March 30, 2016

#ROH 25: Exploring The City (I Live In)

Semenjak pindah ke Rotterdam rasanya baru dua kali saya meniatkan diri buat jalan - jalan mengeksplore kota ini. Biasanya saya hanya foto tempat - tempat yang sekelewatnya aja ada di depan mata saya, bukan yang sengaja saya ingin kunjungi. Entah kenapa meskipun udah browsing tempat - tempat menarik dan beberapa kali merencanakan buat keliling kota, akhirnya selalu gagal. Terlebih lagi dengan kemageran saya yang meningkat semenjak mendekor kamar, jadinya selama bulan Maret  saya lebih banyak menghabiskan di tempat ini. Keluar hanya kalau lagi ada kelas, olahraga, ketemu supervisor, ada kumpul bersama teman - teman, atau hal lainnya yang 'memaksa' saya buat keluar kamar. Kalau lagi rajin, dua kali seminggu saya pergi ke centrum (pusat kota) untuk belanja mingguan di farmer's market dan mencoba sebuah restoran atau kafe baru bersama teman - teman. Tapi kalau lagi males, paling hanya seminggu sekali saya keluar dari lingkungan kampus. Dan itu pun "mau-enggak-mau" keluar karena mesti belanja mingguan. Sampai akhirnya hampir dua minggu belakangan ini saya mulai memasuki masa jenuh dan mulai susah konsentrasi ketika saya di kamar. Nah, kalau udah begitu tandanya saya mulai harus jalan - jalan!

Jalan - jalan keliling kota maksudnya. HAHA.

Apa boleh dikata, berhubung bulan April nanti udah direncanakan buat beberapa trip, maka tenaga, waktu, dan uang mesti dihemat - hemat selama dua bulan belakangan ini :') Dan cara yang paling mudah untuk mengusir penat dengan kondisi seperti ini adalah ngebolang di kota sendiri! Bagi saya, ini terbukti ampuh mengusir penat walaupun hanya sesaat sejak jaman kuliah di Bandung, kerja di Jakarta, kuliah di Bournemouth, sampai kembali tinggal di Jakarta. Dikala saya bosan di rumah, penat dengan rutinitas sehari - hari, atau bahkan bosan mengunjungi tempat yang sama setiap minggunya; maka dengan ngebolang berhasil membuat saya semangat kembali.

Dimana lagi bisa nemuin signage super sweet kaya begini  

Ngebolang disini bener - bener mengeksplore bagian kota yang jarang atau belum pernah saya kunjungi sebelumnya, baik itu berupa lingkungan tempat tinggal, museum, pasar tradisional, perpustakaan, toko buku, gang, tempat makan, dan lainnya. Kalau lagi ada acara yang hanya diadakan beberapa bulan sekali atau satu tahun sekali, bisa juga untuk dikunjungi. Intinya sih keluar dari rute dan tempat yang biasa saya pilih di kota tempat saya tinggal. Bukan cuma itu, ketika ngebolang saya pasti udah menyiapkan kamera dari rumah serta sebuah daftar yang berisikan tempat dan acara yang ingin dikunjungi. Jadi semacam turis di kota sendiri gitu :3

Setelah tertunda kesekian kalinya, minggu lalu saya memilih untuk pergi ke bagian selatan kota Rotterdam yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Bahkan biasanya para turis maupun pendatang baru pasti langsung mengunjungi bagian ini karena terdapat beberapa spot yang menjadi ciri khas Rotterdam, salah satunya adalah Erasmusbrug. Tapi berhubung tingkat kemageran saya dua bulan belakangan ini, jadi baru sekarang deh saya melihat secara langsung dan menyebrangi jembatan ini. Ha! Salah satu alasan saya memilih tempat ini diantara sekian banyak tempat lainnya di Rotterdam yang mesti dikunjungi adalah rasa penasaran saya dengan kondisi kota di seberang sungai Nieuwe Maas. Karena selama ini, bahkan hingga sekarang, daerah South ini masih sering dianggap terpisah dari daerah lainnya di Rotterdam. Padahal disini banyak tempat yang enggak kalah menariknya dibandingkan di Centrum, bahkan beberapa skyline yang terkenal di Rottedam juga terletak di bagian selatan ini. Walaupun masih banyak tempat yang belum dieksplore, tapi saya puas banget udah mengunjungi Rotterdam's southern part. Mulai dari suasana kotanya, bentuk jalan, hingga gedung - gedungnya cukup berbeda dari yang biasa saya temui di Centrum dan sekitar tempat tinggal saya. Bahkan saya sempat merasa seperti di Brooklyn, loh!

Inilah penampakan Erasmusbrug yang jadi salah satu icon-nya Rotterdam







Hotel New York

Enggak berlebihan sih kalau saya bilang sempat merasa di Brooklyn. Pertama, Erasmusbrug memang sepintas terlihat seperti Brooklyn Bridge *maksa banget*. Dan hal lainnya adalah karena disini juga ada Hotel New York! Ini bukan sembarang hotel, tapi juga salah satu tempat bersejarah di Rotterdam. Jadi dulunya sebelum jadi hotel, tempat ini merupakan kantor Holland America Line, sebuah perusahaan layar terkenal di dunia. Karena letaknya yang persis di sebelah pelabuhan, Hotel New York ini juga sekaligus merupakan tempat singgah para penumpang yang ingin berlayar dari Rotterdam ke New York dan sebaliknya. Sekarang sih Hotel New York ini bukan lagi sebagai kantor maupun tempat singgah, melainkan jadi salah satu hotel paling terkenal di Rotterdam. Apalagi dengan arsitekturnya yang unik dan memang kental dengan suasana 'New York', bisa jadi pilihan buat menginap kalau lagi berkunjung ke Rotterdam #promosi #padahalenggakdibayar :')






Nederlands Fotomuseum

Walaupun pencinta fotografi, tapi saya jaraaaaaang banget ke museum atau pameran fotografi. Bukannya enggak mau, tapi kayanya kesempatan buat mengunjunginya lebih jarang aja dibandingkan art gallery atau museum tentang budaya dan sejarah. Mungkin karena musuem fotografi pun juga enggak selalu ada di setiap kota, sekalipun kota besar. Makanya saya senang begitu tau kalau di Rotterdam ada museum fotografi. Paling sih yang enggak begitu senangnya pas tau harganya aja. Sekalipun udah dapat harga 'student' yang setengahnya dari harga normal, tetap aja bagi saya 5 Euro masih terbilang mahal buat tiket masuk museum; apalagi yang enggak terlalu besar seperti ini. Eh tapi, kalau sekali - kali sih enggak masalah yaa, apalagi kalau pamerannya memang lagi menarik seperti saat saya berkunjung minggu lalu. Selain pameran art photography dengan foto Polaroid karya seniman terkenal asal Jerman, Frank "Ulay" Uwe Laysiepen; ada juga American Neon Signs by Day and Night yang berhasil membuat saya pengen ke Las Vegas dan Nevada; serta "101 Selfie Guide" yang bikin senyum - senyum sendiri pas baca dan ngeliat foto - fotonya :)) 



101 Selfie Guide: bikin ngakak!


Pameran foto lain yang menjadi favorit saya: American Neon Signs by Day & Night karya Toon Michiels

De Zeeuwse Meisjes

Dari sekian banyak toko yang menjual berbagai pernak - pernik lucu yang pernah saya temui di Rotterdam, baru kali ini yang benar - benar membuat saya berjanji ke diri saya sendiri untuk kembali lagi buat duduk lebih lama sambil menikmati secangkir cokelat panas dan cheesecake. Bukan hanya dekorasi dan barang - barang jualannya yang bikin saya kegirangan, tapi juga si pemilik toko yang super ramah *sebelum pada suudzon, pemiliknya cewek kok. ha!*. Selain itu, saya juga penasaran sih dengan toko disampingnya yang dari namanya terlihat 'Indonesia' banget! Dari review yang saya baca sih si toko 'Kopi Soesoe' ini juga banyak direkomendasikan. Next time, maybe?





Fenix Food Factory

Selain taman dan lingkungan tempat tinggal masyarakat lokal, salah satu ruang publik yang paling saya suka kunjungi dan amati dari sebuah kota adalah tempat - tempat kreatif (creative spaces). Creative spaces yang dimaksud disini adalah tempat - tempat yang dulunya enggak menarik dan cenderung terbengkalai, lalu kemudian berhasil menjadi 'penghias' kota dan menarik banyak orang karena komunitas lokal yang 'merombaknya'. Selalu seneng melihat betapa kreatif orang - orang tersebut, sekaligus iri karena enggak bisa se-kreatif mereka #lohjadicurcol. Anyway, sebagai kota besar yang berisi banyak muda - mudi kreatif, Rotterdam juga memiliki beberapa creative spaces. Salah satunya yang jadi kebanggaan kota ini adalah Fenix Food Factory. Jadi tempat yang dulunya gudang ini berhasil diubah oleh sekelompok local food entrepreneurs menjadi sebuah fresh food markets. Enggak hanya itu, sebuah toko buku mungil juga baru dibuka disini. Lumayanlah sambil liat - liat beberapa Dutch books sambil menunggu makanan yang dipesan. Oh iya, saya baru nyobain Jordy's Bakery, salah satu toko roti paling terkenal di Rotterdam.  Dengan harga yang enggak terlalu mahal (4.5 Euro), sandwich yang saya coba (lupa banget namanya. huu) itu enggak hanya enak tapi juga bikin kenyang seharian! Enggak heran deh tempat ini hampir enggak pernah kosong dari antrian pembeli.






March 24, 2016

#ROH 24 : Exercise

Salah satu hal yang membuat saya merasa bersalah beberapa bulan lalu adalah absensi saya dari olahraga. Kayanya terakhir kali saya olahraga itu sekitar bulan Desember, itu pun juga seinget saya sih hanya sekali dalam sebulan itu. Padahal saya sadar kalau dengan rutinitas sehari - hari saya yang dihabiskan dengan duduk di depan komputer dan total jalan kaki yang enggak lebih dari satu kilometer; saya perlu banget meluangkan waktu untuk berolahraga. Tapi tetep aja tuh ujungnya enggak bisa membuat saya semangat buat olahraga. Sampai akhirnya saya baru kembali mendapatkan semangat itu ketika pindah kesini. Iya, akhirnya udah sebulan ini saya kembali menggerakkan badan sampai keringetan setiap minggunya, bahkan dengan intensitas yang lebih sering dari biasanya. Bukan cuma mengurangi rasa bersalah saya beberapa bulan ini dan membuat badan seger, tapi juga jadi salah satu cara membuat pikiran dan mood saya tetap positif. 

Sebenarnya ada yang menarik dari #ROH yang satu ini karena membuktikan bahwa kebahagiaan itu bisa datang dari mana aja, termasuk dari hal yang dulunya saya enggak pernah membayangkan akan menyukainya. Jadi kalau ada pepatah yang bilang "jarak antara benci dan suka itu sangat tipis", maka itulah yang terjadi dalam hubungan saya dengan olahraga. 


Dari saya duduk di sekolah dasar sampai kuliah, saya enggak pernah suka dengan pelajaran olahraga. Bener - bener paket lengkap deh kalau ini. Lengkap bencinya. Pertama, saya memang dasarnya enggak berbakat dengan olahraga APAPUN. Kalo main kasti pasti hampir enggak pernah berhasil memukul bola dengan benar, dan sebaliknya, hampir selalu kena pukul bola oleh tim lawan sebelum saya sampai di tiang hinggap. Waktu awalnya disuruh senam lantai, saya cuma bisa teknik koprol, bahkan saya baru bisa melakukan posisi kahyang dengan benar setelah berpuluh kali latihan. Saat saya terpaksa disuruh main basket, pasti saya menghindar dari teman satu tim saya karena saya enggak mau dikasih bolanya; kenapa? karena saya takut pas dilempar bolanya ke arah saya malah kena muka saya (soalnya trauma pernah kena muka. Errr). Kalo main sepak bola yang ada bolanya susah banget ketendang; kalo disuruh lompat jarak jauh saya cuma bisa lompat beberapa centimeter dari tempat pertama saya berdiri; dan masih banyak lagi fakta lainnya yang menunjukkan kelemahan saya di bidang olahraga. Pokoknya enggak ada deh olahraga yang bisa saya lakukan dengan benar. Kayanya olahraga yang saya bisa cuma badminton dan renang, itupun enggak bisa dibilang "jago". Kalo main badminton yang penting cock nya bisa melayang di udara, bisa bolak balik dipukul sama saya dan lawan main. Kalo renang, yang penting enggak sampai tenggelam. Ha! Hal lainnya yang membuat saya enggak suka dengan olahraga adalah karena stamina saya enggak sebesar kebanyakan orang. Gabungan antara darah rendah dan anemia membuat saya mudah lelah. Baru lari sebentar, saya udah mulai merasa pusing dan ngos-ngosan. Makanya waktu ada program lari setiap hari Jumat di SMA saya dulu, hampir selalu dipastikan kalau saya termasuk di barisan orang - orang paling belakang. Dengan berbagai kenyataan tersebut membuat saya bukan hanya jadi semakin enggak suka dengan olahraga, tapi juga selalu menghindar.

Tapi hidup memang selalu penuh dengan kejutan. Justru di saat pelajaran olahraga benar - benar enggak ada dalam hidup saya dan saya enggak perlu melakukan olahraga lagi jika saya memang enggak mau, tapi disitulah saya malah menemukan kebahagiaan dalam berolahraga yang belum pernah saya temui sebelumnya. Dan siapa sangka, bukan hanya memberi manfaat yang luar biasa bagi kesehatan saya, tapi juga membawa saya kepada sebuah hubungan yang lebih baik dengan "olahraga" hingga saat ini.

sebuah tulisan yang saya buat sekitar enam tahun yang lalu dan saya bersyukur banget sempat menulisnya di Tumblr saya, jadi sampai sekarang masih bisa saya baca :') 

Semenjak saya merasakan manfaat yang signifikan dari lari, saya enggak pernah lagi melihat olahraga sebagai musuh saya atau suatu hal yang saya benci. Yaa, walaupun tetap aja sih kemampuan saya di bidang ini enggak meningkat, serta saya tetap aja enggak mau dihadapi lagi dengan masa - masa harus melewati pelajaran olahraga atau lari bersama setiap Jumat. Haha. Saya sadar bahwa saya hanya bisa menikmati olahraga ketika saya melakukannya tanpa membawa beban di pundak saya atau tanpa dihadapkan dengan "kompetisi". Sampai sekarang pun saya tetap aja enggak mau ikut lomba lari, meskipun saya suka lari. Karena hal yang membuat saya yang tadinya enggak suka lari jadi suka lari adalah ketika saya enggak perlu ngos-ngosan sampai sesak napas atau merasa pusing sampai mau pingsan. Saya lari sesuai kemampuan saya, yang mana saat saya udah merasa mulai pusing maka saya jalan, dan ketika saya udah siap maka saya kembali lari. Saya suka lari ketika saya melakukannya di tempat terbuka entah itu di komplek rumah saya, taman, gelanggang olahraga, hingga pantai; sambil mendengarkan musik kesukaan dari ipod saya; sambil menikmati keadaan yang sedang terjadi di sekitar saya. Dengan begitu, lari bisa membangkitkan berbagai pikiran positif dan semangat saya; bahkan menjadi salah satu cara mendapatkan kebahagiaan bagi saya. 

Berhubung enggak bisa foto saat kelasnya udah dimulai, 
maka saya curi - curi foto saat sebelum zumba aja :3

Nah, sekarang kita masuk ke bagian inti postingan ini. Ha! Jadi ceritanya sebulan ini saya banyak mendapatkan asupan kebahagiaan dari olahraga, salah satunya adalaaaah Zumba! Sejak pertama kali mengenal zumba tiga tahun lalu, tepatnya saat saya menjadi anggota di sebuah gym di Bournemouth, saya langsung suka dan ketagihan. Bagi saya ini fun banget karena lebih terasa seperti menari daripada olahraga. Dengan diiringi berbagai lagu yang energetic, serta gerakannya yang variatif mulai dari salsa, hip-hop, flamenco, samba, hingga modern dance, jadi enggak bikin bosen.

Tapi sayangnya semua itu langsung hilang saat saya kembali ke Jakarta dikarenakan berbagai rutinitas, jarak dan kondisi lalu lintas di kota ini yang membuat saya akhirnya enggak pernah lagi melakukan zumba selama dua setengah tahun belakangan ini. Jadi kebayang dong yaa buat orang seperti saya yang selama ini sangat terbatas menyukai olahraga, dan kembali ditemukan dengan zumba itu rasanya luar biasa senang! Apalagi dengan tempatnya yang lebih bagus, para anggotanya yang sebagian besar masih pada muda (karena kelas zumba sebelumnya yang saya ikuti kebanyakan anggotanya adalah ibu - ibu), serta jarak antara gym dengan dorm saya yang hanya beberapa langkah aja; kali ini saya semakin semangat dan enggak sabar menanti kelas zumba yang (sayangnya hanya) diadakan tiga kali seminggu.  


Hal lainnya yang akhir - akhir ini juga membuat saya semangat berolahraga adalah ketertarikan saya yang baru saya temui di kelas yoga yang sedang saya jalani saat ini. Ternyata instruktur yoga itu pengaruh banget loh bagi saya. Karena sebelum ini saya sempat dua kali menjalani yoga di tempat dan instruktur yang berbeda (yang satu di Bournemouth dan satu lagi di Jakarta), dan enggak ada satupun yang membuat saya betah dan semangat untuk terus mengikutinya. Berhubung saya masih agak penasaran dengan yoga, dan disini enggak ada kelas yang cocok dengan saya selain zumba, akhirnya saya iseng - iseng coba ikut kelas yoga. Surprisingly, banyak gerakan yang cukup berbeda dari yang diajarkan di kedua tempat sebelumnya dan entah kenapa kali ini efek "spiritual"-nya lebih terasa. Walaupun baru lima kali datang, tapi sejauh ini sih saya masih ketagihan buat terus ikut kelas yoga berikutnya. Doakan aja kelas yoga kali ini akan cocok dengan saya hingga seterusnya :3

March 17, 2016

#ROH 23: Home (and) Decoration

Saya pernah menjelaskan sebelumnya disini, bahwa dimanapun saya tinggal, satu tempat yang paling penting bagi saya adalah kamar (sebenarnya istilah 'kamar' ini bersifat tentatif sih, karena sebelumnya saya sempat tinggal di apartemen yang mana dekorasi bukan hanya di kamar aja; dan hal yang sama juga akan berlaku saat saya udah punya rumah sendiri. You get what I mean, don't ya?). Alasannya sangat sederhana: karena disinilah satu - satunya tempat dimana saya bisa mendapatkan sebuah kebahagiaan yang enggak bisa saya dapatkan di tempat lain. Disini saya bisa dengan bebas mengatur, mengontrol, mendekorasi dan melakukan apapun yang saya inginkan tanpa ada intervensi dari orang lain. This place is also a reminder of some important things that I need to remember, my big dreams, lovely people in my life, and memories worth remembering. Terlebih lagi untuk sekarang, kamar memiliki peranan yang lebih penting karena disini juga menjadi tempat saya menghabiskan sebagian waktu untuk mengerjakan riset saya. Nah, untuk membuat kamar atau tempat tinggal saya menjadi penting dan menyenangkan, maka hal pertama adalah saya harus membuatnya menjadi nyaman bagi saya. Karena jelas dong ya, udah menjadi hukum alam kalau sesuatu yang enggak membuat kita nyaman pasti enggak akan bisa membuat kita bahagia. Dan untuk membuat kamar saya menjadi nyaman, maka saya harus mengatur dan mendekorasinya sesuai dengan keinginan saya. 


Entah sejak kapan, saya mulai menyadari bahwa mendekorasi adalah suatu hobi yang sangat saya nikmati, terutama untuk tempat tinggal saya. Bukan hanya sekedar menikmati, tetapi semakin kesini juga menjadi hal yang penting karena bisa sangat mempengaruhi mood dan pikiran saya. Tanpa saya sadari, dari sejak pertama kali saya punya kamar sendiri, saya sangat antusias untuk mengisinya hingga terlihat ramai dan penuh. Saya enggak tau sih ada istilah untuk hal ini atau enggak, tapi saya enggak suka dengan tempat tinggal yang memiliki ruang kosong terlalu banyak; entah itu dinding kosong atau jarak antara satu barang dengan barang lainnya yang terlalu besar. Bawaannya kalau liat blank space yang terlalu besar jadi menimbulkan perasaan was - was gitu. Dengan mendekorasinya hingga "seramai mungkin", membuat saya enggak lagi merasa parno dan kesepian meskipun saya menghabiskan beberapa hari sendirian mendep di kamar atau tempat tinggal saya. Alhasil, walaupun tema dan cara dekorasi kamar saya selalu berbeda, pasti ada satu hal yang membuat mereka terlihat sama, yaitu menempelkan kertas dan menggantungkan frame di dinding. Karena cara itu paling mudah untuk membuat kesan kamar saya menjadi penuh. Makanya selama ini kamar saya pasti enggak terlalu besar, karena semakin besar kamar atau tempat tinggal saya pasti yang ada malah saya akan terus - menerus mengisinya sampai bisa terlihat penuh dan ramai :))







Eh iya, ketika daritadi saya bilang kalau saya suka tempat tinggal yang terkesan "ramai dan penuh", bukan berarti sumpek loh ya. Sebagai orang yang visual, saya sangat peduli dengan keteraturan, kerapihan, serta teliti dengan detail. Jangankan tempat tinggal, ketika saya menulis paper atau membuat presentasi, hal pertama yang saya sesuaikan adalah jenis dan besar huruf, spasi paragraf dan alignment supaya terlihat rapih; hal yang sama juga berlaku dengan catatan saya yang sering dipuji dari waktu SMP karena rapih #eaa #pamerbolehlahsekalikali. Hal lainnya adalah ketika saya cukup kesulitan menikmati blog yang isi tulisannya bagus, tapi layout blognya berantakan atau komposisi antara tulisan dan fotonya enggak seimbang. Enggak heran deh terkadang ketika "sisi visual" ini bertemu dengan sifat perfeksionis saya, malah jadi menyulitkan diri saya sendiri. Contoh gampangnya nih kalau terkait dengan dekorasi ini adalah kenyataan bahwa perlu empat kali bagi saya untuk mengubah posisi kamar ini hingga akhirnya baru benar - benar bisa merasa nyaman; atau bolak - balik mengubah posisi pot, frame dan barang - barang perintilan lainnya dari yang tadinya di rak atas jadi ke rak tengah; atau saya bisa sangat terganggu ketika "keramaian" dekorasi di tiap sudut kamar enggak seimbang (jadi ada sisi kamar yang ramai tapi di sisi lain sepi), dan masih banyak hal - hal lainnya yang kalau diceritain semua bisa - bisa membuat kalian pada semakin mengernyitkan kening :3






Walaupun sejujurnya mendekorasi tempat tinggal baru memang selalu ribet dan butuh waktu, tapi mungkin karena saya juga menikmati proses transformasi dari ruangan kosong menjadi lebih hidup dan berwarna, semua keribetan itu terasa menyenangkan. Dengan barang - barang disini yang lebih bervariasi, murah, dan menggemaskan daripada di Indonesia, rasanya saat belanja juga jadi semakin semangat. Apalagi kamar saya yang sekarang ini memang tipe kamar impian saya dari dulu yaitu dengan jendela besar yang mendominasi kamar. Selain itu, ini juga jadi kesempatan bagi saya buat mengasah kreativitas (yaa walaupun saya bukan desain interior maupun orang kreatif, tapi bolehlah yaa coba - coba buat kreatif haha), serta menyicil barang - barang jika saya punya rumah sendiri nantinya. Misalnya barang - barang dekorasi yang dibeli saat di Inggris banyak yang saya gunakan kembali saat mendekorasi apartemen saya di Jakarta. Ditambah lagi dengan sifat saya yang cukup sentimental dengan barang, jadi saya pun berencana rumah saya nanti bukan hanya diisi oleh barang - barang milik bersama suami dan anak - anak saya, tetapi juga diisi dengan barang - barang yang saya kumpulkan saat saya tinggal dan mengunjungi berbagai negara *bolehlahyaamimpidisiangbolong* :))







Kebiasaan mendekor tempat tinggal ini juga sangat membantu saya dalam proses adaptasi disini sehingga enggak jadi galau berkepanjangan. Bahkan para keluarga dan sahabat saya langsung menyarankan supaya saya segera mendekor kamar karena mereka udah tau betapa dekorasi kamar/tempat tinggal itu bisa sangat signifikan mempengaruhi semangat saya. Dan memang benar sih. Sejak mulai memasuki minggu kedua disini, saya semakin senang bukan hanya karena pindah ke kamar yang lebih bersih (sebenarnya kalau dari layout, semua kamar disini sama semua bentuknya), tapi juga karena perlahan - lahan mulai banyak barang serta dekorasi di kamar saya. Selama satu sampai dua minggu pertama disini, hampir setiap hari pasti setelah selesai kegiatan di kampus, saya pergi ke city centre buat membeli barang - barang di kamar. Karena yaa ituu, kalau di kamar bawaannya enggak betah dan rentan bikin galau karena terasa "sepi". Bahkan pengeluaran terbesar saya selama satu bulan ini lebih banyak untuk dekorasi dan perlengkapan buat di kamar. Iya, emang segitunya sampai saya rela menunda buat beli pakaian (padahal saya kesini bawa pakaian sedikit banget!), jarang jajan apalagi makan di luar, enggak jalan - jalan, hanya supaya saya bisa membuat kamar saya senyaman mungkin. Tapi bagi saya sih semua ini worth it banget, apalagi dengan kondisi saya saat ini yang lebih fleksibel kerja-nya (enggak harus di jurusan saya), jadi jelas banget kalau dengan mendekorasi kamar saya seperti ini bisa memberikan semangat dan kebahagiaan tersendiri :)