February 25, 2017

Budapest : The Wes Anderson's City

Ketika Ferenc, host dari Airbnb yang kami tumpangi selama di Budapest, menanyakan hal apa yang paling berkesan dari kota ini, hal pertama yang terlintas di otak dan langsung otomatis terucap oleh saya adalah metro. Saat itu bukan hanya dia yang kaget, tapi juga adik saya. Mereka bingung kenapa dari sekian banyak hal menarik yang disajikan oleh Budapest, justru yang paling berkesan bagi saya adalah metro yang tua di stasiun bawah tanah yang gelap dan remang - remang. Memang enggak semua orang memiliki ketertarikan dengan transportasi publik. Namun bagi saya, salah satu yang menjadi ciri khas sebuah kota adalah transportasi publik-nya. Mungkin karena dari dulu saya termasuk pengguna setia transportasi publik, dari jamannya naik angkot dengan berbagai jurusan di Bandung, lalu berganti ke Transjakarta, hingga kereta commuter line Jakarta - Depok. Jadi begitu mengunjungi kota - kota di Eropa yang memiliki transportasi publik yang lebih beragam dan tentunya lebih memadai, rasanya kecintaan saya terhadap transportasi publik jauh lebih meningkat. Yaaa, ibarat anak kecil yang biasanya cuma makan Silver Queen, terus tiba - tiba dikasih berbagai varian Lindt (btw, ini pengalaman pribadi beneran loh. Haha!). Apalagi setiap kota di Eropa yang saya kunjungi sejauh ini memang memiliki bentuk metro dan tram yang berbeda satu sama lainnya, membuat semakin menarik untuk diperhatikan. Saking tertariknya, saya enggak lagi kepikiran untuk memfoto, tapi langsung merekamnya! *bisa dilihat di When We Were in Budapest.






Alasan lain dibalik jawaban saya tersebut sebenarnya juga terkait dengan jiwa sentimental yang saya miliki, yang sangat mudah mencampuradukkan kondisi yang saya alami di saat tertentu dengan perasaan nostalgia akan suatu waktu dan tempat yang pernah terlintas di mata, telinga, maupun alam bawah sadar saya. Termasuk suasana ketika pertama kali saya dan Gladyz sampai di Budapest. Saat itu matahari sudah mulai terbenam, disertai dengan hujan rintik - rintik. Sambil membawa tas dan koper kecil yang sudah dibawa sejak memulai trip ini dua minggu sebelumnya, kami berjalan menuju metro. Awalnya saya cukup was-was dengan kondisi underground yang terlihat tua, lampu remang - remang, serta beberapa hobo yang sudah mulai menggelar selimut mereka di sudut ruangan. Hingga kereta berwarna biru tua pudar tersebut datang. Dan saat itulah, ketika terdengar bunyi nyaring seperti alarm dari pemadam kebakaran, diikuti dengan lampu merah terang mulai kerlap - kerlip, dan suara wanita tengah baya dalam bahasa Hungarian; menjadi penanda bahwa pintu kereta akan segera tertutup. Bunyi pintu kereta yang beradu. Cat warna hijau muda yang menerangi bagian dalam kereta. Suasana di dalam kereta yang sunyi dengan orang - orang di dalamnya yang terlihat kaku. Lalu saya dan adik saya yang memegang koper kami yang setengah basah karena terkena cipratan air hujan. Saat itulah, waktu dimana saya merasa seperti sedang masuk ke dalam dunia imajinasi Wes Anderson dan menjadi salah satu pemeran utamanya. Saat itu juga intuisi saya berkata bahwa saya akan menyukai kota ini. 






Lucunya, hingga suasana apartemen Airbnb kami yang beradadi Pest pun sangat mendukung untuk menjadikan pengalaman kami di kota ini menjadi satu cerita yang utuh. Lift yang hanya bisa membawa maksimal tiga ukuran standar orang Indonesia, dilengkapi pintu yang di luarnya masih berbentuk seperti pagar. Furnitur tua yang mengingatkan saya dengan rumah nenek yang dulu sering kami kunjungi ketika kecil. Dan berbagai image lainnya yang sudah mulai pudar selama delapan bulan ini, akibat rasa malas untuk menulis jurnal saat melakukan perjalanan. Saya pun menyesali kenapa sama sekali enggak mengambil foto atau merekam video dari apartemen kami tersebut. Untunglah, masih ada beberapa bukti yang menunjukkan keunikan - keunikan Budapest, baik yang tanpa sengaja kami temui maupun yang memang sudah tertulis di dalam rencana perjalanan kami. Tapi akan saya simpan untuk postingan berikutnya ya! ;)





February 19, 2017

Conversations With Mom #2

There was a day when the sun shone so bright and the temperature reached thirteen degrees with a "feels like" of fifteen degrees. As we didn't want to waste every seconds of this perfect day, we decided to stroll around a beautiful public park in Porto, enjoying the beauty around us. The warm sunlight that continuously touched our faces. The fragrance of trees around us. The pretty Algarve, one of the signature flowers of Portugal, blooming almost everywhere in the park. While I paid attention to the nature, my mom was more interested in observing people around us. A man who was reading a newspaper alone. A couple who were gently kissing each other. A group of students who were drawing the city landscape. She said it's in the nature of psychologists to enjoy observing and analysing people from their body language and appearance. However, this time was different. Instead of talking about other people, she was apparently more interested in talking about me.

"So, you haven't made any decision about your partner?"
I showed my uninterested face. I knew sooner or later she would ask this question again.
"You know there are many men interested in you", she asked in a very confident way. Although I was a hundred percent sure she was just being nice to me. 
"Errr... I don't even feel like that way", I said while approaching the trees full of Algarve flowers.
"Well... if I were a man, I would definitely fall for someone like you"
"Errr, I think all mom say this to her daughters, huh?"

I kept my attention to the flowers. It's weird how it made me feel like spring is already here. Then I heard her chuckle and, in a very low voice, said "that's true". 



"But seriously, what about the handsome one you used to tell me? I think he suits you well... he looks smart and has steady job"
"Na-ah. We only met twice and after the second time we went out, we haven't talked again till now"
"Oh... why? Come on, don't be so picky"
"Mom.... you know I'm the farthest thing from picky. I never set standard on this thing... it's just that we have different sense of humour and he really loves talking to the extent of making our conversations one-sided"
"Hmmm... what about the other one who is also doing PhD?"
"Na-ah. We can hardly talk about anything other than curriculum, journals, researches, and other things that relate to academic life... we don't really have common interests other than that"
"Hmmm. I see... but nobody's perfect, anyway..."
"I know, I know... I wasn't trying to say that I've been looking for someone who's almost perfect. But someone whose imperfection perfectly matches with me, to the extent that his weaknesses no longer bother me... and vice versa"
"Hmmm. Then tell me... what are you really looking for in a man?", she sat on one of the wooden benches.

I sighed. This simple question has been asked me a great many times, and yet I still find difficulty in answering it. 

"I think I only need... a chemistry"

She looked surprised and laughed out loud, to my embarrassment. 

"Yeah, I know it sounds so cliche and cheesy and doesn't make any sense... but you know, it's so difficult to find someone with whom I have chemistry. I mean.... the REAL chemistry"
"Come on, Nazura, don't be like a naive kid. Chemistry is not something that you develop in seconds... it takes time for you to decide whether you have this chemistry or not. And in order to know it, you should give someone a chance"
"I know, I know...  that's the thing. I was kind of 'trapped' with a number of wrong people only because I thought we had a good chemistry together. But as we got closer, I lost that chemistry"
"Why?"
"Various reasons".
"For example?"

I pointed my camera to a part of the street nearby upon which a tree casted a shadow. It had been asking for my attention since I came. 



"You know I'm a flexible person who tends to love and do many things so it's difficult for me to get along with someone has a great number of specific likes - dislikes and is strict about it. Or someone who already has this certain impression of me, so he tends to show his interests and acts based on what he thinks I like. Or someone who demands to be contacted hourly even though there's barely anything worth informing about. Or someone who is in a rush to show me everything about him and as results he leaves nothing for me to be curious about. Or the other way around, he's just too afraid to be himself when he talked with me so I don't know who he really is"

After capturing the object with different angles, I finally put my camera down and sat beside her. 

"But the thing is, it's just a few of many examples that I found. And the more I live my life the more I realise that what I'm really looking for in someone is not something that can simply be explained and seen. Not something that are often standardised in our community. It's not even something that only relates to my perspective towards political condition in our country, my taste of music, my sense of humour, my way of living... it's something much deeper than all of those things. Way deeper than the logic can reach, the words can explain, and the eyes can see. For me it even took several years and involved meeting different guys until I've come to realise what and who really matters to me. 

She didn't say anything. Maybe she was still trying to understand what I said. 

"'Is it too much to ask for? Am I too weird?"
"No, you are not. Actually, I've been in your position... I think I've told you that there was a time when our relationship was getting serious, I told him to give us some time to see whether there was other person who could suit us better... until finally we reached a certain point when we were more convinced we belong together"
"Yeah, of course I remember. You have always been too eager to tell us how you had a lot of suitors, from a good-looking doctor, a son of powerful military figure... but you always told me that among those men, dad was the only man who dated you with an old vespa while the rest brought their fancy cars"

We laughed together, but of course, she was the one whose face reddened and lips formed a sheepish smile. 

"Exactly! And the main reason was actually more-or-less the same as you... whenever I was with other men, I just didn't have this chemistry with them... and actually none of them successfully got your grandma, aunts, and uncles' hearts like your dad did"

I just smiled this time. I have already heard this statement for hundred of times now. And yet only this time it made my heart warm and rekindled a faith that I thought I had lost. 


"In the end, you chose dad who is a total opposite of you. The "anak-gaul looking type" who was very popular among his friends with his long hair and eccentric sense of fashion, his love for a diverse range of music, and his preference to sit in the last row during the class... while you are the "anak-rajin type" who used to be very socially awkward, prefer sitting in the first row, and couldn't care less about music other than the classic piano pieces you've taught yourself to play"

I continued teasing her. She looked embarrassed but happy at the same time. We laughed together. This time was harder. 

"Ah, now I miss your dad even more", she said in the sweetest tone she usually use to tease dad. 

We stood up and continued walking through the park, while I secretly found myself realising how sometimes the way my mom being so romantic in the most unromantic way is actually quiet romantic for me. And by that, I don't mean her last statement, but indeed how she chose my dad as her life partner. 

February 12, 2017

A Year of PhD : 5 Essential Life-Lessons

Setiap kali saya menjawab pertanyaan yang sering dilontarkan oleh banyak orang tentang rentang waktu program PhD, pasti jawaban mereka serupa, "Empat tahun? Lama banget!". Saya pun begitu, awalnya saya berpikir bahwa empat tahun ini akan sangat lama. Melihat rentang waktu yang akan dihabiskan, artinya sama seperti mengulang program sarjana kembali tapi kali ini dengan kondisi yang sangat berbeda. Empat tahun di program sarjana, berkenalan dan hampir setiap hari bertemu dengan ratusan teman seangkatan, menjalani hari dengan berbagai kegiatan organisasi dan kepanitiaan; tentu enggak akan terasa. Beda dengan empat tahun di program doktoral yang sering disebut sebagai "one of the loneliest journeys", dimana sebagian waktu dan hari - hari dilalui dengan berkutat pada riset yang sama dan dikerjakan oleh seorang diri, tentulah empat tahun akan terasa sangat panjang. Namun nyatanya, satu tahun ini terasa begitu cepat. Terkadang malah saya tidak bisa membedakan antara pagi dan malam. Nyatanya, semua rencana yang sudah dibuat sejak awal menjalankan program ini belum dapat dilakukan semuanya dalam waktu satu tahun. Ternyata benar kata orang - orang yang udah melalui program ini, empat tahun sebenarnya bukanlah waktu yang panjang. Dan baru setahun terlewati, tapi udah cukup banyak pelajaran yang mengubah diri dan hidup saya. Lucunya, setelah saya pikir kembali dan membaca beberapa pengalam orang lain, sebenarnya pelajaran utama yang saya dapatkan dalam kurun waktu setahun ini merupakan kondisi yang cepat-atau-lambat akan saya alami di masa yang akan datang. Terutama ketika nantinya saya memutuskan untuk lebih banyak bekerja dari rumah maupun sebagai independent researcher.


1. Time Management : Knowing When and How You Work Best
Hal pertama yang paling sulit untuk dilakukan adalah mengelola waktu dan mencari pola kerja yang paling sesuai. Meskipun saat saya menjadi dosen dulu pola kerja saya juga fleksibel (bisa datang siang) tapi saya masih diwajibkan untuk datang ke kantor dan bekerja 8 jam sehari. Kali ini, program doktoral yang saya ambil enggak memiliki kewajiban untuk ke kampus kecuali kalau lagi ada kuliah dan bimbingan. Jadi semuanya diserahkan ke saya. Sekilas terlihat enak sih ya, tapi sebenarnya justru sangat menantang dan lebih sulit dibandingkan bekerja dengan waktu yang udah ditentukan. Karena dengan diberikan kebebasan penuh, maka saya harus bisa membagi waktu agar enggak kelamaan melakukan kegiatan lain di luar riset tapi juga enggak kebablasan kerja. Bagi saya yang termasuk tipe orang ketakutan setiap saat dan gampang cemas kalau merasa ada tanggung jawab yang belum diselesaikan, maka di awal menjalankan program ini hampir setiap waktu saya terus bekerja. Malah di awal memulai PhD, saya sempat menjalani hari - hari dimana hidup saya cuma dihabiskan dengan kerja. Bangun tidur-sholat-sarapan-mandi-kerja-masak-makan siang-sholat-kerja-ngemil-sholat-kerja-sholat-masak-makan malam-sholat-kerja-tidur. Sampai akhirnya saya sadar bahwa dengan pola kerja seperti itu setiap harinya malah akan membuat saya jadi burnout.

Alhasil saya mencari cara, salah satunya adalah dengan mengelola waktu agar hidup saya lebih seimbang. Mulai dari baca - baca di internet, konsultasi dengan pakarnya (untungnya kampus saya menyediakan pakar yang bergelut di bidang ini); mulai dari mengatur waktu per jam, per hari, hingga per minggu. Saya pun sempat gonta-ganti cara mengelola waktu, hingga saya menemukan cara yang paling tepat. Setiap orang memiliki time management yang berbeda, ada yang memang sangat strict mengatur waktu-nya per jam. Nah, meskipun saya termasuk orang yang pasti harus merencanakan segala sesuatunya lebih dulu, ternyata saya bukanlah orang yang suka hidup dibawah rencana setiap jam-nya. Justru dengan begitu saya malah merasa terbebani, apalagi kalau ternyata ada beberapa rencana yang tiba - tiba berubah atau molor. Lagipula sejujurnya dengan pola kerja yang 'kaku' seperti itu enggak selalu efektif bagi saya, terutama karena tipe saya yang mudah banget pikirannya kemana-mana , alias mudah banget memikirkan segala sesuatunya (common problem for the 'thinker'), mulai dari analisa diri sendiri, pikiran mengenai tulisan untuk blog, kondisi keluarga dan sahabat di Indonesia, perubahan sikap orang yang saya kenal disini, sampai mikirin apa yang terjadi di dunia saat ini. Makanya kadang saya merasakan sisi enggak enaknya menjadi orang yang mudah banget merasakan dan memikirkan segala sesuatunya. Apalagi dengan tahapan riset yang awalnya lebih banyak membaca ini sangat mendukung untuk membuat saya sering melamun.

Ujung - ujungnya, hal ini justru membuat waktu saya semakin banyak terbuang. Di satu sisi kerja jadi enggak efektif, di sisi lain waktu buat relaksasi juga habis terpakai untuk mengatur pikiran saya untuk bisa fokus membaca jurnal. Kalau udah begitu, yang ada berbagai rencana tersebut malah membuat saya semakin stress. Setelah cukup sering seperti ini, akhirnya sekarang saya lebih mengikuti apa kata tubuh saya dibandingkan memaksakan kehendak. Jadi misalnya kalau pikiran saya mulai kemana-mana, saya berhenti sejenak dari kerja dan buka blog untuk menuangkan pikiran yang mengganggu saya tersebut. Dan setelah selesai menuangkannya, saya kembali bekerja lagi. Dengan begitu saya bisa jadi fokus kerja karena enggak ada lagi hal yang mengganggu pikiran saya. Sekarang saya lebih nyaman dengan bekerja sesuai dengan target bulan, minggu, dan akhirnya dipecah menjadi hari-an. Jadi misalnya target untuk bulan ini adalah menyelesaikan metodologi dan bahan untuk studi lapangan, maka saya memecah target 'besar' ini menjadi: target minggu ini pertanyaan untuk wawancara selesai; target untuk hari ini pertanyaan untuk variabel A selesai. Selain itu alasan lainnya kenapa beberapa kali saya ganti pola kerja adalah karena saya orangnya bosenan. Ada masanya saya baru bisa lancar kerja setelah makan siang (sekitar jam 13.00) hingga tengah malam (sekitar jam 01.00), tapi ada saatnya juga saya enggak bisa bekerja malam hari dan akhirnya mengganti pola kerja lagi menjadi pagi (sekitar 09.00) lalu berhenti saat sebelum makan siang (12.00), kemudian dilanjutkan lagi dari jam 14.00 sampai sore sekitar 18.00 (ini juga tergantung kalau lagi ada kelas zumba atau yoga). Dan dilanjutkan lagi malamnya dari sekitar jam 21.00 sampai 00.00. Disini saya bersyukur sih bisa menjalani program doktoral sebelum berkeluarga. Enggak kebayang cara mengatur waktu dan tenaga bagi orang - orang yang mengambil PhD apalagi sambil mengurus anak. Salut banget!


2. Work-Life Balance : Maintaining Your Social Life
Ini juga yang menjadi tantangan di awal saya menjalani PhD. Karena selalu merasa banyak kerjaan dan dikejar deadline, terkadang ini jadi alasan untuk menunda kegiatan lainnya dengan alasan  "banyak yang harus dikerjain sebelum ketemu supervisor" adalah alasan yang sering saya gunakan untuk menolak ajakan teman saya atau 'kabur' duluan dari pertemuan dengan mereka atau lama membalas Whatsapp dan Line. Memang terkadang ada saatnya ketika udah dekat dengan deadline pengumpulan progress ke supervisor atau pertemuan dengan supervisor, maka alasan tersebut wajar. Tapi seriusan deh, ini enggak bisa jadi alasan setiap saat. Karena seberapa sibuk dan banyaknya kerjaan yang mesti diselesaikan, the truth is, mereka enggak akan pernah dapat diselesaikan sampai program PhD ini berakhir. Dan dari pengalaman yang saya lalui setahun ini, saya juga menyadari bahwa seberapa besar komposisi introvert dalam diri saya (berdasarkan psikotes terakhir yang saya lakukan 9 bulan lalu, sisi extrovert saya hanya 18%), pada akhirnya saya tetaplah manusia yang merupakan makhluk sosial, yang butuh bertemu orang lain. Mulai dari jalan bareng teman, ikut social event di jurusan, volunteering, hingga hal yang paling penting adalah terus menjaga komunikasi dengan support system, yang bagi saya adalah keluarga dan para sahabat di Indonesia.

Namun dengan kondisi saya yang jauh dari keluarga dan teman, serta lingkungan dan sistem kerja PhD (terutama di jurusan saya yang sebagian besar candidate melakukan riset mereka di luar Belanda) yang membuat social circles saya semakin kecil, maka saya dituntut untuk lebih "rajin" bukan hanya dalam menjaga komunikasi dengan support system yang ada di Indonesia, tetapi juga "proaktif" berkenalan dengan orang - orang baru. Awalnya saya kira dengan kehadiran support system aja sebenarnya udah cukup, tapi nyatanya ketika adik saya menemani saya disini selama tiga bulan dan saat itu saya jarang bertemu dengan orang - orang baru dan teman saya lainnya, saya tetap merasa "kekurangan energi" dan malah merasa cemas karena udah cukup lama enggak berkomunikais dengan mereka. Saat itulah saya juga sadar bahwa saya butuh sesekali bersosialisasi dengan orang - orang di luar support system dan orang yang sering saya temui, yang artinya adalah berkenalan dengan orang - orang baru. Bertemu dan mengobrol meski hanya dalam beberapa jam sangat membantu banget melepas penat dan mengisi energi.

3. Work-Life Balance : Keep Doing Your Hobbies 
Satu hal yang bagi saya paling menyelamatkan saya dalam menjaga keseimbangan otak, jiwa, dan raga adalah melakukan hobi dan kegiatan yang saya suka. Setelah sempat mengalami masa dimana saya hampir burnout , kali ini sesibuk apapun saya akan terus mencari waktu untuk melakukan hobi saya. Meskipun ini tergantung dengan kondisi saya, sebisa mungkin saya lebih memilih untuk melakukan hal - hal kecil tapi dilakukan setiap hari daripada menunggu untuk meluangkan lebih banyak waktu saat weekend. Karena terkadang justru saat weekend, saya malah enggak bisa banyak mengerjakan hobi. Entah karena sibuk ngurusin kerjaan rumah (cuci baju, jadwal piket bersih - bersih rumah, belanja mingguan), entah karena ada acara lain di luar rumah. Mulai dari hal kecil aja seperti memasak resep baru yang simpel atau resep favorit yang udah lama enggak dibuat, blogging, ikut kelas zumba dan yoga secara rutin, baca buku non akademik, nonton film yang enggak terlalu menyita waktu banyak, dan hal - hal lainnya yang bisa dilakukan kapan aja.


4. Less Perfectionist : "You Will Never Finish Until You Get Your PhD"
Jujur, salah satu yang semakin membebani selama PhD ini adalah karena sifat saya yang perfeksionis, yang maunya keliatan progressive dan menyesuaikan ekspektasi para supervisor saya. Salahnya, ekspektasi mereka terhadap saya ini sebenarnya dibangun atas asumsi saya yang melihat bahwa kedua supervisor saya ini adalah orang - orang yang pintar, sehingga saya merasa harus menunjukkan kinerja yang lebih dari biasanya. Setiap mau bimbingan sama supervisor, pasti saya ingin supaya progress saya signifikan dari yang sebelumnya dan terlihat se-sempurna mungkin. Sampai akhirnya saya lupa bahwa sebenarnya mereka sama sekali enggak pernah menuntut saya untuk seperti itu. Saya bersyukur banget suatu ketika saya membicarakan hal ini kepada profesor saya dan ternyata profesor saya pun menyadari hal ini. Beliau bukan hanya menyadarkan bahwa apa yang saya lakukan selama ini udah melebihi apa yang diekspektasikan oleh beliau, tetapi juga mengingatkan saya bahwa hal terpenting yang harus diingat dari seorang kandidat PhD adalah bahwa semua ini lebih ke "proses". Sampai sebelum gelar udah di tangan, akan terus ada yang diperbaiki. Makanya jangan pernah takut untuk merasa "kurang bagus" atau "kurang lengkap" karena pada akhirnya sebagus dan selengkap apapun kerjaan kita, pasti akan selalu ada yang diperbaiki dan ditambahkan. Semenjak itu setiap kali bimbingan saya pasti menanyakan apa ekspektasi dari para supervisors saya di pertemuan berikutnya. Sehingga dengan begitu saya bisa bekerja sesuai dengan 'target ekspektasi' mereka.

5. Less Perfectionist : Be More Realistic
Karena saking bebasnya hidup saya saat ini (bisa diatur sesuka saya), kadang saya jadi salah memprioritaskan apa yang seharusnya menjadi prioritas. Jadi lebih banyak maunya. Jadi lebih pengen menjalani hidup yang 'ideal' dan yang udah lama saya ingin jalani. "Mumpung lagi di Belanda, sayang kalau 4 tahun enggak bisa bahasa Belanda". Padahal jangankan belajar bahasa lain, bahasa Sunda aja saya susah banget buat ingat. Karena pada dasarnya saya memang enggak berbakat dengan linguistic. Jadi yang tadinya buat fun dan semangat, malah jadi beban karena semakin dijalani semakin merasa 'harus bisa'. "Orang - orang disini pada naik sepeda, saya juga harus!". Sejujurnya saya suka bersepeda dan kadang lebih menikmati bersepeda daripada naik tram atau metro. Tapi kenyataan bahwa saya mesti sepedaan kemanapun pada akhirnya membuat saya stres sendiri. Yaa kalau cuma jarak 5 km masih boleh lah yaa dengan waktu tempuh 15 - 30 menit. Tapi kalau udah sampai 15km ++ dan ditempuh satu jam sekali jalan? Semenjak saya pindah ke apartemen baru saya yang berjarak 16 km dari kampus, saya pun masih nekat bersepeda bahkan ketika temperatur mulai semakin dingin. Alhasil dengan satu jam sekali jalan, bukan hanya bikin saya mudah sakit (bukannya malah bikin sehat), tapi juga tanpa sadar bikin saya stres sendiri. Intinya hidup ini udah berat, dan jangan memberatkan diri karena idealisme. Semua harus dilakukan sesuai kapasitas dan prioritas kita masing - masing.


Sebenarnya masih banyak sih pelajaran hidup yang saya dapatkan selama satu tahun menjalani PhD ini. Tapi untuk kali ini rasanya cukup lima hal ini dulu yang saya share disini karena menurut saya merekalah paling krusial untuk diceritakan. Kenapa paling krusial? karena secara pribadi, bagi saya satu tahun ini terasa sangat menantang justru bukan karena substansial riset saya, tapi lebih karena hal - hal esensial dalam hidup yang sempat terlupakan untuk dijaga keseimbangannya. Doain ya supaya tahun - tahun berikutnya akan lebih lancar! :D

February 09, 2017

Conversations With Mom #1

It was one fine Sunday morning when I just finished preparing breakfast for me and my mom. Blueberry-banana juice and cheesy toast with egg. In the midst of our usual conversation, she suddenly stopped eating and asked me something that actually had been in the back of my mind since couple of months ago.

"When did you become this strong?", she said with half-serious and half-curious look. 
"What do you mean?"
"You are such a different person than you were back then. I've always been worried about you. You often got sick, you would cry over small things, you were so shy and quiet. But look at you know... you've grown into such a strong-willed and independent woman"

I was speechless. This was the second time during these past few months someone who has been really close to me told me about this thing. A good friend of mine used to said something similar. 

I kept quiet, munching my toast and finding the words to be said at the same time.

She continued. 

 "I don't think I can manage all of these things that you do now... living in a faraway land by yourself, cooking, doing laundry, groceries, doing your research in English, working with people from various cultures"

I drank my half-glass of blueberry-banana juice.

"To be honest, I don't know the answer Mom. I never intended to be strong. I'm just trying to handle my flaws. It even took me a while until I realised that the way I had been trying to cope with my flaws has made other people see me as someone I am now"
"Your flaws?"
"As you said, I'm physically not as strong as most people. Do you remember that when I was in junior high school I quit from Paskibra because my doctor said I shouldn't stand too long under the sun"
"Of course"
"Back in senior high school, I was almost always one of those last people who arrived late on the weekly run. And now, whenever I cycle with my friends, they need to stop and wait for me at certain point because I'm too slow"


She looked at me so deeply, right into my eyes.

"I used to be teased and felt so ashamed by my weakness. It didn't feel good, being weak. The way people looked at you and judged you because of what is shown by the eyes. Maybe that's why I started trying to become a strong person, at least in personality. Because it's the only thing I can do to cover my other weaknesses"

She put her bread on the plate and stop eating.

"But do you remember, how I would always tell you that you seem soft from the outside but strong on the inside. You are a very determined person", she smiled.

I smiled.

"Mom, I completely realised that I'm not one of those people who was gifted with the ability to easily comprehend and understand things. I'm not like some of my friends who do not really have to study hard to score higher than me. I'm not like some of my friends who were raised with English as their mother-tounge language so they don't need to keep rechecking their grammar everytime they write something or keep practicing the conversation to help them speak fluently or reading English books to expand their vocabularies. So I started to become a hard-working person because I know my averageness. If I dont work this hard, I'm going to be far left behind"

She just looked at me. 

"I never intended to become or to be seen as an ambitious, strong woman. I know some of my girl friends obviously show that they intentionally want people to see them as the so-called "Alpha women". But I'm not like them. I don't even realise that what I have done so far has made me to be viewed as a strong woman. I have done all of this simply for my own survival"

She nodded as if to show that she understood what I was saying.

"Sometimes there is no other way to live our lives except to become strong, huh?"

This time, I was the one who nodded. 

Then I took the last bite of my bread, and munched it. 

As did she. And we were back to our typical Sunday morning conversation.