May 28, 2013


Blazer: Vintage Zara. Polkadot shirt: River Island. Skirt: New Look. Shoes & Bag: Primark.

May 19, 2013

They Are The Tourists, I Am Not

The traveler was working at something; the tourist was a pleasure-seeker. The traveler was active; he went strenuously in search of people, of adventure, of experience. The tourist is passive; he expects interesting things to happen to him. He goes 'sight-seeing.' . . . He expects everything to be done to him and for him. The traveler was traveling further and experiencing more discomfort in order to experience encounters with "untouched" environments and cultures. The tourist is happy to simply relax and have a good time. 

They are the tourists, I am not. 

Boorstin, D. J. 

May 11, 2013

:(

Tadi malam tepatnya pukul 01:22, saya dikejutkan dengan pesan yang dikirim oleh kakak saya yang berisi, "Uci Angah meninggal, zu". Padahal sembilan belas menit sebelumnya saya dan kakak saya masih chatting dengan bahasan yang lain. Belum sempat saya membalasnya, kakak saya sudah mengirimkan pesan yang isinya memberitakan bahwa nenek saya meninggal dunia. Sempat semenit sebelumnya saya tidak bisa merespon apapun. Antara masih mencerna perkataan kakak saya dan masih terlalu kaget dengan berita tersebut. Baru setelah itu hati saya langsung terasa sangat sesak dan tidak bisa berhenti menangis hingga saya benar - benar tidak memiliki tenaga lagi untuk menangis.

Ini pertama kalinya saya baru merasakan ketika kehilangan salah satu orang paling saya sayangi. Walaupun Uci Angah bukan nenek kandung saya secara langsung, beliau adalah kakak dari nenek dari pihak bunda saya, tetapi hubungan saya dengan beliau jauh lebih dekat dibandingkan hubungan saya dengan nenek dari kedua orangtua saya. Dan bahkan, tanpa adanya beliau, saya serta kakak - kakak dan adik - adik saya enggak akan pernah merasakan kedekatan hubungan antara antara cucu dengan neneknya. Dulu waktu kami kecil, Uci lah yang mengajak kami jalan - jalan ketika ayah dan bunda sedang sibuk bekerja, bahkan beberapa kali Uci juga yang mengantar saya ke sekolah. Beliau pula yang sering mengajak saya sholat taraweh saat bulan Ramadhan. Sebagian masa kecil saya sering dilewati bersama beliau dan menginap di rumah beliau. Tetapi seiring berjalannya waktu, ketika saya dan saudara - saudara saya sudah mulai sibuk dengan kegiatan masing - masing, terutama ketika saya pindah untuk melanjutkan kuliah di Bandung, saya semakin jarang bertemu dengan Uci Angah. Bahkan masih bisa dihitung berapa kali saya menjenguk beliau ke rumahnya dalam setahun. Sejujurnya saya sering merasa bersalah karena menurut saya kesibukan bukan menjadi penghalang untuk berkunjung ke rumah beliau. Tetapi saat ada momen - momen terpenting yang berkaitan dengan Uci, entah saat Uci ulang tahun dan begitu juga ketika saya mendapatkan gelar sarjana saya, beliau adalah orang ketiga yang saya telefon setelah ayah dan bunda saya.  Satu - satunya hal yang saya syukuri adalah tahun lalu ketika Uci ulang tahun dan masuk rumah sakit beberapa bulan sebelum saya berangkat, saya masih bisa menemani beliau.

Lebaran hari kedua tahun lalu, saat terakhir kali saya bertemu dengan uci Angah :(

Bagi saya, uci Angah adalah salah satu wanita paling mandiri, kuat dan hebat yang pernah saya kenal. Saya sering memposisikan diri saya menjadi beliau, dan bahkan ketika saya hanya memikirkan saja, saya rasa saya enggak akan mampu sekuat dan setabah beliau dalam menjalani kehidupan yang beliau jalani sebelumnya. Melihat kehidupan beliau saya banyak belajar dan membuka mata saya tentang banyak hal. Seringkali saya juga merasa kesal dengan diri saya karena belum bisa membantu beliau dan belum bisa mewujudkan salah satu mimpi saya untuk memberikan kehidupan yang lebih baik untuk beliau. Salah satu hal yang paling saya sesali saat ini adalah saya belum pernah berbicara lagi dengan beliau semenjak saya pindah kesini. Terakhir pertemuan saya dengan beliau adalah ketika lebaran tahun lalu, saat saya memberitahu beliau bahwa saya akan kuliah ke Inggris. Beliau terlihat tampak sangat bahagia ketika tahu hal tersebut. Bagi uci Angah, pendidikan sangat penting, apalagi untuk kaum perempuan. Saya selalu ingat pesan beliau untuk terus mengenyam pendidikan dan jangan pernah tinggalkan sholat. Semenjak itu saya enggak pernah berkomunikasi lagi dengan beliau sampai akhirnya saya mendengar berita tersebut tadi pagi. Beberapa kali niat untuk menelefon beliau selalu tertunda sampai akhirnya sekarang saya enggak memiliki kesempatan untuk berbicara dengan beliau lagi. Saat ini saya tahu bagaimana mengalami perasaan menyesal yang sangat dalam ketika orang yang kita sayangi benar - benar meninggalkan kita untuk selamanya dan tidak ada kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal untuk yang terakhir kalinya.

Aku tahu ini enggak mungkin, tetapi seandainya ada cara supaya Uci Angah bisa tahu, selama disini aku enggak pernah sekalipun lupa dengan uci Angah. Uci Angah adalah salah satu orang yang pertama kali aku doakan setiap kali selesai sholat. Aku selalu berdoa supaya Allah selalu melindungi dan memberikan kemudahan serta kebahagiaan selalu untuk uci. Maafin aku ya Uci, aku enggak bisa mencium dan mengantarkan Uci untuk terakhir kalinya. Aku sangat sangat sedih, dan mungkin ini hal yang paling sulit untuk aku terima sejauh ini dalam hidup aku, tetapi aku tahu ini pasti yang jalan terbaik untuk Uci supaya Allah bisa memberikan tempat yang lebih indah dan bahagia untuk Uci di sisi-Nya. Aku sangat sayang dan akan selalu sayang dengan Uci. Semoga Uci selalu baik - baik ya disana. Aku akan selalu terus berdoa untuk Uci Angah. Peluk cium untuk Uci.

May 08, 2013

_ _ _ _ _ _

Saya jarang menye-menye di blog dan sebenarnya saya juga enggak mau seperti itu disini. Tetapi izinkan saya untuk kali ini saja, melepas rasa rindu yang sudah tidak tertahankan lagi selama delapan bulan disini. Saya kangen memeluk ayah dan bunda saya, sambil bermanja - manja layaknya seorang daddy's little girl dan melepaskan sejenak kemandirian yang ada di dalam diri saya. Saya kangen jalan - jalan bersama kedua adik saya, entah menonton film terbaru di bioskop, makan nasi goreng dekat rumah, menghabiskan akhir pekan di salah satu mal ibukota, atau bahkan sekedar berbagi cerita tentang kehidupan sehari masing - masing. Saya kangen bermain bersama kedua keponakan saya yang selalu mampir ke kamar ketika saya baru tiba di rumah, sambil memanggil saya "Ju" ketika mereka lupa bahwa seharusnya mereka memanggil dengan "Tia Ozu", lalu memberikan saya berbagai pertanyaan layaknya anak - anak kecil yang selalu penasaran dengan segala sesuatunya. Saya kangen menginap bersama sahabat - sahabat saya, saat dimana ketika kami lupa dengan waktu karena terlalu asik bercerita, ketika saya bisa benar - benar menjadi diri saya tanpa merasa takut salah atau malu dengan apa yang saya lakukan dan katakan kepada mereka. Saya kangen menghabiskan waktu di kota Bandung bersama partner in crime saya, mulai dari mencicipi tempat makan baru, berpetualang di sudut - sudut kota tua, atau sekedar bergeje ria di Paris Van Java. Saya kangen rumah. Saya ingin pulang. 

May 06, 2013

Enam Hari Dalam Seminggu (2)

Sejak saya melakukan solo travel, saya enggak pernah sekalipun membeli Lonely Planet atau sejenisnya untuk menjadi panduan traveling saya. Entah kenapa saya lebih suka membuat itinerary sendiri dan mencari informasi tentang tempat - tempat yang akan saya kunjungi berdasarkan yang saya suka. Mungkin beberapa tahun yang lalu saya masih tipikal orang yang mengikuti sebuah panduan kemana seharusnya turis pergi ketika mengunjungi sebuah tempat. Tetapi setelah melakukan beberapa kali traveling, akhirnya saya sadar bahwa seringkali minat atau prioritas saya ketika mengunjungi suatu tempat berbeda dari kebanyakan yang direkomendasikan oleh orang lain.

Biasanya untuk traveling sebelumnya yang hanya ke kota - kota di UK, saya suka mencari informasi dari Cool Places. Nah, kali ini untuk ke Paris itu memang agak susah secara banyak banget informasi dari berbagai website, sama seperti waktu pertama kali saya ke London. Maklumlah ya, kedua kota ini salah satu kota yang paling diminati, makanya enggak heran kalau banyak juga tempat - tempat yang menarik untuk dikunjungi. Untuk ke Paris kemarin, saya membuat itinerary berdasarkan beberapa website, mulai dari yang spesifik seperti Timeout Paris, My Little Paris, lalu yang general seperti Travelettes, Guide Pal, Unlike, juga beberapa Parisian bloggers seperti Cherry Blossom Girl, Messy Nessy Chic dan Etsionse Promenait. Dari semua itu saya pilih yang kira - kira paling menarik bagi saya dan yang paling recommended buat dikunjungi. Lalu, taaa-daaa, jadilah itinerary saya yang sampai berlembar - lembar dan sempat membuat Emilie cukup shock ketika melihatnya karena saking banyaknya tempat yang ada di itinerary saya tersebut hahaha (oh iya, silahkan download disini kalau mau hihi).



Hal pertama yang saya cari ketika traveling ke suatu kota adalah apa yang membuat kota itu unik dan membedakannya dari kota lain. Kalau yang ini jelas Eiffel Tower, Arc de Triomphe, Louvre pasti saya masukkan ke dalamnya. This might sound so mainstream, tetapi rasanya kalau ke Paris tanpa ketiga tempat ini rasanya ada yang kurang, ya engga sih? Nah, disini yang mungkin agak berbeda, saya juga memasukkan tempat dimana saya bisa melihat budaya lokal, arsitektur dan street atau passage. Misalnya saja kalau dari segi budaya, yang terlihat jelas di Paris adalah cafe-nya yang menghadap ke jalan dan jarak tempat duduk antara satu kursi dengan kursi yang lain saling berdempetan. Saya masukkan juga kira - kira dimana cafe yang saya bisa mendapatkan feel tersebut.

Selain itu, kalau dari apa yang saya pelajari dan saya amati *asek*, salah satu ciri suatu kota yang membedakannya dari kota lain adalah kalau enggak dari arsitekturnya atau tema bangunannya, satu lagi adalah dari struktur atau bentuk jalannya *sotoy abis hahaha*. Yaa terlepas dari ke-soktau-an saya tersebut, saya memang suka banget sama arsitektur bangunan dan "gang" ala Inggris dan Eropa. Salah satu objek yang membuat saya selalu gemas untuk memfoto setiap kali mengunjungi suatu kota. Oh iya, hal lain yang membuat saya suka dengan passage tersebut adalah bahwa banyak objek - objek menarik yang saya temui ketika saya mengeksplore mereka, mulai dari dekorasi di jendela, cobblestone, dan suasana lainnya yang terasa berbeda dari kebanyakan jalan di Paris.






Hal selanjutnya yang saya cari adalah museum yang menarik buat saya. Saya enggak tahu kalau kota - kota lain di Eropa, tetapi yang jelas ada banyak banget museum di Paris. Sayangnya, enggak seperti kebanyakan museum di London yang free of charge, museum yang gratis di Paris itu bisa terhitung pake jari. Walaupun ada juga beberapa museum yang memberikan student discount dan bahkan beberapa juga gratis buat traveler seperti saya yang walaupun bukan asli warga negara Inggris tetapi karena status saya yang saat ini UK resident dan student disana maka saya bisa masuk tanpa bayar.

Sejak saya menyadari bahwa saya bukan penikmat lukisan medieval dan impressionist, maka museum yang saya kunjungi juga jarang yang berhubungan dengan itu. Kebanyakan museum yang saya kunjungi adalah modern and contemporary art, seperti Palais de Tokyo dan Centre Pompidou; art and cultural history seperti Musee de lavie Romantique dan Musee de Montmartre, serta beberapa museum lainnya seperti Musee du Louvre, Musee du Quai Branly dan Musee de la mode et du Textile.

Centre Pompidou, modern and contemporary art museum terkeren yang pernah saya kunjungi  


104 ini sebenarnya gabungan antara interactive museum dan art space yang konsepnya unik banget. Perpaduan antara art, theater dan public space. Salah satu worth to visit place, apalagi kalau ada acara yang sedang berlangsung disini.



Musee de la Romantique

Musee de Montmartre; Musee de lavie Romantique backyard

Salah satu art installation di Palais De Tokyo



Saya pernah bilang kan kalau setiap saya mengunjungi suatu kota pasti salah satu must visit places adalah local markets, baik farmers maupun flea markets. Entah kalian bisa merasakan atau enggak, tetapi bagi saya, local markets di setiap kota itu juga punya ciri khas dan keunikan tersendiri. Bahkan setelah mengunjungi markets di beberapa kota di UK, belum pernah sekalipun saya melihat ada satu pasar yang benar - benar mirip di satu kota dengan lainnya. Keunikan itulah yang membuat saya selalu tertarik dan penasaran dengan local markets ketika mengunjungi suatu kota/negara. Ditambah lagi dengan suasana sebagian besar markets yang selalu nyaman dan homey, membuat saya selalu ingin mengunjungi dan merasakan suasana tersebut di setiap kota.

Marche de Belleville. Salah satu pasar "tergaduh", dimana ketika para pedagangnya meneriakkan barang dagangannya. 


Salah satu hal yang membuat saya kaget dengan farmers markets di Paris adalah suasana pasar yang benar - benar gaduh dengan 'teriakan' para pedagang yang mencoba menawarkan barang dagangan mereka, yang tentu saja saya engga mengerti apa yang mereka katakan, selain "Bonjour Madam!". Maklum saja, selama saya mengunjungi beberapa markets di UK, bahkan di London sekalipun, saya belum pernah menemukan market dimana para pedagangnya sangat "berisik". Hampir setiap markets yang ada disana hanya ramai oleh percakapan antara pedagang dan pembeli.

Bukan hanya itu, saya juga cukup kaget ketika beberapa dari mereka ada yang mencoba "menggoda" dengan bilang "Assalamualaikum" ketika tahu bahwa saya turis. Biasanya ketika saya di Indonesia, saya merasa kesal ketika ada orang yang seperti itu. Tetapi kali ini bukannya saya merasa kesal seperti biasanya, saya malah ingin tertawa begitu mendengarnya. Bukannya apa - apa, mendadak saya jadi teringat dengan pasar - pasar di Indonesia yang para pedagangnya terkadang juga melakukan hal yang sama. Tetapi terlepas dari itu, saya tetap menikmati farmers markets yang ada di Paris karena memberikan suasana baru yang terasa sangat berbeda dengan yang ada di Inggris dan justru dengan kegaduhan para pedagangnya itulah saya merasa lebih welcome dan benar - benar seperti di pasar.



Ternyata bukan hanya farmers markets-nya saja yang membuat saya kaget, tetapi juga flea markets yang ada di Paris. Mulai dari beberapa pasar yang tempat dan suasananya terlihat bukan seperti berada di Eropa dan juga barang - barang yang dijual disana sangat murah - murah. Secara gitu ya, kebanyakan flea markets yang saya kunjungi di Inggris sebagian besar barang - barang yang dijual disana masih terbilang mahal menurut saya.

Kalau mau mencari second hand goods yang super murah, tetapi dengan resiko tempatnya enggak terlalu nyaman, saya rekomendasikan untuk datang ke Guerissol dan Marche aux puces de Montreuil. Disana banyak banget tumpukan Zara yang masih bagus dan dijual dengan harga 3€ saja! Nah kalau lebih jeli, bisa juga menemukan high fashion brands seperti tas Long Champ dan Lanvin suit di kedua tempat tersebut. Kalau di Guerissol harganya udah tetap (ini keterlaluan sih kalau ada yang masih nawar, secara harganya aja udah super murah disana), di Marche aux puces de Montreuil harus ditawar barang - barangnya, terutama yang harganya "lebay". Misalnya aja, saya menemukan cape yang dijual 50 . Memang masih bagus banget, cuma untuk ukuran secondhand clothes itu masih terlalu mahal bagi saya, dan sayangnya karena saya enggak bisa bahasa Perancis jadi saya enggak berani menawar *nasib jadi turis*.

See? Keterlaluan kan kalau masih ada yang mau nawar harganya hehe


Inside Guerrisol. Sekilas mirip dengan Pasar Senen 
tapi versi lebih terang dan lebih rapih-nya.


Marche de Montreuil yang membuat saya semakin kangen dengan Gedebage dan Gasibu!


Kalau kedua markets sebelumnya terlihat kurang menarik dari segi tempat dan suasana, Marche d'Aligre terasa banget suasana di Eropa. Mulai dari baju, buku, barang - barang antik semuanya ada disini. Bukan cuma itu, disini tempat dimana kamu bisa menemukan banyak "hidden treasure". Di Marche d'Aligre, saya puas banget membeli vintage Louis Vuitton yang masih sangat bagus hanya dengan harga 40 dan vintage leather Bally dengan harga 30! Saya juga sempat menemukan Tod's, Calvin Klein, Longchamp, Guy Laroche yang semuanya juga masih dalam kondisi bagus dan dijual dengan harga dibawah 50€!

Flea market lainnya yang sangat terasa juga suasana di Eropa adalah Marche aux puces de St Ouen. Ini adalah flea market terbesar di Paris, dimana ada berbagai market mulai dari market dimana banyak penjual fake designer perfume dan barang - barang lainnya, sampai flea market sebenarnya yang saya post foto - fotonya disini. Awalnya saya sempat kaget juga karena yang terlihat jelas ketika sampai di market ini adalah market yang menjual fake designer brands itu. Pokoknya sama sekali enggak sesuai yang dikatakan oleh beberapa website yang saya temukan. Untungnya, salah satu website tersebut sudah mengingatkan bahwa jangan sampai salah masuk ke tempat tersebut, dan setelah saya mencari - cari, akhirnya saya menemukan the real flea market dimana menjual vintage goods. Disini juga ada beberapa toko yang menjual vintage designer brands, seperti Chanel, Gucci, Celine dan masih banyak lagi. Tetapi karena tempatnya yang lebih bagus dan reputasinya yang lebih terkenal dibandingkan Marche d'Aligre, jadi harga barang - barang tersebut juga jauh lebih mahal. Beberapa barang yang saya lihat mulai dijual dengan harga diatas 100

Marche d'Aligre, flea market di Paris yang paling recommended buat dikunjungin 

Suasana dan second hand goods yang dijual di Marche d'Aligre 

Marche aux puces de St Ouen. Nah, disini juga terasa banget suasana Eropa nya. Gang - gang kecil cantik yang dimana banyak toko - toko antik. 



Seandainya saja saya punya budget lebih, tempat belanja yang akan saya tuju bukan toko - toko di Champs Elysees, Printemps dan Galleries Lafayette yang biasanya menjadi tujuan turis - turis yang datang ke Paris. Saya juga enggak tau kenapa saya enggak tertarik di ketiga tempat tersebut. Entah karena barang - barang yang dijual disana udah biasa saya lihat di London atau bahkan Jakarta, dan mungkin juga karena tempat - tempat tersebut terlalu ramai dan sesak oleh turis - turis yang berbelanja disana.

Saya jauh lebih suka local store yang unik baik dari konsep tokonya maupun brand nya yang berasal dari local brand, seperti Colette dan Merci. Mungkin kalau di London seperti Dover Street Market, Jakarta seperti The Goods Dept, atau di Bandung seperti Pop Shop dan Widely Project. Yaa tempatnya anak - anak muda gaul nan kece gitu lah hahaha. Sama seperti barang - barang yang dijual di toko - toko tersebut, harga barang - barang yang dijual di Colette dan Merci pun juga sangat *uhuk* mahal, rata - rata diatas 150 . Jadi kalau bagi kalian yang punya budget sekitar segitu, mungkin bisa coba datang ke kedua toko tersebut huehhee.

Merci; Colette


Oh iya, ada beberapa hal lain yang saya rekomendasikan juga ketika pergi ke Paris. Mulai dari  mencoba makan di cafe ala Paris yang menghadap ke jalan, mencoba kue - kue cantik di local patisserie selain Laduree dan Pierre Herme, membeli makanan dan minuman unik di local supermarket dan foto box di vintage photo booth Paris yang unik. Lalu juga mengeksplore tempat paling cantik di Paris, yaitu Montmartre, dengan suasana yang sangat berbeda dari arrondissement lainnya. Oh iya, jangan lupa juga dilukis disana! Yaaa walaupun lukisan yang punya saya enggak terlalu mirip dengan saya, tetapi setidaknya ada kenangan dibalik lukisan tersebut. Saya mikirnya sih kalau nanti saya udah punya anak, terus anak saya bertanya ke saya siapa yang melukis tersebut, saya bisa bilang "oh, itu waktu Ibu muda, ketika Ibu pertama kali traveling solo ke Paris" *asek* hahaha. Baiklah kalau begitu, sekian postingan saya tentang Paris. See you in other voyage post!


Lunch ala Parisian; produk makanan dan minuman yang unik di 
Monoprix dan La grande ├ępicerie de Paris 



Toko - toko lucu sepanjang jalan di Montmartre 

Vineyard di Musee Montmartre


Pelukis di Montmartre yang saat itu sedang melukis saya; Salah satu vintage photo booth yang ada di Palais de Tokyo