September 18, 2016

Saturnia & Castiglione, 3 Mei 2016.

Salah satu hal paling menyenangkan dari road trip adalah kesempatan untuk mengunjungi tempat - tempat yang sulit dijangkau dengan transportasi umum. Dan satu tempat yang pastinya enggak akan saya kunjungi kalau enggak ikut road trip ini adalah Saturnia. Sebuah thermal springs yang konon katanya udah dibangun sejak masa sebelum masehi (BC) dan merupakan salah satu natural springs yang paling wajib dikunjungi di Italy. Enggak heran sih, karena selain terbuka untuk umum dan gratis, Saturnia ini juga dikelilingi oleh pemandangan alam dan bukit hijau yang sangat cantik. Saat berada disana, saya bahkan merasa seperti berada di dalam mimpi. Rasanya enggak pernah menyangka aja akan datang ke sebuah tempat yang selama ini hanya berada di dalam imajinasi saya. Untung banget kami kesana saat weekdays dan belum memasuki peak season, jadi belum terlalu ramai. Menurut informasi yang saya dapatkan di Google, sekalipun Saturnia masih sebatas dikenal di kalangan masyarakat lokal, tapi untuk waktu - waktu tertentu seperti musim panas dan akhir pekan, tempat ini bisa sangat padat. Satu hal yang paling disayangkan adalah belum tersedianya tempat untuk mengganti pakaian di sekitar lokasi. Alhasil, para pengunjung mesti membuat sendiri "ruang ganti" seadanya dengan menggunakan handuk atau pakaian mereka. Karena itu juga akhirnya saya memutuskan untuk menunggu sambil ditemani buku, apel, dan sesekali memainkan kamera saya dibandingkan nyemplung dengan para pengunjung lainnya :))










Kota terakhir yang kami kunjungi sebelum melanjutkan perjalanan ke Cinque Terre adalah Castiglione, yang enggak lain adalah kota di dekat tempat penginapan kami. Selama empat hari-tiga malam menginap di sebuah camping area dan selama itu juga kami setiap hari pasti melewati kota kecil ini. Tapi enggak pernah sekalipun terpikirkan untuk mampir ke Castiglione. Bagi saya kota ini kurang menarik karena sekilas terlihat 'enggak ada apa - apanya' selain pelabuhan kecil-nya yang dipenuhi oleh berbagai yacht mewah. Namun niat awal kami mampir kesana hanya untuk makan malam ternyata justru memberikan pengalaman yang enggak disangka sebagai penutup malam terakhir di Tuscany. Ketika sebelumnya sempat mengeksplore pusat kota, sejujurnya memang enggak ada yang terlalu spesial dari Castiglione. Hingga akhirnya setelah makan malam, saya dan mba Vicky memutuskan untuk jalan - jalan sebentar mengeksplore sisi lain dari kota ini. Kami berdua sama - sama penasaran dengan apa yang ada di balik jalan kecil menuju ke atas bukit yang enggak jauh letaknya dari pusat kota. Saat itu hari sudah sore dan mulai gelap, tapi kami memutuskan untuk terus berjalan mengikuti jalanan kecil tersebut dan sampailah kami di sebuah perumahan penduduk lokal. Mengingatkan saya dengan San Gimignano karena rumah - rumahnya yang terbuat dari batu bata dan sangat sunyi hingga saya sempat mempertanyakan apakah para rumah tersebut berpenghuni :)) Dan untuk ketiga kalinya, hari kami ditutup kembali dengan melihat matahari terbenam dari atas bukit dengan pemandangan kota Castiglione  yang berwarna - warni. Roma, Florence, dan kali ini Castiglione. Pemandangannya memang berbeda, tapi selalu membuat saya terkesan dengan masing - masing dari mereka. 







September 10, 2016

#ROH 43: Instagram

Diantara berbagai orang cerdas di dunia ini, salah satu orang yang harus diberikan penghargaan terbesar adalah Kevin Systrom dan Mike Krieger. Walaupun nama mereka enggak terlalu familiar seperti Mark Zuckerberg, apa yang diciptakan oleh kedua orang ini jauh lebih berarti buat saya daripada yang dibuat oleh Mark. No offense, it's just my personal opinion. Terdengar sangat berlebihan sih, apalagi ketika kalimat tersebut diucapkan oleh seseorang yang sebenarnya enggak terlalu ngefans dengan media sosial seperti saya ini. Cuma setelah tiga setengah tahun menjadi pengguna Instagram, semakin kesini saya semakin merasa media sosial ini banyak memberi kebahagiaan dalam hari - hari saya. Awalnya saya merasa sangat senang karena melalui media sosial ini saya bisa berbagi hasil foto - foto saya dengan lebih mudah. Tapi ternyata semakin kesini, hal yang paling saya suka dari media sosial ini adalah fakta bahwa banyak banget inspirasi yang saya dapatkan saat melihat kehidupan dan sudut pandang dari jutaan pengguna lainnya *walaupun saya yakin sih sampai sekarang jumlah akun Instagram yang pernah saya lihat belum mencapai jutaan haha*.


Kalau biasanya saya cuma scroll down apa yang muncul di timeline saya atau kadang kepoin beberapa orang tertentu; semenjak tiga bulan belakangan ini saya baru menemukan kebahagiaan lainnya yang belum pernah saya dapatkan sebelumnya selama menjadi pengguna Instagram - atau mungkin sebenarnya udah, tapi efeknya enggak sebesar ini. Dan kebahagiaan itu adalah kepoin K-drama terfavorit saya yang pernah saya tonton sejauh ini:  W - Two Worlds !!!! (padahal selama ini baru nonton lima drama, tapi udah sok - sokan ngasih statement ini hahaha). Sekarang setiap buka Instagram, hal pertama yang saya cek dan juga yang lebih banyak menghabiskan waktu saya saat main media sosial ini adalah melihat update dari beberapa account yang terkait dengan W Two Worlds, Han Hyo Joo, dan Lee Jong Suk. Harus saya akui sebenarnya sebelum ini saya juga udah sempat fangirling #songsongcouple di Instagram. Cumaaan, kali ini fangirling saya buat #jongjoocouple itu jauh lebih parah efeknya. Bukan lagi hanya sekedar kepoin foto - foto mereka, tapi yang paling sangat saya nikmati adalah melihat behind the scenes (BTS) video dari drama ini. 




Sebagai salah satu yang suka melihat mereka berdua dan berharap mereka beneran jadi pasangan dalam kehidupan nyata, pastinya ada kebahagiaan tersendiri begitu tau kalau di kebanyakan BTS video ini sering banget ada adegan yang bikin hati meleleh ketika melihat chemistry #jongjoo di luar dari peran mereka sebagai Kang Chul dan Yeon Joo. Apalagi dengan karakter asli Hyo Joo dan Jong Suk yang sama - sama kocak, jadinya adaaa aja kelakuan mereka di balik layar yang selalu bikin saya ketawa sendiri. Bahkan ada beberapa video yang masih sering saya rewatch sampai sekarang haha! Yaaa walaupun memang efek negatifnya jadi membuat saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk menggunakan media sosial ini dari biasanya, tapi enggak apa - apa lah selama setelah itu bisa membuat saya semangat lagi :)) 

September 08, 2016

The Changing Colours: Blue

September is and will always be one of my favourite months because it often brings me a change of seasons. I'm not sure whether I will see the green leaves turn to yellow-reddish soon, but I know I have been looking forward to seeing them for almost two years now. The time when I can wear layers of light clothes without sweating or freezing. The time when I can open my room's window without getting bitten by insects or the cold air. The time when the streets look effortlessly wonderful with different colours: maroon, yellow, brown, or gold. Seasons and colours. In a glance, they both look similar. Some people say seasons and colours have the power to influence our emotions. But for me, they are two different things. The changing of seasons is actually something normal. Something that has been proven scientifically. Seasons change because the Earth's axis is tilted - at least, that is what scientists say. But what about the changing colours of our lives? Have you ever thought about it? Why there are such colours in our lives that suddenly appeared - and even reappeared. Even psychologists have not yet found the precise reasons. The reasons why sometimes we feel blue, and suddenly it turns to purple, red, green, grey, black, or white.

If you have never thought, realised, and even gave a damn about it, then good for you. I wish I could be like you. Someone who doesn't have this high level of sensitivity to realise and think deeply about every single change that happens to herself. Someone who doesn't easily absorb energy and feel everything around her. Someone who doesn't write. Because only if I was that kind of person that I wouldn't waste my time thinking about some things that are beyond my capacity to control. I wouldn't be easily bothered with some colours that life has given to me. I wouldn't have made the effort to write here to satisfy my own self. Because it took me more than years to realise, months to think, days to convey, and maybe a lifetime; to completely understand the answer.


I remember when I was a little girl, if my friends asked me about my favourite colour, without no doubt I would say "baby blue" or "that type of blue, like the colour of the sky". I don't know why, but just by seeing that colour was enough to give me this warmth that I couldn't find in other colours. Maybe because I used to love it too much, I accidentally took some part of the colour to my heart, without knowing the meaning behind it. Maybe because of that, I have periodically found myself in situations when all colours give way to only one single colour. And that colour was and still is blue. Whether when I’m being surrounded with many people I know or only a few. Whether when I’m in the midst of a proud achievement or a big problem. Whether when I’m in a relationship or single. Whether when I’m living in the city I was born in or one that I have only been in for months. Whether when I’feeling healthy or sick. Whether when I’m unknown or known. Whether when I’m being trapped in the same circles or when I step out of those circles that are my comfort zone. Whether when I’m in a middle of life crisis or confidence. This colour has appeared under these - and more - circumstances. But now I find it a bit tragic by the time I realise that my favourite colour has apparently been associated with something negative. They say blue represents the feeling of depression, unwell, down, and other feelings that are associated with being unhappy. Even in the movie 'Inside Out', the character of Sadness is unabashedly blue.


When the blue appears, I would hardly get enough good sleep. I often found myself waking up in the middle of the night. Sometimes it's followed by this severe anxiety wrapping me from the inside. When the blue appears, I feel powerless. More often than not, there is also a mixture of nausea, dizziness, and ache in my back once I wake up in the morning. When the blue appears, I feel like I'm not good enough. It would be a few hours until I can stop blaming myself when I made a small mistake. When the blue appears, I want to get away from as many people as I can. All I want is just to stay inside my room, live in my own world, and leave my phone on airplane mode. When the blue appears, I no longer get so much excitement from things that are supposed to make me happy. A cup of warm milk tea. Working on my research. Attending concerts of my favourite singers. Reading good books. A bar of chocolate. Public park. Cycling through the city. Fresh veggies and fruits.  Conversation with old friends. Listening to favourite songs. Riding roller coasters. Evening run. Writing down my thoughts. Dress up. Watching movies. Staying and working at home. Gardening with local community garden. Hang out with my new friends. Cooking new recipes. Taking and editing photos. Planning something exciting. Taking warm shower. Traveling to new places. Buying something nice. Browsing for beautiful pictures on Instagram. When the blue appears, there is no way to completely shake it off, not even with praying, crying, taking a deep breath, sleeping, screaming, laughing, exercising, smiling. They can only change the blue into different shades. Sometimes navy. Sometimes indigo. Sometimes azure. Sometimes sapphire. Sometimes cobalt. But nothing was able to completely change it to other colours. 


It's neither anger nor sadness. Neither jealousy nor hate. Neither regret nor dissatisfaction. All I have felt is certainly something else. Something strange that’s been residing deep down inside my heart. Something that drags me down into the darkness and take all the colours I have. I finally googled it. And what came up was more than five million results. Some of these say I might face something called depression. But depression is a very strong and dreadful word that I have never imagined I could ever associate with. Why would I get depressed? There is no single reason I should be one of those people who get affected by it. A minute after that, I suddenly remembered I was asking the same questions to myself a few months ago. The time when I read my friend's blog. She felt like she was depressed, but everybody kept telling her she wasn't. I did the same thing. 

It has been two months since I have this colour with me. But I am no longer too much bothered by it. Maybe because I’finally aware that there are reasons behind it, which somehow makes me relieved. My family keeps ensuring me that I am not depressed, especially my little sister who had been staying here at the time when the blue started to appear and engulf me. And my little brother who has studied about this subject and is soon to be a psychologist. They both told me that I do not look like a person who is suffering from depression. And they were right, it isn't depression. Although my doctor says that the nausea I’ve been having during the past few weeks was been triggered by stress. That day, I realised one thing: I was the one who kept denying that there are particular variables that have long annoyed me since the first time this colour has dominated my days. Disappointment that is caused by expectation. Isolation that is caused by unfamiliarity. Anxiety that is caused by procrastination and disorganisation. Guilt that is caused by imbalance. Pain that is caused by unfinished business. Fear that is caused by excessive worrying and too much assumption. Last but not least, the presence of another colour. Grey. 

September 02, 2016

San Gimignano & Siena, 2 Mei 2016.

Ini nih salah satu tempat yang berhasil bikin saya dan Mba Vicky setengah histeris begitu melihat penampakannya, sekalipun hanya dari depan pintu gerbangnya. San Gimignano, the city of beautiful towers. Kota yang terkenal dengan empat belas menara cantiknya. Siapa yang menyangka dibalik sebuah dinding besar yang dari jauh hanya tampak beberapa menara yang tingginya enggak lebih dari kebanyakan gedung perkantoran di Sudirman; ternyata ada sebuah kota kecil yang lebih terasa seperti salah satu atraksi buatan di sebuah theme parkAnd once I had passed through the gate, it felt like I was teleported to medieval times. Hingga sekarang masih teringat jelas bagaimana penampakan yang ada di depan mata saya saat itu. Bangunan - bangunan yang terbuat dari batu bata merah kecokelatan. Narrow cobble stone streets.  Beberapa restoran yang menaruh replika babi di depan pintu masuk restoran mereka. Toko - toko kecil yang menjual aneka souvenir mulai dari lukisan cantik dengan pemandangan Tuscany maupun kota - kota kecilnya, peralatan makan dari kayu, hingga tas kulit. Tanpa basa - basi, saya langsung ngacir memasuki setiap gang yang saya temui. Ada yang membawa saya ke rumah - rumah penduduk lokal dengan halaman belakang mereka adalah hamparan hijau luas yang tampak seperti dalam salah satu lukisan di rumah nenek saya dulu. Ada juga yang membawa saya ke tengah kota, dimana para wisatawan berkumpul menikmati gelato dari sebuah gelateria terkenal karena berhasil memenangkan Gelato World Champion dua kali berturut - turut selama lima tahun.   




Cuma perlu bayar 3 (sekitar 45k IDR), udah bisa menikmati gelato terenak dengan tiga varian rasa yang bisa kita pilih sendiri



 I tried this combination of chocolate-hazelnut, vanilla, and pistachio flavours. Delizioso! 


Walaupun sama - sama membawa saya seperti ke zaman medieval, Siena terlihat sangat berbeda dari San Gimignano. Satu hal pertama yang paling menarik perhatian saya ketika berjalan menyusuri kota ini adalah jendela warna - warni yang terbuka lebar yang menghiasi hampir setiap bangunan yang ada disini. Sejauh yang saya ingat, rasanya kota ini memiliki jendela paling banyak dibandingkan kota - kota Italia yang sebelumnya saya kunjungi. Lalu Arsitektur Gothic yang tersebar hampir di setiap pelosok kota, adalah salah satu hal lainnya yang menarik perhatian saya. It's even called the 'giant open air museum to the Gothic'. Dan lagi - lagi, meskipun saya sudah beberapa kali mengunjungi kota yang dipenuhi dengan jenis arsitektur ini, tapi kota yang paling berbekas di pikiran saya, salah satunya adalah Siena. Apalagi saat melihat Piazza del Camp, sebuah piazza tempat diadakannya the famous Palio yang merupakan acara balapan kuda yang digelar dua kali setiap tahunnya. Oh iya, satu hal lagi yang enggak boleh terlewatkan saat berkunjung ke Siena adalah Morbidi Gourmet. Restoran lokal yang menjual makanan secara prasmanan dan harganya ditentukan berdasarkan berat dari makanan yang kita ambil. What else do you need other than eating at a cozy Italian restaurant with very good, affordable food?

Piazza del Campo. Sekilas saat duduk disana berasa kaya lagi di Alun - Alun Bandung :)) 


Suka banget dengan detail arsitektur khas Gothic-nya gereja ini!



Beberapa jenis menu Italia yang baru saya temui di Morbidi Gourmet