December 10, 2016

#ROH 52 : Karaoke

Saya enggak pernah ingat kalau dari kecil saya suka menyanyi, tapi yang jelas tiga tahun belakangan ini saya akhirnya sadar kalau menyanyi adalah salah satu sumber kebahagiaan saya, bahkan cara untuk mengeluarkan ekspresi saya selain dari tulisan dan pakaian. Tapi bagi orang seperti saya yang pemalu begini (cieilah), tentu aja enggak bisa menyanyi di sembarang tempat. Apalagi dengan kenyataan bahwa suara saya juga pas-pasan, makin aja enggak pede kalau mesti nyanyi di depan orang lain. Sejauh ini cuma ada dua tempat yang bisa bikin saya nyaman buat menyanyi: kamar saya dan ruang karaoke. Saat karaoke pun saya harus bersama dengan orang - orang yang udah tau "jeleknya" saya, atau memang orang yang gokil. Kalau enggak begitu yaa, yang ada saya malu - malu aja nyanyinya. Haha! Nah, salah satu partner nyanyi yang bisa bikin saya bebas mengeluarkan suara dan juga ekspresi saya adalah kedua sahabat kecil saya, Anna dan Fia. Kalau udah karaoke sama mereka, rasanya dua jam berasa kaya lima belas menit! Secara gitu yaa kita bertiga memang suka nyanyi dan gila-gilaan bareng. Mulai dari nyanyi satu lagu buat satu orang, sampai sengaja nyanyi satu lagu yang bisa buat kita bertiga. Biasanya sih yang kedua itu yang bikin paling ngakak. Soalnya kami beneran dari awal membagi "peran". Misalnya saat nyanyi salah satu lagu favorit kami, Stand Up for Love-nya Destiny's Child, dari awal kami udah membagi siapa yang menjadi Beyonce, Kelly, dan Michelle. Terus yang paling bikin gemesnya lagi adalah kami bertiga nyanyi dengan sangat khidmat dari awal sampai akhir lagu itu. Berasa udah kaya konser beneran aja. Hahaha! Makanya begitu saya udah beli tiket pulang ke Indonesia, saya langsung bilang ke mereka buat memasukkan 'karaoke' saat kami ketemu. Walaupun sebenarnya dua jam masih kurang puas, tapi saya seneng banget akhirnya bisa mengeluarkan ekspresi diri saya hingga joget dan teriak. Makasih buat Fia yang udah memberikan ide untuk merekam sebagian dari sesi karaoke kami. Meskipun saya enggak bisa karaoke selama beberapa bulan ke depan, dengan melihat video - video karaoke kami ini aja udah menghibur saya banget :')

December 09, 2016

Dear, Self.

Today, at this certain time, I just want to let you know that I'm really proud of you. Not because of the things that people compliment you on from what they can see of you, but because of those that they don't see. Those things that matter the most, and yet no one ever noticed and complimented on.

For being so patient in facing irresponsible people who have treated you badly, to the extent that you accepted what they have done to you and forgave them in spite of the fact that they do not feel sorry for you. 

For being so responsible in facing all the decisions that you have chosen in your life even though many of them look more like a mess now. But instead of giving up, you keep moving forward and working as best as you can. 

For being so strong in coping with your problems and trying to solve them all on your own. No one realises what things you have been through. Not even those people who meet you everyday.  



For being so positive about everything that has happened in your life, that you refuse to complain and talk any problems you faced because you don't want to bring any negativity to other people. You don't even want to put too much thought about it yourself, because you don't want to waste your energy on things that are bad for you. Because you don't want them to lessen your gratitude.  

For being so mature in handling all the hard times that people normally do when they reach certain age, and yet, life has given you so much earlier than it supposed to. But you don't complain. Because you know that as long as some things do not kill you, they only make you stronger. 

For being so kind to other people around you that you always want to please them and give so much effort to make them happy, until you forget to make yourself happy. For being so brave in battling your own fear and doing what you are afraid of. For being so mature that you can keep smiling, laughing, and even make jokes of your own problems. 

And most of all, I thank you for not giving up. I thank you for keep trying to stand by your own feet. I thank you for always trying to be a better person. I thank you for not changing yourself into someone you are not. I thank you for all the effort to make me stay alive.

December 08, 2016

#ROH 51: Family Trip

Salah satu hal yang paling signifikan dalam memberikan asupan energi positif dan kebahagiaan ke saya ketika kembali ke Indonesia sebulan yang lalu, enggak lain adalah keluarga saya sendiri. Disini saya enggak akan bahas lebih jauh tentang keluarga saya, tapi tentang perjalanan kami bersama ke Yogyakarta. Jadi ceritanya dari beberapa bulan yang lalu ketika udah ada rencana  jalan - jalan untuk menghadiri wisuda Ali, saya sempat sedih karena saya kira akan melewati kesempatan 'langka' ini. Secara gitu yaa, terakhir kali pergi ke luar kota sekeluarga lengkap itu enam tahun yang lalu. Itu pun cuma ke Bandung. Makanya begitu saya dapat kabar kalau harus ke Indonesia, ada sisi lain dari hati saya yang merasa sangat senang karena tandanya saya bisa ikut jalan - jalan bareng. Nyatanya bukan saya doang yang bela - belain untuk ikut. Para saudara saya yang lain juga berusaha untuk meluangkan waktu mereka demi bisa merealisasikan rencana ini. Mulai dari Uni Chica yang rela pergi duluan semalam sebelum kami datang, Gladyz yang cuma bisa ikut satu hari (pergi dan pulang di hari yang sama!) karena ada ujian keesokkan harinya, serta saya, bang Ardha, dan ka Dita yang harus pulang di hari kedua karena ada urusan kerjaan yang enggak bisa ditinggal. Walaupun kali ini masih enggak lengkap (abang saya yang pertama dan keluarga-nya serta kakak ipar saya yang kedua enggak ikut) dan waktu kami juga sangat singkat, semua itu enggak mengurangi sedikit pun kebahagiaan dan kebersamaan yang saya rasakan selama perjalanan ini.








Terlepas dari keluarga saya, trip ini mungkin enggak akan terlalu menyenangkan kalau bukan didukung oleh kota yang kami kunjungi. Pada dasarnya saya memang udah jatuh hati dengan Jogja yang menjadi kota favorit kedua di Indonesia (tentunya setelah Bandung! hehe). Sekalipun hampir setiap tahun saya ke kota ini, rasanya enggak pernah bosan. Selalu ada hal baru dari Jogja yang menarik untuk dikunjungi, terutama beberapa tahun belakangan ini yang mana semakin banyak tempat baru baik di kota maupun di daerah sekitarnya. Bahkan selama tiga tahun kemarin saya udah beberapa kali mengunjungi Jogja setiap tahunnya, tetap aja tuh masih banyak tempat baru yang saya kunjungi dan berbeda dari sebelumnya. Mulai dari menginap di Greenhost Boutique Hotel, menuntaskan hasrat makan geprek lagi dan kali ini akhirnya nyobain Preksu (wajib cobain gurame gepreknya!), jalan - jalan singkat ke Taman Sari dan kampung sekitarnya (yang baru saya sadari sekarang betapa menyenangkannya suasana di kampung ini), makan di restoran Milas (cocok buat kalian yang vegetarian dan penikmat slow living dengan suasananya yang santai dan dilengkapi dengan perpustakaan mini), naik mobil kayuh warna - warni (enggak tau apa namanya haha) di Alun - Alun, main ke UGM untuk pertama kalinya, hingga nyobain Tempo Gelato yang super hitz (and yet I personally think it's overrated). Overall, saya merasa puas banget meskipun perjalanan ini terasa begitu cepat dan singkat yang mana membuat semua ini sekarang terasa surreal bagi saya. Semoga aja tahun depan kami memiliki kesempatan lagi untuk pergi bareng sekeluarga lengkap dengan waktu yang lebih lama :')








December 05, 2016

Pelajaran Seperempat Abad #7

Sometimes it's okay not to be okay. Sebuah kalimat yang terlihat sangat sederhana dan sepele, tapi ketika dilupakan ternyata memberikan pengaruh yang sangat besar bagi kebahagiaan saya. Beberapa bulan ini saya mengalami beberapa masalah yang cukup mengganggu pikiran dan hati saya. Tapi sebenarnya mereka enggak akan berdampak seburuk yang saya alami saat ini kalau aja dari awal saya enggak menahan emosi dan memendamnya dalam diri sendiri. Kalau aja dari awal saya enggak memaksakan untuk terus melihat masalah tersebut dari sisi positif, atau lebih tepatnya menyangkal bahwa masalah - masalah itu ada. Selama jangka waktu yang cukup lama, saya memendam berbagai emosi negatif saya dan tetap menunjukkan bahwa saya baik - baik aja di saat sebenarnya saya udah enggak merasa baik. Ketika orang - orang disini bertanya, saya selalu menjawab bahwa saya baik - baik aja. Enggak semudah itu untuk menunjukkan apa yang saya rasakan di hadapan orang - orang yang belum terlalu lama mengenal dan dekat dengan saya. Manusiawi sih sebenarnya. Memang manusia kan pada umumnya seperti itu, mereka cenderung ingin menunjukkan bahwa mereka kuat dan baik - baik aja. Dan memang kita terbiasa juga untuk hanya menerima sisi baik dan positif dari orang lain, terutama orang - orang yang enggak kita kenal. We just don't tell our problems to other people who we are not close to. And that's quiet normal. Tapi kesalahan terbesar saya adalah saya pun melakukan hal yang sama kepada orang - orang terdekat saya. Saya terus menyangkal bahwa semuanya baik - baik aja. Partly because I don't want to let them down. Partly because I don't want to be a burden. And so I kept pretending that I was fine. Akhirnya saya terus memendam berbagai emosi saya hingga masuk ke bagian terdalam hati saya, sambil menerima berbagai permasalahan yang saya hadapi dan bertahan dengan segala energi positif yang saya miliki.

Tapi ternyata saya melakukan kesalahan yang sangat besar.


Dan apa yang terjadi?

Ibaratnya seperti sampah. Yang namanya sampah entah kecil ataupun besar, seharusnya tetap dibuang pada tempat sampah. Tapi bukannya membuang ke tempat sampah, saya malah membuangnya  ke sungai dan pura - pura lupa bahwa sampah tersebut enggak ada. Memang pada awalnya sungai tersebut masih terlihat bagus dari permukaan. Sampai akhirnya ketika sampah - sampah yang ada di dalam sungai tersebut sudah menumpuk terlalu banyak, bukan hanya air di dalam sungai tersebut menjadi tercemar dan kotor, tetapi yang lebih parahnya adalah akhirnya air kotor yang ada di dalamnya meluap keluar dan membanjiri bagian kota lain. Dan itu yang terjadi dengan saya saat ini. Ketika saya terus menahan emosi dan menyangkal berbagai masalah yang saya hadapi, akhirnya saya mencapai satu titik dimana semua emosi negatif yang terpendam tersebut akhirnya meluap ke seluruh bagian diri saya. Bukannya hanya ke hati saya, tetapi juga pikiran dan fisik. Hingga berbagai pikiran dan energi positif yang saya miliki enggak lagi bisa membendung emosi negatif tersebut. Saya enggak bisa lagi berdiri dengan kedua kaki saya sendiri. It felt like my whole self had been smashed to smithereens. Saya enggak bisa lagi melihat kebaikan yang diberikan oleh semesta. Saya enggak bisa lagi melihat titik terang dunia, sekalipun saya berdiri menghadap sumber datangnya cahaya matahari. Tapi terlepas dari itu, saya sangat bersyukur bahwa saya masih diberikan keberanian untuk menceritakan perlahan - lahan apa yang saya rasakan kepada orang - orang terdekat saya, hingga akhirnya semua emosi tersebut bisa meluap satu per satu. Just right before I became completely paralysed. Walaupun saya juga sepenuhnya sadar bahwa semuanya membutuhkan waktu, termasuk untuk bisa mengeruk sampah - sampah yang tertumpuk di dalam sungai dan mengembalikan air yang di dalamnya menjadi bersih seperti pada awalnya. Ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi saya untuk memberi waktu bagi diri saya menjadi "enggak sekuat" biasanya, untuk lebih berani mengeluarkan apa yang saya rasakan, dan tentunya enggak memaksakan diri saya untuk selalu memenuhi ekpektasi orang lain. After all, this is a self-reminder that no one is okay all the time, because we're all human and everyone has bumps in the road at certain point in their lives.