October 23, 2014

Brown Leaves


Scarf: Pasar Mayestik. Green Jumper: Primark. Mustard Pants: Pull & Bear.
Bag: Zara. Ankle Boots: Topshop. 

October 11, 2014

In The Mood For Pastel



Scarf: Debenhams. Top & Blazer: Thrifted. Floral Pants: Unbranded. 
Brown Bag: Vintage. Shoes: Bata. 

October 09, 2014

What Camera(s) Do I Use?

Udah banyak banget yang nanya ke saya tentang kamera apa yang saya pakai. Tapi karena saya masih enggak pede dan selalu merasa foto saya enggak sebagus itu untuk bisa sampai membuat postingan sendiri tentang kamera apa yang saya pakai, akhirnya tulisan ini terus disimpan di draft. Sebenarnya saya pernah menjelaskan di postingan saya yang ini tentang kamera yang dulu sering saya gunakan. Tetapi berhubung saat itu saya enggak banyak menjelaskan tentang kamera yang saya pakai, lalu berhubung juga saat ini hati saya sudah sedikit berpindah ke kamera lain (maafkan akuuu kamera poket), dan berhubung juga saat ini saya masih belajar banyak tentang DSLR, dan seperti kata orang bijak bilang bahwa semakin kita membagi ilmu ke orang lain, maka semakin banyak ilmu yang kita dapatkan *eaaa*, maka di postingan kali ini saya ingin membahas satu per satu tentang kamera yang saya pakai sejauh ini.

Sony DSC-H70
Percaya atau enggak, selama ini saya belum pernah sekalipun membeli kamera DSLR untuk diri saya sendiri, loh! Dan ketika saya sudah punya penghasilan sendiri pun kamera yang saya beli bukanlah kamera DSLR kece yang diidamkan banyak orang tetapi justru kamera poket yang kalau dari tampilannya pun sebenarnya biasa aja. Waktu itu saya membelinya karena beberapa pertimbangan mulai dari: 1. masih trauma karena baru menghilangkan kamera DSLR punya ayah saya, 2. sepertinya untuk jangka panjang kamera poket akan lebih banyak keuntungannya, 3. waktu itu saya belum sebegitu minatnya untuk mendalami fotografi dan DSLR dan 4. saya enggak punya kamera poket dan akan lebih mudah dan praktis untuk dibawa kemana - mana. Singkat cerita, setelah melihat review dan mencocokkan harga, akhirnya saya memutuskan untuk membeli kamera ini. Kalau kalian pernah melihat postingan foto - foto saya selama saya tinggal di UK, dan ketika saya traveling dari tahun 2011 akhir, maka itu adalah hasil foto dari kamera ini.


(+) Saya pribadi sangat puas dengan kamera ini karena memang selain kualitas gambarnya yang termasuk sangat bagus, optical zoom nya yang bisa menangkap objek jauh hingga 10x zoom dengan resolusi yang masih bagus. Menurut saya ini penting, apalagi bagi orang seperti saya yang suka enggak pede foto orang dari dekat atau suka menangkap objek random dari jauh. Selain itu, harganya pun masih termasuk murah (waktu itu saya beli sekitar Rp. 3,3 juta), dan kamera ini memang udah "kepegang" banget di tangan saya. Dalam artian bahwa ketika orang lain foto pakai kamera ini kadang suka goyang, saya udah tau gimana cara pegang kamera ini supaya tetap steady. Pengaturan manual-nya juga lebih mudah dibandingkan pengaturan di kamera DSLR (misalnya untuk pengaturan bukaan diafragma). Sehingga untuk kamera ini tepat banget buat kamu yang suka mengambil momen atau foto candid, yang mana perlu kecepatan dalam mengambilnya. Soalnya kan kalau pengaturan manual di DSLR, perubahan cahaya itu cepet banget. Jadi malah bisa gagal ambil momen bagus karena lupa ngatur cahayanya, yang ada malah jadi terlalu gelap atau terang.

(-) Entah memang waktunya yang singkat, atau kamera ini sudah terlalu lelah karena terlalu sering dipakai, atau memang saya aja yang enggak pintar merawat kamera ini, tetapi setelah hampir tiga tahun memakainya, kualitas gambarnya semakin menurun. Gambarnya jadi enggak setajam ketika awal saya membeli hingga memasuki tahun kedua.


Sony Alpha 550 (+ Lensa Kit 3.5-5.6/18-55 SAM)
Sebelum kalian berasumsi bahwa saya adalah pencinta Sony, sebenarnya untuk kamera DSLR ini adalah turunan dari Ayah saya. Jadi sebenarnya awalnya saya enggak terlalu niat untuk memakai kamera ini. Tetapi daripada mubazir kamera ini enggak dipakai, akhirnya saya coba mengutak - atik sebelum saya memutuskan untuk kembali ke Nikon (FYI, kamera DSLR sebelumnya yang sempat hilang adalah Nikon, huhuhu). Awalnya, saya sempat suudzon sama kamera ini karena sebelumnya udah terbiasa dengan Nikon. Ditambah lagi dengan mindset saya yang masih mainstream waktu itu yang masih menganggap bahwa Nikon dan Canon masih lebih bagus (secara gitu ya di Indonesia lebih banyak yang memakai kedua kamera ini). Tetapi setelah memakainya, saya enggak melihat perbedaan antara Nikon dengan Sony, baik dari segi foto maupun cara penggunaannya. Yaa mungkin mata saya masih mata fotografer amatiran, jadi enggak bisa ngebedain perbedaan kualitas keduanya kali yaa, atau sebenarnya orang - orang aja yang terlalu overrated menilai Nikon dan Canon dibanding jenis kamera lainnya :p


Lensa (Fix) 50 mm/ f1.8
Diantara lensa lain yang saya punya, lensa ini yang menjadi kesayangan saya. Selain ukurannya yang kecil dan ringan, lensa ini pas banget buat foto detail karena bisa dengan mudanya memberi efek bokeh (fokus ke satu titik dan membuat latar belakangnya menjadi blur). Sebenarnya pada saat awal saya mau membeli lensa fix ini, saya sempat bingung memilih antara lensa fix yang 35mm atau 50mm. Kayanya sih kalau brand yang lain, harga kedua lensa ini enggak beda jauh, sedangkan buat Sony lumayan banget bedanya. Harga lensa 35mm bisa hampir dua kali lipatnya harga lensa 50mm! Nah setelah melihat review dan spesifikasi di ineternet, karena perbedaan keduanya enggak terlalu signifikan buat saya akhirnya saya milih yang 50mm. Dan sejauh ini sih saya enggak menyesal sama sekali udah memilih lensa ini.

(+) Untuk di outdoor maupun indoor, siang maupun malam, hasil lensa ini hampir selalu lebih jernih daripada lensa kit. Terutama buat foto indoor dan kekurangan cahaya, lensa ini sangat membantu untuk tetap menghasilkan foto yang bagus!

(-) Karena enggak bisa di zoom, terkadang cukup ribet ketika saya mau foto suatu objek yang luas. Kalau enggak foto dari jarak yang jauuuh, atau terpaksa ganti lensa dulu. Selain itu, karena lensa ini memiliki bukaan yang besar (f1/8), maka perlu dipastikan untuk mengecilkan bukaannya terlebih dahulu saat memfoto objek yang "besar" atau foto objek secara menyeluruh supaya enggak blur di beberapa bagian.


Lensa (Tele) Tamron AF 70-300mm f/4-5.6 
Nah kalau ini justru kebalikannya lensa fix. Lensa tele adalah lensa yang paling jarang saya gunakan dan juga jarang dibawa. Kemampuannya yang bisa mengambil objek yang sangat jauh menjadi sangat dekat, memang menggiurkan untuk saya yang juga senang mengambil objek dari jauh. Tapiii, karena lensa ini gede dan berat, saya lebih memilih untuk pake lensa kit atau kamera poket selama mereka masih bisa menjangkau objeknya. Baru deh ketika saya ke Jember Fashion Carnaval lalu, kerasa banget betapa beruntungnya saya memiliki lensa ini *tsaaah, berasa pacar aja*. Gimana enggak, para model yang berjalan di catwalk dengan baju dan beragam aksesoris lainnya jadi bisa sangat terlihat hingga sangat dekat. Padahal aslinya, jarak mereka dengan saya lumayan jauh loh! Tapi ya, berkat si lensa inilah, jadinya jarak jauh pun enggak menjadi halangan *haa!*.

(+) Needless to say, lensa ini cocok buat kamu yang senang dan sering foto objek jarak jauh, tetapi tetap ingin mendapatkan detail atau hasil dekat dari objek tersebut.

(-) Karena ukurannya yang cukup besar dan berat, sebaiknya untuk menghasilkan foto yang lebih maksimal dan enggak blur, lebih baik menggunakan tripod juga. Yaa, walaupun saya sendiri enggak menggunakannya sih haha. Tapi jadinya ya gitu, beberapa fotonya jadi blur deh.


Sepertinya itu dulu ilmu yang bisa saya bagikan saat ini. OH IYA, terlepas dari kelebihan dan kekurangan dari masing - masing kamera dan lensa, sebenarnya kedua hal tersebut enggak menjadi (terlalu) penting kalau sang pemilik kamera tersebut enggak menggunakannya dengan tepat. Maksudnya. yang terpenting sih sebenarnya kembali ke fotografernya itu sendiri. Kamera hp atau kamera yang enggak canggih aja akan tetap bisa menghasilkan foto yang lebih baik daripada kamera DSLR dengan lensa super canggih sekalipun :)