August 15, 2016

#ROH 41: (Accepting) Tough Times

Awalnya saya kira yang namanya bahagia itu harus selalu disebabkan oleh dan berasal dari hal - hal positif. Tapi ternyata saya salah. Karena kebahagiaan yang enggak terduga justru datang dikala saya melalui hari - hari dimana perasaan saya didominasi oleh rasa sedih, stres, marah, penat, dan cemas. Karena kalau seandainya manusia selalu merasa senang, justru rasa senang dan bahagia bukanlah lagi menjadi suatu hal yang istimewa. Karena sebenarnya saat dimana hati terasa hampa, kepala terasa penat, pundak terasa berat, tubuh terasa sakit, serta hidup terasa tanpa arah dan tujuan; bukanlah suatu waktu yang harus dihindari. Justru dengan menerima semua kondisi tersebut dengan ikhlas, membuat saya menyadari bahwa semua hal tersebut pada akhirnya bukanlah lagi suatu hal yang terlihat dan terasa negatif. Justru dengan menerima, saya bisa lebih peka terhadap semua perasaan tersebut dan membuat saya tidak lagi kaget ketika mereka datang dengan tiba - tiba dan malah merasa ada kesenangan tersendiri sewaktu menyadari bahwa semua perasaan tersebut hilang di saat tertentu. Justru dengan menerima, saya bisa lebih mengontrol agar berbagai perasaan tersebut tidak membuat saya terjatuh dan terbawa dengan mereka. Justru dengan menerima, membuat saya bisa lebih mensyukuri berbagai kebaikan kecil yang saya terima: mulai dari senyuman, kata - kata baik, sapaan, hingga hadiah yang enggak terduga yang diberikan oleh orang - orang yang enggak terduga juga. Teman lama, kerabat jauh, orang yang berpapasan dengan saya di jalan, teman baru, hingga para pengguna sosial media yang enggak saya kenal. Justru dengan menerima, saya lebih menghargai setiap waktu dan nafas yang masih ada dan menyadarkan untuk kembali mengintropeksi diri agar bisa menjadi lebih baik lagi. Justru dengan menerima, lebih banyak hal - hal sederhana yang bisa menentramkan hati saya. Salah satunya adalah saat kemarin saya melihat sebuah postingan salah seorang teman di Instagram. Setelah membaca tulisannya yang diambil dari sebuah buku 'To You Out There' oleh Clarice Ng, membuat hati saya langsung tenang. 


Image from Books Actually

If there's something worrying you right now, and you're feeling a little lost, let me tell you this: you're not alone. There are others like you, some who seem to handle their trouble better and others who don't. Everyone is struggling in some way, you might even find comfort in the person you'd least expect. I heard that the little things say the most about a person, so I'm learning to listen closely. Only then do you really understand why people do the things that they do.  Some days are harder to get through than others and you can't seem to do anything right. But it's time like these that offer a different perspective of the world around you. Don't be overwhelmed by these feelings. Instead, make use of these experiences. These are the moments that shape who you are and who you're going to be. So take a breathe and try againIt is true, you are a very small person in a very large world, but that doesn't make you any less capable.


To you out there, you'll be okay.

August 10, 2016

#ROH 40: Public Park

Diantara berbagai tempat yang saya suka kunjungi, baik ketika berada di kota tempat tinggal saya maupun saat berkunjung ke negara lain, adalah taman publik. Pemilihan taman ini pun tergantung occasion-nya. Kalau lagi bersama teman maupun keluarga, biasanya taman yang dipilih adalah taman publik yang cenderung besar dan ramai pengunjungnya. Tapi kalau lagi pengen sendirian, biasanya saya cenderung memilih taman yang enggak terlalu ramai. Seringkali sih taman yang saya pilih ini adalah taman dekat dengan tempat tinggal saya. Saya cukup beruntung, karena hampir setiap kali saya tinggal di sebuah kota, selalu berdekatan dengan sebuah taman yang enggak terlalu ramai oleh pengunjung. 


Dulu, sewaktu masih kecil, ada sebuah taman di dekat rumah orang tua saya yang cukup sering saya kunjungi setiap sore; baik bersama dengan kedua adik saya maupun seorang diri. Padahal taman tersebut enggak luas. Dibilang bagus pun, enggak juga. Satu - satunya yang menarik dari taman ini adalah sebuah ayunan tua yang sering saya mainkan, sekalipun ketika kursi ayunan tersebut sudah bolong dan harus dilapisi kayu supaya bisa diduduki. Biasanya saya berkunjung ketika hari sudah mulai sore, saat paparan sinar matahari udah enggak terlalu menyengat dan angin sepoi - sepoi mulai terasa. Hal yang saya lakukan pun hanya sekedar duduk di ayunan tersebut sambil menengadahkan kepala saya ke atas; melihat langit yang saat itu masih berwarna sangat biru dengan awan putih yang terkadang menyerupai berbagai bentuk yang familiar. Kadang menyerupai kelinci. Kadang menyerupai anak kecil yang sedang berlari. Dan terkadang bentuknya hanya seperti awan biasa.  Memang enggak ada yang spesial, baik dari taman, ayunan, maupun hal yang saya lakukan tersebut. Tapi semua itu, entah mengapa, selalu memberi perasaan tenang dan lega yang menemani saya ketika pulang ke rumah. 



Begitu juga kali ini. Walaupun suasana dan bentuknya berbeda jauh dari taman yang berada di dekat rumah orang tua saya di Jakarta maupun taman dekat flat saya dulu di Bournemouth, tapi taman Oude Plantage ini juga sama - sama menyenangkan. Sama - sama memberikan ketenangan. Sore ini adalah ketiga kalinya dalam seminggu ini saya pergi ke taman yang terletak sekitar lima belas menit jalan kaki dari kampus. Kali ini bukan untuk lari sore atau piknik. Tapi hanya untuk sekedar berjalan dan duduk. Terkadang sambil sesekali menutup mata, menghirup sedalam - dalamnya udara dingin yang menyelimuti Rotterdam, dan mengeluarkannya perlahan - lahan. Terkadang sambil meneguk sebotol Chocomel dan mengunyah Lay's. Terkadang sambil membaca beberapa tulisan Murakami. Terkadang sambil mengamati pemandangan lainnya di sekitar saya. Beberapa kelinci yang sedang melompat - lompat ketika saya mendekati mereka. Seorang ibu yang sedang bercengkrama dengan anak perempuannya. Daisy yang tersebar diantara rerumputan hijau dan daun - daun kering. Seorang kakek yang sedang berjalan bersama dengan anjing peliharaannya. Beberapa kapal yang lalu lalang diatas Maas River. Sekumpulan burung dara yang siap - siap terbang ke langit. Sekelompok anak muda yang sedang melakukan pemanasan sebelum lari.  



Dan kali ini pun, saya kembali pulang ke rumah dengan membawa perasaan lega dan tenang. 

August 08, 2016

Florence, 1 Mei 2016.

Pertama kali melihat foto - foto Florence saat membuat itinerary, satu hal yang paling menarik perhatian saya adalah Ponte Vecchio, sebuah jembatan tua yang dari luarnya terlihat unik dengan berbagai jendela warna - warni yang menghiasi hampir sepanjang jembatan tersebut. Bagi saya jembatan ini menarik karena saat itu saya baru menyadari bahwa replika jembatan ini yang pernah saya lihat langsung ketika mengunjungi Tokyo DisneySea setahun yang lalu, ternyata sama persis dengan aslinya. Hanya satu hal yang membedakan antara Ponte Vecchio asli dengan versi replikanya, yaitu keberadaan para pedagang yang menjual berbagai macam jenis barang dagangan mulai dari perhiasan, lukisan, souvenir, hingga berbagai produk fashion yang terbuat dari kulit. Ya, para pedagang ini lah yang membuat versi aslinya terasa lebih hidup daripada yang saya temui di Tokyo DisneySea.  







Tujuan pertama kami sesampainya di Florence adalah mengunjungi Uffizi Gallery yang saat itu tanpa sepengetahuan kami ternyata tutup. Padahal sebelumnya saya udah kesenangan saat membaca informasi di website mereka yang menyatakan bahwa para pengunjung bisa mengunjungi galeri ini secara gratis pada setiap hari Minggu pertama di setiap bulannya. Akhirnya dengan sedikit merasa kecewa, perjalanan dilanjutkan dengan mengelilingi tourist spots, lalu makan siang di Mercato Centrale. Sebuah pasar tradisional yang baru direnovasi menjadi pasar modern dan kali ini terlihat lebih mirip food court di kebanyakan mal di Jakarta. Setelah itu tujuan berikutnya adalah berburu 'kulit' di Porcellino Market. Berhubung Florence memang terkenal dengan produksi leather goods-nya, lumayan banget saya dapat dompet kulit hanya dengan harga 20! :') Dengan sisa waktu yang kami miliki sambil menunggu sunset, yaitu sekitar satu jam, saya putuskan untuk menikmati sore hari sendirian dengan mengeksplore bagian kota yang belum sempat dikunjungi. Dan akhirnya hari kami ditutup dengan mengabadikan pemandangan Florence sebelum matahari terbenam. Saat itu, ketika melihat keindahan kota ini, sempat membuat saya berhenti bernafas sesaat. Terlalu takjub dengan apa yang terlihat dari kedua mata saya saat itu.






Ada satu hal yang saya sadari ketika mengunjungi Florence. Setelah beberapa kali berkunjung ke kota yang berbeda, saya akhirnya memahami bahwa enggak setiap kota yang berhasil memikat hati saya dan jutaan pengunjung lainnya adalah kota yang ingin saya jadikan sebagai tempat tinggal. Dan Florence adalah salah satu dari kota di Eropa yang termasuk ke dalam daftar tersebut selain Barcelona, Praha, dan Budapest. Bagi saya meskipun berbagai kota tersebut undoubtedly one of the best destinations I've ever visited, mereka hanya cocok sebagai tempat untuk melepas penat dalam beberapa hari. Tapi jika dijadikan sebagai tempat untuk kuliah atau kerja, rasanya saya akan merasa bosan untuk tinggal di kota - kota tersebut. Walaupun harus saya akui sih, berkunjung ke Florence hanya dalam waktu setengah hari adalah suatu hal yang kurang tepat. Sekilas, kota ini memang terlihat kecil. Namun sebenarnya, untuk memahami apa yang dimiliki kota yang sering dipuji - puji dengan gelarnya sebagai one of the world's true cultural, artistic, and architectural gems, mulai dari Michelangelo, da Vinci, Gucci, Roberto Cavalli, hingga Galileo; tentunya membutuhkan waktu yang lebih lama dari itu.








August 01, 2016

June & July

Hi semuanya. apa kabar? semoga bagaimanapun kondisinya, saat ini kalian semua dalam keadaan yang baik secara jiwa maupun raga. rasanya udah lama banget enggak menyapa seperti ini. padahal dulu sewaktu masih punya diary, kata pertama yang tertulis adalah "dear diary". bahkan sesekali, saya juga menulis "apa kabarmu?"; merasa seolah diary itu sendiri adalah makhluk hidup yang bisa berbicara dan memiliki perasaan, ketimbang sebuah buku yang hanyalah benda mati. rasanya udah lama banget saya enggak menulis hal - hal enggak penting atau sekedar curhat, tanpa ada maksud tertentu dari postingan yang ditulis. padahal kalau dipikir - pikir, dulu sewaktu masih menulis diary, hampir setiap hari saya menulis berbagai hal yang enggak penting. terkadang mengeluh tentang tugas sekolah, atau masalah yang saya hadapi dengan teman sebangku saya, atau justru bercerita tentang betapa deg - degannya saya saat berpapasan dengan senior yang diam - diam saya suka. memang sih, blog ini berbeda dari diary. karena saat itu, isi diary tersebut hanya diketahui oleh saya dan diary itu sendiri. tapi disini, walaupun blog ini terlihat seperti hanya saya dan blog ini yang tau, saya sadar bahwa setiap yang tertulis disini bukan hanya dibaca antara kami berdua. mungkin karena itu juga yang akhirnya membuat saya jarang bercerita lagi tentang hal - hal enggak penting, seperti sekedar bercerita tentang kabar saya belakangan ini. cuma entahlah, kali ini rasanya saya hanya ingin bercerita tanpa ada maksud tertentu. tanpa mengeditnya berulang kali. tanpa berpikir banyak tentang apakah tulisan ini akan membawa pesan positif. tanpa merasa khawatir dengan pikiran dan pendapat siapapun yang membaca tulisan ini. kali ini saya hanya ingin mengeluarkan segala hal yang enggak penting untuk ditulis.


pertama, tentang Juni. selain karena hari - hari puasa Ramadhan yang ternyata enggak terlalu terasa berat untuk dilewati karena Rotterdam masih diselimuti dengan angin dingin dan ditemani langit mendung, bulan ini juga terasa menyenangkan karena kedatangan adik perempuanku, Gladyzka. baru dua bulan aku pindah kesini, tiba - tiba aku mendengar kabar dari Bunda bahwa tiket pesawat Gladyz sudah dibeli. mungkin karena saat itu Bunda masih khawatir dengan kondisi beberapa minggu pertamaku disini yang masih rentan dengan homesick, akhirnya 'diutuslah' adikku kesini sekalian untuk menghabiskan liburan semesternya dari pertengahan Juni hingga pertengahan Agustus disini. kata Bunda, "supaya Gladyz bisa belajar dari kakaknya bagaimana rasanya tinggal dan kuliah di luar negeri". seriusan, saat itu aku kaget, namun di sisi lain, aku juga merasa senang sekaligus takut. senang, ya tentu saja, karena kamarku bertambah ramai. karena ada yang bisa disuruh - suruh (lol!). karena ada teman untuk menonton Friends di saat makan. karena aku bisa mematikan lampu di saat tidur. meskipun aku memiliki beberapa teman disini, tapi tetap saja rasanya berbeda ketika ditemani orang terdekat yang sudah lama mengenal kamu, ya kan? cuma satu hal yang aku takutkan, yaitu perasaaan sedih yang muncul ketika nanti adikku akan kembali ke Indonesia. karena dari kecil hingga sekarang, salah satu hal yang paling aku benci adalah ketika aku ditinggal. entah saat ayah dan bunda datang menghampiriku ketika aku masih kuliah di Bandung; atau ketika kakak perempuanku pergi ke Amerika; atau ketika para sahabatku pulang ke rumah mereka setelah menginap di tempatku; atau ketika dulu pasanganku mengantar aku pulang setelah kami pergi jalan - jalan. tapi untuk saat ini aku mencoba untuk enggak terlalu memusingkannya dan berharap berbagai kesibukanku nanti akan berhasil mengalihkan rasa sedihku. 


lalu Juli. ada tiga hal yang mengingatkanku dengan Juli: Idul Fitri dan Eurotrip.

meskipun perayaan Idul Fitri kali ini bukanlah pertama kalinya aku lakukan di luar negeri dan jauh dari keluarga, tapi aku enggak menyangka bahwa lebaran kali ini berbeda sekali dari yang sebelumnya sempat aku rasakan ketika di Bournemouth tiga tahun yang lalu. karena Idul Fitri kali ini sama sekali enggak berasa seperti 'lebaran'. mulai dari kebanyakan teman - teman yang cukup dekat denganku saat itu sedang tidak berada di Rotterdam, hingga kenyataan bahwa tepat sehari sebelumnya tiba - tiba aku kedatangan 'tamu' dan Gladyz pun masih 'berhalangan'. sehingga rencana kami untuk datang sholat Eid di KBRI Den Haag akhirnya digantikan dengan hanya jalan - jalan di Rotterdam dan makan di salah satu restoran Indonesia yang ada disini. membuat lebaran tahun ini terasa sama saja dengan hari - hari biasanya. bahkan rasanya ini lebaran paling plain dan sepi yang pernah aku rasakan selama hidupku. tapi saat itu aku enggak terlalu merasa sedih, mungkin karena aku masih merasa bersyukur ada Gladyz yang menemani di hari lebaran; atau karena kami bisa menikmati masakan Indonesia di restoran favoritku; atau karena kami terlalu excited dengan persiapan Eurotrip kami keesokkan harinya. 


ngomong - ngomong soal Eurotrip kali ini, rasanya terlalu banyak hal yang ingin segera aku ceritakan disini, terutama tentang tempat - tempat menarik yang dikunjungi selama dua belas hari di empat kota dan negara yang berbeda: Berlin, Praha, Vienna, dan Budapest. mulai dari toko buku, flea market, restoran lokal, dan berbagai jenis tempat lainnya yang kebanyakan diantaranya enggak sempat aku lakukan ketika di Barcelona maupun di Italia. memang, ini bukanlah pertama kalinya aku traveling berdua dengan Gladyz. tepat setahun yang lalu, kami juga melakukan hal yang sama ketika ke Jepang. tapi kali ini terasa berbeda. jauh lebih berkesan dan menyenangkan. mungkin karena personally aku memang lebih suka Eropa, atau karena dari awal hingga akhir perjalanan diurus oleh kami berdua, atau juga karena cuaca di kota - kota yang kami kunjungi enggak sepanas dan seterik ketika waktu pergi ke Jepang. bahkan kali ini semesta seolah - olah tau bahwa aku dan Gladyz sama - sama penyuka hujan dan udara dingin. hingga dari dua belas hari, hanya dua hari kami mengalami panas dan terik matahari. perjalanan kali ini juga terasa jauh lebih menyenangkan dibanding ketika di Jepang, salah satunya karena 'masalah' yang kami hadapi kali ini terasa lebih ringan daripada yang kami lalui saat itu. mulai dari dompet Gladyz yang dicopet saat beberapa menit setelah kami tiba di Praha, hingga kecerobohan yang kami lakukan beberapa jam sebelum kembali ke Rotterdam, yaitu lupa memvalidasi tiket kereta di Budapest yang akhirnya berujung harus membayar denda sekitar  25 per orang. tapi untunglah, kekesalan yang kami rasakan hanya berlangsung beberapa jam setelah kejadian tersebut. selebihnya, kami masih bisa mensyukuri dan (sangat) menikmati perjalanan tersebut. 


P.S. If you in dire need of something to cheer you up, I made a playlist for you. If you want to hear it, you can just click on the picture above or simply click here.