May 25, 2016

Vending Machine

As I wrote this post, I was sitting at one of my favourite cafes. I decided to unwind after reading and citing journals for almost an hour and a half. I sipped the last drop in my cuppa, a “Hello Sunshine”, which I ordered out of intrigue for its name (and luckily it tasted as good as its name). I don't work often from a cafe or coffee shop, but this time I just couldn't help myself to stop by to have my favourite cheesecake brownie after attending a meeting. Besides, more recently I've come to realise that sometimes I need a change of work environment as an escape. In this way, I see it as one way to help me from not getting carried away with my own thoughts.  

Despite my big effort to stick and do all my daily tasks, I have actually been struggling to maintain my focus on work at hand without getting distracted by many things in mind. There are times when I try to keep working, but it usually ends up worsening the condition. I am suddenly lost, and it feels like I am drowning in my own thoughts. And after a while, without even realising, I would find myself staring at a journal that I was reading on my laptop screen, or to the sentences that have not been finished yet. Only and simply staring at those words, with my mind already gone into elsewhere. Since these cases have happened for quite some time, I know I need to change the way I work to remaster my as of late becoming rather hard to control brain.   


Perhaps it's because of my Italy road trip that was really a kind of contemplation and turning point for me. Not only did it gain me a new perspective, but it also affirmed my heart to believe in things that I had been previously uncertain of. It feels like I am finally at the moment when I have reached almost the highest level of happiness; the moment when all the burden on my shoulders are lifted and my head is cleared from all negativity. And thus, it all inspires me to write many things. That or maybe because I didn't realise at the time that there are so many thoughts that have been accumulating in my mind all this time. Some of them have been discounted for weeks, months, and even years. I have ignored most of them because I am aware that they are very complex and difficult to put into words. But now, it feels like those thoughts are surging again into my mind, all at once. 

I cannot tell you that this is a bad thing. Indeed, I am deeply grateful that it seems like inspiration always does come to me. I have already written more than ten posts-worth of drafts on my blog, all manifestations of varying thoughts. Most of them have been written in a shorter time than others just because I don't intentionally spare my time to write them now. I just need to get them out of my mind and to get my focus back on my work. I decided to write them either on the draft, note on my phone, a piece of paper besides me; every time they start to distract me while I was working. Some of them even could be extended into many more pages (and even a book, I guess), if only I had the time to keep writing. As far as I remember, I have never been through times like this; times when my brain seems like a vending machine and my thoughts the bottles of cokes inside. Once you insert several coins, a bottle downs; and as just as fast, another bottle drops in its place. When one of my thoughts has been conveyed into words, as soon as it reached the last sentence, the other thought immediately appears with perfect clarity.

May 19, 2016

When in Barcelona

Sebelum melakukan perjalanan ini, setiap kali mendengar kata Barcelona, hal pertama yang selalu teringat adalah penantian panjang untuk mencapai kota ini. Tiga tahun yang lalu, saya dan Maiko, salah seorang flatmate saya ketika di Bournemouth, sudah membeli tiket dan merencanakan perjalanan kami bersama ke kota ini. Tapi pada akhirnya hanya Maiko yang berangkat kesana dikarenakan dua minggu sebelum keberangkatan, saya baru menerima surat bahwa visa Schengen saya ditolak. Iya, butuh waktu tiga tahun bagi saya untuk akhirnya mengunjungi kota ini. Dan mungkin karena itu pula salah satu faktor yang membuat perjalanan kali ini lebih berkesan bagi saya :')

Saya enggak menyangka bahwa Barcelona bisa meninggalkan kenangan yang cukup kuat dalam otak saya, sekalipun tujuan utama saya datang kesana bukan untuk jalan - jalan. Walaupun saya menginap selama empat malam, namun dikarenakan jadwal konferensi yang saya ikuti berlangsung selama dua hari, maka total waktu efektif yang bisa dimanfaatkan untuk berjalan mengelilingi Barcelona adalah hanya sekitar satu setengah hari. Itu pun setengah harinya diambil dari sisa waktu setelah konferensi. Lalu, apa aja yang bisa saya dapatkan dalam waktu sesingkat itu? Ternyata lumayan banyak juga loh!


Tujuan pertama yang wajib untuk didatangi adalah melihat seenggaknya dua karya utama Gaudi, si arsitek kebanggaan Spanyol karena kreativitas, imajinasi dan kehebatannya dalam mendesain. Pecahan sisa keramik aja bisa dijadikan sebagai sebuah hal yang artistik dan memiliki estetika. Enggak paham lagi :') Oh iya, sebenarnya saya pengen banget masuk ke semua karya Gaudi yang tersebar di beberapa lokasi, termasuk Casa Battlo dan Casa Mila. Tapi apa daya, berhubung tiket masing - masing Casa tersebut bisa mencapai EUR 15; maka saya memutuskan hanya masuk ke tiga tempat, yaitu Park Güell, Sagrada Familia dan Palau Güell. Sementara itu sisanya cukup dinikmati dari luar aja yaa buat sekarang :3 

Baru deh setelah itu saya mengunjungi beberapa tempat lainnya yang ada di dalam daftar perjalanan saya *teteup yaa mesti dibuat itinerary, meskipun tujuan utamanya bukan buat liburan. haha!*.  Sebenarnya saat bikin itinerary, saya menemukan banyak hal menarik di Barcelona. Tapi yaa berhubung waktu saya hanya sebentar dan dari awal enggak berekspektasi untuk mengunjungi banyak tempat, maka kali ini saya lebih ingin menikmati Barcelona dengan mengunjungi ruang - ruang publiknya. Tempat - tempat tersebut diantaranya adalah La Ramblas, Gothic Quarter, Barcelonetta, Passeig de Gracia, Boulevard, El Rava, Mercado de La Boqueria, Mercat del Encants, dan Parc de la Ciutadella.

Sagrada Familia, yang pembangunannya belum selesai juga dari tahun 1866





Sama seperti ketika mengunjungi kota - kota sebelumnya, kali ini pun saya lebih banyak berjalan kaki. Karena lagi - lagi saya enggak bosan buat bilang bahwa, streets are the best places to learn local culture. Tapi saya juga realistis sih, kalo memang membutuhkan waktu satu jam buat jalan ke tempat selanjutnya, yaa mendingan naik bus atau metro aja kaan. Kebetulan jarak dari Park Guell ke Sagrada Familia itu enggak terlalu jauh, sekitar 20 menit dan selalu ada sign yang mempermudah para pejalan kaki. Nah, berhubung saya anaknya lebih suka melihat apa yang ada di belakang main road dan suka jalan random ke gang - gang kecil, maka total waktu perjalanannya jadi dua kali lipat! haha. Tapi saya enggak menyesal sih, karena justru saya merasakan koneksi yang lebih kuat dengan kota ini ketika mengunjungi tempat - tempat tersebut. Dan lebih dari itu, saya juga banyak mendapatkan kebahagiaan ketika melihat berbagai scene yang enggak terduga dan mungkin enggak akan saya dapatkan dari mengunjungi tempat - tempat turis maupun jalan utama. Salah satunya adalah menemukan sebuah ruang terbuka publik yang dikelilingi dengan pepohonan rindang dan bangunan warna - warna pastel yang menjadi khas Barcelona (dan mungkin Spanyol), dimana orang - orang lokal sedang duduk santai sambil mengobrol dan bersenda gurau dengan pasangan, teman - teman maupun keluarga mereka. Lucunya, walaupun saat itu saya enggak mengerti apa yang sedang mereka obrolkan dan enggak mengenal siapa mereka, saya bisa merasakan kehangatan tersebut. 



Gimana enggak bikin saya terobsesi coba yaa, kalau kebanyakan bangunan di Barcelona bentuknya lucu kaya begini? :')



Kayanya saya udah pernah cerita sebelumnya bahwa salah satu hal yang paling menarik buat saya dan hampir akan selalu saya kunjungi adalah ruang terbuka publik yang dimiliki oleh kota tersebut. And the good news is, public spaces have been considered as essential elements in the city! Bukan hanya menyediakan banyak taman dan plaza, tetapi juga saya sering menemukan kursi dan tempat duduk dimana - mana. Literally, you can see them almost everywhere!. Mulai dari di pinggir jalan kecil, di tempat kosong di bawah pepohonan rindang, pinggir jalan utama, di samping stasiun yang udah enggak terpakai, di depan museum, pinggir pantai; pokoknya selama saya jalan - jalan keliling kota ini dengan berjalan kaki, saya enggak sulit untuk duduk di saat mulai capek.

Dan yang lebih menariknya lagi adalah cerita dibalik semua penataan ruang publik yang bagus itu, ternyata Barcelona dulunya adalah kota yang sangat eksklusif, dimana kesenjangan antara masyarakat kelas atas dan kelas bawah sangat terlihat jelas. Bukan cuma itu, hingga dua belas tahun yang lalu, penataan kota sepenuhnya dipegang oleh pemerintah dan swasta yang lebih fokus pada perbaikan fisik kota untuk sebuah acara besar di Barcelona. Tapi di sisi lain justru melupakan kepentingan masyarakat lokalnya, termasuk kebutuhan ruang publik. Hingga akhirnya acara tersebut berujung gagal, dan akhirnya dana (yang kalau dikonversi bisa mencapai triliunan rupiah!) dari pemerintah setempat justru terbuang sia - sia. Sejak itu, kota ini banyak belajar untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya, bukan hanya sekedar memperbaiki fisik kotanya. Sebenarnya sampai sekarang saya masih bisa melihat beberapa sisi Barcelona yang terlihat begitu familiar, seperti ketika saya mengunjungi salah satu rumah susun di Tambora, Jakarta Barat. Beberapa bangunan terlihat cukup kumuh, dan menyadarkan bahwa dibalik wajah cantik dan gelarnya sebagai salah satu pusat kebudayaan dan pariwisata dunia; Barcelona masih sama seperti kota - kota besar lainnya yang juga memiliki 'sisi gelap'. 






Salah satu karakter Barcelona yang sekaligus menjadi favorit saya adalah its balcony! Memang Paris juga memiliki banyak balcony, tapi entah kenapa I personally find Barcelona's balcony is more fascinating. Mungkin karena bangunan disini lebih berwarna dibandingkan Paris yang cenderung lebih monochrome seperti putih dan abu - abu. Sementara itu, kota - kota di Italia memiliki warna bangunan yang lebih terang dan menggemaskan, tetapi enggak terlalu banyak apartemen yang dilengkapi dengan balconies. Belum lagi ukiran dan pattern yang terlihat begitu khas pada kebanyakan apartemen disini, dan rasanya belum pernah saya temukan saat mengunjungi kota - kota lainnya. Saking terobsesinya dengan balcony di Barcelona, saya banyak banget foto dan merekam setiap balcony lucu yang saya temukan. Gemesh! 


Hal lainnya yang cukup membuat masyarakat kecewa dengan pemerintah setempat adalah renovasi Mercat del Encants, flea market terbesar di Barcelona, yang belum lama ini direnovasi menjadi lebih modern dan diisi dengan small professional booths. 

Tapi saya bersyukur, ternyata masih ada sisi lain pasar ini yang masih bisa membuat saya merasa kalo saya di sebuah flea market, dan bukan pasar modern :') 


Walaupun cuma sebentar, tapi Barcelona sangat menyenangkan. Disini saya jadi semakin tersadarkan bahwa jangan pernah sepenuhnya percaya dengan pendapat orang lain tentang sebuah kota atau negara, sampai kamu datang sendiri ke tempat tersebut. Karena setiap orang memiliki perspektif dan pengalaman yang berbeda - beda di setiap tempat, sehingga mereka pun punya impresi yang berbeda pula di setiap tempat. Ada beberapa orang yang memiliki pengalaman buruk di kota ini, yang mana kebanyakan terkait dengan copet atau masyarakatnya yang enggak terlalu welcome. Tapi alhamdulillah, saya termasuk salah satu orang yang diterima dengan baik oleh Barcelona; dari pertama kali datang hingga kembali ke Rotterdam. Hasta luego, Barcelona!

May 18, 2016

Pre-Order: Perjalanan, Cinta, dan Makna Perempuan

Yuhuuu. Sesuai janji saya, mulai hari ini sampai tanggal 30 Mei 2016, kamu udah bisa pre-order buku "Perjalanan, Cinta, dan Makna Perempuan". Caranya gampang banget! Cukup ikuti beberapa langkah ini: 

1. Pesan jumlah buku yang kamu inginkan dan lakukan pembayaran melalui rekening Bank Mandiri 138-00-15021962 a.n. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.

2. Konfirmasi pembayaran dengan mengirimkan nama, jumlah pesanan, nomor telepon, dan alamat ke 08112642333 atau via email ke showroom@tigaserangkai.co.id


3. Tinggal duduk cantik dan tunggu kedatangan buku "Perjalanan, Cinta, dan Makna Perempuan"
 di rumah kamu! :D


Oh iya, potongan harga 20% ini udah termasuk ongkos kirim Jadi kamu cukup bayar Rp 58.400 aja, dimanapun kamu berada; mulai dari Sabang sampai Merauke! :3 Nah kan, selain hemat biaya
, kamu juga enggak perlu mengeluarkan tenaga dan waktu buat ke toko buku demi mendapatkan buku ini, hehe!


May 15, 2016

Perjalanan, Cinta, dan Makna Perempuan

Sekitar bulan Januari lalu, tiba - tiba saya dihubungi oleh mas Fachmy, seorang editor dari Metagraf, sebuah creative imprint dari penerbit buku Tiga Serangkai. Saat itu beliau tertarik dengan beberapa tulisan serta foto yang saya share di blog, sehingga menawarkan pembuatan buku yang berisi tentang berbagai pemikiran saya tersebut. Awalnya saya sempat kaget dan setengah enggak percaya kalau nantinya buku ini bisa terbit, apalagi dalam waktu yang bisa dibilang cukup singkat. Karena menjadi penulis buku adalah salah satu dari beberapa mimpi besar saya, yang sempat terasa begitu dekat, namun ternyata masih belum bisa tercapai. 

Berulang kali hal yang terpikir oleh saya adalah "saya kan bukan siapa - siapa, tapi kenapa mereka mau membuat buku tentang pemikiran dan perjalanan hidup saya? memangnya mereka enggak takut kalo buku ini enggak laku nantinya karena si penulis bukanlah seseorang yang udah dikenal oleh masyarakat luas?". Mungkin kalau isinya tentang hal - hal yang lebih umum seperti fiksi, buku panduan tentang suatu bidang tertentu, serta buku pendidikan; latar belakang si penulis bukanlah hal yang penting. Tetapi untuk sebuah tipe buku inspirasi, yang mana adalah jenis dari buku saya ini, pasti latar belakang penulis akan menjadi suatu hal yang sangat penting. Namun saya sadar bahwa ada beberapa hal yang dipertimbangkan oleh pihak penerbit, yang mana saya sebagai masyarakat awam, mungkin belum memahaminya.


Karena saya sendiri masih enggak yakin dengan pembuatan buku ini, maka saya hanya memberitahu hal ini kepada orangtua dan adik perempuan saya. Selain itu saya memang termasuk tipe orang yang enggak suka menyebarluaskan suatu hal sampai itu benar - benar terjadi. Padahal terlepas dari keraguan saya tersebut, hampir setiap bulannya saya selalu dihubungi oleh pihak Metagraf terkait dengan progress buku ini. Bahkan hingga kontrak diberikan ke saya sekalipun, saya masih belum pede.

Sampai akhirnya sekitar dua minggu yang lalu saya dikabari bahwa tim editor sudah memilih cover untuk buku ini dan sudah dalam proses pencetakan, maka disitu akhirnya saya benar - benar menyadari bahwa semua ini nyata. I'm gonna be a published author! Saya yang saat itu sedang sangat menikmati perjalanan di Italia, begitu mendapat kabar tersebut rasanya kebahagiaan saya langsung meningkat berkali lipat! Walaupun sejujurnya di sisi lain saya juga takut kalau nantinya buku ini enggak memenuhi ekspektasi para pembaca, saya sangat berharap buku ini bisa bermanfaat bagi banyak orang.

Doakan supaya lancar yaa semua proses pencetakan, penerbitan hingga pendistribusian bukunya, supaya bulan depan kalian bisa menemukan (dan juga membeli, heeuu) buku Perjalanan, Cinta dan Makna Perempuan di seluruh toko Gramedia di Indonesia serta beberapa toko buku lainnya seperti Gunung Agung, Tisera dan Toga Mas. Dalam waktu dekat ini saya juga akan memberikan informasi selanjutnya tentang cara pre-order buku ini. Ditunggu aja yaa :')