July 02, 2018

Sepuluh Hari Untuk Selamanya

Terkadang sebuah persepsi baru yang sebelumnya tidak terlihat karena kita terlalu sibuk memuaskan keinginan diri sendiri atau terlalu malas untuk mencoba memahami dari sudut pandang lain, akhirnya baru bisa terlihat dan dipahami hanya ketika kita kehilangan seseorang yang kita sayangSebelum tanggal 24 Mei 2018, saya enggak begitu merasa ada yang istimewa dari road trip saya dengan Bang Ardha pada pertengahan November 2017 lalu. Namun siapa sangka, enam bulan kemudian, perjalanan dan kunjungan abang saya tersebut menjadi sebuah perjalanan pertama yang bukan hanya meninggalkan kenangan bahagia, tapi juga kepedihan dan penyesalan. Banyak penyesalan yang terus menerus menggerogoti pikiran saya selama empat puluh hari ini. Seandainya saya bisa kembali ke hari di mana Bang Ardha datang ke Rotterdam, tentu saya akan berbisik ke diri saya saat itu. Zu, it's gonna be your last chance to meet him... So please, try to be the best little sister you could beTapi semua itu pada akhirnya hanya tinggal seandainya dan seharusnya, yang enggak ada satu dari penyesalan saya tersebut bisa diubah sampai detik ini. Salah satu pilihan yang tersisa adalah menceritakan apa yang saya lalui selama sepuluh hari terakhir bersama Bang Ardha. Agar suatu hari nanti jika ingatan ini semakin terbatas dan memori terakhir saya bersamanya semakin sirna, maka mungkin saja ketika membaca postingan ini seluruh ingatan tersebut akan kembali lagi.

Seperti sosoknya yang unik dan hampir enggak bisa dipisahkan dengan musik, rasanya saya pun ingin menceritakan perjalanan kami selama enam hari dengan beberapa lagu yang saya ambil dari sebuah playlist di iPod saya. Sebelumnya saya jarang banget memutar lagu pilihan saya di depan Bang Ardha. Bukannya kenapa - kenapa, sejujurnya saya suka merasa malu, takut selera lagu saya mengecewakan dia. Terdengar berlebihan sih ini, cuma seluruh anggota keluarga saya pun paham benar bahwa selera musik Bang Ardha udah next level banget. Kayanya seumur - umur saya mengenal orang, menurut saya yang bisa mendekati level musiknya Bang Ardha hanya Ayah, Uni Chica, dan Ican. Tapi kali itu, di hari keempat road trip kami, sudah kedua kalinya ia menawarkan buat memutar playlist saya. Yang awalnya "Zu, kalo lo mau puter lagu, sok aja ya" sampai akhirnya "Gw bosen nih sama playlist gw, gantian sama lagu - lagu lo aja, Zu". Dan ternyata diantara beberapa playlist yang dimainkan, satu - satunya yang diputar full dari lagu pertama hingga terakhir adalah playlist yang satu ini karena hampir setiap lagunya cocok dengan selera Bang Ardha. Saya sampai ingat komentarnya di saat playlist ini sedang diputar, "Wah, ternyata lagu - lagu lo enak juga ya, Zu". Maklum deh, mendapatkan sebuah pujian, apalagi soal musik dan fashion, dari Bang Ardha itu adalah sebuah pencapaian tersendiri :)) 

#1: Paris - Friendly Fires
One day, we're gonna live in Paris. I promise, I'm on it. And every night we'll watch the stars. 
They'll be out for us. And every night the city lights. They'll be out for us. 


Sebenarnya bukan Paris, tapi yang pasti adalah sebuah kota di Eropa, yang rencananya akan dijadikan tempat tinggal berikutnya. "Tahun depan gw kayanya bakal resign dari Nielsen buat ambil PhD nih, Zu", begitu kata Bang Ardha ketika kami bertemu dua hari sebelum saya kembali ke Rotterdam pada akhir September 2017. Saat itu dengan penuh semangat, Bang Ardha mengucapkannya beberapa kali, seraya meyakinkan dirinya kembali. Saya sendiri enggak begitu kaget saat mendengarnya. Dan saya yakin, bagi orang - orang yang mengenal Bang Ardha pasti sudah mengetahui bahwa tingkat kepintaran dan kecerdasannya enggak diragukan lagi. Istilahnya tuh kalau saya mendapatkan nilai bagus karena hasil belajar yang mati - matian, kakak saya ini bisa dapat nilai yang sama tanpa belajar. Jadi mendengar rencana tersebut, apalagi selama bertahun - tahun bergelut di dunia riset, mengambil PhD itu tampak seperti sebuah hal yang biasa

Lalu di tengah - tengah percakapan kami di hari itu, tiba - tiba Bang Ardha nyeletuk, "Eh, gimana kalo gw sekalian ke sana ya tahun ini ya buat liat - liat kampus? Sekalian jalan - jalan bareng lo, Zu... Mumpung gw lagi ada jatah cuti yang belum dipake nih". Awalnya saya sempat mengira bahwa itu hanya rencana impulsif kakak saya. Maksudnya, untuk orang sesibuk dan hardworking seperti dirinya, apalagi dengan posisinya saat itu yang sudah menjabat sebagai senior manager, saya tau banget kalau mengambil cuti dadakan untuk dua belas hari bukanlah hal yang mudah. Bahkan belum lama sebelum ide tersebut terucap, Bang Ardha juga sempat bilang kalau dia sedang cukup stress dengan beberapa deadline kerjaannya. Tapi ternyata sehari setelah saya sampai di Rotterdam, Bang Ardha mengabari bahwa dia sudah membeli tiket ke Amsterdam untuk akhir November. Saat itu, saya cukup kaget sekaligus heran. Salah satunya karena saya tau persis kalau kakak saya ini sama sulitnya dengan saya dalam urusan mengambil keputusan, alias plin - plan. Terlebih lagi karena rencana tersebut baru banget terlontar dari dirinya hanya dua hari sebelumnya. Nyatanya, enggak ada sedikit pun keraguan yang terlihat dalam percakapan kami di WhatsApp. Saat itu Bang Ardha hanya menanyakan kapan saya kosong, yang kemudian ditutup dengan kalimat, "See you soon, Bonzuuu!".


#2: You Get What You Give - New Radicals
You've got the music in you, don't let go. You've got the music in you, one dance left. 
This world is gonna pull through. Don't give up, you've got a reason to live. Can't forget. 
We only get what we give.


Semakin mendekati hari kedatangan Bang Ardha, sejujurnya perasaan saya mulai enggak menentu. Di satu sisi, I was undoubtedly happy. Yaiyalah, saya senang dan bersyukur banget selama dua setengah tahun di Belanda udah tiga kali dikunjungi tiga anggota keluarga saya di waktu yang berbeda - beda: Gladyz, Bunda, lalu sekarang Bang Ardha. Tapi di sisi lain, saya enggak bisa bohong kalau ada sebuah kekhawatiran apakah perjalanan ini akan berjalan baik seperti kedua perjalanan sebelumnya. Memang sih, sebelum ini saya udah pernah road trip bareng Bang Ardha di UK dan selama di perjalanan enggak ada rintangan yang berarti. Namun tetap ada beberapa hal kecil yang cukup mengganggu pikiran saya karena peraturan lalu lintas di Eropa dan UK kan berbeda, seperti left side car driving (yang kali ini baru dicoba oleh kakak saya), emission sticker EU, rambu dan etika di jalan, parkir, dan lainnya. Belum lagi kali ini kami akan lintas negara, yang mana ada beberapa peraturan berbeda di tiap negara yang kami tuju. Tapi berkat bantuan kedua teman saya yang udah sering road trip di Eropa (thanks Mas Andie dan Mba Vicky!) dan bersedia menjawab berbagai pertanyaan amatir kami, serta tingkat adaptasi Bang Ardha yang begitu cepat dalam menguasai mobil maupun jalan; alhamdulillah banget selama road trip ini enggak ada halangan yang berarti.

Bahkan sebelum perjalanan dimulai aja kami udah diberi rezeki yang enggak terduga: mobil yang kami sewa tiba - tiba di-upgrade dua kali lipat lebih bagus dengan membayar harga sewa yang sama. Jadi ceritanya sewaktu kami tiba di Sixt, rental car yang kami pilih, ternyata cuma ada satu mobil yang available di sana dikarenakan mobil yang lain sedang dipasang tire chains. Nah, seandainya kami telat beberapa menit, mungkin kami harus menunggu lebih lama untuk mobil berikutnya. Bahkan bisa jadi kami harus menunda road trip kami. Soalnya enggak lama setelah kami tiba, ada customer yang datang dan harus menunggu dengan ketidakpastian untuk mobil berikutnya. Tapi berhubung saya enggak begitu paham dunia otomotif dan enggak pernah jadi pengemudi, rasa senangnya lebih karena lega enggak harus menunggu lama dan satu lagi karena melihat kakak saya yang enggak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. "Wahhh, hoki banget sih kita, Bonz!", katanya dengan senyum lebar di wajahnya sambil mencoba beberapa fitur di mobil berwarna putih Renault seri Koleos. Ketika itu saya enggak langsung bilang ke Bang Ardha, tapi melihat kepribadiannya yang sangat generous, mungkin ini salah satu balasan dari semesta akan kebaikannya selama ini ke banyak orang. 




#3: Spoken - Pure Saturday 
Grass in front of us won't barry the road we passed like before. Wind blowing softly, caressing our empty heart. So we'll never be lonely anymore. We're taking the long path, our steps are moving together. Sunset is calling... sunset is calling again.


Kalau ditanya momen favorit selama perjalanan ini, bagi saya itu adalah saat di mana kami menyusuri jalan - jalan lokal ketimbang highway. Selama road trip ini kami memang lebih banyak mengambil highway karena biasanya lebih mudah, cepat, aman, dan tentunya precise di Google Maps. Namun untungnya ada beberapa kali di mana kami harus melewati jalan lokal yang pemandangannya jadi feast for the eyes bagi kami yang biasa tinggal di kota besar. Jika cuaca di luar sedang bersahabat, sesekali saya membuka sedikit kaca jendela, lalu menghirup dalam - dalam udara sejuk dan segar di luar yang seketika menyegarkan seisi otak saya. Di sela - sela kesempatan langka tersebut, ada saatnya kami sama - sama bernyanyi sambil menikmati mahakarya sang pencipta di sekitar kami. Seperti waktu di mana kami menghayati salah satu lagu lamanya Pure Saturday ini. 

 A word can hold the secret of the universeee... 
And silence is the hardest thing... for us to unveil. 
Hu-u-u-u-u-u... 
Together we'll reach happiness, part the ocean and through the sky... 
And silence is the hardest thing for us to unvei-e-i-e-i-e-i-l 

Ada juga kalanya jalanan yang kami lalui dipenuhi oleh kabut tebal dengan pepopohanan cemara yang beraneka ragam warnanya. Hijau tua, kuning muda, kuning tua, merah maroon; yang di ujung dedaunannya terlihat butiran - butiran air hujan yang sedang jatuh membasahi bumi semesta. Seraya memecah kesunyian, kami pun seketika menjadi Banda Neira abal - abal. Sementara Bang Ardha terdengar sangat cocok sebagai pengganti Ananda Badu karena pengalamannya juga menjadi vokalis Delay Monday, band yang dibuat olehnya bersama teman - teman kuliahnya. Sedangkan suara saya yang pas - pasan... jangan diharapkan bisa mengganti Rara Sekar! Enggak menjadi perusak suasana di sore yang indah itu aja sudah membuat saya sangat bersyukur, kok :)) 

 Semesta bicara... tanpa bersuara. Semesta ia... kadang buta aksara. 
Sepi itu indah-h-a-a, percayalah... Membisu itu... anugerah. 
Seperti hadirmu di kala gempa-a-a-a... jujur dan tanpa bersandiwara. 
Teduhnya seperti, teduhnya seperti... hujan di mimpi. Berdua-h-a-a, kita berlari 




#4: Quiet - John Mayer 
Midnight, lock all the doors and turn out the lights. Feels like the end of the world. There's not a sound. Outside the snow is coming down. Somehow I can't seem to find the quiet inside my mind. Daylight is climbing the walls. Cars start and feet walk the halls. The world awakes and now I'm saved. At least by the light of day. At least by the light of day. 


Sebenarnya ada satu kekhawatiran lainnya yang sempat terbersit di pikiran saya ketika kami memutuskan untuk road trip berdua, yang pada akhirnya sempat kejadian juga ketika memasuki hari kelima. Enggak bisa dipungkiri kalau lahir di keluarga dengan saudara yang banyak itu mau enggak mau membuat hubungan dengan masing - masing saudara saya akan berbeda 'porsinya'. Apalagi dengan kondisi saya yang anak "tengah", berbeda lima tahun dengan Bang Ardha dan empat tahun dengan Ali, juga mempengaruhi saya agak sulit awalnya untuk bisa dekat dengan grup atas atau bawah saya. Belum lagi kenyataan bahwa kami berenam enggak terus menerus menghabiskan waktu di rumah yang sama karena pendidikan yang kami tempuh berada di luar Jakarta, di waktu yang berbeda - beda juga. Ibaratnya begitu Bang Ardha udah kembali ke Jakarta, justru giliran saya yang ke Bandung. Sebuah alasan lainnya yang membuat kami agak sulit untuk bisa dekat. Sekalipun udah bisa sama - sama ngumpul di Jakarta, ketiga kakak saya langsung menikah dan berkeluarga di waktu yang berdekatan. Semenjak itu saya jadi lebih dekat dengan kedua adik saya karena lebih banyak waktu yang kami lalui bersama.  

Tapi November 2016 lalu, untuk pertama kalinya setelah entah beberapa tahun lamanya, akhirnya saya merasa kembali dekat dengan ketiga kakak saya, termasuk Bang Ardha. And for the first time in our lives, we finally let ourselves open up and be vulnerable to each other. 'Dekat' bukan hanya karena keberadaan fisik kami, tapi juga dalam arti kami bisa membuka perasaan satu sama lain. Walaupun tentunya belum semua hal bisa langsung kami ceritakan, melihat kakak saya udah mau menceritakan hal yang selama ini jarang dia tunjukkan aja, saya udah merasa senang. Jangankan menunjukkan vulnerability kami, kalau ditanya kapan kami berantem, yang mana satu sama lain blak-blakan bilang kesal; saya bisa menjawab itu cuma terjadi satu kali, tepatnya ketika saya masih SMA. Setelah itu kami enggak pernah sekalipun adu mulut atau bahkan hanya sekedar mengutarakan kekesalan kami. Kata Ayah Bunda, itu karena kami berdua adalah dua dari tiga anak di keluarga yang dikenal suka memendam perasaan.







Sayangnya, selain sifat kami tersebut, menurut 16 personality Myers Briggs pun hanya ada satu komponen yang sama dari personality kami berdua, yaitu sama - sama introvert yang sangat reserved dan privateSaya INFJ, Bang Ardha ISTP. Selebihnya yaa kami berdua sebenarnya saling bertolak belakang. Saya lebih menggunakan feeling, kakak saya menggunakan logika. Saya orangnya harus terencana, kakak saya spontaneous. Alhasil, perbedaan tersebut cukup mempengaruhi perjalanan kami kali ini. Saya yang biasanya udah harus menetapkan itinerary ternyata belum bisa segitunya fleksibel dalam menghadapi Bang Ardha yang cenderung mengikuti kondisi selama di perjalanan. Salah satu yang krusial sih ketika kami harus beberapa kali ganti kota, yang ujungnya cancel dan booking hotel dadakan. Selain basic personality kami, gaya traveling kami pun juga berbeda. Saya yang lebih suka mengeksplore sebuah tempat sambil foto - foto, kakak saya lebih suka belanja dan jalan - jalan santai. Jadi di saat kami berada di suatu kota, beberapa kali kami memutuskan untuk berpisah sesaat. Bang Ardha yang lebih memilih untuk mengunjungi toko tertentu yang menarik baginya, sedangkan saya berjalan keliling agar lebih banyak melihat sisi lain dari kota tersebut. Enggak ada yang salah sih dari berbagai perbedaan tersebut. Yang ada hanya kurang beruntung. Berbeda dengan perjalanan saya sebelumnya dengan Bunda dan Gladyz, yang pasti ada aja satu atau dua kota favorit yang meninggalkan kesan karena pengalaman kami dan karakteristik kotanya yang lovable; perjalanan kali ini enggak memberikan kesempatan tersebut. Dan di tiga hari terakhir sebelum kami tiba di penghujung perjalanan, terasa jelas perubahan suasana di sepanjang jalan yang kami lalui: lebih sunyi dan lebih panjang dari sebelumnya. Sama halnya dengan perubahan raut wajah kami yang menyiratkan kekecewaan. Entah kecewa dengan keadaan atau kecewa dengan diri sendiri atau kecewa satu sama lain, namun enggak ada satu pun dari kami yang akhirnya mengungkapkan kekecewaannya. 


#5: Pulang - Float
Dan lalu... rasa itu tak mungkin lagi kini tersimpan di hati. 
Bawa aku pulang, rindu. Bersamamu. 
Dan lalu... air mata tak mungkin lagi kini bicara tentang rasa. 
Bawa aku pulang, rindu. Segera. 
Dan lalu... sekitarku tak mungkin lagi kini, meringankan lara. 
Bawa aku pulang, rindu. Segera. 


Personally, saya suka Wroclaw dan Salzburg simply karena keduanya sama - sama kota kecil, cantik, dan saat kami berkunjung sedang diselenggarakan christmas market, yang keberadaannya terasa magical sekaligus memberi kehangatan di tengah - tengah temperatur yang semakin hari semakin menurun. Tapi sayangnya pengalaman yang kami dapatkan di kedua kota tersebut justru kurang menyenangkan. Ketika baru sampai di Wroclaw tiba - tiba aja saya sakit enggak jelas. Saat itu saking khawatirnya, Bang Ardha sempat menawarkan untuk enggak melanjutkan perjalanan selanjutnya dan kembali ke Rotterdam. Untungnya setelah istirahat seharian di Wroclaw, kondisi badan saya berangsur membaik. Sedangkan ketika di Salzburg justru kondisi Bang Ardha yang drop karena menyetir sendirian selama enam hari. Salah satu hal yang sebenarnya juga menjadi penyesalan saya sampai detik ini. Seandainya saya bisa menyetir saat itu, pasti bisa mengurangi keletihan yang kakak saya rasakan. Dan enggak menutup kemungkinan, terlepas dari sosoknya yang terlihat kuat, saat itu ia juga sedang mengalami rasa sakit di dalam tubuhnya yang enggak mau dirasa - rasa olehnya. Tapi Bang Ardha yang dari dulu selalu enggak mau nyusahin orang lain, selama di perjalanan ini pun enggak pernah sedikitpun mengeluh, selain di malam terakhir sebelum kami menuju Rotterdam. Saat itu sambil meminta maaf karena enggak jadi ke Halstatt, ia sempat mengeluh badannya sudah terlalu lelah.





Ketika perjalanan pulang dari Salzburg menuju Rotterdam, kami sempat singgah semalam di Frankfurt untuk sekalian bertemu Kak Yuyu, salah satu sahabatnya Bang Ardha yang juga kebetulan saat itu sedang ada business trip. Di situlah yang juga menyadarkan saya bahwa I wasn't yet trying to be the best sister I could be. Sosok Bang Ardha yang pendiam dan raut wajahnya yang letih dalam dua hari terakhir seketika berubah 180 derajat ketika kami bertemu Kak Yuyu. Benar - benar hilang, tergantikan oleh dirinya yang ceria. Di satu sisi saya lega melihat wajah kakak saya kembali ceria dan banyak ngobrol selama di perjalanan. Di sisi lain ada sedikit kekecewaan yang muncul karena sebagai adiknya sendiri saya enggak bisa terus menerus mengeluarkan sisi Bang Ardha tersebut selama sepuluh hari bersamanya, terutama di saat - saat terakhir kami bertemu. Seandainya saya terlahir sebagai orang yang extrovert, suka ngobrol dan expert dalam membuka topik pembicaraan baru, maybe there wouldn't be any road we passed in complete silence. Tapi diantara berbagai seandainya, ada satu yang benar - benar saya ingin ubah saat itu. Seandainya saya bisa lebih dewasa untuk bisa melihat beberapa hal dari sudut pandang Bang Ardha ketimbang sudut pandang saya, mungkin saya engga akan kecewa saat itu dan enggak mempengaruhi sikap saya yang terlihat lebih dingin ke kakak saya di hari - hari terakhir kami bertemu. No, we didn't fight nor badmouthing each other. But I wish we had one, rather than be in silence and pretending that we were fine. Karena mungkin menunjukkan kekesalan dan kekecewaan enggak selamanya salah. Mungkin jika saat itu kami bisa lebih terbuka satu sama lain, ketika di saat terakhir kami bertemu di Schiphol, saya akan banyak bertanya tentang hal - hal yang seharusnya saya tanya, kami akan berpelukan lebih erat, dan saya akan bilang "I love you, Bang... makasih udah nemenin aku di sini dan memberi salah satu road trip paling menyenangkan".  




#6: Rise and Shine - The Cardigans
I raise my head and whisper, "rise and shine". Rise and shine, my sister. I want to see the wounded moon. I want the sea to break through. I want it all to be gone tomorrow. So I've come to say goodbye...



There are places I'll remember all my life though some have changed. Some forever not for better some have gone and some remain. All these places had their moments. With lovers and friends I still can recall. Some are dead and some are living. In my life I've loved them all. 

Seperti yang tertulis dalam sepenggal lagu-nya Beatles, setiap kota yang pernah saya kunjungi bersama keluarga dan teman pasti akan meninggalkan memori tersendiri. Begitu juga dengan Wolfsburg, Berlin, Wroclaw, Auschwitz, Salzburg dan Frankfurt; mungkin sampai beberapa tahun - bahkan puluh tahun ke depan - akan terus mengingatkan saya akan perjalanan ini. Memori yang akan memberikan rasa sakit sekaligus kebahagiaan tersendiri bagi saya karena menjadi tempat di mana saya melewatkan waktu terakhir bersama Bang Ardha.