June 30, 2016

#ROH 37 : Traditional Markets

Sejak saya kecil, kalau enggak salah sih sejak masih duduk di bangku sekolah dasar, Bunda sering mengajak saya (dan secara bergilir, juga mengajak saudara - saudara saya lainnya) untuk ikut menemani beliau belanja di Pasar Ampera, sebuah pasar tradisional yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah kami. Pasar tersebut bukanlah sebuah pasar yang bisa dikatakan nyaman. Lantainya yang becek dan kotor, bahkan di beberapa bagian terlihat genangan air, membuat saya harus ekstra hati - hati saat berjalan supaya tidak terpeleset. Udaranya yang pengap dan diselimuti oleh aroma yang tidak biasa; campuran antara bau berbagai sayur dan buah yang masih belum sepenuhnya bersih dari tanah, bumbu rempah - rempah yang menusuk di hidung, hingga ikan dan daging yang amis; terkadang membuat saya pusing. Dengan berbagai kondisi tersebut juga sempat membuat saya awalnya merasa berat hati untuk menemani Bunda kesana. Belum lagi dengan tentengan belanjaan yang hampir selalu membuat kedua tangan saya terasa sangat pegal setelahnya. Namun anehnya, semakin sering saya mengunjunginya, justru saya semakin senang ketika diajak belanja disana. Apalagi kalau setelah itu, Bunda mengajak saya untuk makan di salah satu warung yang menjual semangkuk bubur kacang hijau hangat, lengkap dengan roti tawar putih yang lembut. Bukan, alasan utamanya bukan karena bubur kacang hijau itu kok, haha. Tapi karena saya merasa dibalik penampakkannya yang cenderung kumuh dan kotor tersebut, sebenarnya ada sesuatu yang membuat pasar ini terasa nyaman. Mungkin ini terdengar aneh, tapi saya menemukan jawabannya justru ketika empat tahun yang lalu saat saya kuliah di Inggris dan juga sejak enam bulan yang lalu saya tinggal di Rotterdam.   




Saat itu saya sedang jalan - jalan di akhir pekan mengunjungi New Forest, sebuah daerah pedesaan di sekitar Bournemouth, dan tiba - tiba pandangan mata saya tertuju pada sebuah kumpulan tenda yang dipenuhi oleh para pengunjung. Penasaran melihatnya, langsung saya hampiri. Sebenarnya tempat ini sederhana, hanya berupa kumpulan stand yang lebih mirip dengan warung tenda di Jakarta. Namun berbeda dengan warung tenda yang biasanya menyajikan makanan yang sudah dimasak, para penjual disini lebih banyak menyajikan sayur mayur, buah - buahan, dan daging segar. Beberapa diantaranya menyebut tempat ini sebagai farmers markets, sedangkan ada juga yang menyebutnya hanya dengan sebutan market. Secara harfiah sih memang tempat ini adalah sebuah tempat dimana para farmers langsung menjual hasil panen mereka kepada calon pembeli. Tapi dari pengalaman saya mengunjungi beberapa farmers markets di Inggris dan Eropa, kebanyakan dari markets tersebut juga menjual jenis barang dagangan lainnya seperti  keju, berbagai homemade jam, kue - kue manis, roti; bahkan ada juga yang menjual bunga, pakaian, peralatan rumah tangga, hingga buku - buku bekas. Entah kenapa, meskipun kondisi tempatnya sangat berbeda, tapi ada satu hal yang langsung mengingatkan farmers market ini dengan pasar tradisional yang saya pernah kunjungi di Indonesia, entah itu Pasar Ampera, Pasar Simpang Dago Bandung, atau Pasar Beringharjo Yogyakarta. Dan ya, disitu saya menyadari bahwa seorang saya yang sebenarnya enggak menyukai tempat terlalu ramai, justru sangat menikmati keramaian di berbagai pasar ini. Mungkin karena hiruk pikuk tempat ini yang membuatnya terasa lebih hidup dibandingkan pasar modern, serta keramahan para penjual yang membuat saya enggak bisa menolak rasa nyaman yang diberikan tempat ini. 




Harus saya akui, meskipun udah menyadari kebahagiaan yang saya dapat saat berbelanja di pasar tradisional, tapi rasanya masih sulit untuk menjadikannya sebagai sebuah kebiasaan ketika tinggal kembali di Jakarta selama dua tahun kemarin. Semenjak pindah rumah dan tinggal terpisah dari orangtua saya, jadwal bangun tidur saya jadi lebih siang dari biasanya, sehingga setiap pagi langsung buru - buru berangkat kerja. Sedangkan saat akhir pekan, rasanya mager banget buat keluar pagi - pagi. Padahal di tempat tinggal saya saat itu juga sangat dekat dengan pasar tradisional lainnya. Tapi karena berbagai excuses tersebut akhirnya sebagian besar waktu saya berbelanja buah dan sayur dilakukan setelah pulang kerja di supermarket. Meskipun saya sepenuhnya sadar bahwa di dalam lubuk hati terdalam saya, ada sebuah perasaan bersalah karena tindakan saya ini bertolak belakang dari keinginan saya untuk mendukung peran pasar tradisional. Karena bertolak belakang dengan mimpi saya untuk bisa melihat pasar tradisional di Indonesia dengan fasilitas sebaik traditional markets yang saya temui di negara - negara maju.  




Mungkin karena selama dua tahun itu sebenarnya saya enggak merasa nyaman, jadinya semenjak saya pindah ke Rotterdam dan menemukan bahwa ada farmers market yang diadakan dua kali dalam seminggu di pusat kota, saya bukan main senangnya. Walaupun dengan saya berbelanja setiap minggu di pasar ini enggak akan mempengaruhi kondisi pasar tradisional di Indonesia, tapi setidaknya saya merasa lega aja mengetahui bahwa uang yang saya keluarkan langsung diberikan kepada masyarakat lokal disini. Terlepas dari itu, berbelanja di pasar ini juga sekaligus ajang refreshing bagi saya. Bahkan dari awal pindah sampai sekarang, alasan utama yang membuat saya pasti keluar dari lingkungan kampus minimal satu kali dalam seminggu adalah karena saya belanja stok mingguan sayur dan buah - buahan di pasar ini. Sekalipun ada waktu dimana saya mageeeer banget buat ke kota dan memilih belanja di supermarket yang letaknya lebih dekat dengan kampus, itu juga enggak lebih dari lima kali. Maklum deh, selain karena berbagai alasan sebelumnya yang udah saya bilang, faktor lainnya yang membuat saya lebih senang berbelanja di pasar tradisional adalah harga dan kualitasnya. Dengan kualitas sayur dan buah yang sama (bahkan seringkali lebih segar di pasar), harga yang diberikan di supermarket bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat lebih mahal! Kezel kan. Nah, tapi semenjak puasa, akhirnya mau enggak mau saya lebih sering belanja di supermarket. Belajar dari pengalaman saya yang pernah sekali berbelanja saat puasa di farmers market, pulang - pulang langsung lemes banget. Haha! Makanya pas minggu lalu saya kedatangan 'tamu bulanan', saya langsung memanfaatkannya untuk kembali berbelanja di farmers market :D   



June 26, 2016

Naples & Pompeii, 28 April 2016.

Gedung - gedung modern yang kelihatan tidak menarik karena sudah terlihat usang, apartemen padat yang memiliki balkoni dengan berbagai jemuran baju para penghuninya, serta lalu lintas yang amburadul. Seratus delapan puluh derajat berbeda dari pemandangan yang aku lihat selama di Roma. Masih merasa takjub dengan pemandangan di sekitarku, tiba - tiba aku mendengar suara mas Andie yang saat ini sedang membuka kaca depan mobil. "No, no, no! My car is already clean, you don't need to clean it up!".  Ujarnya, seraya menolak halus 'tawaran' seorang laki - laki yang tanpa disuruh saat ini sedang mengelap kaca depan mobil. Woah, sedetik kemudian langsung mengingatkanku dengan Jakarta. Namun tetap saja ia terus menyemprot dan mengelap kaca depan mobil ini; menghiraukan perkataan mas Andie. Lalu lagi - lagi secara paksa, ia meminta uang setelah selesai melakukan 'pekerjaan' nya itu. Akhirnya karena enggak ada pilihan lain, mas Andie memberikan 5 Euro sambil menggerutu. Dengan suasana di mobil yang masih cukup tegang, karena kondisi jalanan yang bikin hati deg - degan, mobil kami didatangi kembali oleh lelaki muda ketika sedang berhenti di sebuah lampu merah. Walaupun orang ini berbeda dari yang sebelumnya kami temui, namun ia sudah siap dengan 'peralatan' yang sama. Belajar dari pengalaman sebelumnya, kali ini sebelum orang tersebut mengeluarkan peralatannya, mas Andie sambil memasang wajah galaknya langsung membuka jendela dan berteriak "Ehh, jangan! jangan disemprot! Udah bersih mobil gw. Entar kalo lo lap yang ada mobil gw rusak nih!". Dan di luar dugaan, justru kali ini berhasil membuat orang tersebut kebingungan dan langsung menjauh dari kami. Melihat reaksinya tersebut, membuat kami ikutan bingung dan akhirnya enggak bisa menahan tawa. Ternyata Napolitano lebih paham Bahasa Indonesia daripada English! :))





Melihat berbagai kondisi kota ini, enggak mengherankan jika banyak orang yang mengingatkan untuk berhati - hati selama di Naples atau Napoli, dan bahkan cukup banyak yang juga tidak merekomendasikan kota ini untuk dikunjungi. Kalau bukan karena lokasinya yang terletak sejalan menuju Pompeii dan juga karena gelarnya sebagai kota kelahiran Pizza, mungkin kota ini enggak akan dimasukkan ke dalam rencana perjalanan kami. Tapi justru dari pengalamanku berkunjung ke Pizzeria Di Matteo, salah satu restoran yang paling banyak direkomendasikan oleh netizen, disitu aku baru menyadari bahwa kota ini sangat menarik untuk dikunjungi karena keunikan dan atmosfer yang dimiliknya. Restoran ini hanyalah sebuah restoran mungil yang terletak di sebuah jalanan kecil yang ramai oleh masyarakat lokal. Mulai dari restoran keluarga yang dipenuhi oleh para pengunjung yang sedang mengantri untuk masuk atau justru sedang duduk asik mengobrol sambil menyantap pizza yang nampak begitu lezat. Penjual pasta yang menjajakan berbagai bentuk dan jenis pasta dari yang sering aku lihat hingga yang belum pernah kulihat sebelumnya. Pedagang kue yang menjajakan kue - kue basah yang beberapa diantaranya terlihat seperti jajanan yang dijual di Pasar 'Subuh' Senen. Dan masih banyak lagi hal - hal yang mengubah wajah Napoli di mataku. Even though I only spend a couple of hours here, all those scenes have given me a deeper, real authentic experience. Oh, and the Pizza Calzone! It tastes sooooo good. 






Berbeda dari Napoli, bagiku Pompeii justru terasa.... hambar. Mungkin karena kota-nya yang sekilas terlihat sepi, atau mungkin karena selama di Pompeii aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk berkunjung ke Pompeii Ruins. Memangtujuan utama kami kesini pun karena penasaran dengan puing - puing kota lama yang tersisa akibat letusan Gunung Vesuvius dan sempat terkubur selama ribuan tahun. Membayangkan bagaimana peristiwa yang tiba - tiba saja terjadi dalam kurun waktu kurang dari 24 jam dan berhasil merenggut belasan ribu jiwa, cukup membuatku merinding dan menyadarkanku kembali akan kematian. Tapi terlepas dari itu, Pompeii hanyalah sebuah kota wisata yang dipenuhi oleh para turis. Satu - satunya pengalaman mengesankan yang aku dapat di kota ini justru datang dari tempat penginapan kami. Selama dua malam kami menginap di B&B yang terasa nyaman, bukan hanya karena tempatnya yang cantik, tetapi juga karena sang pemiliknya adalah keluarga yang sangat ramah dan baik hati. 







June 22, 2016

Pelajaran Seperempat Abad #1

Awalnya saya sempat ragu untuk menulis ini semua. Pertama, karena menurut saya ini agak lebih personal dibandingkan beberapa postingan saya sebelumnya. Kedua, karena dari hasil kepo sekilas, ternyata banyak pembaca blog ini adalah orang - orang berhijab. Dan ini jadi beban tersendiri bagi saya karena takut mengecewakan mereka atau justru seakan memperbolehkan orang berhijab untuk berpacaran. Jujur, saya sangat kagum dengan orang - orang yang bisa langsung menikah tanpa melalui proses pacaran atau menjaga perasaan mereka dengan orang yang bukan muhrim-nya. Tapi saya sepenuhnya sadar bahwa saya belum bisa seperti itu. Saya juga sadar bahwa apapun pandangan kamu terhadap pacaran, sebenarnya ini semua kembali ke tanggung jawab masing - masing orang untuk menentukan pilihannya.

Tujuan utama saya menceritakan ini semua adalah saya ingin memberikan pandangan lain tentang pembelajaran yang saya dapatkan dari sebuah kesendirian. Karena semakin kesini saya semakin gemas melihat masih banyaknya orang, terutama masyarakat Indonesia, yang sering memandang status single atau 'jomblo' sebagai suatu hal yang menyedihkan atau justru malah dijadikan sebagai bahan ejekkan. Bahkan saya sempat termakan pandangan orang - orang yang menganggap status single ini adalah suatu hal yang humiliating. I used to feel ashamed to admit that I'm single. Padahal dari pengalaman saya menjadi jomblo selama setahun ini banyak memberikan perubahan positif bagi diri dan hidup saya. Mungkin karena itu juga, akhirnya membuat saya enggak bisa menahan lagi untuk menulis pengalaman dan pemikiran saya tentang makna dibalik sebuah status single. Tentang makna dibalik sebuah kata jomblo.



Bisa dibilang dalam kurun waktu kurang-lebih sembilan tahun ini saya hampir selalu memiliki status in a relationship. Walaupun begitu, saya selalu mengira bahwa kondisi tersebut enggak akan mengurangi kemandirian saya, dan akhirnya membuat saya berpikir bahwa bukanlah suatu hal yang sulit untuk kembali menjalani hidup seorang diri. Karena dalam rentang waktu yang cukup panjang tersebut, saya sempat beberapa kali mengalami rasanya kehilangan dan menjalani hari - hari sendirian. Karena sekalipun saya punya pasangan, saya bukan tipe orang yang setiap hari harus bertemu atau setiap beberapa jam sekali harus memberi kabar. Sekalipun saya punya pasangan, saya selalu berusaha untuk enggak terlalu bergantung dengan pasangan saya. Saya masih sering pergi sendirian tanpa ditemani atau diantar oleh pasangan saya; saya enggak pernah meminta pasangan saya untuk membawakan tas atau belanjaan saya jika masih bisa dipegang oleh kedua tangan saya sendiri; saya juga enggak membiarkan pasangan saya untuk membayar apa yang masih bisa saya bayar dengan uang saya sendiri; saya masih bisa menghadapi beberapa kesulitan yang bisa saya atasi seorang diri tanpa bantuan pasangan saya. Sehingga, meskipun saya sempat menangis saat hubungan kami berakhir, saya enggak pernah sampai berlarut - larut dalam kesedihan. Saya enggak pernah merasakan hari - hari dimana saya enggak nafsu makan, atau merasa hidup saya enggak berarti lagi, atau susah move on hingga berbulan - bulan; dan berbagai hal lainnya yang selama ini cukup sering saya lihat dari pengalaman banyak orang ketika mereka kembali sendiri. Tapi ternyata justru setelah saya benar - benar sendirian dalam waktu setahun ini, saya baru bisa merasakan betapa beratnya berjalan seorang diri, dan lebih dari itu, saya akhirnya menyadari betapa besar kondisi ini mengurangi kebahagiaan diri saya. 


Tanpa saya sadari, saya yang pendiam dan biasanya jadi pendengar setia berbagai cerita orang lain; saya bisa menjadi orang yang bawel saat menceritakan berbagai pemikiran dan pengalaman saya, mulai dari hal - hal paling penting hingga enggak penting sekalipun. Karena saya tau bahwa ketika saya mengutarakan semua pemikiran dan perasaan saya, pasangan saya pasti akan mendengarkannya dengan seksama. Atau sekalipun enggak, saya bisa menegur atau menunjukkan kekesalan saya dan memintanya untuk mendengar; yang merupakan suatu hal yang sulit saya lakukan ke orang lain.

Tanpa saya sadari, saya yang tertutup ini bisa pelan - pelan membuka diri. Mulai dari berbagi masalah hidup yang kompleks, memperlihatkan kekurangan dan keunikan saya, melontarkan lame jokes, serta menunjukkan kelebihan diri saya. Karena saya enggak takut di-judge oleh pasangan saya sendiri. Karena saya enggak takut untuk mengecewakan pasangan saya. Karena saya enggak takut terlihat salah di mata pasangan saya. Karena saya tau pasangan saya enggak akan menganggap saya sombong saat saya mempamerkan keahlian saya. Karena saya tau bahwa pasangan saya bisa menerima saya apa adanya; yang merupakan suatu hal yang sulit saya lakukan ke orang lain.

Tanpa saya sadari, saya yang jarang mengajak jalan orang lain, sekalipun teman - teman terdekat saya; bisa dengan tanpa ragu mengajak duluan pasangan saya untuk melakukan berbagai kegiatan menyenangkan di saat saya bosan atau butuh hiburan. Mulai dari hanya sekedar mengobrol di kafe, menonton film terbaru di bioskop, mengunjungi tempat - tempat baru di kota, olahraga bareng, dan kegiatan lainnya. Karena saya enggak perlu merasa sungkan untuk mengajaknya. Karena saya tau bahwa kecil kemungkinan pasangan saya akan menolak untuk menemani saya. Atau sekalipun rencana yang udah dibuat ternyata enggak jadi karena suatu hal, saya bisa marah karena saya sudah menunda rencana lain untuk pergi bersama; yang merupakan suatu hal yang sulit saya lakukan ke orang lain.


Tanpa saya sadari, saya yang jarang menyapa atau menanyakan kabar duluan kepada orang lain, terutama melalui text message dan telefonbisa dengan tanpa ragu menyapa lebih dulu pasangan saya untuk sekedar menanyakan kabarnya hari ini, atau membuka percakapan panjang. Karena saya tau pasti sesibuk apapun pasangan saya, dia enggak akan merasa terganggu dengan telefon atau text dari saya. Sekalipun iya, pasti akan mengatakan sejujurnya dari awal bahwa sedang enggak bisa diganggu, sehingga saya bisa memahaminya dan enggak perlu menunggu balasannya dalam waktu lama tanpa ketakutan bahwa text saya enggak akan dibalas; sehingga saya enggak perlu overthinking dengan balasannya yang singkat dan padat. Atau sekalipun ternyata text saya hanya di-read, saya bisa menyapanya kembali dan menanyakan kenapa text saya enggak dibalas; yang merupakan suatu hal yang sulit saya lakukan ke orang lain.

Tanpa saya sadari, saya kehilangan sosok yang dapat membuat hati saya terasa nyaman setiap kali saya bangun tidur hanya dengan mengetahui bahwa ada seseorang yang menyayangi saya apa adanya, seseorang yang bisa saya ajak melakukan banyak hal tanpa rasa sungkan, seseorang yang bisa mendengarkan berbagai cerita saya. Mungkin karena dari awal menjalin sebuah hubungan, saya berusaha untuk menerima diri pasangan saya; maka tanpa saya sadari, saya juga berusaha untuk membuat pasangan saya menerima diri dan hidup saya apa adanya. Sampai akhirnya tanpa disadari, saya telah membuat pasangan saya menjadi pemeran utama dalam hidup saya. I didn't realise that I made him the source of my happiness. I didn't realise that I gave most of my attention to him.

Sekitar enam bulan pertama saya melewati hari - hari seorang diri, saya sempat merasa iri melihat pasangan - pasangan lain yang bisa bertahan lama hingga menikah, atau justru pasangan - pasangan baru yang memperlihatkan betapa lengkapnya hidup mereka setelah menemukan their other halves. Dan akhirnya membuat saya sedikit menyesali beberapa keputusan saya di masa lalu yang membuat saya kembali menghadapi status ini lagi. Mungkin kalau saya begini, jadinya enggak akan seperti sekarang. Atau kalau saja saya dulu enggak begitu, jadinya enggak akan seperti sekarang. Saya juga sempat termakan ketakutan saya sendiri karena pengaruh omongan orang - orang tentang status single saya ini dikaitkan dengan tingkat pendidikan saya (yang sekarang setiap kali mengingatnya malah membuat saya tertawa karena enggak habis pikir kenapa saya bisa sampai segitu takut dan khawatirnya dengan status saya ini). Mungkin karena terlalu fokus melihat hal - hal yang enggak saya miliki, tanpa disadari saya melupakan apa yang terjadi dalam hidup saya selama itu. Sehingga suatu hari ketika saya melihat kembali hidup saya, sudah banyak perubahan positif bukan hanya dalam diri saya, tetapi juga antara hubungan saya dengan Tuhan, dengan orang - orang terdekat saya, dengan orang - orang di sekitar saya, bahkan juga dengan banyak orang yang belum saya kenal. Di saat yang bersamaan, saya juga baru menyadari bahwa rasa hampa di hati saya yang sempat saya rasakan sebelumnya, semakin lama semakin menghilang. 


Walaupun saya akui bahwa masih banyak hal yang perlu saya tingkatkan untuk menjadi seseorang yang dicintai-Nya, tapi saya bisa merasakan kedekatan hubungan saya dengan Tuhan. Mulai dari ibadah saya yang meningkat dari sebelumnya, rasa sayang saya yang semakin besar, hingga tingkat kepercayaan saya dengan semua rencana-Nya. Sekarang ketika saya melihat kembali apa yang saya lalui di masa lalu saya, yang awalnya sempat saya sesalkan atau malah saya pertanyakan terhadap Tuhan kenapa saya harus melalui jalan tersebut, saat ini justru saya bersyukur karena semua pembelajaran tersebut menambah hal - hal positif dalam diri saya dan bisa membentuk diri saya seperti sekarang. Saya jadi lebih mempercayai bahwa apa yang Tuhan berikan ke saya baik di masa lalu saya maupun di masa sekarang; baik yang diberikan melalui hal - hal yang membuat saya menangis, maupun hal - hal yang membuat saya tertawa bahagia adalah hal yang terbaik bagi saya. Pembelajaran ini juga membuat saya enggak mengkhawatirkan masa depan saya terutama hal- hal yang berada di luar kendali saya, seperti urusan jodoh, karena saya percaya bahwa Tuhan pasti mempertemukan saya dengan orang yang terbaik di waktu yang terbaik. Mungkin tanpa menjadi single, saya masih belum bisa sepenuhnya pasrah dan percaya dengan jalan yang Tuhan berikan dalam hidup saya sejauh ini. Mungkin saya masih belum bisa merasa lega karena masih ada beberapa keputusan yang saya sesali di masa lalu.

Saya juga jadi lebih mempererat hubungan saya dengan beberapa orang yang sebenarnya udah lama menemani saya dan berperan sangat signifikan dalam hidup saya, tapi malah sering saya abaikan sebelumnya. Semenjak saya single, saya jadi lebih terbuka dengan orang tua saya dan komunikasi diantara kami pun meningkat pesat. Bahkan semenjak saya pindah ke Rotterdam, yang paling sering telefon dan videocall sama saya adalah Ayah dan Bunda. Di sisi lain, hubungan saya dengan kedua adik saya juga semakin dekat. Terutama dengan Gladyz, saya jadi jauh lebih sering menghabiskan waktu bersamanya; mulai dari menonton film, jalan - jalan, belanja, serta berbagai hal lainnya yang sebelumnya enggak sesering ini dilakukan bersama. Sementara itu dengan Ali, yang walaupun beberapa tahun ini kami jarang menghabiskan waktu bareng, tapi hubungan kami tetap dekat karena semakin sering berkomunikasi untuk berbagi pendapat tentang beberapa hal lainnya. Kedekatan lainnya yang juga saya rasakan adalah hubungan saya dengan kedua sahabat saya dari kecil, Fia dan Anna. Meskipun kami udah bersahabat 15 tahun dan terus keep in touch, tapi saya bisa bilang bahwa hubungan persahabatan kami enggak pernah sekuat seperti sekarang ini, ketika kami bertiga sama - sama dalam status single. Saya yang awalnya masih tertutup dengan mereka, sekarang malah sering menceritakan hari - hari saya dan bahkan kalau beberapa hari aja enggak komunikasi sama mereka di grup, rasanya ada yang kurang gitu. Mungkin tanpa kembali menjadi single, saya masih belum sepenuhnya menyadari betapa beruntungnya saya memiliki mereka sebagai orang - orang yang selalu menemani saya di saat saya sedang susah, memberikan dukungan serta meningkatkan kepercayaan diri saya.  




Semenjak jadi single, saya juga jadi lebih fokus dengan diri saya. Saya jadi lebih sering mempertanyakan beberapa perubahan yang terjadi dengan diri saya. Saya jadi memperhatikan hal - hal yang selama ini sudah ada di depan mata saya tapi luput dari perhatian saya. Saya jadi lebih sering memikirkan apa sebenarnya kelebihan dan kekurangan diri saya. Hingga akhirnya sekarang saya jadi lebih banyak memahami tentang diri saya sendiri, dan dengan begitu membuat saya lebih mencintai diri saya dengan segala kelebihan dan kekurangan diri saya, sambil terus berusaha untuk memperbaiki sisi buruk diri saya. Saya juga jadi lebih memperhatikan hal - hal dalam diri saya ketika mencari cara untuk membahagiakan diri saya sendiri. Dimulai dari mengubah beberapa mindset, melakukan hal - hal yang saya suka, serta mengekplore berbagai hal yang sebelumnya enggak pernah saya sadari bisa mempengaruhi kebahagiaan diri saya. Mungkin kalau saya enggak melewati hari - hari saya sendirian, sampai sekarang saya masih belum menyadari sepenuhnya kelebihan dan kekurangan diri saya. Mungkin saya belum bisa mencintai dan menerima diri saya sebesar yang saya rasakan sekarang. Mungkin enggak akan ada #ROH yang awalnya muncul sebagai salah satu cara untuk menutupi kekosongan hati saya dan membuat diri saya bahagia

Dengan menjadi single, saya juga mendapatkan banyak perhatian dan dukungan lebih dari yang saya kira sebelumnya. Saya sadar bahwa semenjak jadi single, saya lebih sering menulis dan berbagi hal lebih banyak di blog saya tentang beberapa bagian kehidupan, pengalaman saya; dari hal - hal signifikan sampai enggak penting. Tapi itu semua awalnya hanya sebagai salah satu cara untuk mengeluarkan beberapa bagian isi hati dan pikiran saya yang sebelumnya hanya saya ceritakan ke pasangan saya. Hal - hal yang saya masih merasa segan untuk saya ceritakan ke orang lain sekalipun ke orang - orang terdekat saya, karena saya merasa pikiran saya ini enggak cukup menarik untuk disimak oleh mereka. Jadi akhirnya saya menulisnya di blog, yang selama ini udah saya anggap sebagai diary sekaligus tempat saya membuang berbagai hal yang mengganjal di pikiran dan hati saya tanpa membuat saya khawatir dengan response yang diberikan oleh orang lain. Namun di luar dugaan saya, hal - hal yang saya kira enggak akan menarik bagi orang - orang disekitar saya, ternyata malah menarik bagi pembaca blog saya. Semakin kesini semakin banyak pembaca blog saya yang memberikan dukungan dan perhatian mereka. Mungkin kalau saya enggak single, enggak akan ada keberanian untuk menuangkan berbagai perasaan dan pemikiran saya disini. Mungkin enggak akan ada tulisan - tulisan yang ternyata, di luar ekspektasi saya, dapat menginspirasi banyak orang karena mereka juga mengalami hal yang sama, atau justru bisa membuat mereka melihat sisi yang berbeda dari apa yang mereka pahami selama ini. 


Dengan menyadari semua hal tersebut, sekarang saya udah enggak merasa malu lagi dengan status single ini, enggak juga merasa iri melihat foto pasangan lain, apalagi membawa pusing komentar orang lain yang mencoba untuk menasehati saya tanpa tau apa - apa tentang yang saya jalani saat ini. Saya justru merasa bahwa saya perlu memanfaatkan waktu ini untuk mendekatkan hubungan saya dengan Tuhan, mencintai orang - orang terdekat saya dan membagi inspirasi dengan banyak orang. Untuk mengeksplorasi potensi diri saya dan menjadikan diri saya lebih baik lagi. Karena akan banyak hal yang bisa saya lakukan sekarang namun belum tentu bisa sesering ini saya lakukan lagi ketika nanti sudah tiba waktunya untuk menjalin komitmen dan kehidupan baru di tahapan selanjutnya.

Saya enggak bilang bahwa saya mau terus berstatus single, karena saya tetap ingin merasakan kembali bagaimana rasanya ada seseorang dalam hidup saya yang bisa membuat saya lebih bersemangat dan mengisi sebuah tempat di hati saya yang bahkan enggak bisa diisi oleh orang - orang yang saya sayangi seperti keluarga dan sahabat saya. Tapi disini saya lebih ingin menekankan bahwa, status single itu juga bukan suatu hal yang menyedihkan atau memalukan kok. Malah di beberapa kasus, seperti diri saya ini, menjalani hidup seorang diri itu perlu. Saya merasa sangat bersyukur karena dipertemukan kembali dengan hari - hari saya bertanggung jawab atas diri saya sendiri, tanpa ada seseorang yang mengalihkan dunia saya dan membuat saya melupakan banyak hal penting lainnya dalam hidup saya. Justru saya merasa lebih sedih saat melihat orang - orang yang segitunya takut sendirian atau malu dengan status ini, sehingga mereka lebih memilih untuk bersama dengan orang yang enggak sesuai dengan hati dan kepribadian mereka. Orang - orang yang rela untuk merendahkan harga diri mereka demi ada yang menemani mereka, atau orang - orang yang rela menghabiskan sisa hidupnya untuk membohongi diri mereka sendiri. Oh c'mon, please love yourself. Because no matter who you are, you are worth it. 

June 19, 2016

#ROH 36: Zootopia

Entah kenapa beberapa hari ini saya lagi maleeeees banget buat melakukan apapun. Bahkan untuk menulis pun rasanya enggak ada inspirasi. Padahal udah ada daftar postingan dan beberapa draft tulisan yang sebenarnya tinggal sedikit lagi buat diselesaikan. Cuma yaaa gitu, kalau lagi enggak mood memang susah banget jadinya. Biasanya kalau udah begini, pelarian saya adalah nonton film yang bisa membuat saya ketawa dan membangkitkan semangat. Setelah membaca review IMDB dan mendapat rekomendasi dari adik perempuan saya, akhirnya tiga hari ini saya menonton tiga film yang berbeda: Kung Fu Panda 3, Me Before You dan Zootopia; yang ternyata semuanya bagus banget dan melebihi ekspektasi saya! Bukan hanya mereka berhasil membuat mood saya menjadi jauh lebih baik, tapi juga karena ada beberapa pesan dari setiap film yang sama banget dengan yang saya rasakan. Awalnya saya mau menulis tentang ketiga film tersebut di postingan ini, tapi akhirnya saya putuskan hanya menulis Zootopia karena menurut saya film ini sangat worth it dan harus ditonton banyak orang. Dan yaa, saya rela menunda postingan tentang perjalanan Italy atau mendahului beberapa postingan #ROH lainnya yang sebenarnya udah ada di draft; hanya karena film ini.


Lebih dari menyuguhkan film kartun yang lucu dan menghibur, Zootopia memberikan banyak banget pembelajaran tentang realita di kehidupan kita, yang berbeda dari film animasi Disney lainnya. Seriously, I was thrilled watching the whole movie and enjoyed it without any distraction. Bisa dibilang film ini sangat mewakili beberapa hal yang udah lama ingin saya ceritakan disini tapi belum bisa saya selesaikan untuk menuangkannya ke dalam tulisan, karena terlalu suit untuk mengungkapkannya. Its honest and realistic way in criticising our social life nowadays, along with the important lesson it conveys, is what makes this movie hit the nail on the head. Jadi saat menonton film ini, saya merasa cukup lega karena ada orang lain yang bisa menunjukkannya, terlebih lagi dikemas dalam bentuk visual yang menarik dengan beberapa jokes, mungkin bisa lebih banyak tersampaikan ke berbagai kelompok penonton, mulai dari anak kecil, remaja hingga orang dewasa. I personally think that this movie is one of the greatest Disney animated movie and also deserves the Oscar for best animated movie of the year. And yes, I encourage everyone to watch Zootopia! 


"Real life is messy. We all have limitations. We all make mistakes. Which means, we all have a lot in common. And the more we try to understand one another, the more exceptional each of us will be. But we have to try. So no matter what kind of person you are, from the biggest elephant to our first fox, I implore you: TRY. Try to make the world a better place. Look inside yourself and recognise that change starts with you. It starts with me. It starts with all of us."

- Judy Hopps -