November 11, 2016

Pelajaran Seperempat Abad #5


Dari kecil Bunda selalu mengajarkan saya untuk peka terhadap segala kejadian yang ada dalam hidup kami. Karena beliau selalu percaya bahwa pertolongan Tuhan itu selalu ada. “Kalau hidup cuma lihat dari logika manusia aja, kayanya Ayah dan Bunda enggak akan bisa bertahan sampai sekarang”. Begitu kira – kira yang selalu diingatkan oleh kedua orang tua saya tentang perjalanan hidup mereka sejauh ini. Dan ya, saya sendiri pun juga sudah sering mengalaminya selama dua puluh lima tahun ini. Begitu banyak pertolongan yang diberikan oleh semesta, baik yang awalnya diberikan dalam bentuk rezeki maupun musibah, baik berupa kebahagiaan maupun penderitaan. Terkadang pertolongan tersebut juga diberikan melalui pertemuan kita dengan orang – orang tertentu. Terlepas dari nantinya mereka memberikan kenangan yang baik maupun buruk dalam hidup kita, tapi seenggaknya sejauh ini, sebagian besar orang - orang yang pernah memainkan peran dalam hidup saya selalu memberikan pelajaran baru dan berguna untuk saya.


Bagi saya sendiri, pertolongan yang begitu berharga bagi hidup saya sejauh ini adalah yang baru – baru ini terjadi. Ketika saya hampir tidak menemukan jalan keluar, tiba – tiba terbersit sebuah pikiran. Saya ingin pulang ke Indonesia. Mungkin dengan begitu, mungkin, segalanya akan berubah menjadi lebih baik. Walaupun hanya sedikit. Walaupun saya enggak begitu yakin. Namun akhirnya niat saya ini sempat saya kubur kembali. Sebagian karena kepercayaan saya bahwa semua ini akan membaik dengan sendirinya dengan berjalannya waktu. Sebagian karena keraguan saya bahwa pulang akan mengobati saya, karena mungkin justru dengan pulang akan menambah buruk keadaan saat ini. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk bertahan beberapa bulan ke depan, sesuai yang sudah direncanakan dari awal. Namun disitulah pertolongan dari semesta. Tiba – tiba saya mendapatkan telefon dari universitas tempat kerja saya di Indonesia bahwa ada suatu kepentingan terkait posisi pekerjaan saya disana yang membuat saya HARUS pulang. Alhasil saya baru membeli tiket pesawat untuk pulang hanya dua hari sebelum saya ke Indonesia. Seumur – umur saya melakukan perjalanan, apalagi untuk perjalanan sejauh ini, bisa dibilang ini adalah kali pertama saya memutuskan secara mendadak.




Hari ini tepat hari ke-12 semenjak saya kembali ke Indonesia. Melihat apa yang terjadi dalam rentang waktu ini, saya bisa bilang dengan yakin di detik ini bahwa kabar dadakan yang membuat saya harus pulang ke Jakarta pada empat belas hari yang lalu, adalah bentuk pertolongan yang diberikan semesta kepada saya. Sebenarnya saat itu bisa aja saya menolak pertolongan yang diberikan oleh semesta. Bisa aja saya enggak memenuhi panggilan dari tempat kerja saya dan memutuskan untuk tetap di Rotterdam sampai saat ini. Tapi saya tau saat saya mendengar kabar tersebut, saya langsung yakin bahwa ini memang cara Tuhan untuk ‘memaksa’ saya pulang. Karena ia tau bahwa tanpa adanya kabar ini, saya enggak akan pulang sebelum Juni tahun depan. Dan mungkin tanpa adanya kabar ini, saya akan terus berada di dalam kegelapan yang sama, tanpa menemukan lubang – lubang baru yang menjadi sumber cahaya saya saat ini. 



Mengalami ini semua, saya semakin yakin bahwa apapun yang terjadi dalam hidup pasti selalu ada makna dibaliknya. Karena pada waktu tertentu, semesta hanya memberikan pertanda - pertanda yang menjadi petunjuk bagi kita terkait jalan yang perlu kita ambil untuk kehidupan di masa yang akan datang, tanpa secara langsung membelokkan kita ke jalan tersebut. Mungkin supaya kita bisa memilih takdir kita sendiri, memilih jalan mana yang mau kita ambil.  Entah untuk menolong kita di hari esok. Minggu depan. Bulan depan. Tiga bulan ke depan. Tahun depan. Atau bahkan beberapa tahun setelahnya. Namun, apakah tanda tersebut akan menjadi pertolongan atau bukan, tergantung lagi pada diri kita. Apakah kita mau mempercayai dan mencobanya; atau memilih untuk berpura - pura bodoh lalu mengacuhkannya.  

2 comments:

  1. Kak Ozu, aku baru-baru ini juga ngalamin hal kaya gini. Ada sesuatu yang membuatku khawatir. Tadinya udah ada plan, tapi ternyata usaha dan kenyataan berkata lain. Saat aku berpikir kalau kegagalan itu harus diikhlaskan, justru tiba-tiba aku dihubungi dan rencana itu berjalan lagi. Memang banyak hal-hal di luar logika yang membantu kita ya! Kamu jangan lupa bahagia :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa Erny, terkadang justru bantuan datang di saat - saat kita hampir menyerah yaa. Kamu juga selalu semangat yaa :D

      Delete