October 11, 2014

In The Mood For Pastel



Scarf: Debenhams. Top & Blazer: Thrifted. Floral Pants: Unbranded. 
Brown Bag: Vintage. Shoes: Bata. 

October 09, 2014

What Camera(s) Do I Use?

Udah banyak banget yang nanya ke saya tentang kamera apa yang saya pakai. Tapi karena saya masih enggak pede dan selalu merasa foto saya enggak sebagus itu untuk bisa sampai membuat postingan sendiri tentang kamera apa yang saya pakai, akhirnya tulisan ini terus disimpan di draft. Sebenarnya saya pernah menjelaskan di postingan saya yang ini tentang kamera yang dulu sering saya gunakan. Tetapi berhubung saat itu saya enggak banyak menjelaskan tentang kamera yang saya pakai, lalu berhubung juga saat ini hati saya sudah sedikit berpindah ke kamera lain (maafkan akuuu kamera poket), dan berhubung juga saat ini saya masih belajar banyak tentang DSLR, dan seperti kata orang bijak bilang bahwa semakin kita membagi ilmu ke orang lain, maka semakin banyak ilmu yang kita dapatkan *eaaa*, maka di postingan kali ini saya ingin membahas satu per satu tentang kamera yang saya pakai sejauh ini.

Sony DSC-H70
Percaya atau enggak, selama ini saya belum pernah sekalipun membeli kamera DSLR untuk diri saya sendiri, loh! Dan ketika saya sudah punya penghasilan sendiri pun kamera yang saya beli bukanlah kamera DSLR kece yang diidamkan banyak orang tetapi justru kamera poket yang kalau dari tampilannya pun sebenarnya biasa aja. Waktu itu saya membelinya karena beberapa pertimbangan mulai dari: 1. masih trauma karena baru menghilangkan kamera DSLR punya ayah saya, 2. sepertinya untuk jangka panjang kamera poket akan lebih banyak keuntungannya, 3. waktu itu saya belum sebegitu minatnya untuk mendalami fotografi dan DSLR dan 4. saya enggak punya kamera poket dan akan lebih mudah dan praktis untuk dibawa kemana - mana. Singkat cerita, setelah melihat review dan mencocokkan harga, akhirnya saya memutuskan untuk membeli kamera ini. Kalau kalian pernah melihat postingan foto - foto saya selama saya tinggal di UK, dan ketika saya traveling dari tahun 2011 akhir, maka itu adalah hasil foto dari kamera ini.


(+) Saya pribadi sangat puas dengan kamera ini karena memang selain kualitas gambarnya yang termasuk sangat bagus, optical zoom nya yang bisa menangkap objek jauh hingga 10x zoom dengan resolusi yang masih bagus. Menurut saya ini penting, apalagi bagi orang seperti saya yang suka enggak pede foto orang dari dekat atau suka menangkap objek random dari jauh. Selain itu, harganya pun masih termasuk murah (waktu itu saya beli sekitar Rp. 3,3 juta), dan kamera ini memang udah "kepegang" banget di tangan saya. Dalam artian bahwa ketika orang lain foto pakai kamera ini kadang suka goyang, saya udah tau gimana cara pegang kamera ini supaya tetap steady. Pengaturan manual-nya juga lebih mudah dibandingkan pengaturan di kamera DSLR (misalnya untuk pengaturan bukaan diafragma). Sehingga untuk kamera ini tepat banget buat kamu yang suka mengambil momen atau foto candid, yang mana perlu kecepatan dalam mengambilnya. Soalnya kan kalau pengaturan manual di DSLR, perubahan cahaya itu cepet banget. Jadi malah bisa gagal ambil momen bagus karena lupa ngatur cahayanya, yang ada malah jadi terlalu gelap atau terang.

(-) Entah memang waktunya yang singkat, atau kamera ini sudah terlalu lelah karena terlalu sering dipakai, atau memang saya aja yang enggak pintar merawat kamera ini, tetapi setelah hampir tiga tahun memakainya, kualitas gambarnya semakin menurun. Gambarnya jadi enggak setajam ketika awal saya membeli hingga memasuki tahun kedua.


Sony Alpha 550 (+ Lensa Kit 3.5-5.6/18-55 SAM)
Sebelum kalian berasumsi bahwa saya adalah pencinta Sony, sebenarnya untuk kamera DSLR ini adalah turunan dari Ayah saya. Jadi sebenarnya awalnya saya enggak terlalu niat untuk memakai kamera ini. Tetapi daripada mubazir kamera ini enggak dipakai, akhirnya saya coba mengutak - atik sebelum saya memutuskan untuk kembali ke Nikon (FYI, kamera DSLR sebelumnya yang sempat hilang adalah Nikon, huhuhu). Awalnya, saya sempat suudzon sama kamera ini karena sebelumnya udah terbiasa dengan Nikon. Ditambah lagi dengan mindset saya yang masih mainstream waktu itu yang masih menganggap bahwa Nikon dan Canon masih lebih bagus (secara gitu ya di Indonesia lebih banyak yang memakai kedua kamera ini). Tetapi setelah memakainya, saya enggak melihat perbedaan antara Nikon dengan Sony, baik dari segi foto maupun cara penggunaannya. Yaa mungkin mata saya masih mata fotografer amatiran, jadi enggak bisa ngebedain perbedaan kualitas keduanya kali yaa, atau sebenarnya orang - orang aja yang terlalu overrated menilai Nikon dan Canon dibanding jenis kamera lainnya :p


Lensa (Fix) 50 mm/ f1.8
Diantara lensa lain yang saya punya, lensa ini yang menjadi kesayangan saya. Selain ukurannya yang kecil dan ringan, lensa ini pas banget buat foto detail karena bisa dengan mudanya memberi efek bokeh (fokus ke satu titik dan membuat latar belakangnya menjadi blur). Sebenarnya pada saat awal saya mau membeli lensa fix ini, saya sempat bingung memilih antara lensa fix yang 35mm atau 50mm. Kayanya sih kalau brand yang lain, harga kedua lensa ini enggak beda jauh, sedangkan buat Sony lumayan banget bedanya. Harga lensa 35mm bisa hampir dua kali lipatnya harga lensa 50mm! Nah setelah melihat review dan spesifikasi di ineternet, karena perbedaan keduanya enggak terlalu signifikan buat saya akhirnya saya milih yang 50mm. Dan sejauh ini sih saya enggak menyesal sama sekali udah memilih lensa ini.

(+) Untuk di outdoor maupun indoor, siang maupun malam, hasil lensa ini hampir selalu lebih jernih daripada lensa kit. Terutama buat foto indoor dan kekurangan cahaya, lensa ini sangat membantu untuk tetap menghasilkan foto yang bagus!

(-) Karena enggak bisa di zoom, terkadang cukup ribet ketika saya mau foto suatu objek yang luas. Kalau enggak foto dari jarak yang jauuuh, atau terpaksa ganti lensa dulu. Selain itu, karena lensa ini memiliki bukaan yang besar (f1/8), maka perlu dipastikan untuk mengecilkan bukaannya terlebih dahulu saat memfoto objek yang "besar" atau foto objek secara menyeluruh supaya enggak blur di beberapa bagian.


Lensa (Tele) Tamron AF 70-300mm f/4-5.6 
Nah kalau ini justru kebalikannya lensa fix. Lensa tele adalah lensa yang paling jarang saya gunakan dan juga jarang dibawa. Kemampuannya yang bisa mengambil objek yang sangat jauh menjadi sangat dekat, memang menggiurkan untuk saya yang juga senang mengambil objek dari jauh. Tapiii, karena lensa ini gede dan berat, saya lebih memilih untuk pake lensa kit atau kamera poket selama mereka masih bisa menjangkau objeknya. Baru deh ketika saya ke Jember Fashion Carnaval lalu, kerasa banget betapa beruntungnya saya memiliki lensa ini *tsaaah, berasa pacar aja*. Gimana enggak, para model yang berjalan di catwalk dengan baju dan beragam aksesoris lainnya jadi bisa sangat terlihat hingga sangat dekat. Padahal aslinya, jarak mereka dengan saya lumayan jauh loh! Tapi ya, berkat si lensa inilah, jadinya jarak jauh pun enggak menjadi halangan *haa!*.

(+) Needless to say, lensa ini cocok buat kamu yang senang dan sering foto objek jarak jauh, tetapi tetap ingin mendapatkan detail atau hasil dekat dari objek tersebut.

(-) Karena ukurannya yang cukup besar dan berat, sebaiknya untuk menghasilkan foto yang lebih maksimal dan enggak blur, lebih baik menggunakan tripod juga. Yaa, walaupun saya sendiri enggak menggunakannya sih haha. Tapi jadinya ya gitu, beberapa fotonya jadi blur deh.


Sepertinya itu dulu ilmu yang bisa saya bagikan saat ini. OH IYA, terlepas dari kelebihan dan kekurangan dari masing - masing kamera dan lensa, sebenarnya kedua hal tersebut enggak menjadi (terlalu) penting kalau sang pemilik kamera tersebut enggak menggunakannya dengan tepat. Maksudnya. yang terpenting sih sebenarnya kembali ke fotografernya itu sendiri. Kamera hp atau kamera yang enggak canggih aja akan tetap bisa menghasilkan foto yang lebih baik daripada kamera DSLR dengan lensa super canggih sekalipun :)

September 30, 2014

September's Stories (Part Two)

Rasanya kata - kata "time flies so fast" itu enggak hanya berlaku di penghujung tahun, tetapi juga di penghujung bulan. Buktinya aja perjalanan saya dan beberapa sahabat saya ke Semarang pada awal bulan ini terasa begitu cepat berlalu. Eh, tau - tau udah mau ganti bulan aja besok. September ini memang banyak sekali memberikan cerita untuk saya, mulai dari senang, sedih, capek, sampai perasaan excited ada semua di bulan ini. Oke.. cukup deh intronya, karena inti dari postingan ini bukan menceritakan hal tersebut hehe. Let's jump to the main stories!


Blenduk Church. Try to go into the church, the architecture is also amazing inside it

Niat untuk pergi liburan bareng bersama beberapa sahabat kecil saya memang sudah direncanakan sejak lama, sampai udah berganti tempat tujuan beberapa kali. Akhirnya setelah berdiskusi, kayanya yang paling mungkin untuk dilakukan selama empat hari adalah Semarang (ditambah dengan one day trip ke Solo). Apalagi ada salah seorang sahabat kami yang tinggal disana juga, jadi bisa lebih banyak menjelajah kota ini karena langsung ditemani oleh local guide (walaupun pada kenyataannya hanya pada malam hari aja kami ditemani karena enggak bisa pulang kerja lebih cepat huhu). Tapi justru sebenarnya karena begitu, kami jadi mendapatkan pengalaman yang "aya - aya wae". Mulai dari kebodohan saat naik angkot malam hari buat balik ke hotel yang taunya malah berujung nyarter angkot dan dibawa sampe ke komplek perumahan dan pasar kambing segala. Terus gara - gara peristiwa itu, akhirnya daripada salah angkot lagi jadinya besok harinya kami bolak - balik memesan taksi "burung biru" untuk mengantar-jemput kami dari satu tempat ke tempat lainnya (baca: mulai dari kuil Sam Poo Kong, Kota Lama Semarang hingga Mesjid Agung).    

At Nuri Street. There are many interesting things, such as street arts and beautiful urban decays.


One of the stalls at Semawis Night Market




My favorite corner at Noeri's Cafe

Karena ngerasa masih kurang banget menjelajahi Semarang dan sekitarnya, saya sempat agak males untuk pergi ke Solo. Tapi kemalesan saya itu mendadak hilang ketika sahabat saya mengajak untuk mampir ke Katep Pass dulu dalam perjalanan kami ke Solo untuk melihat sunrise disana. Konon katanya sih kalau lagi beruntung (enggak banyak kabut), ketika melihat matahari terbit dari Katep Pass itu dapat terlihat penampakan lima buah gunung yang ada di sekitarnya. Nahh tapi masalahnya adalah malam sebelumnya itu kami jalan - jalan keliling Semarang sampai malam hari, dan ditambah sahabat saya yang menyetir itu kecapekan kerja juga sehari sebelumnya. Alhasil, kami pun telat berangkat setengah jam dari waktu yang kami tentukan.. dan jawabannya pun udah ketebak dong ya. Ketika sampai di puncaknya, matahari sudah menampakkan diri. Tapiii enggak menyesal sama sekali, karena memang bagusss pemandangannya dan ditambah udaranya yang dingin cukup membuat kami terbangun karena saking dinginnya!






Terakhir saya ke Solo itu waktu masih kuliah di tingkat awal, dan saat itu saya merasa enggak banyak hal menarik di kota ini selain batiknya. Makanya saya cukup kaget ketika kemarin datang kesini, ternyata banyak banget hal menarik yang saya lihat baik di jalan maupun saat berkunjung ke beberapa tempat disana. Apalagi ketika berkunjung ke Pasar Triwindu. Kalau bukan karena masih inget harus berhemat, PASTI KALAP BANGET! Pertama kali datang ke pasar ini, saya dibuat kaget lagi. Saya memang jarang mengecek foto atau gambar suatu tempat yang udah pasti akan saya kunjungi. Nah begitu juga dengan pasar ini. Di pikiran saya sebelumnya, pasar ini pasti kurang lebih mirip dengan pasar - pasar barang bekas lainnya. Dan ternyataa, saya harus mengakui bahwa pasar ini adalah pasar barang bekas terapih dan terbikin-mupeng yang pernah saya datangi di Indonesia! *sambil napsu ngetiknya*. 

Selain pasarnya, saya juga berkunjung ke beberapa tempat makan disana. Yang pertama adalah Kafe 3 Tjeret. Satu hal yang membuat saya kagum dengan tempat ini adalah dibalik desainnya yang sangat artsy dan modern, makanan dan minuman yang disediakan disini adalah makanan tradisional khas Solo dan dijual dengan harga yang enggak kalah murahnya dengan yang dijual pada umumnya. Sedangkan satu tempat makan lainnya adalah Wedangan Pendopo. Penampakkan dari luarnya aja udah membuat saya penasaran dengan dekorasi dalamnya. Karena memang kata teman saya, bule - bule yang datang ke Solo sering dibawa ke tempat ini dan mereka suka! Dan saat saya datang kesana pun, saya bisa mngerti kenapa mereka suka. Ya wong memang tempatnya nyaman banget untuk nongkrong lama - lama, apalagi sambil minum wedangan dan ditemani dengan pisang gorengnya. Nyummy! Oh iya, petualangan kami pun diakhiri di tempat ini setelah sekitar tiga jam nongkrong sambil bermain congklak dan UNO. Setelah itu kami pulang ke Semarang dan besok paginya naik kereta untuk kembali ke Jakarta. And that's the end of this September's Stories. See you in October's!


A very unique seller who I met at Triwindu Market



The best thing that accompanied us during our journey: UNO! 

RECOMMENDED PLACES IN SEMARANG:
- Kota Lama Semarang (there are lots of hidden treasures. just open your eyes widely ;))
- Noeri's Cafe, Kota Lama Semarang
- Flea market near Blenduk Church at Sundays morning
- Mesjid Agung (its architecture reminds me of Nabawi Mosque)
- Semawis Night Market

PS: Be careful if you want to go around in Kota Lama Semarang. Because robbing happens quite often there. 

RECOMMENDED PLACES IN SOLO:
Well, I can't recommend you much. But Triwindu Market is at the top of it all! Not far from it, there's Kafe Tiga Tjeret which I recommend as well for the food and place. The last one is Wedangan Pendhopo, the typical place that you can sit for hours without getting bored. 

PS: If you want to go to Solo from Semarang, try to go to the Katep Pass to see the amazing view of the surrounding mountains. 

September 22, 2014

I'm Beyond Excited!

Long Cardigan: Next. Striped Top: Pasar Senen. Jeans: Zara.
Belt: River Island. Clutch: Bershka. Wedges: Zara.