercemplung dalam kenyamanan, maka tetap memerlukan waktu untuk menghadapi kondisi yang berbeda. Sama sekali berbeda. Saya lupa bahwa waktu bisa mengubah segalanya, termasuk pola hidup dan diri seseorang. Saya lupa bahwa dua tahun bukanlah waktu yang sebentar. Saya lupa bahwa selama itu saya hampir enggak pernah merasakan hidup sendirian. Saya lupa bahwa Inggris berbeda dengan Belanda, begitu juga Bournemouth dengan Rotterdam. Saya lupa bahwa disini enggak ada satu pun orang yang benar - benar saya kenal atau sebaliknya. Saya lupa bahwa pola kuliah doktoral sangat berbeda dengan kuliah master. Alhasil, dua malam pertama disini saya habiskan dengan menangis sambil menelpon orangtua dan adik perempuan saya di Jakarta. Saat itu rasanya saya seperti kembali ke lima belas tahun yang lalu, tepatnya saat saya baru pertama kali pergi keluar negeri sendirian tanpa ditemani orangtua saya. Kesal dengan ketidaknyamanan. Kesal dengan sepi, kekosongan, kesunyian, dan asing. Kesal dengan diri saya sendiri karena merasa sangat lemah.


Tapi ternyata enggak sepenuhnya salah kalau sebelumnya saya sempat besar kepala. Nyatanya, asumsi saya terbukti. Ketimbang meratapi terus - menerus berbagai perbedaan di kehidupan baru saya yang sekarang, saya berhasil mengalahkan sisi lemah diri saya dari hari ke hari. Hingga akhirnya saat memasuki minggu kedua, saya mulai menikmati kehidupan sebagai mahasiswa baru program doktor; yang awalnya sempat sulit diterima oleh saya.

Dikarenakan program doktor yang saya ambil saat ini adalah research-based, yang berarti lebih fokus kepada riset daripada kuliah (course work) dan enggak ada perkuliahan khusus terkait dengan jurusan di area riset terkait, maka perkuliahan enggak dimulai secara serentak untuk mahasiswa baru; alias setiap orang bisa mulai di bulan yang berbeda. Dalam kasus saya, saya adalah satu - satunya mahasiswa baru PhD di jurusan saya yang baru mulai tahun ini dan mahasiswa terbaru sebelum saya udah mulai masuk sejak bulan September tahun lalu. Alhasil, dari 17 mahasiswa doktoral di jurusan saya, sebagian besar dari mereka sedang melakukan riset di negaranya masing - masing hingga yang tersisa disini hanya tujuh orang (termasuk saya) dan hanya satu orang yang sering bekerja di kampus. Jadi bisa dibayangkan dong yaaa, begitu datang kesini, jeng-jeng-jeng, kok ruangan kerja PhD sepi begini. Eh, ternyata selain mereka yang lagi riset di negaranya masing - masing, lima orang lainnya yang ada disini lebih sering mengerjakan riset mereka di rumah mereka ketimbang di kampus. GEDUBRAKK. Yaa, sebenarnya saya juga tipe yang lebih suka ngerjain riset di rumah sih... tapi enggak begini juga kaliii :( Di lain sisi pun sulit bagi saya kalau mau gabung dengan anak yang sedang kuliah program master, apalagi mereka udah mulai program bareng sejak September. Masa iya saya mau tiba - tiba JB aka join bareng (#sekalikalipakebahasagaulbiargaul #naonsihzu #tolongdiabaikan), duduk bareng sama mereka atau nyamperin mereka buat kenalan satu - satu. Itu mah yang ada mereka akan menjauhi saya karena mikir saya orang aneh, hahaha!

Walaupun kondisi di awal tersebut cukup membuat saya merasa homesick, tapi sebenarnya itu bukan faktor utama yang membuat saya sampai menangis. Karena terlepas dari itu semua, saya beruntung karena ada beberapa teman saat sarjana dulu yang juga sedang kuliah disini dan juga berteman dengan beberapa orang baru yang sangat baik sehingga cukup mengurangi rasa homesick saya. Apalagi dengan kenyataan bahwa sisi introvert lebih mendominasi diri saya, seringkali saya justru lebih menikmati waktu sendirian dan enggak bisa lama - lama menghabiskan waktu dengan orang - orang baru. Buktinya saat memasuki minggu ketiga dan keempat, sebagian besar waktu saya masih aja tuh dihabiskan sendirian. Tapi nyatanya saya sama sekali enggak merasa kesepian seperti seminggu hingga dua minggu pertama disini. Dan disitulah saya baru menyadari bahwa sebenarnya hal yang paling membuat saya homesick di seminggu pertama adalah karena tempat tinggal, atau lebih tepatnya kamar yang saya tempati dari awal datang hingga seminggu disini.


Jadi dari pengalaman saya sebelumnya di Bournemouth, saya merasa student housing (semacam asrama yang dimiliki oleh kampus) itu lebih convenient untuk tempat tinggal beberapa bulan atau setahun pertama dikarenakan proses mengurusnya yang enggak seribet saat menyewa rumah biasa, dan juga lebih aman untuk ditinggali karena dikelola langsung oleh kampus. Dan untuk student housing saya saat ini lokasinya berada di dalam kampus, sehingga lebih aman dan mudah buat ke kampus. Makanya, akhirnya kali ini saya juga memutuskan untuk tinggal di student housing untuk beberapa bulan pertama hingga saya udah benar - benar settle disini. Entah karena saya lagi kurang beruntung dan juga karena saya terlalu pede bahwa kondisi student housing disini sama dengan yang di Bournemouth, maka begitu saya mendapatkan kondisi yang berbeda, saya jadi cukup shocked. Berbeda dengan di Bournemouth yang memiliki dapur bersama sebagai ruang komunal, disini dapur berada ada di dalam kamar masing - masing. Jadinya enggak ada ruang bersama yang bisa menjadi tempat bertemu dan berkumpul. Mungkin karena itu juga yang membuat begitu masuk ke dalam koridornya, rasanya sepuluh kamar yang tetanggaan sama saya itu kaya enggak berpenghuni (padahal nyatanya mereka udah penuh terisi, bahkan saya hampir enggak dapat kamar disini karena saking penuhnya). Entah jadwal saya berbeda dengan mereka atau gimana, yang jelas dua hari pertama ketika tiap kali saya keluar kamar buat ke kamar mandi atau toilet (kebalikan di Bournemouth, kalo disini toilet dan kamar mandi-nya yang sharing), saya enggak pernah ketemu dengan flatmate saya. Jadi jelas dong yaa, bagi pendatang baru seperti saya yang masih enggak familiar dengan tempat baru, serta kelemahan saya yang pasti susah tidur di tempat baru, begitu dihadapi dengan kondisi yang sepi banget seperti itu semakin membuat mental saya menciut.

NAH, tapi itu belum seberapa. Fakta yang lebih membuat saya enggak bisa dan enggak mau tidur saat seminggu pertama disini adalah kamar saya yang dari awal saya masuk udah enggak merasa nyaman karena di beberapa spot kamar terlihat kotor, lemari es-nya bau, salah satu lampu mati (FYI, rata - rata di Belanda lebih bayak menggunakan lampu kuning yang cenderung remang - remang. Nah, ini lampu di kamar saya udah remang - remang, terus salah satu lampunya juga mati. Jadi ya......), dan ADA BEDBUGS!!!! Oke, sebenarnya saya enggak yakin juga itu kutu busuk atau bukan, (karena saya enggak merasa gatal - gatal), tapi yang jelas bentuknya kecil, item dan lebih banyak ditemukan di sekitar kasur. Singkat cerita, walaupun sempat dibikin makin kesal karena pihak pengelola asrama yang sulit ditemui dan penanganannya yang cukup lama (jadi begitu saya melaporkan masalah ini, mereka awalnya hanya memberikan insect spray yang ujungnya enggak ngaruh karena si bedbugs nya masih bermunculan terus), akhirnya alhamdulillah tepat seminggu disini saya akhirnya bisa pindah ke kamar baru yang jauuuuuuuuh lebih nyaman dan jauuuuuh berbeda dari kamar sebelumnya.


Semenjak saat itu, perlahan hari - hari saya disini semakin cerah, sekalipun ketika temperatur kembali mencapai minus satu; matahari enggan menampakkan dirinya dan angin musim dingin berhembus dengan sangat kencangnya. #eaaa. Begitu memasuki minggu ketiga, saya bukan hanya menikmatinya, tetapi juga mulai terbiasa dengan ritme kehidupan baru saya ini; yang ditandai dengan waktu yang begitu cepat berlalu. Iya, saya selalu menjadikan waktu sebagai acuan apakah saya menikmati kehidupan saya atau enggak. Saat saya menikmatinya, maka waktu akan berjalan begitu cepat. Namun sebaliknya, saat saya enggak menikmatinya, maka satu menit aja akan terasa seperti satu jam; yang sempat saya rasakan di minggu pertama. Saat itu rasanya lima belas menit aja lamaaaa banget. And finally, minggu keempat hingga saat ini saya udah enggak pernah lagi merasa homesick dan apalagi punya pikiran buat pulang ke Indonesia tahun ini (jadi ceritanya seminggu pertama disini saking homesick-nya, saya punya pikiran buat pulang saat lebaran tahun ini. Hahaha! Enggak banget ya! :p).

Tentu aja selain karena beberapa faktor eksternal, mulai dari pindah kamar ke yang jauh lebih menyenangkan; semakin sibuk dengan riset, kuliah dan berbagai tugasnya; berkenalan dan berinteraksi dengan semakin banyak orang; serta pastinya, tetap berkomunikasi setiap hari dengan keluarga dan para sahabat saya di Indonesia; sebenarnya lagi - lagi semua itu tergantung ke diri saya. Saya yang memutuskan apakah saya mau tetap terus menerus melihat kondisi ini sebagai suatu hal yang berat, atau justru mengubah pikiran saya dan melihatnya kembali dari sudut pandang saya selama dua tahun belakangan ini yang selalu menantikan kehidupan baru yang saya jalani sekarang. Dan tau enggak, tanpa disengaja dan bahkan tanpa disadari, kondisi yang semakin membaik ini banyak dipengaruhi oleh hal - hal yang akhirnya saya pahami sebagai bagian dari Reproduction of Happiness. Berbeda dari #ROH yang udah sempat saya posting sebelumnya, karena kali ini adalah hal - hal yang udah lama enggak saya lakukan ketika di Indonesia.


Oke, jadi lagi - lagi ini terlihat seperti postingan curhat yaa. HAHAHA. Enggak kok, kalau mau curhat doang mah, saya udah dari awal disini curhat panjang lebar ke keluarga dan sahabat saya. Dan itu udah terpuaskan banget :))) Dan sebenarnya nih, kalau kamu sadar, saya hanya akan berbagi pengalaman pribadi saya secara eksplisit disini (apalagi kalau itu suatu pengalaman yang enggak bisa dibilang menyenangkan), saat saya udah bisa tertawa saat menceritakannya dan mengambil pelajaran dari mereka. Bukan juga dengan saya menceritakan semua ini berarti semua masalah udah teratasi. Karena sampai kapanpun, hidup kita enggak akan pernah benar - benar bebas dari masalah kan? Dan justru hidup tanpa masalah itu seperti layaknya hot chocolate tanpa marshmallow. Kurang enak. Tapi maksud utama dari postingan ini bukan buat menceritakan satu persatu masalah saya disini. Terus kenapa sih saya rela meluangkan waktu saya berjam - jam buat menulis disini, padahal saya masih belum mandi abis pulang dari kelas zumba masih ada tugas yang belum selesai buat dikasih ke professor saya besok siang; kenapa sih seorang seperti saya yang cenderung tertutup, sekarang malah berbagi pengalaman yang cukup personal ke orang - orang yang bahkan saya enggak pernah tau siapa aja yang akan membaca ini.

Jawabannya mungkin karena saya semakin saya menyadari pentingnya berbagi pengalaman hidup dengan orang lain. Apalagi  dengan kehidupan saya sekarang, pasti ada aja orang - orang yang punya pikiran "Wah enak banget ya si Ozu bisa kuliah di luar negeri, tinggal di kota yang menyenangkan, bisa jalan - jalan keliling Eropa, dst dst". Dan sebenarnya bisa aja sih saya membiarkan orang - orang untuk berpikir seperti itu. Tapi enggaklah. There's no point in trying to look perfect, cause we're just imperfect human after all. Saya pun dulu sempat berpikir untuk terus menutupi masalah dan perjuangan yang saya alami dalam mencapai mimpi saya dan membiarkan orang - orang untuk melihat sisi menyenangkannya aja. Alasan saya saat itu adalah karena saya enggak mau dikasihani dan saya enggak mau pandangan orang jadi berubah terhadap saya. Dan saya yakin banget, ini bukan cuma saya aja, tapi hampir setiap orang memiliki cerita tersendiri dibalik foto - foto dan status bahagia mereka di sosial media; atau dibalik senyuman dan tawa yang ada di wajah mereka. Bedanya cuma di satu hal: apakah mereka mau berbagi pengalaman mereka atau mereka memutuskan untuk tetap menyimpannya sendiri. Sebenarnya enggak ada yang salah dengan apapun keputusan mereka tersebut. Itu semua tergantung masing - masing orang, karena enggak setiap orang punya keberanian untuk menunjukkan sisi rentan mereka. Tapi mungkin karena saya akhirnya sadar bahwa menunjukkan ketidaksempurnaan itu bukanlah suatu hal yang salah. Bahkan saya seringkali mendapatkan inspirasi serta motivasi ketika membaca pengalaman hidup orang lain. And somehow, I feel relieved. Merasa lega karena ternyata saya enggak sendirian di dunia ini yang sedang berjuang keras untuk meraih mimpi saya. Makanya disini saya juga ingin berbagi pengalaman saya supaya bisa menularkan hal yang sama ke mereka yang sedang membutuhkan :')


Oh iya satu hal lagi.

"Everyone you meet is fighting a battle you know nothing about, so always be kind" - Unknown
Walaupun kalimat ini terlihat sangat sederhana, tapi seandainya semua orang paham dengan makna kalimat ini, maka akan semakin sedikit orang - orang yang judgemental, dan akhirnya semakin sedikit juga permasalahan di dunia ini karena setiap orang bisa lebih menghargai perbedaan kehidupan yang dialami satu sama lain :)

14 comments:

  1. "Oh My God!" Aku gak tahu musti komentar apalagi selain dengan kata itu ketika aku membaca tulisan kakak yang ini. Bukannya ikut-ikutan atau pengen menyama-nyamakan diri, tapi entah kenapa sebagian besar artikel yang kakak posted itu juga aku alamin. Dan ini, iya yang ini, aku juga pernah ngalaminnya dan bahkan masih ngalaminnya. Tahun 2014. Waktu itu aku terpaksa pindah kuliah ke sebuah kota kabupaten di Kalimantan Barat, bukannya pindah kuliah dalam arti pindah ke perguruan tinggi/jurusan lain, tapi emang dari kampusnya yang memindahkan lokasi kuliah kami. Dan semua yang kakak ceritakan di atas itu termasuk dalam hal yang aku alamin waktu itu. Semuanya terasa lama dan berat kak, apalagi untuk seorang aku yang salah jurusan. Ibarat pepatah aku ngerasa aku itu gak hanya jatuh tertimpa tangga, tapi juga tertimpa pot dan kecipratan genangan air. Completed! Bahkan aku sempat memutuskan untuk berenti kuliah, pindah jurusan, pindah kampus, pokoknya segala hal udah aku coba, dan entah kenapa dari semua upaya yang aku coba gak ada yang berjalan mulus. Gagal total. Tapi setelah menjalaninya walaupun penuh dengan air mata, aku sadar kalo kita musti keluar dari zona nyaman untuk bisa jadi orang yang lebih kuat. Aku pengen ngutip kata-kata inspirasi yang pernah aku baca, "you never know how strong you are, untill being strong is the only choice you have". Semoga kakak terus semangat kuliahnya yah, dan bisa meraih cita-cita juga mimpi kakak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Mariaa! Iya bangettt, emang pasti ada saatnya kita mengalami masa kaya gini yaa. yang mau enggak mau mesti dihadapi buat mencapai apa yang kita mau. tapi percaya aja kalo setiap usaha kita kalo emang kita bisa terus melakukannya, pantang menyerah dan coba ikhlas, pasti akan selalu ada jalan mulus setelahnya. Indeed, all our hard work will finally paid off :)

      Makasih buat doa dan semangatnya yaa! sukses dan semangat juga buat kamu :D

      Delete
  2. ozuuuu semangaaaat!
    *bawa pom pom *teriak kenceng

    ReplyDelete
    Replies
    1. aaaa miraaa, makasihhh banyakk. big hugsss! kiss kiss!

      Delete
  3. Ozu, sejak pertama nemu blog kamu ini aku seneng sama cerita2mu yg ngalir banget. Jujur, aku pun pernah berpikir, sempurna banget ya hidup kaya kamu haha. tapi dari cerita2mu di sini aku tanpa sadar jadi belajar tiap ngeliat atau ngebandingin hidupku sama orang lain buru2 inget kalau sebenarnya nggak ada hidup sempurna yang bener-benar sempurna. Semua udah sempurna pada kadarNya :). BTW, sukses terus ya, aku selalu menanti cerita2mu :))

    ReplyDelete
  4. Aaah makasih Erny! Iyaa, selama ini kita hanya liat dari penampakkan luarnya aja, padahal tiap orang punya kekurangan dan kelebihannya masing - masing yang ngebuat enggak kita ga akan pernah sempurna hehe.

    Makasih yaa Erny. Sukses juga buat semua rencana dan urusan kamu :D

    ReplyDelete
  5. Hai Kak Ozu! Seems like we have same thoughs and problems hehe aku sukaaa banget baca cerita kak ozu yang ini, entah kenapa langsung semangat! Baru kali ini aku ke luar negri dan tinggal cukup lama, rasanya pengen pulang aja ke jakarta di minggu2 pertama huhu tapi we have to finish what we start kan kak? hehehehe sering2 sharing ya kak, moodbooster banget. Semangaaatt!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Nana! Waahh kamu lagi stay di Phil yaa, kukira cm vacation doangg.. iyaa nanaa pasti laah ada rasa kaya gituu.. tapi insya Allah pasti lama kelamaan juga bakal betah kookk.. aku aja ini alhamdulillah udah betah dan terbiasa sama new life disinii. bener bangeet, apa yg udah kita mulai, mesti dijalanin dan ditanggung segala resikonyaa. semangat juga buat kamu yaa nanaa! *virtual hugssss*

      Delete
  6. Nazuu kereen..makasii yaa udaa d share cerita2 kamu yg sangat inspiratif...aku sllu ga sabar denger cerita2 kamu ini..

    ReplyDelete
  7. Actually, I lil'bit disappointed when I read the second paragraph. Aku bacanya jadi sangat terinspirasi, apalagi baca pas baca "There's no point in trying to look perfect, cause we're just imperfect human after all." Karena aku juga pernah mengalaminya pretending didepan orang banyak. Btw, succes for Ph,D program in rotterdam. though, sudah ga ngajar lagi tapi baca ini tetap ada tugasnya yaitu untuk define the meaning of "Everyone you meet is fighting a battle you know nothing about, so always be kind". LOL :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kyaaa ada Eja! Jadi ketauan deh aslinya gimana kalo ga lagi ngajar HAHA. Tapi gapapalah, udah enggak akan ketemu di kelas lagi inilah yaa :))

      Wah, kayanya bukan kita doang deh, aku yakin pasti banyaaak banget orang yang make 'topeng' supaya keliatan tetep flawless, bahkan sampai di titik dimana kita enggak jadi diri kita sendiri. That's very tragic, isn't it?!!

      Well, if you consider it as a homework, then let me know once you could fathom the idea behind the quotation :))

      Makasih Ejaa! good luck buat tugas akhir nya juga yaa. semoga lulus cepettt! ;)

      Delete
  8. kak nazu... i feel like being slapped 10000x reading this post. with this current condition I keep complaining how flat, how boring, how sad my life has been because all i do is just studying, revising, praktikum, exams every month dan the reality i have to face kalo tahun depan aku harus koas..... even there were so many times I found myself regretting why i chosed to be a med stud dan ga jarang aku suka jelly kalo lihat foto-foto teman-teman yang kuliah di luar negeri (bahkan lihat postingan kakakpun.... :''')) , temen temen yg kuliah di fakultas lain dan kok rasanya bahagia banget ya.......

    terus aku baca tulisan kakak....
    "Everyone you meet is fighting a battle you know nothing about"
    kenapa aku manja banget :'')
    thank you ka nazuuu xxx hehe maaf aku spam komen banget :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. nerissaaa! *sambilngasihvirtualhugs*

      wajar kook, dulu aku juga sering ngeluh terutama pas ngeliat hidup orang lain yg keliatannya lebih enak dari aku. cuma yaa itu makin kesini aku makin paham kalo selalu ada perjuangan dibalik semua hal - hal indah yang cuma bisa kita liat di sosmed dll.

      tetep semangat yaa nerissaa! :*

      Delete