February 12, 2017

A Year of PhD : 5 Essential Life-Lessons

Setiap kali saya menjawab pertanyaan yang sering dilontarkan oleh banyak orang tentang rentang waktu program PhD, pasti jawaban mereka serupa, "Empat tahun? Lama banget!". Saya pun begitu, awalnya saya berpikir bahwa empat tahun ini akan sangat lama. Melihat rentang waktu yang akan dihabiskan, artinya sama seperti mengulang program sarjana kembali tapi kali ini dengan kondisi yang sangat berbeda. Empat tahun di program sarjana, berkenalan dan hampir setiap hari bertemu dengan ratusan teman seangkatan, menjalani hari dengan berbagai kegiatan organisasi dan kepanitiaan; tentu enggak akan terasa. Beda dengan empat tahun di program doktoral yang sering disebut sebagai "one of the loneliest journeys", dimana sebagian waktu dan hari - hari dilalui dengan berkutat pada riset yang sama dan dikerjakan oleh seorang diri, tentulah empat tahun akan terasa sangat panjang. Namun nyatanya, satu tahun ini terasa begitu cepat. Terkadang malah saya tidak bisa membedakan antara pagi dan malam. Nyatanya, semua rencana yang sudah dibuat sejak awal menjalankan program ini belum dapat dilakukan semuanya dalam waktu satu tahun. Ternyata benar kata orang - orang yang udah melalui program ini, empat tahun sebenarnya bukanlah waktu yang panjang. Dan baru setahun terlewati, tapi udah cukup banyak pelajaran yang mengubah diri dan hidup saya. Lucunya, setelah saya pikir kembali dan membaca beberapa pengalam orang lain, sebenarnya pelajaran utama yang saya dapatkan dalam kurun waktu setahun ini merupakan kondisi yang cepat-atau-lambat akan saya alami di masa yang akan datang. Terutama ketika nantinya saya memutuskan untuk lebih banyak bekerja dari rumah maupun sebagai independent researcher.


1. Time Management : Knowing When and How You Work Best
Hal pertama yang paling sulit untuk dilakukan adalah mengelola waktu dan mencari pola kerja yang paling sesuai. Meskipun saat saya menjadi dosen dulu pola kerja saya juga fleksibel (bisa datang siang) tapi saya masih diwajibkan untuk datang ke kantor dan bekerja 8 jam sehari. Kali ini, program doktoral yang saya ambil enggak memiliki kewajiban untuk ke kampus kecuali kalau lagi ada kuliah dan bimbingan. Jadi semuanya diserahkan ke saya. Sekilas terlihat enak sih ya, tapi sebenarnya justru sangat menantang dan lebih sulit dibandingkan bekerja dengan waktu yang udah ditentukan. Karena dengan diberikan kebebasan penuh, maka saya harus bisa membagi waktu agar enggak kelamaan melakukan kegiatan lain di luar riset tapi juga enggak kebablasan kerja. Bagi saya yang termasuk tipe orang ketakutan setiap saat dan gampang cemas kalau merasa ada tanggung jawab yang belum diselesaikan, maka di awal menjalankan program ini hampir setiap waktu saya terus bekerja. Malah di awal memulai PhD, saya sempat menjalani hari - hari dimana hidup saya cuma dihabiskan dengan kerja. Bangun tidur-sholat-sarapan-mandi-kerja-masak-makan siang-sholat-kerja-ngemil-sholat-kerja-sholat-masak-makan malam-sholat-kerja-tidur. Sampai akhirnya saya sadar bahwa dengan pola kerja seperti itu setiap harinya malah akan membuat saya jadi burnout.

Alhasil saya mencari cara, salah satunya adalah dengan mengelola waktu agar hidup saya lebih seimbang. Mulai dari baca - baca di internet, konsultasi dengan pakarnya (untungnya kampus saya menyediakan pakar yang bergelut di bidang ini); mulai dari mengatur waktu per jam, per hari, hingga per minggu. Saya pun sempat gonta-ganti cara mengelola waktu, hingga saya menemukan cara yang paling tepat. Setiap orang memiliki time management yang berbeda, ada yang memang sangat strict mengatur waktu-nya per jam. Nah, meskipun saya termasuk orang yang pasti harus merencanakan segala sesuatunya lebih dulu, ternyata saya bukanlah orang yang suka hidup dibawah rencana setiap jam-nya. Justru dengan begitu saya malah merasa terbebani, apalagi kalau ternyata ada beberapa rencana yang tiba - tiba berubah atau molor. Lagipula sejujurnya dengan pola kerja yang 'kaku' seperti itu enggak selalu efektif bagi saya, terutama karena tipe saya yang mudah banget pikirannya kemana-mana , alias mudah banget memikirkan segala sesuatunya (common problem for the 'thinker'), mulai dari analisa diri sendiri, pikiran mengenai tulisan untuk blog, kondisi keluarga dan sahabat di Indonesia, perubahan sikap orang yang saya kenal disini, sampai mikirin apa yang terjadi di dunia saat ini. Makanya kadang saya merasakan sisi enggak enaknya menjadi orang yang mudah banget merasakan dan memikirkan segala sesuatunya. Apalagi dengan tahapan riset yang awalnya lebih banyak membaca ini sangat mendukung untuk membuat saya sering melamun.

Ujung - ujungnya, hal ini justru membuat waktu saya semakin banyak terbuang. Di satu sisi kerja jadi enggak efektif, di sisi lain waktu buat relaksasi juga habis terpakai untuk mengatur pikiran saya untuk bisa fokus membaca jurnal. Kalau udah begitu, yang ada berbagai rencana tersebut malah membuat saya semakin stress. Setelah cukup sering seperti ini, akhirnya sekarang saya lebih mengikuti apa kata tubuh saya dibandingkan memaksakan kehendak. Jadi misalnya kalau pikiran saya mulai kemana-mana, saya berhenti sejenak dari kerja dan buka blog untuk menuangkan pikiran yang mengganggu saya tersebut. Dan setelah selesai menuangkannya, saya kembali bekerja lagi. Dengan begitu saya bisa jadi fokus kerja karena enggak ada lagi hal yang mengganggu pikiran saya. Sekarang saya lebih nyaman dengan bekerja sesuai dengan target bulan, minggu, dan akhirnya dipecah menjadi hari-an. Jadi misalnya target untuk bulan ini adalah menyelesaikan metodologi dan bahan untuk studi lapangan, maka saya memecah target 'besar' ini menjadi: target minggu ini pertanyaan untuk wawancara selesai; target untuk hari ini pertanyaan untuk variabel A selesai. Selain itu alasan lainnya kenapa beberapa kali saya ganti pola kerja adalah karena saya orangnya bosenan. Ada masanya saya baru bisa lancar kerja setelah makan siang (sekitar jam 13.00) hingga tengah malam (sekitar jam 01.00), tapi ada saatnya juga saya enggak bisa bekerja malam hari dan akhirnya mengganti pola kerja lagi menjadi pagi (sekitar 09.00) lalu berhenti saat sebelum makan siang (12.00), kemudian dilanjutkan lagi dari jam 14.00 sampai sore sekitar 18.00 (ini juga tergantung kalau lagi ada kelas zumba atau yoga). Dan dilanjutkan lagi malamnya dari sekitar jam 21.00 sampai 00.00. Disini saya bersyukur sih bisa menjalani program doktoral sebelum berkeluarga. Enggak kebayang cara mengatur waktu dan tenaga bagi orang - orang yang mengambil PhD apalagi sambil mengurus anak. Salut banget!


2. Work-Life Balance : Maintaining Your Social Life
Ini juga yang menjadi tantangan di awal saya menjalani PhD. Karena selalu merasa banyak kerjaan dan dikejar deadline, terkadang ini jadi alasan untuk menunda kegiatan lainnya dengan alasan  "banyak yang harus dikerjain sebelum ketemu supervisor" adalah alasan yang sering saya gunakan untuk menolak ajakan teman saya atau 'kabur' duluan dari pertemuan dengan mereka atau lama membalas Whatsapp dan Line. Memang terkadang ada saatnya ketika udah dekat dengan deadline pengumpulan progress ke supervisor atau pertemuan dengan supervisor, maka alasan tersebut wajar. Tapi seriusan deh, ini enggak bisa jadi alasan setiap saat. Karena seberapa sibuk dan banyaknya kerjaan yang mesti diselesaikan, the truth is, mereka enggak akan pernah dapat diselesaikan sampai program PhD ini berakhir. Dan dari pengalaman yang saya lalui setahun ini, saya juga menyadari bahwa seberapa besar komposisi introvert dalam diri saya (berdasarkan psikotes terakhir yang saya lakukan 9 bulan lalu, sisi extrovert saya hanya 18%), pada akhirnya saya tetaplah manusia yang merupakan makhluk sosial, yang butuh bertemu orang lain. Mulai dari jalan bareng teman, ikut social event di jurusan, volunteering, hingga hal yang paling penting adalah terus menjaga komunikasi dengan support system, yang bagi saya adalah keluarga dan para sahabat di Indonesia.

Namun dengan kondisi saya yang jauh dari keluarga dan teman, serta lingkungan dan sistem kerja PhD (terutama di jurusan saya yang sebagian besar candidate melakukan riset mereka di luar Belanda) yang membuat social circles saya semakin kecil, maka saya dituntut untuk lebih "rajin" bukan hanya dalam menjaga komunikasi dengan support system yang ada di Indonesia, tetapi juga "proaktif" berkenalan dengan orang - orang baru. Awalnya saya kira dengan kehadiran support system aja sebenarnya udah cukup, tapi nyatanya ketika adik saya menemani saya disini selama tiga bulan dan saat itu saya jarang bertemu dengan orang - orang baru dan teman saya lainnya, saya tetap merasa "kekurangan energi" dan malah merasa cemas karena udah cukup lama enggak berkomunikais dengan mereka. Saat itulah saya juga sadar bahwa saya butuh sesekali bersosialisasi dengan orang - orang di luar support system dan orang yang sering saya temui, yang artinya adalah berkenalan dengan orang - orang baru. Bertemu dan mengobrol meski hanya dalam beberapa jam sangat membantu banget melepas penat dan mengisi energi.

3. Work-Life Balance : Keep Doing Your Hobbies 
Satu hal yang bagi saya paling menyelamatkan saya dalam menjaga keseimbangan otak, jiwa, dan raga adalah melakukan hobi dan kegiatan yang saya suka. Setelah sempat mengalami masa dimana saya hampir burnout , kali ini sesibuk apapun saya akan terus mencari waktu untuk melakukan hobi saya. Meskipun ini tergantung dengan kondisi saya, sebisa mungkin saya lebih memilih untuk melakukan hal - hal kecil tapi dilakukan setiap hari daripada menunggu untuk meluangkan lebih banyak waktu saat weekend. Karena terkadang justru saat weekend, saya malah enggak bisa banyak mengerjakan hobi. Entah karena sibuk ngurusin kerjaan rumah (cuci baju, jadwal piket bersih - bersih rumah, belanja mingguan), entah karena ada acara lain di luar rumah. Mulai dari hal kecil aja seperti memasak resep baru yang simpel atau resep favorit yang udah lama enggak dibuat, blogging, ikut kelas zumba dan yoga secara rutin, baca buku non akademik, nonton film yang enggak terlalu menyita waktu banyak, dan hal - hal lainnya yang bisa dilakukan kapan aja.


4. Less Perfectionist : "You Will Never Finish Until You Get Your PhD"
Jujur, salah satu yang semakin membebani selama PhD ini adalah karena sifat saya yang perfeksionis, yang maunya keliatan progressive dan menyesuaikan ekspektasi para supervisor saya. Salahnya, ekspektasi mereka terhadap saya ini sebenarnya dibangun atas asumsi saya yang melihat bahwa kedua supervisor saya ini adalah orang - orang yang pintar, sehingga saya merasa harus menunjukkan kinerja yang lebih dari biasanya. Setiap mau bimbingan sama supervisor, pasti saya ingin supaya progress saya signifikan dari yang sebelumnya dan terlihat se-sempurna mungkin. Sampai akhirnya saya lupa bahwa sebenarnya mereka sama sekali enggak pernah menuntut saya untuk seperti itu. Saya bersyukur banget suatu ketika saya membicarakan hal ini kepada profesor saya dan ternyata profesor saya pun menyadari hal ini. Beliau bukan hanya menyadarkan bahwa apa yang saya lakukan selama ini udah melebihi apa yang diekspektasikan oleh beliau, tetapi juga mengingatkan saya bahwa hal terpenting yang harus diingat dari seorang kandidat PhD adalah bahwa semua ini lebih ke "proses". Sampai sebelum gelar udah di tangan, akan terus ada yang diperbaiki. Makanya jangan pernah takut untuk merasa "kurang bagus" atau "kurang lengkap" karena pada akhirnya sebagus dan selengkap apapun kerjaan kita, pasti akan selalu ada yang diperbaiki dan ditambahkan. Semenjak itu setiap kali bimbingan saya pasti menanyakan apa ekspektasi dari para supervisors saya di pertemuan berikutnya. Sehingga dengan begitu saya bisa bekerja sesuai dengan 'target ekspektasi' mereka.

5. Less Perfectionist : Be More Realistic
Karena saking bebasnya hidup saya saat ini (bisa diatur sesuka saya), kadang saya jadi salah memprioritaskan apa yang seharusnya menjadi prioritas. Jadi lebih banyak maunya. Jadi lebih pengen menjalani hidup yang 'ideal' dan yang udah lama saya ingin jalani. "Mumpung lagi di Belanda, sayang kalau 4 tahun enggak bisa bahasa Belanda". Padahal jangankan belajar bahasa lain, bahasa Sunda aja saya susah banget buat ingat. Karena pada dasarnya saya memang enggak berbakat dengan linguistic. Jadi yang tadinya buat fun dan semangat, malah jadi beban karena semakin dijalani semakin merasa 'harus bisa'. "Orang - orang disini pada naik sepeda, saya juga harus!". Sejujurnya saya suka bersepeda dan kadang lebih menikmati bersepeda daripada naik tram atau metro. Tapi kenyataan bahwa saya mesti sepedaan kemanapun pada akhirnya membuat saya stres sendiri. Yaa kalau cuma jarak 5 km masih boleh lah yaa dengan waktu tempuh 15 - 30 menit. Tapi kalau udah sampai 15km ++ dan ditempuh satu jam sekali jalan? Semenjak saya pindah ke apartemen baru saya yang berjarak 16 km dari kampus, saya pun masih nekat bersepeda bahkan ketika temperatur mulai semakin dingin. Alhasil dengan satu jam sekali jalan, bukan hanya bikin saya mudah sakit (bukannya malah bikin sehat), tapi juga tanpa sadar bikin saya stres sendiri. Intinya hidup ini udah berat, dan jangan memberatkan diri karena idealisme. Semua harus dilakukan sesuai kapasitas dan prioritas kita masing - masing.


Sebenarnya masih banyak sih pelajaran hidup yang saya dapatkan selama satu tahun menjalani PhD ini. Tapi untuk kali ini rasanya cukup lima hal ini dulu yang saya share disini karena menurut saya merekalah paling krusial untuk diceritakan. Kenapa paling krusial? karena secara pribadi, bagi saya satu tahun ini terasa sangat menantang justru bukan karena substansial riset saya, tapi lebih karena hal - hal esensial dalam hidup yang sempat terlupakan untuk dijaga keseimbangannya. Doain ya supaya tahun - tahun berikutnya akan lebih lancar! :D

4 comments:

  1. Dear Nazura,

    Aku engga tahu apakah aku sedang baper atau gimana, tapi ternyata ada beberapa hal yang aku alami juga, padahal aku baru S2. Akhir-akhir ini aku udah ngerasa stres karena kesepian dan sepertinya stuck sama tesis. Makanya untuk sementara waktu aku belum ada keinginan untuk S3, takut semakin frustrasi.
    But you know what, WE ARE lucky. Aku engga bisa menyebutkan satu-satu disini, tapi dengan dapat kesempatan melanjutkan pendidikan aja, sebenarnya kita bisa dianggap selangkah lebih maju daripada orang-orang yang engga mendapatkan peluang bagus ini. Kadang aku mengingatkan diri sendiri, untuk benar-benar mengaplikasikan ilmu yang aku miliki untuk kemaslahatan ummat - cuma ini juga jadi 'beban', hahahahaha.
    Semoga studi kita lancar ya, keep writing! :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Prima! Aku paham sih, makanya aku bilang juga kalo ini sebenernya mungkin hal yang juga dialami oleh independent researcher, salah satunya yaa pas tesis itu kan tanpa disadari kita juga jd "independent researcher"... iyaa emang perlu dipikir kembali, karena yang membuat S3 itu sangat berat adalah selain kita emang dituntut untuk lebih dlm membahas riset kita, tapi juga yaa lebih ke gimana kita bs menyeimbangkan diri dan hidup kita.

      Oh, iya banget.. kalo itu sih udah pasti.. aku sebenernya meskipun sejauh ini sangat struggling dengan kehidupan S3, tapi aku tetep bersyukur dan enggak menyesal, karena aku tau masih banyak hal yang perlu disyukuri dan enggak akan aku dapatkan kalo aku enggak S3 sekarang..

      Aamiin aamiiin.. semoga kamu juga selalu semangat dan cepat selesai tesisnyaa yaa :D

      Delete
  2. haii ka, senang bisa menemuka penulis dari buku Perjalanan, Cinta, Makna dan Perempua.. salam kenal kak =D ditunggu kabarnya di comentar ini atau di email aku di astidantirisna@gmail.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. hi asti! salam kenal yaaa! makasih udah baca buku aku.. semoga bermanfaat :)

      Delete