July 22, 2015

Happy Eid Day




Top: Unbranded. Kain Batik: Unbranded. Necklace: Primark.
Clutch Bag: Cotton On. Strap Heels: VNC. 

July 19, 2015

A New Way of Living

Dari sekitar tiga bulan belakangan ini setiap kali ketemu teman dan kerabat, terutama yang udah lama enggak ketemu sama saya, pasti hampir pada selalu berkomentar kalau saya terlihat kurusan banget. Ada beberapa yang cuma berkomentar, tapi ada juga yang penasaran kenapa bisa kurusan seperti ini. Bahkan ada yang sampai nanya saya pake program diet apa! Haha. Padahal mah dari awal saya enggak ada maksud buat nurunin berat badan atau diet. Saya hanya sedang berusaha untuk mengubah cara hidup saya aja *tsaaah*. Yayaya, mungkin kamu akan mikir "ah ini paling hanya ikut-ikutan trend hidup sehat aja nih". Saya pun sempat punya pikiran begitu saat melihat semakin banyak teman dan orang yang saya kenal jadi mendadak bergaya hidup sehat belakangan ini. Mulai dari postingan ala - ala di Instagram dengan sebuah bowl yang diisi yoghurt dengan granola dan buah-buahan segar, atau tangan dengan segelas veggie smoothies, almond milk, coconut water, dan produk sehat kekinian lainnya. Belum lagi dengan munculnya berbagai olahraga hits seperti ikut kelas zumba, muay thai hingga yoga di taman publik. Rasanya kalo enggak olahraga hits atau makan sehat, kayanya kurang kece gimana gitu yaa :)) Di satu sisi bagus sih, ketika melihat trend hidup masyarakat kita yang semakin banyak menyuarakan pentingnya pola hidup sehat. Tapi yang mengkhawatirkan adalah jika "hidup sehat" ini hanya sekedar trend sesaat, bukan sebagai a way of living yang terus dilakukan ke depannya. 



Jujur aja nih, pada awalnya saya bukan termasuk orang yang mengikuti trend hidup sehat. Selain karena saya emang bukan tipe orang yang suka heboh mengikuti trend, tapi yang paling pasti sih alesannya karena saya belum "tersentuh" hatinya untuk mengubah pola hidup saya menjadi seperti itu. Well, kalau untuk habit "lari tiap minggu", dari pas jaman kuliah sampai sekarang kalau lagi enggak jamannya kerja romusha, saya pasti mengusahakan untuk lari minimal dua kali seminggu. Bukan karena apa - apa, melainkan saya sendiri udah langsung merasakan manfaat dari "lari pagi/sore secara konsisten setiap minggu". Nah, yang susah justru meyakinkan diri saya untuk mengubah pola makan yang sehat. Entah kenapa meskipun udah berkali - kali menjalani diet dan berhasil sekalipun dari jaman SD (fyi, waktu itu saya gendut banget kaya ikan buntel), SMA bahkan sampai lulus kuliah S1 (kesannya saya hobi banget buat diet ya :p), komitmen saya untuk terus menjalaninya enggak pernah bisa bertahan lama. Dan saya baru sadar belakangan ini bahwa alasan sebenarnya kenapa "pola makan dan hidup sehat" yang saya lakukan sebelumnya enggak pernah bertahan lama adalah karena tujuan utama saya waktu itu bukan untuk menjadi dan mempertahankan hidup sehat, melainkan hanya supaya bisa turun berat badan. Jadinya walaupun udah tau makanan apa aja yang sebaiknya dikonsumsi dan dihindari, ujung - ujungnya setelah berat badan saya turun, pemikiran "yang penting kan udah turun", "ah masih muda ini", "enggak apa - apa makan yang penting hati senang, pikiran tenang", "masih banyak waktu buat bisa hidup sehat nantinya", dst dll, berhasil mengalahkan niat saya untuk konsisten peduli dengan bagaimana dan apa yang saya konsumsi.  

Sampai akhirnya sekitar bulan Februari - Maret lalu itu cukup memberikan tamparan bagi saya. Mulai dari typhus yang membuat saya hampir sebulan terpaksa enggak masuk kerja karena harus bedrest dan bolak balik ke rumah sakit buat ngecek darah dll, kemudian hasil medcheck yang menunjukkan kalau kolesterol saya 198 (padahal batas toleransinya adalah 200!!), sampai akhirnya yang puncaknya adalah saya sempat didiagnosis sebuah penyakit yang sempat membuat saya dan orang-orang terdekat saya sangat down, bahkan I almost lost my desire to live sampai akhirnya pemeriksaan terakhir menunjukkan bahwa (alhamdulillah) penyakit tersebut enggak terbukti di badan saya. Darisitulah saya kembali tersadar akan enggak enaknya hidup sakit - sakitan. Mulai muncul pertanyaan - pertanyaan serta berbagai penyesalan kenapa selama ini hidup dengan cara yang enggak membawa dampak baik buat diri saya sendiri. Semua itu akhirnya jadi turning point buat intropeksi diri dan awal mula saya mencoba untuk mengubah pola hidup saya seperti sekarang.  

Sebenarnya saya pun sampai sekarang belum ke tahap yang bisa dikatakan pola hidup sehat yang sempurna. Karena menurut saya untuk benar - benar mengubah pola hidup kita sampai kita tua nantinya enggak akan semudah itu. Apalagi kalau seperti saya yang udah terbiasa dengan pola hidup yang cukup acuh selama belasan tahun. Tapi kayanya enggak ada salahnya untuk berbagi langkah - langkah yang udah saya jalani selama hampir 5 bulan ini. 



1. Change Your Mindset 
Saya termasuk yang percaya bahwa kekuatan pikiran itu melebihi kekuatan - kekuatan lainnya. Jadi ketika dari awal pikiran kita hanya untuk ikut - ikutan trend atau orang lain, maka kemungkinan besar yang akan terjadi adalah ketika trend atau orang lain yang kita ikuti itu udah enggak menjalani pola hidup sehat lagi, akhirnya kita pun jadi ikutan goyah. Makanya penting banget dari awal untuk mengubah pikiran bukan buat diet, apalagi hanya sekedar ikut - ikutan, tapi karena memang sadar bahwa pola hidup seperti ini bermanfaat buat diri kita sendiri saat ini dan ke depannya. Jadi ketika makan sayur - sayuran dan buah - buahan dimakannya enggak secara terpaksa atau ada pikiran "wah ini mah bakalan laper lagi", dan sebaliknya, ketika enggak makan nasi atau makan daging enggak akan ada pikiran "bakalan lemes ini sih beberapa jam lagi". Akhirnya sekarang ketika mindset saya udah berubah, saya hampir enggak pernah lagi merasa tergoda ketika melihat berbagai makanan dan jajanan yang dulunya selalu menggoda setiap kali lewat atau melihatnya, padahal sebenarnya lebih banyak membawa mudharat daripada manfaatnya :))

2. The Power of Habit
Wah bagian ini sih yang paling susah buat saya ketika dari awal mencoba mengubah pola makan saya. Mulai yang tadinya harus minum teh 2 - 3 kali sehari, sekarang hanya 1 - 2 kali seminggu. Selebihnya minuman saya selalu air mineral, bahkan ketika buka puasa sekalipun. Begitu juga dengan roti yang biasanya jadi makanan favorit saya saat sarapan, sekarang dialihkan menjadi berbagai jenis buah - buahan. Lalu cemilan manis atau bermecin jadi cemilan sehat rendah kalori dengan serat tinggi seperti Soyjoy, oat cookies, dan rumput laut. Selain itu sayur - sayuran juga harus selalu ada ketika makan besar, bahkan cenderung mendominasi piring saya. Dulu saya suka banget makan nasi dengan ayam goreng, rendang dan dendeng! Sekarang kalau ada pilihan antara ayam atau daging merah dengan ikan, pasti tanpa ragu - ragu saya akan pilih ikan (padahal dulu saya jarang banget makan ikan karena enggak terlalu suka!). Begitu juga dengan gorengan yang diganti dengan pepes atau kukusan, fresh milk dengan susu kedelai atau yoghurt, sereal manis menjadi granola. Saya juga udah hampir enggak makan nasi putih atau merah kalau memang enggak benar - benar lagi pengen. It seems a very tough work at first, but if it was that easy, we'd all be doing it!  

3. Sometimes, You Need To Indulge Yourself 
Satu hal yang menjadi pelajaran berharga ketika saya menjalani diet saya dulu adalah jangan pernah terburu - buru mengubah hal yang udah lama kamu jalani, karena pada ujungnya justru bisa menggagalkan hal baru yang kamu akan jalani. Jadi dulu itu saya sempat gagal diet karena beberapa hari saya bisa makan sangat sedikit sekali, tetapi akhirnya hal itu malah membuat nafsu makan saya menjadi sangat membesar, lalu ujung - ujungnya saya enggak kuat dan akhirnya pola makan saya malah enggak terkontrol. Nah buat sekarang, salah satu kelemahan saya adalah PMS karena saat itu nafsu makan saya bisa sangat besar dan pengennya makan - makanan tertentu yang kebanyakan adalah enggak sehat, ha! Mulai dari martabak keju, pretzel, indomie, bakpia, dan makanan favorit saya lainnya bisa mendadak saya idam - idamkan. Akhirnya daripada saya tahan - tahan dan ujungnya malah makin kepikiran, saya biarkan aja diri saya buat makan apa yang lagi saya pengen. Tapi tetap dengan porsi yang wajar dan enggak berlebihan. Misalnya, yang biasanya saya makan pretzel satu, sekarang kalo lagi pengen makannya cuma setengah, martabak yang tadinya sekali makan bisa 2-3 buah, sekarang hanya satu. Kalo dari pengalaman saya justru dengan memuaskan nafsu makan secara satu per satu, jadi menghindari nafsu makan yang berlebihan ke depannya. 

4. Eat More Often!
Berbeda sama kebanyakan orang yang turun berat badan karena jarang makan, kalo saya justru sering banget makan! Jadi pasti saya hampir selalu bawa buah atau cemilan sehat, terutama saat pergi ke kantor (duduk seharian di depan komputer membuat saya lebih pengen ngemil!). Karena dari pengalaman saya, dengan makan sering tapi dalam jumlah sedikit akan menekan nafsu makan yang berlebihan saat mau makan siang atau makan malam. Jadi enggak heran kalau saya ngemil dalam waktu 2 - 3 jam sekali. Malahan saya jadi cenderung makan lebih banyak atau enggak terkontrol (makan makanan yang bergizi rendah) ketika enggak ada buah atau cemilan sehat karena menahan lapar dan akhirnya sekalinya makan jadi kalap. 

5. Special Menu For Fasting
Dulu setiap kali saya dengar beberapa orang yang saya kenal hanya makan buah - buahan aja saat sahur, yang terlintas dalam pikiran saya adalah "ih kok kuat sih? Enggak lemes dan laper apa ya pas puasa?". Tapi sekarang saya dapat jawabannya sendiri bahwa justru hanya dengan makan buah - buahan dan minum air putih yang banyak, saya jadi enggak lemes, laper dan haus selama puasa! Sebaliknya, saya pernah sahur dengan nasi plus lauk, tapi akhirnya malah gampang laper dan lemes karena konsumsi buahnya lebih sedikit dari biasanya. Begitu juga untuk menu berbuka puasa, saya lebih memilih untuk berbuka dengan buah - buahan dulu, baru berbuka dengan makanan lain. Selain supaya lebih mendapat asupan gizi yang lebih baik, dengan makan buah - buahan di awal juga dapat mencegah makan berlebihan karena udah keburu kenyang duluan.

6. Detox 
Seperti yang sebelumnya saya bilang di poin ketiga, pasti ada saatnya dalam sebulan ketika dalam dua hari berturut - turut makan saya jadi berantakan, alias kebanyakan mengkonsumsi makanan yang berlemak tinggi dan bergizi rendah. Entah itu karena PMS, nafsu makan dadakan atau karena ada perayaan tertentu seperti ulang tahun, makan keluarga, atau yang baru - baru ini adalah lebaran. Selain memberikan kebebasan ke diri saya untuk makan sesuka hati tapi dengan porsi yang masih wajar dalam waktu satu sampai dua hari, saya juga membuat perjanjian dengan diri saya untuk  mengalokasikan dua hari setelahnya untuk detoksifikasi atau membuang racun - racun di tubuh saya. Cara detox tiap orang berbeda - beda sih yaa, kalau saya lebih memilih makan buah - buahan dan minum lebih banyak air putih. Karena program detox ini cukup membuat badan saya jadi lemas, biasanya saya memilih waktu saat  weekend ketika saya enggak terlalu banyak beraktivitas di luar. Seharusnya sih detoksifikasi ini lebih baik lagi kalau dijalankan minimal tiga hari sampai seminggu, tapi saya sendiri masih berusaha sampai sekarang untuk bisa menaikkan jumlah hari untuk detoksifikasi ini hehe.

Alhamdulillah banget, semenjak saya mengganti pola hidup saya seperti sekarang ini, bukan hanya badan saya jadi terasa lebih nyaman, tetapi yang lebih penting lagi adalah saya jadi enggak gampang sakit dan lemas. Padahal bagi saya yang penderita anemia dan darah rendah ini, sebelumnya saya sering banget pusing dan lemas loh! Tapi sekarang rasanya selalu banyak energi untuk menjalani aktivitas saya sehari - hari. Perubahan pola hidup ini juga membuat saya lebih mudah untuk berpikiran dan merasa positif dengan diri saya. Yuk mareeee sama - sama melakukan suatu hal yang bisa membuat diri kita beberapa puluh tahun ke depan merasa bersyukur dengan keputusan yang diambil oleh diri kita saat ini :D

July 10, 2015

Never Been Better


Floral Blazer: Cotton On. Peach Shirt: Thrifted. Pants: Cotton Ink.
Bag: Raoul. Shoes: Topshop.

July 08, 2015

There is no greater pillar of stability than a strong, free and educated woman, and there is no more inspiring role model than a man who respects and cherishes women and champions their leadership.

Angelina Jolie

July 05, 2015

A Little Island Full of Surprises

Melakukan perjalanan bareng di Indonesia setelah kami pulang adalah salah satu hal yang udah cukup lama direncanakan oleh saya dan Dini, salah satu sahabat saya selama studi di Inggris dulu. Tapi yaa berhubung kesibukan pekerjaan kami, terutama Dini yang susah mendapatkan waktu untuk cuti, akhirnya rencana kami tersebut tertunda hampir setahun. Sampai akhirnya suatu siang, Dini tiba - tiba menyapa saya di Line dan mengajak pergi liburan ke Bali sekalian menemani teman kami dari Bulgaria yang akan datang ke Indonesia pada bulan Juni. Awalnya saya sempat ragu untuk ikut, karena sebenarnya saya udah bosen ke Bali yang menurut saya isinya cuma itu - itu aja. Pikiran saya ini akhirnya berubah ketika kami memutuskan untuk liburan ke Gili Trawangan dulu sebelum ke Bali. Apalagi ternyata lagi ada promo buat speed boat dari Bali ke Gili Trawangan, langsung deh menghapus segala keraguan saya buat pergi liburan bareng *anak diskonan banget nih :p*. Maklum, udah lama sebenarnya saya penasaran dengan pulau kecil yang katanya sih berasa bukan di negara sendiri karena saking banyaknya wisatawan asing yang datang.







The Story Behind The Beautiful Photos

Dengan total liburan selama enam hari, yaitu empat hari di Gili dan dua hari di Bali, saya awalnya sempat bingung bagaimana menghabiskan waktu disana dan mikir "ini mau ngapain aja ya di Gili". Secara gitu yaa dari informasi yang saya dapat, Gili itu hanya pulau kecil yang sebenarnya dua hari aja udah cukup buat dieksplor. But apparently, empat hari itu berasa cepet banget loh! Apalagi dengan banyaknya hal - hal yang "di luar rencana" saya dan Dini, makin aja enggak terasa waktu berlalu. 

Mulai dari awal keberangkatan yang udah telat karena si travel bandara - Padang Bai yang super duper ngaret (rencana awal penjemputan jam 9, eh baru nyampe bandara jam setengah 12... bikin gemes banget enggak sih?). Sampai berlanjut ketika kami udah sampai di Gili dan mau mencari tempat penginapan yang udah dibooking dari beberapa minggu sebelum berangkat. Entah penginapan ini kurang populer, masih baru, atau gimana, yang jelas dari hasil obrolan kami ke beberapa masyarakat lokal yang kami temui, enggak ada satupun yang tau keberadaan si Gili Inlander ini (tempat penginapan kami). Sebenarnya bisa aja sih kami memilih cara cepat dengan menyewa andong (delman), karena seharusnya si tukang andong pasti tau lah yaa penginapan - penginapan di Gili. Tapi karena Dini tetep kekeuh kalau si penginapan kami ini enggak jauh dari dermaga dan demi menghemat Rp 50.000 juga (biaya sewa si andong), maka kami memutuskan buat jalan kaki aja sambil mengikuti petunjuk dari Google Maps. Saya pun sebenarnya enggak masalah pada awalnya, karena sekalian bisa sambil jalan - jalan mengeksplore pulau. Tapiii ternyataaa, jarak yang terlihat dekat di peta itu aslinya jadi jauh dan ditambah lagi ada beberapa jalan yang belum diupdate oleh Google Maps. Alhasil, beberapa kali kami nyasar dan muter - muter karena kondisi aslinya berbeda dengan yang ada di peta! Untung banget masyarakat lokal disana pada baik - baik banget untuk memberitahu jalan, bahkan yang terakhir itu kami ketemu dengan orang lokal yang dengan sukarela menemani kami sampai ke tempat penginapan kami tersebut. Sungguh terharuuu!

Nah, ini nih yang paling bikin gregetan. Sesampainya di Gili Inlander, udah seneng - seneng mau istirahat setelah perjalanan kami yang melelahkan, tiba - tiba si pegawainya bilang "wah maaf mbak kamar kami udah penuh". Lalu dengan muka super gondok seakan mau teriak "WHAT THE **LLLLL?!?!!!", saya dan Dini coba tenang sambil menutupi kekagetan kami. Tapi gimana enggak kaget coba yaaa, karena jelas - jelas dari beberapa minggu sebelum berangkat kami udah booking dan bahkan udah bayar untuk satu malam pertama. Si pegawai nya sendiri sebenarnya enggak tau-menau karena hanya mengikuti perintah dari manajernya yang bilang bahwa kami enggak jadi menginap. Padahal, sehari sebelum kami datang, si manajer itu udah sempat menghubungi Dini untuk konfirmasi kedatangan kami, dan Dini udah bilang kalau kami jadi datang apalagi udah sampai membayar malam pertama. Tapi entah ada apa dengan si manajer itu, jadinya dia tetap menganggap kami enggak jadi datang, yassalam banget enggak sih -____-". Akhirnya karena udah keburu kesel banget dan enggak mungkin kami cari penginapan lain karena saat itu udah mau maghrib dan juga kami udah terlalu lelah, saya dan Dini tetap meminta pertanggungjawaban dari pihak penginapan untuk mencari tempat lain dengan range harga dan fasilitas yang sama. Yaa walaupun akhirnya dicarikan dan diantarkan ke penginapan lain, but it turned out that penginapan pengganti ini enggak nyaman dan kami pun memutuskan buat mencari tempat lain keesokan harinya. Dan alhamdulillah setelah beberapa jam pencarian, akhirnya kami menemukan penginapan lain untuk dua malam berikutnya :")


The best vegetarian tapas I've ever tried so far! (at Coba - Coba Restaurant)





Travel Tips

Salah satu hal yang membuat saya surprised ketika berada di Gili adalah bahwa banyak banget hal menarik disini! Soalnya saya sempat kesulitan mendapatkan informasi tentang Gili sebelum saya berangkat. Bahkan ketika saya udah mencari di Trip Advisor, Lonely Planet, Travelettes, hingga berbagai blog random yang saya temui di Google, saya masih aja merasa kekurangan informasi tentang apa aja yang sebaiknya dibawa, apa aja yang bisa dilakukan disana selain bersepeda, snorkeling dan diving, dan pertanyaan lainnya yang belum terjawab sampai akhirnya saya sendiri yang menemukan jawaban dari pertanyaan - pertanyaan tersebut. 

1. DON'T EVER BRING LUGGAGE!
Hmm, mungkin perlu sedikit digarisbawahi sih, kalau koper ini enggak cocok buat kamu yang penginapannya jauh dari dermaga dan yang mau menghemat biaya transportasi. Jadi yang tadinya koper ini dibawa supaya enggak repot kalau dibawa kemana - mana, eh taunya malah keputusan saya ini salah total! Karena jalanan di Gili masih banyak yang kurang bagus, alhasil ketika saya memaksakan untuk menyeret koper saya dengan jarak yang cukup jauh, roda koper saya akhirnya rusak dan mau enggak mau harus saya tenteng, duh! 

2. Rent your bike & go explore the island
Menurut saya sih sayang banget kalau kamu ke Gili tapi enggak mengelilingi satu pulau. Karena justru saya menemukan banyak hal - hal menyenangkan ketika saya sedang mengeksplore dengan sepeda. Sebenarnya balik lagi sih ya ke pilihan masing - masing orang, apakah mau naik sepeda atau naik andong (yang pasti sih enggak bisa jalan kaki, kecuali kalau kamu kuat jalan jauh dan tahan panas). Tapi berhubung saya suka mengeksplore jalan - jalan kecil, saya tipe orang yang suka berhenti seenaknya kalau nemu objek yang bagus buat difoto, dan ditambah dengan harga sewa sepeda satu hari sama dengan harga sewa andong sekali jalan (!), maka sepeda adalah pilihan yang paling tepat untuk saya. Oh iya, untuk mengelilingi satu pulau kira - kira kamu membutuhkan waktu sekitar 2 jam (bahkan lebih, kalau kamu tipe yang kaya saya suka berhenti buat foto - foto). 

3. Catching the sun 
Buat kamu yang pengen melihat sunset, saran saya sebaiknya ke Ombak Sunset atau Sunset Point untuk melihat sunset yang paling bagus di Gili. Tapi berhubung Sunset Point itu terbuka untuk umum (alias enggak bayar) dan pasti akan penuh banget, saya lebih memilih Ombak Sunset yang lebih private. Di dua tempat ini juga ada ayunan di "tengah laut" yang biasanya jadi tempat spot kece saat detik - detik menjelang sunset. Sedangkan untuk spot sunrise, saya awalnya menunggu di dermaga karena disini Gunung Rinjani bisa terlihat lebih jelas dan dekat daripada spot lainnya. Tetapi ternyata di dermaga itu kami enggak bisa melihat matahari "bulat" nya sampai muncul, jadi akhirnya pindah tempat ke arah yang lebih timur.   

4. Stargazing at the Sunset Point 
Saya memang belum pernah mengunjungi pulau - pulau lain di sekitar NTT, tetapi untuk melihat bintang - bintang bertebaran di langit saya bisa pastiin bahwa Gili adalah salah satu tempat yang tepat! Disitu kadang saya merasa sedih enggak punya kamera dan lensa tele super canggih buat memfoto mereka :(

5. Don't expect to have the best snorkelling experience
Awalnya, saya dan Dini sempat kaget karena melihat banyak banget masyarakat lokal yang menawarkan paket snorkelling ke tiga Gili dengan hanya membayar Rp 100.000. Tapi ternyata harganya bisa semruah itu karena waktu yang diberikan pun hanya sebentar. Kalau kamu belum pernah snorkelling di tempat lain mungkin enggak akan begitu kecewa dengan yang ada disini. Nah, berhubung saya udah pernah mengikuti paket snorkelling yang lebih lama dan menawarkan pemandangan bawah laut yang lebih bagus, begitu ikut paket wisata disini yang hanya kurang dari 3 jam, jadinya malah enggak puas karena terburu - buru dan spotnya pun enggak terlalu banyak yang bisa dilihat. 







6. Instead of trying the local food, you better try the western one
Beberapa kali mencoba makanan Indonesia di restoran yang berbeda, membuat kami akhirnya kapok karena kebanyakan makanan lokal yang disajikan itu pasti disesuaikan dengan lidah para bule. Dari hasil icip - icip yang saya lakukan di beberapa tempat, makanan lokal yang paling memuaskan adalah nasi campur yang ada di pasar malam. Selain lauk pauknya yang memang berasa, sambalnya itu loh mantep banget! Oh iya, nasi uduk yang suka dijual sama ibu - ibu keliling di pagi hari juga boleh dicoba tuh. 

7. Climb to the island's highest point
Jadi suatu siang ketika saya dan Dini sedang bersepeda mengeksplore gang - gang kecil, tiba - tiba terlintas pikiran mau ke bukit. Memang sebelumnya saya pernah baca bahwa ada jalan menuju bukit untuk melihat pemandangan Gili dari atas. Dan ternyata ketika kami tanya ke salah satu penduduk yang sedang lewat, katanya tempat kami saat itu dekat dengan jalan menuju bukit. Beneran dekat sih, cuma ternyata jalanan yang kami tempuh itu bukan jalan utama untuk wisatawan. Makanya kami sempat heran kenapa enggak ada tanda - tanda petunjuk jalan sama sekali dan bahkan harus melewati beberapa kawanan kuda, kambing dan sapi segala, haha! It was truly one of a kind! 

8. Outdoor cinema by the sea
Kalau udah bingung mau ngapain lagi setelah makan malam, bisa cobain salah satu outdoor cinema yang diadakan oleh beberapa restoran dan hotel setiap malamnya. Waktu itu kami memilih di Hotel Vila Ombak dengan harga tiket Rp 50.000/orang, karena saat itu yang paling menarik film dan tempatnya. Kapan lagi bisa nonton layar tancap di pinggir pantai sambil mendengarkan deburan ombak, merasakan angin pantai yang sepoi - sepoi dan minum jus jambu yang segaarrr :D

9. Gili = pulau lokal-harga bule :p
Karena sebagian besar wisatawan yang datang kesini adalah wisatawan asing, jadi jangan kaget kalau harga - harga disini pun disesuaikan dengan harga untuk mereka. Lumayan bisa bangkrut sih kalau hidup disini, sebotol air mineral ukuran sedang aja bisa sampai Rp 10.000! 

10. Leyeh - leyeh at Ombak Pearl Beach Lounge
Bisa dibilang ini adalah salah satu tempat favorit saya. Karena selain pemandangannya yang ciamik banget buat sekedar leyeh - leyeh atau sambil baca buku, makanannya juga enak - enak. Waktu itu saya cobain salah satu pizza-nya (duh, lupa namanya!) dan es krim rasa Ferrero yang dua - duanya bikin nagih!!

Terlepas dari cerita di hari pertama yang terlihat jauh dari liburan yang sesuai dengan ekspektasi saya,  sebenarnya dari pertama kali tiba disini saya udah suka banget sama Gili. Karena menurut saya, pulau kecil ini banyak menyimpan hidden treasure yang bisa ditemukan hanya ketika kamu benar - benar mengeksplore dan berani untuk go off the beaten track! Walaupun ramai, tapi entah kenapa keramaiannya itu enggak berlebihan atau membuat enggak nyaman, justru suasana ramai itu yang membuat pulau ini lebih terasa hidup dan bersahabat. Somehow, pulau ini juga mengingatkan saya dengan Morocco yang sangat kental dengan authentic local experience. Selain masyarakatnya yang super ramah dan sangat membantu wisatawannya, saya juga sangat mengapresiasi komitmen pemerintah dan masyarakat Gili untuk tetap menggunakan kendaraan ramah lingkungan seperti andong, sepeda dan motor listrik! Jujur aja saya cukup kaget ketika melihat banyak sekali kapal di sekitar pulau, tetapi air lautnya masih sangat jernih. Buat kamu yang belum pernah ke Gili, I highly recommend you to visit this little island!