A Little Note From 2018

Bagi kamu yang udah cukup lama mengikuti blog ini seharusnya udah enggak asing lagi dengan kebiasaan saya menulis "contemplative post" di akhir atau awal tahun. Sejujurnya kali ini saya sempat kepikiran untuk skip menulis tentang 2018 karena enggak ada banyak hal kontemplatif yang bisa ditulis di sini. Di satu sisi, saya sangat bersyukur sekali karena tandanya tahun kemarin lebih baik untuk saya secara pribadi. Ketimbang tahun 2017 yang berbentuk U atau tahun 2016 yang bentuknya udah enggak jelas seperti track sebuah roller-coster yang penuh dengan kelokan, tahun 2018 kemarin gambarnya seperti detak jantung seseorang dalam kondisi koma yang terpampang di elektrokardiograf. Lurus panjang lalu ada lekukan segitiga kecil lalu kembali lurus panjang lalu ada lekukan segitiga yang tinggi, lalu kembali lurus lalu ada lekukan segitiga kecil, dan seterusnya begitu. Di sini saya enggak berbicara tentang cara interpretasi garis dan lekukan tersebut dari sisi medis. Dalam perspektif saya, garis lurus tersebut pertanda hidup saya selama setahun kemarin ya lurus aja alias stabil. Lekukan segitiga panjang ke bawah muncul ketika kakak saya meninggal karena di saat itu tentu aja emosi saya menurun selama beberapa bulan karena diliputi oleh kesedihan yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Namun akhirnya bisa kembali lurus kemudian diisi dengan lekukan segitiga panjang ke atas karena diliputi kebahagiaan atas pertunangan saya. Lalu berikutnya kembali lurus disertai dengan beberapa kali lekukan segitiga kecil ke atas dan ke bawah. Yaa, yang namanya hidup kan enggak mungkin terus lurus ya? Kalau kata dokter, garis panjang lurus tanpa adanya lekukan ke atas atau ke bawah justru menandakan hal lain yang menjadi antonim dari kata hidup.



Sebelum tahun 2018, saya enggak pernah memikirkan kenapa setiap kali mendengar berita meninggal, baik itu kerabat yang saya kenal maupun orang lain yang enggak dikenal sama sekali, kesedihan langsung datang secara otomatis. Saya bahkan enggak bisa memahami sepenuhnya apakah perasaan duka tersebut lebih ditujukan untuk pihak yang meninggal atau yang ditinggalkan atau berimbang keduanya. Namun akhirnya saya menemukan jawabannya bahwa menyaksikan orang - orang yang berjuang keras untuk bisa berdamai dengan diri mereka sendiri setelah ditinggalkan adalah suatu hal yang sama memilukannya dengan melihat orang - orang yang menahan rasa sakit  sebelum meninggalkan. Kepiluan setiap mengingat bahwa enggak akan ada lagi kesempatan untuk bisa bertemu maupun berkomunikasi lagi dengan mereka. Kepiluan akan perasaan yang terus mengganjal karena urusan yang belum terselesaikan, kata - kata yang belum terucap, serta pesan yang belum tersampaikan. Kepiluan setiap kali membayangkan sakit yang dirasakan oleh mereka ketika ajal datang menjemput, ketidakpastian akan apa yang mereka alami setelahnya, dan kesempatan yang belum mereka dapatkan di dunia yang kita jalani saat ini.

2018 taught me that grief is probably the most expensive thing we must pay for love as it takes a long time (or maybe a lifetime) to learn to live with loss. Nonetheless, I'm still an avid believer that it's better to feel pain and sadness from loving someone rather than to experience an absence of feelings. Jawabannya sesederhana karena manusia adalah makhluk yang memiliki rasa. Kematian sebagai sebuah tragedi hanya akan berujung ironi jika tanpa diikuti kesedihan dan kepedihan. Terlepas dari rasa sedih setiap kali mengingat orang - orang yang telah meninggalkan saya, ada perasaan bersyukur bahwa saya bisa merasakan kesedihan tersebut karena itu satu - satunya yang tersisa dari mereka di dalam hidup saya, satu - satunya tanda bahwa mereka masih ada di dalam hati saya.

0 Comments