March 27, 2017

#ROH 63 : Evening Walk

Ada satu hal yang dari dulu cukup sulit saya terima dari menjadi seorang perempuan, yaitu masa - masa sebelum dan saat datang bulan. Meskipun saya termasuk yang beruntung enggak mengalami rasa sakit atau kram saat menjalaninya (karena saya tau beberapa teman saya ada yang sampai pingsan karena menahan rasa sakitnya), bagi saya mengalami mood swing yang enggak bisa diatur itu sama aja enggak enaknya dengan kram. Sama - sama bikin enggak bisa produktif, sulit untuk fokus, dan bawaannya cranky mulu. And the most annoying thing is knowing that it's something beyond my control. Bisa sih dibantu dengan menyibukkan diri sehingga enggak terlalu terbawa oleh perasaan, atau sesederhana memakan cokelat atau makanan. Tapi ada saatnya semua itu enggak berhasil dan harus mencari cara lain. Seperti hari ini, tiba - tiba menjelang sore hari saya enggak mood untuk ngapa - ngapain. Akhirnya saya putuskan untuk baca buku di taman dan dilanjutkan jalan - jalan sore di sekitar apartemen saya. Mumpung cuaca hari ini sangat mendukung untuk pergi ke luar. Bukan hanya sinar matahari sore dengan kadar yang 'pas', tetapi juga enggak ada angin *ini nih yang sering jadi masalah kalau disini, haha! Jalan - jalan sore kali ini semakin menyenangkan karena sekarang sudah resmi memasuki musim semi sejak tanggal 21 Maret kemarin. Mata pun dimanjakan oleh bunga - bunga yang sedang bermekaran, dan bisa ditebak, saya kembali ke apartemen dengan perasaan yang lebih lega dan tenang.










March 21, 2017

My Favourite Things in Budapest

Satu hal yang paling saya suka dari Budapest selain kereta bawah tanah-nya adalah tentu aja, area di skitar Buda Castle, sebuah kastil yang terletak di atas bukit, yang saya yakini juga menjadi salah satu alasan dan hal favorit dari para pengunjung kota ini. Budapest memang bukanlah satu - satunya kota di Eropa yang memiliki dan terkenal akan kastil-nya, bahkan masih banyak kota lainnya yang memiliki kastil yang lebih terkenal akan kecantikannya. Tapi seenggaknya dari kota - kota yang pernah saya kunjungi sejauh ini, Buda Castle ini adalah favorit saya. Meskipun tetep aja sih enggak lepas dari kesan mistis (apalagi dengan legenda vampir di kastil ini), enggak membuat saya risih karena udah terlanjur jatuh hati dengan area di sekitarnya yang dipenuhi dengan bangunan dan rumah berbagai bentuk, warna, dan motif yang berbeda. Memiliki kesempatan untuk mengunjunginya di saat matahari sedang bersinar terang tanpa hujan turun setetes-pun, membuat kunjungan saya ke tempat ini semakin terasa menyenangkan (yang mungkin kalau saya berkunjung di saat lagi mendung, hujan, dan sore hari bisa jadi persepsi saya akan berubah 180 derajat, haha!).











Hal lainnya yang menjadi highlights dari perjalanan kami ke kota ini adalah Urania National Film Theater, sebuah bioskop paling cantik yang pernah saya kunjungi, dengan interior mewah serta auditorium elegant yang lebih mirip sebagai tempat teater atau opera. Ternyata memang tempat ini awalnya dibangun sebagai nightclub, kemudian menjadi tempat untuk mengadakan kuliah popular science, hingga akhirnya menjadi bioskop yang menayangkan berbagai varian film dari  Hollywood blockbusters sampai film festival. Hari itu saya dan Gladyz memilih Brooklyn, tentang perjuangan seorang wanita muda asal Irlandia yang pindah ke Brooklyn untuk mencari pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik. Enggak heran kalau film ternyata masuk nominasi di Sundance Film Festival dan berhasil memenangkan BAFTA Award, karena menurut saya memang pantas saat melihat cerita yang sederhana dikemas dalam sinematografi yang memanjakan mata, dan tentunya kembali melihat akting Saoirse Ronan selain di Atonement dan Grand Budapest Hotel. Nah, yang bikin saya semakin suka dengan tempat ini adalah harga tiket-nya yang sangat murah, yaitu 1000 Ft atau sama dengan 3 Euro - dimana harganya sepertiga dari bioskop yang ada di Inggris maupun Belanda! Tapi memang enggak bisa dibandingkan sih, karena secara umum pun biaya hidup di Hungary kan juga berbeda yaa dengan kedua negara tersebut :)) 








Hal terakhir ini sih sebenarnya enggak hanya saya alami di Budapest, tapi di setiap kota yang saya kunjungi, entah di Eropa, Asia, maupun di belahan dunia lainnya yang pernah saya kunjungi: jalan, ruang kota dan ruang publik. Pada dasarnya saya memang suka dengan pemandangan yang saya dapat ketika berjalan kaki menyusuri sudut - sudut kota, karena hanya dengan begitu saya bisa mendapatkan dan meresapi suasana di kota tersebut. Bukan cuma itu, kebanyakan foto - foto menarik justru sering saya dapatkan di jalan dan tempat - tempat publik yang enggak terduga. Bahkan hingga saat ini pun yang paling sering saya ingat dari berbagai kota yang saya kunjungi, termasuk Budapest (lebih tepatnya sih bagian Pest yang saya eksplore dalam dua hari dan bukan hanya ke tempat wisata) adalah suasana jalanannya yang saya lalui saat berjalan kaki keliling kota. 






March 17, 2017

When It's Almost Spring

Entah udah beberapa tahun ini, masa - masa memasuki dan selama musim semi adalah, kalau bukan masa - masa paling menyenangkan, seenggaknya salah satu masa dimana kondisi saya lebih baik dari masa - masa lainnya dalam tahun tersebut. Begitu pula tahun ini, meskipun memang belum officially spring, tapi udah hampir memasuki bulan kedua ketika saya merasa hidup saya berjalan ke arah yang benar. Saya enggak mau terlalu banyak memberi embel - embel dengan menulis apa yang saya rasakan saat ini dalam bentuk rasanya seperti hidup kembali; ketika matahari mulai bersinar terang dan bunga - bunga bermekaran; ketika dunia terasa jauh lebih indah. Meskipun enggak ada yang salah juga sih dengan kata - kata tersebut, tapi saya lebih ingin mengungkapkan kebahagiaan yang saya rasakan saat ini, sesederhana: ketika hal - hal yang beberapa bulan sebelumnya sempat sangat mengganggu pikiran saya dan dengan mudahnya mempengaruhi mood saya, kali ini saya enggak lagi memusingkannya. Bukan hanya karena semesta kembali berada di sisi saya, tapi juga saya bisa sepenuhnya memegang kendali atas diri saya sendiri. Kalo kata salah seorang teman baik saya, ketika saya udah bisa posting foto - foto lucu lagi di Instagram *bukannya selalu lucu ya, eh? :p



Dan tentunya kondisi saya saat ini enggak langsung berubah tiba - tiba. Kali ini saya semakin yakin bahwa seberat dan selambat apapun untuk berjalan, bahkan jika lebih lama dari siput, bahkan jika rasanya hidup enggak akan berjalan ke arah yang lebih baik; tolong jangan pernah berhenti. Karena pada akhirnya kita akan kembali ke titik dimana semuanya baik - baik aja, bahkan jauh lebih baik dari sebelumnya. Mungkin bukan langsung mengubah dari kondisi eksternal yang di luar kemampuan kita, tapi dari hal terkecil dalam diri kita. Sesederhana mengubah pikiran kita, dari yang tadinya negatif banget sampai pelan - pelan menjadi positif; atau mulai berani mengungkapkan perasaan kita, sekalipun hasil yang akan kita dapatkan mungkin pada awalnya malah memperburuk kondisi kita... tapi kalo enggak begitu ya enggak akan tau kan hasilnya akan seperti apa, kan? It seems like a small thing, but it has a much bigger impact than you might think :)

March 14, 2017

Conversations With Mom #4

It was our first day in Lisbon and we were about to have lunch at a restaurant recommended by Luisa, our Airbnb host. The restaurant looked old and wasn't particularly interesting besides the wall which was covered with pretty Azulejo, blue-painted Portuguese and Spanish tiles. As usual, while we were waiting for our order, the waiter served us some typical Portuguese appetisers: black-green olives and white breads. I took some of the olives which were served "as is". No pesto. No hummus. No pepper. No spices. No seasoning. I found myself liking them, regardless. I don't know why but olives in Portugal taste better than the ones in the Netherlands. Or maybe it's because of the waiting that makes it delicious. Maybe. By the time I got to my fourth olive, I noticed Mom giving me a peculiar stare.

"What?" I asked her who was eating the bread as heartily as I was with my olive. It was unsurprising though, as the last time we ate our breakfast was eight hours ago, before leaving Porto this morning.  
"On my first day here, I saw you eating raw carrots and it has been on my mind ever since" 
"Huh? Why?" Reflexively I took out the pit of my fifth olive with half-smile. What is wrong with eating raw carrots? 
"I mean, you never liked carrots if they are not cooked. And now, I was even more surprised to see you eating olives since we traveled to Porto.... The only thing I know about your interest to olive was you like using olive oil for cooking, but definitely not eating raw olives"

I stopped taking olives. The salty taste in my mouth was very strong and started to make me queasy. So I chewed a bread instead to neutralise it. 

"What happened with you? Since when do you like eating foods that you used to avoid?"

I couldn't help myself smiling. 

"I think it's genetic, Mom... you eat almost everything. And lately, so do I"

We both laughed.


"Yeah... but I think your taste is broader than mine.. see, I still don't like eating olives. I still need to eat rice almost everyday, even on the first day I arrived in Netherlands", she stopped eating the last piece of the bread and gave it to me.

I was about to explain more, but the waiter came to serve our Bacalhau (Cod-fish) with potato, eggs, and salads. It was our third Bacalhau during our trip in Portugal. The people in here are such talented in cooking! The foods are not only incredibly delicious (and not to mention cheap), but the fact that they use the same basic ingredients for various recipes is just amazing. I think I ate more fish during my eight days in Portugal than I did during the entire past year.

We came to a silence as soon as we started eating. That's how we usually are. Keep silent and totally focused with our food. As far as I know, all the members of my family are fast eaters. Even more when we are starving. It wasn't fifteen minutes later when we pelted our respective plates. 

"Hmm… I think it's one of the effects of aging", I said while cleaning my mouth from the left-over salad with white napkins.
"Huh, aging?", now she was the one who looked bewildered with my answers.

I drank a glass of tap water on the table before delivering my long thought. 

"Yes, Mom… twenty five is the age when I have started to experience lots of changes and transitions in myself and my life than ever before… the simplest example being that jogging was my most favorite exercise in almost the past ten years. But as the year progresses, I got less and less interested with it. On the other hand, I've been getting into yoga even though I had always found it boring. The other example is in traveling. I used to enjoy going solo fast-paced trips, but now I prefer to have a company and do it in slower pace to take in the surroundings. I used to strictly read novels, but now I'm more eclectic, trying a vast array of books and authors that wasn't even on my reading list two years ago... I always did prefer hot chocolate over coffee, but now I drink coffee everyday and only have hot chocolate once in a while... so yeah, I guess I'm officially an old woman now"



She was dumbfounded, and in seconds later, she laughed so hard. 

"Ahhh, you're so funny! How come someone who just turned 26 can consider herself as an old woman? You even sound older than me! Shall we exchange places then? You becoming 60 and I'm back to being 26"

I curled my lips, but couldn't help myself to not smile at the same time. It struck me that her comment was actually true. 

Since I was a kid, I have been astounded so many times by how much energy that my mom has had until now. And actually, it's not only me who sees her that way. Indeed, the rest of my family, including my dad, almost always at awe with her strength, stamina, and spirit. Not only the fact that she gave birth to six children, but also with her ability to raise them all while also continuing her role as a wife, career woman, manager of the household, activist in several organisations, and other things that attest to her multitasking skills. For over twenty six years she has always been working from day till night. Before my father retired, they often go together before seven in the morning and come home late around nine or ten. Not to mention that she regularly wakes up earlier every day to do the night prayer (tahajud) with dad and doesn't go back to sleep afterwards. Either to clean up the house, watering the plants, or go to local market for groceries to be cooked by our housemaid. Even just thinking how much things she has handled makes me feel tired already. But she never shows the weariness in doing all of those things. There were some days when she got sick and needed to rest at home, but it usually doesn't take longer than three days. Even during that time, it's almost impossible for her to just lay on the bed or stay at home without doing nothing.

"How do you get all those strength and energy, Mom? Look at you, you don't even look like someone who will soon turn 60. I even feel that the older you are, the younger you look and the more active you get"
"I think I just do whatever that makes me happy and always now my limit, when to stop working and eat, rest, travel, and have fun. That's why I consume vitamins and never skip a meal, having massage once a week, and travel often.... because I know that I need to take care both of my physical and mental health, and by doing all of those things can help me maintaining my health"


"But how can you handle so many things by your own?" One thing that makes me adore my mother is how she managed to solve almost every problems in the family.
"I think it's just a part of me after over than forty years of being like this. Since your grandpa passed away, I had been the one who was taking care of your uncles and aunts, and it forced me to be good at multitasking and handling some problems. So whenever I have problems with me, I just focus on the solution. Otherwise, I could go nuts and die young… Life is already tough, if I keep complaining, it's just gonna make life becomes much harder"

I can relate to what she said. At that time she was only sixteen years old, and yet, she was demanded to be more independent than most girls at that age. Especially with the fact that my grandma was used to be a housewife made her become so dependent with my grandpa. Therefore my mom, as the eldest child, was a much needed helper for my grandma. She helped my grandma in raising and managing her six siblings until each of them reached the phase of adulthood. No wonder if she has been able to raise her six children.

"Mom... do you remember the other day you asked me how I can get as strong as I am today?"
"Yes, I remember… why?"
"I told you that I have become stronger because there is no other option to survive my life but to be strong. But actually... the main reason why I've grown like this is…. you. You have influenced me a lot in so many aspects, from the small things to the big, including how to live life without being (too) dependent on others. And it's very obvious that I'm not the only child who does"

She took a bottle of water which was on the other side of the table.

"Unicha has always been one of my muses in becoming an independent woman and going out of my comfort zone, and I believe she is like that because of you too... while Gladyzka, I have a strong feeling that she's going to climb higher and emerge much tougher than me when she reaches my age, looking from how she's always been active and independent since she's in junior high school. What makes it more funny is the fact that all of your daughter-in-laws are also liberated women. So it seems that even with your sons, they tend to find wife as strong as you are"


She smiled while pouring water from a bottle to her glass.

"And do you remember that day when I told you I don't want to pursue for professorship?"
"Yes...."
"The main reason is because I know that I'm not as mentally and physically strong like you, so I need to prioritise things. Since I realised the significant role of a mother towards her children, either from you and also other experiences I have heard and read, prioritising family is not an option, but indeed, for me it's the most significant thing. Of course, as you said, in order to handle other people, we need to make ourselves happy first. But it doesn't always mean that we need to do every single thing that makes us happy. For me, reaching the stage that seems beyond my limit will undoubtedly make me happy, but if I have to do so much sacrifice in the process of pursuing it, I don't think when I reach that point, it would still make me happy"

She drank the glass of water until it was empty, and gave her response afterwards.

"You know that sometimes I give the impression that I'm directing you and your siblings towards a certain goal in the future, but to be honest I've always been giving you the freedom of choosing whatever that makes you happy. Because nothing contributes to my happiness like seeing yours"

I smiled back to her while drinking my half-empty glass. 

"And I bet you know too that you are very lucky because you were born as a very strong person physically and mentally, when most people weren't, including me.... but I hope I would be as healthy as you are today when I reach 60"
"I highly believe that in the next 34 years, you will absolutely, definitely, undoubtedly, be as strong as I am today" 

That was the end of our conversation at that restaurant. We called the same waiter as the one who served us earlier, paid the bill with an extra tip for him, and explored the city known for its colorful Lego-like houses.

March 13, 2017

#ROH 62 : Sweet Snacks

Bagi sweet-tooth seperti saya, pasti paham betapa bahagianya setiap kali mengunyah makanan manis. Tapi hubungan saya dengan makanan manis sebenarnya lebih dari itu. Akibat sempat mengalami stres hebat (cieilah) yang terjadi beberapa waktu silam, konsumsi gula dan karbohidrat saya jauh lebih tinggi dari biasanya. Untungnya sih sekarang saya udah bisa mengontrol diri saya dan kembali menjalani pola hidup sehat, alias mulai mengurangi konsumsi gula dan karbohidrat. Semuanya berjalan normal sampai  hampir dua minggu ini saya mulai craving dengan makanan manis lagi! Akhirnya saya putuskan buat membuat makanan manis dengan versi yang lebih sehat. Sekalian melawan rasa malas saya untuk enggak menunda lagi rencana bereksperimen dengan resep makanan manis (yang sebenarnya udah lama saya kumpulkan dan tandai baik dari website maupun Instagram, tapi tetap aja ujungnya ditunda terus). Mumpung akhir pekan ini saya bisa lebih santai dari biasanya, dan kemungkinan besar belum bisa saya temui lagi untuk beberapa akhir pekan ke depan, maka saya manfaatkan kesempatan ini untuk membuat salah satu resep yang udah terbayang di pikiran saya sejak lama: Sweet Potato Brownies!



Berhubung saya enggak rajin untuk menulis resep, maka buat kalian yang mau mencoba resep ini bisa langsung membuka website-nya Ella, food blogger asal UK, yang menjadi salah satu acuan saya dalam mengumpulkan dan mencoba resep masakan vegetarian dan plant-based yang mudah untuk dibuat. Tapi intinya sih semakin sering mencoba berbagai resep, saya sadar bahwa satu hal paling penting adalah jangan takut untuk memodifikasi resep yang ada dengan bahan - bahan yang kita punya dan sesuai budget kita. Selama masih 'make sense' untuk menggantinya (enggak terlalu jauh beda secara rasa dan teknik), seharusnya hasilnya pun enggak akan jauh berbeda. Misalnya untuk resep kali ini saya menggunakan beberapa bahan dan teknik yang cukup berbeda dari resep aslinya. Mulai dari mengganti almond oil menjadi peanut butter, coconut oil menjadi soya butter, maple syrup menjadi agave syrup. Selain itu berhubung saya enggak punya food processor, jadi campuran kurma dan ubi saya lakukan dengan blender dilanjutkan dengan menumbuknya secara manual sampai halus. Modifikasi lainnya juga saya lakukan ketika saya menyadari bahwa kesalahpahaman saya yang seharusnya melakukan proses baking di oven hanya menggunakan mode 'fan', saya malah menggantinya dengan mode 'upper and lower heating'. Akibatnya, yang seharusnya proses memanggangnya sekitar 45 - 50 menit, saya hanya membutuhkan waktu 15 menit karena bagian atas brownies yang beberapa bagiannya udah terlihat kering dan agak gosong (untungnya ini masih bisa disiasati dengan menggerus bagian tersebut). Overall, saya puas dengan hasilnya karena selain enggak terlalu manis, berbagai kandungan alami di dalam adonannya yang padat tersebut juga membuat saya enggak cepat lapar setelah memakan satu potong brownies. Enak buat dipadukan dengan es-krim *ups* atau segelas teh hangat ;)



March 03, 2017

#ROH 61 : Snow

Sejujurnya saat menulis ini, saya lebih berharap bahwa musim semi akan segera tiba ketimbang salju turun lagi. Seberapa dalam rasa suka saya terhadap udara dingin dan langit mendung, pakaian musim dingin yang jarang - jarang bisa saya pakai, segelas cokelat hangat atau kopi susu atau teh yang diminum untuk menghangatkan badan; tapi tetap aja kalau udah kelamaan dan berlebihan, saya mulai merindukan udara yang lebih hangat dimana saya bisa menggunakan satu lapis pakaian tanpa masuk angin dan flu setelah itu. Tapi terlepas dari semua itu, bagi saya tetap ada kebahagiaan tersendiri setiap kali melihat salju turun. Terutama di hari terakhir salju turun yang lebih banyak dibanding sebelumnya, yang justru membuat saya senang berjalan di bawah siraman kepingan - kepingan es yang lembut di saat kebanyakan orang di sekeliling saya justru menutupi badan mereka dengan jaket atau payung. Hari dimana salju cukup tebal hingga permukaan jalan tidaklah lagi terlihat, cukup tebal untuk membuat bola salju dan snowman. Dan tentunya, ada kebahagiaan lain ketika membuka kembali foto - foto beberapa minggu yang lalu, memilah, mengedit, dan memasukannya kesini :)