July 22, 2015

Happy Eid Day




Top: Unbranded. Kain Batik: Unbranded. Necklace: Primark.
Clutch Bag: Cotton On. Strap Heels: VNC. 

July 19, 2015

A New Way of Living

Dari sekitar tiga bulan belakangan ini setiap kali ketemu teman dan kerabat, terutama yang udah lama enggak ketemu sama saya, pasti hampir pada selalu berkomentar kalau saya terlihat kurusan banget. Ada beberapa yang cuma berkomentar, tapi ada juga yang penasaran kenapa bisa kurusan seperti ini. Bahkan ada yang sampai nanya saya pake program diet apa! Haha. Padahal mah dari awal saya enggak ada maksud buat nurunin berat badan atau diet. Saya hanya sedang berusaha untuk mengubah cara hidup saya aja *tsaaah*. Yayaya, mungkin kamu akan mikir "ah ini paling hanya ikut-ikutan trend hidup sehat aja nih". Saya pun sempat punya pikiran begitu saat melihat semakin banyak teman dan orang yang saya kenal jadi mendadak bergaya hidup sehat belakangan ini. Mulai dari postingan ala - ala di Instagram dengan sebuah bowl yang diisi yoghurt dengan granola dan buah-buahan segar, atau tangan dengan segelas veggie smoothies, almond milk, coconut water, dan produk sehat kekinian lainnya. Belum lagi dengan munculnya berbagai olahraga hits seperti ikut kelas zumba, muay thai hingga yoga di taman publik. Rasanya kalo enggak olahraga hits atau makan sehat, kayanya kurang kece gimana gitu yaa :)) Di satu sisi bagus sih, ketika melihat trend hidup masyarakat kita yang semakin banyak menyuarakan pentingnya pola hidup sehat. Tapi yang mengkhawatirkan adalah jika "hidup sehat" ini hanya sekedar trend sesaat, bukan sebagai a way of living yang terus dilakukan ke depannya. 



Jujur aja nih, pada awalnya saya bukan termasuk orang yang mengikuti trend hidup sehat. Selain karena saya emang bukan tipe orang yang suka heboh mengikuti trend, tapi yang paling pasti sih alesannya karena saya belum "tersentuh" hatinya untuk mengubah pola hidup saya menjadi seperti itu. Well, kalau untuk habit "lari tiap minggu", dari pas jaman kuliah sampai sekarang kalau lagi enggak jamannya kerja romusha, saya pasti mengusahakan untuk lari minimal dua kali seminggu. Bukan karena apa - apa, melainkan saya sendiri udah langsung merasakan manfaat dari "lari pagi/sore secara konsisten setiap minggu". Nah, yang susah justru meyakinkan diri saya untuk mengubah pola makan yang sehat. Entah kenapa meskipun udah berkali - kali menjalani diet dan berhasil sekalipun dari jaman SD (fyi, waktu itu saya gendut banget kaya ikan buntel), SMA bahkan sampai lulus kuliah S1 (kesannya saya hobi banget buat diet ya :p), komitmen saya untuk terus menjalaninya enggak pernah bisa bertahan lama. Dan saya baru sadar belakangan ini bahwa alasan sebenarnya kenapa "pola makan dan hidup sehat" yang saya lakukan sebelumnya enggak pernah bertahan lama adalah karena tujuan utama saya waktu itu bukan untuk menjadi dan mempertahankan hidup sehat, melainkan hanya supaya bisa turun berat badan. Jadinya walaupun udah tau makanan apa aja yang sebaiknya dikonsumsi dan dihindari, ujung - ujungnya setelah berat badan saya turun, pemikiran "yang penting kan udah turun", "ah masih muda ini", "enggak apa - apa makan yang penting hati senang, pikiran tenang", "masih banyak waktu buat bisa hidup sehat nantinya", dst dll, berhasil mengalahkan niat saya untuk konsisten peduli dengan bagaimana dan apa yang saya konsumsi.  

Sampai akhirnya sekitar bulan Februari - Maret lalu itu cukup memberikan tamparan bagi saya. Mulai dari typhus yang membuat saya hampir sebulan terpaksa enggak masuk kerja karena harus bedrest dan bolak balik ke rumah sakit buat ngecek darah dll, kemudian hasil medcheck yang menunjukkan kalau kolesterol saya 198 (padahal batas toleransinya adalah 200!!), sampai akhirnya yang puncaknya adalah saya sempat didiagnosis sebuah penyakit yang sempat membuat saya dan orang-orang terdekat saya sangat down, bahkan I almost lost my desire to live sampai akhirnya pemeriksaan terakhir menunjukkan bahwa (alhamdulillah) penyakit tersebut enggak terbukti di badan saya. Darisitulah saya kembali tersadar akan enggak enaknya hidup sakit - sakitan. Mulai muncul pertanyaan - pertanyaan serta berbagai penyesalan kenapa selama ini hidup dengan cara yang enggak membawa dampak baik buat diri saya sendiri. Semua itu akhirnya jadi turning point buat intropeksi diri dan awal mula saya mencoba untuk mengubah pola hidup saya seperti sekarang.  

Sebenarnya saya pun sampai sekarang belum ke tahap yang bisa dikatakan pola hidup sehat yang sempurna. Karena menurut saya untuk benar - benar mengubah pola hidup kita sampai kita tua nantinya enggak akan semudah itu. Apalagi kalau seperti saya yang udah terbiasa dengan pola hidup yang cukup acuh selama belasan tahun. Tapi kayanya enggak ada salahnya untuk berbagi langkah - langkah yang udah saya jalani selama hampir 5 bulan ini. 



1. Change Your Mindset 
Saya termasuk yang percaya bahwa kekuatan pikiran itu melebihi kekuatan - kekuatan lainnya. Jadi ketika dari awal pikiran kita hanya untuk ikut - ikutan trend atau orang lain, maka kemungkinan besar yang akan terjadi adalah ketika trend atau orang lain yang kita ikuti itu udah enggak menjalani pola hidup sehat lagi, akhirnya kita pun jadi ikutan goyah. Makanya penting banget dari awal untuk mengubah pikiran bukan buat diet, apalagi hanya sekedar ikut - ikutan, tapi karena memang sadar bahwa pola hidup seperti ini bermanfaat buat diri kita sendiri saat ini dan ke depannya. Jadi ketika makan sayur - sayuran dan buah - buahan dimakannya enggak secara terpaksa atau ada pikiran "wah ini mah bakalan laper lagi", dan sebaliknya, ketika enggak makan nasi atau makan daging enggak akan ada pikiran "bakalan lemes ini sih beberapa jam lagi". Akhirnya sekarang ketika mindset saya udah berubah, saya hampir enggak pernah lagi merasa tergoda ketika melihat berbagai makanan dan jajanan yang dulunya selalu menggoda setiap kali lewat atau melihatnya, padahal sebenarnya lebih banyak membawa mudharat daripada manfaatnya :))

2. The Power of Habit
Wah bagian ini sih yang paling susah buat saya ketika dari awal mencoba mengubah pola makan saya. Mulai yang tadinya harus minum teh 2 - 3 kali sehari, sekarang hanya 1 - 2 kali seminggu. Selebihnya minuman saya selalu air mineral, bahkan ketika buka puasa sekalipun. Begitu juga dengan roti yang biasanya jadi makanan favorit saya saat sarapan, sekarang dialihkan menjadi berbagai jenis buah - buahan. Lalu cemilan manis atau bermecin jadi cemilan sehat rendah kalori dengan serat tinggi seperti Soyjoy, oat cookies, dan rumput laut. Selain itu sayur - sayuran juga harus selalu ada ketika makan besar, bahkan cenderung mendominasi piring saya. Dulu saya suka banget makan nasi dengan ayam goreng, rendang dan dendeng! Sekarang kalau ada pilihan antara ayam atau daging merah dengan ikan, pasti tanpa ragu - ragu saya akan pilih ikan (padahal dulu saya jarang banget makan ikan karena enggak terlalu suka!). Begitu juga dengan gorengan yang diganti dengan pepes atau kukusan, fresh milk dengan susu kedelai atau yoghurt, sereal manis menjadi granola. Saya juga udah hampir enggak makan nasi putih atau merah kalau memang enggak benar - benar lagi pengen. It seems a very tough work at first, but if it was that easy, we'd all be doing it!  

3. Sometimes, You Need To Indulge Yourself 
Satu hal yang menjadi pelajaran berharga ketika saya menjalani diet saya dulu adalah jangan pernah terburu - buru mengubah hal yang udah lama kamu jalani, karena pada ujungnya justru bisa menggagalkan hal baru yang kamu akan jalani. Jadi dulu itu saya sempat gagal diet karena beberapa hari saya bisa makan sangat sedikit sekali, tetapi akhirnya hal itu malah membuat nafsu makan saya menjadi sangat membesar, lalu ujung - ujungnya saya enggak kuat dan akhirnya pola makan saya malah enggak terkontrol. Nah buat sekarang, salah satu kelemahan saya adalah PMS karena saat itu nafsu makan saya bisa sangat besar dan pengennya makan - makanan tertentu yang kebanyakan adalah enggak sehat, ha! Mulai dari martabak keju, pretzel, indomie, bakpia, dan makanan favorit saya lainnya bisa mendadak saya idam - idamkan. Akhirnya daripada saya tahan - tahan dan ujungnya malah makin kepikiran, saya biarkan aja diri saya buat makan apa yang lagi saya pengen. Tapi tetap dengan porsi yang wajar dan enggak berlebihan. Misalnya, yang biasanya saya makan pretzel satu, sekarang kalo lagi pengen makannya cuma setengah, martabak yang tadinya sekali makan bisa 2-3 buah, sekarang hanya satu. Kalo dari pengalaman saya justru dengan memuaskan nafsu makan secara satu per satu, jadi menghindari nafsu makan yang berlebihan ke depannya. 

4. Eat More Often!
Berbeda sama kebanyakan orang yang turun berat badan karena jarang makan, kalo saya justru sering banget makan! Jadi pasti saya hampir selalu bawa buah atau cemilan sehat, terutama saat pergi ke kantor (duduk seharian di depan komputer membuat saya lebih pengen ngemil!). Karena dari pengalaman saya, dengan makan sering tapi dalam jumlah sedikit akan menekan nafsu makan yang berlebihan saat mau makan siang atau makan malam. Jadi enggak heran kalau saya ngemil dalam waktu 2 - 3 jam sekali. Malahan saya jadi cenderung makan lebih banyak atau enggak terkontrol (makan makanan yang bergizi rendah) ketika enggak ada buah atau cemilan sehat karena menahan lapar dan akhirnya sekalinya makan jadi kalap. 

5. Special Menu For Fasting
Dulu setiap kali saya dengar beberapa orang yang saya kenal hanya makan buah - buahan aja saat sahur, yang terlintas dalam pikiran saya adalah "ih kok kuat sih? Enggak lemes dan laper apa ya pas puasa?". Tapi sekarang saya dapat jawabannya sendiri bahwa justru hanya dengan makan buah - buahan dan minum air putih yang banyak, saya jadi enggak lemes, laper dan haus selama puasa! Sebaliknya, saya pernah sahur dengan nasi plus lauk, tapi akhirnya malah gampang laper dan lemes karena konsumsi buahnya lebih sedikit dari biasanya. Begitu juga untuk menu berbuka puasa, saya lebih memilih untuk berbuka dengan buah - buahan dulu, baru berbuka dengan makanan lain. Selain supaya lebih mendapat asupan gizi yang lebih baik, dengan makan buah - buahan di awal juga dapat mencegah makan berlebihan karena udah keburu kenyang duluan.

6. Detox 
Seperti yang sebelumnya saya bilang di poin ketiga, pasti ada saatnya dalam sebulan ketika dalam dua hari berturut - turut makan saya jadi berantakan, alias kebanyakan mengkonsumsi makanan yang berlemak tinggi dan bergizi rendah. Entah itu karena PMS, nafsu makan dadakan atau karena ada perayaan tertentu seperti ulang tahun, makan keluarga, atau yang baru - baru ini adalah lebaran. Selain memberikan kebebasan ke diri saya untuk makan sesuka hati tapi dengan porsi yang masih wajar dalam waktu satu sampai dua hari, saya juga membuat perjanjian dengan diri saya untuk  mengalokasikan dua hari setelahnya untuk detoksifikasi atau membuang racun - racun di tubuh saya. Cara detox tiap orang berbeda - beda sih yaa, kalau saya lebih memilih makan buah - buahan dan minum lebih banyak air putih. Karena program detox ini cukup membuat badan saya jadi lemas, biasanya saya memilih waktu saat  weekend ketika saya enggak terlalu banyak beraktivitas di luar. Seharusnya sih detoksifikasi ini lebih baik lagi kalau dijalankan minimal tiga hari sampai seminggu, tapi saya sendiri masih berusaha sampai sekarang untuk bisa menaikkan jumlah hari untuk detoksifikasi ini hehe.

Alhamdulillah banget, semenjak saya mengganti pola hidup saya seperti sekarang ini, bukan hanya badan saya jadi terasa lebih nyaman, tetapi yang lebih penting lagi adalah saya jadi enggak gampang sakit dan lemas. Padahal bagi saya yang penderita anemia dan darah rendah ini, sebelumnya saya sering banget pusing dan lemas loh! Tapi sekarang rasanya selalu banyak energi untuk menjalani aktivitas saya sehari - hari. Perubahan pola hidup ini juga membuat saya lebih mudah untuk berpikiran dan merasa positif dengan diri saya. Yuk mareeee sama - sama melakukan suatu hal yang bisa membuat diri kita beberapa puluh tahun ke depan merasa bersyukur dengan keputusan yang diambil oleh diri kita saat ini :D

July 10, 2015

Never Been Better


Floral Blazer: Cotton On. Peach Shirt: Thrifted. Pants: Cotton Ink.
Bag: Raoul. Shoes: Topshop.