December 30, 2016

#ROH 58: Housemates

Tinggal satu rumah atau apartemen dengan orang - orang yang enggak dekat adalah salah satu ketakutan saya dari dulu. Tapi kali ini bukan cuma enggak dekat, saya memutuskan untuk mengambil resiko untuk tinggal dengan dua orang yang sama sekali baru alias enggak saya kenal sama sekali. Sebenarnya saya dan Satya sama - sama mengambil PhD, namun saat memutuskan untuk mencari tempat tinggal bareng, kami berdua baru beberapa kali ketemu dan belum banyak mengenal satu sama lain. Sedangkan dengan Luciana, meskipun sempat tiga bulan kerja di jurusan saya, tapi saya belum pernah sama sekali ketemu dengannya. Jadi saya hanya mendengar penjelasan sekilas dari Satya karena mereka sama - sama dari Brazil. Hal ini pun juga sempat menjadi keraguan saya karena tandanya saya akan menjadi orang yang 'berbeda' sendiri dari mereka. Namun terlepas dari berbagai hal tersebut, entah kenapa saat itu saya yakin bahwa keputusan saya untuk tinggal bersama mereka lebih baik daripada mencari tempat tinggal untuk saya sendiri maupun dengan orang yang lebih enggak saya kenal.


Jujur, awalnya saya sempat menyesal dengan keputusan saya ini. Terutama dua bulan pertama dimana kami masih dalam masa adaptasi untuk mengenal dan membiasakan diri satu sama lain. Belum lagi dengan kenyataan bahwa kami memilih apartemen yang unfurnished - bahkan di lantai dasar harus dipasangkan karpet karena enggak ada lantainya! Bukan hanya sangaaaaat melelahkan secara tenaga dan pikiran, tetapi juga menyulitkan kondisi kami bertiga baik secara finansial dan waktu. Ditambah lagi kadang saya sempat merasa berbeda, bukan hanya karena nationality, tapi juga sifat. Satya dan Luciana merupakan wanita - wanita yang penuh energi, banyak ngobrol, extrovert, ceria, dan bisa mengekspresikan diri mereka dengan sangat mudah. Namun setelah memasuki bulan ketiga, saya mulai merasa nyaman tinggal bersama mereka dan justru melihat bahwa berbagai sifat mereka tersebut bisa melengkapi sifat saya yang introvert dan pendiam, serta mengisi diri saya yang sempat 'kehabisan energi'. Bahkan bisa dibilang mereka adalah teman pertama saya disini yang benar - benar ada bukan hanya di saat senang, tetapi juga susah. Mereka juga orang pertama yang melihat saya marah, sedih, dan stress. Mereka jugalah yang membuat saya akhirnya berani untuk membuka diri saya. Dan mereka bisa menerima berbagai kekurangan saya tersebut. Lebih dari itu semua, mereka memberikan banyak warna bagi hari - hari saya disini. Saya juga bersyukur karena mereka berdua sama - sama bersih dan rapih (satu hal yang paling saya tekankan saat tinggal dengan orang baru adalah kedua hal ini!), vegetarian (walaupun sampai saat ini saya masih mengaku diri saya' flexitarian', sebenarnya saya udah jaraaaaang banget menyentuh daging), dan banyak memberikan hal - hal baru dan positif dalam hidup saya mulai dari soal menu masak, merawat tanaman, hingga pengalaman hidup, serta menambah wawasan saya tentang isu lingkungan-politik. Terlepas dari berbagai drama yang sempat mewarnai awal pertemanan kami, saat ini saya merasa bersyukur dengan keputusan tinggal bersama mereka. Obrigado, moninas! 

3 comments:

  1. Wah, nggak kebayang kalau memutuskan tinggal sama orang yang benar-benar beda gitu Kak. Tapi kayak asyik ya, karena keluar dari comfort zone selalu disertai excitedment plus ketakutan haha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa emang awalnya deg - degan banget. Kaya rolling the dices gitu kaan, ga tau sebenernya orangnya gimana yang bakal tinggal sama kita.. tapi alhamdulillah banget dpt yang menyenangkan :')

      Delete
  2. wahh terkadang memang susah ya beradaptasi dengan orang baru..

    ReplyDelete