March 28, 2018

Reproduction of Happiness #79: Breakfast

Ada satu kebahagiaan yang baru saya temukan atau lebih tepatnya saya sadari semenjak tinggal di Belanda, yaitu sarapan! Sebenarnya kalau ditelusuri, dari sebelum ke sini pun saya udah bersemangat setiap pagi untuk sarapan. Maklum, biasanya kan kalau udah tidur lama gitu, bangun - bangun suka laper tuh :p Tapi rasanya sih saya semakin menghargai arti sarapan sejak tinggal di flat sebelum ini. Entah karena saya biasa terbangun oleh aroma kopi dan suara coffeemaker ketika salah satu flatmate saya membuat sarapan di dapur yang letaknya hanya beberapa langkah dari kamar saya. Entah karena di ruang tengah, yang biasa digunakan sebagai tempat untuk breakfast, memiliki pemandangan yang enggak pernah bosan untuk dilihat sekalipun hampir setiap hari saya melihatnya. Terus apa hubungannya? Karena terlalu bagus untuk dilewatkan, saya jadi suka melihat pemandangan tersebut sambil sarapan. Yang pasti, semenjak saya tinggal di flat sebelum ini, saya mulai mengganti cara menikmati sarapan. Dari yang sebelumnya setiap sarapan saya cenderung tergesa - gesa, kali itu saya coba lakukan secara perlahan.

Selain itu, sarapan juga menjadi salah satu indikator ketika dulu saya sempat mengalami depresi, loh! Kalau setiap pagi saya terbangun dalam kondisi semangat buat sarapan, tandanya saya masih dalam tahap yang 'tolerable'. Tapi begitu udah menemukan pagi di mana saya enggak ada semangat buat sarapan, wah itu tandanya udah parah banget, dan saya mesti melakukan effort lebih buat menjalani hari saya tersebut :)) Karena selain proses menikmati makanan yang disajikan buat sarapan, hal lain yang juga membuat saya bahagia adalah proses membuat sarapan itu sendiri. Jadi triple gitu loh kebahagiaan yang diberikan dari breakfast routine ini. Mulai dari sebelum sarapan, selama membuat sarapan, hingga saat sarapan. Soalnya terkadang kan mulai dari bangun aja udah bikin semangat gitu buat sarapan. Yaa itu tadi, karena udah lama tidur, jadi bangun - bangun laper. Apalagi kalau malam sebelumnya udah enggak makan di atas jam 8. Wah, fix sih begitu bangun pasti laper. Haha!


Semenjak tinggal di Belanda, ada tiga menu sarapan favorit saya. Uniknya, setiap menu punya arti yang berbeda dan dibuat berdasarkan: waktu yang saya punya di pagi hari, mood, dan seberapa banyak asupan energi yang saya butuhkan sampai sebelum lunch. 

For Energetic Day: 
Green Smoothie, Egg and/or Cheese Toast

Di antara menu sarapan yang lain, menu ini yang paling full energy. Jadi saya pasti bikin menu ini, yaitu telur dengan roti atau biskuit gandum dan smoothie, kalau saya akan sepedaan ke kampus. Secara dulu kaan flat saya sebelum ini sekali jalan 10 km, dan ternyata dengan hanya sarapan roti aja begitu sampai di kampus langsung laper lagi. Begitu juga dengan flat saya sekarang, meskipun hanya berjarak 3,7 km, karena jalanannya nanjak dan sepeda saya enggak ada gear-nya, jadi tetep lumayan banyak ngeluarin tenaga :)) Selain itu, saya juga mengonsumsi menu ini kalau workload lebih banyak dari biasanya, saat saya merasa kurang bertenaga dari pagi tapi sorenya saya akan ikut kelas zumba, serta kalau lagi pengen makan yang asin sambil minum yang seger - seger. Oh iya, udah empat bulan ini sebenernya saya sedang mengurangi roti, jadi saya menggantinya dengan biskuit gandum. Cumaan, ada satu waktu di mana saya pasti mengonsumsi roti untuk sarapan, yaitu ketika PMS! Jadi biasanya saya bikin egg-cheese toast ini (soalnya biasanya juga saya cuma bikin dengan telur aja tanpa keju) dan ketimbang minum smoothie, entah kenapa selama periode tersebut saya lebih suka menyantapnya sambil minum kopi.


Untuk resep green smoothie, sebenernya udah pernah saya tulis beberapa resep favorit saya, di blog post ini. Cuma semenjak di sini, ada satu resep tambahan lagi yang justru paling sering saya buat dibanding resep smoothie lainnya, yaitu Spiberry. Pada dasarnya sih ini hampir sama dengan Berry Nach, tapi ada sedikit modifikasi. Mumpung harga blueberry di sini jauh lebih murah ketimbang di Indonesia, jadi saya konsumsi sebanyak - banyaknya deh sebelum for good ke Indonesia nantinya. Jadi resep Spiberry ini adalah:

3 genggam baby spinach
1 genggam frozen blueberry
5 buah frozen strawberry
1 buah pisang
1 gelas susu soya atau almond
2 sdm yoghurt rasa strawberry/blueberry (supaya lebih creamy)

Masukkan semua bahan di atas ke dalam blender dan blend sampai halus. Oh iya, saya juga biasanya rendam strawberry di air hangat selama beberapa detik sampai enggak terlalu keras. Dari pengalaman saya, kalo strawberry-nya masih beku, terkadang susah hancurnya. Tapi kayanya ini tergantung ukurannya juga sih ya. 


For Casual Day:
Peanut Butter Granola Bowl 

Di antara berbagai menu lainnya, menu sarapan ini udah jadi favorit saya semenjak tiga tahun lalu. Lebih tepatnya ketika saya mulai concern dengan pola hidup yang lebih sehat. Dan kayanya menu yang satu ini yang paling punya banyak cerita. Bukan apa - apa, untuk sampai ke menu ini, saya melewatkan berbagai eksperimen alias coba - coba berbagai menu sarapan yang terkait dengan muesli dan granola. Jadi ceritanya tuh, waktu itu saya diminta oleh dokter untuk melakukan detoks liver, yang mana ada beberapa makanan yang harus diganti, termasuk menu sarapan saya. Dari yang sebelumnya saya doyan banget makan sereal manis dengan susu sapi, akhirnya diganti menjadi muesli atau granola. Nah, berhubung masih baru kan tuh, jadi semangatlah saya mencari jawaban atas pertanyaan "enaknya diapain nih si kedua makanan asing ini". Yaa secara gitu kan, seumur - umur sarapan dengan oat paling dibikin havermout, itu pun ujungnya dicampur pake susu sapi dan gula. Berhubung banyak pantangan makanan dan waktu itu saya juga penasaran dengan beberapa produk lokal yang menjual makanan sehat, saya pun tertarik untuk mencoba overnight oats. Merasa puas dengan rasanya tapi enggak puas dengan harganya (karena terlalu mahal, haha!), saya jadi tertantang untuk membuat versi saya sendiri, yaitu menggunakan unsweetened soy milk, muesli dan beberapa buah - buahan. Resep ini sebenarnya saya dapatkan dari salah satu website yang memberikan beberapa resep untuk overnight oats, salah satunya dengan susu almond. Tapi berhubung saya enggak suka susu almond, jadi saya ganti dengan susu soya (saya juga enggak ngerti sih kenapa waktu itu enggak ganti dengan yoghurt, padahal jelas - jelas produk lokal yang saya beli waktu itu menggunakan yoghurt juga untuk overnight oats-nya!). Daaaan, ketebaklah yaa, rasanya jauh beda dengan yang saya beli di produk lokal waktu itu. Tapi karena semangat saya masih menggebu - gebu untuk hidup sehat, jadinya saya sempat rutin makan overnight oats dengan resep seperti itu. Sampai akhirnya suatu ketika saya jenuh banget dan akhirnya stop makan sampai sekarang saking masih trauma makan overnight oat. Hahaha!


Setelah itu saya juga eksperimen menu lain, yaitu mencampur muesli dengan smoothie. Sebenernya rasanya lebih enak ketimbang overnight oat... cuma setelah beberapa kali mencoba, saya enggak pernah buat lagi karena akhirnya saya sadar kalau bagi saya, jenis dan rasa smoothie apapun enggak cocok dipasangkan dengan muesli/granola. Awalnya saya kira ini cuma karena saya aja yang enggak jago bikinnya, tapi ternyata begitu coba salah satu smoothie bowl dari Nalu Bowl, tetep aja enggak bikin saya menyukai campuran smoothie dengan muesli/granola. Dan entah akhirnya bagaimana dan dari mana, saya sampai juga ke resep "Peanut Butter Granola" ini, yang mana enggak ada yang bisa menggantikan selama tiga tahun ini. Serba pas! Bukan cuma rasanya, tapi juga preparation time yang singkat, dan asupan energi yang enggak bikin laper dan lemes sampai jam makan siang. Kadang menu ini juga saya jadikan sebagai menu makan malam loh. Hasilnya pun sama juga, kalo saya makan sekitar jam 7 malam, setelah makan ini tetep bikin kenyang sampai tengah malam (karena saya biasa tidur jam 12). 

Secara saya orangnya apa - apa berdasarkan feeling, termasuk dalam memasak, jadi kurang lebih resepnya seperti ini:

4 sdm muesli/granola (favorit saya sih yang baked tanpa dilapisi tepung)
2 sdm yoghurt (favorit saya Greek yoghurt, atau kalo mau plant based, saya juga suka Plain Soy atau Coconut yoghurt)
1 sdm selai kacang (jika mau lebih berasa kacangnya, bisa tambahkan sesuai selera)
1 sdt madu
1/2 pisang (kalau lagi lapar, bisa juga 1)

Semua bahan dicampur sampai merata, lalu disajikan. Oh iya, kadang saya juga suka tambahkan sedikit muesli/granola lagi di atasnya supaya lebih crunchy. 

For Lazy Day: 
Sweet Crepes/Pancake

Buat menu yang satu ini biasanya sih pasti saya bikin hampir setiap Sabtu dan Minggu, meskipun kadang saya juga buat di hari lain kalau tiba - tiba lagi pengen. Terus enggak tau yaa, tapi bawaannya tuh kalo lagi sarapan dengan pancake atau crepes, pasti otomatis pengen buka Spotify. Jadi sarapan di akhir pekan dengan ditemani lagu bernuansa jazz atau akustik sambil duduk melihat ke luar balcony. Entahlah ini karena kebanyakan nonton film atau baca buku dengan genre drama, saya jadi ikutan dramatis gini sekarang :)) Oh iya, dari pindah ke Belanda pertama kali saya juga udah mulai sering buat pancake. Tapi kalau kebiasaan minum kopi buat sarapan ini baru muncul ketika tinggal di flat yang sebelum ini. Awalnya saya hanya tergoda dengan aroma kopi yang semerbak wanginya hingga satu flat setiap kali flatmate saya buat kopi. Namun lama - kelamaan saya penasaran juga dan akhirnya mencoba kopi bikinannya. Semenjak itu saya jadi ketagihan minum kopi untuk sarapan, apalagi kalau ditemani dengan pancake atau crepes ini.


Berhubung saya enggak suka menggunakan baking powder karena rasanya yang pahit, jadi untuk membuat adonan crepes dan pancake sebenernya enggak ada bedanya sih, kecuali takaran tepungnya. Dan karena saya orangnya jarang menakar, biasanya sih saya melihat dari kekentalan adonannya. Jadi kalau crepes biasanya adonannya cair, sedangkan kalau pancake saya akan tetap masukkan tepung hingga adonannya kental. Oh ya, ada tiga topping favorit saya untuk disajikan dengan crepes atau pancake. Topping pertama adalah choco-peanut butter, yang literally cuma campuran selai kacang dan selai cokelat. Sebenernya lebih enak dengan Nutella, tapi berhubung lemaknya juga lebih banyak, jadi saya substitute dengan dark chocolate. Ha! Lalu topping lainnya adalah pancake ala American, yaitu maple syrup, caster sugar (bubuk gula putih), dan butter. Dan satu lagi adalah ala Norwegian, yang sempat saya ceritakan sebelumnya di postingan tentang Bergen, yaitu strawberry jam, sour/clotted cream, serta Norwegian brown cheese. Berhubung saya enggak punya cetakan waffle, akhirnya saya ganti jadi crepes atau pancake aja deh. Sama enaknya kok! :3


Later, I realize this morning routine has become one of the most crucial moment for me. By taking my breakfast slowly, I appreciate things around me more. Bukan hanya makanan yang saya makan, udara segar yang saya hirup, tapi juga hal lain di sekitar saya. Seperti pemandangan di luar jendela yang sepintas terlihat sama dari hari ke hari, ternyata ada waktu di mana berbeda. Pepohonan yang tadinya berwarna hijau menjadi merah, kuning, dan cokelat. Lalu ada saatnya berubah lagi menjadi kosong tanpa daun. Dan akhirnya mulai terlihat pucuk - pucuk kecil di sekeliling rantingnya. Bagi saya, ada kebahagiaan tersendiri setiap melihat semua perubahan tersebut dari waktu ke waktu. Di flat saya yang sekarang, morning routine ini juga masih saya terapkan karena kamar saya punya balcony. Meskipun view-nya enggak sebagus flat sebelumnya, pemandangan taman dengan pepohonan serta suara kicau burung - burung di luar tetap membuat saya merasa refreshed. Beberapa bulan lalu, di saat temperatur lagi enggak begitu dingin, saya juga suka sarapan di balcony. Tapi berhubung sekarang masih dingin, saya sarapan di kamar dulu aja dengan membuka pintu penghubung ke balcony sambil menikmati pemandangan di luar :))

March 24, 2018

Sixteen Hours in Oslo

Setelah kurang lebih enam jam duduk di kafetaria yang ada di dalam kereta dari Myrdal menuju Oslo, dengan beberapa kali pindah tempat duduk - dari satu sudut ke sudut lainnya, dari yang kursi tanpa senderan hingga ada senderannya - akhirnya penantian panjang pun berakhir. Akibat menunda dan menggampangkan reservasi tempat duduk, begitu tadi siang saya coba reservasi di stasiun Flam, ternyata udah sold out. Alhasil, saya jadinya duduk di kafetaria yang mana enggak bisa tidur dan duduk senyaman di tempat duduk biasa. Tapi yaaa, jangankan mengeluh, kenyataan bahwa saya masih diperbolehkan masuk ke dalam kereta hingga Oslo aja udah bersyukur banget! Kalo sampe enggak dibolehin masuk karena enggak dapat tempat duduk kan jadi berabe urusannya. Dan seenggaknya, kafetaria di kereta pun juga masih terbilang nyaman. Tetep aja sih, saya akan menjadikan ini salah satu pelajaran terpenting yang enggak akan saya lupakan dari perjalanan ini: jangan pernah menunda buat reservasi segala sesuatu yang ada batasnya!



Ada hal menarik dari perjalanan ini yang enggak saya dapatkan dari berbagai perjalanan saya sebelumnya, yaitu keunikan setiap keluarga yang saya temui di sini. Mulai dari pengalaman mereka tinggal di Skandinavia hingga kebiasaan masing - masing keluarga yang berbeda satu dengan lainnya, termasuk cara mereka menata tempat tinggal. Kalo flat-nya Mas Marlo dan Mbak Lelly memiliki desain yang minimalis dan paling cocok buat mahasiswa yang pengen punya studio apartemen. Bahkan saya aja sempat dibikin iri karena dengan ukuran studio yang sama harganya bisa berkali lipat di Rotterdam. Lain lagi dengan rumah Mbak Aini dan Mas Baim yang membuat saya merasa seperti bukan tinggal di rumah beneran saking manis-nya. Rumah kayu yang sepintas terlihat tua tapi sebenarnya kokoh karena beberapa tahun sekali pasti diganti bagian dalamnya supaya tetap kokoh. Akhirnya bisa merasakan bagaimana tinggal di Scandinavian toy house! Sedangkan impresi pertama saya begitu mengunjungi flat-nya Mbak Jena dan Mas Abi itu langsung, "wah artsy banget!". Indeed, hal pertama yang membuat saya terpukau begitu sampai di flat mereka adalah dekorasinya. Bagian living room yang dihiasi oleh berbagai indoor plant langsung mengingatkan saya dengan foto - foto yang biasa diposting oleh akun Instagram @urbanjungleblog. Selain itu, dekorasi bathroom yang apik dan bernuansa boho juga salah satu yang jadi favorit saya. 




"Ozu, kamu yakin enggak mau keliling Oslo dulu sebelum ke Stockholm?", tanya Mbak Jena ketika saya mengutarakan rencana saya buat langsung mengambil kereta paling pagi ke Stockholm. Dari awal menyusun itinerary, satu kota yang ditujukan hanya untuk singgah adalah Oslo. Secara gitu kan letaknya yang strategis, berada di tengah - tengah antara Bergen dan Stockholm. Tiga hari yang lalu saya juga sempat singgah di Oslo tapi enggak perlu menginap karena saya sampai Oslo pagi dan jadwal kereta saya ke Bergen kebetulan ada yang di siang hari. Cuma kali ini berhubung saya baru tiba di Oslo jam delapan malam, sedangkan keberangkatan ke Stockholm baru ada di hari berikutnya; akhirnya mau enggak mau saya harus menginap semalam di Oslo. Soalnya baik dari cerita teman saya yang udah pernah kesana maupun dari hasil browsing, tampaknya memang enggak ada yang menarik untuk dieksplore. Tapi setelah dipikir - pikir lagi, enggak ada salahnya juga melihat sisi lain Oslo selain central station-nya. 

Berhubung dari awal udah enggak ada rencana buat keliling Oslo, jadi saya pasrah ikut kemana para tuan dan nyonya rumah membawa saya. Tempat pertama yang kami tuju adalah sebuah taman yang letaknya di atas bukit dan selintas dari dalam mobil terlihat beberapa sculpture di antara pepohonan. Belakangan saya baru tau kalo Ekebergparken ini ternyata salah satu sculpture park yang terkenal di Oslo. Meskipun sejujurnya saya cuma familiar dengan satu nama, Salvador Dali, dari beberapa nama artist yang karya-nya dipajang di sini :)) Anyway, rencana kami yang tadinya mau berjalan mengelilingi taman akhirnya hanya berujung foto di dekat parkiran karena jalanan yang saat itu super licin, dilapisi oleh es. Ini sih yang menurut saya paling gengges dan bikin saya males keliling Oslo...  bukan cuma dinginnya yang menusuk, tapi juga mesti super hati - hati setiap melangkah. Cuma buat poin kedua, ini juga ada kaitannya dengan kebodohan saya yang hanya membawa satu boots, itu pun yang saya beli di Primark dan bukan yang Docmart. Bukannya apa - apa, tapi di saat seperti ini saya baru sadar memang harga itu enggak boong ya. Licin banget cuy pake yang dari Primark! Jadi, pelajaran lainnya adalah pake sepatu yang proper setiap kali traveling, terutama di saat winter. Baiklah. 





Setelah itu kami ke Vigeland Park, yang (((ternyata))) merupakan salah satu destinasi 'wajib' di Oslo karena gelarnya sebagai the world's largest sculpture park dan setiap patung yang ada di sini dibuat oleh satu orang, yaitu Gustav Vigeland. Lucunya, berhubung saya cuma sepintas browsing informasi tentang Oslo, saya enggak ngeh sama sekali dengan tempat ini. Bahkan Mbak Jena udah beberapa kali mention nama tempat ini, tapi tetep aja saya enggak tau tempat apa ini. Awalnya saya kira malah  cuma mau jalan - jalan ke taman terbesar di Oslo. Meski dalam hati saya mikir kok niat banget Mbak Jena sampai bela - belain jalan kaki  (sebenernya enggak jauh, tapi berhubung licin jadi jalannya mesti pelan - pelan) demi menunjukkan taman ini. Eh, enggak taunya kami sampai di sisi taman yang dipenuhi kerumunan turis yang dikelilingi oleh patung - patung yang... tanpa pakaian. "Iya, semua sculpture di sini naked tapi dibuat dengan berbagai pose dan kondisi yang berbeda", begitu kata Mbak Jena, yang dari tadi menjelaskan tentang taman ini. Bener aja, begitu diperhatikan lebih dekat, ada beraneka ragam bentuk patung. Mulai dari couple yang duduk saling berhadapan, ibu menyusui, anak - anak sedang berlari, seorang laki - laki sedang berpikir, dan masih banyak lagi. Sambil mencoba memahami, namun akhirnya gagal paham,  dengan polosnya saya bertanya ke Mbak Jena, "Tapi Mbak, ini kenapa bisa sampai terkenal ya? Apa sih yang sebenernya spesial dari berbagai sculpture di sini?". Saya lupa pastinya jawaban apa yang diberikan Mbak Jena, kayanya sih karena Vigeland berhasil menunjukkan berbagai sisi manusia dari berbagai patung tersebut. Cuma satu hal yang pasti, saat saya bertanya begitu, raut wajah Mbak Jena langsung berubah meski hanya dalam beberapa detik, seraya kaget dan bingung dengan pertanyaan saya. Ah, kayanya saya memang kurang memahami seni, terutama yang berhubungan dengan seni pahat :))

March 17, 2018

Reproduction of Happiness #78: Supermarket

Saya lupa kapan pastinya saya mulai menyadari bahwa selain bersemangat diajak belanja buat pakaian dan dekorasi kamar, saya juga enggak kalah semangat setiap diajak pergi belanja ke supermarket. Hal pertama yang saya tuju pastilah terkait makanan. Secara saya dari kecil udah doyan jajan. Haha! Nah yang kedua adalah belanja kebutuhan rumah tangga. Apalah ini namanya, antara berjiwa emak - emak sejak kecil atau berjiwa sosialita dengan kantong pas - pasan, bahkan belanja kebutuhan rumah tangga aja bisa bikin saya senang. He. Kayanya sih semua ini berawal saat saya punya kamar sendiri, yang mulai membuat saya enggak hanya mikirin pernak - pernik ruangan apa aja yang dibutuhkan supaya bikin kamar saya terlihat menarik dan tentunya terasa nyaman, tetapi juga mulai terbiasa buat daftar belanja bulanan buat kebutuhan kamar. Mulai dari pewangi ruangan, kamper pakaian, karbol sampai bebek buat toilet! Entah sebenernya apa yang menarik dari membeli barang - barang seperti itu, tapi tetep aja bikin saya seneng. Haha. Mulai dari proses milih - milih, membawa ke rumah (kalo ngeluarin uang-nya sih enggak seneng, ha!) sampai unpack setiap barang belanjaannya. Kayanya karena saya juga pada dasarnya menikmati bersih - bersih apalagi untuk kamar saya sendiri, jadi belanja cleaning stuffs aja juga bikin saya senang :)) 






Nah, yang jelas sih, saya semakin senang ke supermarket sejak ngekos di Bandung. Meskipun lagi - lagi, karena budget mahasiswa ya, jadi groceries-nya cuma bisa ke Borma atau Superindo, yang masih murah meriah. Ha! Paling kalo lagi pulang ke Jakarta aja pas lagi belanja bareng Bunda, baru deh bisa ke Ranch Market buat belanja yang lebih berkualitas sambil cuci mata mengelilingi rak demi rak. Selain belanja, hal lain yang enggak kalah bikin saya senang adalah melihat berbagai produk import yang lebih menarik dan lucu dari packaging-nya ketimbang kebanyakan produk Indonesia, tapi enggak lucu kalo dilihat dari harga-nya :)) Saya kira awalnya karena saya terlalu norak aja, ternyata bukan cuma saya doang yang menemukan kebahagiaan window shopping di supermarket yang menjual produk import. Karena Ican pun juga suka. Hahah! Makanya kalo lagi bosen mau ngapain dan kemana, salah satu alternatif tempat dan kegiatan buat ngedate adalah Setiabudhi Supermarket, Yogya Riau, atau Papaya; yang basically semua supermarket itu menjual produk import. Kalo saya lebih suka memperhatikan produk dengan packaging yang lucu, Ican lebih suka mengobservasi jenis produk yang jarang dijual di supermarket lokal, mulai dari jenis ikan, sayur, buah, hingga minuman dan makanan lainnya.




Hobi saya belanja groceries dan melihat packaging produk import yang menarik itulah yang cukup menjelaskan kenapa semenjak saya di Belanda, belanja ke supermarket adalah salah satu kegiatan mingguan yang memberi kebahagiaan tersendiri bagi saya. Selain produk disini yang packaging-nya menggemaskan, banyak jenis produk tertentu yang masih jarang saya temukan di Indonesia atau sebenernya bisa ditemukan tapi dijual dengan harga berlipat ganda atau malah mesti beli online (yang mana saya termasuk orang yang paling males belanja online kalo belum pengen banget dan enggak jauh beda harganya). Beberapa contoh produk yang paling terasa perbedaannya bagi saya adalah cokelat, granola, yoghurt, dan selai kacang! Kalo di Indonesia biasanya saya cuma beli satu atau dua brand tertentu karena brand variant yang masuk ke supermarket masih terbatas, dan semakin sedikit pilihannya yang cocok dengan selera saya. 




Pada dasarnya saya memang enggak pernah picky soal supermarket mana buat belanja mingguan atau bulanan. Selama ini biasanya sih saya selalu milih yang paling dekat dengan tempat tinggal saya. Cuma dari pengalaman saya belanja ke beberapa supermarket disini, kalau disuruh pilih satu yang menjadi favorit saya adalah Albert Heijn (AH). Memang AH ini bukan pilihan paling ekonomis sih, tapi untuk range produk dan brand yang tersedia mah enggak usah diragukan lagi. Terlengkap di antara yang lain! Mulai dari produk lokal yang enggak dijual di supermarket lain hingga produk AH-nya sendiri (yang biasanya lebih murah ketimbang brand lainnya tapi sejauh ini selalu memuaskan sih bagi saya). Semoga aja semakin kesini semakin banyak produk lokal dengan kualitas tinggi dan harga terjangkau yang juga bisa masuk ke berbagai supermarket di Indonesia. Jadi praktis dan enggak perlu repot mesen dulu :)) 

March 12, 2018

Flåm: The Highlight of My Scandinavia Trip

Meskipun bukan menjadi tujuan utama saya, salah satu hasrat terpendam saat ke Skandinavia adalah bisa melihat dan merasakan salju yang tebal. Tapi nyatanya sudah hari keenam, masih aja belum ada kesempatan bagi saya untuk bisa langsung memegang salju. Bahkan melihat salju tebal aja baru dua hari yang lalu, ketika melewati beberapa kota dari Oslo menuju Bergen. Dan begitu sampai di Bergen, enggak ada sedikit pun jejak salju disana. Kemarin memang sempat hujan es sih, tapi ya itu kan bukan salju yang saya maksud :p Makanya saya berharap hari ini bisa melihat dan merasakan salju tebal di Flåm, sebuah desa yang terkenal dengan keindahan alamnya, terutama karena letaknya yang berada diantara Fjord. Kalo mengunjungi Norwegia rasanya enggak mungkin enggak menemukan istilah fjord, yang berarti sebuah bagian sempit dari laut yang terhimpit oleh tebing - tebing atau bukit - bukit besar disekitarnya. Perpaduan antara bagian laut yang berada diantara perbukitan tersebutlah yang akhirnya menciptakan pemandangan yang sangat menawan. Sebenernya Bergen dan sekitarnya ini termasuk yang paling terkenal untuk melihat fjord. Makanya saat musim panas, wilayah ini banyak dikunjungi oleh wisatawan yang mengincar hiking trails-nya yang bagus banget. Tapi berhubung lagi musim dingin begini, hanya ada dua cara terbaik untuk menikmati fjord, yaitu naik kapal Fjordline dan kereta Flamsbana


Selama menyusun itinerary, salah satu yang cukup bikin saya galau adalah menentukan bagaimana saya menuju Flam. Lebih tepatnya sih, memilih moda transportasi. Sebenernya paling ideal yaa naik kapal Fjordline dari Bergen ke Flam. Kemudian dilanjutkan naik kereta Flamsbana dari Flam menuju Myrdal, satu - satunya stasiun penghubung Flam dengan kota lain. Tapi setelah mempertimbangkan beberapa hal, saya hanya memilih naik Flamsbana. Diliat dari total waktu perjalanannya, jika memilih naik Fjordline, maka saya harus bermalam lagi di Flam/Myrdal/Bergen sebelum lanjut ke Oslo. Hal lain yang juga bikin saya ragu adalah perjalanan di kapal dari Bergen menuju Flam yang memakan waktu sekitar empat jam. Fyi, ship (any type) is my least favorite mode of transportation. Dari pengalaman sebelumnya naik cruise atau boat tour, excitement buat foto dan menikmati pemandangan sekitar itu hanya berlangsung beberapa belas menit pertama. Sisanya yang ada hanyalah mual dan bosan. Jadi ngebayangin harus menghabiskan waktu empat jam di dalam kapal, udah langsung bikin saya enggak mood. Dan alasan terakhir adalah tentunya berhubungan dengan budget yang pas - pasan. Ha! Kalo diitung lagi, dengan memilih opsi ideal ini maka pengeluaran saya untuk hari ini akan dua kali lipat lebih besar dari jika saya hanya memilih naik Flamsbana. Mari diaminkan aja agar next time saya dapat rezeki lagi bisa datang kesini di musim panas, supaya saya bisa menikmati fjord dengan menyusuri salah satu hiking trail buat beginner :))






Begitu saya tiba di Myrdal, salju sedang turun lumayan deras dan tampaknya sudah berlangsung sejak lama jika dilihat dari timbunan salju yang sudah tebal baik di stasiun maupun di sekitarnya. Buru - buru saya turun untuk masuk ke dalam kereta berwarna hijau dengan interior didalamnya bernuansa merah kecokelatan. Melihat bentuk keretanya yang antik ini langsung mengingatkan saya dengan steam train di Inggris. Lebih tepatnya ketika saya berkunjung ke Corfe Castle dan Derbyshire. Tapi saya enggak bisa mengatakan secara pasti bagian mana yang mirip dari kedua kereta tersebut. Begitu masuk, saya dibuat kaget untuk kedua kalinya di hari itu karena ternyata hanya ada beberapa penumpang di dalam gerbong yang sama dengan saya. Padahal informasi yang saya dapat di internet, sebagian besarnya mengatakan bahwa Flamsbana ini hampir selalu penuh. Tapi baguslah, semakin sepi berarti semakin leluasa saya untuk pindah tempat duduk ke sisi kanan dan kiri, mengikuti pemandangan di sisi mana yang lebih bagus. Haha! 

Beberapa menit sudah berlalu dan pemandangan di luar masih belum terlihat spesial. Sekalinya pun ada, begitu saya mau foto, seketika langsung gelap kembali karena begitu banyak terowongan yang dilalui. Tiba - tiba kereta terasa melaju lebih pelan dan terdengar pengumuman bahwa dalam beberapa saat lagi para penumpang dipersilahkan turun untuk melihat air terjun yang bernama Kjosfossen. Mungkin kalo enggak mengunjunginya di saat winter, saya enggak akan merasa ada yang begitu istimewa dari air terjun ini. Bahkan kalo mau dibandingkan dengan air terjun Benang Kelambu di Lombok, Kjosfossen ini terlihat enggak ada apa - apanya. Tapi berhubung baru kali ini saya melihat air terjun yang diselimuti oleh salju serta di waktu yang bersamaan juga sedang turun salju, harus diakui memang tempat ini terlihat begitu istimewa. Belum lagi dengan tebing - tebing berlapiskan es di sekelilingnya, membuat saya seperti sedang berada di Narnia. 




Seolah - olah menjadi pertanda bahwa 'perjalanan sebenarnya' baru dimulai, semenjak dari pemberhentian tersebut saya semakin sulit untuk memalingkan pandangan dari pemandangan di luar jendela yang semakin terlihat surreal dan enggak masuk akal karena saking luar biasa indahnya. Langit yang terlihat mendung yang seringkali tertutupi oleh kabut tebal berwarna putih. Sungai yang airnya sudah berubah menjadi bongkahan es. Semuanya menyatu dengan warna pegunungan berbatu hitam dengan berhiaskan pepohonan cemara yang juga sudah sepenuhnya putih. Semakin lama kereta melaju, mulai terlihat juga dari kejauhan rumah - rumah ala Nordic dengan berbagai warna yang semuanya diselimuti oleh salju tebal di atapnya. Merah, kuning mustard, hijau muda, biru tua, cokelat; yang terlihat kontras dengan pemandangan monokrom di sekelilingnya. Enggak lama kemudian semakin terlihat tanda - tanda kehidupan dengan semakin banyaknya jumlah bangunan warna - warni tersebut di tempat yang disebut sebagai Flam Valley. Sekaligus sebagai pertanda bahwa kami sudah hampir tiba di Flam

Begitu tiba di Flam, ada dua pilihan yang sudah terbersit di pikiran saya semenjak awal perjalanan Skandinavia ini. Pertama, berjalan mengeksplore Flam dengan mengikuti peta yang diberikan oleh petugas di tourist information center. Cuma sebenarnya saya enggak yakin sih karena udara yang dingin banget meski belum sampai membuat tangan saya mati rasa. Kedua, ikut tur ke Stegasteinsebuah viewpoint untuk melihat Aurlandsfjord yang merupakan cabang dari Sognefjord, the world's longest fjord. Dengan waktu tur yang hanya satu jam, sebenernya memang ini yang paling tepat buat dilakukan sambil menunggu kereta kembali ke Myrdal yang baru berangkat satu setengah jam lagi. Jujur aja, saya bukan penikmat perjalanan menggunakan tur, apalagi hanya ke satu tempat dan itu hanya untuk foto objek yang hanya bisa dilihat dari kejauhan. Jadi saya sempat ragu untuk ikut tur ini karena merasa enggak terlalu worth it buat mengeluarkan €30 hanya untuk foto yang udah bisa ditebak hasilnya yang enggak akan jauh berbeda dari foto - foto di internet oleh para wisatawan yang pernah ikut tur ini.Tapi ada sisi lain dari diri saya yang bilang, "udah sampai sini, masa enggak ikut sih? mending nyesel tapi udah enggak penasaran lagi daripada nyesel karena enggak nyoba dan akhirnya masih penasaran terus nantinya". 










Dan ternyata memang benar, saya kayanya akan menyesal banget kalo enggak jadi ikut! Meskipun begitu nyampe di Stegastein, fjord-nya enggak kelihatan sama sekali karena tertutup kabut yang begitu tebal, banyak hal lain dari tur ini yang membuat perjalanan saya ke Flam ini jadi berkesan banget. Mulai dari pemandangan di sepanjang jalan Flam Station sampai Stegastein yang bukan hanya indah tapi juga mengingatkan saya dengan salah satu kawasan pedesaan favorit saya di Inggris, yaitu Peak District. Mountain road yang berkelok - kelok, beberapa bentuk bangunannya yang sekilas terlihat mirip, hingga perpaduan gunung dan danau. Selain itu, disini juga saya akhirnya bisa dipertemukan kembali dengan tumpukan salju yang enggak kalah tebal dibandingkan yang saya temukan di Kjosfossen. Berbeda dengan salju yang saya rasakan sebelumnya di Rotterdam, yang kasar dan bikin susah jalan karena licin; disini salju-nya terasa lembut banget dan enggak licin. Dan alasan yang terakhir ini terdengar norak sih, tapi ada kebahagiaan tersendiri ketika melihat lebih dekat pepohonan cemara dengan tumpukan salju dengan ukuran aslinya ketimbang sebelumnya hanya terlihat sebesar jari kelingking dari dalam kereta. Saking senengnya, saya sampai bela - belain foto pake tripod sambil gaya ala - ala travel blogger yang berpose di tengah jalan dengan dikelilingi pohon cemara bersalju. Meskipun hasilnya rada failed gitu, tapi enggak apa - apalah. Lumayan buat kenang - kenangan. Haha! 

Setelah sekitar dua puluh menit di Stadgastein dan mulai hopeless karena Aurlandsfjord masih terhalang kabut, akhirnya kami kembali menuju stasiun Flam. Tapi di tengah perjalanan kami kembali berhenti. Mungkin merasa kasihan dengan kami yang udah bayar cukup mahal tapi pulang dengan tangan hampa, si pak supir masih mencari cara supaya kami bisa tetap melihat keindahan fjord. Dan kali ini usaha si bapak tampaknya didukung oleh semesta, karena di tempat pemberhentian kami ini bisa terlihat bentuk fjord. Meski masih terhalang kabut, seenggaknya kali ini jauh lebih jelas dari sebelumnya yang sama sekali enggak kelihatan apapun. Seriusan deh, subhanallah banget pemandangan di depan saya ini. Beneran kaya mimpi banget! Kali ini saya monang bukan karena sedih, tapi terharu bisa melihat salah satu karya terindah Tuhan di hidup saya :')









Begitu menulis pengalaman yang saya lalui hari ini di jurnal, ada satu pertanyaan yang masih tersisa. Apakah jika saya mengambil 'opsi ideal' dengan naik Fjordline, akan lebih seru dari yang saya dapatkan hari ini... atau justru sebaliknya ya? Karena sejujurnya, apa yang saya dapatkan hari ini udah melebihi ekspektasi awal, hingga saya bisa bilang bahwa ini adalah highlight dari perjalanan Skandinavia saya. Semuanya terasa 'pas' aja. Waktunya, cuacanya, budgetnya, dan tentunya berbagai surprise yang diberikan. Dari yang awalnya sempat skeptis dengan Flamsbana dan keraguan untuk ikut tur ke Stegastein; yang berujung memberikan kepuasan dan kebahagiaan yang tak terduga. Yang jelas, saya bersyukur banget bisa mengunjungi Flam hari ini. Alhamdulillah :')