January 11, 2018

27 Things I Haven't Done Before Turning 27

Dari kecil saya tuh suka banget melamun, menghayal dan mimpi tinggi - tinggi. Yaa kayanya saya menelan besar - besar kalimat 'mimpilah sampai setinggi langit'. Kadang sampai bikin list dan tempelin di dinding kamar, kadang berupa reblog di Tumblr, kadang dicatat di diary, kadang hanya mendem di dalam otak, dan kadang sampai posting di blog. Namun sejujurnya udah beberapa tahun ini saya berhenti bikin list tentang mimpi yang ingin saya capai dalam hidup saya dan haya memendamnya di dalam otak saya. Enggak ada alasan khusus sih, cuma memang enggak pengen aja. Sekarang saya cenderung 'go with the flow' alias ngikutin kemana hidup membawa saya. Kayanya salah satu problematika jadi orang dewasa adalah menjadi lebih skeptis dengan hidup karena menemukan banyak hal yang ternyata enggak seideal apa yang dibilang ketika kita masih kecil hingga setelah lulus jadi mahasiswa sarjana dan sebelum memasuki fase 'kehidupan sebenarnya'. Tapi terlepas dari itu, enggak sedikit orang yang saya kenal yang udah lama skeptis dengan konsep 'bermimpi'. Kata mereka, mimpi itu sebatas hayalan.

(Image from here)

Kalo alasannya itu, saya enggak setuju. Banget. Karena menurut saya mimpi itu enggak selalu berarti sebatas hayalan. Justru bagi saya, mimpi itu semacam life goals. Saya jadi ingat salah satu komentar teman saya begitu membaca buku saya yang Perjalanan, Cinta, dan Makna Perempuan. "Bagus sih zu... cuman itu tuh kebanyakan yang lo ceritain kaya enggak realistis aja dan enggak banyak orang bisa ngejalanin apa yang lo jalanin". Saat itu saya mikir, bagian mananya yang enggak realistis? Dan sekarang saya mengerti bahwa hidup yang saya jalani selama beberapa tahun terakhir ini memang cukup berbeda dari kebanyakan orang. Tapi itu bukan berarti enggak realistis. Memang pastinya setiap mimpi selalu bisa terwujud hanya atas kehendak Tuhan melalui keberuntungan dan kesempatan, tapi bukan berarti saya hanya pasrah dengan kedua hal tersebut. Saya sangat aware setiap kali membuat list mimpi bahwa sebagian besar diantaranya adalah hal yang sangat mungkin saya capai jika saya terus berusaha dan bekerja keras. Bahkan enggak sedikit yang butuh pengorbanan besar buat bisa mencapainya hingga saya harus merelakan untuk menunda bahkan engga memiliki kesempatan lagi untuk mencapai beberapa mimpi supaya bisa merealisasikan beberapa mimpi lainnya. Jadi jelas, arti mimpi bagi saya itu jauh dari hanya sebuah hayalan yang mengandalkan keberuntungan dan kebaikan semesta untuk bisa mendapatkannya.

(Image from here)

Seperti salah satunya adalah postingan ini dan ini . Lucu aja begitu baca ulang lagi. Beberapa mimpi memang belum terwujud, tapi beberapa alhamdulillah sudah tercoret dari daftar rentetan mimpi saya.  Seperti ingin memeluk diri saya yang saat itu baru mau menginjak usia 20 dan 21, sambil mengucap, "Terima kasih sudah bermimpi jauh dan terus berusaha untuk mencapainya". Saya yakin, jika saya enggak punya mimpi itu dan menulisnya, pasti enggak banyak perubahan yang saya alami saat ini. Enggak usah ngomongin sampai bisa menginjak Eropa dan Amerika, hal sekecil 'better English' aja itu bermula dari sebuah angan - angan. Kalo kalian baca postingan pertama, duh, itu yang namanya grammar masih acak adul! Gemes banget pengen saya benerin sekarang. Tapi saya tetep biarkan seperti itu supaya mengingatkan saya kembali udah sejauh mana saya berubah. Dan itu semua hanya bermula dari sebuah mimpi.

Di sisi lain, ada juga mimpi yang akhirnya enggak terwujud seperti main piano di ulang tahun Ayah karena saya enggak rajin latihan apalagi setelah saya sadar bahwa main piano bukanlah bakat dan passion saya. Lalu apakah saya merasa kecewa? Pasti ada sih. Kayanya wajar deh kalo merasa kecewa ketika melihat ada mimpi/harapan/target yang belum tercapai dan kemungkinannya sangat kecil untuk bisa mencapainya lagi. Cuma ya kecewa itu kan juga bagian dari hidup yang enggak bisa dihindari. Lagipula, justru dari kekecewaan itu kita bisa belajar untuk bisa mensyukuri apa yang kita miliki, yegak? *tsah* *kibas jilbab*. Saya juga pernah beberapa kali merasa kecewa dengan beberapa mimpi di masa lalu yang awalnya tinggal berjarak lima sentimeter tapi berujung enggak jadi. Tapi begitu datang waktu dimana saya berhasil mencapainya, ada sebuah perasaan yang enggak bisa diungkapkan dengan kata - kata. Lebih dari sekedar puas, senang dan terharu. Ada perasaan lain yang terasa sangat surreal hingga beberapa kali ingin menampar diri sendiri karena beberapa kali juga membatin, 'INI BENERAN BUKAN MIMPI LAGI NIH?'. Dan diikuti dengan sebuah perasaan lainnya yang membuat hidup kembali terasa jauh lebih hidup karena saya bisa membuktikan ke diri saya sendiri bahwa ternyata mimpi yang tadinya masih nun jauh berada di langit sana, akhirnya bisa saya genggam dengan kedua tangan saya sendiri.

(Image from here)

Oh well, seperti yang udah saya jelasin sebelumnya, sebenernya saya udah enggak menulis tentang daftar mimpi saya semenjak enam tahun lalu. Entah ada angin apa, saya tiba - tiba ingin membuat list yang belum saya raih sebelum menginjak usia 27. Beberapa memang terlihat udah berdiri di depan mata, tapi banyak juga diantaranya yang seperti mimpi di siang bolong. Saya sampai bilang ke diri saya sendiri, "wah gila ini mah terlalu jauh zu!". Yaa seperti foto bareng dengan Olsen Twins. Itu probabilitasnya seperti 1/infinity :)))) But, who knows kan? Kali aja semesta terus berbaik hati ke saya hingga memberikan suatu kesempatan itu suatu hari nanti.

And here is the list:

1. Ngerasain gimana disidang dan ngejawab pertanyaan dari sepuluh professor selama satu jam
2. Ngunjungin salah satu kebun lavender dan bunga matahari di Southern France
3. Make my own birthday cake
4. Naik kelas ke Yoga Level 2 di Erasmus Sport
5. Ngerasain gimana hidup tenang setelah PhD aka Permanent Head Damage
6. Ngerasain jadi perempuan paling cantik di hari pernikahan sendiri
7. Nulis dan publikasiin novel
8. Ke Iceland atau Santorini bareng suami
9.  Buat film dokumenter terus bisa kepilih di salah satu independent film festival
10. Publikasiin jurnal internasional dari hasil riset S3
11. Ngerasain suka duka jadi seorang Ibu
12. Kulineran di Seoul
13. Lihat Northern Lights
14. Bikin vintage-bookshop-cafe (kalo di Indonesia itu semacam Kineruku)

(Image from here)

15. Punya rumah dan ngerasain serunya belanja furniture ke IKEA ngedekor bareng suami
16. Road trip di West Coast
17. Tanam dan panen berbagai jenis sayuran yang bibitnya udah dibeli dari tahun lalu tapi belum ditanemin juga pas lagi summer
18. Safari di Afrika Selatan
19. Ngajar mahasiswa S2
20. Cobain sky diving
21. Punya salah satu koleksi tas Bayswater-nya Mulberry
22. Foto bareng Olsen Twins
24. Dateng ke Glastonbury Festival
25. Bikin photo-book berisi kumpulan street photography dari berbagai negara yang udah dikunjungin
26. Candle light dinner *HAHA* di salah satu restoran Michelin
27. Baca banyak buku yang masih on my to-read list, termasuk A Tale for The Time BeingLittle Fires Everywhere, 1Q84, The Nobel Lecture, The Subtle Art of Not Giving Af!

Oke, saya ngaku deh. Sebenernya saya tau bahwa postingan ini dibuat lebih dari hanya sekedar angin yang sedang lewat. Saya membuat postingan ini supaya nanti ketika ada masanya dimana saya lupa lagi apa mimpi saya dan lupa akan betapa menyenangkannya punya mimpi, saya akan kembali teringat dan bahkan termotivasi untuk terus menjalani hidup ketika saya membaca postingan ini. Because there's so many things that you haven't done yet, girl! Please stay alive, okay? :)

January 06, 2018

Persiapan Perjalanan: Do's & Don'ts

Overall, saya memang puas dan senang banget dengan perjalanan kali ini. Tapi namanya juga manusia yaa, kadang tetep aja ada pikiran 'seandainya kaya begini pasti bakalan lebih puas lagi deh'. Alias enggak pernah bener - bener puas dengan yang udah didapat :)) Enggak denggg, saya sih beneran bersyukur banget dengan segala kemudahan selama perjalanan ini. Cuma boleh dong bagi - bagi tips mungkin bisa sekalian nambah pahala supaya yang baca ini nantinya kalo ada rencana mau jalan - jalan ke Skandinavia enggak mengulangi kesalahan yang saya lakukan selama perjalanan ini atau seenggaknya bisa mengantisipasi beberapa hal yang akan dihadapi.


Beli tiket pesawat paling murah padahal baru beli sebulan sebelumnya: NO 
(kecuali udah yakin kalo itu bukanlah sebuah jebakan batman!)

Mau tau enggak kebodohan yang terulang sampai dua kali dan sebenernya menjadi kebodohan paling enggak penting selama perjalanan ini? Saya terjebak dengan harga tiket pesawat paling murah yang ujungnya jadi bikin enggak semurah harga awalnya. Malah mendingan beli yang agak lebih mahal tapi lebih nyaman! Jadi yang pertama adalah saat beli tiket pesawat ke Copenhagen. Duh ini sebenernya kebodohan super enggak penting banget sih sampai saya malu mengakuinya. Cuma mungkin saya bisa dapat rezeki lebih lancar ke depannya dengan menjadikan ini pelajaran ke para pembaca postingan ini *diiyain aja plis*. Oke, jadi ceritanya kan saat saya udah yakin buat beli tiket, saya langsung ngecek Skyscanner buat liat harga paling murah. Saat itu udah diduga sih pasti udah pada mahal dan bener aja harga tiket paling murahnya adalah 100 Euro. Skiplah ya kan. Akhirnya saya ngecek di Transavia nih, semacam Airasia / Ryanair/ Easyjet yang intinya low-cost airlines tapi dari Belanda. Terus masih ada tuh harga 41 Euro, nah cuman penerbangannya bukan dari Rotterdam maupun Amsterdam, melainkan dari Eindhoven. Dan itu waktu penerbangannya adalah 07.15. PAGI. Oh, oke. Tetep aja saya beli. Saat itu mungkin karena antara saya terlalu excited tapi juga panik karena takut keabisan tiket atau harga udah naik dalam hitungan detik (ini beberapa kali kejadian soalnya), akhirnya saya langsung beli aja tanpa pikir panjang. Nah, tapi yang paling bikin saya yakin buat langung beli adalah 'Oh, di Eindhoven kan ada si Febi. Bisalah ntar nebeng nginep semalem'. Lalu hanya dan hanya ketika setelah tiketnya dibeli, saya baru memastikan kembali apakah benar Febi tinggal di Eindhoven. Daaan jawabannya adalah.... TETOT. Febi ternyata tinggalnya di Nijmegen, gengs!!! Duileh mbak, padahal Eindhoven sama Nijmegen jauh banget dari segi nama dan lokasinya *seketika saya langsung merasa seperti orang paling bodoh*. Oh, wait, kenapa mesti panik, kan bisa nginep di bandara. AHA! Lalu saya cek lah sleepinginairports.net, sebuah website yang berguna banget bagi kamu - kamu yang ada rencana pengen nginep di bandara manapun di dunia. Begitu saya cek lalu menemukan tulisan "the airport is closed between 12:00AM - 4:30AM. It is not possible to stay in the airport overnight". Dan akhirnya detik itu juga saya menyerah dan langsung cari penginapan deket bandara daripada harus menelan kekecewaan berkali - kali dengan ketidakjelasan #yha. Masih untung sih ada hostel deket situ (ga deket - deket amat sih sebenernya sekitar 6 km tapi ada bus yang ke airport) yang harganya paling murah dibanding hotel - hotel lain di sekitar bandara. Kalo enggak ada juga, mungkin akhirnya saya enggak jadi pergi aja deh :( *ceritanya pundung* *naon sih*.  



Namun tampaknya saya belum kapok dengan kecerobohan saya dengan tiket pesawat murah, sodara - sodara. Jadi saya beli tiket balik itu terpisah karena itinerary yang sempet berubah tak menentu dari plan A hingga E dan baru fix itu sekitar seminggu sebelumnya. Dan saya pun baru beli tiket Stockholm - Amsterdam tepat tujuh hari sebelum berangkat. Wow, emejing banget buat orang kaya saya. Jarang - jarang banget seumur hidup kaya begini! Anywayberhubung saya orangnya udah dari tiga tahun ini enggak lagi tertarik buat ngerayain tahun baru di luar dan pengennya di rumah aja, saya memutuskan buat balik tanggal 31 Desember. Dengan harapan nyampe Rotterdam sore atau malem tapi enggak malem - malem banget, lalu mandi, terus bobo cantik. Besoknya bangun pagi udah fresh menyambut hari pertama di tahun yang baru. Wuhuuu. Okesip! Kayanya pilihan yang tepat juga nih karena harusnya sih harga tiket enggak mahal - mahal bangetlah meski dadakan begini secara kebanyakan orang kan jarang yang pergi pas tanggal segitu. Entahlah disebut apa ini, antara terlalu percaya diri, sok tau atau optimis; yang jelas begitu ngecek sana sini ternyata udah pada diatas 120 Euro semua buat yang jam penerbangannya masih masuk akal. Yaa ada sih flight yang dibawah seratus euro tapi totalnya 24 jam perjalanan. Yakaliii deh muterin dunia dulu buat nyampe Rotterdam, enggaklah yaw! 'Yaudahlah enggak apa - apa beli ajalah mau gimana lagi', begitu pikir saya. Tapi saat itu sebenernya hati ini monang dan masih enggak rela bayar tiket segitu mahalnya :( Akhirnya untuk terakhir kalinya sebelum beli Norwegian Air yang harganya 120 Euro dan nyampe Rotterdam sore hari, saya coba peruntungan saya lagi dengan cek Skyscanner. Dan di saat itu, seolah - olah semesta kembali memudahkan saya, tiba - tiba aja ada dong British Airways harganya 80 Euro. JENGJENG. Apakah.... eits, tunggu dulu, jangan - jangan ini jebakan lain? Saya langsung cek satu persatu semua informasinya apakah ada biaya tambahan, berapa jam transit hingga make sure lagi kalo emang buat transit dua jam di Heathrow enggak perlu apply visa dulu. Dan ternyata setelah cek berkali - kali, tampaknya semua aman terkendali. Akhirnya dengan mengucap bismillahirahmanirrahim, saya beli tiket pesawat dari Stockholm - Amsterdam. Semua berjalan lancar dan saya pun puas karena bisa dapet tiket murah apalagi bisa transit ke London, meski hanya di dalam Heathrow, saya pun udah bahagia :') Semua kebahagiaan yang haqiqi itu tampak sempurna sampai dua hari sebelum tanggal 31 Desember, saya enggak sengaja bertemu dengan beberapa teman saya yang lagi kuliah di Belanda juga. Lalu saat itu kami ngobrol sampai akhirnya ada salah satu teman saya yang nanya, 'Loh, emang ada kereta dari Schiphol ke Rotterdam ya? Temenku soalnya enggak jadi balik tanggal 31 karena setelah jam 8 malam semua kereta antar kota di Belanda berhenti'. JENGJENGJENGJENG. Saat itu saya masih pede karena (((((ngerasa)))) udah ngecek jadwal kereta dari Schiphol - Rotterdam dan masih ada yang beroperasi begitu saya nyampe. 

Namun, apakah benar masih ada kereta pada malam itu? Bagaimana nasib seorang Nazura Gulfira saya sampai bisa ke Rotterdam? Mau tau kelanjutannya? Nantikan postingan berikutnya! :))))


Beli Eurail / Interrail Pass: YES

Saya sangat menyarankan buat beli Eurail (buat non-EU citizens) atau Interail (buat EU citizen dan non-EU citizen yang punya residence permit di EU)* HANYA JIKA seenggaknya ada salah satu poin dibawah ini yang cocok dengan kondisimu:

1. Pengen perjalanannya yang fleksibel 
2. Belum ada tanggal pasti buat ngunjungin kota dan negara di Skandinavia
3. Ambisius buat dateng ke beberapa tempat dalam waktu yang singkat
4. Itinerary baru jadi seminggu sebelumnya

Tapi, bagi kamu - kamu yang udah merencanakan dan punya itinerary yang fix dari jauh hari, serta enggak berencana pergi ke terlalu banyak tempat, lebih baik pesen tiket keretanya perintilan aja deh, alias satu persatu. Karena dari hasil cek-ricek harga tiket kereta, misal anggeplah Oslo - Bergen, ternyata kalo beli in advance (saya barusan cek harga tiket buat tanggal 1 Februari), masih bisa dapet tuh one way ticket dengan harga paling murah di 199 NOK atau sekitar 20 Euro. Nah, tapi udah beda  kalo kasusnya seperti saya yang udah tinggal seminggu sebelumnya berangkat yang mana saat itu tiket yang tersisa tinggal 900-an NOK atau 90 Euro. Jadi kalo dihitung - hitung, meski saya cuma pake pass-nya selama tiga hari (padahal bisa sampai buat lima hari), tapi saya udah balik modal karena harga tiket Oslo - Bergen, Bergen - Oslo, dan Oslo - Stockholm udah segituan (sekitar 90 Euro) semua per sekali jalan.

Buat yang mesti diinget juga, si Eurail pass ini mengcover semua regional dan national train di Skandinavia. Jadi enaknya juga enggak perlu repot mesti pergi dengan satu perusahaan aja. Dan  berhubung ada beberapa kereta jarak jauh seperti Oslo - Bergen dan Oslo - Stockholm yang perlu reservasi tempat duduk, pas lagi winter gini karena enggak seramai saat summer, masih memungkinkan buat reservasi tempat duduk beberapa jam sebelum berangkat. Bahkan, saya sempet nekat banget reservasi baru 15 menit sebelum berangkat. Ha! *jangan ditiru ya dikadik*. Oh iya, satu lagi! Ada beberapa benefits dari Eurail / Interrail Pass Holder, salah satunya adalah diskon buat naik Flam Railway dan juga ferry ke Helsinki (cuma bagi saya tetep mahal sih tapi yang beneran niat nyebrang ke Finlandia ya bisa dipertimbangkan juga ini).

*Buat mahasiswa Indonesia yang lagi kuliah di EU sebenernya mendingan beli Interrail karena biasanya lebih murah, tapi berhubung waktu itu saya cek enggak ada Interail buat Skandinavia (mereka hanya jual per negara di Skandinavia tapi bukan yang buat seluruh Skandinavia), makanya saya beli Eurail. 



Pergi ke Skandinavia di akhir Desember: YES

Jadi sebenernya ada beberapa alasan lain selain karena saya lagi kere yang sempat bikin saya ragu ke Skandinavia di bulan Desember ini. Pertama, antara pengen liat salju tebel tapi takut enggak bisa tahan sama temperatur yang pastinya jauh lebih dingin dari Belanda. Sejujurnya saya sempet khawatir banget soal pakaian yang saya bawa apakah cukup bisa menyelamatkan menghangatkan saya dari temperatur yang begitu dingin disana. Terutama di Bergen dan Oslo yang merupakan destinasi paling utara yang saya tempuh. Kedua, berhubung perjalanan saya ini juga melewati Natal dan Tahun Baru, jadi hampir dipastikan akan ada hari yang 'dikorbankan' buat enggak kemana - mana atau tetep jalan tapi kota sepi atau terkendala sama perubahan jadwal transportasi. Dan ternyata beneran ajalah ketiga hal tersebut akhirnya saya alami semua :)) Ketiga, daylight selama bulan Desember di Skandinavia itu kurang lebih hanya dari jam 09.30 hingga 15.30. Jadi yaa enggak akan maksimal gitu loh mengeksplore seisi kotanya karena cuma terang selama tujuh jam. Keempat, jalan - jalan pas suhu makin dingin kaya gini sama aja dengan siap - siap buat bawa koper lebih gede dan berat berhubung bakalan lebih banyak barang yang perlu dibawa seperti sweater, thermal, dan berbagai perlengkapan winter lainnya.

Tapi ternyata semua itu bisa disiasati supaya enggak bikin hayati lelah.

Buat masalah takut kedinginan, sebenernya pas saya baca di beberapa blog tentang pengalaman traveling ke Skandinavia, khususnya di Norway, enggak perlu segitu khawatirnya soal udara dingin disana. Berhubung letaknya dekat dengan Gulf Stream, jadi beberapa tempat di Norway terutama bagian Barat, ternyata enggak terasa begitu dingin karena temperaturnya jarang yang sampai dibawah nol. Kenapa bisa begitu? saya pun kurang paham teknisnya gimana mungkin bisa langsung dicek di Google, tapi yang jelas dengan adanya si Gulf Stream ini bikin lebih hangat ketimbang kota - kota lain yang berada di tengah atau ya paling utara #inisihudahjelaslahya. Dan ternyata bener aja loh! Selama di Norway *karena ini yang paling saya takutin*, tepatnya di Bergen dan Flam, saya enggak pernah sekalipun merasa kaya udah mau mati kedinginan. HA. Kalo menggigit atau agak mati rasa jari kaki dan tangan yaa masih okelah karena di Belanda pun saya juga beberapa kali sempat merasa kaya gitu. Toh semua rasa kedinginan itu langsung sirna begitu saya merasakan salju lembut yang turun terus menerus di tangan saya #asek atau melihat pepohonan cemara dan rumah - rumah seperti mainan yang diatasnya tertimbun salju tebal atau sungai yang membeku dan retak hingga terlihat bongkahan es atau menginjak timbunan salju paling tinggi hingga mencapai betis saya yang udah kaya mangmang becak. Seriusan deh, kalo kamu suka dingin dan penggemar salju, wajib banget datang ke Skandinavia saat Desember, meski denger - denger sih saljunya lebih banyak di Januari dan Februari. Tapi melihat dan merasakan semua itu aja udah seneng banget kok saya :')


Lalu buat poin kedua soal kota jadi sepi dan banyak tempat yang tutup karena libur Natal, saya sih menyiasatinya dengan menjadikan hari itu sebagai hari perjalanan dari satu kota ke kota lain. Jadi memang enggak akan terpakai buat jalan - jalan. Dalam perjalanan saya, ada tiga hari yang menjadi hari libur nasional disana, yaitu 24 - 26 Desember. Sebenernya sih tanggal 24 itu saya rencana mau eksplore Helsingborg, tapi berhubung semua tempatnya tutup dan hujan seharian, saya enggak jadi kemana - mana. Tapi ketimbang bete, saya malah seneng karena hari itu jadi hari tenang sebelum perjalanan jauh. Sedangkan tanggal 25 dipakai seharian untuk pindah satu kota ke kota lain yang memang beneran menghabiskan waktu total kurang lebih 16 jam perjalanan. Dan tanggal 26 saya gunakan buat jalan - jalan mengeksplore Bergen yang meskipun masih banyak toko tutup tapi enggak sesepi yang saya duga jadi tetep aja saya bisa menikmatinya. Nah, paling yang agak gengges sih pas ada perubahan jadwal transportasi karena Tahun Baru *tapi nanti saya bahas di postingan berikutnya*.

Sedangkan buat poin ketiga, terkait waktu daylight yang hanya sedikit, ini pun sebenernya bisa disiasati dengan pergi ke tempat - tempat outdoor selama matahari masih ada dan baru mengunjungi tempat indoor ketika matahari udah terbenam seperti public library, museum, dan masih banyak opsi lainnya. Lagipula meski jam empat udah gelap kaya jam tujuh malam, jalanan masih ramai oleh orang - orang kok! Bahkan di kota besar seperti Stockholm dan Copenhagen hingga jam delapan juga masih oke buat jalan di luar. Malahan ini juga jadi kesempatan buat merasakan christmas atmosphere dengan ke christmas market atau hunting christmas lights yang tersebar di beberapa sudut kota. Duh, apalagi nih Copenhagen dan Stockholm tuh niat banget deh ngedekor kotanya jadi cantik apalagi pas malam hari. Jadi sebenernya ini bukan masalah yang berarti ;)

Nah, buat masalah koper yang bakalan lebih berat karena perlengkapan winter yang banyak dan tebel, saya menyiasatinya dengan mengurangi jumlah sweater yang akan saya bawa. Karena sebenernya ini juga jadi kelebihan dari jalan - jalan pas winter yaitu hampir dipastikan enggak akan keringetan (yaa bisa aja sih kalo mainnya di dalam ruangan ber-heater dengan tetep pake coat selama berjam - jam) dan akhirnya malah bisa menghemat pakaian yang dibawa! Seumur - umur jalan, ini baru pertama kalinya saya beneran berasa kaya backpacker meski sebenernya bawa koper kecil. Memang sih saya bisa aja bawa koper yang agak gedean karena bagasi masih muat, cuma kan pe-er banget ya geret - geret koper kesana kemari apalagi kalo udah ujan becyek enggak ada ojek. Akhirnya saya tetep kekeuh bawa kopernya yang kecil aja dan setelah beberapa kali repacking saya memutuskan buat mengorbankan sweater. Alhasil saya nekat aja tuh bawa tiga sweater doang buat sepuluh hari! WKWK. Mikirnya sih 'yang paling penting kan thermal dan baju - baju dalemnya yang mesti sering diganti dan bersih', 'yaelah ntar juga ketutupan sama coat dan syal', 'enggak akan ada sesi ootd ini jadi enggak perlulah bawa baju macem - macem', dan yang paling penting adalah 'enggak ada yang tau juga keles kalo saya pake baju yang sama berkali - kali kan urang pergi sendirian' (meski yang ini akhirnya ketauan juga sih sama Mas Marlo, Mba Lelly dan Mba Aini HAHAH). Dan nyatanya emang enggak bau sih, cuma bosen aja cuy pake 4L alias 'Lo-Lagi-Lo-Lagi'. Bayangin aja, satu sweater bisa sampe empat kali dipake loh! Baru dua hari yang lalu pake sweater polkadot, hari ini udah pake doi lagi. Sampe saking bosennya saya sempet ngebatin kayanya enggak akan pake tiga sweater itu sampe winter tahun depan deh! :))))))


Nebeng di tempat temen / Mamarantau / siapapun yang terpercaya: YES 

Oke buat poin yang ini rasanya khusus buat solo traveler terutama yang baru pertama kali jalan jauh atau yang masih ragu bisa solo travel atau yang bareng pasangan atau keluarga juga enggak apa - apa sih kalo emang enggak ada opsi lain dan si host nya oke. Jadi yang lagi - lagi bikin trip ini berbeda adalah ini baru pertama kalinya saya solo travel tapi nebeng nginep di tempat orang - orang Indonesia, baik teman saya sendiri maupun yang belum saya kenal sama sekali. Saya pernah cerita deh kalo salah satu yang enggak saya suka dari solo travel adalah ketika saya pulang ke akomodasi setelah jalan seharian. Mau nginepnya sendiri di hotel atau ramean bareng traveler lainnya di dormitory room hostel, dua - duanya sebenernya ada enggak enaknya. Kalo sendirian jadi berasa kesepian sedangkan kalo bareng sama traveler lain itu lumayan banyak resikonya. Salah satunya yang baru aja saya alamin ketika nginep di Stockholm adalah satu kamar sama cewe yang duh maap - maap yak, tapi bau banget sampe berhasil bikin saya kebangun loh gara - gara baunya *ini seriusan dan enggak lebay sama sekali*, HUHU.

Paling pas itu sebenernya emang Airbnb yang ada host-nya juga, tapi berhubung saya cek harga Airbnb di Oslo, Bergen dan Stockholm itu selalu lebih mahal dari hostel dan sekalipun ada yang murah itu juga di entah berantah. Di saat sedang galau mikirin enaknya nginep dimana, tiba - tiba ada ide cemerlang. Kenapa enggak coba nebeng di Mamarantau aja? AHA! Fyi, buat yang belum tau apa itu Mamarantau, adalah sebuah website yang dibuat dan dijalankan oleh kakak saya yang isinya tentang kumpulan cerita dari Ibu - Ibu yang sedang merantau dari berbagai belahan dunia. Tetiba rasanya bahagia sekali jadi adiknya Uni Chica *enggak denggg, aku selalu bahagia jadi adikmu kok Un :') Akhirnya setelah Unicha nanya ke mamarantau di tiga kota tersebut, saya hanya berjodoh dengan Mbak Aini dan Mbak Jena, mamarantau di Bergen dan Oslo. Sedangkan Mbak Deni, mamarantau di Stockholm ternyata enggak bisa di tanggal yang sama karena lagi liburan juga. Sayang banget memang, tapi mungkin semesta menyuruh supaya saya bisa lengkap ngalamin nginep di hostel juga kali yaa *berpikiran positif anaknya* :))

Dan saya bisa bilang, salah satu hal yang bikin trip ini menjadi menyenangkan sebenernya karena lebih dari setengah perjalanan saya habiskan dengan menginap di rumah keluarga yang bikin saya merasa aman dan tenang ketika kembali dari jalan - jalan seharian di berbagai kota yang baru bagi saya. Terlebih lagi, setiap keluarga memberikan pengalaman yang menarik dan berbeda - beda, yang tentunya menjadi kenangan berharga buat saya. Nanti akan saya ceritakan satu per satu tapi yang jelas saya mau berterima kasih sekali lagi ke Mas Marlo, Mba Lelly & Marvel, Mba Aini, Mas Baim &  Alma, Mba Jena, Mas Abi & Kinasih karena udah banyak merepotkan selama perjalanan. Semoga kebaikan yang kalian berikan mendatangkan lebih banyak kebaikan kembali :') *lalu tetiba menjadi postingan mellow*. Ah sudahlah, ada baiknya segera kita akhiri postingan yang sudah terlalu panjang ini.

January 04, 2018

Cerita (Awal) Dibalik Perjalanan ke Skandinavia

Salah satu downside dari melakukan perjalanan baru sebelum menghabiskan cerita tentang perjalanan sebelumnya adalah salah satu perjalanan terpaksa dikorbankan. Biasanya sih saya akan tetap membahas perjalanan sesuai dengan urutannya. Tetapi berhubung kali ini udah ada beberapa yang mengirim direct message di Instagram supaya saya membahas trip Skandinavia di blog secepatnya, maka saya putuskan buat membuka poll di Insta-story. Dan ternyata memang lebih banyak yang memilih untuk membahas Skandinavia dulu ketimbang melanjutkan cerita Portugal dan Spanyol. Sejujurnya pun saya agak berharap bisa membahas Skandinavia dulu karena mumpung lagi menggebu - gebu buat ceritain dari A sampai Z, nih! Ha! Jadi sekarang saya akan kembali menunda perjalanan bersama bunda tahun lalu. Tapiii, (semoga) enggak akan lama kok sampai membahas Porto dan kawan - kawannya! :3

Biasanya saya enggak banyak cerita soal hal - hal dibalik sebuah perjalanan, seperti awal mula dan proses hingga sampai melakukan perjalanan tersebut. Tapi kali ini lumayan banyak hal menarik yang pengen saya ceritain. Seperti cerita dibalik kenapa seumur - umur saya melakukan perjalanan, baru kali ini itinerary saya terus berubah dari waktu ke waktu. Bahkan pas lagi udah di jalan pun masih sempat berubah sedikit. Suatu hal yang cukup unik untuk tipe orang seperti saya yang biasanya cukup strict dalam merencanakan perjalanan dari jauh hari, yaitu tiket pesawat pasti udah dibeli beberapa bulan bahkan setahun sebelumnya, akomodasi udah dipesan dari sebulan sebelumnya, serta daftar tempat yang akan dikunjungi juga udah siap dari seenggaknya seminggu sebelum berangkat. Lalu cerita dibalik kenapa baru kali ini juga saya beneran diem - diem merencanakan trip ini, termasuk ke orangtua dan juga pacar saya yang baru dikasih tau kurang dari seminggu sebelum berangkat.


Pergi, enggak, pergi, engg... pergi deh! Eh, tapi...

Sebenernya Skandinavia ini udah lamaaaa banget berada di dalam bucket list saya, tapi baru terlontar ide buat kesana saat bulan Agustus tahun lalu. Saat itu rasanya saya beneran lagi butuh BANGET piknik. Memang sih secara 'harfiah', terakhir kali traveling itu 'baru' sebulan sebelumnya, ketika saya dan dua sahabat saya ke Lombok. Tapi gimana ya, bagi saya itu enggak berasa banget karena total jalan - jalannya cuma dua hari. Jadi sebenernya yang saya anggap 'traveling' yaa saat pergi ke Portugal dan Spanyol di Januari tahun lalu. Makanya kaaan, udah butuh piknik banget saat itu. Duh! Nah biasanya kalo lagi kaya gitu, saya suka menghibur diri dengan mengahayal enaknya jalan kemana. Padahal belum tentu bisa pergi. Tapi gapapalah namanya juga coba menghibur diri kan, yang penting menghayal dulu aja. HA! Nah pas lagi ngimpi gitu, tetiba saya teringat Skandinavia! Lebih tepatnya sih Denmark dan Swedia karena udah janji dari akhir tahun 2016 lalu buat mengunjungi Mas Marlo dan Mba Lelly, teman saya yang saat ini tinggal di Helsingborg, Swedia, tapi letaknya justru lebih dekat ke Copenhagen dibanding Stockholm. Saat itu mereka sempat datang dua kali ke Rotterdam (malah sebenernya udah tiga kali, tapi yang terakhir enggak ketemu karena saya enggak bisa) dan saya janji akan gantian berkunjung ke Helsingborg sebelum mereka for good ke Indonesia tahun ini. Entah karena udah segitu desperate ingin pergi atau lagi kesambet apa, saya pun langsung WhatsApp Mas Marlo tentang rencana saya kesana saat winter break. Dan ternyata responnya pun sangat positif. Bukan hanya mereka masih available tanggal segitu, tapi juga Mas Marlo langsung ngasih banyak tips dan rekomendasi. Padahal saat itu mah saya masih enggak yakin dan belum ada gambaran sama sekali apakah bisa ke Skandinavia atau enggak. Yaa, kira - kira seperti pepatah 'ngomong dulu aja dulu, mikirnya belakangan' :))

Nyatanya memang sering berjalannya waktu, rencana ke Skandinavia ini sempat timbul tenggelam. Apalagi ketika abang saya mendadak ngajakin Eurotrip bareng ke beberapa negara yang justru berada di Eropa Tengah dan Timur. Saat itu saya masih agak memperjuangkan buat masukkin juga Skandinavia ke dalam rencana perjalanan kami. Meskipun dalam hati saya enggak yakin itu ide yang tepat, mengingat seminggu sebelumnya kami akan road trip ke beberapa negara. As expected, kami pun enggak jadi ke Skandinavia, dan sebenarnya itu keputusan paling tepat sih karena dari segi waktu yang akan terburu - buru dan badan yang udah mulai terasa jompo (wkwk) setelah seminggu road trip. Enggak disangka loh, padahal cuma seminggu, tapi terasa sangat melelahkan buat saya. Mungkin karena kami beneran setiap hari pindah kota - bahkan negara - dan ditambah lagi sebelum berangkat memang badan saya udah berasa enggak fit juga sih. 

Nah, setelah balik dari road trip itulah saya semakin ragu buat ke Skandinavia tahun ini. Bukan masalah takut akan solo travel, karena sebenernya hal itu bisa disiasati. Bisa aja kan saya cuma stay di Helsingborg lalu day trip ke Copenhagen dan beberapa kota di sekitarnya. Toh, alasan utama saya kesana juga karena mau berkunjung ke tempat teman saya. Lalu apa dong? Jadi... permasalahan utama yang membuat saya ragu adalah......... *dungtakdungcessss*


BM (Banyak Mau) tapi KERE

Yaa, sejujurnya... itulah alasan utama saya. HAHAHA. Pertama, budget buat traveling saya buat liburan akhir tahun ini udah banyak terpakai dari seminggu road trip bersama abang. EHMM, yaaa, sebenernya sih kalo dihitung - hitung tiket pesawat PP Rotterdam - Copenhagen, transportasi lokal selama di Helsingborg dan Copenhagen, makan, ngopi cantik dan souvenir; totalnya masih masuk dalam budget saya. Berhubung saya bisa banget kan menghemat dari akomodasi karena nebeng di tempat Mas Marlo dan Mba Lelly. Cumaaan, permasalahan kedua adalah.... moonmaap nih, saya anaknya BM banget kalo udah urusan traveling. Gimana ya, saya tuh orangnya kalo udah pernah ngunjungin ke suatu tempat, bahkan sebenernya beda negara atau kota, agak males buat ngunjungin tempat tersebut kalo bukan karena terpaksa atau emang beneran pengen banget. Enggak usah jauh - jauh, seberapapun cinta dan kangennya saya sama UK, udah dua tahun disini aja masih belum kesana. Padahal ibarat udah tinggal ngesot aja kan dari Belanda, wkwkw. Selalu mikirnya, 'mending uang buat apply visa UK dipake aja buat jalan ke negara Schengen lain yang belum pernah dikunjungin'. Belum lagi temen saya juga ngomporin, 'mumpung udah di Skandi mah lanjut sekalian ke Norway. Dari Helsingborg ke Oslo cuma enam jam naik bus kok'. Nah kan, kalo udah di Oslo, masa iya urang enggak sekalian ke Bergen? Padahal ketimbang Oslo, saya mending ke Bergen deh, sebuah kota yang udah dari lima tahun yang lalu ada di must-visit saya begitu enggak sengaja liat fotonya yang super cantik di Tumblr #murehpisananaknya #sepertigampangtermakaniklan. Cuma yaa gimana yaa, liat harga kereta PP Oslo - Bergen aja udah monang (mo' nangis) saking mahalnya :'(

Berhubung hayati terlalu lelah mikirin antara dua hasrat dan realita yang bertentangan ini, akhirnya suatu hari di akhir bulan November, lebih tepatnya kurang dari sebulan sebelum berangkat, saya nge-WA Mas Marlo lagi. "Mas, gw masih ragu nih kesana Desember ini apa mending summer ya? Menurut lo kapan the best time to visit?". Ceritanya sih basa - basi busuk yang ujungnya mau bilang "Mas, gw enggak jadi kesana ya Desember ini". HAHA. Tapi ternyata jawaban Mas Marlo di luar harapan saya. "Summer gw udah selesai loh :D Awal Juni udah jadwal wisuda pas puasa... mungkin mau liat xmas market disini?". JENGJENG. Baiklah udah harga mati ini, mesti kesana Desember ini. Lagian setelah saya pikir lagi, tipis harapan bisa jalan - jalan tahun depan mengingat begitu udah begitu banyak rencana yang mesti dilakukan baik urusan riset maupun di luar riset. Dan di saat yang hampir bersamaan, literally cuma beda beberapa jam setelah itu, teman saya yang lain tiba - tiba aja dong ngirim link yang isinya ternyata adalah Black Friday Sale (meski hanya 20% sih tapi lumayan kan) buat semua destinasi Eurail Pass, termasuk Skandinavia. JENGJENG. Apakah... ini pertanda dari semesta untuk menyuruh saya pergi? :))) Lalu saat itu juga, tanpa ragu saya langsung beli Eurail Pass untuk lima hari dan flight dari Rotterdam - Copenhagen. Dan bagaimana dengan ke-KERE-an saya? Yaa, kalo udah gitu tabungan saya terpaksa digunakan. Karena selain hal - hal tersebut, sebenernya ada sisi lain dalam diri saya yang saat itu memang sedang memberontak *cieilah* dan berteriak 'LET'S DO THIS! I KNOW IT'S GONNA BE A WORTH-EVERY-F***ING-PENNY TRIP!!!!!'


Eurail Pass = enggak boleh tamak

Namun ternyata tidak sesederhana itu, sodara - sodara. Beli Eurail Pass itu justru membawa permasalahan baru lainnya. Jadi gini, karena Eurail Pass itu bisa dipake ke negara dan kota mana aja di Skandinavia selama lima hari dalam satu bulan yang sama, otomatis kan makin bebas dong yaa hayalan ini. Tadinya cuma mau sebatas ke Helsingborg dan Copenhagen, terus jadi melebar ke Bergen, dan sekarang makin pengen mengepakkan sayap aja sampai ke Stockholm hingga Helsinki dan... Lapland! Wuih, ini mah udah too good to be true lah. Meski begitu, ku tetap coba eksperimen bikin plan A-B-C-D-E. Seriusan, ada kali tuh itinerary sampe lima kali lebih diubah. Yaaakan kali aja ada salah satu rencana yang cucok :)) Mulai dari coba masukkin Tromso dulu, yang sayangnya enggak terjangkau oleh kereta dan kemudian cek flight dari Bergen atau Oslo kesana tapi harganya udah bikin monang lagi. Baiklah, skip. Ganti lagi jadi masukkin Helsinki kemudian lanjut Lapland. Tapi setelah dihitung lagi kayanya selain bakalan bikin perjalanan makin capek karena waktu nyebrangnya sampai lima belas jam, harga ferry buat nyebrang dari Stockholm - Helsinki juga lumayan banget bisa buat makan sembilan hari :)) Lagipula banyak yang bilang (termasuk foto - foto di Google), kalo Helsinki tampaknya enggak begitu menarik. Baiklah, enggak jadi ke Finlandia kalo gitu. Yaa kalo mau dijabarin satu - satu rencananya mah, bakalan enggak abis - abis ini postingan padahal udah sepanjang ini. Tapi intinya sih, di tahapan ini saya belajar untuk enggak tamak dan tetap fokus pada tujuan *sikkk*. Maksudnya kan dari awal perjalanan ini diniatkan buat silaturahmi dan sekalian memperbaiki diri yang lagi enggak menentu, jadi ya jangan sampai malah berujung enggak dapet dua tujuan utama itu hanya karena kalap/tamak/rakus/serakah buat pengen ke banyak tempat yang sebenernya udah di luar rencana. Jadi akhirnya setelah meyakinkan diri saya ke tujuan utama perjalanan ini, saya berhasil bikin final itinerary untuk perjalanan selama sepuluh hari di Skandinavia. Personally, saya puas dengan itinerary tersebut baik dari segi lama perjalanan dan pilihan destinasi, meski sejujurnya melebihi budget awal saya karena ada beberapa hal di luar rencana. Tapi itu nanti akan saya bahas di postingan selanjutnya. Oh iya, kalo tertarik mau liat atau mungkin ada yang mau berniat solo travel ke Skandinavia juga, bisa didonlot disini yaa :3

January 01, 2018

2017: A Year of Surprises

Kalau tahun 2016 lebih banyak mengajarkan saya bagaimana rasanya naik roller coaster, tahun ini saya seperti berjalan di jalanan yang flat, tapi sesekali melewati batu kerikil. Terkadang juga menemukan jalanan dengan batu yang cukup besar hingga saya sempat beberapa kali tersandung. Namun untungnya tidak sampai terjatuh. Terlepas dari itu, hal yang paling disyukuri adalah bahwa di awal dan akhir tahun, saya diberi kejutan manis yang tidak terduga. Kalau digambar, bentuknya seperti huruf U kali ya. Tinggi di ujung dan ujung, tapi rendah di tengah - tengah. Dimulai dengan Januari dimana saya mendapatkan rezeki untuk membawa Bunda jalan - jalan ke beberapa kota yang belum pernah dikunjungi oleh beliau. Dan ternyata semua kota tersebut sangat di luar ekspektasi kami dan berujung menjadi sebuah perjalanan yang bukan hanya meninggalkan kenangan manis, serta berhasil memberikan kekuatan ke saya, tetapi juga seolah - olah menjadi awal dari kejutan - kejutan manis lainnya. Seperti Februari yang juga menjadi salah satu highlight tahun ini, yaitu ketika seseorang yang selama beberapa tahun ini hilang-muncul dalam hidup saya akhirnya enggak menghilang lagi karena kali ini kami memilih untuk mencoba memulai kembali.

Maret dan April juga terasa menyenangkan karena ada beberapa orang baru di hidup saya yang membuat saya merasa semakin nyaman di Rotterdam. Meski di saat yang bersamaan, ada juga orang - orang yang membuat saya enggak nyaman. Cuma yaa yang namanya hidup, pasti selalu begitu kan? Selalu ada kurang dan lebihnya agar tetap seimbang. Yang jelas, saya udah menantikan bulan Mei karena akhirnya saya kembali ke Indonesia! Bukan hanya temu kangen dengan keluarga, Ican, sahabat, dan beberapa teman lama yang udah lama banget enggak ketemu; selama empat bulan disana saya juga cukup banyak berkenalan dengan orang - orang baru. Semuanya terasa menyenangkan sesuai dengan yang diharapkan hingga di pertengahan tahun, ketika semesta kembali memberikan kejutan lain. Sayangnya kali ini bukan sebuah kejutan yang manis. Saya kembali berhadapan dengan perasaan cemas dan takut sampai ke tahap yang melebihi kapasitas saya. Kali itu menyadarkan saya  bahwa apa yang saya rasakan setahun sebelumnya ketika di Rotterdam, ternyata juga saya hadapi di tempat dimana hampir tidak ada jarak yang memisahkan antara saya dengan orang - orang terdekat saya. Dan yang lebih enggak disangka, ternyata obat yang bisa mengembalikan ketenangan saya adalah dengan kembali ke Rotterdam.


Akhir September, perlahan segalanya mulai terasa ringan kembali, mungkin karena satu persatu urusan mulai teratasi. Terlepas dari kondisi yang lebih baik dari sebulan sebelumnya, sebenarnya jalan yang saya lalui masih sama. Ada satu minggu dimana saya bisa fokus melakukan riset saya tanpa terganggu oleh perasaan dan pikiran saya sendiri. Tapi ada juga satu minggu dimana yang ingin saya lakukan hanyalah berada di atas tempat tidur dengan berbalutkan selimut sambil ditemani drama Korea atau buku untuk mengalihkan diri yang enggak menentu. Masih ada pagi dimana begitu bangun tidur rasanya badan enggak enak banget. Namun ada juga pagi dimana saya lupa dengan apa yang saya rasakan ketika bangun tidur karena terlalu fokus dengan riset saya. Kondisi tersebut terus berlangsung hingga pertengahan November. Kali ini, semesta kembali memberi saya kejutan. Lagi - lagi, yang saya dapatkan bukanlah kejutan manis. Ada satu rencana di bulan ini yang udah saya nantikan, namun ternyata berujung kecewa. Saking kecewanya, saya merasa seperti ditampar. Mungkin terdengar berlebihan, tapi saya enggak menemukan kata - kata lain yang lebih tepat untuk merepresentasikan apa yang saya rasakan selama bulan November.

I became overwhelmed by the disappointment from harbouring too much expectation towards certain people. Kali ini saya enggak menangis. I wasn't even be able to feel any anger or sadness. Yang ada hanyalah sekujur badan yang terasa lemas enggak karuan, dan begitu juga dengan emosi saya. Lebih sensitif dari biasanya dan mudah sekali cranky bahkan dengan hal - hal kecil sekalipun. Enggak jarang otak saya juga lebih didominasi oleh pikiran negatif yang pada akhirnya membawa kepedihan yang sama dengan apa yang saya rasakan setahun sebelumnya. Dan disini jugalah, muncul kejutan lainnya. Rupanya, mungkin karena saya terlalu jenuh dengan kondisi yang stagnan ini, ada sisi lain dalam diri saya yang memberontak. Memang dari pengalaman saya sebelumnya, jika terlalu lama dalam kejenuhan, ada saat dimana akhirnya akal sehat saya kembali muncul. Lalu saya mulai mempertanyakan beberapa hal terkait perasaan saya, yang udah jelas enggak bisa masuk di akal sehat saya. Di saat itulah saya akhirnya berbalik arah sambil mengucap, 'lo enggak bisa kaya gini terus, zu. ini udah enggak masuk akal'. Rasanya seperti abis patah hati dan dikecewakan berkali - kali dengan seseorang yang kita sayang hingga akhirnya tersadar bahwa orang itu enggak worth it buat kita, apalagi untuk ditangisi terus menerus. Iya, rasanya persis seperti itu. Seperti terlalu lelah dengan kekecewaan yang akhirnya membawa saya ke titik jenuh, yang kemudian mempertemukan saya dengan titik balik.


It was only in December when I reached at certain point where I was so tired of being controlled by the anxiety, dependence, and fear which had rendered me weak, not only mentally but also physically. At that time, there was this strong sudden longing for solo travel, something which I hadn't feel in quiet a long time. Tentu aja ini adalah suatu hal yang sangat mengejutkan bagi saya. Bagaimana enggak? Baru aja di awal tahun ini saya membatin dan meyakinkan diri saya bahwa saya enggak akan pernah bisa solo travel dan enggak mau kalo bukan karena urusan kerjaan. I found myself so frightened by the concept of solo travel. 'I don't think I have the courage and strength to travel alone again, ever in my life' or 'I have already passed that phase of my life... it only suited me in my early 20s and now I don't mind traveling with other people, even those who aren't close to me, as long as I'm not alone' are the kind of thoughts that were in my head. Tapi bukan hidup namanya kalau enggak suka memberikan kejutan. Kali ini semua pikiran tersebut seperti hilang ditelan bumi. Enggak ada lagi perasaan yang membuat saya merasa bahwa saya enggak bisa sendirian. Saya enggak bilang bahwa ketakutan enggak menghampiri saya sama sekali. Cuma alhamdulillah banget, perjalanan ini dimudahkan sekali dari awal hingga akhir. Setiap kali ada perasaan takut atau setiap kali saya berada di dalam situasi yang membuat saya mulai cemas, setiap kali juga ada pertolongan yang datang. As if the universe itself was urging me to go. To get myself into more a comfortable frame of mind. To let go of things I would never be able to change. And indeed, to return to the me who would be lifted by her fear, not brought down by it. 

Dan saya bersyukur, sangat bersyukur, akhirnya saya tetap melakukan perjalanan seorang diri ke Skandinavia, tempat yang sudah lama di dalam bucket list saya. Karena dengan perjalanan ini menyadarkan saya satu hal bahwa sekalipun ada sisi yang udah retak dalam diri saya, tapi seenggaknya masih ada sisi - sisi lain dalam diri saya yang masih kokoh hingga bisa menutupi sisi retak itu. Karena dari perjalanan ini, saya menemukan diri saya yang masih sama seperti diri saya lima tahun lalu, yang bisa menikmati perjalanan seorang diri, bahkan kembali ke akal sehat saya bahwa lebih baik sendiri daripada bersama dengan orang yang salah. And most of all, after this trip, I have never felt this confident and brave to face the year ahead; the year where I turn 27th and the 3rd year of my PhD; both have been considered as the toughest year. 

Thanks 2017, for all the surprises, the lovely and the unpleasant ones, you gave me.