January 27, 2015

DIY Travel Frames

If you follow my blog, you might have known that I love to collect things every time I travel to a new place. But instead of collecting souvenirs like magnets, shot glasses, key chains, or whatever you name it, I prefer to collect things like maps, bus/train/plane tickets, sight brochures and local currencies. It doesn't mean that I don't buy any souvenir at all. I just buy things that I find worth every penny to remind me of those places I've visited. I tried collecting things like magnets, but honestly I'm not a shopper and I often ended up leaving a country before realising I forgot to add to my collection. The ones that always in my bag, even without me trying to remember, are those things I have used during my trip. I have trouble throwing these things away because they remind me of many bittersweet moments I had during my trip. As cheesy as it might sound, but I do not only tend to collect things, but what's more important is the story behind each of them.

One day, I realise that I need to organise some of the items I collect on my travels - combining tickets, brochures, maps and the like, perhaps even make them together into something that could easily memorialise my favourite trips and places. I had thought about making scrapbook, but then I didn't have time to scrapbook everything. I finally came up with the idea for making a travel frame. The first thing that popped into my mind when I was about to make a travel frame is, of course, the photo frame. I was thinking to put the travel collections in a photo or scrapbook frame (the one that you can find in almost any book stores, which is usually sold with the scrapbook paper). But after I had made one and was about to make the second travel frame, I began to doubt my idea of using both photo and scrapbook frame. Firstly, they are ridiculously expensive. The cheapest photo frame that I found was about 25.000 IDR, which broke within a few days. Secondly, they're not convenient enough. If one day I move to a new place, it's almost impossible to bring all the frames because they definitely need more space. 

So finally, I got this blessing in disguise, because after the second photo frame I had bought was broken, I came up with another idea. The only thing that remain was the paper frame with the travel collection. And I was thinking hard. Should I just buy another new frame and put the paper in it? What if it wouldn't last very long like the previous one? It suddenly crossed my mind that it would have been fine to just hang freely without glass or any 'boundaries'. Why would I waste my money on expensive frames if I could make the cheaper one? Why would make life inconvenient if I could make it more convenient? 

What You'll Need

Frame Supplies
Paper (actually I forget the name of this kind of paper, but it's definitely the one that harder than carton), scissor/cutter, ruler, metal binder clip, double tape, scotch tape and other decorative tape. 

Travel Supplies
Maps, postcards, key chains, currencies, tickets, and other souvenirs you collect on the road.


Measure the paper to 30 x 25 cm,
this size is based on the photo frame size
Cut them out with scissor
or cutter, for an easier and more precise cutting
Put your travel collection together on the paper,
using the various tapes (double, scotch and decorative)
Use the binder clip to hang them,
for this paper size, I use the 4" binder clip.

My travel frame is done!   
I can get my own travel frames that cost less than 15.000 IDR per frame. I decided to hang them in my living room -they're one of the first few things you would see and notice when you enter my apartment. They make me so happy every time I look at them, not only give me pleasure to remember a particular experience or place, but also give me the satisfaction to make the right decision, that make them on my own rather than buying expensive and inconvenient frames :)

January 23, 2015

Wander Off

Shirt, Pants, Shoes: Unbranded. Backpack: Longchamp. 

January 22, 2015

When In Oz

It's not often I travel with my siblings. Indeed, as I try to remember, we'd never traveled together without both our parents present. So, in last December I had my first trip together with my siblings. Me, my little brother Ali and my little sister Gladyz went to Perth. We stayed there alone for six nights, until eventually, my parents joined us for New Year. Going to a place I've never been always makes me excited, but this time, it also makes me nervous because I had to watch over my two siblings. In the end though, I end up realise that they have become one of my favourite travel companion.

Regarding the fact that we were completely unprepared for this trip and everything had been done at the very last minute, we could hardly find any affordable place to stay at the city centre. Even for an isolated yet small city like Perth, the accommodations option that are available to us would still cost us a fortune. Thus, to save our money, we decided to stay with Airbnb and moved immediately after my parents came. It's located in the inner suburb of Perth (around 25 minutes from the city centre), which way cheaper than any of other cheap accommodations including backpacker hostels. Despite this one little problem I had with the home-owner guy, it was such a great stay. It was a neat and clean house; me and my siblings shared a small room without a fuss. We also had a great time chatting with the other guests: two French girls and a Spanish couple. And the most interesting part is a golf course near the house, where a group of Kangaroos live!

January 12, 2015


Top: Thrifted (Pasar Gedebage). Pants: Pull & Bear. 
Bag: Longchamp. Shoes: Rubi. 

January 05, 2015

Hello Monday!

Jumpsuit: Forever 21. Top: Thrifted. Scarf: Pull & Bear. Sunnies: Vintage. 

January 04, 2015

Pages of 2014.

Dengan membuat postingan ini maka secara sadar saya mengawali tahun ini dengan dua hal yang super basi: outfit (karena hal yang paling mudah untuk diposting) dan ulasan mengenai setahun yang lalu (yayaya I know you've done enough with New Year postings on your social media, but let me be the last to annoy you :p). I won't say it's the best year of my life, and yet it gave me some memories that are worth remembering and lessons to be learned. 

#1: More Adaptation 
Dari kecil saya bukanlah tipe orang yang suka dan bisa beradaptasi, saya justru selalu merasa takut ketika akan memasuki waktu dimana saya harus beradaptasi kembali dengan suatu lingkungan atau kondisi baru. Tetapi waktu mengubah saya menjadi seseorang yang enggak lagi takut dengan adaptasi. Dari tahun ke tahun, terutama dua tahun terakhir ini, adaptasi sudah menjadi makanan sehari - hari saya. Beradaptasi dengan perpisahan. Beradaptasi dengan awal yang baru. Beradaptasi dengan sebuah hubungan baru. Beradaptasi dengan kehidupan kota yang berbeda 180 derajat dengan kota yang saya tinggali selama setahun sebelumnya. Beradaptasi dengan pekerjaan baru yang sama sekali belum pernah saya lakukan. Beradaptasi dengan lingkungan tempat tinggal yang semakin individualis. Beradaptasi untuk kembali ke keterbatasan. Beradaptasi dengan ratusan orang - orang baru dengan karakteristik yang berbeda - beda. Beradaptasi dengan rute perjalanan baru. Beradaptasi untuk menghadapi roda kehidupan yang terus berputar dari atas lalu ke bawah lalu ke atas lagi dan begitu seterusnya. Dan bahkan hingga saat ini, ketika saya sudah terbiasa untuk beradaptasi, saya masih tidak menyukainya. Tetapi bukankah hidup ini memang akan selalu memaksa manusia untuk terus beradaptasi? Bukankah adaptasi adalah bagian yang tidak terpisahkan di dalam hidup? Memaksa manusia untuk terus menyesuaikan diri mereka dengan waktu dan kondisi yang selalu berubah agar mereka dapat terus bertahan hidup.

#2: More Making Sense of The Nonsense 
Kalau di tahun 2013 saya banyak meluangkan waktu saya untuk berpikir secara dalam mengenai apa - apa saja yang terjadi di dalam hidup saya, di tahun 2014 saya mulai menerima bahwa banyak hal dalam hidup ini yang terkadang enggak bisa dijawab oleh pemikiran seseorang bahkan hingga yang terdalam sekalipun. Kenapa perbedaan yang sangat besar malah justru menciptakan sebuah ikatan yang besar pula? Bukankah seharusnya manusia bisa saling berkaitan satu sama lain karena atas dasar kesepadanan? Dan kenapa justru terkadang persamaan malah tidak menciptakan sebuah kecocokan? Kenapa mudah untuk memahami seseorang yang baru dikenal dalam waktu hitungan bulan, namun sulit untuk memahami seseorang yang sudah dikenal selama bertahun - tahun? Kenapa sebuah hubungan yang tidak layak harus tetap dipertahankan karena alasan sebuah ikatan darah, karena alasan nilai - nilai leluhur? Kenapa kalau begini malah begitu? Kenapa, kenapa dan kenapa? Masih banyak pertanyaan mengenai hidup ini yang pada awalnya belum dan tidak dapat saya pahami secara logika, namun akhirnya saya biarkan tanpa jawaban karena banyak hal yang terjadi dengan alasan yang tidak bisa dipahami oleh satu sudut pandang saja, tetapi membutuhkan mata yang berbeda - beda. Dan pada akhirnya hidup ini bukanlah untuk selalu dipahami, tetapi cukup dijalankan apa adanya. Iya, kan? 

#3: Mid Twenties Crisis
Mulai dari urusan nikah, pekerjaan, gaji, kuliah di luar negeri, punya anak, sampai hal - hal kecil yang tadinya sepele menjadi sangat sensitif! Yes, welcome to the mid life crisis! Sebenarnya fase ini udah mulai terasa semenjak tahun lalu, tetapi berhubung kondisi saya yang masih jauuuuh dari realita kehidupan jadi enggak terlalu berasa (khusus buat kalian yang tinggal atau kuliah di luar Indonesia, puas - puasinlah disana sebelum kembali kesini aka kehidupan nyata!). Baru deh tahun ini ketika kembali, berasa banget krisisnya. Krisis pertama, ehm, apalagi kalo bukan masalah pekerjaan. Mulai dari mendengar si A udah di posisi manajer, si B yang bisnisnya udah menjadi salah satu top brand di Indonesia, si C yang bekerja di lembaga non-profit internasional. Walaupun ada rasa minder, tetapi di sisi lain jadi semakin termotivasi juga untuk bisa sehebat mereka. Dan membuat saya semakin percaya bahwa kesuksesan itu enggak memandang usia, jenis/bidang pekerjaan, latar belakang pendidikan, dan apalagi gender. Krisis lainnya adalah, uhuk, ketika melihat banyaaaak banget teman - teman saya yang menikah dan bertunangan. Dan sayang sekali kali ini saya enggak bisa kabur lagi dari "pertanyaan" (yang enggak perlu dijelaskan lebih detail disini) yang dilontarkan mulai dari di acara kumpul keluarga besar, reuni, sampai di lingkungan pekerjaan sekalipun. Now I completely understand why living abroad is much easier than here. Bukan cuma karena fasilitas kehidupan yang lebih nyaman disana, tapi terlebih lagi tekanan - tekanan sosial seperti ini nih kadang yang membuat juga stress untuk tinggal disini. Mungkin pertanyaan "kapan menikah atau kapan punya anak?" terdengar sepele. Padahal, kedua hal itu bukan kehendak manusia yang mengatur. Beruntung buat mereka yang memiliki kehidupan yang sesuai standar kehidupan di negara kita: lulus kuliah langsung dapat kerja lalu enggak lama kemudian menikah dan bisa segera memiliki keturunan. But sometimes life doesn't work that way. 

#4: Traveling With The Loved Ones
Hal paling menyenangkan ketika pulang ke kampung halaman aka Indonesia adalah memiliki kesempatan untuk melakukan perjalanan dengan orang - orang terdekat. Kalau sebelumnya saya kebanyakan melakukan perjalanan sendiri, di tahun 2014 ini saya bahkan enggak pernah melakukan perjalanan seorang diri. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur bisa memiliki kesempatan untuk melakukan perjalanan dengan orang - orang terdekat saya, mulai dari keluarga hingga sahabat. Mulai dari Batu-Malang-Bromo dan Semarang dengan sahabat - sahabat saya, lalu USA untuk temu-super-kangen dengan kakak dan keponakan - keponakan saya(!!). Kemudian ditutup dengan membolang bersama adik - adik saya di Perth. Semoga tahun depan lebih banyak melakukan perjalanan baik di Indonesia maupun di benua lain, baik dengan maupun tanpa pendamping perjalanan.