Di Penghujung dan Awal Dua Puluh

Tahun ini menandakan awal baru buat banyak orang. Ketika angka belasan akhirnya berganti dengan angka dua puluh. Lebih dari sekedar pergantian dekade, tahun ini memiliki makna penting bagi saya karena menjadi tahun transisi, di mana pergantian season kehidupan saya berlangsung. Bukan hanya menjadi awal dari banyak episode kehidupan saya di season yang baru, tetapi juga menjadi penutup bagi episode kehidupan saya di season sebelumnya. Bagi saya, tahun ini adalah tahun terakhir saya berada di usia dua puluhan, sekaligus menjadi tahun penutup perjalanan saya di Rotterdam setelah 46 bulan berkelana ke sana.   


Lima minggu yang lalu saya mengambil penerbangan Amsterdam - Jakarta untuk ketiga kalinya di tahun 2019. Seharusnya, jika menggunakan logika dan pengalaman - pengalaman saya sebelumnya, dengan frekuensi sesering itu saya enggak akan terlalu excited ketika pulang lagi ke Jakarta di akhir Desember lalu. Apalagi kali ini kepulangan saya bukan hanya sekedar untuk liburan selama beberapa minggu; tapi untuk waktu yang tidak terkira  jika kata "selamanya" terlalu berlebihan untuk diucapkan. Dan seharusnya, saya akan menangisi perpisahan saya dengan Rotterdam, yang menjadi tempat tinggal saya selama hampir empat tahun ke belakang. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya. Semakin dekat dengan hari kepulangan, yang saya rasakan adalah stress karena deadline yang semakin dekat sebelum pulang dan excitement untuk kembali pulang. Setiap kali ditanya bagaimana perasaan saya akan pulang for good ke Indonesia, saya selalu bilang kalau perasaan saya campur aduk. Awalnya, perasaan campur aduk itu adalah "sedih dan senang". Lama kelamaan, rasa sedih tersebut tergantikan oleh perasaan senang (yang enggak perlu dijelasin lagi alasannya), deg - degan karena akan menghadapi berbagai transisi dan adaptasi di kehidupan baru sekembalinya ke Indonesia. Dan... lega, karena enggak perlu lagi mengucapkan perpisahan di bandara; enggak perlu merasa khawatir dengan segala skenario semesta yang mungkin terjadi di antara jarak belasan ribu kilometer. Niat saya untuk menulis farewell post buat Rotterdam pun belum bisa terlaksana karena seluruh perasaan sedih yang sempat terasa, semakin hari semakin menghilang. 


Entah ini yang disebut dengan proses bertambah tua atau mungkin juga karena berbagai faktor, yang jika diakumulasikan, membuat semua logika dan pengalaman saya enam tahun lalu   ketika saya kembali ke Indonesia setelah 1.5 tahun di Inggris  tidak berlaku lagi kali ini. Di antara berbagai kemungkinan - kemungkinan, satu faktor yang paling pasti adalah pengalaman yang terlalui selama enam tahun ini. Ozu yang berusia 22 tahun masih haus melihat dunia, masih mencari jati dari, masih penasaran dengan banyak hal, masih senang dengan ritme kehidupan yang tidak tetap, masih ingin bebas ke sana ke mari, dan masih belum tau betapa beruntungnya ia memiliki orang - orang yang selalu ada dan mendukung dirinya. Sementara Ozu yang berusia 28 tahun masih haus untuk mengunjungi banyak tempat, namun enggak lagi ingin melihatnya seorang diri. Masih penasaran dengan banyak hal, namun dengan hal - hal yang bersifat stabil dan permanen. Hal yang paling lucu, selama ini saya selalu menganggap Bandung, Bournemouth, dan Rotterdam sebagai rumah saya, namun kali ini saya tersadarkan bawah rumah saya sebenarnya adalah Jakarta. Ummm, yeah, I surprise myself at what I write here :)) Karena terlepas dari kemacetan, panas, dan hal - hal kurang menyenangkan lainnya dari kota ini, Jakarta adalah tempat di mana suami, orangtua, (hampir seluruh) anggota keluarga, serta sahabat - sahabat saya berada. And I think, there is no more accurate definition of "home" rather than "where the loved ones are".


Awal tahun memang selalu membuat perasaan optimis muncul ketimbang di bulan - bulan lain. Tapi udah lama rasanya saya enggak merasa se-optimis ini ketika menginjak usia baru, and at the same time, so thrilled to face the year ahead. Meskipun baru menginjak usia 29 selama dua minggu, I have a hunch that it's going to be awesome! Saya juga merasa sangat bersyukur bisa merasakan kebahagiaan yang terlihat sederhana untuk banyak orang, namun terasa mahal untuk saya. Melakukan hal - hal baru yang layaknya dilakukan oleh newlyweds seperti hunting rumah, belanja perabotan rumah tangga dan groceries, memasak sambil mencoba berbagai resep baru atau mengulangi resep lama (yang udah lama enggak dicoba), atau sekedar leyeh - leyeh bareng di penghujung hari. Berkumpul bersama keluarga dan sahabat - sahabat saya tanpa harus menunggu berbulan - bulan dulu. Menikmati limpahan cahaya matahari yang sesekali disertai dengan mendung dan hujan. On a side note, I feel way more secure with what I have done over the past four years – nearly there till I say "it's a wrap!". Semoga tahun ini menjadi tahun yang baik untuk kita semua yaaaa :)

1 Comments

Post a Comment