May 29, 2016

#ROH 31: Road Trip

Sejak kecil saya selalu suka dengan perjalanan darat, terutama menggunakan mobil. Semakin jauh dan lama perjalanannya, saya semakin senang. Dulu, saya paling semangat kalau orangtua saya mengajak untuk pergi keluar kota dengan mobil. Mulai dari perjalanan Jakarta - Bali yang memakan waktu hingga dua malam; perjalanan ke Bandung yang saat itu masih ditempuh antara lima hingga tujuh jam perjalanan; maupun ke Puncak yang hanya dua jam. Biasanya sebelum berangkat, saya buru - buru masuk mobil duluan sebelum saudara - saudara saya lainnya menempati spot kesukaan saya. Kursi paling belakang mobil, entah itu pojok kanan atau pojok kiri. Selain itu, sebelum pergi saya juga selalu memastikan tiga hal: walkman/discman yang disertai dengan baterai pengganti, beberapa kaset atau CD kesukaan saya, serta sebuah diary dengan peralatan tulis.

Satu hal yang paling membuat saya senang dari perjalanan darat ini adalah beragam pemandangan  yang dimilikinya, yang enggak akan saya temukan saat melihat dari dalam kaca pesawat, kereta, maupun di kapal laut. Apalagi kalau rute yang diambil bukanlah rute melewati jalan tol, karena dengan begitu semakin banyak pula pemandangan menarik yang bisa dilihat di jalan. Mulai dari pemandangan kota kecil seperti orang - orang bercengkrama di pinggir jalan, warung - warung yang menjajakan berbagai jenis dagangannya; hingga suasana pedesaan seperti hamparan sawah hijau yang luas, petani yang sedang membajak kerbau, dan lainnya. Melihat berbagai pemandangan tersebut dari dalam mobil, selalu berhasil membuat saya berpikir tentang banyak hal dan seringkali juga menginspirasi saya untuk menulis. Mungkin kecintaan dan kerinduan saya dengan perjalanan darat ini jugalah yang akhirnya membuat saya bisa berani mengambil sebuah keputusan yang berbeda dari yang biasanya saya lakukan. Meskipun beberapa kali road trip di Indonesia, tapi belum ada satu pun yang meninggalkan kesan yang mendalam bagi saya. Terakhir kali perjalanan yang paling jauh dan cukup berkesan adalah saat dua setengah tahun yang lalu, ketika melakukan perjalanan dari Bournemouth ke Skotlandia bersama Ayah dan Bang Ardha selama seminggu. Makanya enggak heran kan kalau kali ini saya bahagia banget akhirnya bisa melakukan road trip lagi :')


Waktu itu saya baru memasuki minggu pertama di Rotterdam dan baru sekali bertemu dengan mbak Vicky, salah seorang mahasiswa tahun kedua program doktoral di jurusan saya. Itu pun kamu hanya bertemu sekitar setengah jam dan membahas hal - hal yang sangat umum tentang perkuliahan. Sebenarnya sebelum kesini pun saya udah sempat mengobrol juga dengan mbak Vicky via Facebook untuk menanyakan persiapan keberangkatan dan kuliah. Tapi obrolan kami hanya sebatas itu aja. Makanya saya kaget ketika mbak Vicky mengajak saya untuk road trip bersama keluarganya ke Italia (serta mampir ke Jerman dan Perancis) selama dua minggu. Namun saat itu saya sangat tertarik dengan itinerary yang diajukan oleh mbak Vicky, apalagi ada beberapa tempat yang memang udah lama saya ingin kunjungi dan kecil kemungkinan untuk bisa dilakukan tanpa membawa mobil. Akhirnya setelah mengecek jadwal kuliah, serta rencana perjalanan dan estimasi budgetnya, saya langsung memutuskan untuk ikut.

Semakin mendekati waktu untuk roadtrip, saya semakin yakin bahwa keputusan saya untuk melakukan perjalanan bersama mereka, adalah keputusan yang tepat. Ternyata mbak Vicky dan mas Andie (suami mbak Vicky yang juga sedang mengambil program doktor di jurusan yang sama dengan saya) serta kedua anak perempuan mereka, memang terkenal keluarga yang sangat baik di kalangan mahasiswa Indonesia lainnya di Rotterdam. Enggak butuh waktu lama bagi saya untuk melihat kebaikan mereka tersebut. Bisa dibilang, keluarga ini termasuk segelintir orang pertama yang bisa mengobati rasa homesick saya saat awal pindah ke Rotterdam. Mulai dari mengajak saya jalan - jalan bersama mereka di akhir pekan, menemani dan mengantar saya membeli cukup banyak keperluan saat awal pindahan kesini, memastikan bahwa saya enggak mengalami kesulitan selama disini, dan masih banyak kebaikan - kebaikan lainnya, yang dengan tulus dan tanpa ada tujuan apapun dibaliknya. Makasih banyak mbak Vicky dan mas Andie, udah jadi pengingat untuk terus berbuat baik secara tulus ke siapapun :') 


Namun sebenarnya yang paling membuat saya lebih bersyukur dengan keputusan saya ini adalah saat perjalanan sedang berlangsung. Banyak hal yang enggak saya ketahui sebelumnya tentang keluarga ini, yang ternyata melebihi ekspektasi saya dan membuat perjalanan ini terasa lebih menyenangkan. Mulai dari mbak Vicky yang ternyata memiliki beberapa persamaan dengan saya dalam hal fotografi, dan suka berpetualang ke tempat - tempat yang berbeda dari biasanya. Enggak menyangka ternyata mbak Vicky juga segitu sukanya dengan desa dan kota kecil yang cantik. Makanya setiap mengunjungi kota - kota kecil, kami berdua langsung histeris seketika saat melihat keindahan yang tampak di depan mata kami. Begitu juga dengan mas Andie yang juga selalu sabar untuk menyetir selama dua minggu ke berbagai tempat yang merupakan hasil pemikiran mba Vicky dan saya. Sekalipun suatu saat kami sempat mengunjungi tempat yang ternyata sangat sulit medannya dan cukup menegangkan, mas Andie bisa kembali tertawa setelahnya dan malah menjadikannya sebagai sebuah candaan. Mereka juga enggak mempermasalahan saat beberapa kali saya berpisah untuk jalan sendirian di saat mereka ingin berbelanja atau makan, yang mana terkadang berbeda dengan keinginan saya sehingga saya lebih memilih untuk menghabiskan sisa waktu untuk menikmati beberapa tempat tersebut seorang diri. Bahkan mereka juga enggak pernah komentar beberapa baju saya yang agak "enggak biasa", atau saat saya meminta buat foto ala - ala (haha!). Dan sejujurnya sih seringkali saya justru merasa merepotkan mereka, apalagi dengan sifat mbak Vicky dan mas Andie yang "enggak enakan" dan "enggak mau merepotkan", mereka jarang banget minta tolong. Semoga aja saya memang enggak terlalu merepotkan mereka :')

Dan hal lainnya yang membuat perjalanan ini terasa lebih berwarna adalah kedua anak perempuan mereka, Chacha dan Chika. Selain memang pada dasarnya saya suka banget sama anak - anak, selama ini saya jarang banget punya kesempatan buat main sama anak perempuan. Sebagai seorang tante dari empat keponakan laki - laki dan satu perempuan, saya lebih sering main dengan anak laki - laki karena satu keponakan perempuan saya, Reya, masih terlalu kecil untuk bisa diajak main. Makanya saya enggak menyangka ternyata punya keponakan perempuan yang udah bisa diajak main dan ngobrol itu seru banget! Bukan hanya kehadiran mereka membuat perjalanan di mobil jadi semakin seru dan ramai, tetapi bermain bersama mereka juga bisa sedikit mengurangi rasa kangen saya untuk bermain dengan keponakan - keponakan saya.


Saya enggak bisa menjawab hal apa yang paling membuat roadtrip ini jadi begitu spesial. Karena rasanya ini merupakan gabungan antara diri saya yang mau lebih fleksibel dan terbuka untuk mengubah sudut pandang serta ekpektasi dalam melakukan perjalanan; berbagai tempat yang dikunjungi begitu memberikan koneksi yang kuat dengan keindahan panoramanya dan kebaikan orang - orang yang kami temui selama perjalanan; perjalanan yang berlangsung dengan lancar dan sesuai dengan rencana yang dibuat; dan tentunya, teman - teman perjalanan yang menyenangkan. Karena perjalanan ini enggak akan menyenangkan seperti ini dan meninggalkan kesan sedalam ini bagi saya, kalau teman perjalanan saya bukan mba Vicky, mas Andie, Chaca dan Chika.

Awalnya saat tiga bulan lalu diajak untuk ikut road trip ini, saya sempat ragu karena sebenarnya traveling dengan orang yang baru saya kenal itu bukan suatu hal yang biasa (dan mau) saya lakukan. Tetapi sekarang saya sangat bersyukur karena diri saya yang berani mengambil suatu keputusan yang sangat berbeda dari sebelumnya. Dan lebih dari itu, perjalanan kali ini begitu spesial, bahkan bisa dibilang sebagai road trip terbaik yang pernah saya lakukan selama dua puluh lima tahun ini. Mungkin terdengar berlebihan, tapi itulah yang saya rasakan sejujurnya. Semoga enggak membutuhkan waktu lama bagi saya untuk bertemu kembali dengan road trip yang menyenangkan seperti ini :')

May 25, 2016

Vending Machine

As I wrote this post, I was sitting at one of my favourite cafes. I decided to unwind after reading and citing journals for almost an hour and a half. I sipped the last drop in my cuppa, a “Hello Sunshine”, which I ordered out of intrigue for its name (and luckily it tasted as good as its name). I don't work often from a cafe or coffee shop, but this time I just couldn't help myself to stop by to have my favourite cheesecake brownie after attending a meeting. Besides, more recently I've come to realise that sometimes I need a change of work environment as an escape. In this way, I see it as one way to help me from not getting carried away with my own thoughts.  

Despite my big effort to stick and do all my daily tasks, I have actually been struggling to maintain my focus on work at hand without getting distracted by many things in mind. There are times when I try to keep working, but it usually ends up worsening the condition. I am suddenly lost, and it feels like I am drowning in my own thoughts. And after a while, without even realising, I would find myself staring at a journal that I was reading on my laptop screen, or to the sentences that have not been finished yet. Only and simply staring at those words, with my mind already gone into elsewhere. Since these cases have happened for quite some time, I know I need to change the way I work to remaster my as of late becoming rather hard to control brain.   


Perhaps it's because of my Italy road trip that was really a kind of contemplation and turning point for me. Not only did it gain me a new perspective, but it also affirmed my heart to believe in things that I had been previously uncertain of. It feels like I am finally at the moment when I have reached almost the highest level of happiness; the moment when all the burden on my shoulders are lifted and my head is cleared from all negativity. And thus, it all inspires me to write many things. That or maybe because I didn't realise at the time that there are so many thoughts that have been accumulating in my mind all this time. Some of them have been discounted for weeks, months, and even years. I have ignored most of them because I am aware that they are very complex and difficult to put into words. But now, it feels like those thoughts are surging again into my mind, all at once. 

I cannot tell you that this is a bad thing. Indeed, I am deeply grateful that it seems like inspiration always does come to me. I have already written more than ten posts-worth of drafts on my blog, all manifestations of varying thoughts. Most of them have been written in a shorter time than others just because I don't intentionally spare my time to write them now. I just need to get them out of my mind and to get my focus back on my work. I decided to write them either on the draft, note on my phone, or a piece of paper; every time they start to distract me while I was working. Some of them even could be extended into many more pages (and even a book, I guess), if only I had the time to keep writing. As far as I remember, I have never been through times like this; times when my brain seems like a vending machine and my thoughts like the bottles of cokes inside. Once you insert several coins, a bottle downs; and as just as fast, another bottle drops in its place. When one of my thoughts has been conveyed into words, as soon as it reached the last sentence, the other thought immediately appears with perfect clarity.

May 19, 2016

When in Barcelona

Sebelum melakukan perjalanan ini, setiap kali mendengar kata Barcelona, hal pertama yang selalu teringat adalah penantian panjang untuk mencapai kota ini. Tiga tahun yang lalu, saya dan Maiko, salah seorang flatmate saya ketika di Bournemouth, sudah membeli tiket dan merencanakan perjalanan kami bersama ke kota ini. Tapi pada akhirnya hanya Maiko yang berangkat kesana dikarenakan dua minggu sebelum keberangkatan, saya baru menerima surat bahwa visa Schengen saya ditolak. Iya, butuh waktu tiga tahun bagi saya untuk akhirnya mengunjungi kota ini. Dan mungkin karena itu pula salah satu faktor yang membuat perjalanan kali ini lebih berkesan bagi saya :')

Saya enggak menyangka bahwa Barcelona bisa meninggalkan kenangan yang cukup kuat dalam otak saya, sekalipun tujuan utama saya datang kesana bukan untuk jalan - jalan. Walaupun saya menginap selama empat malam, namun dikarenakan jadwal konferensi yang saya ikuti berlangsung selama dua hari, maka total waktu efektif yang bisa dimanfaatkan untuk berjalan mengelilingi Barcelona adalah hanya sekitar satu setengah hari. Itu pun setengah harinya diambil dari sisa waktu setelah konferensi. Lalu, apa aja yang bisa saya dapatkan dalam waktu sesingkat itu? Ternyata lumayan banyak juga loh!


Tujuan pertama yang wajib untuk didatangi adalah melihat seenggaknya dua karya utama Gaudi, si arsitek kebanggaan Spanyol karena kreativitas, imajinasi dan kehebatannya dalam mendesain. Pecahan sisa keramik aja bisa dijadikan sebagai sebuah hal yang artistik dan memiliki estetika. Enggak paham lagi :') Oh iya, sebenarnya saya pengen banget masuk ke semua karya Gaudi yang tersebar di beberapa lokasi, termasuk Casa Battlo dan Casa Mila. Tapi apa daya, berhubung tiket masing - masing Casa tersebut bisa mencapai EUR 15; maka saya memutuskan hanya masuk ke tiga tempat, yaitu Park Güell, Sagrada Familia dan Palau Güell. Sementara itu sisanya cukup dinikmati dari luar aja yaa buat sekarang :3 

Baru deh setelah itu saya mengunjungi beberapa tempat lainnya yang ada di dalam daftar perjalanan saya *teteup yaa mesti dibuat itinerary, meskipun tujuan utamanya bukan buat liburan. haha!*.  Sebenarnya saat bikin itinerary, saya menemukan banyak hal menarik di Barcelona. Tapi yaa berhubung waktu saya hanya sebentar dan dari awal enggak berekspektasi untuk mengunjungi banyak tempat, maka kali ini saya lebih ingin menikmati Barcelona dengan mengunjungi ruang - ruang publiknya. Tempat - tempat tersebut diantaranya adalah La Ramblas, Gothic Quarter, Barcelonetta, Passeig de Gracia, Boulevard, El Rava, Mercado de La Boqueria, Mercat del Encants, dan Parc de la Ciutadella.

Sagrada Familia, yang pembangunannya belum selesai juga dari tahun 1866





Sama seperti ketika mengunjungi kota - kota sebelumnya, kali ini pun saya lebih banyak berjalan kaki. Karena lagi - lagi saya enggak bosan buat bilang bahwa, streets are the best places to learn local culture. Tapi saya juga realistis sih, kalo memang membutuhkan waktu satu jam buat jalan ke tempat selanjutnya, yaa mendingan naik bus atau metro aja kaan. Kebetulan jarak dari Park Guell ke Sagrada Familia itu enggak terlalu jauh, sekitar 20 menit dan selalu ada sign yang mempermudah para pejalan kaki. Nah, berhubung saya anaknya lebih suka melihat apa yang ada di belakang main road dan suka jalan random ke gang - gang kecil, maka total waktu perjalanannya jadi dua kali lipat! haha. Tapi saya enggak menyesal sih, karena justru saya merasakan koneksi yang lebih kuat dengan kota ini ketika mengunjungi tempat - tempat tersebut. Dan lebih dari itu, saya juga banyak mendapatkan kebahagiaan ketika melihat berbagai scene yang enggak terduga dan mungkin enggak akan saya dapatkan dari mengunjungi tempat - tempat turis maupun jalan utama. Salah satunya adalah menemukan sebuah ruang terbuka publik yang dikelilingi dengan pepohonan rindang dan bangunan warna - warna pastel yang menjadi khas Barcelona (dan mungkin Spanyol), dimana orang - orang lokal sedang duduk santai sambil mengobrol dan bersenda gurau dengan pasangan, teman - teman maupun keluarga mereka. Lucunya, walaupun saat itu saya enggak mengerti apa yang sedang mereka obrolkan dan enggak mengenal siapa mereka, saya bisa merasakan kehangatan tersebut. 



Gimana enggak bikin saya terobsesi coba yaa, kalau kebanyakan bangunan di Barcelona bentuknya lucu kaya begini? :')



Kayanya saya udah pernah cerita sebelumnya bahwa salah satu hal yang paling menarik buat saya dan hampir akan selalu saya kunjungi adalah ruang terbuka publik yang dimiliki oleh kota tersebut. And the good news is, public spaces have been considered as essential elements in the city! Bukan hanya menyediakan banyak taman dan plaza, tetapi juga saya sering menemukan kursi dan tempat duduk dimana - mana. Literally, you can see them almost everywhere!. Mulai dari di pinggir jalan kecil, di tempat kosong di bawah pepohonan rindang, pinggir jalan utama, di samping stasiun yang udah enggak terpakai, di depan museum, pinggir pantai; pokoknya selama saya jalan - jalan keliling kota ini dengan berjalan kaki, saya enggak sulit untuk duduk di saat mulai capek.

Dan yang lebih menariknya lagi adalah cerita dibalik semua penataan ruang publik yang bagus itu, ternyata Barcelona dulunya adalah kota yang sangat eksklusif, dimana kesenjangan antara masyarakat kelas atas dan kelas bawah sangat terlihat jelas. Bukan cuma itu, hingga dua belas tahun yang lalu, penataan kota sepenuhnya dipegang oleh pemerintah dan swasta yang lebih fokus pada perbaikan fisik kota untuk sebuah acara besar di Barcelona. Tapi di sisi lain justru melupakan kepentingan masyarakat lokalnya, termasuk kebutuhan ruang publik. Hingga akhirnya acara tersebut berujung gagal, dan akhirnya dana (yang kalau dikonversi bisa mencapai triliunan rupiah!) dari pemerintah setempat justru terbuang sia - sia. Sejak itu, kota ini banyak belajar untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya, bukan hanya sekedar memperbaiki fisik kotanya. Sebenarnya sampai sekarang saya masih bisa melihat beberapa sisi Barcelona yang terlihat begitu familiar, seperti ketika saya mengunjungi salah satu rumah susun di Tambora, Jakarta Barat. Beberapa bangunan terlihat cukup kumuh, dan menyadarkan bahwa dibalik wajah cantik dan gelarnya sebagai salah satu pusat kebudayaan dan pariwisata dunia; Barcelona masih sama seperti kota - kota besar lainnya yang juga memiliki 'sisi gelap'. 






Salah satu karakter Barcelona yang sekaligus menjadi favorit saya adalah its balcony! Memang Paris juga memiliki banyak balcony, tapi entah kenapa I personally find Barcelona's balcony is more fascinating. Mungkin karena bangunan disini lebih berwarna dibandingkan Paris yang cenderung lebih monochrome seperti putih dan abu - abu. Sementara itu, kota - kota di Italia memiliki warna bangunan yang lebih terang dan menggemaskan, tetapi enggak terlalu banyak apartemen yang dilengkapi dengan balconies. Belum lagi ukiran dan pattern yang terlihat begitu khas pada kebanyakan apartemen disini, dan rasanya belum pernah saya temukan saat mengunjungi kota - kota lainnya. Saking terobsesinya dengan balcony di Barcelona, saya banyak banget foto dan merekam setiap balcony lucu yang saya temukan. Gemesh! 


Hal lainnya yang cukup membuat masyarakat kecewa dengan pemerintah setempat adalah renovasi Mercat del Encants, flea market terbesar di Barcelona, yang belum lama ini direnovasi menjadi lebih modern dan diisi dengan small professional booths. 

Tapi saya bersyukur, ternyata masih ada sisi lain pasar ini yang masih bisa membuat saya merasa kalo saya di sebuah flea market, dan bukan pasar modern :') 


Walaupun cuma sebentar, tapi Barcelona sangat menyenangkan. Disini saya jadi semakin tersadarkan bahwa jangan pernah sepenuhnya percaya dengan pendapat orang lain tentang sebuah kota atau negara, sampai kamu datang sendiri ke tempat tersebut. Karena setiap orang memiliki perspektif dan pengalaman yang berbeda - beda di setiap tempat, sehingga mereka pun punya impresi yang berbeda pula di setiap tempat. Ada beberapa orang yang memiliki pengalaman buruk di kota ini, yang mana kebanyakan terkait dengan copet atau masyarakatnya yang enggak terlalu welcome. Tapi alhamdulillah, saya termasuk salah satu orang yang diterima dengan baik oleh Barcelona; dari pertama kali datang hingga kembali ke Rotterdam. Hasta luego, Barcelona!

May 18, 2016

Pre-Order: Perjalanan, Cinta, dan Makna Perempuan

Yuhuuu. Sesuai janji saya, mulai hari ini sampai tanggal 30 Mei 2016, kamu udah bisa pre-order buku "Perjalanan, Cinta, dan Makna Perempuan". Caranya gampang banget! Cukup ikuti beberapa langkah ini: 

1. Pesan jumlah buku yang kamu inginkan dan lakukan pembayaran melalui rekening Bank Mandiri 138-00-15021962 a.n. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.

2. Konfirmasi pembayaran dengan mengirimkan nama, jumlah pesanan, nomor telepon, dan alamat ke 08112642333 atau via email ke showroom@tigaserangkai.co.id


3. Tinggal duduk cantik dan tunggu kedatangan buku "Perjalanan, Cinta, dan Makna Perempuan"
 di rumah kamu! :D


Oh iya, potongan harga 20% ini udah termasuk ongkos kirim Jadi kamu cukup bayar Rp 58.400 aja, dimanapun kamu berada; mulai dari Sabang sampai Merauke! :3 Nah kan, selain hemat biaya
, kamu juga enggak perlu mengeluarkan tenaga dan waktu buat ke toko buku demi mendapatkan buku ini, hehe!


May 15, 2016

Perjalanan, Cinta, dan Makna Perempuan

Sekitar bulan Januari lalu, tiba - tiba saya dihubungi oleh mas Fachmy, seorang editor dari Metagraf, sebuah creative imprint dari penerbit buku Tiga Serangkai. Saat itu beliau tertarik dengan beberapa tulisan serta foto yang saya share di blog, sehingga menawarkan pembuatan buku yang berisi tentang berbagai pemikiran saya tersebut. Awalnya saya sempat kaget dan setengah enggak percaya kalau nantinya buku ini bisa terbit, apalagi dalam waktu yang bisa dibilang cukup singkat. Karena menjadi penulis buku adalah salah satu dari beberapa mimpi besar saya, yang sempat terasa begitu dekat, namun ternyata masih belum bisa tercapai. 

Berulang kali hal yang terpikir oleh saya adalah "saya kan bukan siapa - siapa, tapi kenapa mereka mau membuat buku tentang pemikiran dan perjalanan hidup saya? memangnya mereka enggak takut kalo buku ini enggak laku nantinya karena si penulis bukanlah seseorang yang udah dikenal oleh masyarakat luas?". Mungkin kalau isinya tentang hal - hal yang lebih umum seperti fiksi, buku panduan tentang suatu bidang tertentu, serta buku pendidikan; latar belakang si penulis bukanlah hal yang penting. Tetapi untuk sebuah tipe buku inspirasi, yang mana adalah jenis dari buku saya ini, pasti latar belakang penulis akan menjadi suatu hal yang sangat penting. Namun saya sadar bahwa ada beberapa hal yang dipertimbangkan oleh pihak penerbit, yang mana saya sebagai masyarakat awam, mungkin belum memahaminya.


Karena saya sendiri masih enggak yakin dengan pembuatan buku ini, maka saya hanya memberitahu hal ini kepada orangtua dan adik perempuan saya. Selain itu saya memang termasuk tipe orang yang enggak suka menyebarluaskan suatu hal sampai itu benar - benar terjadi. Padahal terlepas dari keraguan saya tersebut, hampir setiap bulannya saya selalu dihubungi oleh pihak Metagraf terkait dengan progress buku ini. Bahkan hingga kontrak diberikan ke saya sekalipun, saya masih belum pede.

Sampai akhirnya sekitar dua minggu yang lalu saya dikabari bahwa tim editor sudah memilih cover untuk buku ini dan sudah dalam proses pencetakan, maka disitu akhirnya saya benar - benar menyadari bahwa semua ini nyata. I'm gonna be a published author! Saya yang saat itu sedang sangat menikmati perjalanan di Italia, begitu mendapat kabar tersebut rasanya kebahagiaan saya langsung meningkat berkali lipat! Walaupun sejujurnya di sisi lain saya juga takut kalau nantinya buku ini enggak memenuhi ekspektasi para pembaca, saya sangat berharap buku ini bisa bermanfaat bagi banyak orang.

Doakan supaya lancar yaa semua proses pencetakan, penerbitan hingga pendistribusian bukunya, supaya bulan depan kalian bisa menemukan (dan juga membeli, heeuu) buku Perjalanan, Cinta dan Makna Perempuan di seluruh toko Gramedia di Indonesia serta beberapa toko buku lainnya seperti Gunung Agung, Tisera dan Toga Mas. Dalam waktu dekat ini saya juga akan memberikan informasi selanjutnya tentang cara pre-order buku ini. Ditunggu aja yaa :') 

May 10, 2016

Halo, Kamu.

Halo, kamu yang saat ini mungkin sedang berada di belahan bumi yang sama denganku, atau justru mungkin kita sedang terpaut perbedaan waktu beberapa jam. Aku harap dimanapun kamu berada saat ini, kamu adalah seseorang yang memiliki kemampuan bertahan hidup seperti bunga poppy atau daisy yang belakangan ini sering kutemui di taman kota, hamparan padang kosong di sebuah desa kecil, di pinggir jalan beraspal, di halaman belakang rumah orang – orang kaya, dan berbagai tempat lainnya; yang mana bunga – bunga cantik seperti tulip, sakura, mawar maupun bunga matahari, tidak mampu bertahan hidup disana. Ya, aku harap kamu adalah seseorang yang bisa bertahan hidup dimanapun kamu berada. Entah itu di suatu tempat yang memiliki bahasa yang sama dengan yang kamu gunakan, maupun di tempat yang memiliki perbedaan budaya, agama, cara pandang, dan kebiasaan. Seseorang yang bisa menikmati hidup di daerah pedesaan yang terpencil maupun di kota besar yang sesak. Seseorang yang bisa merasakan kelapangan saat tinggal di rumah mungil, maupun kecukupan di rumah dengan halaman yang luas.



Halo, kamu yang akan menjadi pengisi kekosongan hatiku dan pelengkap duniaku. Aku harap kamu adalah seseorang yang bisa mencintai dan menghargai dirimu sendiri. 

Mencintai dirimu dengan menjaga kesehatan tubuhmu. Kamu enggak perlu memiliki badan seperti para atlet, karena yang terpenting adalah kamu memiliki badan yang sehat dan kuat supaya ia bisa menopangmu ketika beraktivitas dan berjalan menuju cita-citamu. Kamu enggak perlu memiliki wajah seganteng Dane Dehaan, tetapi yang lebih penting adalah kamu bisa menjaga kebersihan dan keharuman tubuhmu. Kamu enggak perlu berpenampilan stylishtetapi kamu mengerti kapan kamu harus memakai kaos lusuhmu atau kemejamu yang tersetrika rapih. 

Mencintai dirimu dengan menjaga kebersihan pikiran dan hatimu. Menjaga pikiranmu terutama saat kamu menghadapi masalah dan beban yang berat dalam hidupmu, agar mereka tidak membuatmu berlarut - larut dalam kegelapan dan melupakan hal - hal baik yang kamu miliki. Mengontrol hatimu terutama saat kamu mencapai titik paling terang dalam hidupmu, agar kenikmatan tersebut tidak membuatmu menjadi seseorang yang tinggi hati. 

Mencintai dirimu dengan menjadikan dirimu menjadi seseorang yang lebih baik dari waktu ke waktu. Bukan dengan memamerkan kelebihan yang kamu miliki dan pencapaian yang kamu raih agar mendapat tanda hati atau jempol dari banyak orang. Tetapi yang lebih penting adalah rasa puas terhadap dirimu sendiri atas apa yang telah kamu capai dan miliki, sehingga kamu bisa lebih bersyukur atas nikmat yang diberikan Tuhan. 

Mencintai dirimu dengan mengetahui bagaimana membuat dirimu bahagia. Mencintai dirimu dengan mencintai apa yang kamu lakukan dan melakukan apa yang kamu cintai. Karena aku yakin ketika kamu mengerti cara untuk mencintai dirimu sendiri, maka kamu bisa mencintai keluargamu seperti kamu mencintai dirimu sendiri. Karena aku yakin ketika kamu bisa membahagiakan dirimu sendiri, maka kamu bisa berbagi kebahagiaanmu denganku dan juga orang - orang di sekitarmu. 


  
Halo, kamu yang selalu aku ucapkan dalam doaku seusai sholat agar kita bisa dipertemukan di waktu yang paling tepat sesuai kehendak-Nya. Aku harap kamu adalah seseorang yang sedang menjalani hidupmu dengan seimbang, seperti seseorang yang sedang berusaha untuk menjaga keseimbangan tubuhnya saat berjalan di seutas tali agar tidak terjatuh. Menjaga keseimbangan antara hubunganmu dengan Tuhan dan sesama manusia, sehingga kamu bukan hanya menjadi seseorang yang dicintai oleh Tuhan-mu, tetapi juga bermanfaat dan disayang oleh banyak orang. Kamu bisa menjadi seorang imam yang tanpa memberi perintah, bisa membuatku dan anak - anak kita nanti untuk selalu sholat tepat waktu, lebih rajin membaca dan memahami Al-Qur'an, lebih sering memberikan sedekah, menjalankan puasa sunah, menyempurnakan hijabku sesuai yang diajarkan oleh agama kita, serta melakukan ibadah lainnya yang bisa mendekatkan hubungan kita dengan Ilahi dan kebahagiaan akhirat. Namun di sisi lain kamu juga enggak lupa untuk menikmati kehidupan kita yang hanya sesaat dan berlalu sangat cepat ini. Kamu bisa menikmati kehidupan duniawi selama itu bukanlah hal - hal yang melanggar perintah Tuhan. Makanya kamu enggak menolak jika aku ajak untuk dengan mendatangi festival musik, menonton film di outdoor cinema, mendatangi art gallery untuk melihat pameran fotografi dan karya seni, serta mengagumi berbagai arsitektur dunia termasuk gereja - gereja tua di Eropa. 

Selain itu kamu juga bisa menjalin hubungan baik dengan orang - orang yang kamu temui dalam hidupmu. Menjaga hubungan dengan menerima perbedaan antara kamu dengan kelompok - kelompok lainnya dengan cara tidak berburuk sangka, memaksakan kehendak, apalagi merugikan mereka. Kamu bisa menjaga kata dan sikapmu agar tidak terlalu tinggi saat mengobrol dengan kelompok pekerja berkerah biru, tetapi kamu juga tidak menjatuhkan kepercayaan dirimu saat bergabung dengan para pekerja berkerah putih. Kamu bisa membuat anak – anak kecil tertawa oleh candaanmu, kamu bisa membuat orang - orang yang berusia lebih muda darimu untuk tidak segan mengobrol denganmu, serta kamu juga bisa bertukar pikiran dengan orang - orang yang berusia lebih tua darimu. Kamu juga sadar bahwa setiap orang memiliki caranya masing - masing dalam menjalani kehidupan mereka, sehingga kamu enggak menghakimi atau mencela orang - orang yang memilih jalan hidupnya tanpa memilih agama, ataupun orang - orang yang mencintai sesama jenisya. Karena kamu paham bahwa baik atau buruknya seseorang bukan dinilai dari siapa mereka dan apa yang mereka pilih, tapi manfaat dan kebaikan apa yang telah mereka perbuat untuk orang lain. Karena kamu paham bahwa hanya Tuhan yang paling berhak menghakimi kita.  


Halo, kamu yang akan dititipkan oleh Tuhan untuk menjadi teman hidupku hingga Ia kembali memanggil kita. Aku harap kamu adalah seseorang yang bisa menikmati banyak hal dalam hidupmu. Kamu bisa menikmati makanan yang dijual di tenda pinggir jalan atau salah satu warteg yang menjual lele penyet kesukaanku di dekat tempatku mengajar saat di Indonesia. Namun kamu juga sudah memahami etika makan yang baik jika sesekali kita ingin merayakan salah satu hari spesial kita di salah satu restoran Michelin. Kamu enggak risih jika kita berbelanja ke pasar tradisional dan pasar loak yang tidak memiliki fasilitas senyaman mall - mall besar di ibukota. Kamu juga enggak malu jika kita membeli barang – barang murah tanpa ada logo tertentu yang tertempel di depannya. Tapi kamu mengerti bahwa terkadang ada beberapa barang yang lebih baik dibeli dengan harga mahal dengan brand tertentu karena kualitasnya yang lebih baik, sekaligus menjadi ‘penghargaan’ kepada dirimu sendiri atas kerja keras yang kamu lakukan. 

Kamu bisa merasakan betapa menyenangkannya melakukan perjalanan yang penuh petualang dan membangkitkan semangatmu seperti backpacking ke tempat - tempat pelosok yang jarang dikunjungi oleh turis; trekking ke gunung yang belum pernah kita takluki; berkemah di suatu tempat dimana kita bisa melihat galaksi bima sakti diatas api unggun yang kita buat dari kumpulan ranting pohon; berenang di sebuah danau jernih yang dikelilingi oleh pepohonan cemara, atau di sebuah pantai kecil yang tersembunyi. Kamu juga enggak keberatan jika kita menginap di backpacker hostel, naik kapal ferry atau kereta di kelas ekonomi, bus tanpa air conditioner, serta menggunakan transportasi umum lainnya. Tapi kamu juga memahami bahwa hidup kita hanya sekali, sehingga perlu dinikmati dengan cara yang berbeda. Makanya kamu enggak akan menolak jika sesekali kita berlibur tanpa itinerary yang panjang, tanpa membuat diri kita banyak berkeringat dan kotor, serta memperlambat langkah kita agar bisa lebih menikmati tempat yang belum tentu akan kita kunjungi lagi. Kamu enggak keberatan untuk mengeluarkan uang yang lebih banyak dari biasanya untuk menginap di sebuah Airbnb yang memiliki teras dengan pemandangan Alpen atau laut Mediterania, mengenakan pakaian rapih selain jeans, kaos dan sandal; serta mengendarai mobil pribadi dibandingkan transportasi umum. Karena kamu memahami bahwa untuk menikmati hidup, kita enggak perlu menunggu waktu saat kita sudah menjadi jutawan atau milyuner.  



Halo, kamu yang memiliki keunikan yang sama dengan keunikan yang aku miliki, atau justru memiliki keunikan yang sangat berbeda dariku tetapi kita bisa saling belajar dari perbedaan tersebut. Aku harap kamu adalah seseorang yang memiliki rasa ingin tahu sebesar yang dimiliki oleh anak - anak kecil. Anak - anak kecil yang enggak pernah bosan untuk bertanya dan melakukan banyak hal agar dapat memenuhi rasa penasaran mereka. Bukan seseorang yang ingin belajar hanya untuk meraih nilai bagus, gelar yang besar atau jabatan yang tinggi. Tapi lebih dari itu, yang jauh lebih penting dari semua itu, adalah keinginan untuk belajar tentang hal - hal yang enggak akan pernah kamu dapatkan ketika di sekolah maupun perguruan tinggi. Belajar untuk membuka pikiran kamu dan melihat hidup dari berbagai perspektif. Belajar hal - hal baru yang belum pernah kamu lakukan sebelumnya. Belajar untuk keluar dari zona nyaman yang selama ini kamu jalani. Sehingga kamu bisa lebih menerima, menghargai dan mentoleransi berbagai sisi dan perbedaan di hidup ini. 

Bukan, bukan hanya belajar, tapi juga berbagi ilmu yang kamu miliki. Maksudku disini bukan meminta kamu untuk menjadi guru di sekolah. Melainkan seseorang yang bisa berbagi ilmu dan wawasanmu terhadap hal - hal di dunia ini yang belum kuketahui. Atau justru mengajarkanku untuk menyukai hal - hal yang selama ini tidak cukup menarik bagiku. Seperti meyakinkanku bahwa dunia perpolitikan tidak selamanya buruk, atau bisa membuatku menyukai matematika, atau mengajarkanku bagaimana cara bermain gitar, atau membuatku bisa mahir berolahraga, atau hal - hal lainnya yang menjadi minat dan keahlianmu. Ajari aku untuk bisa lebih banyak mengenal dan memahami dunia yang sangat luas ini. Sehingga aku enggak akan pernah merasa bosan dalam menjalani hidup ini, karena aku tau bahwa begitu banyak hal menarik yang bisa aku pelajari. 



Halo, kamu yang selalu aku tunggu kedatangan dan kehadirannya. Aku harap kamu adalah seseorang yang tetap memiliki imajinasi dan mimpi seperti layaknya ketika kamu kecil dulu. Memiliki mimpi untuk melakukan perjalanan darat dari Sabang sampai Merauke dengan menggunakan VW Kombi. Memiliki mimpi untuk mengunjungi tempat - tempat di dunia ini yang belum pernah kamu kunjungi. California, Cape Town, Islandia, Sevilla, Antartika, Tibet, atau New Zealand, mungkin? Memiliki mimpi untuk membangun perusahaan di bidang yang kamu sukai. Memiliki mimpi untuk dapat mengubah permukiman - permukiman kumuh di kota tempat kita lahir menjadi ruang publik yang nyaman dan menjadi tempat berkumpul masyarakat kota. Memiliki mimpi untuk memiliki rumah yang lapang dengan kebun yang ditanami oleh berbagai jenis bunga, buah - buahan dan sayur - sayuran. Memiliki mimpi untuk menerbitkan puluhan buku selama hidupmu. Serta mimpi - mimpi besarmu lainnya. Karena kamu paham bahwa hidup tanpa mimpi, sama seperti saat kita tersesat di tengah hutan; kehilangan arah dan tujuan. Karena kamu paham bahwa dengan memiliki mimpi, kamu bisa lebih bersemangat untuk menjalani hidup dan termotivasi untuk mencapai hal - hal yang awalnya terlihat begitu mustahil untuk diraih. Karena kamu paham bahwa dengan memiliki mimpi, kamu bisa menjadi seseorang yang lebih penyabar jika mereka belum berhasil kamu raih. Namun di sisi lain, dengan mimpi juga, bisa membuatmu menjadi seseorang yang lebih bersyukur jika datang hari dimana mimpi - mimpi besar itu satu persatu dapat kamu capai dengan kerja keras dan usaha yang telah kamu lakukan. 


Halo, kamu yang cepat atau lambat akan membaca surat ini. Mungkin hari ini, esok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan, atau di waktu yang hanya Tuhan yang tahu. Aku harap kamu memahami bahwa sekalipun kamu bukanlah seseorang seperti yang kumaksud dalam surat ini, setidaknya aku berharap kamu adalah seseorang yang dapat menerima dengan sepenuh hatimu bahwa pendamping hidupmu kelak adalah orang yang memiliki berbagai pemikiran itu. 

Penggemar terbesarmu,

N.