December 05, 2016

Pelajaran Seperempat Abad #7

Sometimes it's okay not to be okay. Sebuah kalimat yang terlihat sangat sederhana dan sepele, tapi ketika dilupakan ternyata memberikan pengaruh yang sangat besar bagi kebahagiaan saya. Beberapa bulan ini saya mengalami beberapa masalah yang cukup mengganggu pikiran dan hati saya. Tapi sebenarnya mereka enggak akan berdampak seburuk yang saya alami saat ini kalau aja dari awal saya enggak menahan emosi dan memendamnya dalam diri sendiri. Kalau aja dari awal saya enggak memaksakan untuk terus melihat masalah tersebut dari sisi positif, atau lebih tepatnya menyangkal bahwa masalah - masalah itu ada. Selama jangka waktu yang cukup lama, saya memendam berbagai emosi negatif saya dan tetap menunjukkan bahwa saya baik - baik aja di saat sebenarnya saya udah enggak merasa baik. Ketika orang - orang disini bertanya, saya selalu menjawab bahwa saya baik - baik aja. Enggak semudah itu untuk menunjukkan apa yang saya rasakan di hadapan orang - orang yang belum terlalu lama mengenal dan dekat dengan saya. Manusiawi sih sebenarnya. Memang manusia kan pada umumnya seperti itu, mereka cenderung ingin menunjukkan bahwa mereka kuat dan baik - baik aja. Dan memang kita terbiasa juga untuk hanya menerima sisi baik dan positif dari orang lain, terutama orang - orang yang enggak kita kenal. We just don't tell our problems to other people who we are not close to. And that's quiet normal. Tapi kesalahan terbesar saya adalah saya pun melakukan hal yang sama kepada orang - orang terdekat saya. Saya terus menyangkal bahwa semuanya baik - baik aja. Partly because I don't want to let them down. Partly because I don't want to be a burden. And so I kept pretending that I was fine. Akhirnya saya terus memendam berbagai emosi saya hingga masuk ke bagian terdalam hati saya, sambil menerima berbagai permasalahan yang saya hadapi dan bertahan dengan segala energi positif yang saya miliki.

Tapi ternyata saya melakukan kesalahan yang sangat besar.


Dan apa yang terjadi?

Ibaratnya seperti sampah. Yang namanya sampah entah kecil ataupun besar, seharusnya tetap dibuang pada tempat sampah. Tapi bukannya membuang ke tempat sampah, saya malah membuangnya  ke sungai dan pura - pura lupa bahwa sampah tersebut enggak ada. Memang pada awalnya sungai tersebut masih terlihat bagus dari permukaan. Sampai akhirnya ketika sampah - sampah yang ada di dalam sungai tersebut sudah menumpuk terlalu banyak, bukan hanya air di dalam sungai tersebut menjadi tercemar dan kotor, tetapi yang lebih parahnya adalah akhirnya air kotor yang ada di dalamnya meluap keluar dan membanjiri bagian kota lain. Dan itu yang terjadi dengan saya saat ini. Ketika saya terus menahan emosi dan menyangkal berbagai masalah yang saya hadapi, akhirnya saya mencapai satu titik dimana semua emosi negatif yang terpendam tersebut akhirnya meluap ke seluruh bagian diri saya. Bukannya hanya ke hati saya, tetapi juga pikiran dan fisik. Hingga berbagai pikiran dan energi positif yang saya miliki enggak lagi bisa membendung emosi negatif tersebut. Saya enggak bisa lagi berdiri dengan kedua kaki saya sendiri. It felt like my whole self had been smashed to smithereens. Saya enggak bisa lagi melihat kebaikan yang diberikan oleh semesta. Saya enggak bisa lagi melihat titik terang dunia, sekalipun saya berdiri menghadap sumber datangnya cahaya matahari. Tapi terlepas dari itu, saya sangat bersyukur bahwa saya masih diberikan keberanian untuk menceritakan perlahan - lahan apa yang saya rasakan kepada orang - orang terdekat saya, hingga akhirnya semua emosi tersebut bisa meluap satu per satu. Just right before I became completely paralysed. Walaupun saya juga sepenuhnya sadar bahwa semuanya membutuhkan waktu, termasuk untuk bisa mengeruk sampah - sampah yang tertumpuk di dalam sungai dan mengembalikan air yang di dalamnya menjadi bersih seperti pada awalnya. Ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi saya untuk memberi waktu bagi diri saya menjadi "enggak sekuat" biasanya, untuk lebih berani mengeluarkan apa yang saya rasakan, dan tentunya enggak memaksakan diri saya untuk selalu memenuhi ekpektasi orang lain. After all, this is a self-reminder that no one is okay all the time, because we're all human and everyone has bumps in the road at certain point in their lives. 

2 comments:

  1. Setuju banget Zu sama postingan ini. Kadang rasanya lebih gampang pura2 semuanya baik2 aja daripada harus ngejelasin atau bilang kalo things are not okay, padahal itu malah bikin emosi negatif jadi numpuk, making breakdown as a ticking time bomb. Sending you hugs Zu, semoga dengan cerita ke orang2 terdekat bisa pelan2 membantu ya. It's hard and it takes time, but it will be better :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dixieee. Emang sebagai sesama introvert kita harus saling ngingetin ya buat enggak menumpuk masalah2 kita sendirian, yang akhirnya berujung cukup fatal ke diri kita sendiri.. makasih banyak Dix *peluk* :') semoga kamu juga semakin baik kondisinya yaa :)

      Delete