October 30, 2016

Alsace, 5 - 6 Mei 2016.

Akhirnya setelah dua belas hari melakukan roadtrip, tiba waktunya kamu mencapai destinasi terakhir, yaitu Colmar dan Riquewihr, dua desa di Alsace, Perancis bagian utara. Bicara soal kedua destinasi ini, saya masih ingat sekitar lima tahun yang lalu ketika saya lagi suka banget main Tumblr, tiba - tiba melihat salah satu postingan tentang Colmar. Saat itu saya langsung iseng - iseng mencari informasi tentang desa yang ternyata merupakan salah satu desa yang paling dipercaya menjadi inspirasi untuk membuat desa-nya Belle dalam film Beauty and The Beast. Langsung deh saya reblog sebagai preferensi jika suatu hari nanti ada kesempatan untuk traveling ke Eropa. Walaupun sebenarnya dalam hati yang terdalam, saya meragukan semesta akan memberikan kesempatan dalam waktu dekat kepada saya untuk bisa melihatnya langsung dengan kedua mata saya sendiri. Namun yang namanya hidup selalu penuh dengan hal - hal tak terduga. Siapa yang menyangka lima tahun kemudian saya bertemu dengan mba Vicky yang ternyata juga memiliki ketertarikan yang sama untuk mengunjungi Colmar. 











Kami juga sempat mengunjungi Riquewihr, sebuah desa yang enggak kalah lucu dan cantik dibanding Colmar. Meskipun Colmar lebih terlihat sebagai 'kota kecil' sementara Riquewihr terlihat sangat desa, keduanya memang memiliki banyak kemiripan, terutama half-timbered houses yang dilapisi cat warna - warni pastel, pot penuh dengan aneka ragam bunga yang ditaruh di depan jendela rumah, serta berbagai papan dengan bentuknya yang unik. Bahkan jika diperhatikan, beberapa dari mereka juga memiliki tanda hati yang menghiasi jendela dan pintu. Melihat semua itu cukup membuat saya bertanya - tanya tentang Alsatian, sebutan untuk penduduk lokal yang tinggal di Alsace. Pasti mereka adalah orang - orang yang sangat positif dan berbahagia hingga mampu membuat sebuah tempat yang begitu magical hingga saya pun hampir sulit untuk mempercayai bahwa ada desa selucu ini yang dijadikan sebagai tempat orang - orang untuk tinggal dan bekerja sehari - hari. 








October 24, 2016

#ROH 47: Strangers

Belakangan ini saya lagi sering mendapatkan banyak kebahagiaan dari orang - orang yang enggak saya kenal dan enggak mengenal saya sama sekali. Orang - orang yang berbuat kebaikan karena memang mereka pada dasarnya baik hati. Orang - orang yang memberikan bantuan karena kemauan mereka sendiri tanpa ada faktor lain dibaliknya. Orang - orang yang sekalipun hanya dalam hitungan jam - bahkan menit - bertemu dan berkomunikasi dengan saya, namun kehadiran mereka telah memberikan dampak yang signifikan bagi hari saya. Orang - orang yang menyadarkan saya untuk kembali optimis dengan hidup saya dan juga dunia ini. Orang - orang yang mungkin sengaja dikirimkan oleh Tuhan sebagai bentuk pertolongan-Nya untuk menopang di saat saya hampir terjatuh lagi. Terima kasih untuk mereka yang telah menerima saya untuk menjadi bagian dari 'keluarga' mereka dan membuat saya seperti bukan orang asing bagi mereka. Terima kasih untuk mereka yang mau berbagi cerita baru. Terima kasih untuk mereka yang melihat saya dan menyadari keberadaan saya diantara manusia - manusia lainnya disekeliling saya yang terlihat jauh lebih menarik. Terima kasih untuk mereka yang membantu saya tanpa pamrih. Terima kasih untuk mereka yang bisa membuat saya merasakan kembali kehangatan ditengah hari - hari yang sangat dingin ini.

October 19, 2016

#ROH 46: Autumn

Satu hal yang selalu paling saya nantikan sejak saya pindah kesini adalah melihat kembali keindahan musim gugur. Maklum, terakhir kali saya melihat musim gugur adalah dua tahun yang lalu ketika saya ke USA untuk mengunjungi kakak perempuan saya, Uni Chica. Terlepas dari itu, saya juga sempat membahas di postingan ini tentang kekaguman saya ketika melihat daun - daun berguguran. Tentang bagaimana sejak kecil saya selalu berharap bahwa akan ada keajaiban di Indonesia untuk memiliki satu musim lagi, yaitu musim gugur. Entahlah, bagi saya selalu ada perasaan familiar setiap kali menonton film, melihat foto - foto di Tumblr atau Instagram, serta membaca buku yang memperlihatkan kecantikan musim gugur. Daun - daun yang berganti warna menjadi kuning, cokelat, merah maroon. Angin sejuk dengan aroma khas musim gugur. Hiasan dan pernak - pernik Halloween yang terpampang di toko. Para pejalan kaki yang tampak lebih rapih dan elegan dengan mantel, syal, dan boots mereka. Segelas cokelat hangat dengan cinnamon rolls. Oh yes, I'm an avid autumnal enthusiast! 






Sejujurnya saya sempat khawatir tahun ini enggak akan bisa melihat keindahan musim gugur seperti ketika di UK dan USA. Hal ini dikarenakan salah seorang teman saya yang udah tinggal selama satu tahun lebih disini mengatakan bahwa musim gugur disini kurang terlihat menarik karena jenis pepohonan yang ada enggak berguguran secara serentak. Saya pun mulai pesimis ketika memasuki minggu pertama bulan Oktober, khususnya saat melihat bahwa sebagian besar pepohonan masih terlihat hijau, sementara beberapa pohon lainnya hanya tinggal ranting dan beberapa helai daun saja. Sampai akhirnya seminggu yang lalu ketika sedang berjalan - jalan di sekitar apartemen baru saya, saya baru menyadari bahwa ada beberapa tempat yang terlihat begitu indah dengan pepohonan yang terlihat sudah berwarna kuning kecokelatan. Apalagi Schiedam, sebuah kota kecil di pinggir Rotterdam yang baru saya tempati sejak sebulan yang lalu, memang pada dasarnya sudah terlihat indah dengan kanal dan bangunan - bangunan tua yang dibangun dengan desain khas Belanda. Sangat berbeda dengan suasana modern dan kota besar yang dimiliki Rotterdam. Saya pun sampai bela - belain membawa kamera saya di hari lain untuk memfoto beberapa sudut tempat ini karena khawatir kalau tiba - tiba keesokkan harinya yang tersisa dari pepohonan tersebut hanya tinggal rantingnya aja. Haha!







Satu hal yang biasa saya lakukan juga saat pergantian musim adalah membuat playlist tertentu yang lagi sering saya dengar dan putar berulang kali. Untuk kali ini pun saya kembali meng-upload lagu - lagu di akun 8tracks saya. Saya enggak tau sih ini hanya coincidence aja, tapi sekitar di waktu yang sama tahun lalu pun saya juga membuat playlist dengan mood yang hampir sama dengan yang saya rasakan saat ini. Mungkin memang benar kata Ernest Hemingway, "you expected to be sad in the fall. Part of you died each year when the leaves fell from the trees and their branches were bare against the wind and the cold, wintery light".

Dan ini adalah daftar lagu yang saya buat untuk playlist di musim gugur kali ini. Kali aja bisa jadi referensi buat kalian yang sedang jenuh mendengar lagu yang itu - itu aja dan pengen mendengar lagu yang berbeda dari yang biasa didengar :3

World Spins Madly On - The Weepies
Her Morning Elegance - Oren Lavie
Spirits - The Strumbellas
Blue - Will and The People
Woodland - The Paper Kites
A Lack of Color - Death Cab for Cuties
Blackbird - The Beatles
Unsteady - X Ambassadors
Autumn Leaves - Ed Sheeran







October 18, 2016

Pelajaran Seperempat Abad #4

Dari kecil sampai saat ini saya udah sering banget mendengar komentar dari orang - orang yang saya temui tentang usia saya. Banyak yang beranggapan bahwa saya memiliki pembawaan dan pemikiran yang jauh lebih dewasa dibandingkan orang - orang seusia saya. Enggak sedikit juga sih yang komentar kalau wajah saya pun terlihat lebih tua, hahaha! Dulu sih saya sempat agak tersinggung ketika ada yang bercanda atau malah beneran menebak saya dengan usia yang lebih tua dari usia saya sebenarnya. Cuma semakin kesini saya merasa semua itu memang benar. Saya pun terkadang berpikir bahwa mungkin di kehidupan lain, saya adalah seorang wanita yang berusia seenggaknya tiga puluh tahun. Bukan hanya karena pengalaman hidup yang saya hadapi sejauh ini pada umumnya baru dialami oleh orang - orang yang lebih tua daripada saya; tetapi juga selama ini saya memang lebih mudah memiliki koneksi dengan mereka yang terpaut beberapa tahun di atas saya. Dan satu hal yang akhir - akhir ini saya sadari adalah bahwa di usia ini saya mencapai titik dimana saya merasa seperti udah mendapatkan semua yang saya inginkan dan enggak ada lagi yang saya cari dalam hidup.


Saya enggak tau apakah ini memang hanya kebetulan, atau memang Tuhan terlalu mudah mendengar apa yang saya pertanyakan; sekalipun yang hanya tersimpan dalam hati dan pikiran saya. Tanpa seorang pun tau. Tanpa saya ucapkan dari mulut saya. Iya, hal - hal yang hanya terbersit dalam pikiran atau terucap di dalam batin saya. Tapi yang jelas, justru berbagai hal yang tidak terucap tersebut yang seringkali dikabulkan oleh Tuhan. Justru berbagai pertanyaan yang hanya saya simpan untuk diri saya sendiri, yang akhirnya terjawab secara langsung melalui berbagai pengalaman dalam hidup saya. Awalnya saya pun enggak terlalu percaya dan menganggap bahwa semua ini mungkin hanya sebuah kebetulan. Namun setelah bertahun - tahun hingga saat ini saya terus mengalaminya, akhirnya saya percaya bahwa apa yang terucap dalam batin dan terbersit dalam pikiran pun bisa menjadi doa. Sehingga sebenarnya kita bukan hanya perlu berhati - hati dengan harapan dan perkataan yang terucap dari mulut, tetapi juga dengan pertanyaan - pertanyaan yang terbersit dalam pikiran dan hati. Karena kita enggak akan pernah tau pertanyaan yang mana yang akan dijawab oleh Tuhan. Karena kita enggak akan pernah tau rencana apa yang dimiliki oleh-Nya. Karena kita enggak akan pernah tau dengan cara apa Tuhan akan menjawab pertanyaan - pertanyaan kita. 


Iya, setiap pertanyaan yang dulu saya pertanyakan udah hampir semuanya terjawab. Mungkin pertanyaan yang masih cukup membuat saya penasaran adalah menjadi seorang ibu. Tapi toh sebenarnya saya udah kurang-lebih sempat merasakannya melalui peran saya sebagai kakak dari dua orang adik dan tante dari lima keponakan saya. Di posisi saya tersebut rasanya udah membuat saya ingin memberikan apa yang mereka inginkan; membuat saya segitu sayangnya sehingga saya harus menjaga jarak supaya rasa sayang saya ke mereka enggak melampaui batas. Jadi saya bisa sedikit memahami bagaimana rasanya menjadi seorang ibu. Di usia ini juga saya udah mencapai titik tertinggi dan juga terendah dalam hidup saya. Masa - masa dimana begitu banyak orang yang memberikan perhatian dan pujian. Sebaliknya, di usia ini juga saya merasakan dimana enggak ada satu orang pun yang bisa membuat saya berarti. Saya juga telah mendapatkan berbagai hal dan pengalaman yang dari dulu saya inginkan. Mendapatkan keluarga terbaik, memiliki sahabat yang selalu ada buat saya, serta mengetahui dan melakukan apa yang menjadi passion saya, serta menjalani kehidupan di luar negeri seperti yang sebelumnya selalu saya imajinasikan dan hanya bisa saya dapatkan ketika membaca novel atau menonton film.


Di usia ini juga saya merasa udah mendapatkan semua yang saya inginkan. Ketika orang - orang masih semangat untuk keliling dan menjelajah dunia, saya udah merasa cukup untuk melihatnya. Ketika orang - orang masih mengejar uang dan karir, saya merasa udah cukup dengan apa yang saya dapatkan sejauh ini. Ketika orang - orang masih mencari seseorang untuk ditunggu, saya merasa udah enggak ada lagi yang perlu ditunggu. Ketika orang - orang masih memiliki keinginan menggebu - gebu untuk mencapai berbagai mimpi mereka, saya merasa udah mencapai semua yang saya cita - citakan. Ketika orang - orang masih penasaran dengan berbagai pertanyaan akan hidup, saya merasa bahwa semua yang mengganjal di pikiran saya sudah terjawab sepenuhnya. Kepingan - kepingan puzzle yang selama ini tersebar akhirnya berhasil saya bentuk menjadi satu kepingan yang utuh. Saya enggak tau apakah ini merupakan suatu hal yang perlu disyukuri atau justru hal yang perlu disesalkan; karena telah mendapatkan semua jawaban yang pernah saya pertanyakan dan mencapai apa yang saya inginkan dalam waktu secepat ini.  


Di usia ini saya menyadari bahwa ada beberapa hal yang enggak perlu dipertanyakan dan enggak perlu saya ketahui jawabannya. Karena dengan begitu hidup akan terasa lebih mudah ketimbang saat saat saya menemukan jawaban - jawaban tersebut. Karena sebenarnya kita enggak perlu mengalami apa yang dialami setiap orang untuk mengerti apa yang ada di pikiran dan hati mereka. Karena sebenarnya kita enggak perlu benar - benar mengerti diri kita sendiri. Karena sebenarnya kita enggak perlu sepenuhnya memahami hidup dan apa yang berlaku di dunia ini. Karena hanya ketika kita menemukan jawaban - jawaban tersebut justru memberikan beban yang jauh lebih berat untuk diri kita sendiri.

October 17, 2016

#ROH 45 : (Little) Siblings

Saya sadar bahwa selama ini saya belum pernah memasukkan tentang keluarga saya sekalipun di dalam #ROH. Bukan, bukan karena mereka kurang penting dibandingkan hal - hal lain atau beberapa orang yang udah pernah saya masukkan sebelumnya. Justru karena peranan keluarga saya yang sangat besar dan paling mempengaruhi pribadi dan kehidupan yang saya jalani saat ini, yang membuat sangat sulit bagi saya untuk menuangkannya ke dalam sebuah tulisan. Karena saya semakin menyadari bahwa the hardest tasks are the ones that matter the most. Butuh waktu yang lebih lama dari biasanya dan tentunya butuh ruang yang lebih banyak untuk menulis tentang hal - hal tersebut. Namun yang paling mempengaruhi saya untuk menulis adalah bagaimana mereka bisa mendominasi pikiran saya dan menyentuh hati saya hingga membuat saya ingin menulisnya. Seperti beberapa bulan belakangan ini, saya lagi sering kepikiran untuk menuliskan sebuah pikiran yang udah lama ingin saya tulis. Sebuah pikiran tentang dua orang yang memegang peranan sangat penting dalam menentukan kebahagiaan saya, yaitu kedua adik saya, Ali dan Gladyz.

Walaupun dari sejak kecil hubungan saya dan kedua adik saya berjalan baik, tapi saya enggak segitunya dekat dengan mereka. Mungkin karena jarak kami yang cukup jauh, serta dari kecil Ali dan Gladyz udah selalu bareng kaya anak kembar, membuat rasanya enggak ada satu saudara yang bisa mengalahkan keakraban mereka, termasuk saya. Ditambah dengan kondisi saya dari 9 tahun lalu udah jarang tinggal di rumah karena merantau, membuat saya semakin merasa enggak ada saudara yang segitunya dekat dengan saya. Saya malah merasa hubungan persaudaraan saya lebih dekat dengan kakak perempuan saya. Tapi semuanya mulai berubah ketika saya lulus kuliah dan kembali ke Jakarta, kemudian menetap disana selama satu tahun sebelum akhirnya melanjutkan kuliah di Inggris. Sejak saat itu hubungan saya dan kedua adik saya semakin dekat. Bahkan saat ini hubungan saya dengan Ali dan Gladyz jauh lebih kuat dibandingkan sebelumnya. Keberadaan mereka juga begitu penting karena mereka adalah segelintir orang yang menemani saya di saat upside down, tanpa dihalangi oleh jarak yang memisahkan kami bertiga.


Kayanya anak yang paling dewasa dan sabar diantara saya dan para saudara saya lainnya adalah Ali. Belum lagi sifatnya yang hampir enggak pernah menolak untuk menolong orang lain, bahkan di saat dia lagi sibuk sekalipun, membuat seluruh anggota keluarga saya rasanya seperti enggak rela kalau Ali sampai "kenapa - kenapa". Dan karena itu juga Ali adalah saudara kesayangan bagi kakak-beradik di keluarga saya. Selain itu saya pun sangat salut akan keberaniannya dalam memutuskan hal - hal besar dalam hidupnya yang dilakukan berdasarkan keinginan dirinya sendiri. Mulai dari melanjutkan kuliah di Jogja, mengambil daerah terpencil di Kalimantan Barat sebagai lokasi KKN-nya selama tiga bulan, serta mendapatkan beasiswa untuk pertukaran pelajar dari UGM untuk kuliah di Jepang selama enam bulan. Berbagai keputusan yang dibuatnya sendiri itu membuat satu keluarga kaget karena enggak ada yang menyangka sosok kalem seperti Ali malah jadi anak laki - laki paling berani untuk tinggal jauh dari Ayah dan Bunda. Tapi bagi saya sendiri sebagai seorang kakak, hal yang membuat saya paling tersentuh dengan Ali adalah kehadirannya yang hampir selalu membuat beban saya terasa lebih ringan karena saya tau bahwa banyak hal yang bisa saya percayakan ke adik saya ini. Mulai dari urusan fisik hingga urusan batin; mulai dari masalah kecil hingga masalah yang sulit saya hadapi seorang diri. Terutama empat bulan ini ketika saya sedang mengalami masa - masa terberat dalam hidup saya, Ali adalah orang yang paling banyak saya ceritakan tentang kondisi saya saat ini. Dan kehadirannya hampir selalu berhasil membuat saya merasa jauh lebih lega setelah bercerita dan mendengar berbagai masukkannya.


Beda lagi ceritanya dengan Gladyz.  Kalau ditanya satu orang yang paling mengerti saya dan berhasil membuat saya nyaman, tanpa ragu saya akan bilang adik perempuan saya ini-lah orangnya. Beberapa hal yang sangat saya saluti dari Gladyz adalah keaktifannya dalam berorganisasi yang enggak pernah berhenti dilakukannya mulai dari sejak SMP; entah itu OSIS, ekskul, kepanitiaan, hingga saat ini lagi sibuk di BEM dan beberapa kepanitiaan di kampusnya. Hal lainnya yang juga saya kagumi adalah kesadarannya terhadap hal yang ia sukai dan menjadi passion-nya, serta kerja kerasnya dalam mencapai apa yang diinginkannya. Sejak kelas 3 SMA, Gladyz udah yakin banget mau ambil jurusan DKV. Tentu aja berkat kerja kerasnya, dia berhasil masuk jurusan yang diinginkan di universitas tujuannya. Bukan hanya itu, walaupun terlihat selalu sibuk dengan berbagau kegiatan kampusnya, Gladyz juga berhasil melewati tahun pertama kuliahnya dengan nilai akademik yang membuat saya sangat bangga dengannya.

Selama tinggal bareng Gladyz kurang lebih dua tahun, menyadarkan saya bahwa terlepas dari beberapa perbedaan kami, sebenarnya banyak kesamaan diantara saya dan Gladyz yang akhirnya membuat saya semakin dekat dengannya. Mulai dari selera musik-film-buku, hobi makan, hingga sifat kami pun banyak kesamaannya. Makanya enggak heran deh setelah tiga bulan dia nemenin saya disini, saya merasa cukup kehilangan. Karena bareng Gladyz saya bisa melakukan banyak hal yang enggak bisa saya lakukan ke orang lain termasuk orang - orang terdekat saya. Kehadiran adik saya ini juga menyadarkan betapa menyenangkannya bisa bersama seseorang yang udah mengerti saya dari A-Z dan menerima baik-buruknya saya. So yeah, I guess it's safe to say that she is the yin yo my yang, the yoghurt to my granola, the lense to my camera.


Salah satu hal yang saya sadari beberapa tahun belakangan ini adalah bahwa saudara kandung bisa menjadi lebih dari sekedar orang yang dilahirkan dalam satu keluarga dan memiliki hubungan darah. Bagi saya, Ali dan Gladyz ini memiliki peran yang sangat banyak. Mulai dari sahabat, travel partners, housemate (terutama dengan Gladyz), hingga... anak. Aneh sih rasanya bilang kaya anak secara saya pun belum pernah punya anak. Haha. Tapi perasaan sayang saya ke mereka cukup berbeda dari rasa sayang saya ke orangtua, kakak, keponakan, sahabat, teman maupun rasa sayang yang pernah saya rasakan sebelumnya ke pasangan. Mungkin karena disini posisi saya sebagai seseorang yang lebih 'tua', sehingga saya selalu merasa bahwa saya memiliki tanggung jawab lebih terhadap kedua adik saya ini. Saya selalu berharap agar saya bisa membuat Ali dan Gladyz menjadi orang - orang yang lebih baik dan lebih berhasil dibanding saya, serta tentunya menjalani hidup yang lebih bahagia dari yang saya jalankan. Walaupun sejauh ini saya belum bisa melakukan banyak hal untuk mereka dan menjadi sosok kakak yang ideal, tapi hingga detik ini saya tau bahwa mereka adalah salah satu alasan utama untuk terus memperjuangkan hidup saya. 

October 14, 2016

Cinque Terre, 4 Mei 2016.

Finally, Cinque Terre! Salah satu tempat yang paling saya nantikan sejak lama bahkan sebelum roadtrip dimulai. Iya, perjuangan untuk mencapai tempat ini cukup panjang bagi saya. Perlu tiga tahun menunggu hingga akhirnya mimpi saya untuk melihat rumah warna - warni diantara bukit hijau berbatuan yang dikelilingi lautan biru. Cinque Terre adalah salah satu tempat yang saya masukkan ke dalam rencana perjalanan saya untuk Europe trip tiga tahun yang lalu. Tapi dikarenakan Schengen visa saya ditolak, alhasil saya pun harus merelakan untuk menunda mimpi saya melihat kelima desa cantik ini. Makanya saya senang banget akhirnya bisa kesampaian juga mengunjungi Cinque Terre. Bahkan saking excited-nya mengunjungi tempat ini, saya sampai tampil 'spesial' dari hari lainnya selama roadtrip berlangsung. Rasanya saat itu saya juga ikutan ingin terlihat cerah dan colourful seperti aura yang dimiliki oleh tempat ini. 






Sebelum mengunjungi Cinque Terre, saya sempat ke La Spezia, sebuah kota besar yang letaknya enggak jauh dari kelima desa. Kalau bukan karena ingin bertemu Martina, seorang teman saya yang kebetulan juga di hari itu sedang ada kuliah disana, mungkin saya enggak akan berkunjung ke kota ini. Karena sejujurnya memang terlihat biasa aja dibandingkan keempat desa yang saya kunjungi. Ngomong - ngomong soal pertemanan saya dengan Martina, bisa dibilang pertemuan kami cukup unik. Pertama kali kami bertemu sekitar tiga tahun yang lalu. Saat itu saya berencana menginap di rumah keluarga-nya Jacob, salah satu host yang saya temui di Couch Surfing, yang enggak lain adalah pacarnya Martina. Dan ternyata saat itu kebetulan banget mereka juga berencana berkunjung ke Bournemouth. Jadi meskipun saya enggak jadi ke Cinque Terre, kami akhirnya tetap bertemu di Bournemouth. Ha! Semenjak itu saya justru lebih banyak berkomunikasi dengan Martina dibandingkan dengan Jacob. Sampai akhirnya dari awal saya berencana ke Italy pun orang pertama yang saya hubungi adalah Martina. Setelah mencoba mencocokkan jadwal satu sama lain, akhirnya kami memutuskan untuk bertemu di La Spezia. 






Sebenarnya dari dulu saya pengen banget bisa menghabiskan beberapa malam di Cinque Terre sambil menjelajah satu desa ke desa lainnya melalui jalur pendakian. Tapi kali ini belum rezeki saya untuk bisa mengeksplore Cinque Terre dengan cara seperti itu. Dikarenakan alokasi waktu yang diberikan hanya satu hari. Yaa, maklum deh tempat ini memang kurang cocok untuk membawa anak - anak kecil, sehingga saya pun enggak bisa menolak ketika kami menyepakati keputusan ini. Dan nyatanya memang cukup sih mengunjungi empat desa dalam satu hari. Kami memang sengaja enggak mengunjungi satu desa paling besar yaitu Montoresso karena dari beberapa artikel yang kami baca, kota ini memang paling touristic dan kurang menarik dibandingkan keempat desa lainnya. Padahal saya sendiri merasa keempat desa lainnya juga udah dipadati turis, terutama Manarola. Mungkin karena kami pun saat itu juga melewati 'jalur' turis dan hanya mengunjungi tempat - tempat yang dipadati turis :)) Walaupun saya bersyukur akhirnya bisa kesampaian ke Cinque Terre, saya merasa kurang puas karena merasa terburu - buru. Semoga aja saya masih diberi kesempatan di lain waktu untuk bisa kembali mengunjungi Cinque Terre.