April 29, 2016

#ROH 29 : Chocolate

Diantara ROH yang lain, mungkin cara paling cepat mengembalikan mood saya saat lagi sedih, stres, dan kesal adalah yang satu ini, alias makan cokelat! Dari saya kecil emang udah suka banget sama makanan dan minuman yang ada cokelat-nya. Mulai dari cokelat batangan, susu cokelat, roti cokelat, es krim cokelat, kue cokelat, pokoknya kalo ada pilihan antara cokelat dengan flavour lain, pasti saya akan milih cokelat. Jadi membuat saya bahagia itu enggak susah kok, cukup disodorin cokelat, pasti saya langsung senang. Haha! 

Kesukaan saya dengan cokelat ini cukup berbeda dari waktu ke waktu. Sampai sebelum saya kesini, saya lebih suka varian cokelat yang dicampur dengan susu, alias enggak terlalu suka dengan pure chocolate atau dark chocolate. Mungkin karena dari dulu saya emang pencinta makanan manis. Terlebih lagi di Indonesia kan kalo dark chocolate gitu biasanya lebih mahal daripada cokelat yang udah dicampur dengan susu. Nah tapi semenjak saya kesini, saya iseng - iseng nyobain dark chocolate, ternyata malah ketagihan. Selain lebih rendah gula (dan kalori! hehe), ternyata kandungan zat penenang "endorfin" dan zat anti depressan "serotonin" di dalam dark chocolate ini juga lebih tinggi dari cokelat biasa. Jadi enggak heran deh dengan jumlah yang sama, saat makan dark chocolate rasanya saya jadi lebih cepat tenang :3


Perbedaan lainnya yang juga saya rasakan saat makan dark chocolate adalah mata saya langsung cerah kembali saat lelah atau mengantuk. Dan ternyata setelah saya baca, memang ada kandungan dari dark chocolate yang bisa meningkatkan sirkulasi darah dan membuat kerja syaraf otak menjadi lebih baik. Makanya sejak saya merasakan langsung manfaat ini, saya juga sering makan dark chocolate bukan hanya di saat saya lagi stres, tetapi juga di saat saya lagi mengantuk atau lelah. Jadi kaya sebagai pengganti kopi gituu. 

Walaupun saya belum cobain semua dark chocolate disini, tapi sejauh ini memang kesukaan saya masih dari Lindt. Sedangkan dari produk lokal Belanda, saya suka Tony's Chocolonely dan dari supermarket SPAR. Kalo kamu ada brand favorit buat cokelat, terutama dark chocolate, boleh loh dibagi informasinyaa :D

April 24, 2016

#ROH 28: Dress Up

Entah sejak kapan saya mulai menyadari bahwa selalu ada masa dimana saya pengen banget difoto buat outfit yang saya pakai. Dan itu bukan buat pamer ke orang lain, tapi memang karena ada kepuasan tersendiri aja foto ala - ala gitu. Ada kebahagiaan yang enggak bisa dijelaskan saat saya memadupadankan baju - baju di lemari saya, memakainya, kemudian foto kaya model di majalah fashion pada umumnya. HAHA. Kalo kata ayah dan bunda, dari kecil saya memang udah ada bakat 'centil' yang ditunjukkan dari beberapa hal. Mulai dari cara saya pose saat difoto yang berasa kaya supermodel, suka eksperimen pake setelan yang 'unik', atau suka senyum - senyum sendiri sambil bergaya di depan cermin. Enggak heran sih kalo pas udah gedenya saya masih suka kaya begitu. Ternyata udah bawaan dari lahir, jadi susah diubah :))



Jangankan orang lain, saya pun kadang suka geli dan ngakak sendiri melihat kelabilan saya kalo lagi segitunya pengennya difoto. Bukan cuma dari gayanya yang kadang emang mengundang komentar, tapi dibalik itu semua saya bisa bela - belain ganti baju rapih hanya buat difoto ala - ala fashion blogger gitu (kalo penasaraan sama pose saya yang lebih labil, bisa dilihat di beberapa postingan iniini dan ini). Sebenarnya dibandingkan bikin repot sendiri kaya begini, saya lebih suka foto di saat saya lagi pergi. Selain memang sekalian dandan rapih, background-nya pun lebih menarik dan bervariasi. Tapi terkadang saat saya lagi dress up buat pergi jalan, malah enggak dapat foto yang sreg. Entah karena enggak dapat tempat yang pas, atau saya-nya yang lagi enggak bagus alias pose dan mukanya suka ajaib akibat salah tingkah kalo foto di depan umum :)) Apalagi kalo kaya sekarang ini dimana masih sedikit banget orang yang bisa dengan leluasa dimintain buat fotoin saya untuk foto ala - ala. Yang ada malah makin enggak pede buat bergaya ala - ala dan juga enggak enak buat minta difoto berulang kali sampai ketemu hasil yang memuaskan. Ha!

Nah biasanya yang paling kasian kalo saya lagi pengen difoto gitu yaa adik perempuan saya si Gladyz. Karena mesti sabar menjadi fotografer dadakan demi memenuhi kelabilan kakaknya yang satu ini. Dulu sih sebelum tau bakat terpendam Gladyz di bidang fotografi, saya suka minta tolong Uni Chica, kakak perempuan saya. Tapi semenjak Uni udah berkeluarga, personal photographer saya berubah jadi ke Gladyz. Keuntungannya punya kakak dan adik perempuan yang jago foto mah gitu ya. Selain bisa tuker-tukeran baju, juga bisa dijadikan fotografer pribadi. Haha! Tapi berhubung disini saya belum menemukan 'pengganti' adik saya ini, maka alternatif lainnya adalah.... self-timer!



Jadi sebenarnya hasrat buat foto ala - ala ini udah ada sejak Desember kemarin. Tiba - tiba aja kepikiran pengen dress up terus difoto. Sebenernya udah beberapa kali niat mau foto sama Gladyz, tapi karena saat itu kami lagi sibuk mau pindahan dari apartemen ke rumah orangtua saya, jadinya udah keburu males duluan gitu. Karena waktu itu belum kesampaian kali yaaa, akhirnya muncul lagi deh keinginan buat foto ala - ala sekarang ini. Apalagi kebetulan timing-nya juga lagi pas karena saya mau pergi liburan. Da saya mah gitu orangnya, harus nyobain setiap outfit dulu buat dibawa dan dipakai saat lagi liburan. Heee! Maka sekalian aja beberapa outfit yang udah dicoba, saya jadiin juga sebagai "photo shoot" dadakan. Jadi harap dimaklumi yaa kalo nanti kamu liat beberapa outfit di postingan ini yang saya pakai kembali saat foto liburan nanti :3.



Salah satu faktor lainnya yang membuat saya juga pengen foto ala - ala ini sebenarnya juga karena udah lama banget saya enggak posting foto outfit di blog. Walaupun harus saya akui, salah satu tujuan awal blog ini dibuat pun adalah sebagai ajang untuk memuaskan hasrat memposting foto - foto termasuk foto outfit saya. Tapi lama kelamaan saya jadi merasa kurang sreg gitu setiap kali mau posting ootd. Mungkin karena pengaruh usia yang semakin tua atau memang tingkat kedewasaan yang semakin tinggi *eaaa*, saya jadi semakin merasa kalo postingan kaya begitu terlihat seperti anak ABG banget. Jadi berasa narsis dan kadang malah jadi terkesan pamer kalau lagi memakai barang yang branded. Padahal mah maksudnya enggak kaya begitu. Bahkan sebenarnya salah satu tujuan utama saya posting juga ingin sekalian memperlihatkan bahwa you don't always need to wear expensive things to look stylish. Karena dari dulu sampai sekarang saya masih sering menemukan kondisi dimana barang - barang hasil thrifting atau yang saya beli dengan harga murah, justru yang banyak dipuji dan dikira mahal



But well, terlepas dari semua itu, harus diakui memang kalau foto ala - ala kaya begini masih jadi salah satu my source of happiness. Disini saya jadi sadar bahwa setiap orang punya caranya masing - masing buat bikin diri mereka bahagia, sekalipun caranya agak berbeda dari kebanyakan orang. Misalnya teman - teman cowok saya masih ada yang suka banget main Play Station atau game lainnya meskipun mereka udah berkeluarga. Ada juga orang - orang yang suka banget selfie, sampai isi Instagram-nya hampir dipenuhi semua dengan foto mukanya. And honestly, bagi saya yang bukan penggemar game dan selfie, saya tau bahwa enggak ada yang salah dengan itu semua. Selama apa yang kita lakukan enggak mengganggu kebahagiaan orang lain, just keep doing what makes you happy. Sekalipun saya sadar sih kalo muka 'sok model' dan awkward pose saya cukup mengganggu dan udah keliatan sangat enggak cocok. Semoga enggak sampai bikin kalian sakit mata yaa. Ha! 

April 20, 2016

#ROH 27 : Traveling Solo

Setelah dua tahun sama sekali enggak pernah solo travel, sejujurnya saya kangen banget buat jalan - jalan sendirian lagi ke tempat yang belum pernah saya kunjungi. Walaupun di sisi lain saya juga merasa takut dan enggan. Takut kecopetanlah. Takut kesepianlah. Takut kena diskriminasilah. Takut dengan kecorobahan saya sendirilah. Bahkan terkadang ketika terbersit pikiran tentang diri saya tiga tahun yang lalu, yang pernah melakukan beberapa kali perjalanan seorang diri ke tempat baru, rasanya saya suka enggak percaya gitu kalau saya bisa seberani dan semandiri itu. Ha! But deep down in my heart I knew that I missed the thrill and feeling of adventure that I will never get to experience while traveling with other people. Makanya, walaupun udah dua minggu berlalu semenjak saya kembali melakukan perjalanan seorang diri, sampai saat ini sisa kebahagiaan yang ditimbulkannya masih terasa dalam diri saya.


Walaupun saya udah ada niat mau solo travel lagi selama disini, sebenarnya belum ada kepastian kapan dan kemana-nya. Karena beberapa trip yang sebelumnya udah direncanakan memang selalu bersama dengan teman - teman saya disini. Sampai akhirnya sekitar pertengahan Maret lalu, saat saya pertama kali bimbingan dengan Alex, PhD co-supervisor saya, tiba - tiba merekomendasikan saya untuk datang ke sebuah konferensi yang memang sangat berhubungan dengan topik riset saya saat ini. Dan dari situ lah awal mula perjalanan dadakan saya ke Barcelona di awal bulan ini.

Di satu sisi rasanya senang karena bisa sekalian refreshing ditengah - tengah kondisi saya yang memang lagi agak jenuh saat itu. Tapi sebenarnya di sisi lain saya enggak se-excited itu karena niat utama saya ke Barcelona bukan untuk jalan - jalan. Apalagi dengan waktu saya yang sebentar banget dan jadwal konferensi yang berlangsung dari pagi hingga sore, jadinya total bisa jalan - jalan hanya sekitar satu setengah hari. Itu pun setengah hari juga diambil saat disela - sela menunggu diskusi satu dengan lainnya. Seandainya aja waktu itu saya lagi enggak ada deadline kerjaan lain dan belum mulai Dutch course, pasti saya akan extend beberapa hari di Barcelona, bahkan mampir ke kota lain juga. Namun siapa yang menyangka justru perjalanan yang diawali dengan ekpektasi yang rendah serta dilakukan secara mendadak dan dalam waktu yang singkat seperti ini, malah meninggalkan kesan mendalam bagi saya.


Sebenarnya setiap kali saya solo travel, hal utama yang paling saya khawatirkan adalah kecerobohan saya sendiri. Mungkin karena sampai sekarang saya masih agak trauma dengan pengalaman enggak enak yang saya alami waktu pertama kali keluar negeri tanpa orangtua saya, yaitu saat saya mengikuti pertukaran pelajar ke Jepang lima belas tahun yang lalu, saya hampir enggak bisa pulang ke Indonesia. Saat itu padahal udah di bandara mau pulang kembali ke Jakarta dan bahkan udah pake acara nangis segala karena sedih mau pisah dengan host family saya. Eh enggak taunya pas mau masuk departure gate, baru sadar kalau paspor saya entah dimana. Gedubrak banget emang -___-Yang ada saat itu saya malah makin mau nangis, bukan lagi karena merasa sedih berpisah dengan hostfam, tapi saking panik dan takut enggak bisa pulang ke Indonesia karena paspor-nya entah dimana. Begitu dicari - cari, ternyata ada di salah satu tas kecil yang saya masukkin di bagian paling bawah koper saya. DUH! Entah ceroboh atau bodoh, saya agak enggak paham juga sih dengan diri saya saat itu. Hahaha. Tapi yang jelas, dampaknya sampai sekarang masih berasa banget di saya. Jadinya setiap mau pergi ke luar negeri, saya pasti selalu merasa was-was kalau belum masuk pesawat. Apalagi kalau perginya sendirian, karena enggak ada yang bisa saya tanyain buat double check perlengkapan apa aja yang mesti dibawa, atau saling mengingatkan. Ditambah lagi dengan sifat saya yang pada dasarnya memang mudah cemas, jadi kadang suka khawatir berlebihan kalau lagi mau pergi sendirian. Di sisi lain, karena sifat ceroboh dan khawatir berlebihan itu malah jadinya justru membuat saya lebih antisipasi. Seperti perjalanan kali ini, supaya enggak ketinggalan pesawat, akhirnya saya memilih untuk menginap di bandara. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya.

Menunggu 10 jam sambil ngerjain paper ternyata lumayan banget jadi enggak terlalu berasa lama

Jadi ceritanya supaya saya bisa sempat jalan - jalan dulu seharian di Barcelona, saya mengambil flight paling pagi yang berangkat dari Amsterdam, yaitu jam 07.00 dari Schiphol Airport. Tapi berhubung setiap hari Minggu semua transportasi publik di Rotterdam baru beroperasi di atas jam 09.00, kecuali night bus (yang mana juga hanya beroperasi dengan jangka waktu lebih lama dan rute yang terbatas), maka saya memutuskan untuk berangkat dari Rotterdam pada Sabtu malam dan menunggu 10 jam di Schiphol Airport. Sebenarnya dulu waktu di UK saya pernah juga menunggu kereta di Leeds Station saat dini hari dari jam 01.00 sampai 05.00. Mulai dari sempat ditemani beberapa penumpang yang juga lagi menunggu kereta mereka, lalu sempat dimana akhirnya saya benar - benar seorang diri, dan sampai akhirnya ada penumpang lainnya yang baru datang. Tapi tetap aja kaan yaa itu udah tiga tahun yang lalu. Jadi kali ini tetap aja deg - degan. Walaupun akhirnya saya sadar kalau saat itu resikonya lebih tinggi daripada saya menunggu di Schiphol Airport.

Saya bisa bilang begitu karena ternyata setelah saya browsing, Schiphol termasuk world's most 'sleepable' airport. Bahkan ada seorang travel blogger yang pernah beberapa kali menginap di bandara yang berbeda dan mengakui bahwa Schiphol adalah bandara paling aman dan nyaman yang pernah ia kunjungi. Dan memang terbukti benar. Selama saya menunggu disana, bukan hanya cukup ramai oleh penumpang lain yang juga menginap disana, tetapi juga petugas bandara yang rajin banget setiap beberapa saat datang untuk mengecek kondisi dan memastikan orang - orang yang terlihat mencurigakan. Walaupun memang sih ujung - ujungnya saya enggak jadi tidur karena gabungan antara kedinginan, udah terlanjur enggak ngantuk karena sebelumnya minum kopi dulu, tanggung karena sambil mengerjakan paper, dan takut ketinggalan pesawat karena kebablasan tidur.

Kondisi beberapa penumpang yang juga menginap di Schiphol Airport

Saya sadar bahwa setiap tahun selalu ada perubahan yang terjadi dalam diri saya, baik itu cara pandang, hal yang saya suka dan enggak suka, kebiasaan, dan lain sebagainya. Namun untuk yang satu ini, saya bisa bilang bahwa alasan saya menyukai solo travel tetap sama seperti yang saya tulis di postingan saya dua setengah tahun yang lalu.  Dengan melakukan perjalanan seorang diri, saya jadi lebih peka terhadap keadaan sekitar saya, sehingga pada akhirnya ingatan saya tentang tempat dan suasana di kota tersebut lebih besar ketimbang saat saya melakukan perjalanan bersama keluarga dan teman. Saat saya melakukan perjalanan sendiri, saya bisa lebih bebas. Bebas untuk berjalan kaki seharian keliling kota ke tempat yang saya inginkan, dan hanya naik transportasi publik saat saya benar - benar sudah merasa lelah. Bebas untuk memilih jalan mana yang ingin saya ambil, yaitu jalan yang biasanya lebih sedikit dilalui oleh turis. Bebas untuk mengunjungi tempat - tempat dimana saya dapat menemukan perasaan yang bisa memahami dan mendekatkan saya dengan budaya lokal. Dan masih banyak lagi hal lainnya yang hanya bisa saya dapatkan ketika saya pergi seorang diri.


Perjalanan saya kali ini enggak mungkin akan semenyenangkan ini kalau enggak didukung oleh tempatnya. Alhamdulillah banget perjalanan kali ini lancar dari awal hingga akhir. Padahal sebelumnya saya sempat takut karena Barcelona terkenal sebagai salah satu kota yang banyak pencopetnya. Apalagi mendengar pengalaman langsung dari orang terdekat saya, yaitu Bunda yang dulu pernah dicopet tasnya di kota ini. Namun di luar dugaan saya, ternyata Barcelona sangat bersahabat. Selain kotanya yang cantik dan bangunannya yang lebih berwarna dibandingkan kota - kota besar di Eropa lainnya yang pernah saya kunjungi, saya juga terobsesi dengan jalanan kecil dan balcony yang dipenuhi dengan tanaman dan bunga. Sebenarnya masih banyaaaak hal lainnya yang membuat saya menyukai kota ini, dan bahkan mampu mengembalikan ingatan saya yang dulu sempat hilang tentang betapa menyenangkannya melakukan perjalanan seorang diri. Tapi berhubung kalau diceritain disini akan membuat postingan ini menjadi sangat panjang, maka saya memutuskan untuk membuat postingan terpisah tentang Barcelona. Ditunggu aja yaa :3

April 14, 2016

#ROH 26: Learning A New Language

Salah satu yang menjadi pertimbangan saya memilih Belanda sebagai negara tujuan utama kedua setelah Inggris adalah karena bahasanya. Meskipun bahasa utama disini adalah Dutch, mayoritas masyarakat disini bahasa Inggrisnya udah jago banget. Jadi sebenarnya bahasa enggak menjadi masalah sama sekali disini. Bahkan saya cukup amazed saat pertama kali bertemu dengan beberapa teman kuliah orang Dutch yang awalnya saya kira adalah British, karena aksennya yang udah mirip banget sama orang Inggris! Bukan cuma mereka sangat fasih berbahasa Inggris, tapi mereka juga enggak keberatan buat ngomong dalam bahasa Inggris. Pengalaman saya dan beberapa teman saya yang tinggal di negara Eropa lainnya mengaku bahwa Belanda adalah negara yang paling koperatif dalam menggunakan bahasa Inggris.

Sama seperti olahraga, linguistik bukanlah suatu hal yang menjadi minat dan bakat saya. Saya kagum sama orang - orang yang bisa menguasai beberapa bahasa dan orang yang mau belajar bahasa hanya karena mereka suka. Tapi saya sendiri enggak pernah segitu tertariknya buat belajar bahasa lain. Jangankan bahasa negara lain, bahasa daerah tempat leluhur saya lahir aja saya enggak bisa dan enggak memiliki niat buat jadi bisa (iya tau kok, saya bukan warga negara Indonesia yang baik. hu!). Okelah yaa kalau Minang memang cukup sulit karena saya enggak pernah tinggal di Padang dan orangtua saya pun jarang banget bicara dalam bahasa ini. Tapi kalau Sunda? Hmmft. Saya merasa malu sekaligus menyesal sih sampai sekarang hanya bisa paham beberapa kata. Padahal dulu hampir empat tahun kuliah di Bandung dan pernah punya pacar orang Sunda yang mau ngajarin bahasa Sunda, tapi berhubung saya-nya enggak niat jadi.... yha. Di sisi lain, dengan kesempatan yang sama (kuliah dan punya pacar orang Sunda) kakak perempuan saya sekarang udah jago banget dan udah kaya orang Bandung asli beserta dengan logat Sunda-nya. 


Nah kalo udah kaya gitu baru deh berasa nyeselnya setelah melewati kesempataan itu. Makanya kali ini walaupun sebenarnya saya bisa aja enggak belajar Dutch, tapi rasanya sayang kalau waktu empat tahun ke depan ini enggak dimanfaatkan untuk sekalian belajar bahasa baru. Yaa ini juga (ceritanya) sekalian mau belajar dari kesalahan masa lalu gitu deh, supaya enggak terulang lagi "penyesalan" untuk kedua kalinya :))

Tapi ternyata niat baik saya ini pun enggak semulus prakteknya. Terutama karena awalnya saya sempat belajar otodidak, yang mana lebih sulit ketimbang belajar di kursus. Mau gimana lagi, ketika saya mau daftar buat kursus di Erasmus Huis Jakarta, eh enggak taunya udah telat. Dan baru ada lagi bulan Januari, yang mana udah mepet banget sama waktu keberangkatan saya. Di sisi lain kampus saya sekarang baru menyelenggarakan program Dutch course-nya saat awal April ini. Jadi dua bulan kemarin akhirnya saya memutuskan buat otodidak dulu. Mulai dari beli buku "Complete Dutch" yang baru beberapa halaman nyobain, saya udah mulai bosan karena metodenya ternyata enggak seasik itu. Lalu saya juga sempat mencari free online Dutch course, tapi enggak ada yang memuaskan. Sampai akhirnya saya justru enggak sengaja menemukan sebuah aplikasi yang oke banget buat belajar berbagai bahasa, yang enggak hanya bikin saya senang saat belajar Dutch, tapi juga berhasil banyak membantu saya buat mengerti bahasa ini sebelum kursus sebenarnya dimulai dua minggu yang lalu.

Dan aplikasi itu bernama Duolingo.


Satu hal yang paling saya suka dari Duolingo adalah pengemasan aplikasinya yang menarik, yang bukan hanya membuat belajar bahasa jadi lebih menyenangkan, tapi juga jadi merasa bukan kaya lagi belajar gitu, tapi lebih kaya lagi main game. Menurut saya hal inilah yang paling membedakan Duolingo dari metode belajar dari buku serta beberapa online course yang sebelumnya sempat saya coba juga. Selain itu si pengguna juga selalu "ditantang" buat terus belajar sampai benar - benar bisa memahami setiap bagiannya. Kalau Duolingo menganggap kita udah sefasih itu, maka kecil kemungkinan skill kita akan menurun. Tapi kalo dirasa skill kita masih pas-pasan dan jarang dilatih, maka jadi cepat menurunnya. Bagi orang kaya saya yang enggak setiap hari buka Duolingo (sekalipun udah dikirim notifikasi melalui email. haha), justru pas sekalinya main bisa sampai satu jam karena begitu buka Duolingo lagi ada beberapa kategori yang menurun dan akhirnya bikin saya gemas buat ambil latihan supaya bisa naik level dan mendapatkan "emas" di kategori tersebut.


Walaupun semua kategori udah dikerjakan, skill kita bisa terus menurun kalo enggak dilatih setiap hari/minggu 

Hal lainnya yang saya suka dari Duolingo adalah karena kita juga bisa bertanya dan melihat pembahasan di forum yang disediakan di setiap pertanyaan yang diajukan. Dengan perbedaan grammar dan susunan kalimat yang sangat berbeda dari bahasa Indonesia dan Inggris, sampai sekarang saya masih suka kebingungan. Terus biasanya kan kalo udah bingung gitu suka males ngelanjutin ya, tapi berhubung ada forum pembahasan jadi bisa lebih mengerti alasan dibalik jawaban yang disediakan dan akhirnya enggak jadi males buat lanjut ke level berikutnya hehe. Nah yang juga ngebuat seru adalah kadang ada beberapa kalimat yang "aneh". Entah emang disengaja sama si pembuat Duolingo-nya supaya buat lucu - lucuan, atau emang termasuk Dutch slang, yang jelas pasti selalu banyak komentarnya. Dan justru baca komentar - komentarnya itu yang kadang malah bikin makin seru dan ketawa sendiri pas lagi main Duolingo ini. 


Di setiap pertanyaan pasti selalu ada tanda "kolom" yang disediakan sebagai tempat buat diskusi kalo ada hal - hal yang membingungkan atau enggak kita pahami

Walaupun sekarang saya udah ikut les juga di kampus, tapi sampai sekarang saya masih suka banget main Duolingo. Malahan karena sebelumnya belajar di Duolingo ini, saya jadi lebih mudah mengikuti pelajaran di kelas karena udah tau beberapa kata dan bahkan grammar dasar. Selain itu karena saya menganggap ini sebagai game, jadi malah sering dijadikan ajang buat refreshing saat lagi istirahat di tengah - tengah kerja, lagi duduk di dalam kereta, disela - sela makan siang, atau malah sebelum tidur. Apalagi saya udah lama banget enggak main game, karena takut bakal ketagihan sekalinya nyobain. Tapi kalo yang ini kan, mau ketagihan juga malah bagus yaa bisa sekalian nambah ilmu baru #haseek #banyakgaya #padahalbarulevelenam :)) Yaa, walaupun kadang kalo udah masuk level selanjutnya dan kategori baru malah main ini kadang bikin jadi pusing juga sih, haha. 

Buat kamu yang tertarik buat belajar berbagai bahasa tapi enggak mau les atau cuma pengen iseng - iseng aja, Duolingo ini sangat saya rekomendasikan. Mulai dari French, German, Spanish, Italian sampai ke bahasa yang unik seperti Welsh, Vietnamese, Greek. Eh, bahkan Bahasa Indonesia juga baru ada loh. Selamat mencoba! :D