April 05, 2018

Reproduction of Happiness #80: Shopping

Baru kali ini saya merasakan dampak dari transisi musim dingin ke musim semi yang ternyata sama aja dengan pancaroba, yaitu dilanda penyakit yang bikin badan enggak enak. Entah apa namanya ini, flu atau bukan, yang jelas udah dua minggu lebih badan saya terasa ringkih. Hampir setiap hari bangun disertai dengan kepala yang terasa berat dan sekujur badan rasanya pegal hingga ke tulang gitu. Belum lagi kadang tiba - tiba meler dan batuk berdahak. Dampaknya jadi ke pikiran yang enggak jernih dan mood yang senggol bacok. Biasanya kalau lagi enggak merasa enak, salah satu solusi paling ampuh bagi saya adalah olahraga. Tapi berhubung kali ini badan juga enggak enak, jadinya dibawa olahraga dikit aja langsung makin sakit malamnya. Bahkan untuk sekedar sepedaan ke kampus juga enggak bisa. Akhirnya terpaksalah udah dua minggu ini saya skip olahraga. Kerja pun lebih banyak di flat ketimbang ke kampus. Belum lagi PMS dan tamu bulanan yang membuat segalanya semakin menjadi - jadi. Sampai puncaknya sih di hari Jumat dan Sabtu lalu, ketika segala cara udah dicoba, tapi kepala rasanya butek banget dan bawaannya pengen menghela napas mulu. Dan ternyata hanya ada satu cara paling efektif yang berhasil bikin saya tenang dan senang, yaitu b-e-l-a-n-j-a! Pada dasarnya saya memang suka belanja sih anaknya, cuma baru kali ini merasa sepuas itu abis belanja. Salah satu kegiatan yang bikin sehat karena bukan cuma pikiran saya yang terdistraksi, tapi juga banyak gerak dan jalan. Selain itu berhubung sebagian besar waktu dihabiskan di dalam ruangan, 'olahraga' yang satu ini enggak bikin kedinginan dan masuk angin. On top of it all, momennya juga lagi pas karena ada beberapa barang yang udah lama pengen dibeli ;)


Summer Outfits

Berhubung musim dingin kemarin berkepanjangan, bahkan hingga bulan Maret aja masih sempat minus dong temperaturnya (!!!), saya sekarang udah mencapai titik di mana bawaannya pengen kabur aja ke tempat yang hangat dan berlimpahkan sinar matahari. Namun apa daya, hingga sekarang saya masih belum bisa kemana - mana. Jadi cara lainnya adalah lagi - lagi mimpi di siang bolong dulu dengan membeli 'perlengkapan' musim panas. Begitu window shopping ke beberapa toko favorit saya, akhirnya menemukan barang - barang yang saya inginkan, yaitu sunglasses ala - ala (karena sebenarnya enggak bisa saya pakai selain hanya untuk foto doang, hahhaha!), dress, dan flip - flops. Meskipun ada juga sih yang agar impulsif karena di luar daftar belanja saya, seperti anting, backpack, dan kuteks. Cuma berhubung ketiga barang tersebut dari Primark, yang menjadi tempat favorit saya untuk belanja impulsif karena murah meriah, jadi saya enggak menyesal deh. Hahah!









Houseplants 

Dampak lain dari musim dingin yang enggak ada ujungnya ini adalah tanaman saya pada berguguran satu persatu! Jika dijumlahkan secara keseluruhan, ada tujuh tanaman yang udah enggak bisa diselamatkan. Hampir seluruhnya sih gugur karena overwatered akibat udara yang terlalu dingin dan jarang terkena paparan matahari. Sekalipun ada sinar matahari, begitu ditaruh di beranda, malah gugur juga karena kedinginan. Memang aneh sih disini matahari justru terik begitu temperaturnya sedang turun. Jadi serba salah gitu merawatnya. Dan saya enggak menyangka ternyata rasanya sesedih itu ketika melihat ketujuh tanaman tersebut langsung berubah drastis dalam waktu yang berdekatan. Alasan utamanya sih karena empat dari tujuh tanaman tersebut udah saya beli dan rawat semenjak awal pindah ke Belanda, yaitu dua tahun yang lalu. Jadi saya udah melihat juga perubahan mereka, seperti Jade dan Ebony yang tadinya masih pendek bisa tumbuh tinggi, serta Pilea yang awalnya hanya beberapa daun jadi tumbuh lebat hingga ada yang mesti saya pindahkan ke pot lain. Lalu saya coba nunggu sebulan gitu dengan harapan mereka bisa membaik tapi akhirnya saya pasrah melihat enggak ada perubahan dan memutuskan buat beli tanaman baru. Berbeda dari sebelumnya yang kebanyakan adalah succulent, kali ini saya mau ganti suasana baru dengan membeli  jenis houseplants yang lain. Dan akhirnya pilihan saya jatuh ke Ctenanthe dan Peperomia, yang dari pertama kali melihatnya langsung bikin saya berbinar - binar dengan corak daunnya yang unik! 





Basic 

Dulu sih, saya sempat terjebak masa - masa di mana saya cukup memaksakan diri untuk membeli barang branded yang ada di luar budget saya supaya keliatan hits gitu. Hee! Tapi begitu kuliah, saya jadi sadar bahwa brand itu enggak segalanya. Malahan saya jadi lebih menyukai barang - barang tanpa brand selama nyaman, bagus, dan yang paling penting, original! Soalnya saya suka sedih gitu setiap mendengar cerita orang - orang yang segitunya memaksakan diri mereka hanya karena ingin mendapatkan pengakuan dari orang lain. Seperti membeli versi imitasinya Louis Vuitton yang dijual di ITC, yang dijual lengkap dengan berbagai level KW-nya. Kasian aja karena mereka bela - belain beli barang palsu hanya untuk bisa terlihat bagus. Menurut saya sih enggak ada yang salah dengan membeli dan menggunakan barang branded selama masih dalam budget dan sesuai kebutuhan juga. Sampai sekarang pun saya masih beli beberapa barang branded dengan harga yang menurut saya mahal karena udah lama jadi incaran saya dan merasa kalau dari brand tersebut akan lebih long-last ketimbang brand lainnya; bukan karena saya ingin mengikuti trend dan supaya hits gitu. Salah satu barang yang udah lama di dalam wish list saya adalah Adidas Superstar. Berhubung saya bukan penggemar sneakers jadi sebelumnya saya selalu mikir beberapa kali buat beli sepatu ini. Apalagi sebenernya kan banyak brand lain seperti Stradivarius, Bershka, Pull & Bear yang juga mengeluarkan model yang hampir mirip dengan harga setengahnya dari Adidas. Cuma ternyata harga memang enggak bohong ya! Sepatu saya sebelumnya yang dibeli dari Bershka akhirnya cuma bertahan dua tahun. Yaa semoga aja kali ini dengan harga lebih tinggi juga bisa bikin barangnya bertahan lebih lama yaa :))





Hal lain yang bikin saya bahagia banget dari belanja adalah begitu mendapatkan barang bagus dari brand favorit saya dengan harga miring! Salah satunya adalah headphone Nixon ini yang enggak sengaja saya temukan saat lagi mengunjungi America Today. Bayangin aja dong, dari yang tadinya 25 Euro, jadi hanya 7 Euro! Saya sampai nanya lagi ke pegawai di sana buat memastikan kalau saya enggak salah lihat. Haha! Selain saya memang lagi nyari headphone, saya juga suka dengan Nixon sejak punya jam tangan dari brand tersebut. Selain itu, saya juga beli tas dari brand favorit saya lainnya, yaitu Mango. Berbeda dari di Indonesia, kalau di sini tuh pas lagi diskon harga barang - barang mereka jadi jauh lebih murah gitu. Kalau di Indonesia kan mau diskon mau enggak, harganya tetap mahal kan tuh :p Terlepas dari itu, saya suka dengan desain mereka yang simpel tapi klasik. Hal lain yang saya juga suka adalah mereka jarang menunjukkan label mereka. Berhubung saya memang kurang suka dengan barang, terutama tas, yang didesain supaya nama brand-nya terpampang jelas di depan mata gitu :)) 

April 03, 2018

Stockholm: Living in A Fairy Tale World

Enggak terasa udah sembilan hari saya di Skandinavia dan akhirnya sampai juga di pemberhentian terakhir sebelum kembali ke Rotterdam! Antara sedih dan senang sih... karena sejujurnya perjalanan ini udah mulai terasa semakin melelahkan. Faktor U memang enggak bisa bohong yaa, baru sembilan hari aja rasanya udah jompo badan ini :)) Tapi dari pengalaman saya traveling sebelumnya pun, begitu udah melewati seminggu pasti udah mulai berkurang bahagianya. Makanya bagi saya waktu paling lama di jalan adalah sepuluh hari. Yaaa, mentok - mentok bisa dua minggu lah. Kalau udah lebih dari itu, pasti udah enggak terasa menyenangkan lagi. Sekalipun menetap di satu kota yang sama dalam beberapa hari dan stay di hotel atau Airbnb yang nyaman, bagi saya enggak ada yang mengalahkan rasa nyaman berada di rumah sendiri.


Alasan itu juga yang membuat akhirnya hanya beberapa yang saya masukkan ke dalam daftar must-visit (dan ujungnya semakin sedikit pula jumlah tempat yang berhasil dikunjungi), terlepas dari banyak banget sebenarnya tempat yang terlihat menarik di Stockholm yang ingin saya kunjungi. Selain udah capek, beberapa hari kemarin juga bawaannya tergesa - gesa dan mobilitas yang tinggi dari satu kota ke kota lain. Jadi sekarang bawaannya pengen santai aja dan saya juga enggak ambisius buat memasukkan banyak destinasi selama tiga setengah hari di sini. Bahkan totalnya hanya ada lima tempat yang berhasil saya kunjungi, yaitu keliling beberapa metro 'art' station (T-Centralen, Stadion, Kungstradgarden, Tenstra, Solna Strand), Gamla Stan, Nobel Museum, (the world's largest) IKEA, Museum of Modern Art, dan Stockholm Public Library. Bagi saya semua tempat tersebut recommended banget buat dikunjungi. Cuma kali ini saya hanya akan membahas satu tempat favorit saya di Stockholm, yaitu Gamla Stan. It's the only place in Stockholm - even Sweden - that every time I think about it I get butterflies in my stomach.









Stockholm, 29 Desember 2017. Destinasi pertama yang ingin saya datangi hari ini adalah SoFo, sebuah district yang terkenal sebagai home for many Swedish creative industries. Tapi begitu turun dari bus dan mengikuti papan petunjuk arah yang tertera di jalan akibat sedang ada perbaikan, ujung - ujungnya bukan diarahkan ke Sofo namun malah arah sebaliknya. Dan justru membawa saya ke destinasi kedua di daftar yang akan saya kunjungi hari ini, yaitu Gamla Stan atau Old Town. Berhubung udah terlanjur, saya memutuskan untuk mengeksplore bagian kota tua Stockholm yang memang terkenal cantik. Awalnya saya enggak berekspektasi apapun karena merasa yaa paling kota tua isinya enggak akan jauh beda dari kebanyakan kota tua di Eropa lainnya. Tapi nyatanya Gamla Stan berhasil menyihir saya sampai rela menghabiskan sebagian besar waktu saya hari ini hanya untuk berjalan kaki mengelilingi tempat ini. Enggak berlebihan ternyata kalau sisi kota tua Stockholm ini hampir selalu menjadi hal pertama yang direkomendasikan oleh orang - orang, baik dari teman - teman saya yang udh pernah ke sini maupun dari blog.

Sambil terus berjalan dan sesekali memandangi instalasi toko yang sebagian besarnya juga dihiasi oleh dekorasi Natal, sampailah saya di persimpangan yang salah satunya mengarahkan saya ke Stortorget, sebuah square yang dikelilingi oleh gedung warna - warni dengan bentuk yang super menggemaskan. Tapi sebelum itu, tiba - tiba ada yang memanggil nama saya. Dan benar aja dugaan saya, mereka adalah beberapa teman satu jurusan saya yang juga sedang liburan ke sini. Sebenernya saya pun udah sempat kepikiran apakah akan ada satu waktu yang mana saya akan bertemu dengan mereka, tapi enggak nyangka aja beneran bertemu tanpa janjian dulu sebelumnya. Ternyata Stockholm sempit juga ya. Di antara berbagai tempat dan kerumunan orang - orang, masih aja bisa ketemu! :3









Setelah berjalan mengelilingi Gamla Stan cukup lama, dan tampaknya temperatur mulai turun lagi ketika hari semakin sore, saya mulai merasa terlalu kedinginan. Buru - buru saya mencari tempat untuk menghangatkan diri sekaligus buat Fika, sebuah tradisi Swedish yang berarti "taking time to slow down". Sebenarnya sih tanpa sadar selama perjalanan ini hampir tiap hari saya udah melakukan Fika, yang cenderung dilakukan dengan minum kopi (atau minuman manis lainnya) sambil ditemani makanan manis seperti Kanelbullar (cinnamon rolls). Langsung aja saya teringat satu rekomendasi tempat oleh mas Marlo, yaitu Chokladkoppen, yang letaknya di bawah salah satu gedung kuning di Stortorget. Dari luar memang udah terlihat cantik banget dan ternyata begitu masuk ke dalam pun tempatnya terasa cozy banget; meski sayangnya kecil dan sangat terbatas jumlah meja dan tempat duduknya. Sekilas rasanya hanya mampu menampung enggak lebih dari 20 orang. Tapi mungkin itu yang membuat tempat ini jadi spesial. Dengan lampu remang - remang, kursi kecil, serta dekorasi tua dengan jarak antar meja yang berdekatan satu sama lain, langsung mengingatkan saya juga dengan konsep Hygge. Memang sih seringkali Hygge juga dikaitkan dengan kenyamanan yang muncul bersama orang - orang terdekat. Namun entah saat itu walaupun sendirian, mungkin karena tempatnya yang kecil dan nyaman, saya enggak merasa kesepian atau kikuk gitu. Oh iya, di saat itu juga saya baru menyadari kalau Swedish menyajikan kopi dalam gelas yang kecil banget. Dan lucunya, Kanelbullar yang disediakan justru besar banget sampai saya hanya mampu makan setengah-nya! Agak kurang paham juga kenapa ukurannya enggak medium aja untuk keduanya ya :))















Satu hal paling mengesankan dari Gamla Stan adalah setiap jalannya yang memiliki karakter yang berbeda. Ketika memasuki jalanan utama, terlihat lebih banyak toko souvenir dan pernak pernik lucu khas Sweden yang jelas sekali ditujukan untuk para turis. Namun begitu mulai memasuki salah satu jalanan kecilnya, perlahan mulai terasa sunyi. Begitu juga dengan pemandangan di sekeliling saya, yang awalnya diisi oleh pertokoan modern, mulai tergantikan dengan secondhand shops dan toko antik. Dan taulah ya, bagi saya yang penyuka barang vintage dan secondhand, pastilah semakin bahagia begitu menemukan beberapa jalan ini. Salah satunya bernama K√∂pmantorget atau "Merchant's Square". Begitu sampai di tempat ini, saya langsung teringat dengan Budapest, Praha, Salzburg, dan Colmar. Entah gaya arsitektur dan warna setiap bangunannya, entah dekorasi Natal yang terpampang di hampir setiap toko yang saya lalui, entah jalan berbatuannya; yang jelas suasananya langsung terasa lebih magis. Lagi - lagi, saya jadi merasa sedang berada di sebuah film. Kali ini yang terlintas di pikiran saya adalah Mickey's Christmas Carol dan Anastasia, dua film favorit saya ketika masih kecil. Padahal saya enggak bisa ingat bagian mananya yang mirip dengan kedua film tersebut :)) Ah, siapa yang menyangka ternyata sore ini menjadi salah satu sore teristimewa di bulan Desember ini. Terima kasih sudah menjadi kota penutup paling manis di perjalanan kali ini, Stockholm.