February 21, 2014

Tweedehands

Saat itu saya masih duduk di bangku SMA ketika pertama kalinya kakak perempuan saya mengajak dan membawa saya untuk mencari "harta karun" di sebuah tempat yang yaa enggak bisa dibilang sebagai tempat yang nyaman untuk berbelanja. Tempat yang dipenuhi dengan tumpukan pakaian bekas dengan berbagai macam warna dan bentuknya, baik yang tertumpuk di atas meja atau tergantung di sepanjang gang atau blok. Tapi, akhirnya rasa penasaran yang sudah lama tersimpan di benak saya bisa terjawab juga. Berawal dari beberapa potongan baju lucu yang dimiliki oleh kakak saya, yang hampir setiap saya tanya dimana ia membelinya, kakak saya menjawab dengan bangganya, "Pasar Senen!" atau "Gedebage!". Lalu melanjutkan dengan "yang ini cuma sepuluh ribu loh!", "kalo yang ini sedikit lebih mahal, tapi emang bagus dan uni suka jadi ya enggak apa - apa deh bayar dua puluh lima ribu". Instead of being kapok, semenjak kunjungan pertama kali itu saya justru ketagihan untuk datang lagi ke kedua tempat tersebut dan bahkan ke thrift shop atau flea market lainnya yang menjual secondhand stuffs. Dan akhirnya hobi ini terus berlangsung hingga sekarang, baik saat saya di negara saya sendiri ataupun saat saya berkunjung ke negara lain.







Mungkin ada yang bertanya - tanya kenapa saya bisa ketagihan mencari dan memakai barang bekas.. "kan kotor, kan bekas orang lain". Untungnya sih saya bukan orang yang punya obsessive cleaning habit, jadi setelah saya rendam pakaian tersebut di tiga ember penuh air panas lalu saya cuci dengan detergen di mesin cuci, dikeringkan dan disetrika panas, ya menurut saya itu udah wearable. Dan terbukti kok, sampai sekarang udah beratus - ratus kali pakai baju bekas belum pernah sekalipun saya kena penyakit kulit! huehe.

Alasan saya sih awalnya karena dengan harga yang ada di toko - toko lain atau di mall, saya bisa dapat banyak baju dengan kualitas yang masih bagus. Bayangin aja, dengan Rp 100.000 saya bisa mendapatkan empat sampai lima baju, bahkan kadang bisa lebih! Selain itu, saya juga suka karena banyak baju yang unik, baju vintage yang selalu bikin gemes, dan tentunya enggak pasaran! *asek*. Beda dengan yang dijual kebanyakan di toko - toko, di thrift shop atau flea market ini mereka enggak menjual baju berdasarkan trend yang ada saat ini. Tetapi lama kelamaan, alasan saya lebih dari itu. Setelah bertahun - tahun menjadi treasure hunter, saya merasa ada odd sense of satisfying feeling ketika saya mencari diantara banyak gantungan atau tumpukan pakaian yang ada, lalu berhasil mendapatkan barang yang saya suka dengan kualitas yang masih bagus, serta harga yang jauh lebih murah dari yang kebanyakan orang bisa menebaknya. "Look! Here are the best secondhand clothes and vintage stuffs that I bought at local markets or thrift stores for a price lower than the food you eat". 





Anyway, setelah saya perhatiin ya, barang - barang di Pasar Senen, Gedebage, Gasibu, or you name it, sebenarnya enggak kalah oke loh dibandingkan dengan barang - barang yang ada di thrift store atau flea market nya Inggris. Tapiii, yang ngebedain adalah cara mereka menjual dan tempat menjualnya. Kalau di Indonesia kebanyakan dijualnya di tempat yang penuh dengan baju - baju bekas yang masih lekat bau apeknya, lalu pengap, panas, yang intinya enggak nyaman dan bahkan ada yang bilang "berbahaya". Well, sebenarnya menurut saya sih dari segi tempat masih terbilang cukup nyaman kok *walaupun kalo dibandingkan dengan yang saya temui di Inggris sih memang baru terasa kalau disini enggak nyaman sama sekali! hahaha*. Sedangkan kalo di Inggris dan negara - negara lainnya (most probably in Europe and America) mereka dijual di thrift shop atau market yang nyaman dan kondisi bajunya pun udah bersih. Bahkan seperti yang bisa dilihat dari foto - foto di postingan ini bahwa banyak thrift shop yang niat banget mendekorasi tempat untuk menjual secondhand stuffs and clothes!




I don't know what other people think about this secondhand thingy, tetapi saya dan kakak saya punya satu mimpi besar yang sama: have a thrift/vintage and charity shop! (plus hold flea markets in town!). A bit weird huh? Udah lama sebenarnya we have this same mission to run a secondhand clothing business. Saya sendiri niatnya udah ada dari beberapa tahun yang lalu ketika saya sadar bahwa seringkali saya menemukan baju yang bagus saat hunting tetapi karena faktor ukuran atau hijab, akhirnya saya enggak jadi beli. Dan sekarang keinginan saya dan kakak saya semakin menjadi-jadi setelah melihat bahwa vintage & thrift shop di luar itu ubeerrr cool dan bahkan mereka juga punya banyaaak charity shop (semacam non profit thrift shop yang dijalankan oleh organisasi yang bergerak di bidang volunteer-led humanitarian seperti British Red Cross, Oxfam, serta barang - barang yang dijual itu berasal dari sumbangan masyarakat).

Ditambah lagi, kalau sejauh yang saya liat sihh di Indonesia dan bahkan di kota - kota besarnya seperti Jakarta dan Bandung masih jarang banget ada semacam thrift shop yang "niat" seperti di luar. Saya sering ngebayangin gimana rasanya kalau ada pendatang seperti saya yang ketika mengunjungi suatu negara atau kota pasti memasukkan local thrift/vintage store dan flea market di itinerary, dan begitu mencari di Jakarta atau Bandung ketemunya dengan tempat semacam Pasar Senen atau Gedebage yang belum tentu semua orang bisa betah dan suka untuk berkunjung ke tempat - tempat tersebut. That's how we came up with this dream and idea called Tweedehands. What is Tweedehands? nantikan postingan berikutnya! *lalu dengan menggunakan nada ala - ala iklan di tv* :p




Vintage store + book store + cafe = HEAVEN!

February 14, 2014

But You Just Can't.


When things don't really seem to be going the way you want them to, 
try to remind yourself that for every one bad thing there are fifty good things. 
It is easy to dwell on the one bad thing, but you just can't. 

February 09, 2014

Let's Begin Again!


Shirt: New Look. Blazer: Primark. Skinny pants: Red herring. 
Necklace: XSML. Bag: Furla. Loafer: Asos. 

February 05, 2014

It Feels Like Home (Part Two)

After fifteen months of living there, I finally left the casual comforts of Bournemouth on last December. Without even a single time visiting my home country for that long, I was so wrecked with paranoia that I will live again in the crowded and polluted big city. Well, living in a small peaceful town like Bournemouth awakened me to the rather obvious fact that I am not that big city kind of girl. And that paranoia actually came true. The first moments I arrived in Jakarta I was in for a surprise, in that I felt familiar with all the street scene, humid air, language and everything that it has, but I just don't feel like I am coming back home. In a somewhat amusing contrast, around those times I had also went to a place where I felt like coming back home, even though it was my first time visiting said place. A place that is an island. An island called Derawan.








I had no conception of how unbelievably awesome the Derawan Islands are. If you have a plan to go there, just make sure to not only visit the main island, Derawan, but also the surrounding islands like Maratua and Kakaban. Derawan island is a lively island which is more crowded than I expected yet more colorful. If you seek tranquility and privacy, then maybe Maratua will suit you more. In Maratua although there is actually not much to see besides its exclusive resorts and pretty corals, still it is worth seeing and snorkeling there. And also Kakaban which is well known as the home of stingless jellyfish!

On the boat with the other great travelers

Little paradise called Maratua

A (not so convincing) picture of coral in Maratua Island.  
The real one is waaay amazing than this!

No, this isn't supposed to be a land!

Full team!

The Kakaban Island, home of stingless jellyfish!

There are only two species of stingless jellyfish in the world; 
one is in Indonesia and the other one is in Philippine 


"Sometimes you need to go away to appreciate it". After seeing the beautiful blue sky with its dramatic clouds, the clear blue (though with hint of green) sea, the amazing corals, stingless jellyfishes, manta ray, big turtles and other fishes and sea species (I wish I could specifically name them all); meeting other travelers who have gone across the islands of Indonesia; staying and talking with local people, then I think how lucky I am to be in this amazing country. All those bubble of happiness were good enough to make me realize how there are still so much to be seen with my own eyes. On one side I am happy because it means that I need to explore more places in my home country (which I will definitely do this year!), but on the other side I feel ashamed because I did travel to more places in other country but not mine. Now I am even more thrilled and can't wait to see, feel and explore other places in Indonesia. Keep my fingers crossed for it! :) 


That blue house is our homestay accommodation