August 31, 2016

Awal Dari Semuanya

Semuanya berawal dari beberapa bulan yang lalu ketika saya membaca sebuah tulisan di blog seorang teman yang saya kenal dan kagumi sejak kuliah. Saat itu saya cukup terkejut ketika membacanya. Tulisan tersebut secara implisit menunjukkan bahwa saat itu ia sedang mengalami depresi tanpa sebab yang pasti. Saya terkejut karena saya tau bahwa teman saya tersebut adalah seorang perempuan yang hampir sempurna di mata banyak orang, termasuk saya yang menjadi salah satu penggagum rahasianya. Apalagi ia yang saya kenal dulu adalah sosok yang hampir selalu terlihat ceria dan tersenyum. Makanya sama sekali di luar dugaan saya ketika melihat beberapa postingannya yang telihat sangat kelabu. How could that happen to her? Rasanya hampir semua hal yang ingin diraih oleh banyak orang telah dimiliki olehnya: penampilan, kepintaran, finansial, pekerjaan, keluarga, sahabat, dan pasangan. Pertanyaan selanjutnya adalah mengenai depresi tanpa alasan yang tidak diketahui secara pasti, bahkan oleh dirinya sendiri. Bagaimana seseorang bisa merasa depresi tanpa sebab?Bukannya segala sesuatu yang kita rasakan pasti dikarenakan adanya faktor - faktor yang jelas? 


Semuanya berawal dari beberapa bulan yang lalu ketika saya sedang mengalami masa dimana saya merasa sangat bahagia dengan apa yang saya miliki dalam hidup saya, hingga membuat saya hampir melupakan makna dari hal - hal sederhana. Karena apa yang saya dapatkan saat itu sebagian besarnya adalah rasa bahagia yang bersumber dari hal - hal yang tampak jelas; hal - hal yang akan membuat saya sadar tanpa harus memperhatikannya dengan seksama. Sampai suatu hari saya melihat beberapa postingan di blog, dan baru menyadari bahwa saat itu udah cukup lama saya enggak menulis tentang #ROH. Mungkin karena saat itu saya terlalu bahagia hingga saya tidak lagi peka dengan hal - hal kecil yang bisa membuat saya bahagia. Dan di luar kendali saya, beberapa pertanyaan langsung muncul. Kapan ya kira - kira saya butuh untuk menulis #ROH lagi? Lebih dari itu, sebenarnya saya mempertanyakan waktu dimana saya bisa merasakan kembali signifikansi akan hal - hal kecil terhadap kebahagiaan saya. Kapan saya butuh mereka lagi untuk merasa bahagia?



Semuanya berawal sejak berbagai pemikiran dan pertanyaan kembali muncul satu per satu. Tentang terakhir kali saya menangis hingga tersedu - sedu. Tentang kemungkinan merasa bosan mengerjakan kegiatan - kegiatan yang saya suka. Tentang terakhir kali saya ke dokter untuk memeriksa kesehatan fisik saya. Tentang kemungkinan pikiran mempengaruhi jiwa dan raga. Tentang terakhir kali saya merasa gelisah tanpa alasan yang signifikan. Tentang kemungkinan akan rasa penat yang kembali menjatuhkan. Tentang kemungkinan mengalami rasa tidak nyaman terhadap sesuatu yang sudah familiar. Tentang rasa takut akan sebuah peristiwa yang mencelakakan. Tentang kemungkinan terbangun oleh kecemasan yang luar biasa. Tentang kemungkinan adanya sesuatu hal yang salah dari diri saya. Tentang terakhir kali mengalami rasa sakit karena perubahan. Tentang kemungkinan akan kembali merasakan kehilangan tujuan dan semangat hidup. Tentang kemungkinan bahwa batin mempengaruhi keputusan semesta untuk bertindak. Tentang terakhir kali menyadari bahwa cokelat sekalipun tidak bisa menghilangkan rasa hampa. Tentang kemungkinan bahwa musuh terbesar saya ternyata masih diri saya sendiri. 

2 comments:

  1. Thanks Nazura for this posting. It's relieving to know that I'm not the only one who feel things that you described in the last paragraph. "Tentang kemungkinan akan kembali merasakan kehilangan tujuan dan semangat hidup." I can relate this to my life now since I'm in the process of picking myself up again. "Tentang kemungkinan bahwa batin mempengaruhi keputusan semesta untuk bertindak." It's true and sometimes I find it a bit tricky to keep the positive feeling towards life challenges. Your posting is really enlightening. Thank you, thank you, thank you, Ozu..

    Cheers

    ReplyDelete
    Replies
    1. My pleasure, mba Anneis. tetap semangat ya mbaa :)

      Delete