April 29, 2018

April: The Month of Colors, Flowers, and Friends

Dari awal tahun 2018, saya udah punya feeling yang kuat bahwa waktu akan terasa semakin cepat di tahun ini. Lebih tepatnya sih begitu melihat PhD timeline untuk tahun ketiga ini yang terlihat seperti mengejar - ngejar saya saking banyak-nya target yang juga membutuhkan effort lebih tinggi dari tahun pertama dan kedua. Pada nyatanya, Januari dan Februari terasa berjalan lebih lama dari yang saya bayangkan. Kayanya ada pengaruh juga sih dengan kondisi cuaca dan temperatur yang masih sangat dingin dan bahkan masih bersalju di akhir Februari. Biasanya hard times feel longer than good times, ya kan? Sebaliknya, Maret dan April terasa berlalu begituuu cepat. April sih yang paling bikin saya sampai bilang, "hah, udah minggu terakhir aja nih?!". No kidding, the month has gone by so fast! Bahkan target saya untuk bisa publish lima blog post tiap bulan aja kayanya enggak tercapai nih di bulan ini (walaupun masih ada sedikit kemungkinan sih kalau saya kejar tiga hari ini, heheh). Baik karena riset yang lagi hectic maupun berbagai rencana dengan teman - teman saya, membuat otak ini udah terbagi - bagi fokusnya. Nah, mumpung hari ini adalah hari 'tenang' dan semua to-do-list saya udah dilakukan, saya akan sedikit memberi update tentang apa aja yang dilalui di bulan ini. Dan mengapa April menjadi salah satu bulan favorit saya di tahun ini, terlepas bahwa bulan ini merupakan awal dari musim semi yang sebenarnya.






Kalau diingat kembali betapa dinginnya akhir Maret lalu, rasanya masih enggak percaya di akhir pekan pertama April tiba - tiba aja temperatur naik hingga 25 derajat! Antara senang enggak senang sih. Di satu sisi senang karena akhirnya hangat dan bisa keluar cuma menggunakan satu layer pakaian, namun di sisi lain juga perubahan suhu yang drastis ini agak terlalu ekstrim bagi saya. Maksudnyaaa, enggak bisa gitu naik cuma sampai 22 derajat atau seenggaknya masih ada semilir angin jadi enggak panas banget. BM banget ya, hahah! :))) Anyway, di akhir pekan yang sama, saya dan beberapa teman program doktoral lainnya sudah merencanakan dari sebulan sebelumnya untuk pergi piknik. Lebih tepatnya sih saya dan Mba Vicky, yang sama - sama udah penat dengan riset kami dan enggak sabar pengen jalan - jalan. Haha! Pilihan piknik kali ini adalah Japanse Park, sebuah taman publik di Amstelveen yang terletak di suburb Amsterdam. Konon katanya sih taman ini memang dibuat sebagai simbol kerjasama antara Belanda dan Jepang yang sudah terjalin selama 400 tahun lamanya. Di taman ini juga, setiap awal April (kalau tahun ini jatuh di tanggal 7 April), diadakan Cherry Blossom Festival untuk merayakan datangnya musim semi dan juga sakura yang mulai bermekaran. Berhubung dari awal kami hanya berencana untuk 'hanami', maka kami memutuskan untuk datang tanggal 8 dengan harapan bahwa pengunjung yang datang di tanggal itu enggak sebanyak seperti hari sebelumnya.

Tapi nyatanya pengunjung yang datang di hari itu tetap aja banyak banget! Hampir di setiap spot pasti adaaa aja yang menggelar tikar (atau tanpa alas apa pun) di bawah pepohonan sakura yang berwarna putih dan merah muda. Entah hanya berdua, bersama keluarga atau teman - teman, yang jelas taman ini memang terasa hidup sekali. Ada yang langsung membuka bekal untuk makan siang (seperti kami, haha!), ada yang asik baca buku, ada yang tidur, ada yang main kesana kemari, ada yang foto - foto (meski susah sih buat dapat hasil full-body portrait yang bagus karena terlalu banyak orang *curcol*). Kami menghabiskan waktu di sana sekitar tiga jam dan lanjut ke Amazing Oriental di Delft yang paling lengkap dan terbesar seantero Belanda. Setibanya di sana, kami beli beberapa bahan untuk masak dan.... es krim Durian! Baru pertama kali saya coba es krim Durian di Belanda dan ternyata rasanya enakkk! Setelah itu lanjut ke Pempek Elysha di Den Haag yang terkenal di kalangan orang Indonesia di sini. Pokoknya lengkap banget rasa senangnya di hari itu. Padahal kalau dipikir kan cuma piknik dan makan di kota sekitar Rotterdam. Rupanya perpaduan piknik saat cuaca sedang cerah, teman - teman yang menyenangkan, sakura yang begitu cantik, serta makanan yang enak (ternyata) sudah cukup untuk membuat seisi kepala kembali refreshed dan hati menjadi senang :)





Rencana lainnya yang pasti saya lakukan setiap kali musim semi tiba, seenggaknya sih ketika di Inggris dulu dan dua tahun terakhir di Belanda, adalah sepedaan ke countryside. Semenjak di sini, saya ketagihan buat mengunjungi Lisse untuk tulip hunting. Secara gitu kan yaa di pertengahan April kota ini dipenuhi oleh berbagai ladang tulip lokal yang sedang bermekaran. Lucunya, secara enggak sengaja, saya selalu mengunjungi Lisse dengan tiga teman saya lainnya. Dua tahun lalu bersama teman Planologi (bisa dilihat di postingan ini), sedangkan tahun lalu (yang belum sempat saya posting di sini karena selalu ditunda mulu huhu) saya pergi bersama teman - teman dari IHS. Kali ini saya pergi dengan dua flatmate saya, Wulan dan Noni, serta Nelsa (temennya Wulan yang ternyata adalah teman SMA adik saya! Sungguh dunia sempit sekaliii).

Tapi bedanya, untuk pertama kalinya setelah melewati tiga kali musim semi di Belanda dan selalu bilang ke orang - orang kalau saya lebih suka sepedaan keliling Lisse ketimbang masuk ke Keukenhof yang sangat touristy, tahun ini saya memutuskan untuk melakukan sebaliknya. The one and only reason I did that was just for the sake of curiosity. Alias supaya enggak penasaran lagi aja bentuk taman dan rupa bunga - bunga yang ada di sana seperti apa. Yaaa sebenarnya sih sebelum ke sana juga udah liat foto teman - teman saya yang udah berkunjung lebih dulu. Jadi kurang lebih sebenarnya saya udah ada gambaran kalau si Keukenhof ini sebelas dua belas laaah sama Taman Bunga Nusantara di Puncak. Dan bener aja sih, memang mirip tapi ini versi yang lebih besar, ramai, dan jenis bunga yang ada pun lebih beragam.





Sebenarnya rencana awal kami sempat ingin bersepeda dari Leiden Central Station. Tapi mengingat pengalaman saya tahun lalu sepedaan dan berujung tepar duluan begitu nyampe Lisse, akhirnya kami memutuskan untuk ke Keukenhof aja dan menyewa sepeda di sana. Begitu sampai di Keukenhof yang saat itu super panas dan surprisingly lebih padat dari ekspektasi kami, membuat pergerakan kami pun juga lebih lambat dari rencana awal. Padahal harapan utama kami memilih hari Rabu untuk datang ke sana adalah supaya menghindari gerombolan turis. Eh, enggak taunya tetep aja ramai juga. Yasudahlah yaa memang sudah menjadi resiko mengunjungi salah satu world's top tourist attraction, heuuu! Lalu kesimpulannya, apakah worth it bayar 17 euro buat masuk Keukenhof? Hmm, sejujurnya dari awal sih ku  enggak mengharapkan apa - apa selain bisa foto ala - ala tanpa terlihat kucel dan jilbab berantakan. HAHAH. Karena agak susah yaa buat bisa terlihat cakep di foto kalo abis sepedaan *monmaap ku memang semureh itu aslinya, wkwk*. Selain itu juga ada beberapa spot lucu yang memang sengaja dibuat untuk background foto ala - ala. Tapi sisanya sih sejujurnya B(iasa) aja sih. Ku tetep menjadi tim "sepedaan keliling Lisse buat mengunjungi ladang tulip lokal" ketimbang masuk ke Keukenhof. Cuma yaa balik lagi sih, sekali seumur hidup bayar buat masuk ke sana rasanya enggak apa - apa. Biar enggak penasaran aja :)





Saya lupa pastinya kapan pembicaraan tentang rencana 'liburan bareng sebelum puasa' mulai muncul  antara saya dan Likha, junior saya di Planologi ITB yang saat ini lagi mengambil program master di jurusan yang sama dengan saya. Mulai dari awalnya ingin ke Southern France namun setelah pertimbangan ini-itu, malah jadi berbelok ke Italy. Berhubung masih ada satu kota yang dari dulu dimasukkan ke dalam bucket list saya dan belum sempat dikunjungi saat road trip Italy dua tahun lalu, maka saya setuju dengan ide ke sana. Apalagi masih sama - sama negara Mediterania, yang menyuguhkan dua hal utama yang enggak ada di Belanda: pegunungan dan pantai (perlu ditekankan definisi pantai di sini adalah pantai yang hampir mendekati "standar" laut yang ada di Indonesia). Dan sesungguhnya, seperti yang sudah saya ungkapkan berkali - kali di sini maupun di Instagram, melewati winter yang begitu dingin dan panjang membuat saya ingin sekali pergi ke pantai dan memiliki warna selain monokrom. Dan entah kenapa, setelah menonton Call Me by Your Name, hasrat untuk ke Italy semakin besar :))





Berhubung lagi sama - sama sibuk, rencana trip ini seperti 'antara ada dan tiada'. Sampai akhirnya awal April dibicarain lagi, kali ini bersama dua "Plano(logi) babes" lainnya yang juga ikut trip ini. Dan tanpa babibu kami langsung beli tiket pesawat yang paling murah. Alhamdulillah banget meskipun tinggal H-18, kami masih bisa menemukan tiket PP dari Belanda ke Italy dengan total 76 Euro! Padahal biasanya dengan harga segitu hanya untuk sekali jalan, bahkan enggak jarang bisa mencapai ratusan. Setelah itu kami pun mulai menyusun itinerary selama enam hari. Nah, karena dari awal tujuan utama saya hanya untuk ke Venice dan ingin melihat pantai, saya memutuskan buat extend di Venice hingga tiga malam. Sedangkan tiga Plano Babes lainnya sudah berangkat ke kota lain dan kami bertemu lagi di Cinque Terre pada hari keempat. Biasanya sih saya paling enggak mau ke tempat yang udah pernah saya kunjungi sebelumnya, tapi berhubung dua tahun lalu ketika saya ke Cinque Terre waktunya sangat terbatas dan kurang puas mengeksplore desa - desa di sana, saya pun setuju aja buat stay dua malam. Toh, pemandangan desa warna - warni dengan berlatarkan pegunungan hijau dan laut biru rasanya enggak akan pernah membosankan, yegak? Ahh, nanti deh di postingan terpisah akan saya ceritakan lebih banyak tentang perjalanan ke Italy ini yaa, terutama tentang Venice dan Burano! ;)





Kalau ada kata - kata yang menggambarkan cerita saya di bulan April tahun ini, maka saya memilih: warna, bunga, dan teman. Tiga hal yang berbeda tapi sama - sama bikin saya senang dan sudah lama saya nantikan sejak awal tahun ini. April membuat saya hampir lupa rasanya musim dingin yang begitu menusuk, begitu panjang, serta kadang membuat sekeliling saya terasa sangat sepi. Dan sejujurnya, ada perasaan sedih ketika mengetahui bahwa April akan segera usai. Ketika berbagai jenis bunga dengan rupa dan warna akan segera terganti dengan dedaunan hijau. Ketika angin semilir musim semi akan terganti dengan udara kering musim panas. Ketika waktu akan terasa lebih cepat berlalu hingga mencapai waktu di mana musim gugur hampir tiba dan segalanya akan kembali berubah. Tapi kata orang bijak, enggak usah terlalu banyak memikirkan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang maupun apa yang udah terjadi di masa lalu. "Be present and live in the moment", they said. Meskipun enggak bisa selalu dan sepenuhnya hidup dalam masa kini, April adalah salah satu waktu di mana saya banyak melalui hari untuk menikmati dan mensyukuri apa yang sedang saya rasakan, lihat dan hirup. Semoga April juga menyenangkan buat kalian, yaa! :)

April 05, 2018

Reproduction of Happiness #80: Shopping

Baru kali ini saya merasakan dampak dari transisi musim dingin ke musim semi yang ternyata sama aja dengan pancaroba, yaitu dilanda penyakit yang bikin badan enggak enak. Entah apa namanya ini, flu atau bukan, yang jelas udah dua minggu lebih badan saya terasa ringkih. Hampir setiap hari bangun disertai dengan kepala yang terasa berat dan sekujur badan rasanya pegal hingga ke tulang gitu. Belum lagi kadang tiba - tiba meler dan batuk berdahak. Dampaknya jadi ke pikiran yang enggak jernih dan mood yang senggol bacok. Biasanya kalau lagi enggak merasa enak, salah satu solusi paling ampuh bagi saya adalah olahraga. Tapi berhubung kali ini badan juga enggak enak, jadinya dibawa olahraga dikit aja langsung makin sakit malamnya. Bahkan untuk sekedar sepedaan ke kampus juga enggak bisa. Akhirnya terpaksalah udah dua minggu ini saya skip olahraga. Kerja pun lebih banyak di flat ketimbang ke kampus. Belum lagi PMS dan tamu bulanan yang membuat segalanya semakin menjadi - jadi. Sampai puncaknya sih di hari Jumat dan Sabtu lalu, ketika segala cara udah dicoba, tapi kepala rasanya butek banget dan bawaannya pengen menghela napas mulu. Dan ternyata hanya ada satu cara paling efektif yang berhasil bikin saya tenang dan senang, yaitu b-e-l-a-n-j-a! Pada dasarnya saya memang suka belanja sih anaknya, cuma baru kali ini merasa sepuas itu abis belanja. Salah satu kegiatan yang bikin sehat karena bukan cuma pikiran saya yang terdistraksi, tapi juga banyak gerak dan jalan. Selain itu berhubung sebagian besar waktu dihabiskan di dalam ruangan, 'olahraga' yang satu ini enggak bikin kedinginan dan masuk angin. On top of it all, momennya juga lagi pas karena ada beberapa barang yang udah lama pengen dibeli ;)


Summer Outfits

Berhubung musim dingin kemarin berkepanjangan, bahkan hingga bulan Maret aja masih sempat minus dong temperaturnya (!!!), saya sekarang udah mencapai titik di mana bawaannya pengen kabur aja ke tempat yang hangat dan berlimpahkan sinar matahari. Namun apa daya, hingga sekarang saya masih belum bisa kemana - mana. Jadi cara lainnya adalah lagi - lagi mimpi di siang bolong dulu dengan membeli 'perlengkapan' musim panas. Begitu window shopping ke beberapa toko favorit saya, akhirnya menemukan barang - barang yang saya inginkan, yaitu sunglasses ala - ala (karena sebenarnya enggak bisa saya pakai selain hanya untuk foto doang, hahhaha!), dress, dan flip - flops. Meskipun ada juga sih yang agar impulsif karena di luar daftar belanja saya, seperti anting, backpack, dan kuteks. Cuma berhubung ketiga barang tersebut dari Primark, yang menjadi tempat favorit saya untuk belanja impulsif karena murah meriah, jadi saya enggak menyesal deh. Hahah!









Houseplants 

Dampak lain dari musim dingin yang enggak ada ujungnya ini adalah tanaman saya pada berguguran satu persatu! Jika dijumlahkan secara keseluruhan, ada tujuh tanaman yang udah enggak bisa diselamatkan. Hampir seluruhnya sih gugur karena overwatered akibat udara yang terlalu dingin dan jarang terkena paparan matahari. Sekalipun ada sinar matahari, begitu ditaruh di beranda, malah gugur juga karena kedinginan. Memang aneh sih disini matahari justru terik begitu temperaturnya sedang turun. Jadi serba salah gitu merawatnya. Dan saya enggak menyangka ternyata rasanya sesedih itu ketika melihat ketujuh tanaman tersebut langsung berubah drastis dalam waktu yang berdekatan. Alasan utamanya sih karena empat dari tujuh tanaman tersebut udah saya beli dan rawat semenjak awal pindah ke Belanda, yaitu dua tahun yang lalu. Jadi saya udah melihat juga perubahan mereka, seperti Jade dan Ebony yang tadinya masih pendek bisa tumbuh tinggi, serta Pilea yang awalnya hanya beberapa daun jadi tumbuh lebat hingga ada yang mesti saya pindahkan ke pot lain. Lalu saya coba nunggu sebulan gitu dengan harapan mereka bisa membaik tapi akhirnya saya pasrah melihat enggak ada perubahan dan memutuskan buat beli tanaman baru. Berbeda dari sebelumnya yang kebanyakan adalah succulent, kali ini saya mau ganti suasana baru dengan membeli  jenis houseplants yang lain. Dan akhirnya pilihan saya jatuh ke Ctenanthe dan Peperomia, yang dari pertama kali melihatnya langsung bikin saya berbinar - binar dengan corak daunnya yang unik! 





Basic 

Dulu sih, saya sempat terjebak masa - masa di mana saya cukup memaksakan diri untuk membeli barang branded yang ada di luar budget saya supaya keliatan hits gitu. Hee! Tapi begitu kuliah, saya jadi sadar bahwa brand itu enggak segalanya. Malahan saya jadi lebih menyukai barang - barang tanpa brand selama nyaman, bagus, dan yang paling penting, original! Soalnya saya suka sedih gitu setiap mendengar cerita orang - orang yang segitunya memaksakan diri mereka hanya karena ingin mendapatkan pengakuan dari orang lain. Seperti membeli versi imitasinya Louis Vuitton yang dijual di ITC, yang dijual lengkap dengan berbagai level KW-nya. Kasian aja karena mereka bela - belain beli barang palsu hanya untuk bisa terlihat bagus. Menurut saya sih enggak ada yang salah dengan membeli dan menggunakan barang branded selama masih dalam budget dan sesuai kebutuhan juga. Sampai sekarang pun saya masih beli beberapa barang branded dengan harga yang menurut saya mahal karena udah lama jadi incaran saya dan merasa kalau dari brand tersebut akan lebih long-last ketimbang brand lainnya; bukan karena saya ingin mengikuti trend dan supaya hits gitu. Salah satu barang yang udah lama di dalam wish list saya adalah Adidas Superstar. Berhubung saya bukan penggemar sneakers jadi sebelumnya saya selalu mikir beberapa kali buat beli sepatu ini. Apalagi sebenernya kan banyak brand lain seperti Stradivarius, Bershka, Pull & Bear yang juga mengeluarkan model yang hampir mirip dengan harga setengahnya dari Adidas. Cuma ternyata harga memang enggak bohong ya! Sepatu saya sebelumnya yang dibeli dari Bershka akhirnya cuma bertahan dua tahun. Yaa semoga aja kali ini dengan harga lebih tinggi juga bisa bikin barangnya bertahan lebih lama yaa :))





Hal lain yang bikin saya bahagia banget dari belanja adalah begitu mendapatkan barang bagus dari brand favorit saya dengan harga miring! Salah satunya adalah headphone Nixon ini yang enggak sengaja saya temukan saat lagi mengunjungi America Today. Bayangin aja dong, dari yang tadinya 25 Euro, jadi hanya 7 Euro! Saya sampai nanya lagi ke pegawai di sana buat memastikan kalau saya enggak salah lihat. Haha! Selain saya memang lagi nyari headphone, saya juga suka dengan Nixon sejak punya jam tangan dari brand tersebut. Selain itu, saya juga beli tas dari brand favorit saya lainnya, yaitu Mango. Berbeda dari di Indonesia, kalau di sini tuh pas lagi diskon harga barang - barang mereka jadi jauh lebih murah gitu. Kalau di Indonesia kan mau diskon mau enggak, harganya tetap mahal kan tuh :p Terlepas dari itu, saya suka dengan desain mereka yang simpel tapi klasik. Hal lain yang saya juga suka adalah mereka jarang menunjukkan label mereka. Berhubung saya memang kurang suka dengan barang, terutama tas, yang didesain supaya nama brand-nya terpampang jelas di depan mata gitu :)) 

April 03, 2018

Stockholm: Living in A Fairy Tale World

Enggak terasa udah sembilan hari saya di Skandinavia dan akhirnya sampai juga di pemberhentian terakhir sebelum kembali ke Rotterdam! Antara sedih dan senang sih... karena sejujurnya perjalanan ini udah mulai terasa semakin melelahkan. Faktor U memang enggak bisa bohong yaa, baru sembilan hari aja rasanya udah jompo badan ini :)) Tapi dari pengalaman saya traveling sebelumnya pun, begitu udah melewati seminggu pasti udah mulai berkurang bahagianya. Makanya bagi saya waktu paling lama di jalan adalah sepuluh hari. Yaaa, mentok - mentok bisa dua minggu lah. Kalau udah lebih dari itu, pasti udah enggak terasa menyenangkan lagi. Sekalipun menetap di satu kota yang sama dalam beberapa hari dan stay di hotel atau Airbnb yang nyaman, bagi saya enggak ada yang mengalahkan rasa nyaman berada di rumah sendiri.


Alasan itu juga yang membuat akhirnya hanya beberapa yang saya masukkan ke dalam daftar must-visit (dan ujungnya semakin sedikit pula jumlah tempat yang berhasil dikunjungi), terlepas dari banyak banget sebenarnya tempat yang terlihat menarik di Stockholm yang ingin saya kunjungi. Selain udah capek, beberapa hari kemarin juga bawaannya tergesa - gesa dan mobilitas yang tinggi dari satu kota ke kota lain. Jadi sekarang bawaannya pengen santai aja dan saya juga enggak ambisius buat memasukkan banyak destinasi selama tiga setengah hari di sini. Bahkan totalnya hanya ada lima tempat yang berhasil saya kunjungi, yaitu keliling beberapa metro 'art' station (T-Centralen, Stadion, Kungstradgarden, Tenstra, Solna Strand), Gamla Stan, Nobel Museum, (the world's largest) IKEA, Museum of Modern Art, dan Stockholm Public Library. Bagi saya semua tempat tersebut recommended banget buat dikunjungi. Cuma kali ini saya hanya akan membahas satu tempat favorit saya di Stockholm, yaitu Gamla Stan. It's the only place in Stockholm - even Sweden - that every time I think about it I get butterflies in my stomach.









Stockholm, 29 Desember 2017. Destinasi pertama yang ingin saya datangi hari ini adalah SoFo, sebuah district yang terkenal sebagai home for many Swedish creative industries. Tapi begitu turun dari bus dan mengikuti papan petunjuk arah yang tertera di jalan akibat sedang ada perbaikan, ujung - ujungnya bukan diarahkan ke Sofo namun malah arah sebaliknya. Dan justru membawa saya ke destinasi kedua di daftar yang akan saya kunjungi hari ini, yaitu Gamla Stan atau Old Town. Berhubung udah terlanjur, saya memutuskan untuk mengeksplore bagian kota tua Stockholm yang memang terkenal cantik. Awalnya saya enggak berekspektasi apapun karena merasa yaa paling kota tua isinya enggak akan jauh beda dari kebanyakan kota tua di Eropa lainnya. Tapi nyatanya Gamla Stan berhasil menyihir saya sampai rela menghabiskan sebagian besar waktu saya hari ini hanya untuk berjalan kaki mengelilingi tempat ini. Enggak berlebihan ternyata kalau sisi kota tua Stockholm ini hampir selalu menjadi hal pertama yang direkomendasikan oleh orang - orang, baik dari teman - teman saya yang udh pernah ke sini maupun dari blog.

Sambil terus berjalan dan sesekali memandangi instalasi toko yang sebagian besarnya juga dihiasi oleh dekorasi Natal, sampailah saya di persimpangan yang salah satunya mengarahkan saya ke Stortorget, sebuah square yang dikelilingi oleh gedung warna - warni dengan bentuk yang super menggemaskan. Tapi sebelum itu, tiba - tiba ada yang memanggil nama saya. Dan benar aja dugaan saya, mereka adalah beberapa teman satu jurusan saya yang juga sedang liburan ke sini. Sebenernya saya pun udah sempat kepikiran apakah akan ada satu waktu yang mana saya akan bertemu dengan mereka, tapi enggak nyangka aja beneran bertemu tanpa janjian dulu sebelumnya. Ternyata Stockholm sempit juga ya. Di antara berbagai tempat dan kerumunan orang - orang, masih aja bisa ketemu! :3









Setelah berjalan mengelilingi Gamla Stan cukup lama, dan tampaknya temperatur mulai turun lagi ketika hari semakin sore, saya mulai merasa terlalu kedinginan. Buru - buru saya mencari tempat untuk menghangatkan diri sekaligus buat Fika, sebuah tradisi Swedish yang berarti "taking time to slow down". Sebenarnya sih tanpa sadar selama perjalanan ini hampir tiap hari saya udah melakukan Fika, yang cenderung dilakukan dengan minum kopi (atau minuman manis lainnya) sambil ditemani makanan manis seperti Kanelbullar (cinnamon rolls). Langsung aja saya teringat satu rekomendasi tempat oleh mas Marlo, yaitu Chokladkoppen, yang letaknya di bawah salah satu gedung kuning di Stortorget. Dari luar memang udah terlihat cantik banget dan ternyata begitu masuk ke dalam pun tempatnya terasa cozy banget; meski sayangnya kecil dan sangat terbatas jumlah meja dan tempat duduknya. Sekilas rasanya hanya mampu menampung enggak lebih dari 20 orang. Tapi mungkin itu yang membuat tempat ini jadi spesial. Dengan lampu remang - remang, kursi kecil, serta dekorasi tua dengan jarak antar meja yang berdekatan satu sama lain, langsung mengingatkan saya juga dengan konsep Hygge. Memang sih seringkali Hygge juga dikaitkan dengan kenyamanan yang muncul bersama orang - orang terdekat. Namun entah saat itu walaupun sendirian, mungkin karena tempatnya yang kecil dan nyaman, saya enggak merasa kesepian atau kikuk gitu. Oh iya, di saat itu juga saya baru menyadari kalau Swedish menyajikan kopi dalam gelas yang kecil banget. Dan lucunya, Kanelbullar yang disediakan justru besar banget sampai saya hanya mampu makan setengah-nya! Agak kurang paham juga kenapa ukurannya enggak medium aja untuk keduanya ya :))















Satu hal paling mengesankan dari Gamla Stan adalah setiap jalannya yang memiliki karakter yang berbeda. Ketika memasuki jalanan utama, terlihat lebih banyak toko souvenir dan pernak pernik lucu khas Sweden yang jelas sekali ditujukan untuk para turis. Namun begitu mulai memasuki salah satu jalanan kecilnya, perlahan mulai terasa sunyi. Begitu juga dengan pemandangan di sekeliling saya, yang awalnya diisi oleh pertokoan modern, mulai tergantikan dengan secondhand shops dan toko antik. Dan taulah ya, bagi saya yang penyuka barang vintage dan secondhand, pastilah semakin bahagia begitu menemukan beberapa jalan ini. Salah satunya bernama K√∂pmantorget atau "Merchant's Square". Begitu sampai di tempat ini, saya langsung teringat dengan Budapest, Praha, Salzburg, dan Colmar. Entah gaya arsitektur dan warna setiap bangunannya, entah dekorasi Natal yang terpampang di hampir setiap toko yang saya lalui, entah jalan berbatuannya; yang jelas suasananya langsung terasa lebih magis. Lagi - lagi, saya jadi merasa sedang berada di sebuah film. Kali ini yang terlintas di pikiran saya adalah Mickey's Christmas Carol dan Anastasia, dua film favorit saya ketika masih kecil. Padahal saya enggak bisa ingat bagian mananya yang mirip dengan kedua film tersebut :)) Ah, siapa yang menyangka ternyata sore ini menjadi salah satu sore teristimewa di bulan Desember ini. Terima kasih sudah menjadi kota penutup paling manis di perjalanan kali ini, Stockholm.