March 24, 2018

Sixteen Hours in Oslo

Setelah kurang lebih enam jam duduk di kafetaria yang ada di dalam kereta dari Myrdal menuju Oslo, dengan beberapa kali pindah tempat duduk - dari satu sudut ke sudut lainnya, dari yang kursi tanpa senderan hingga ada senderannya - akhirnya penantian panjang pun berakhir. Akibat menunda dan menggampangkan reservasi tempat duduk, begitu tadi siang saya coba reservasi di stasiun Flam, ternyata udah sold out. Alhasil, saya jadinya duduk di kafetaria yang mana enggak bisa tidur dan duduk senyaman di tempat duduk biasa. Tapi yaaa, jangankan mengeluh, kenyataan bahwa saya masih diperbolehkan masuk ke dalam kereta hingga Oslo aja udah bersyukur banget! Kalo sampe enggak dibolehin masuk karena enggak dapat tempat duduk kan jadi berabe urusannya. Dan seenggaknya, kafetaria di kereta pun juga masih terbilang nyaman. Tetep aja sih, saya akan menjadikan ini salah satu pelajaran terpenting yang enggak akan saya lupakan dari perjalanan ini: jangan pernah menunda buat reservasi segala sesuatu yang ada batasnya!



Ada hal menarik dari perjalanan ini yang enggak saya dapatkan dari berbagai perjalanan saya sebelumnya, yaitu keunikan setiap keluarga yang saya temui di sini. Mulai dari pengalaman mereka tinggal di Skandinavia hingga kebiasaan masing - masing keluarga yang berbeda satu dengan lainnya, termasuk cara mereka menata tempat tinggal. Kalo flat-nya Mas Marlo dan Mbak Lelly memiliki desain yang minimalis dan paling cocok buat mahasiswa yang pengen punya studio apartemen. Bahkan saya aja sempat dibikin iri karena dengan ukuran studio yang sama harganya bisa berkali lipat di Rotterdam. Lain lagi dengan rumah Mbak Aini dan Mas Baim yang membuat saya merasa seperti bukan tinggal di rumah beneran saking manis-nya. Rumah kayu yang sepintas terlihat tua tapi sebenarnya kokoh karena beberapa tahun sekali pasti diganti bagian dalamnya supaya tetap kokoh. Akhirnya bisa merasakan bagaimana tinggal di Scandinavian toy house! Sedangkan impresi pertama saya begitu mengunjungi flat-nya Mbak Jena dan Mas Abi itu langsung, "wah artsy banget!". Indeed, hal pertama yang membuat saya terpukau begitu sampai di flat mereka adalah dekorasinya. Bagian living room yang dihiasi oleh berbagai indoor plant langsung mengingatkan saya dengan foto - foto yang biasa diposting oleh akun Instagram @urbanjungleblog. Selain itu, dekorasi bathroom yang apik dan bernuansa boho juga salah satu yang jadi favorit saya. 




"Ozu, kamu yakin enggak mau keliling Oslo dulu sebelum ke Stockholm?", tanya Mbak Jena ketika saya mengutarakan rencana saya buat langsung mengambil kereta paling pagi ke Stockholm. Dari awal menyusun itinerary, satu kota yang ditujukan hanya untuk singgah adalah Oslo. Secara gitu kan letaknya yang strategis, berada di tengah - tengah antara Bergen dan Stockholm. Tiga hari yang lalu saya juga sempat singgah di Oslo tapi enggak perlu menginap karena saya sampai Oslo pagi dan jadwal kereta saya ke Bergen kebetulan ada yang di siang hari. Cuma kali ini berhubung saya baru tiba di Oslo jam delapan malam, sedangkan keberangkatan ke Stockholm baru ada di hari berikutnya; akhirnya mau enggak mau saya harus menginap semalam di Oslo. Soalnya baik dari cerita teman saya yang udah pernah kesana maupun dari hasil browsing, tampaknya memang enggak ada yang menarik untuk dieksplore. Tapi setelah dipikir - pikir lagi, enggak ada salahnya juga melihat sisi lain Oslo selain central station-nya. 

Berhubung dari awal udah enggak ada rencana buat keliling Oslo, jadi saya pasrah ikut kemana para tuan dan nyonya rumah membawa saya. Tempat pertama yang kami tuju adalah sebuah taman yang letaknya di atas bukit dan selintas dari dalam mobil terlihat beberapa sculpture di antara pepohonan. Belakangan saya baru tau kalo Ekebergparken ini ternyata salah satu sculpture park yang terkenal di Oslo. Meskipun sejujurnya saya cuma familiar dengan satu nama, Salvador Dali, dari beberapa nama artist yang karya-nya dipajang di sini :)) Anyway, rencana kami yang tadinya mau berjalan mengelilingi taman akhirnya hanya berujung foto di dekat parkiran karena jalanan yang saat itu super licin, dilapisi oleh es. Ini sih yang menurut saya paling gengges dan bikin saya males keliling Oslo...  bukan cuma dinginnya yang menusuk, tapi juga mesti super hati - hati setiap melangkah. Cuma buat poin kedua, ini juga ada kaitannya dengan kebodohan saya yang hanya membawa satu boots, itu pun yang saya beli di Primark dan bukan yang Docmart. Bukannya apa - apa, tapi di saat seperti ini saya baru sadar memang harga itu enggak boong ya. Licin banget cuy pake yang dari Primark! Jadi, pelajaran lainnya adalah pake sepatu yang proper setiap kali traveling, terutama di saat winter. Baiklah. 





Setelah itu kami ke Vigeland Park, yang (((ternyata))) merupakan salah satu destinasi 'wajib' di Oslo karena gelarnya sebagai the world's largest sculpture park dan setiap patung yang ada di sini dibuat oleh satu orang, yaitu Gustav Vigeland. Lucunya, berhubung saya cuma sepintas browsing informasi tentang Oslo, saya enggak ngeh sama sekali dengan tempat ini. Bahkan Mbak Jena udah beberapa kali mention nama tempat ini, tapi tetep aja saya enggak tau tempat apa ini. Awalnya saya kira malah  cuma mau jalan - jalan ke taman terbesar di Oslo. Meski dalam hati saya mikir kok niat banget Mbak Jena sampai bela - belain jalan kaki  (sebenernya enggak jauh, tapi berhubung licin jadi jalannya mesti pelan - pelan) demi menunjukkan taman ini. Eh, enggak taunya kami sampai di sisi taman yang dipenuhi kerumunan turis yang dikelilingi oleh patung - patung yang... tanpa pakaian. "Iya, semua sculpture di sini naked tapi dibuat dengan berbagai pose dan kondisi yang berbeda", begitu kata Mbak Jena, yang dari tadi menjelaskan tentang taman ini. Bener aja, begitu diperhatikan lebih dekat, ada beraneka ragam bentuk patung. Mulai dari couple yang duduk saling berhadapan, ibu menyusui, anak - anak sedang berlari, seorang laki - laki sedang berpikir, dan masih banyak lagi. Sambil mencoba memahami, namun akhirnya gagal paham,  dengan polosnya saya bertanya ke Mbak Jena, "Tapi Mbak, ini kenapa bisa sampai terkenal ya? Apa sih yang sebenernya spesial dari berbagai sculpture di sini?". Saya lupa pastinya jawaban apa yang diberikan Mbak Jena, kayanya sih karena Vigeland berhasil menunjukkan berbagai sisi manusia dari berbagai patung tersebut. Cuma satu hal yang pasti, saat saya bertanya begitu, raut wajah Mbak Jena langsung berubah meski hanya dalam beberapa detik, seraya kaget dan bingung dengan pertanyaan saya. Ah, kayanya saya memang kurang memahami seni, terutama yang berhubungan dengan seni pahat :))

No comments:

Post a Comment