February 01, 2016

Begroeting, N.


Kalau dipikir – pikir hidup itu lucu dan selalu berhasil membuat saya gemas dengan berbagai kejutan yang diberikannya. Ini bukanlah pertama atau kedua atau ketiga kalinya saya mengalaminya. Yang jelas, tanpa disadari, sejak sepuluh tahun yang lalu hingga hari ini, semesta sepertinya sudah memberikan beberapa pertanda kepada saya tentang sebuah hubungan antara saya dengan Negara Van Oranje ini. Diantara berbagai pilihan tempat makan untuk merayakan ulang tahun saya ke-16, pilihan saya jatuh pada HEMA. Padahal saya bukan penggemar makanan atau punya minat tertentu dengan budaya Belanda. Bahkan bisa dibilang rasa ketertarikan saya terhadap negara ini dibandingkan negara lainnya di Eropa, berada di beberapa peringkat terbawah. Hal ini dibuktikan dengan tiga tahun yang lalu saat saya merencanakan Euro-trip. Diantara 7 negara Eropa tujuan saya, enggak terbersit sekalipun untuk memasukkan negara ini. Sekalipun orang – orang mengatakan bahwa dengan melamar aplikasi visa ke Belanda akan memudahkan kemungkinan untuk menerima visa Schengen; saya tetap bersikeras untuk enggak melamar visa ke kedutaan Belanda di UK karena saya memang enggak tertarik untuk mengunjunginya. Dan ujung – ujungnya lamaran visa saya ditolak mentah – mentah oleh Kedutaan Perancis dan Swiss. Kemudian hal lainnya adalah saat saya sedang mencari ide untuk nama secondhand shop yang ingin saya jalani. Setelah mencari beberapa nama, akhirnya pilihan saya jatuh pada sebuah kata yang berasal dari bahasa Dutch. Padahal saat itu saya memilihnya hanya karena diantara berbagai bahasa yang saya translate, kata yang paling pas didengar dan mudah diingat adalah Tweedehands. Lalu kali ini, rencana saya ke Inggris akhirnya berubah menjadi ke negara ini dengan beberapa pertimbangan dan perubahan rencana ketika sedang mempersiapkan sekolah saya sejak tahun lalu. 
For whatever reason the universe has brought me here, I hope this is the beginning of something big and wonderful.  


So, hello, Netherlands. I know we're gonna have a good time :)   

January 26, 2016

Cafe & Restaurant Hopping in Bali (Part Two)

• Le Pirate •
Di saat kebanyakan orang mengunjungi Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan untuk snorkeling, mengunjungi tempat penangkaran kura - kura, bermain - main di beberapa pantainya yang terkenal, atau datang ke hutan mangrove; satu tujuan utama saya dan Icha adalah memenuhi rasa penasaran kami untuk mengunjungi Le Pirate! Sebenarnya waktu tahun lalu ke Gili Trawangan, saya udah sempat ke cabang Le Pirate yang baru buka disana. Nah, berhubung tempatnya cukup berbeda antara Le Pirate yang di Gili Trawangan dengan yang ada di Nusa Ceningan ini, jadinya rasa penasaran saya masih belum sepenuhnya terpuaskan. Huehe. Walaupun ternyata tempatnya lebih kecil dari yang ada di Gili serta makanannya yang mengikuti "lidah para bule" (baca: kurang ada rasanya), tapi dengan pemandangannya yang memang lebih ciamik, tempat ini bisa jadi alternatif buat leyeh - leyeh di siang bolong sambil baca buku atau sekedar menikmati hidup :3







• La Laguna
Ketika mendengar cerita betapa penuhnya tempat ini, baik dari beberapa blogger maupun langsung dari salah satu teman saya yang baru - baru ini mengunjungi La Laguna, kami disarankan untuk mereservasi sehari sebelumnya. Apalagi rencana kami kesini adalah hari Sabtu, yang mana pasti akan lebih penuh dari biasanya. Tapi sayangnya, beberapa kali menelfon, enggak sekalipun bisa terhubung. Akhirnya saya dan Icha pun setuju kalau kami datang kesini saat siang hari, yang mana kemungkinan tempat ini ramai akan lebih kecil dibandingkan ketika kami datang di sore hari - waktu dimana banyak pengunjung yang datang untuk menikmati sunset. Ternyata semuanya sesuai dengan rencana kami. Saat itu sekitar pukul setengah 12 siang dan masih sepi banget! Bahkan saya sempat ragu kalau tempat ini udah buka, saking sepinya. Tapi memang tujuan kami datang kesini buat santai - santai, menikmati suasananya, dan menghindari keramaian; sehingga saya dan Icha sih senang - senang aja dengan kondisi restoran yang masih sepi saat itu. Malahan saya jadi bisa lebih leluasa buat foto - foto dekorasi tempat ini yang menyimpan begitu banyak detail yang menarik serta menggemaskan. Buat kamu yang sedang mencari inspirasi untuk halaman rumah atau outdoor decor lainnya, I highly recommend you to visit this place!












• The Deck •
Mungkin karena tema jalan - jalan kali ini memang liburan santai, jadinya bawaan kami pengen leyeh - leyeh melulu. Enggak lama setelah kami pergi dari Le Pirate, saya dan Icha sempat mampir ke Blue Lagoon, Dream Beach, serta Mushroom Bay. Tapi ketika mengunjungi ketiga tempat tersebut pun kami enggak betah buat lama - lama karena suasana siang itu memang panas dan terik banget! Pokoknya bawaannya pengen berteduh aja sambil duduk menikmati laut *gaya banget emang!*, haha! Alhasil ketika masih ada waktu satu jam yang tersisa sebelum keberangkatan kapal terakhir ke Sanur, kami mencari tempat lain di Nusa Lembongan yang kira - kira worth the visit. Dan setelah mencari beberapa review, pilihan kami jatuh pada restoran yang satu ini. Dilihat dari variasi makanan dan minumannya, The Deck menawarkan lebih banyak pilihan daripada Le Pirate. Sayangnya saat itu perut kami masih sangat full, sehingga kami hanya mencoba green smoothie-nya yang enggak hanya sehat tapi juga segeeer banget!







January 22, 2016

Cafe and Restaurant Hopping in Bali (Part One)

Mungkin karena udah beberapa bulan enggak melakukan perjalanan keluar pulau Jawa; atau karena merasa ini liburan terakhir kali saya menikmati pantai di Indonesia hingga mungkin baru tahun depan bisa merasakannya lagi; atau karena Icha, teman kerja saya, yang juga punya 'visi' yang sama buat mengunjungi beberapa kafe dan restoran di Bali; atau juga karena udah lama saya enggak melakukan hobi saya untuk memfoto kafe dan restoran yang menarik hati saya; yang jelas ketika di awal tahun saya diberi kerjaan dadakan ke Bali, saya yang biasanya enggak terlalu bersemangat ketika diajak ke pulau seribu umat ini, tumben - tumbenan sekarang jadi semangat banget buat extend dua hari supaya bisa sekalian berlibur *huehehe*. So, here's my weekend trip report from the Island of the Gods! 

• Single Finn •
Mungkin kalau bukan karena dikasih tau Icha bahwa tempat ini lagi happening banget di media sosial terutama Instagram dan Path, sampai sekarang saya enggak tau apa itu Single Finn. Padahal sekitar satu setengah tahun yang lalu saya udah sempat mengunjungi Blue Point Beach, namun sama sekali enggak menyadari keberadaan restoran ini. Dan kalau bukan karena penasaran untuk mencoba smoothie bowl-nya (yang ternyata ada juga di Seminyak!), saya enggak akan segitunya mendukung niat Icha buat jauh - jauh pergi ke Uluwatu dari hotel kami di Seminyak, hanya untuk mengunjungi restoran ini. Untungnya, begitu sampai disana kami langsung dapat tempat duduk (apparently, beberapa saat setelahnya, terutama mendekati waktu sunset, tempat ini mendadak jadi lebih crowded). Terlepas dari harganya yang overpriced (what do you expect-lah yaa makan di tempat kaya ini), sejujurnya saya puas dengan smoothie bowl yang saya pesan, "Uluwatu" (terbuat dari jus buah naga, jus apple dan raspberries, dengan topping pisang, strawberry and coconut flakes) serta vegetarian pizza-nya!

Address: Jalan Mamo, Labuan Sait, Blue Point, Uluwatu. 


Salah satu foto 'wajib' di Single Finn: smoothie 'Nalu Bowls' dengan laut sebagai background-nya :)) 




Sekilas terlihat mirip Rock Bar, yaa! 

"Uluwatu" smoothie bowl and veggie pizza! 

• La Favela •
Sekilas ketika melewati jejeran restoran dan kafe di sepanjang jalan Kayu Aya, Seminyak, kemungkinan besar kamu enggak akan menyadari keberadaan tempat ini. Penampakan luarnya yang terlihat kecil dan dipenuhi oleh tanaman berjalar, membuat tempat ini mudah sekali untuk terlewati begitu saja. Padahal begitu masuk ke dalamnya, tempat ini jauh lebih luas dari yang saya bayangkan sebelumnya! Sebenarnya udah dari dua tahun yang lalu saya ingin mengunjungi restoran yang satu ini. Tepatnya sih semenjak melihat foto - foto salah seorang fotografer favorit saya, Nicoline Patricia Malina, yang sempat posting beberapa sudut tempat ini di akun Instagram-nya.    Dengan sentuhan interior-nya yang berbeda di setiap sisi ruangan, La Favela berhasil membuat saya terkesima saat melihat berbagai dekorasi vintage-nya, merasa takut ketika memasuki beberapa ruangan yang menurut saya terlalu suram dan misterius, hingga merasa tenang saat berada di antara tanaman dan pepohonan hijau yang memenuhi restoran ini.

Address: Jalan Kayu Aya No.177X, Seminyak.







• The Dusty Cafe •
Sometimes the best things come in an unexpected way. Mungkin kalimat tersebut paling tepat untuk mewakili pikiran saya ketika tanpa sengaja melihat kafe mungil ini saat saya dan Icha sedang berjalan kaki dalam rangka mencari tempat untuk makan malam sekaligus mengerjakan beberapa kerjaan yang belum selesai. Dengan kaca transparannya yang memperlihatkan cahaya lampu dari dalam restoran yang berdindingkan batu bata merah ini, serta pemandangan orang - orang di dalamnya yang sedang mengobrol dan menikmati makan malam mereka; rasanya enggak heran kalau hampir setiap orang yang melewati The Dusty Cafe pasti sempat berhenti sejenak melihat suasana didalamnya, kemudian melihat daftar menu yang tersedia di depan pintu, sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam kafe ini. Tanpa melihat rating dan review dari Zomato atau Trip Advisor, saya yang udah tertarik sejak pertama kali melihatnya dan Icha yang saat itu mungkin udah pasrah karena sudah berjalan 1.5km namun belum ada restoran yang tepat untuk menyelesaikan kerjaan kami selama beberapa jam, akhirnya menetapkan hati kami disini. Hasilnya, kami sama sekali enggak menyesal telah memilih tempat ini. Bahkan, saya sangat merekomendasikan tempat ini. Bukan hanya suasananya yang sangat nyaman (apalagi kalau kamu duduk tepat di tempat duduk kami), tetapi juga makanannya yang had fully satisfied the cravings of my empty stomach

Address: Jalan Camplung Tanduk no. 4, Seminyak.







Enggak perlu alasan untuk menjadikan tempat ini sebagai spot favorit bagi kami 

The best veggie burger I've ever had. Seriously!  



Secangkir cappucinno yang rasanya paling pas di lidah saya. Enggak terlalu pahit hingga saya enggak perlu menambahkan gula. 

January 17, 2016

When I Talk About Me and My Happiness

Wow. Ini hanya perasaan saya atau memang tahun 2016 berlalu begitu cepat yaaa? Seriously, it seems like only yesterday I posted something here. Dan sekarang udah tujuh belas hari terlewati begitu aja! Niat di hari pertama sih maunya mengucapkan selamat datang pada tahun 2016 dan menulis apa aja yang udah saya lalui satu tahun sebelumnya. Eeeh, enggak taunya dapat kabar kalau ada kerjaan dadakan yang mengharuskan saya begadang beberapa malam, dan setelah itu langsung dilanjutkan dengan weekend getaway. Alhasil, baru hari ini deh bisa santai fokus menulis tanpa diganggu oleh hal lain :3

Salah satu keuntungan yang saya dapatkan dari menulis kejadian dan pemikiran yang saya lalui setiap tahunnya adalah kesempatan untuk bisa membaca kembali berbagai postingan tersebut di tahun - tahun berikutnya dan menyadarkan saya bahwa ternyata setiap tahun memiliki tema dan warna yang berbeda. And I guess the best words to describe last year's theme was "happiness". Bisa dibilang setahun kemarin banyak memberikan saya pelajaran tentang makna kebahagiaan yang belum pernah saya sadari sebelumnya, atau justru sudah terlupakan karena begitu banyak hal lain yang menyita pikiran dan fokus saya. Makanya, enggak heran kalau kamu menemukan banyak kata - kata "kebahagiaan", "happiness", "bahagia", dan "menyenangkan" di blog saya selama setahun belakangan ini. Selain itu, saya juga belajar banyak tentang bagaimana menghadapi musuh terbesar sekaligus sahabat terbaik dalam hidup saya, yang enggak lain adalah diri saya sendiri.


Tahun lalu adalah tahun dimana batin saya benar - benar bergejolak. Walaupun banyak hal besar yang saya dapatkan, di sisi lain juga saya banyak kehilangan hal - hal esensial dalam hidup saya. Enggak heran kalau setiap beberapa bulan sekali saya mengalami masa - masa dimana terjadi fluktuasi suasana hati dan pikiran saya. Bukan suatu hal yang aneh lagi ketika suasana hati saya sedang sangat baik dan bersemangat tinggi, tiba - tiba beberapa menit kemudian langsung terlihat enggak berdaya, seolah - olah semua semangat tersebut menguap lebih cepat dari air yang sedang mendidih. Saya juga lebih mudah tersulut emosi untuk hal - hal sepele dan lebih cepat merasa bosan dengan hidup saya. Hampir setiap hari pikiran saya terasa kusut dan kepala saya terasa berat, rasanya seperti ada beban besar yang berada diatasnya. Hati saya juga sering terasa hampa dan sesak, seperti ada batu yang mengganjal. Akibat yang lebih fatal, semua itu bukan hanya mengurangi semangat dan menghambat saya untuk merealisasikan rencana - rencana yang udah dibuat, tetapi juga mempengaruhi keadaan psikologis saya.

Tentu aja saya enggak tinggal diam dengan kondisi saya ini. Sempat terbersit untuk mengikuti program meditasi dan bahkan konsultasi dengan psikiater. Tetapi akhirnya semua niat itu saya urungkan. Karena dari dulu saya kurang percaya dengan berbagai hal tersebut. Terlebih lagi, saya masih penasaran bagaimana meng-handle diri saya sendiri. Selama beberapa bulan saya terus mengobservasi diri saya dan membuat beberapa rencana sebagai upaya untuk mengurangi fluktuasi mood ini. Pertama, ikut yoga. Sebenarnya dulu saya udah sempat beberapa kali mencoba yoga di waktu dan tempat yang berbeda. Walaupun sebelumnya enggak terlalu berpengaruh dalam memberikan ketenangan bagi diri saya, saya masih penasaran untuk mencobanya lagi. Dan ternyata kali ini pun hasilnya sama. Akhirnya setelah tiga bulan menjalaninya, saya berhenti yoga. Kedua, melakukan perjalanan ke tempat baru. Biasanya salah satu cara ampuh meningkatkan semangat dan menstabilkan emosi saya adalah dengan traveling ke tempat yang belum pernah saya kunjungi. Anehnya, selama tahun lalu, enggak ada satu pun perjalanan yang benar - benar membuat saya pulang dengan membawa semangat dan kebahagiaan yang bertahan lama.

Di saat berbagai cara tersebut telah gagal, ujung - ujungnya saya memilih jalan paling mudah untuk membuat diri saya merasa "lebih baik", yang sebenarnya bukan membuat saya jadi baik, malahan jadi menimbulkan rasa bersalah setelah melakukannya, yaitu.... makan! Dan ini bukan sembarangan makanan yang bisa membuat saya bahagia. Bahkan sebagai orang yang udah paham dan telah menjalani pola makan sehat, ketika saya sedang emosi dan stres, memakan buah dan sayur sampai kenyang sekalipun tetap enggak bisa membuat saya tenang. Sebaliknya, emosi saya baru bisa mereda hanya saat saya makan makanan "tertentu" atau my favorite comfort foods, seperti roti, cokelat, teh susu panas, dan makanan manis bertepung lainnya. Berita baiknya, mereka memang bisa menstabilkan suasana hati saya. Tetapi di sisi lain, mereka enggak berhasil memberikan kebahagiaan dalam jangka panjang. Akibatnya, setiap hari saya masih mengalami kejenuhan dan emosi yang tidak stabil; dan di saat itu pula saya mencari makanan tersebut. Dari situ saya baru menyadari kalau saya termasuk orang yang mengalami Emotional Eating Disorder, atau biasa disebut juga dengan Binge Eating Disorder. Suatu kondisi dimana seseorang memiliki hasrat besar untuk makan, bukan karena lapar tetapi untuk meredakan emosi mereka. In other words, it is an act of using food to make ourselves feel better; to fill emotional needs, rather than to fill an empty stomach.


Begitu saya mengetahui bahwa saya termasuk orang yang mengalami emotional eating, saya langsung mencari cara supaya enggak bergantung dengan makanan. Tujuan saya bukan lagi hanya meredakan dan mencegah supaya emosi saya enggak fluktuatif, tetapi bagaimana saya bisa mengontrol pikiran saya. Dengan kata lain, bagaimana saya bisa mencapai "inner peace", a state of being mentally and spiritually at peace, with enough knowledge and understanding to keep oneself strong in the face of discord or stress (Wikipedia, 2015 – I usually don’t use Wikipedia as my reference, but this time I just couldn’t help myself). Lalu terpikirlah hal - hal yang dulu sering saya lakukan ketika sedang jenuh. Mulai dari hal paling sederhana sampai yang butuh effort agak besar, mulai dari materi hingga yang bukan materi, mulai dari yang hanya melibatkan faktor internal diri saya sampai yang melibatkan faktor eksternal. Dan disitulah saya memutuskan untuk membuat post series tentang #ReproductionOfHappiness. Sebuah program yang dibuat oleh saya untuk saya sendiri dalam rangka mengingat dan menjalankan kembali hal - hal yang dapat mereproduksi kebahagiaan saya.

Entah karena dari awal saya membuat #ROH ini memang sudah ada niat besar untuk menjadi pribadi yang lebih baik, sehingga mempengaruhi pikiran saya; atau memang saya sangat enjoy melakukan hal - hal yang udah lama saya enggak lakukan, yang sebenarnya merupakan happiness boosters bagi saya; atau karena dengan melakukan project ini justru melatih saya untuk lebih peka dan menghargai simple happiness di sekitar saya, sehingga membuat saya lebih bersyukur dan berpikir positif; yang jelas selama dua bulan kemarin melakukan #ROH ini, I've become emotionally stable and my life has never been better. Ternyata saya enggak perlu mengikuti program meditasi atau membeli adult colouring book *yang lagi ngehits banget itu loh :p* supaya bisa menurunkan tingkat stres dan menstabilkan emosi saya. Karena saya sadar bahwa setiap orang memiliki caranya masing - masing dalam mengontrol emosi dan mencapai "inner peace" mereka.

Alhamdulillah, sekarang saya juga enggak lagi menggantungkan kebahagiaan saya pada makanan. Walaupun belum sepenuhnya lepas dari emotional eating, tetapi saya udah jauh bisa mengontrol diri saya ketika butuh those comfort foods. Misalnya ketika saya lagi craving roti cokelat, saya bisa menggantinya dengan roti gandum dengan selai kacang yang lebih sehat dan rendah kalori; atau ketika saya lagi butuh susu cokelat panas, saya bisa menggantinya dengan teh. Intinya sih, saya tetap membahagiakan diri saya tanpa membuatnya merasa bersalah setelahnya. Selain itu, cara saya dalam menghadapi masalah - masalah dalam hidup pun juga banyak berubah. Saya yang biasanya sering cenderung berlarut - larut ketika barang kesayangan saya hilang, sekarang saya bisa mengontrol diri saya supaya enggak menyesali dan tetap bersyukur ketika bulan lalu tas saya dijambret. Saya yang biasanya langsung kehilangan mood seharian ketika menghadapi kondisi yang enggak sesuai dengan ekspektasi saya, sekarang hanya butuh waktu beberapa menit untuk merasa kesal dan gondok, lalu menghirup nafas dalam - dalam dan mengeluarkannya perlahan - lahan, kemudian bisa mengembalikan mood saya dengan fokus pada hal dan kegiatan lain. Saya yang biasanya senggol-bacok-mode-on di saat mengalami masa - masa sulit, sekarang justru bisa mengubahnya menjadi suatu hal yang lucu dan bahkan menertawakan kesulitan tersebut. Saya juga bisa menahan emosi  untuk enggak terpancing dengan orang - orang yang ingin membuat "drama" dengan saya, dan akhirnya sekarang bisa berakhir dengan baik. Dan masih banyak perubahan positif lainnya yang saya rasakan dalam diri saya sejak saya bisa mengontrol pikiran dan emosi saya. Bahkan ternyata orang - orang terdekat saya menyadari hal ini dan sempat kebingungan dengan perubahan sikap saya. Ada yang menebak saya lagi suka sama orang lain lah, ada juga yang bilang kalau saya jadi psikolog aja karena bisa tenang menghadapi masalah - masalah yang saya lalui belakangan ini. Haha!
    

Sekilas kalau diperhatikan, hampir sebagian besar postingan #ROH sebelumnya selalu terkait dengan orang lain atau hal - hal lain di luar diri saya. Well, it seems only natural that as social living beings, our happiness much depends on other things beside ourselves; either it comes from other people, things and activities we love. Tetapi seringkali kita jadi lupa bahwa sebenarnya semua hal tersebut bisa membuat kita bahagia karena dari diri kita sendiri mengizinkannya untuk menjadikan hal tersebut menjadi hal - hal yang bisa membuat kita bahagia. All those external factors that makes us happy will only go to waste if we cant find happiness and peace within ourselves.

Berbicara tentang makna kebahagiaan, sebenarnya banyaaaak banget hal dan tentunya orang - orang yang sering memberikan suntikan kebahagiaan ke saya. Mulai dari menjalani quality time dengan keluarga saya, main sama keponakan - keponakan, hunting baju bekas, lari pagi/sore sambil mendengarkan lagu dari iPod, ngebolang keliling kota mengunjungi museum atau pameran seni yang sedang berlangsung dengan menggunakan transportasi umum, karaoke dengan teman - teman saya, menggunakan outfit yang berbeda dari biasanya namun tetap membuat saya merasa nyaman, pergi ke salon untuk creambath atau massage, bereksperimen membuat dekorasi baru dan masih banyak hal lainnya. Rencana awalnya sih, saya ingin menulis satu per satu tentang kegiatan tersebut. Tapi ternyata enggak semua hal - hal yang saya lakukan tersebut bisa selalu ditulis disini, karena sejujurnya membutuhkan waktu, tenaga dan pikiran yang lebih. Jika dipaksakan yang ada malah saya enggak bisa menikmati sepenuhnya. Nah, berhubung juga tujuan utama saya udah tercapai, akhirnya saya memutuskan untuk berhenti menulis post series #ROH untuk sementara waktu dan memulainya lagi ketika saya membutuhkannya kembali. It could be next month or even year :)