March 24, 2016

#ROH 24 : Exercise

Salah satu hal yang membuat saya merasa bersalah beberapa bulan lalu adalah absensi saya dari olahraga. Kayanya terakhir kali saya olahraga itu sekitar bulan Desember, itu pun juga seinget saya sih hanya sekali dalam sebulan itu. Padahal saya sadar kalau dengan rutinitas sehari - hari saya yang dihabiskan dengan duduk di depan komputer dan total jalan kaki yang enggak lebih dari satu kilometer; saya perlu banget meluangkan waktu untuk berolahraga. Tapi tetep aja tuh ujungnya enggak bisa membuat saya semangat buat olahraga. Sampai akhirnya saya baru kembali mendapatkan semangat itu ketika pindah kesini. Iya, akhirnya udah sebulan ini saya kembali menggerakkan badan sampai keringetan setiap minggunya, bahkan dengan intensitas yang lebih sering dari biasanya. Bukan cuma mengurangi rasa bersalah saya beberapa bulan ini dan membuat badan seger, tapi juga jadi salah satu cara membuat pikiran dan mood saya tetap positif. 

Sebenarnya ada yang menarik dari #ROH yang satu ini karena membuktikan bahwa kebahagiaan itu bisa datang dari mana aja, termasuk dari hal yang dulunya saya enggak pernah membayangkan akan menyukainya. Jadi kalau ada pepatah yang bilang "jarak antara benci dan suka itu sangat tipis", maka itulah yang terjadi dalam hubungan saya dengan olahraga. 


Dari saya duduk di sekolah dasar sampai kuliah, saya enggak pernah suka dengan pelajaran olahraga. Bener - bener paket lengkap deh kalau ini. Lengkap bencinya. Pertama, saya memang dasarnya enggak berbakat dengan olahraga APAPUN. Kalo main kasti pasti hampir enggak pernah berhasil memukul bola dengan benar, dan sebaliknya, hampir selalu kena pukul bola oleh tim lawan sebelum saya sampai di tiang hinggap. Waktu awalnya disuruh senam lantai, saya cuma bisa teknik koprol, bahkan saya baru bisa melakukan posisi kahyang dengan benar setelah berpuluh kali latihan. Saat saya terpaksa disuruh main basket, pasti saya menghindar dari teman satu tim saya karena saya enggak mau dikasih bolanya; kenapa? karena saya takut pas dilempar bolanya ke arah saya malah kena muka saya (soalnya trauma pernah kena muka. Errr). Kalo main sepak bola yang ada bolanya susah banget ketendang; kalo disuruh lompat jarak jauh saya cuma bisa lompat beberapa centimeter dari tempat pertama saya berdiri; dan masih banyak lagi fakta lainnya yang menunjukkan kelemahan saya di bidang olahraga. Pokoknya enggak ada deh olahraga yang bisa saya lakukan dengan benar. Kayanya olahraga yang saya bisa cuma badminton dan renang, itupun enggak bisa dibilang "jago". Kalo main badminton yang penting cock nya bisa melayang di udara, bisa bolak balik dipukul sama saya dan lawan main. Kalo renang, yang penting enggak sampai tenggelam. Ha! Hal lainnya yang membuat saya enggak suka dengan olahraga adalah karena stamina saya enggak sebesar kebanyakan orang. Gabungan antara darah rendah dan anemia membuat saya mudah lelah. Baru lari sebentar, saya udah mulai merasa pusing dan ngos-ngosan. Makanya waktu ada program lari setiap hari Jumat di SMA saya dulu, hampir selalu dipastikan kalau saya termasuk di barisan orang - orang paling belakang. Dengan berbagai kenyataan tersebut membuat saya bukan hanya jadi semakin enggak suka dengan olahraga, tapi juga selalu menghindar.

Tapi hidup memang selalu penuh dengan kejutan. Justru di saat pelajaran olahraga benar - benar enggak ada dalam hidup saya dan saya enggak perlu melakukan olahraga lagi jika saya memang enggak mau, tapi disitulah saya malah menemukan kebahagiaan dalam berolahraga yang belum pernah saya temui sebelumnya. Dan siapa sangka, bukan hanya memberi manfaat yang luar biasa bagi kesehatan saya, tapi juga membawa saya kepada sebuah hubungan yang lebih baik dengan "olahraga" hingga saat ini.

sebuah tulisan yang saya buat sekitar enam tahun yang lalu dan saya bersyukur banget sempat menulisnya di Tumblr saya, jadi sampai sekarang masih bisa saya baca :') 

Semenjak saya merasakan manfaat yang signifikan dari lari, saya enggak pernah lagi melihat olahraga sebagai musuh saya atau suatu hal yang saya benci. Yaa, walaupun tetap aja sih kemampuan saya di bidang ini enggak meningkat, serta saya tetap aja enggak mau dihadapi lagi dengan masa - masa harus melewati pelajaran olahraga atau lari bersama setiap Jumat. Haha. Saya sadar bahwa saya hanya bisa menikmati olahraga ketika saya melakukannya tanpa membawa beban di pundak saya atau tanpa dihadapkan dengan "kompetisi". Sampai sekarang pun saya tetap aja enggak mau ikut lomba lari, meskipun saya suka lari. Karena hal yang membuat saya yang tadinya enggak suka lari jadi suka lari adalah ketika saya enggak perlu ngos-ngosan sampai sesak napas atau merasa pusing sampai mau pingsan. Saya lari sesuai kemampuan saya, yang mana saat saya udah merasa mulai pusing maka saya jalan, dan ketika saya udah siap maka saya kembali lari. Saya suka lari ketika saya melakukannya di tempat terbuka entah itu di komplek rumah saya, taman, gelanggang olahraga, hingga pantai; sambil mendengarkan musik kesukaan dari ipod saya; sambil menikmati keadaan yang sedang terjadi di sekitar saya. Dengan begitu, lari bisa membangkitkan berbagai pikiran positif dan semangat saya; bahkan menjadi salah satu cara mendapatkan kebahagiaan bagi saya. 

Berhubung enggak bisa foto saat kelasnya udah dimulai, 
maka saya curi - curi foto saat sebelum zumba aja :3

Nah, sekarang kita masuk ke bagian inti postingan ini. Ha! Jadi ceritanya sebulan ini saya banyak mendapatkan asupan kebahagiaan dari olahraga, salah satunya adalaaaah Zumba! Sejak pertama kali mengenal zumba tiga tahun lalu, tepatnya saat saya menjadi anggota di sebuah gym di Bournemouth, saya langsung suka dan ketagihan. Bagi saya ini fun banget karena lebih terasa seperti menari daripada olahraga. Dengan diiringi berbagai lagu yang energetic, serta gerakannya yang variatif mulai dari salsa, hip-hop, flamenco, samba, hingga modern dance, jadi enggak bikin bosen.

Tapi sayangnya semua itu langsung hilang saat saya kembali ke Jakarta dikarenakan berbagai rutinitas, jarak dan kondisi lalu lintas di kota ini yang membuat saya akhirnya enggak pernah lagi melakukan zumba selama dua setengah tahun belakangan ini. Jadi kebayang dong yaa buat orang seperti saya yang selama ini sangat terbatas menyukai olahraga, dan kembali ditemukan dengan zumba itu rasanya luar biasa senang! Apalagi dengan tempatnya yang lebih bagus, para anggotanya yang sebagian besar masih pada muda (karena kelas zumba sebelumnya yang saya ikuti kebanyakan anggotanya adalah ibu - ibu), serta jarak antara gym dengan dorm saya yang hanya beberapa langkah aja; kali ini saya semakin semangat dan enggak sabar menanti kelas zumba yang (sayangnya hanya) diadakan tiga kali seminggu.  


Hal lainnya yang akhir - akhir ini juga membuat saya semangat berolahraga adalah ketertarikan saya yang baru saya temui di kelas yoga yang sedang saya jalani saat ini. Ternyata instruktur yoga itu pengaruh banget loh bagi saya. Karena sebelum ini saya sempat dua kali menjalani yoga di tempat dan instruktur yang berbeda (yang satu di Bournemouth dan satu lagi di Jakarta), dan enggak ada satupun yang membuat saya betah dan semangat untuk terus mengikutinya. Berhubung saya masih agak penasaran dengan yoga, dan disini enggak ada kelas yang cocok dengan saya selain zumba, akhirnya saya iseng - iseng coba ikut kelas yoga. Surprisingly, banyak gerakan yang cukup berbeda dari yang diajarkan di kedua tempat sebelumnya dan entah kenapa kali ini efek "spiritual"-nya lebih terasa. Walaupun baru lima kali datang, tapi sejauh ini sih saya masih ketagihan buat terus ikut kelas yoga berikutnya. Doakan aja kelas yoga kali ini akan cocok dengan saya hingga seterusnya :3

7 comments:

  1. Yoga emang enak kalau gurunya enak, support & bikin nyaman... Brasa bgt pas nyobain yoga sekarang, lbh enak krn ngga sengos2an lari tapi keringetnya ttp bleber hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa bener banget mbaa, kalo gurunya enggak enak jd enggak semangatt. wihh kalo aku baru 5x ikutan lagi sekarang udha mulai kerasa lebih lentur badannya.. awal kesini masih kaku banget haha

      Delete
  2. Aku juga terjebak dalam love-hate relationship sama olahraga haha. Bedanya, aku bisanya senam lantai, cuma untuk rutin olahraga adalah hal yang susah -,-
    cuma belakangan sadar dengan sendirinya. Setelah lihat2 kerjaan yang mostly duduk doank dan makan juga nggak selalu sehat, jadi ya dengan sendirinya pengen olahraga. Eh ternyata setelah kebiasa, olahraga bikin happy, at least ngebantu aku ngatasin insom yang parah.

    duh jadi curhat :D haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha emang yaa pada akhirnya baru bisa tergerak setelah sadar sendiri atau mesti ada sesuatu yang mendorong kita dulu baru bisa rajin olahraga. Aku juga tadinya insomnia tapi semenjak olahraga lebih bisa cepet tidurnya, at least ga lewat dari jam 1 lagi tidurnya sekarang :D

      Delete
  3. sipz, setuju kak, olah raga itu inspirasi

    ReplyDelete
  4. Nazu~~~
    Akhirnya aku mampir lagi ke blogmu, hihi.
    Engga nyangka sekarang kita bisa 'kerja bareng' di Virala/Kamantara. Hope to read more posts of yours! ;)
    Anyway, dua bulan terakhir aku juga lagi seneng-senengnya zumba. Awalnya pingin yoga, tapi aku tuh bukan tipikal orang yang suka diam dan tenang gitu, jadi zumba cocok banget buatku, dan sekarang nagih! I always wait for the next sessions! Hihi.
    Happy work out, dan sukses studinya, Nazu!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Primaaa! Iyaa yaa lucu banget enggak sengaja bisa ketemu di Kamantara hihii. Aku pun enggak sabar nunggu postingan kamu berikutnyaa :)
      Nahh iya bangeet, aku juga lebih suka olahraga yang enggak bisa diem wkwk.
      Makasih primaa, sukses juga buat segala urusanmu yaa :D

      Delete