January 04, 2015

Pages of 2014.

Dengan membuat postingan ini maka secara sadar saya mengawali tahun ini dengan dua hal yang super basi: outfit (karena hal yang paling mudah untuk diposting) dan ulasan mengenai setahun yang lalu (yayaya I know you've done enough with New Year postings on your social media, but let me be the last to annoy you :p). I won't say it's the best year of my life, and yet it gave me some memories that are worth remembering and lessons to be learned. 



#1: More Adaptation 
Dari kecil saya bukanlah tipe orang yang suka dan bisa beradaptasi, saya justru selalu merasa takut ketika akan memasuki waktu dimana saya harus beradaptasi kembali dengan suatu lingkungan atau kondisi baru. Tetapi waktu mengubah saya menjadi seseorang yang enggak lagi takut dengan adaptasi. Dari tahun ke tahun, terutama dua tahun terakhir ini, adaptasi sudah menjadi makanan sehari - hari saya. Beradaptasi dengan perpisahan. Beradaptasi dengan awal yang baru. Beradaptasi dengan sebuah hubungan baru. Beradaptasi dengan kehidupan kota yang berbeda 180 derajat dengan kota yang saya tinggali selama setahun sebelumnya. Beradaptasi dengan pekerjaan baru yang sama sekali belum pernah saya lakukan. Beradaptasi dengan lingkungan tempat tinggal yang semakin individualis. Beradaptasi untuk kembali ke keterbatasan. Beradaptasi dengan ratusan orang - orang baru dengan karakteristik yang berbeda - beda. Beradaptasi dengan rute perjalanan baru. Beradaptasi untuk menghadapi roda kehidupan yang terus berputar dari atas lalu ke bawah lalu ke atas lagi dan begitu seterusnya. Dan bahkan hingga saat ini, ketika saya sudah terbiasa untuk beradaptasi, saya masih tidak menyukainya. Tetapi bukankah hidup ini memang akan selalu memaksa manusia untuk terus beradaptasi? Bukankah adaptasi adalah bagian yang tidak terpisahkan di dalam hidup? Memaksa manusia untuk terus menyesuaikan diri mereka dengan waktu dan kondisi yang selalu berubah agar mereka dapat terus bertahan hidup.

#2: More Making Sense of The Nonsense 
Kalau di tahun 2013 saya banyak meluangkan waktu saya untuk berpikir secara dalam mengenai apa - apa saja yang terjadi di dalam hidup saya, di tahun 2014 saya mulai menerima bahwa banyak hal dalam hidup ini yang terkadang enggak bisa dijawab oleh pemikiran seseorang bahkan hingga yang terdalam sekalipun. Kenapa perbedaan yang sangat besar malah justru menciptakan sebuah ikatan yang besar pula? Bukankah seharusnya manusia bisa saling berkaitan satu sama lain karena atas dasar kesepadanan? Dan kenapa justru terkadang persamaan malah tidak menciptakan sebuah kecocokan? Kenapa mudah untuk memahami seseorang yang baru dikenal dalam waktu hitungan bulan, namun sulit untuk memahami seseorang yang sudah dikenal selama bertahun - tahun? Kenapa sebuah hubungan yang tidak layak harus tetap dipertahankan karena alasan sebuah ikatan darah, karena alasan nilai - nilai leluhur? Kenapa kalau begini malah begitu? Kenapa, kenapa dan kenapa? Masih banyak pertanyaan mengenai hidup ini yang pada awalnya belum dan tidak dapat saya pahami secara logika, namun akhirnya saya biarkan tanpa jawaban karena banyak hal yang terjadi dengan alasan yang tidak bisa dipahami oleh satu sudut pandang saja, tetapi membutuhkan mata yang berbeda - beda. Dan pada akhirnya hidup ini bukanlah untuk selalu dipahami, tetapi cukup dijalankan apa adanya. Iya, kan? 




#3: Mid Twenties Crisis
Mulai dari urusan nikah, pekerjaan, gaji, kuliah di luar negeri, punya anak, sampai hal - hal kecil yang tadinya sepele menjadi sangat sensitif! Yes, welcome to the mid life crisis! Sebenarnya fase ini udah mulai terasa semenjak tahun lalu, tetapi berhubung kondisi saya yang masih jauuuuh dari realita kehidupan jadi enggak terlalu berasa (khusus buat kalian yang tinggal atau kuliah di luar Indonesia, puas - puasinlah disana sebelum kembali kesini aka kehidupan nyata!). Baru deh tahun ini ketika kembali, berasa banget krisisnya. Krisis pertama, ehm, apalagi kalo bukan masalah pekerjaan. Mulai dari mendengar si A udah di posisi manajer, si B yang bisnisnya udah menjadi salah satu top brand di Indonesia, si C yang bekerja di lembaga non-profit internasional. Walaupun ada rasa minder, tetapi di sisi lain jadi semakin termotivasi juga untuk bisa sehebat mereka. Dan membuat saya semakin percaya bahwa kesuksesan itu enggak memandang usia, jenis/bidang pekerjaan, latar belakang pendidikan, dan apalagi gender. Krisis lainnya adalah, uhuk, ketika melihat banyaaaak banget teman - teman saya yang menikah dan bertunangan. Dan sayang sekali kali ini saya enggak bisa kabur lagi dari "pertanyaan" (yang enggak perlu dijelaskan lebih detail disini) yang dilontarkan mulai dari di acara kumpul keluarga besar, reuni, sampai di lingkungan pekerjaan sekalipun. Now I completely understand why living abroad is much easier than here. Bukan cuma karena fasilitas kehidupan yang lebih nyaman disana, tapi terlebih lagi tekanan - tekanan sosial seperti ini nih kadang yang membuat juga stress untuk tinggal disini. Mungkin pertanyaan "kapan menikah atau kapan punya anak?" terdengar sepele. Padahal, kedua hal itu bukan kehendak manusia yang mengatur. Beruntung buat mereka yang memiliki kehidupan yang sesuai standar kehidupan di negara kita: lulus kuliah langsung dapat kerja lalu enggak lama kemudian menikah dan bisa segera memiliki keturunan. But sometimes life doesn't work that way. 

#4: Traveling With The Loved Ones
Hal paling menyenangkan ketika pulang ke kampung halaman aka Indonesia adalah memiliki kesempatan untuk melakukan perjalanan dengan orang - orang terdekat. Kalau sebelumnya saya kebanyakan melakukan perjalanan sendiri, di tahun 2014 ini saya bahkan enggak pernah melakukan perjalanan seorang diri. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur bisa memiliki kesempatan untuk melakukan perjalanan dengan orang - orang terdekat saya, mulai dari keluarga hingga sahabat. Mulai dari Batu-Malang-Bromo dan Semarang dengan sahabat - sahabat saya, lalu USA untuk temu-super-kangen dengan kakak dan keponakan - keponakan saya(!!). Kemudian ditutup dengan membolang bersama adik - adik saya di Perth. Semoga tahun depan lebih banyak melakukan perjalanan baik di Indonesia maupun di benua lain, baik dengan maupun tanpa pendamping perjalanan.

3 comments:

  1. "Order dan Chaos"
    Didunia ini selalu ada pengecualian, sesuatu yg tak diinginkan, bagi manusia yang selalu melihat dari sisi hitam dan sisi putih saja, bersiaplah untuk merasakan sebuah turbulensi.

    "Sudahkah kau benar2 jatuh wahai yang sedang jatuh cinta? masih kutunggu kau dilubang yang kau gali sendiri. Di sebuah titik dimana engkau akan berbalik menjadi pecinta sejati"

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. hahaha iya benar mbaa, undoubtedly fun! X)

      Delete