February 28, 2018

Bergen: A Dream Come True

Rasanya malu banget ketika pagi ini saya terbangun karena suara ketukan dan panggilan Mba Aini yang tampaknya udah beberapa kali memanggil nama saya di depan pintu ruang tengah. Meskipun langit di luar masih tampak gelap seperti pukul setengah enam pagi di Indonesia, begitu melihat jam ternyata udah setengah sepuluh pagi! Haduh, baru juga semalam ketemu dan mengobrol tatap muka setelah beberapa kali hanya komunikasi lewat email sebelum datang kesini, sekarang malah udah bikin hal yang malu - maluin! Padahal saya selalu menyetel alarm di hp, tapi entah bagaimana kali ini enggak ada bunyi alarm sekalipun. Sambil meminta maaf berkali - kali, saya memberikan 'alasan paling kuat' yang saya punya bahwa saya kurang tidur dari semalam sebelumnya. Ditambah dengan fakta bahwa perjalanan menuju Bergen adalah perjalanan terjauh dan paling melelahkan semenjak saya memulai trip ini hingga butuh waktu hampir seharian untuk sampai kesini. Mulai dari enam jam perjalanan dengan bus Helsingborg ke Oslo, kemudian enam jam menunggu kereta di Oslo Central Station, dan akhirnya tujuh jam perjalanan dari Oslo ke Bergen. Tapi dilihat dari wajah Mba Aini dan Mas Baim, bahkan sebelum saya menjelaskan semua alasan tersebut, tampaknya mereka sudah tau dan paham betapa melelahkannya perjalanan saya untuk mencapai kota mereka ini.


Dan tampaknya pula, mereka juga memahami bahwa tamu-nya yang sudah banyak merepotkan ini sudah kelaparan setelah tidur pulas sekian lamanya :)) Karena begitu saya bangun dan beranjak dari sofa, mereka langsung menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan, yang ternyata menjadi sarapan paling berkesan dan favorit selama perjalanan Skandinavia ini. Makanya saya enggak bisa enggak menceritakan Bergen tanpa menu sarapan hari ini. Jadi sarapan hari ini adalah salah satu tipikal sarapan ala Norwegian, yaitu waffle yang juga ditemani dengan Norwegian coffee! Berbeda dengan waffle ala Belgian atau American, Norwegian waffle ini bentuknya tipis dan disajikan bersama brown cheese, sour cream dan strawberry jam. Kalo ditanya rasanya seenak apa, saya bisa bilang bahwa setiap membayangkan waffle ini, selalu ada penyesalan kenapa enggak membeli Fl√łtemysost, sebutan untuk brown cheese dari susu sapi yang (ternyata) cuma dijual di Norway. Saya sempat menemukan brown cheese di Sweden, tapi ternyata enggak sama dengan brown cheese yang digunakan oleh para Norwegian. Karena brown cheese yang dijual di Sweden, atau dikenal dengan Gudbrandsdalsost dicampur dengan susu kambing, yang tanpa mencobanya aja saya udah yakin seratus persen enggak akan suka. Dan jika ada dua hal lainnya yang saya sesalkan selain enggak membeli brown cheese adalah kenyataan bahwa saya enggak foto bareng dengan Mba Aini dan keluarga serta saya enggak foto menu sarapan hari ini. Yaa sebenernya sempet kepikiran pengen foto sih, cuma masih malu - malu gitu ceritanya. Haha! Berhubung saya enggak foto dan enggak menemukan foto dari blog serta instagram Mba Aini, jadi bagi kalian yang penasaran bentuk Norwegian waffle seperti apa, bisa langsung cek disini





Ramalan cuaca hari ini sudah mewanti - wanti bahwa hujan akan turun seharian dengan temperatur sekitar nol sampai empat derajat. Tapi Bergen ini seperti Bogor, alias terkenal sebagai Kota Hujan. Dari artikel yang saya baca, hujan pasti rata - rata turun sekitar 240 hari setiap tahunnya! Jadi yaa, agak membutuhkan keberuntungan yang lebih untuk bisa datang kesini tanpa bertemu hujan ;) Berhubung kesempatan untuk mengelilingi Bergen hanya hari ini, hujan dan dingin enggak menyurutkan semangat saya sedikit pun. Lagipula sebenarnya kan kota ini yang menjadi alasan utama saya jauh - jauh menginjakkan kaki ke Norway. Sebelum bertemu langsung, saya sudah jatuh hati sejak pertama kali melihat salah satu foto di Tumblr sekitar empat tahun lalu. Nyatanya, kota ini memang seperti ekspektasi saya, bahkan lebih cantik aslinya ketimbang hanya di foto. Dan terlepas dari gelarnya sebagai kota terbesar kedua di Norway, Bergen enggak terasa seperti kota besar. Bahkan semalam aja saya berjalan kaki dari stasiun ke pusat kota dan neighborhood tempat Mba Aini tinggal karena jaraknya hanya sekitar dua kilometer. Meski, uhmm, seperti yang bisa dilihat di foto, Bergen ini cukup hilly. Jadi ya meski kemana - mana dekat, tapi begitu udah mulai menuju atas bukit, lumayan berasa pegelnya deh :))





Hal pertama yang saya eksplore tentunya adalah Sandviken, sebuah neighbourhood yang terkenal sebagai tempat paling cantik di Bergen, sekaligus tempat dimana Mba Aini tinggal saat ini. Enggak berlebihan sih jika dikenal sebagai neighbourhood paling cantik, karena aslinya memang tempat ini manis banget diisi dengan rumah - rumah kayu berbagai warna dan bentuk serta beralaskan cobbled streets (which never fail to excite me). Ditambah dengan latar belakang bukit yang dipenuhi pepohonan pinus dengan taburan salju di atasnya, membuat tempat ini terasa dreamy sekali! Saya sampai menghabiskan waktu sejam lebih hanya untuk foto - foto di sekitar neighborhood ini karena terlalu excited setiap kali melihat rumah - rumah yang lebih mirip jadi rumah Barbie ketimbang rumah orang beneran. Seketika saya langsung mikir, apa jadinya ya kalau saya beneran tinggal disini... apakah saya akan selalu merasa excited setiap keluar rumah atau pada akhirnya jika pemandangan ini menjadi makanan sehari - hari bagi mata saya, mungkin jadi sesuatu yang biasa aja? Hmm. Mari kita tanyakan ke Mba Aini! *meski pada akhirnya saya lupa untuk menanyakan pertanyaan ini dan masih penasaran dengan jawabannya :)) 









Destinasi selanjutnya apalagi kalo bukan Bryggen, sebuah tempat yang pasti terpampang di postcard Bergen. Lebih dari sekedar tempat yang memiliki bangunan kayu tua dengan warna yang super menggemaskan dan Instagramable, Bryggen terkenal sebagai salah satu UNESCO World Heritage Site karena menjadi saksi sejarah perdagangan Hanseatic League, sebuah organisasi perdagangan di Eropa yang sebagian besarnya berasal dari bagian utara Jerman. Mungkin karena itu juga, begitu masuk ke dalam sebuah gang kecil yang terletak di salah satu bangunan tersebut, rasanya seperti dibawa ke beberapa ratus tahun lalu ketika Bergen masih menjadi kota pusat perdagangan Hanseatic. Dan mungkin karena itu juga, suasanya lebih terasa suram ketimbang bagian kota lainnya. Perpaduan lampu yang remang - remang serta bau apek dari kayu tua yang sering dibasahi oleh air hujan, yang mengeluarkan bunyi "krek, krek, krek" setiap kali saya melangkahkan kaki diatasnya. Ditambah memang pada dasarnya penakut sih, jadi alhasil saya enggak berani masuk ke dalam salah satu bangunan kalo lagi enggak ada pengunjung lain yang masuk juga. Haha!






Padahal rasanya belum banyak tempat yang saya kunjungi, tapi hari mulai terlihat gelap lagi. Begitu juga dengan udara yang semakin terasa dingin dan mulai menusuk hingga ke tulang jemari. Tapi di sisi lain kok masih belum rela untuk menyudahi jalan - jalan di kota ini. Seperti ada yang masih belum tuntas gitu, terlepas bahwa hampir semua tempat yang ingin dikunjungi hari ini sudah tercoret dari daftar yang saya buat. Sebenarnya masih ada satu lagi sih, yaitu Nordnes, sebuah neighbourhood yang direkomendasikan juga oleh Mba Aini. Tapi dengan situasi seperti ini, yang ingin saya lakukan hanyalah mencari tempat untuk menghangatkan diri. Begitu mengecek kembali, ternyata ada sebuah kafe yang direkomendasikan oleh Mba Aini dan letaknya di sekitar Nordnes. Untungnya begitu googling, kafe ini buka sampai pukul enam sore di saat kebanyakan kafe, toko, restoran, dan museum pada tutup di hari kedua Natal ini.

Ternyata Klosteret Kaffebar ini hyggelic banget! Tipikal kafe kecil yang dari luar aja udah terlihat nyaman dengan dekorasi lampu yang menggantung di jendela serta pajangan foto yang menghiasi salah satu sudut kafe. Di awal saya datang, saya adalah satu - satunya pengunjung. Namun enggak lama setelah itu ada pasangan yang juga duduk di seberang saya, yang kemudian kembali pergi setelah selesai menikmati latte mereka. Ada saatnya saya menyukai tempat ramai, tapi untuk waktu tertentu saya jauh lebih menikmati duduk di sebuah kafe kecil tanpa dipenuhi oleh banyak orang. Misalnya seperti saat ini, ketika saya sendirian dan lelah setelah berjalan seharian, saya sangat menikmati suasana kafe yang sepi dan hanya terdengar alunan jazz untuk memecah kesunyian. Meski dalam hati saya sempat berharap mereka memutar lagu Kings of Convenience, supaya semakin berasa lagi di Bergen gitu :p 






Sekitar satu setengah jam saya lalui sambil menulis pengalaman hari ini di sebuah notebook yang diberi oleh Echa sebelum saya kembali ke Belanda. Setelah beberapa bulan menganggur, lebih tepatnya karena saya enggak tega menggunakan buku-nya yang terlalu lucu untuk ditulis, akhirnya saya bawa untuk menjadi teman perjalanan selama trip Skandinavia ini. Tunggu deh, kalo dipikir - pikir, rasanya semua yang saya lalui saat ini udah seperti sebuah scene di film, ya enggak sih? Duduk di kafe yang cozy sambil menulis dan tentunya sambil ditemani oleh secangkir kopi. Jadi sambil menulis, sesekali saya (((coba))) untuk menikmati secangkir kopi hitam yang rasanya asam sekali. Beginilah akibat sok - sok memesan kopi selain latte atau cappuccino. Dan kopi tanpa makanan manis rasanya seperti menulis tanpa pulpen. Pilihan saya kali ini adalah Skillingsbolle yang literally adalah cinnamon rolls. Tapi ternyata Norwegian cinnamon rolls rasanya berbeda dari Danish, karena disini rasa cinnamon-nya terlalu kuat sampai menimbulkan rasa pahit. Selain itu tektsturnya juga enggak selembut cinnamon rolls lainnya yang pernah saya coba. Yaa, meski kali ini bukan favorit saya, tapi seenggaknya pengetahuan saya soal cinnamon rolls semakin bertambah. Next time kalo ke Skandinavia lagi, belinya Kanelsnegle (Danish's) atau Kanelbullar (Swedish's) aja, enggak usah Skillingsbolle! *lalu setelah ini langsung ditimpuk skillingsbolle oleh para Norwegian :))

Terlepas dari cuaca yang gloomy dan hujan yang enggak berhenti sedikit pun, temperatur yang kadang membuat tangan saya mati rasa, suasana kota yang sepi karena enggak banyak orang lalu - lalang di jalan serta toko yang pada tutup; Bergen tetap memberikan kenangan yang manis dan menjadi salah satu mimpi masa muda yang awalnya tampak seperti mimpi di siang bolong, ternyata tanpa diduga bisa terwujud secepat ini. Terima kasih semesta. Sampai jumpa kembali di suatu musim panas atau hari yang lebih cerah dan hangat, Bergen! :) 

12 comments:

  1. Super love! kalau baca itu aku berasa ikut jalan-jalan padahal diem doang ;'D makasih kak Ozzu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama samaa Arfikaa! Aku pun senang kalo tulisanku bisa bikin pembacanya ikutan terbawa ke tempat yang aku ceritakan. Semoga someday bisa beneran jalan - jalan di Bergen yaa :')

      Delete
    2. amien, semoga semesta mengaminkan dan memperjalankan :')

      Delete
  2. what a beautiful placeee.. terimakasih ya mba sudah sharing pengalaman2 nya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa! Bergen memang cantik sekaliii <3

      samaa samaa, makasih juga yaa udah baca blog aku :D

      Delete
  3. Entah kenapa dri tahun 2016 seneng aja kepo sama mbak nazuraaa. Seneng aja liat kisahnya dri mulai dftar kuliah diluar negeri sampai akhirnya kerja di belandaaaaa. Love deh ❤��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Yessy! Makasih udah ngikutin blog aku yaa... aku pun ikutan seneng begitu tau kalo blog aku ini bisa bikin orang lain jadi seneng hehe :')

      Delete
  4. Replies
    1. Iyaaa emang Bergen bagus banget Mirrr :')

      Delete
  5. cantik banget kotanya Kak Ozu! huhu ngebayangin duduk disitu habis capek-capek keliling kota pasti lega banget yaaa. Btw syal nya lucukkkk

    ReplyDelete
  6. ih kak ozuuu super loveee liat Bergen ini :") itu rumah-rumah kenapa cantik banget kaya ngeliat postcard :"") <3

    ReplyDelete
  7. Scroll ulang atas bawah cuma gara-gara gemes banget lihat rumah-rumahnya, idaman banget! Nggak heran deh kalo kak ozu sampe sejam cuma buat moto-moto itu semua, terlalu indah hehe. Semoga kapan kapan bisa kesana juga amin amin amin :))

    ReplyDelete