July 24, 2016

#ROH 38: Bakpia

Sebagai penyuka makanan manis dan bertepung, enggak heran kalau empat makanan terfavorit saya di dunia ini berhubungan dengan kedua jenis makanan tersebut : cokelat, roti, martabak manis, dan bakpia. Dan semakin enggak mengherankan jika semenjak pindah ke Rotterdam, hanya ada 2 makanan Indonesia yang sempat bikin saya kepikiran berhari - hari, yaitu martabak keju dan bakpia (yaa secara gitu kan yaa, roti dan cokelat "enak" bisa dengan mudah didapatkan disini). Kenapa enggak beli aja? Well... pelajaran penting ketika hidup di luar negeri adalah, makanan buatan abang - abang entah itu martabak manis; nasi goreng; atau makanan lainnya yang dijual di pinggir jalan di Indonesia, terbukti (hampir selalu) lebih enak daripada buatan orang Indonesia yang tinggal di luar negeri. Saya enggak bermaksud generalisasi ya, tapi dari pengalaman saya dan kebanyakan pengalaman teman lainnya, begitulah kenyataannya. Terus kenapa enggak bikin sendiri aja? Oh, well....  saya udah pernah coba sekali bikin martabak keju, dan hasilnya malah enggak jauh beda dengan pancake yang biasa saya buat, padahal udah bela - belain masak dengan total waktu sekitar tiga jam. Akhirnya semenjak itu saya belum pernah coba bikin lagi :))

Nope, this is not a sponsored post.

Makanya saya senang banget ketika Gladyz berkunjung kesini sebulan yang lalu. Jadi dari beberapa bulan hingga beberapa hari sebelum dia datang, saya udah memberitahu dan selalu mengingatkan untuk membawa kedua titipan makanan saya tersebut. Saya juga udah nitip untuk dibelikan bakpia kesukaan saya ke Ali yang memang lagi kuliah di Yogyakarta. Daaaaan, eng-ing-eng, enggak taunya ada kejadian di luar dugaan kami semua yang terjadi beberapa jam sebelum keberangkatan Gladyz. Intinya, martabak manis titipan saya enggak sempat dibeli oleh Gladyz dan entah kenapa, bakpia yang dibeli Ali pun enggak sesuai dengan yang saya mau. Padahal dia tau kalo bakpia kesukaan saya cuma ini. Untungnya, ada teman - teman saya yang lagi berkunjung ke Indonesia dan kembali ke Rotterdam dalam waktu dekat. Salah satunya adalah Yescha, yang sedang kembali ke Yogyakarta beberapa saat lalu. Langsung aja deh saya titip bakpia kesukaan saya dengan rasa favorit saya. Begitu diterima di tangan saya, hanya dalam waktu lima hari, langsung ludes enggak bersisa. Haha! Alhamdulillah, rejeki anak sholeh ya :3 Tapi seriusan deh, saya enggak pernah menyangka kalau makanan sekecil ini bisa memberikan kesenangan luar biasa untuk saya. Thank heaven for the founder of Kurnia Sari, karena sudah menciptakan bakpia seenak ini :') 

July 22, 2016

Pelajaran Seperempat Abad #2

Entah udah berapa ratus orang yang kaget dan menanyakan alasan mengapa diantara berbagai jenis pekerjaan yang tersedia di dunia ini, saya memilih untuk menjadi dosen. Saya juga sempat beberapa kali ditanya (yang walaupun sambil bercanda tapi saya tau mereka pasti beneran penasaran, haha!) oleh teman - teman saya mengenai gaji yang saya dapatkan sebagai dosen. Lebih dari itu, saya juga sempat dinasehati langsung oleh beberapa orang (yang jelas bukan dari orangtua dan orang - orang terdekat saya), bahwa menjadi dosen itu enggak mudah karena harus melalui perjuangan yang berat serta gaji-nya yang kecil yang enggak bisa mencukupi biaya hidup serba mahal saat ini. Namun belum pernah sekalipun saya menjawab alasan sebenarnya mengapa empat tahun yang lalu saya memutuskan untuk menjadi dosen dan mengapa sampai detik ini saya masih belum ada sedikitpun kepikiran untuk mengganti pekerjaan utama saya ini.

Saya enggak mau menutupi bahwa saya sempat mengalami masa dimana saya krisis finansial terutama di awal saya menjalankan pekerjaan ini; sesuatu yang mungkin enggak dirasakan oleh teman - teman saya yang bekerja di korporasi dengan gaji puluhan juta. Saya juga enggak mau bohong bahwa ada kalanya saya merasa minder saat melihat beberapa teman saya mendapatkan berbagai fasilitas 'mewah', bisa keliling Indonesia dan dunia secara gratis karena dibayar oleh perusahaan tempat mereka bekerja, serta masih ada beberapa alasan lainnya yang membuat saya minder dengan pekerjaan saya sebagai dosen. Dan akhirnya di usia ini, saya enggak lagi merasa malu atau minder, karena saya semakin yakin bahwa keputusan saya untuk memilih jalan ini, adalah suatu hal yang benar. Bukan karena saya enggak menyadari segala konsekuensi dari pekerjaan ini. Bukan karena saya merasa udah 'terlanjur basah' masuk ke dalam bidang ini. Tapi justru karena telah melewati proses yang panjang, akhirnya saya menyadari bahwa pekerjaan ini yang paling sesuai dengan hati, keinginan dan tujuan hidup saya. Awalnya saya memang memilih dosen hanya karena sebagai sebuah pelarian, tapi ternyata saya menemukan jawaban sesungguhnya selama empat setengah tahun ini. Selama ini banyak orang menganggap bahwa menjadi dosen artinya memberikan banyak ilmu kepada orang lain. Tapi bagi saya, justru dengan menjadi dosen, rasanya ilmu yang saya dapatkan justru lebih banyak dari yang saya berikan.



Sebenarnya selama menjadi mahasiswa, saya mulai menyadari ketertarikan saya untuk menjadi social researcherDulu sewaktu masih kuliah di Planologi, saya dan teman - teman saya lainnya cukup sering melakukan kunjungan lapangan ke beberapa daerah hingga menginap berhari - hari di rumah penduduk lokal; baik sebagai bagian dari kuliah maupun kegiatan kemahasiswaan. Disitu saya menyadari bahwa ketika ada beberapa mahasiswa lain yang mengeluh dan enggak terlalu menikmati hal ini, saya diam - diam justru selalu bersemangat saat ada kunjungan tersebut dan malah merasa sangat senang bisa melihat dan merasakan kehidupan yang berbeda dari biasanya. Sekalipun sebenarnya masih dalam lingkup Jawa Barat dan sekitarnya, tapi tetap aja enggak mengurangi kesenangan dan kenikmatan saat melakukan kunjungan lapangan tersebut untuk melihat berbagai kondisi daerah dan masyarakat di Indonesia.

Bagi saya, ketika mengumpulkan data untuk penelitian, entah itu melalui observasi, wawancara maupun penyebaran kuesioner; saya enggak melihatnya sebagai suatu beban, melainkan hal yang paling saya tunggu - tunggu. Rasanya ada kesenangan tersendiri saat saya bertemu dan melakukan interaksi dengan masyarakat lokal sambil mengamati perilaku dan cerita yang dimiliki oleh setiap dari mereka. Rasanya selalu menyenangkan untuk mengunjungi berbagai daerah yang belum pernah saya kunjungi, sekalipun yang sulit dijangkau dan terpencil. Dan kali ini bukan untuk tujuan jalan - jalan atau bersenang - senang, melainkan untuk mengetahui karakter setiap daerah yang berbeda satu dengan lainnya. Untuk mengetahui berbagai fakta dibalik penampakkan setiap daerah yang terlihat normal bagi pengunjung, namun menyimpan berbagai cerita menarik yang hanya diketahui saat saya melakukan kunjungan lapangan sebagai peneliti.

Saat kunjungan ke salah satu asrama sekolah yang dikelola oleh pemerintah di suatu kota yang pernah jadi objek penelitian saya

Tapi berhubung saat itu saya masih belum sepenuhnya yakin dengan minat saya tersebut dan masih dalam fase mengeksplore diri, maka setelah lulus dan sambil bekerja di suatu tempat yang masih berhubungan dengan bidang planologi, saya sempat coba - coba apply ke bidang lain yang saya minati. Mulai dari editor majalah, fashion stylist, travel photographer, sampai ke visual merchandiserEntah saya yang terlalu polos atau terlalu bodoh, yang jelas memang akhirnya enggak ada satupun pekerjaan tersebut yang menerima saya, atau bahkan membalas aplikasi saya. Haha! Ya iyalaah, gimana mau diterima, background jurusan S1 saya aja enggak ada yang sama sekali berhubungan dengan semua bidang tersebut :)) Di lain sisi, saya enggak suka bekerja di bidang MT (Management Trainee) yang menurut kebanyakan orang 'lebih aman' dengan jenjang karir yang lebih jelas. Entah kenapa, saya sama sekali enggak tertarik dan enggak sedikit pun kepikiran untuk melamar di berbagai bidang tersebut. Dari pengalaman saya tersebut akhirnya menyadarkan saya banget bahwa melakukan apa yang kamu suka itu memang benar, tapi juga harus realistis dengan kondisi yang ada. Dalam hal ini, saya enggak realistis, bukan hanya karena background saya sangat berbeda dengan apa yang dibutuhkan, tetapi juga enggak ada sedikit pun pengalaman yang pernah saya lalui di berbagai bidang tersebut.

Selain itu saya juga sebenarnya sangat ingin mengikuti program Indonesia Mengajar. Melihat beberapa senior saya yang sempat mengikuti program ini membuat perasaan saya campur aduk antara iri, sedih tapi juga senang. Saya pun enggak mengerti kenapa, tapi perasaan itu selalu muncul saat melihat foto mereka bersama anak - anak muridnya di pelosok daerah di Indonesia; membaca cerita - cerita mereka yang sangat menyentuh dan menginspirasi tentang kehidupan yang mereka alami selama setahun disana; maupun mengetahui bahwa mereka telah melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk banyak orang. Saya sempat ingin mengajukan aplikasi, tapi sayangnya, niat saya ini ditolak mentah - mentah oleh orangtua saya, terutama Bunda. Alasan beliau saat itu adalah karena rasa khawatir sebagai seorang ibu terhadap anak perempuannya ini jika hidup setahun di daerah pedalaman. Mulai dari masalah keamanan, kesehatan, dan masih banyak pertimbangan beliau. Meskipun saya udah berulang kali sempat mencoba untuk meyakinkan beliau, akhirnya selalu berujung penolakan. Sampai suatu ketika, Bunda akhirnya berkata, "Untuk berkontribusi ke negara ini enggak hanya dilakukan dengan cara ekstreme seperti itu, yang membuat kamu harus pergi ke daerah pedalaman dan mengajar anak - anak di pelosok.  Dengan kamu kerja keras di bidang yang kamu tekuni dan menghasilkan karya yang bisa bermanfaat bagi orang lain, itu sudah sangat bagus". Setelah mendengar perkataan Bunda tersebut, saya enggak pernah lagi mencoba untuk mengubah keputusan beliau. Dan semenjak itu, saya fokus untuk mempersiapkan kuliah S2 saya dan memutuskan untuk menjadi dosen. Walaupun sebenarnya keinginan saya menjadi dosen pada saat itu masih belum sepenuhnya bulat ; lebih dikarenakan campuran antara kesukaan saya dengan bidang penelitian, enggak ada lagi pekerjaan lain yang saya minati, dan karena saya ingin melakukan sesuatu yang membuat saya merasa berguna untuk orang lain (padahal dipikir - pikir kaan semua pekerjaan juga bermanfaat yaa! hehe). 



Tapi kamu tau? Bukannya merasa menyesal, semakin saya menjalani hari - hari saya sebagai dosen, saya semakin bersyukur karena enggak menjalani berbagai pekerjaan yang sempat saya coba kirimkan aplikasi saya, yang awalnya saya kira paling tepat untuk dijalani sehari - hariJika saya jadi fotografer, saya harus lebih banyak belajar tentang teknik fotografi dan memiliki berbagai lensa yang harganya bisa setara dengan beasiswa yang saya peroleh selama satu tahun kuliah di luar negeri, supaya bisa bersaing dengan para professional photographer lainnya. Terlepas dari semua itu, alasan utama saya akhirnya saya bersyukur enggak jadi fotografer adalah karena ternyata bagi saya letak kenikmatan fotografi itu bukan pada saat saya bisa memuaskan orang lain, dalam hal ini adalah customer saya. Memang pasti ada kesenangan tersendiri saat melihat orang lain menyukai hasil foto mereka dari kamera saya. Tetapi ternyata dari beberapa pengalaman saya, justru ketika saya merasa dituntut untuk memberikan hasil foto yang memuaskan bagi orang lain; semakin saya merasa enggak puas dengan hasil foto saya karena saya akan jadi sangat perfeksionis dan selalu merasa khawatir tidak bisa memberikan hasil terbaik untuk customer saya. Dan akhirnya saya malah jadi enggak bisa sepenuhnya menikmati fotografi.

Kalau saya jadi fashion stylist/blogger, saya harus selalu tampil dress up dan update isi lemari pakaian saya supaya enggak terlihat memakai barang yang itu - itu aja. Dengan bekerja di dunia fashion juga akan menuntut saya untuk rajin mencari informasi tentang trend fashion terbaru, mengunjungi berbagai acara fashion, memiliki barang - barang branded, dan lain sebagainya. Padahal beberapa tahun belakangan ini justru saya semakin jarang mengikuti fashion blogger, membuka website atau membaca majalah fashion. Saya juga bukan tipe orang yang bisa selalu dress up setiap hari; dan jika dipaksakan begitu, yang ada justru menjadi beban bagi saya. Di sisi lain, jika saya bekerja sebagai editor majalah, saya harus banyak mempelajari etika menulis yang sesuai dengan tata bahasa yang berlaku. Padahal selama ini pengalaman saya dalam bidang mengedit tulisan hanya saat saya jadi pemimpin redaksi majalah sekolah saat SMA. Tapi hal utama yang membuat saya bersyukur enggak menjadi editor majalah adalah passion saya bukan untuk mengedit tulisan orang lain, tetapi justru adalah saat saya menuangkan pikiran saya sendiri. Selalu ada kesenangan tersendiri saat saya menulis, mengulas kembali, mengedit dan akhirnya mem-publish tulisan saya di blog.


Sebelum menjadi dosen, saya juga sempat bekerja di tempat dengan lingkungan membosankan dan jam kerja yang sangat kaku, serta yang paling membuat saya enggak betah adalah hal yang saya kerjakan enggak bisa saya nikmati sama sekali. Alhasil, saya kerja males - malesan dan hampir setiap hari saya mengeluh dengan pekerjaan saya. Hampir setiap hari saya rasanya mau keluar dari pekerjaan saya. Padahal saat itu gaji saya lebih besar daripada gaji yang saya terima sebagai dosen tamu di tiga bulan pertama saya mengajar. Bukan hanya itu, saya juga lebih sering dikirim untuk perjalanan dinas keluar kota dibandingkan selama dua tahun saya bekerja sebagai dosen dan peneliti. Tapi ya itu, karena pekerjaan yang saya lakukan enggak sesuai dengan minat saya; ujung - ujungnya gaji yang lebih besar dan perjalanan ke berbagai kota di Indonesia enggak bisa membuat saya merasa lebih bahagia. Di sini juga saya merasakan bagaimana diri saya sempat bekerja hanya untuk mengejar uang, yang sebenarnya saya sadar bahwa itu enggak akan berdampak baik bagi saya. Alhasil, apa - apa jadi tergantung sama 'uang', dan bahkan saya hampir sempat kehilangan apa yang saya yakini sebelumnya hanya karena uang. Selain itu dengan mengejar uang juga membuat saya enggak pernah merasa puas. Karena yang dikejar hanya uang dan bukan kepuasan hati, yang ada saya terus menerus ingin mendapatkan uang yang lebih; bahkan ketika sebenarnya apa yang saya dapatkan sudah melebihi ekspektasi saya.

Walaupun pekerjaan saya sebagai dosen masih memiliki struktur antara atasan dan bawahan, tapi gap-nya enggak sebesar yang saya alami di tempat kerja saya sebelumnya. Selain itu jam kerja yang lebih fleksibel serta berbagai kerjaan yang beragam dan tentunya sesuai dengan passion saya, membuat pekerjaan ini jauh lebih menyenangkan dari berbagai kerjaan yang pernah saya lalui sebelumnya. Berbicara soal gaji, justru semenjak saya bergelut sebagai akademisi, rezeki selalu datang di saat yang enggak terduga. Gaji awal saya hanya Rp 1,5 juta/bulan selama menjadi dosen tamu. Namun, tiba - tiba di bulan ketiga saya mendapatkan tawaran untuk menjadi full-time dosen. Enggak lama setelah itu saya juga ditawari posisi lain di fakultas saya, yang akhirnya gaji yang saya terima mencapai berkali-kali lipat dari gaji awal saya sebagai dosen tamu. Belum lagi dengan proyek penelitian, serta tambahan lainnya seperti ketika SKS mengajar saya melebihi dari batas maksimal, menjadi pembimbing dan penguji tugas akhir; membuat ada waktu dimana gaji yang saya terima sama besarnya dengan teman - teman saya yang bekerja di korporasi. Walaupun memang balik lagi, karena sebagian diantaranya bersifat enggak permanen, maka gaji saya pun enggak stabil. Kadang bisa lebih banyak bulan ini, kadang lebih sedikit di bulan berikutnya. Tapi justru rezeki yang enggak terduga itu yang membuat saya menjadi semakin bersyukur dan lebih hati - hati dalam menggunakan uang yang saya peroleh. Dan yaa, gaji saya sebagai dosen bisa membuat saya untuk menabung setiap bulannya, bisa membeli barang - barang yang saya inginkan, serta melakukan perjalanan ke beberapa tempat sesuai dengan budget saya. Intinya, saya ini bukan "yang penting mengikuti kata hati kok". Saya juga tetap realistis. Saya pun dari awal juga udah menghitung kira - kira gaji dasar yang akan saya terima setiap bulannya dapat mencukupi kebutuhan tanpa meminta uang lagi ke orangtua saya. Seperti saat beberapa bulan pertama menjadi dosen tamu dengan gaji saya yang enggak mencukupi kebutuhan bahkan hanya untuk makan dan transportasi di Jakarta, maka saya langsung mengambil proyekan lain untuk membantu menghidupi diri saya, hingga akhirnya saya baru melepasnya setelah mendapatkan tawaran sebagai full-time lecturer. 



Dengan gaji yang enggak stabil itu juga yang membuat saya juga semakin realistis dengan kondisi saya. Dalam hal ini, menjadi dosen juga mempengaruhi 'pola hidup' saya untuk menjadi lebih sederhana. Dengan lingkungan kerja saya yang sebagian besar adalah para dosen di usia yang udah cukup matang, yang mana dosen muda nya hanya sekitar lima orang, itu pun juga mereka pada enggak yang 'ribet soal pakaian'; maka lama kelamaan mempengaruhi saya untuk juga berpakaian lebih apa adanya. Maksud saya lebih apa adanya adalah saya enggak perlu ribet soal brand dari barang - barang yang saya pakai. Saya juga enggak masalah kalau dalam minggu yang sama, saya kembali menggunakan baju yang sama. Alhasil semenjak saya menjadi dosen, saya belanja baju hanya pada saat tertentu, yaitu sebelum traveling (itu pun juga enggak setiap traveling saya beli baju baru) atau di saat saya memang udah sangat bosan dengan baju yang udah dipakai selama bertahun - tahun hingga bahkan beberapa udah sampai lusuh karena keseringan dipakai. Haha!

Selain urusan pakaian, saya juga lebih hemat di aspek kehidupan saya lainnya. Mulai dari menggunakan transportasi umum, mengurangi makan di tempat fancy, hingga intensitas jalan - jalan ke mall juga jadi berkurang banget. Tapi sebenarnya ini semua dilakukan tanpa saya sadari, alias memang karena saya menikmatinya; bukan menjadi beban harus 'berhemat'. Hampir setiap hari saya commuting dari Jakarta ke Depok dengan menggunakan kereta, karena dengan begitu saya enggak perlu bertemu dengan kemacetan. And the best thing was, karena jalur yang saya ambil adalah yang 'melawan arus' maka jarang banget saya menaiki kereta yang sesak dan penuh dengan penumpang. Terlepas dari itu, sebenarnya dari sebelum menjadi dosen pun saya juga udah sering naik transportasi umum sih; tapi bedanya kalau dulu lebih sering menggunakan Trans Jakarta; karena rute nya berbeda, semenjak jadi dosen saya jadi mengganti dengan kereta :)) Nah untuk urusan makan, karena memang pada dasarnya buat urusan satu ini saya enggak banyak pantangan, maka saya sama sekali enggak ada masalah untuk makan di kantin atau di warteg sekitar kampus, yang rata - rata harganya 10 - 15 ribu untuk satu porsi yang udah bikin saya puas dan kenyang banget. Di sisi lain, saya pada dasarnya bukan seseorang yang segitunya tertarik untuk berkunjung ke mall. Biasanya saya ke mall hanya kalau memang lagi ada kepentingan (re: mau beli barang tertentu) atau ngumpul bareng keluarga dan teman. Tapi semakin kesini pun kalau jalan bareng keluarga atau ketemu sama teman - teman lama, kami cenderung memilih tempat selain mall. Ditambah lagi dengan sifat saya dan adik saya yang sama - sama mager-an orangnya, jadi kami lebih sering menikmati akhir pekan di apartemen kami dibandingkan pergi ke luar hahah. Akhirnya karena itu juga yang membuat gaji yang saya terima pun bisa digunakan untuk hal lain yang benar - benar berarti buat saya, seperti membeli barang yang udah lama saya inginkan atau mengunjungi tempat yang ada di bucket list saya.


Enggak keliatan kan mana yang mahasiswa, mana yang dosen? :)))

Banyak orang yang mengenal saya menganggap bahwa saya termasuk tipe dosen yang 'baik', dalam artian mudah memberi nilai bagus. Bahkan beberapa diantaranya sempat menebak kalau saya tipe dosen yang mudah di-bully atau diceng-cengin oleh mahasiswa. Tapi nyatanya justru, ini di luar dugaan saya juga sih sebenarnya (ha!), ketika menjadi dosen ada sisi lain di diri saya yang keluar, yaitu sifat tegas dan berani yang saya miliki. Menjadi dosen bisa membuat saya lebih berani dan tegas. Saya bisa berani untuk menegur mahasiswa yang salah, berani untuk enggak meluluskan mahasiswa yang menyia-nyiakan kesempatan yang saya berikan supaya mereka lebih berusaha untuk serius dalam belajar, berani untuk enggak memperbolehkan mahasiswa mengikuti kelas saya saat mahasiswa tersebut selalu datang terlambat lebih dari setengah jam sejak kelas dimulai, serta saya juga enggak segan untuk memarahi mahasiswa yang ketauan melakukan plagiarisme atau menyalin pekerjaan mahasiswa lain. Begitu juga dalam memberikan nilai, saya termasuk tipe dosen yang sangat fair, bahkan saking fair-nya, di awal mengajar saya sampai lupa mempertimbangkan usaha dan kondisi mahasiswa yang saya ajar. Jadi nilai yang saya berikan hanya berdasarkan pemahaman mahasiswa tersebut dari tugas dan ujian yang saya berikan. Duh. Tapi tenang aja, akhirnya setelah melewati tahun pertama mengajar, saya mulai sedikit dermawan dalam memberikan nilai kok, terutama bagi mahasiswa yang benar - benar berusaha mengikuti kuliah saya ;)

Menjadi dosen juga membuat saya lebih bertanggung jawab. Karena dibalik pekerjaan yang terlihat 'mudah' ini ada tanggung jawab yang sangat besar dibaliknya. Sebisa mungkin, saya selalu datang tepat waktu, bahkan kalau bisa sebelum jam yang ditentukan, saya udah berada di dalam kelas. Sebisa mungkin, saya mencoba untuk adil dalam memberikan nilai; bukan hanya dilihat dari kepintaran tiap individu tapi juga usaha yang mereka lakukan dalam mengikuti kuliah saya. Sebisa mungkin, saya ingin ilmu yang saya berikan bisa tersampaikan ke mahasiswa; makanya hampir setiap kali mengajar, pasti saya belajar dulu beberapa hari sebelumnya. Sebisa mungkin, saya ingin kelas saya enggak membosankan dan bisa membuat mahasiswa bersemangat untuk mengikuti pelajaran yang saya berikan; makanya saya selalu memikirkan cara agar komunikasi berjalan dua arah; supaya mahasiswa bisa lebih aktif, dan supaya mahasiswa yang pintar enggak hanya bergabung dengan yang pintar, tetapi juga membagi ilmunya dengan mahasiswa yang masih belum paham.

Menjadi dosen menyadarkan saya akan kekurangan - kekurangan saya dan terus mencoba untuk menjadi lebih baik lagi. Bagi saya yang pada dasarnya memang enggak pandai berbicara di depan banyak orang; dengan menjadi dosen membuat saya untuk terus belajar supaya bisa berbicara dan presentasi dengan baik di depan para mahasiswa. Yaa, walaupun sampai terakhir kali saya mengajar saya masih belum bisa mengubah cara bicara saya yang sering dikritik karena terlalu cepat dan terkesan terburu - buru (seriously, it's way harder than I thought!). Menjadi dosen mengajarkan saya untuk lebih peka dan memposisikan kapasitas mahasiswa yang saya ajar agar materi dan beban ajaran yang saya berikan tidak terlalu memberatkan mereka; karena tanpa saya sadari, saya masih sering memposisikan mahasiswa yang saya ajar sebagai diri saya, bukan sebaliknya. Sehingga dari awal saya mengajar hingga kelas terakhir sebelum saya mengambil cuti belajar untuk sekolah lagi, saya sering membebankan mahasiswa dengan memberikan banyak tugas setiap minggu-nya. Akhirnya, niat baik saya yang awalnya ingin membuat mereka supaya lebih aktif belajar mandiri, justru tanpa disadari malah memberatkan mereka. Menjadi dosen mengajarkan saya bahwa saya hanyalah manusia biasa yang enggak bisa menjadi dosen teladan bagi setiap mahasiswa; bahwa saya hanya manusia biasa yang enggak luput dari kesalahan, yang masih seringkali lupa, dan enggak bisa selamanya benar. Sehingga ketika saya membaca beberapa masukkan dari mahasiswa, saya bisa menanggapinya dengan lebih bijaksana. Jika komentar tersebut positif, maka saya jadikan sebagai penghargaan bagi diri saya sendiri. Tapi sebaliknya, jika komentar tersebut negatif, maka saya jadikan sebagai kritikan yang membangun agar saya bisa menjadi lebih baik lagi.



Menjadi dosen juga membuat saya menyadari hal yang sebelumnya saya enggak pernah duga akan membuat saya senang, yaitu mengajar. Jujur, alasan utama saya memutuskan untuk menjadi dosen adalah karena saya senang dengan penelitian dan ingin menjadi expert dalam bidang saya. Bukan hanya menikmati saat melakukan survei lapangan, tetapi juga proses sebelum dan sesudah melakukan survei. Mulai dari membaca/merangkum berbagai jurnal dan buku untuk studi literatur, menganalisis data hasil survei, hingga membuat laporan penelitian. Namun ternyata, setelah menjadi full-time dosen dan memegang beberapa mata kuliah yang saya suka, saya menyadari bahwa ada kesenangan tersendiri saat mempersiapkan bahan untuk mengajar dan diskusi di kelas. Saya sama sekali enggak menyangka ternyata saya menikmati saat - saat dimana saya mempersiapkan presentasi kuliah, mencari dan mencoba berbagai metode mengajar yang lebih interaktif, dan bahkan ada beberapa mata kuliah dimana saya merasa sangat semangat dan enggak sabar untuk mengajar. Selain itu, selalu ada kebahagiaan tersendiri saat saya mempersiapkan presentasi dan metode pengajaran yang akan saya berikan saat kuliah; atau saat melihat mahasiswa yang antusias dalam mengikuti kelas saya; atau ketika melihat beberapa mahasiswa yang saat sedang papasan dengan saya di luar kelas, melambaikan tangan mereka sambil tersenyum sumringah dan berkata, "Halo, Mbak Poeti!". Ada kebahagiaan tersendiri saat melihat ilmu yang saya berikan ternyata dapat dipahami dengan baik oleh mahasiswa. Ada kebahagiaan tersendiri saat melihat beberapa komentar positif yang mereka berikan di akhir perkuliahan. Ada kebahagiaan tersendiri saat beberapa mahasiswa mengatakan bahwa saya bisa memotivasi mereka untuk mencapai mimpi - mimpi mereka.

Sekalipun ada masa - masa dimana saya merasa jenuh untuk membuat laporan penelitian dan mengajar, tetapi enggak membutuhkan waktu yang lama bagi saya untuk kembali bersemangat. Sekalipun saya mendapatkan kritikan dari atasan kerja saya mahasiswa yang saya ajar serta hambatan lainnya dalam pekerjaan saya sebagai dosen dan peneliti; itu semua enggak membuat saya merasa malas apalagi berhenti bekerja. Justru semua itu membuat saya ingin menjadi lebih baik lagi ke depannya dalam menjalankan pekerjaan saya sebagai dosen.



Dari semua itu akhirnya saya menyadari satu hal bahwa menjadi dosen adalah pekerjaan yang saya paling tepat bagi saya saat ini, bukan karena saya sepenuhnya menyukai pekerjaan ini, tapi karena saya bisa menerima segala kekurangan dari pekerjaan ini. Misalnya salah satu hal yang menjadi tantangan bagi saya adalah saya dituntut untuk aktif dalam 'berkarya' menghasilkan published journal dan buku dari penelitian yang telah dilakukan; yang keduanya enggak bisa langsung diterima hanya dengan sekali mengirimkan aplikasi dan membutuhkan waktu hingga bertahun - tahun hingga berhasil diterbitkan. Selain itu saya juga harus aktif berpartisipasi dengan menjadi speaker di berbagai konferensi, serta rajin mengikuti berbagai workshop dan seminar. Memang sih enggak semua dosen mesti seperti itu, karena semua balik lagi ke prioritasnya. Tapi kalau memang mau menjadikan dosen sebagai karir ya harus seperti itu. Dan yaa, setelah dipikir - pikir, memang enggak ada pekerjaan yang sempurna kan? Setiap pekerjaan ada kelebihan dan kekurangannya; ada resiko dan keuntungannya. Namun semakin kesini saya semakin menyadari bahwa dengan mengerjakan sesuai passion kita, segala kesulitan dari suatu pekerjaan yang kita jalani pada akhirnya bukan terasa sebagai beban, tapi justru sebagai motivasi dan tantangan karena kita tau bahwa terlepas dari segala kekurangan dari pekerjaan kita tersebut, ada banyak keuntungan dan kebahagiaan yang kita rasakan.

Saya enggak mau menyangkal selain berbagai hal tersebut, masih ada beberapa hal yang enggak saya suka dari pekerjaan saya ini, misalnya saya tetap harus berhubungan dengan kerjaan yang bersifat administratif atau melewati birokrasi kampus yang masih rumit. Tapi kenyataannya, segala kesulitan dan kekurangan dari pekerjaan ini bisa saya terima dengan kadar yang lebih tinggi daripada pekerjaan lainnya. Sehingga, sekalipun saya enggak menyukai beberapa kekurangan tersebut tapi enggak membuat saya jadi malas bekerja atau terbebani saat melakukan pekerjaan saya sebagai dosen. Bahkan saya sempat mendengar dari seseorang yang saat ini sedang menjadi make-up artist yang cukup terkenal di Indonesia, bahwa ada masa - masa dimana dia sangat bosan dengan pekerjaannya sampai enggak mau berurusan dengan make-up. Saat itu dalam hati saya bertanya, kok bisa sih padahal itu kan passion dia? Tapi setelah saya jalani, ya memang sekalipun kita mengerjakan hal - hal yang menjadi passion kita, rasa bosan itu enggak bisa dihindari. Justru dengan merasa bosan, kita bisa jadi mengerjakan hal - hal lainnya. Justru dengan merasa bosan, akhirnya  bisa memicu otak untuk berpikiran lebih kreatif. Setiap saya bosan mengerjakan terkait pekerjaan saya sebagai dosen dan peneliti, saya biasanya take a break dulu dan melakukan hobi saya yang lain seperti blogging. Begitu juga di saat saya lagi enggak mood buat melakukan hobi saya tersebut, saya justru bisa fokus mengerjakan riset. Atau ketika saya enggak mood melakukan dua hal tersebut, saya bisa melakukan hal lain yang saya suka seperti fotografi, dress up, traveling dan berbagai kegiatan yang termasuk hobi saya maupun #ROH.


Saya tau bahwa jalan yang saya pilih ini termasuk yang naif, dengan mengambil pekerjaan yang saya suka, bukan yang bisa membuat saya memperoleh uang banyak. Dimana kebanyakan orang memilih untuk menjalani pekerjaan lain yang sebenarnya enggak sesuai hati mereka tapi tetap mereka perjuangkan supaya mendapatkan gaji yang lebih tinggi, saya malah memilih jalan sebaliknya. Dan mungkin ada beberapa orang yang mikir bahwa keputusan saya ini enggak masuk akal dengan kondisi kehidupan dimana banyak orang berlomba untuk "menjadi lebih cepat". Lebih cepat kaya. Lebih cepat settle. Lebih cepat menjalani hidup yang menurut kebanyakan orang sebagai hidup yang 'ideal'. Lebih cepat mempersiapkan masa depan dengan sempurna. Lebih cepat untuk bebas dari beban - beban hidup lainnya. Untungnya terlepas dari semua ke-naif-an saya itu, saya juga termasuk orang yang sangat beruntung karena memiliki kedua orangtua yang selalu mendukung apa yang diinginkan oleh anak - anaknya dan mengerti bahwa mengikuti keinginan anak yang sebenarnya adalah lebih penting dibandingkan memaksakan sesuai apa yang orangtua saya harapkan. Padahal orangtua saya juga bukan termasuk orang yang bisa dibilang kaya, kami juga hidup serba berkecukupan aja. Tapi untungnya, mereka enggak pernah memaksakan saya sekalipun untuk bekerja hanya untuk uang semata. Dan disitu, saya sangat sangat bersyukur memiliki orangtua seperti Ayah dan Bunda saya. Bisa dibilang mereka yang selalu mengajarkan saya untuk enggak melihat segala sesuatunya hanya dari uang, tapi di sisi lain juga tetap realistis bahwa kita enggak bisa hidup tanpa uang. 

Disini saya juga menyadari bahwa, bagi saya, kenikmatan hidup bukan terletak pada sebuah produk akhirnya, tetapi kenikmatan hidup bagi saya adalah pada prosesnya. Bagi saya kenikmatan hidup bukan terletak pada kekayaan materi, tetapi pada saat saya merasa berkecukupan dengan kondisi saya. Bagi saya kenikmatan hidup bukan terletak pada saat saya bisa membeli barang - barang mahal yang enggak bisa dibeli oleh banyak orang, tapi pada saat saya bisa mengeluarkan uang untuk hal - hal yang memang sesuai kebutuhan saya dan enggak akan membuat saya menyesal. Bagi saya, selama saya masih bisa hidup di tempat yang nyaman, menjalani hari - hari tanpa merasa kekurangan, menyisihkan rezeki yang saya dengan orang lain yang berhak mendapatkannya, menabung untuk kebutuhan masa depan saya, melakukan perjalanan sesuai budget saya ke tempat - tempat yang belum pernah saya kunjungi, membeli berbagai barang yang saya suka sesuai dengan budget saya; semua itu udah cukup. Karena saya akhirnya benar - benar memahami bahwa tujuan saya hidup bukanlah untuk menjadi kaya secara materi: memiliki uang enggak berseri, memiliki rumah yang berhektar - hektar, memakai tas dengan harga puluhan juta, atau mobil yang berharga milyaran rupiah. Tetapi tujuan saya hidup adalah untuk menjadi seseorang yang bisa menikmati hari - hari di dunia ini tanpa menjadikan kekayaan materi dan kekuasaan sebagai hal utama yang saya kejar. Saya enggak memaksa setiap orang harus memiliki pemikiran seperti saya. Karena saya tau bahwa setiap orang memang memiliki tujuan dan kondisi yang berbeda dalam hidup mereka. Ada yang lebih mengutamakan kemapanan, ada yang mengutamakan kenikmatan secara materi. Ada yang tujuan hidupnya untuk menjadi orang kaya dengan uang enggak berseri. Ada yang rela melakukan pekerjaan yang enggak disukainya saat ini demi mengejar hidup santai untuk beberapa puluh tahun ke depan. Semua itu enggak ada yang salah. But one thing you should bear in mind that whatever your main priorities and goals are, please don't ever let other people's voices dictate your life. Keep fighting for what you believe in. 


Saat praktek kuliah lapangan dengan salah satu dosen senior dan beberapa praktisi. Enggak keliatan kan kalo saya dosen? *teteup usaha supaya dibilang keliatan muda* :))

Terlepas dari itu semua, saya juga merasa sangat bersyukur karena semenjak jadi dosen, saya bisa menjalani hidup dengan dua sisi. Di satu sisi saya menjalani pekerjaan sebagai dosen (walaupun untuk sekarang lagi cuti belajar) dan peneliti di bidang yang saya suka juga; tapi di sisi lain saya juga bisa menyalurkan hobi dan berbagai hal yang saya senangi. Karena dengan begitu, mereka bisa saling melengkapi kebahagiaan saya satu sama lain. Ketika saya merasa bosan dengan pekerjaan saya, saya bisa mengalihkan kebosanan saya dengan melakukan hobi saya. Dan sebaliknya, saat saya sedang enggak tertarik untuk melakukan hal - hal yang menjadi hobi saya, saya bisa lebih banyak fokus dan mengeluarkan tenaga saya untuk pekerjaan saya.

Lagipula, saat ini saya juga sangat menikmati menjadi diri saya sendiri, namun dengan berbagai peran yang berbeda. Ketika saya menjadi Ozu, saya hanyalah seorang perempuan yang pendiam, yang suka mendengar cerita orang lain, yang enggak tegaan, yang pemalu, yang suka ketawa, yang enggak suka berargumen. Tapi ketika saya menjadi Nazura, saya bisa menjadi seseorang yang bawel, banyak cerita, berani untuk mengungkapkan pendapat saya dan mempertahankannya; seseorang yang sangat berbeda bahkan sekalipun orangtua dan orang - orang terdekat saya sampai enggak menyangka seorang Ozu bisa menjadi seseorang yang berbeda saat saya menyampaikan isi pikiran dan hati saya lewat tulisan - tulisan saya. Dan ketika saya menjadi Poeti, saya adalah seorang dosen yang tegas, yang bisa tega untuk menegur atau enggak meluluskan mahasiswanya, yang bisa galak, yang bisa jutek dan 'dingin' di hadapan mahasiswanya; atau seorang staf dan mahasiswa bimbingan yang kerja keras dan perfeksionis dengan pekerjaannya. Yang mungkin dengan melihat saya yang seperti itu, akan sama kagetnya ketika melihat saya sebagai Ozu atau Nazura. Enam tahun yang lalu, salah satu alasan utama saya membuat blog ini dengan nama "Nona Alleira" adalah karena saya ingin menciptakan alter ego. Dan ternyata harapan saya tersebut berhasil. Namun, kali ini bukan menggunakan nama yang saya buat sendiri, tetapi tetap dengan menggunakan nama yang diharapkan oleh kedua orang tua saya saat dua puluh lima tahun yang lalu saya lahir ke dunia ini.


Berbagai proses dan pengalaman saya tersebut menyadarkan saya akan satu hal, bahwa enggak semua hal yang menarik bagi kita harus dijadikan sebagai pekerjaan. Karena saya sadar bahwa hal - hal yang saya kira bisa dijadikan sebagai pekerjaan utama saya simply because I love doing them, seperti fotografi, fashion, dekorasi, hingga traveling; ternyata hanya cocok untuk dijadikan sebagai hobi. Karena hal - hal tersebut menarik dilakukan hanya dalam waktu - waktu tertentu aja, bukan untuk dilakukan setiap hari. Karena berbagai hal tersebut menarik ketika saya mengerjakan sesuka saya dan bukan untuk dijadikan pekerjaan yang lebih 'serius'. Karena jika saya jadikan mereka sebagai pekerjaan sehari - hari saya, saya enggak akan bisa lagi menikmatinya. Please, don't get me wrong. Saya enggak bilang kalau mengikuti passion kamu itu salah, tapi disini saya cuma mau menekankan bahwa tipe seperti saya yang memiliki ketertarikan dengan banyak hal, saya harus memilih bidang mana yang benar - benar cocok dan menjadi prioritas untuk dijadikan sebagai full-time job. 

Dan ya, walaupun sampai sekarang saya masih merasa nyesss saat berkenalan dengan orang - orang baru yang ternyata adalah relawan program Indonesia Mengajar atau bekerja di NGO dan organisasi sosial lainnya, tapi saya juga enggak menyesali keputusan saya yang langsung S2 saat itu. Karena dengan saya langsung melanjutkan sekolah, justru semakin memantapkan tekad saya untuk menjadi dosen. Walaupun belum banyak hal yang bisa saya lakukan untuk mengubah kondisi di negarasa saya untuk menjadi lebih baik, tapi saya tau bahwa selama dua tahun kemarin saya menjalani hari - hari saya sebagai dosen, ada hal - hal kecil yang enggak kalah pentingnya dari yang dilakukan oleh para aktivis tersebut.


Akhirnya, setelah memasuki empat tahun sejak saya memutuskan untuk menjadi dosen dan peneliti di bidang yang saya suka, serta sedang dalam perjalanan untuk membuat diri saya belajar lebih dalam tentang bidang ini, di usia ini saya enggak merasa malu lagi dengan pekerjaan saya ini. Saya enggak merasa iri atau minder lagi saat melihat mereka yang memiliki kondisi finansial lebih baik atau sudah settle dibandingkan saya. Karena saya menyadari bahwa saya sangat menikmati pekerjaan saya ini. Pekerjaan dimana saya bisa lebih banyak berinteraksi dengan masyarakat lokal, pekerjaan dimana saya bisa belajar untuk menjadi seseorang yang lebih bertanggung jawab dalam menyalurkan ilmunya ke orang lain, pekerjaan yang lebih banyak terlibat dengan kerja sosial, pekerjaan yang sekalipun saat saya sedang kesulitan atau stress itu enggak membuat saya terbebani tapi justru tertantang, pekerjaan yang membuat saya juga tetap bisa menikmati berbagai kegiatan lain seperti blogging, volunteering, serta menyadari dan terus melakukan hal - hal kecil namun esensial dalam hidup. Pekerjaan yang membuat saya bisa menjadi diri saya sendiri. Pekerjaan yang selalu menjadi pengingat untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Pekerjaan yang membuat saya untuk lebih bersyukur. Pekerjaan yang membuat saya untuk tetap menapakkan kaki saya di tanah. 

June 30, 2016

#ROH 37 : Traditional Markets

Sejak saya kecil, kalau enggak salah sih sejak masih duduk di bangku sekolah dasar, Bunda sering mengajak saya (dan secara bergilir, juga mengajak saudara - saudara saya lainnya) untuk ikut menemani beliau belanja di Pasar Ampera, sebuah pasar tradisional yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah kami. Pasar tersebut bukanlah sebuah pasar yang bisa dikatakan nyaman. Lantainya yang becek dan kotor, bahkan di beberapa bagian terlihat genangan air, membuat saya harus ekstra hati - hati saat berjalan supaya tidak terpeleset. Udaranya yang pengap dan diselimuti oleh aroma yang tidak biasa; campuran antara bau berbagai sayur dan buah yang masih belum sepenuhnya bersih dari tanah, bumbu rempah - rempah yang menusuk di hidung, hingga ikan dan daging yang amis; terkadang membuat saya pusing. Dengan berbagai kondisi tersebut juga sempat membuat saya awalnya merasa berat hati untuk menemani Bunda kesana. Belum lagi dengan tentengan belanjaan yang hampir selalu membuat kedua tangan saya terasa sangat pegal setelahnya. Namun anehnya, semakin sering saya mengunjunginya, justru saya semakin senang ketika diajak belanja disana. Apalagi kalau setelah itu, Bunda mengajak saya untuk makan di salah satu warung yang menjual semangkuk bubur kacang hijau hangat, lengkap dengan roti tawar putih yang lembut. Bukan, alasan utamanya bukan karena bubur kacang hijau itu kok, haha. Tapi karena saya merasa dibalik penampakkannya yang cenderung kumuh dan kotor tersebut, sebenarnya ada sesuatu yang membuat pasar ini terasa nyaman. Mungkin ini terdengar aneh, tapi saya menemukan jawabannya justru ketika empat tahun yang lalu saat saya kuliah di Inggris dan juga sejak enam bulan yang lalu saya tinggal di Rotterdam.   




Saat itu saya sedang jalan - jalan di akhir pekan mengunjungi New Forest, sebuah daerah pedesaan di sekitar Bournemouth, dan tiba - tiba pandangan mata saya tertuju pada sebuah kumpulan tenda yang dipenuhi oleh para pengunjung. Penasaran melihatnya, langsung saya hampiri. Sebenarnya tempat ini sederhana, hanya berupa kumpulan stand yang lebih mirip dengan warung tenda di Jakarta. Namun berbeda dengan warung tenda yang biasanya menyajikan makanan yang sudah dimasak, para penjual disini lebih banyak menyajikan sayur mayur, buah - buahan, dan daging segar. Beberapa diantaranya menyebut tempat ini sebagai farmers markets, sedangkan ada juga yang menyebutnya hanya dengan sebutan market. Secara harfiah sih memang tempat ini adalah sebuah tempat dimana para farmers langsung menjual hasil panen mereka kepada calon pembeli. Tapi dari pengalaman saya mengunjungi beberapa farmers markets di Inggris dan Eropa, kebanyakan dari markets tersebut juga menjual jenis barang dagangan lainnya seperti  keju, berbagai homemade jam, kue - kue manis, roti; bahkan ada juga yang menjual bunga, pakaian, peralatan rumah tangga, hingga buku - buku bekas. Entah kenapa, meskipun kondisi tempatnya sangat berbeda, tapi ada satu hal yang langsung mengingatkan farmers market ini dengan pasar tradisional yang saya pernah kunjungi di Indonesia, entah itu Pasar Ampera, Pasar Simpang Dago Bandung, atau Pasar Beringharjo Yogyakarta. Dan ya, disitu saya menyadari bahwa seorang saya yang sebenarnya enggak menyukai tempat terlalu ramai, justru sangat menikmati keramaian di berbagai pasar ini. Mungkin karena hiruk pikuk tempat ini yang membuatnya terasa lebih hidup dibandingkan pasar modern, serta keramahan para penjual yang membuat saya enggak bisa menolak rasa nyaman yang diberikan tempat ini. 




Harus saya akui, meskipun udah menyadari kebahagiaan yang saya dapat saat berbelanja di pasar tradisional, tapi rasanya masih sulit untuk menjadikannya sebagai sebuah kebiasaan ketika tinggal kembali di Jakarta selama dua tahun kemarin. Semenjak pindah rumah dan tinggal terpisah dari orangtua saya, jadwal bangun tidur saya jadi lebih siang dari biasanya, sehingga setiap pagi langsung buru - buru berangkat kerja. Sedangkan saat akhir pekan, rasanya mager banget buat keluar pagi - pagi. Padahal di tempat tinggal saya saat itu juga sangat dekat dengan pasar tradisional lainnya. Tapi karena berbagai excuses tersebut akhirnya sebagian besar waktu saya berbelanja buah dan sayur dilakukan setelah pulang kerja di supermarket. Meskipun saya sepenuhnya sadar bahwa di dalam lubuk hati terdalam saya, ada sebuah perasaan bersalah karena tindakan saya ini bertolak belakang dari keinginan saya untuk mendukung peran pasar tradisional. Karena bertolak belakang dengan mimpi saya untuk bisa melihat pasar tradisional di Indonesia dengan fasilitas sebaik traditional markets yang saya temui di negara - negara maju.  




Mungkin karena selama dua tahun itu sebenarnya saya enggak merasa nyaman, jadinya semenjak saya pindah ke Rotterdam dan menemukan bahwa ada farmers market yang diadakan dua kali dalam seminggu di pusat kota, saya bukan main senangnya. Walaupun dengan saya berbelanja setiap minggu di pasar ini enggak akan mempengaruhi kondisi pasar tradisional di Indonesia, tapi setidaknya saya merasa lega aja mengetahui bahwa uang yang saya keluarkan langsung diberikan kepada masyarakat lokal disini. Terlepas dari itu, berbelanja di pasar ini juga sekaligus ajang refreshing bagi saya. Bahkan dari awal pindah sampai sekarang, alasan utama yang membuat saya pasti keluar dari lingkungan kampus minimal satu kali dalam seminggu adalah karena saya belanja stok mingguan sayur dan buah - buahan di pasar ini. Sekalipun ada waktu dimana saya mageeeer banget buat ke kota dan memilih belanja di supermarket yang letaknya lebih dekat dengan kampus, itu juga enggak lebih dari lima kali. Maklum deh, selain karena berbagai alasan sebelumnya yang udah saya bilang, faktor lainnya yang membuat saya lebih senang berbelanja di pasar tradisional adalah harga dan kualitasnya. Dengan kualitas sayur dan buah yang sama (bahkan seringkali lebih segar di pasar), harga yang diberikan di supermarket bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat lebih mahal! Kezel kan. Nah, tapi semenjak puasa, akhirnya mau enggak mau saya lebih sering belanja di supermarket. Belajar dari pengalaman saya yang pernah sekali berbelanja saat puasa di farmers market, pulang - pulang langsung lemes banget. Haha! Makanya pas minggu lalu saya kedatangan 'tamu bulanan', saya langsung memanfaatkannya untuk kembali berbelanja di farmers market :D   



June 26, 2016

Naples & Pompeii, 28 April 2016.

Gedung - gedung modern yang kelihatan tidak menarik karena sudah terlihat usang, apartemen padat yang memiliki balkoni dengan berbagai jemuran baju para penghuninya, serta lalu lintas yang amburadul. Seratus delapan puluh derajat berbeda dari pemandangan yang aku lihat selama di Roma. Masih merasa takjub dengan pemandangan di sekitarku, tiba - tiba aku mendengar suara mas Andie yang saat ini sedang membuka kaca depan mobil. "No, no, no! My car is already clean, you don't need to clean it up!".  Ujarnya, seraya menolak halus 'tawaran' seorang laki - laki yang tanpa disuruh saat ini sedang mengelap kaca depan mobil. Woah, sedetik kemudian langsung mengingatkanku dengan Jakarta. Namun tetap saja ia terus menyemprot dan mengelap kaca depan mobil ini; menghiraukan perkataan mas Andie. Lalu lagi - lagi secara paksa, ia meminta uang setelah selesai melakukan 'pekerjaan' nya itu. Akhirnya karena enggak ada pilihan lain, mas Andie memberikan 5 Euro sambil menggerutu. Dengan suasana di mobil yang masih cukup tegang, karena kondisi jalanan yang bikin hati deg - degan, mobil kami didatangi kembali oleh lelaki muda ketika sedang berhenti di sebuah lampu merah. Walaupun orang ini berbeda dari yang sebelumnya kami temui, namun ia sudah siap dengan 'peralatan' yang sama. Belajar dari pengalaman sebelumnya, kali ini sebelum orang tersebut mengeluarkan peralatannya, mas Andie sambil memasang wajah galaknya langsung membuka jendela dan berteriak "Ehh, jangan! jangan disemprot! Udah bersih mobil gw. Entar kalo lo lap yang ada mobil gw rusak nih!". Dan di luar dugaan, justru kali ini berhasil membuat orang tersebut kebingungan dan langsung menjauh dari kami. Melihat reaksinya tersebut, membuat kami ikutan bingung dan akhirnya enggak bisa menahan tawa. Ternyata Napolitano lebih paham Bahasa Indonesia daripada English! :))





Melihat berbagai kondisi kota ini, enggak mengherankan jika banyak orang yang mengingatkan untuk berhati - hati selama di Naples atau Napoli, dan bahkan cukup banyak yang juga tidak merekomendasikan kota ini untuk dikunjungi. Kalau bukan karena lokasinya yang terletak sejalan menuju Pompeii dan juga karena gelarnya sebagai kota kelahiran Pizza, mungkin kota ini enggak akan dimasukkan ke dalam rencana perjalanan kami. Tapi justru dari pengalamanku berkunjung ke Pizzeria Di Matteo, salah satu restoran yang paling banyak direkomendasikan oleh netizen, disitu aku baru menyadari bahwa kota ini sangat menarik untuk dikunjungi karena keunikan dan atmosfer yang dimiliknya. Restoran ini hanyalah sebuah restoran mungil yang terletak di sebuah jalanan kecil yang ramai oleh masyarakat lokal. Mulai dari restoran keluarga yang dipenuhi oleh para pengunjung yang sedang mengantri untuk masuk atau justru sedang duduk asik mengobrol sambil menyantap pizza yang nampak begitu lezat. Penjual pasta yang menjajakan berbagai bentuk dan jenis pasta dari yang sering aku lihat hingga yang belum pernah kulihat sebelumnya. Pedagang kue yang menjajakan kue - kue basah yang beberapa diantaranya terlihat seperti jajanan yang dijual di Pasar 'Subuh' Senen. Dan masih banyak lagi hal - hal yang mengubah wajah Napoli di mataku. Even though I only spend a couple of hours here, all those scenes have given me a deeper, real authentic experience. Oh, and the Pizza Calzone! It tastes sooooo good. 






Berbeda dari Napoli, bagiku Pompeii justru terasa.... hambar. Mungkin karena kota-nya yang sekilas terlihat sepi, atau mungkin karena selama di Pompeii aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk berkunjung ke Pompeii Ruins. Memangtujuan utama kami kesini pun karena penasaran dengan puing - puing kota lama yang tersisa akibat letusan Gunung Vesuvius dan sempat terkubur selama ribuan tahun. Membayangkan bagaimana peristiwa yang tiba - tiba saja terjadi dalam kurun waktu kurang dari 24 jam dan berhasil merenggut belasan ribu jiwa, cukup membuatku merinding dan menyadarkanku kembali akan kematian. Tapi terlepas dari itu, Pompeii hanyalah sebuah kota wisata yang dipenuhi oleh para turis. Satu - satunya pengalaman mengesankan yang aku dapat di kota ini justru datang dari tempat penginapan kami. Selama dua malam kami menginap di B&B yang terasa nyaman, bukan hanya karena tempatnya yang cantik, tetapi juga karena sang pemiliknya adalah keluarga yang sangat ramah dan baik hati.