October 17, 2016

#ROH 45 : (Little) Siblings

Saya sadar bahwa selama ini saya belum pernah memasukkan tentang keluarga saya sekalipun di dalam #ROH. Bukan, bukan karena mereka kurang penting dibandingkan hal - hal lain atau beberapa orang yang udah pernah saya masukkan sebelumnya. Justru karena peranan keluarga saya yang sangat besar dan paling mempengaruhi pribadi dan kehidupan yang saya jalani saat ini, yang membuat sangat sulit bagi saya untuk menuangkannya ke dalam sebuah tulisan. Karena saya semakin menyadari bahwa the hardest tasks are the ones that matter the most. Butuh waktu yang lebih lama dari biasanya dan tentunya butuh ruang yang lebih banyak untuk menulis tentang hal - hal tersebut. Namun yang paling mempengaruhi saya untuk menulis adalah bagaimana mereka bisa mendominasi pikiran saya dan menyentuh hati saya hingga membuat saya ingin menulisnya. Seperti beberapa bulan belakangan ini, saya lagi sering kepikiran untuk menuliskan sebuah pikiran yang udah lama ingin saya tulis. Sebuah pikiran tentang dua orang yang memegang peranan sangat penting dalam menentukan kebahagiaan saya, yaitu kedua adik saya, Ali dan Gladyz.

Walaupun dari sejak kecil hubungan saya dan kedua adik saya berjalan baik, tapi saya enggak segitunya dekat dengan mereka. Mungkin karena jarak kami yang cukup jauh, serta dari kecil Ali dan Gladyz udah selalu bareng kaya anak kembar, membuat rasanya enggak ada satu saudara yang bisa mengalahkan keakraban mereka, termasuk saya. Ditambah dengan kondisi saya dari 9 tahun lalu udah jarang tinggal di rumah karena merantau, membuat saya semakin merasa enggak ada saudara yang segitunya dekat dengan saya. Saya malah merasa hubungan persaudaraan saya lebih dekat dengan kakak perempuan saya. Tapi semuanya mulai berubah ketika saya lulus kuliah dan kembali ke Jakarta, kemudian menetap disana selama satu tahun sebelum akhirnya melanjutkan kuliah di Inggris. Sejak saat itu hubungan saya dan kedua adik saya semakin dekat. Bahkan saat ini hubungan saya dengan Ali dan Gladyz jauh lebih kuat dibandingkan sebelumnya. Keberadaan mereka juga begitu penting karena mereka adalah segelintir orang yang menemani saya di saat upside down, tanpa dihalangi oleh jarak yang memisahkan kami bertiga.


Kayanya anak yang paling dewasa dan sabar diantara saya dan para saudara saya lainnya adalah Ali. Belum lagi sifatnya yang hampir enggak pernah menolak untuk menolong orang lain, bahkan di saat dia lagi sibuk sekalipun, membuat seluruh anggota keluarga saya rasanya seperti enggak rela kalau Ali sampai "kenapa - kenapa". Dan karena itu juga Ali adalah saudara kesayangan bagi kakak-beradik di keluarga saya. Selain itu saya pun sangat salut akan keberaniannya dalam memutuskan hal - hal besar dalam hidupnya yang dilakukan berdasarkan keinginan dirinya sendiri. Mulai dari melanjutkan kuliah di Jogja, mengambil daerah terpencil di Kalimantan Barat sebagai lokasi KKN-nya selama tiga bulan, serta mendapatkan beasiswa untuk pertukaran pelajar dari UGM untuk kuliah di Jepang selama enam bulan. Berbagai keputusan yang dibuatnya sendiri itu membuat satu keluarga kaget karena enggak ada yang menyangka sosok kalem seperti Ali malah jadi anak laki - laki paling berani untuk tinggal jauh dari Ayah dan Bunda. Tapi bagi saya sendiri sebagai seorang kakak, hal yang membuat saya paling tersentuh dengan Ali adalah kehadirannya yang hampir selalu membuat beban saya terasa lebih ringan karena saya tau bahwa banyak hal yang bisa saya percayakan ke adik saya ini. Mulai dari urusan fisik hingga urusan batin; mulai dari masalah kecil hingga masalah yang sulit saya hadapi seorang diri. Terutama empat bulan ini ketika saya sedang mengalami masa - masa terberat dalam hidup saya, Ali adalah orang yang paling banyak saya ceritakan tentang kondisi saya saat ini. Dan kehadirannya hampir selalu berhasil membuat saya merasa jauh lebih lega setelah bercerita dan mendengar berbagai masukkannya.


Beda lagi ceritanya dengan Gladyz.  Kalau ditanya satu orang yang paling mengerti saya dan berhasil membuat saya nyaman, tanpa ragu saya akan bilang adik perempuan saya ini-lah orangnya. Beberapa hal yang sangat saya saluti dari Gladyz adalah keaktifannya dalam berorganisasi yang enggak pernah berhenti dilakukannya mulai dari sejak SMP; entah itu OSIS, ekskul, kepanitiaan, hingga saat ini lagi sibuk di BEM dan beberapa kepanitiaan di kampusnya. Hal lainnya yang juga saya kagumi adalah kesadarannya terhadap hal yang ia sukai dan menjadi passion-nya, serta kerja kerasnya dalam mencapai apa yang diinginkannya. Sejak kelas 3 SMA, Gladyz udah yakin banget mau ambil jurusan DKV. Tentu aja berkat kerja kerasnya, dia berhasil masuk jurusan yang diinginkan di universitas tujuannya. Bukan hanya itu, walaupun terlihat selalu sibuk dengan berbagau kegiatan kampusnya, Gladyz juga berhasil melewati tahun pertama kuliahnya dengan nilai akademik yang membuat saya sangat bangga dengannya.

Selama tinggal bareng Gladyz kurang lebih dua tahun, menyadarkan saya bahwa terlepas dari beberapa perbedaan kami, sebenarnya banyak kesamaan diantara saya dan Gladyz yang akhirnya membuat saya semakin dekat dengannya. Mulai dari selera musik-film-buku, hobi makan, hingga sifat kami pun banyak kesamaannya. Makanya enggak heran deh setelah tiga bulan dia nemenin saya disini, saya merasa cukup kehilangan. Karena bareng Gladyz saya bisa melakukan banyak hal yang enggak bisa saya lakukan ke orang lain termasuk orang - orang terdekat saya. Kehadiran adik saya ini juga menyadarkan betapa menyenangkannya bisa bersama seseorang yang udah mengerti saya dari A-Z dan menerima baik-buruknya saya. So yeah, I guess it's safe to say that she is the yin yo my yang, the yoghurt to my granola, the lense to my camera.


Salah satu hal yang saya sadari beberapa tahun belakangan ini adalah bahwa saudara kandung bisa menjadi lebih dari sekedar orang yang dilahirkan dalam satu keluarga dan memiliki hubungan darah. Bagi saya, Ali dan Gladyz ini memiliki peran yang sangat banyak. Mulai dari sahabat, travel partners, housemate (terutama dengan Gladyz), hingga... anak. Aneh sih rasanya bilang kaya anak secara saya pun belum pernah punya anak. Haha. Tapi perasaan sayang saya ke mereka cukup berbeda dari rasa sayang saya ke orangtua, kakak, keponakan, sahabat, teman maupun rasa sayang yang pernah saya rasakan sebelumnya ke pasangan. Mungkin karena disini posisi saya sebagai seseorang yang lebih 'tua', sehingga saya selalu merasa bahwa saya memiliki tanggung jawab lebih terhadap kedua adik saya ini. Saya selalu berharap agar saya bisa membuat Ali dan Gladyz menjadi orang - orang yang lebih baik dan lebih berhasil dibanding saya, serta tentunya menjalani hidup yang lebih bahagia dari yang saya jalankan. Walaupun sejauh ini saya belum bisa melakukan banyak hal untuk mereka dan menjadi sosok kakak yang ideal, tapi hingga detik ini saya tau bahwa mereka adalah salah satu alasan utama untuk terus memperjuangkan hidup saya. 

2 comments:

  1. Aww *mendadak pengen punya kakak* tau gak sih, ini nih #SodaraanGoals besok aku kalau punya anak kudu bisa didik mereka biar sedekat ini satu sama lain :)

    ReplyDelete
  2. hahaha iyaa sodara penting banget emang Ernyy, aku juga pengen nanti anak - anakku bisa dekat dan saling support satu sama lain :')

    ReplyDelete