October 27, 2015

Kyoto Guide (Part Two)

 • Ichijoji & Surroundings 

Awalnya saya kesini karena mencari dua toko buku yang konon katanya paling kece di Kyoto: Prinz (yang udah sempat saya bahas di postingan sebelumnya) dan Keibunsha. Dalam perjalanan menuju lokasi ini, saya sempat agak menyesal karena ternyata jaraknya lebih jauh dari perkiraan sebelumnya (sekitar satu jam naik bus dari Kyoto Bus Station). Tapi rasa sesal dan capek saya itu mulai menghilang ketika sampai di neighbourhood ini. Lebih tepatnya sih saat melihat tempatnya yang sangat tenang di antara perumahan asri dengan berlatarkan bukit hijau. Walaupun sebagian besar neighbourhood yang saya kunjungi di Jepang hampir dipastikan selalu tenang, tapi yaa karena tiap - tiap dari mereka punya karakter yang berbeda - beda, jadi saya pun enggak pernah bosan untuk mengunjunginya. Dan yang paling menyenangkan dari semua itu adalah keberadaan local shops and cafes yang berhasil bikin saya berbinar - binar ketika melihat display store mereka. Rasanya pengen banget masukin setiap toko dan kafe kalau enggak mengingat yen yang tersisa di dompet saya. Hiks! Belum lagi dengan berbagai scenes yang biasanya hanya saya lihat ketika di komik atau film manga, seperti orang - orang menyebrang rel kereta yang berada ditengah - tengah permukiman (tapi jangan disamain dengan kondisi permukiman bantaran rel kereta di Indonesia ya!), sekelompok anak - anak SD berkumpul untuk makan bekal mereka di salah satu sudut toko, dan masih banyak "pemandangan" lainnya yang mungkin enggak akan saya temukan ketika hanya berjalan - jalan di pusat kota atau tempat - tempat wisata.  







 • Nihonkan 

Saya jarang banget merekomendasikan sebuah tempat menginap, tapi yang satu ini menurut saya benar - benar memuaskan dari berbagai hal. Mulai dari tempatnya yang sangat strategis (cuma 5 menit jalan ke Kyoto Station), orang - orangnya yang sangat baik dan helpful, tempatnya bersih dan nyaman, harganya yang affordable, dan tempat ini terbilang unik dibandingkan hotel pada umumnya.   Selain tempat tidurnya yang masih dari futon, interior hotel dan kamarnya yang masih kental dengan budaya tradisional Jepang, makanan yang disajikan juga yang khas Kyoto, dan mereka menyediakan onsen, alias pemandian umum (yang tentunya dibedakan perempuan dan laki - laki, ya!). Jadi buat kalian yang mau merasakan sensasi onsen, bisa dicoba disini, heeeu!



• Keibunsha Bookshop 

Seneng banget! Itu yang saya rasakan saat menemukan Keibunsha. Bukan cuma karena perjuangan yang udah saya lalui untuk bisa sampai ke toko buku ini (perjalanan bus satu jam dan ditambah setengah jam jalan kaki dengan bergantung pada Google Maps), tapi karena tempatnya memang sesuai dengan ekspektasi saya, bahkan beyond that! Dari penampakkan luar bangunannya aja udah terlihat kalau tempat ini 'special'. Entah kenapa, saya punya feeling toko buku ini dimiliki oleh seorang European, khususnya Parisian *mulai sotoy berlebihan*. Tebakan ini sebenarnya karena melihat eksterior dan interior gedungnya yang pretty much reminded me of Paris. Selain menjual berbagai buku dan majalah (mostly indiein both Japanese and English versions, Keibunsha juga menjual craft, stationery & cafe. It's such a perfect place banget enggak sih? 








• Demachi Futaba 

Sebagai salah satu penikmat makanan manis dan kue mochi, saya pun penasaran dengan wagashi (Japanese sweets) yang menjadi salah satu makanan khas dari Kyoto. Nah, dari berbagai browsing saya sebelumnya, ternyata tempat yang paling banyak direkomendasikan untuk membeli wagashi ini adalah Demachi Futaba. Dan ternyata memang enak kok! Tapi berhubung saya enggak pernah membeli wagashi dari toko lain, jadinya saya enggak ada perbandingan dan enggak bisa menyimpulkan kalau Demachi ini lebih baik atau enggak. It's worth trying, regardless! 



• Arashiyama 

Kota kecil yang terkenal dengan Bamboo Groves-nya ini memang perlu dimasukkin di itinerary saat kalian berkunjung ke Kyoto. Letaknya yang dekat dengan pegunungan dan berada di kawasan rural, bisa jadi salah satu alternatif ketika kalian lagi penat dengan kehidupan kota (though I doubt you would ever get bored in Kyoto!). Dengan menghabiskan waktu sekitar dua jam, saya cukup puas mengelilingi Arashiyama, tepatnya ke Tenryuji Temple, Bamboo Groves, Togetsukyo, dan menikmati beberapa sudut kota yang berbeda dari Kyoto. 







• Teramachi 

Untuk sampai ke shopping district ini memang perlu perjuangan tersendiri. Bahkan saya hampir menyerah untuk enggak mengunjunginya karena sempat kebingungan dengan Google Maps yang mengarahkan tempat ini ke suatu daerah yang enggak sesuai dengan deskripsi "Teramachi" yang saya lihat di suatu website dan Instagram. Beberapa kali bertanya dengan orang - orang yang saya temui di jalan, dan mereka pun enggak familiar dengan lokasinya. Sampai akhirnya saya bertemu dengan salah satu wanita di jalan yang dengan sangat baiknya menanyakan ke orang lain dan mereka bahkan sempat berdiskusi tentang tempat ini. Disitu kadang saya merasa terharu dengan kebaikan orang - orang Jepang yang mau segitunya direpotkan padahal kenal juga enggak kaan :') . Overall, this shopping district is well worth visiting as it has this unique vibe, especially after dark, when the streets were lighted by the lampions. Oh iya, untuk mengelilingi Teramachi sampai "tuntas" perlu waktu beberapa jam sendiri, mengingat tempat ini juga terbagi ke beberapa sub-district yang membedakan antara local, high-street and luxury brands.   




• Pontocho Alley 

Considered as one of the most beautiful streets in Kyoto, tempat ini wajib banget ada di itinerary kamu! Disini juga masih kental banget kehidupan tradisional Jepangnya, karena di sisi kanan dan kiri gang ini dipenuhi dengan bar, hotel, 'warung' ramen, restoran keluarga, yang semuanya masih dalam bentuk aslinya alias 'kuno'. By day, it's not much to look at. But in the evening, when all the lamps have lighten the alley, Poncho becomes a magical place!



October 20, 2015

Logarhythm.




Dress: Unbranded. Crop Sweater: Tailor-made. 
Bag: Lacoste. Shoes: Stradivarius.

October 15, 2015

Perempuan, S3, dan Jodoh

Kalau kamu perhatikan atau sering baca tulisan di blog saya, kamu pasti paham bahwa saya bukan termasuk orang yang suka menye-menye atau menggalau secara eksplisit disini. Saya juga sebisa mungkin meminimalisir tulisan yang bersifat terlalu personal. Karena memang pada dasarnya saya bukan termasuk orang yang suka menceritakan masalah pribadi saya ke orang lain. Jangankan disini, menceritakan kehidupan saya ke orang - orang terdekat saya sekalipun aja susah banget rasanya. Tapi berhubung yang satu ini udah lama banget mengendap di pikiran saya dan juga dari pengalaman saya bertemu dengan banyak orang akhir - akhir ini membuat saya semakin tergelitik untuk menceritakan pendapat saya tentang topik ini, akhirnya sekarang saya memberanikan diri untuk mengungkapkan pandangan dan pengalaman saya pribadi terhadap status perempuan dengan pendidikan S3 dan, ehm, jodoh. Oh iya, semua isi tulisan ini sama sekali enggak ada maksud apapun dan tidak ditujukan kepada siapapun. Saya hanya ingin berbagi pandangan dan meluruskan apa yang dapat diluruskan :)

Beberapa dari kamu yang sempat membaca salah satu postingan saya sebelumnya dan membaca beberapa komen di Instagram saya, pasti udah tau bahwa dalam waktu dekat saya akan melanjutkan studi doktor. Enggak sedikit orang yang kaget begitu mendengar keputusan saya untuk melanjutkan sekolah. Mereka lebih kaget lagi ketika baru mengetahui bahwa studi doktoral ini akan memakan waktu sekitar tiga sampai empat tahun. Entah udah berapa ratus orang yang saya temui menanyakan hal ini baik secara langsung maupun tidak langsung, "Kalau S3 sampai 3-4 tahun gitu, nikahnya kapan?", atau, "Sebaiknya cari suami dulu sekarang. Kalau udah gelar doktor gitu nanti susah loh cari calon. Biasanya laki-laki takut loh sama perempuan yang pendidikannya lebih tinggi dari dia". Atau komentar lainnya adalah "Hati - hati jangan sampai terlalu fokus mengejar karier. Teman saya sudah berusia 40 tahun sampai sekarang belum menikah.. Padahal cantik, pintar, pokoknya sosoknya sempurna deh! Tapi laki - laki pada keburu minder duluan sama dia".  Sebenarnya enggak ada yang salah sih dengan berbagai tanggapan tersebut. Malah terdengar wajar banget orang - orang mempertanyakan ketika melihat seorang perempuan berumur 24 tahun sudah memutuskan untuk melanjutkan S3. Apalagi perempuan tersebut belum menikah, bahkan calon pun belum ada (ha!). Jadi dengan berbagai fakta tersebut, enggak sedikit yang berpendapat bahwa saya terlalu cepat dan naif untuk mengambil keputusan ini, atau terlalu fokus untuk mengejar karir. Mulai dari keluarga dan teman terdekat saya, hingga orang yang baru kenal dengan saya, banyak yang ikut "prihatin" dengan kondisi saya saat ini. Dan entah sudah berapa puluh kali mereka menawarkan untuk menjodohkan saya dengan kerabat mereka. Enggak, enggak ada yang salah kok dengan semua tindakan dan pemikiran mereka tersebut. Saya tau bahwa mereka semua memiliki maksud yang baik. Hanya saja, kadang masih ada beberapa hal yang enggak dipahami oleh mereka ketika menceritakan atau menasehati saya. Dan tanpa sadar, ucapan - ucapan mereka yang terdengar wajar tersebut lama kelamaan terdengar seperti cerita horor yang membuat saya takut dan ragu untuk mencapai mimpi saya.



Sebenarnya saya masih bingung sih sama orang yang bilang kalau laki - laki takut sama perempuan yang udah melanjutkan studi doktoral. Alasannya karena mereka takut dengan perempuan yang terlalu pintar. Padahal sebenarnya bagi mereka yang bisa membuka pikiran mereka, tingkat pendidikan itu bukan terkait pada faktor kepintaran, tapi lebih kepada prioritas masing - masing individu. Masa hari gini masih aja sih mikir bahwa tingkat kecerdasan dan kepintaran seseorang berbanding lurus dengan gelar pendidikan mereka? Kalau saya sih enggak percaya. Enggak perlu pake data statistik atau penelitian segala, dari hasil pengamatan sekilas aja udah ketebak kok kalau banyak orang yang gelarnya belum S2 atau bahkan belum S1, tapi lebih pintar dari orang yang udah menyandang gelar doktor bahkan profesor. Ditambah lagi untuk kasus saya (saya enggak tau kalau orang lain), mendapatkan beasiswa dan universitas di luar negeri itu bukan karena faktor kepintaran, tapi lebih karena hasil dari kerja keras saya dan juga faktor keberuntungan. Saya akui kalau saya adalah orang yang sangat pekerja keras ketika saya ingin mencapai sesuatu. Tetapi kalau pintar, sebenarnya saya termasuk yang biasa aja. AVERAGE. Rata - rata. Malahan saya sangat yakin kalau kamu yang baca tulisan ini adalah orang yang lebih hebat, pintar dan memiliki wawasan yang lebih luas dari saya. 

Alasan utama kenapa saya mau melanjutkan S3 adalah karena saya memang ingin dan butuh untuk ke depannya. Ingin, karena saya suka melakukan penelitian, penasaran dengan berbagai fenomena - fenomena yang terjadi di dalam kehidupan kota dan desa, serta saat ini sedang sangat penasaran sekaligus tertarik dengan sebuah hal yang saya ajukan sebagai topik penelitian doktoral saya. Butuh, karena saya berniat untuk terus menjadi dosen dan peneliti di bidang yang saya geluti saat ini, dan gelar doktoral dibutuhkan untuk karir saya ke depannya. Saya hanya takut semakin lama saya menunda untuk melanjutkan studi, kapasitas otak dan tingkat semangat saya untuk sekolah akan semakin rendah. Apalagi sebenarnya rencana saya untuk mengambil program doktor ini udah ada sejak dua tahun yang lalu tepatnya ketika saya masih menjalani program master. Saat itu saya udah memutuskan untuk jadi dosen ke depannya dan makanya saya sebenarnya ingin langsung melanjutkan ke program doktor. Tapi setelah beberapa pertimbangan, seperti salah satunya adalah saya ingin mendapatkan pengalaman mengajar dan meneliti di bidang yang saya tekuni, maka saya memutuskan untuk pulang dulu. Jadi jelas bahwa keputusan S3 ini bukan karena saya ikut-ikutan orang lain, apalagi karena ingin merasa lebih dianggap, ingin dipandang hebat atau pintar. Kalau hanya untuk itu mah, mending cari jalan lain yang less risky daripada mengambil S3 yang menurut saya sendiri ini adalah keputusan terbesar yang pernah saya buat dalam hidup saya.



Kedua, saya S3 bukan karena saya mengutamakan karier dibandingkan menikah. Justru nih ya, kalau mau saya jujur - jujuran, saya lebih memilih ketika saya melanjutkan studi S3 nanti saya sudah ditemani oleh suami dibandingkan seorang diri. Karena dari pengalaman melanjutkan studi master sebelumnya, saya tau bahwa hidup di dunia yang benar - benar berbeda dengan kita dan berada di lingkungan yang enggak ada satu pun orang yang paham tentang diri kita, itu sulit. Walaupun sekarang saya bersyukur banget bisa melalui itu semua seorang diri karena hal itu justru membuat saya menjadi seseorang yang jauh lebih mandiri dan kuat. TAPI, beda halnya dengan yang akan saya jalani sekarang. Saya paham banget bahwa kadar stres, tanggung jawab dan tantangan yang akan dihadapi saat S3 ini akan sangat jauh lebih besar daripada saat S2. Makanya saya tau seberapa penting peran pasangan dalam menemani seseorang yang sedang melanjutkan studi doktor. Terus kenapa saya enggak menikah dulu? Well... Ini sebenarnya sudah saya pikirkan dari pertama kali niat untuk S3 sudah tercetus dari mulut saya. Dan yang paling penting adalah saya udah mencoba selama dua tahun disini. Sebenarnya salah satu alasan lain kenapa saya menunda S3 saya adalah karena saya ingin agar ketika S3 nanti saya sudah menikah. Dari yang tadinya tenang karena udah ada rencana yang cukup matang, lalu sempat kebingungan karena rencananya berubah, kemudian sempat ada harapan lagi untuk membuat rencana baru, sampai akhirnya sekarang I have no backup plans at all. Saya dalam keadaan yang benar - benar pasrah dan ikhlas dengan rencana Tuhan. Satu hal yang terus saya percaya adalah God's plans will always be greater than ours. Jadi saya percaya bahwa Tuhan akan memberikan seseorang yang terbaik di waktu yang paling tepat. 

Tapi ternyata enggak semudah itu... Masalah lain yang muncul ketika saya mencoba untuk pasrah dan yakin kepada rencana Tuhan adalah saat mendengar berbagai komentar, pertanyaan, tanggapan yang datang dari orang - orang yang saya temui. Sehingga yang tadinya saya masih merasa santai dengan status saya sebagai perempuan yang masih single dan percaya diri untuk melanjutkan studi doktoral, kemudian berubah menjadi seseorang yang selalu merasa insecure and somehow, I could see myself as a pathetic person. Gimana enggak menyedihkan coba, beberapa bulan belakangan ini hingga minggu lalu, saya menjadi seseorang yang bukan diri saya dan melakukan hal - hal yang enggak pernah saya lakukan sebelumnya karena termakan rasa takut yang dikatakan orang - orang tentang kondisi saya saat ini: "enggak menikah karena menempuh pendidikan terlalu tinggi". Akhirnya saya pun terus kepikiran untuk mencari jodoh sebelum S3. Mulai dari kepikiran (untungnya baru kepikiran, belum sampai melakukan suatu tindakan!) untuk kembali ke orang yang jelas - jelas bertentangan dengan hati nurani dan akal pikiran saya; mencoba untuk mempertahankan hubungan yang sebenarnya saya udah tau bahwa hubungan tersebut enggak akan bisa berhasil hingga beribu kali saya mencoba; termakan dengan harapan palsu ketika orang - orang berniat mengenalkan saya dengan kerabat mereka (I mean, plis deh, selama ini saya aja enggak pernah mau dijodohin, tapi sekarang malah berharap buat dijodohin!); sangat berharap bahwa saya akan bertemu dengan jodoh saya ketika ada kesempatan untuk bertemu dengan orang - orang dan lingkungan baru; hingga yang terakhir itu adalah akhirnya saya beneran jatuh hati *cieilah, Raisa banget nihhh* dengan seseorang yang baru beberapa hari ketemu tapi dari awal saya udah yakin banget sama dia dan bahkan udah berpikir jauh ke depan, tapi ternyata entah saya-nya aja yang terlalu geer atau orangnya yang terlalu narrow minded begitu mendengar saya mau studi S3 dalam waktu dekat, jadi ujung - ujungnya babay lagi. Enggak mau munafik, setelah itu saya sempat down banget dan merasa semakin desperate dengan diri saya. Merasa seolah - olah enggak ada yang mau sama saya gitu, loh! Hahaha. Padahal seumur - umur saya enggak pernah merasa seperti ini, bahkan sebelumnya pun saya cenderung yang enggak terlalu ribet untuk mikirin masalah jodoh dan nikah. 



Mengalami berbagai kondisi tersebut, membuat saya sempat berpikir untuk menunda rencana S3 sampai saya sudah menikah atau setidaknya udah ada kepastian tentang jodoh. Saya jadi sempat males - malesan untuk melanjutkan aplikasi sekolah dan semangat untuk mencapai mimpi saya mendadak hilang. Setiap hari saya digeluti perasaan yang enggak menentu. Fokus saya pun lama kelamaan menjadi hilang. Tetapi yaa terkadang manusia memang perlu merasakan titik terbawahnya. Karena dengan meluapkan semua kesedihan dan kekesalan saya selama ini (dan pastinya juga kehendak Tuhan untuk kembali mengingatkan saya), saya baru bisa merasa lega dan berpikir jernih kembali. Disitu saya kembali berpikir... Kalau saya menunda lagi, ini sama aja dengan menolak rezeki yang udah dikasih Tuhan ke saya dan menyia-nyiakan perjuangan besar yang udah saya lakukan selama setahun ini. Apalagi menunda untuk suatu hal yang belum jelas (maksudnya jodoh kan beneran enggak ada yang tau kapan datangnya) untuk suatu hal yang sudah pasti di depan mata itu rasanya terdengar agak naif. Lagipula saya enggak menyangka persiapan untuk sekolah ini begitu lancar. Walaupun ada beberapa hambatan dan sempat mengalami masa - masa berat selama mempersiapkannya, tapi yaaa itu, Tuhan selalu memberikan kemudahan di setiap kesulitan yang saya temui. Mulai dari pembuatan proposal penelitian yang saya buat sendiri, mendapatkan beasiswa, sampai bahkan ketika ada perubahan dengan proposal penelitian saya dan universitas yang saya tuju sehingga harus merombak kembali dan mendaftar ulang lagi ke beberapa universitas, pada akhirnya saya tetap diberi kemudahan untuk kembali mendapatkan universitas dan profesor dalam waktu yang cukup singkat. 

Bukan hanya bisa berpikir jernih kembali, saya jadi berbalik menertawakan diri saya sendiri begitu menyadari bahwa betapa bodohnya saya sudah terlalu memikirkan perkataan dan pendapat orang lain tentang suatu hal yang tidak mutlak, yang sebenarnya tergantung dengan pengalaman masing - masing orang, yang enggak bisa digeneralisir, yang bahkan mereka enggak mengerti kondisi saya sebenarnya seperti apa tetapi udah mencoba meramalkan masa depan saya. Diantara semua hal itu, satu kesalahan terbesar saya adalah sudah lebih mempercayai perkataan manusia dibandingkan dengan rencana-Nya. Padahal setiap sholat saya selalu berdoa untuk diberikan jodoh terbaik di waktu yang terbaik, dan juga dari awal saya mencoba untuk mengajukan beasiswa dan universitas, saya enggak pernah berhenti berdoa untuk dimudahkan jika memang yang terbaik bagi saya untuk melanjutkan studi S3 tahun ini, tetapi kalau ada jalan lain (termasuk urusan jodoh) yang lebih baik bagi saya, maka berikan kemudahan untuk melakukan jalan tersebut. Tetapi ternyata pikiran dan hati saya selama ini masih belum sepenuhnya sama dengan doa saya. Saya belum sepenuhnya yakin dengan jawaban dan rencana yang diberikan Tuhan. Dan mungkin itu yang menyebabkan hati saya selalu gusar beberapa saat ini. Sampai akhirnya saya benar - benar pasrah dengan semua rencana-Nya, saat itulah saya baru bisa merasa benar - benar tenang.  

 وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ 

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (Al Baqarah: 216) 



Saya enggak tau sih kalian menangkap inti tulisan panjang lebar ini atau justru yang terlihat hanya curhatan saya doang hahaha. Tapi saya harap tulisan ini bisa memberikan sebuah pandangan lain tentang perempuan (khususnya yang masih belum menikah) yang ingin melanjutkan pendidikan doktor. Karena semakin kesini jadi beban tersendiri bagi saya ketika saya bilang akan melanjutkan studi S3. Saya semakin segan untuk mengatakan hal tersebut, terutama ke orang - orang baru. Bukan hanya saya takut akan mengecewakan mereka karena dari awal sudah memiliki ekspektasi tinggi ke saya (padahal kenyataannya saya enggak segitu hebatnya), saya juga takut mereka akan menjadi segan dengan saya karena anggapan mereka yang melihat saya "lebih" dari mereka. Karena pada dasarnya dari dulu saya enggak suka melihat gap ketika saya berteman, entah itu karena faktor kekayaan, jabatan, tingkat pendidikan, asal, dan lainnya. Makanya, saya pun sebisa mungkin enggak mau orang lain jadi seperti itu ke saya. Saya senang dihargai oleh orang lain, tapi saya enggak mau mereka jadi segan atau bahkan menjaga jarak dengan saya. 

Sejujurnya, terlepas dari masalah jodoh, saya juga masih merasa takut buat menjalani kehidupan per-doktor-an ini. Enggak terbayang akan betapa stressnya jalan ini, enggak terbayang seberapa besar tantangan untuk mental, otak dan fisik saya dalam menghadapi beberapa tahun ke depan. Kadang saya takut juga sih saya akan menjadi seseorang yang berbeda atau bahkan sangat berbeda di beberapa tahun ke depan. Seperti seorang teman saya yang melontarkan candaannya, "Zu nanti jangan - jangan pas kita ketemu lagi, kamu udah berubah jadi enggak bisa diajak ngobrol santai, terus isi omongan kamu kebanyakan tentang teori - teori yang enggak bisa saya pahami". Awalnya saya tertawa mendengarnya, tapi kemudian berpikir lagi bahwa enggak ada sesuatu yang enggak mungkin terjadi. Selama ini saya selalu coba untuk menyeimbangkan kemampuan otak kanan dan kiri saya supaya bisa tetap waras haha. Salah satunya dengan posting hal - hal menyenangkan dan enggak terlalu serius di blog maupun instagram saya. Maklum, kehidupan saya aslinya udah terlalu serius, begitu juga pribadi saya. Makanya nih, kalau nanti ke depannya saya mulai posting yang terlalu serius atau udah enggak seperti sekarang, tolong banget kasih tau saya dan ingetin saya hahaha. Karena saya tetap ingin menjadi saya yang seperti ini untuk ke depannya. Saya percaya bahwa seseorang yang berhasil menempuh gelar doktor enggak selalu nerdy dengan tipikal orang yang sangat kaku, berkacamata tebal (padahal sekarang minus mata saya udah tinggi, jangan sampai naik lagi hiks), enggak bisa diajak becanda, bacanya cuma buku - buku akademik, berpenampilan acak-acakan atau malah kelewat formal. Intinya, saya berharap dan yakin bahwa studi doktor ini tidak akan merubah diri saya baik fisik maupun kepribadian saya sebelumnya. Doakan yaaa! :)

October 14, 2015

Go Do!







Dress: Vintage. Tights: H&M. Bag: Unbranded. 
Shoes: Stradivarius. Watch: Nixon. 

October 11, 2015

Happiness is strange; it comes when you are not seeking it. When you are not making an effort to be happy, then unexpectedly, mysteriously, happiness is there, born of purity, of a loveliness of being.

Krishnamurti

October 03, 2015

Kyoto's Guide (Part One)

Semakin sering saya melakukan perjalanan, saya semakin yakin bahwa mengunjungi tempat - tempat bersejarah dan budaya bukanlah minat saya. Hal ini sebenarnya udah saya sadari sejak saya kecil, ketika Bunda mengajak berkeliling di Bangkok waktu saya berusia sekitar sembilan tahun, hampir sebagian waktu kami dihabiskan dengan mengunjungi satu tempel ke tempel lain dan museum tentang Thailand. Semenjak itu, memori saya tentang kota tersebut agak kurang baik, alias saya menganggap kota tersebut membosankan karena perjalanan saya saat itu kurang terasa nikmat. Bukan apa - apa, karena memori yang terekam di otak saya adalah bagian Bangkok yang sepanjang sudut kota-nya hanya ada Buddhist temple aja! -___-" . Tapi karena udah dibiasakan dari kecil oleh Bunda saya untuk selalu mengunjungi tempat - tempat bersejarah dan museum, serta paradigma masyarakat yang masih menganggap bahwa ketika kita melakukan perjalanan itu perlu mengunjungi tempat - tempat tersebut untuk mengetahui lebih dalam tentang budaya dan sejarah lokal, alhasil cukup membuat saya jadi feel guilty ketika enggak mengunjungi tempat - tempat tersebut. Padahal saya tau dari lubuk hati saya yang terdalam, I'm not interested with it.

Sebaliknya, saya semakin yakin tertarik dengan tempat - tempat authentic yang bisa membuat saya merasa attached atau menimbulkan "sense of place". Sedikit penjelasan, sense of place ini adalah sebuah perasaan yang muncul karena ada keterikatan antara manusia dengan suatu tempat, entah itu dari memori masa kecil, atau perasaan yang muncul karena imajinasi kita ketika sebelumnya melihat atau mengetahui sesuatu tentang tempat tersebut dari film, komik, novel, lagu dan media lainnya. Sehingga ketika secara langsung kita mengunjungi tempat tersebut, ada sebuah perasaan nyaman layaknya ketika kamu menemukan atau kembali pulang ke "rumah". Dan setelah melakukan perjalanan beberapa kali, saya sangat menyadari bahwa perasaan tersebut muncul ketika saya terlibat dengan aktivitas masyarakat lokal and their everyday lives. Only those places that have certain charm which can fulfil my former imagination and picture what it was like to live there. Dan bisa ditebak bahwa tempat - tempat tersebut bukanlah tempat yang menjadi objek wisata (kecuali yang terkait dengan masa kecil saya secara langsung, seperti Disney, Ghibli dan berbagai kenangan masa kecil lainnya). THE POINT IS, jangan heran ketika membaca perjalanan saya di Kyoto. yang terkenal dengan berbagai tempelnya, saya justru hanya mengunjungi satu (iya, satu!) dan sisanya saya habiskan untuk mengunjungi neighbourhood, toko buku, kafe kecil, lingkungan perumahan dan sudut - sudut kota lainnya yang bisa memberikan saya gambaran tentang kehidupan sehari - hari masyarakat lokal disana. Dan tentunya, memunculkan keterikatan batin dan memberikan rekaman serta kenangan tentang kota cantik dan rendah hati ini kepada saya.

 • Kiyomizu-dera & Surroundings 

Diantara berbagai temple yang ada di Kyoto, hanya Kiyomizu-dera yang bisa menarik saya untuk berkunjung. Mungkin selain fotonya yang terlihat menarik (saya melihat foto teman saya ketika berkunjung di musim gugur, tempat ini terlihat jauuuh lebih cantik!), letaknya yang berada di lingkungan yang asri (di kaki bukit) dan dikelilingi dengan two of Kyoto's most attractive streets, Ninen-Zaka and Sannen-Zaka, cukup membuat saya penasaran. Dan hasilnya, sesuai denga ekspektasi saya, tempat ini sangat worth visiting! Hanya ada satu hal yang saya sesali, yaitu enggak membawa payung! Padahal hari - hari sebelumnya, saya selalu membawa payung ketika jalan - jalan. Tapi hari itu, entah kenapa kami merasa sangat yakin cuaca akan selalu cerah. Alhasil, ketika baru aja berjalan - jalan sebentar memasuki Sannen-Zaka, hujan mengguyur Kyoto dan saya pun enggak sempat banyak memfoto, karena fokus untuk mencari tempat berteduh (!). Padahal menikmati hujan di bawah payung dan berjalan di lingkungan ini akan sangat menyenangkan sekali, karena berjalan disini terasa seperti kembali ke Jaman Edo dengan bentuk rumah dan jalanan-nya yang masih sangat tradisional dan ditambah dengan anak - anak muda yang memakai baju Yukata untuk merayakan musim panas. Terlepas dari itu semua, tempat ini paling berhasil memikat hati saya di Kyoto :')    
Sudut foto paling mainstream di Kiyomizu-dera Temple

Jalanan favorit di Ninnen-Zaka Street

Sedikit bagian yang terfoto di Sannen-Zaka Street

Sepanjang jalan dari Kiyomizu-dera menuju Sannen-Zaka dan Ninen-Zaka juga enggak kalah menarik! Tapi disini lebih padat karena banyak turis yang baru mengunjungi Kiyomizu-dera 

 • Kasagiya 

Untuk menemukan tempat ini bukan secara kebetulan atau asal dipilih sebagai tempat berteduh ketika hujan mulai deras mengguyur Sannen-Zaka dan Ninen-Zaka. Justru sebenarnya kami bisa aja mencari tempat berteduh yang udah kami temui sebelum - sebelumnya saat mencari kedai kecil ini. Tapi karena saking besarnya rasa penasaran saya karena udah mendapatkan beberapa rekomendasi tentang suasana dan makanan di tempat ini, saya dan Gadis tetap berjalan terus menerobos hujan *halah*, sambil mencari tempat ini. Setelah beberapa kali bertanya ke beberapa orang yang berbeda di beberapa restoran yang berbeda pula (yang terakhir itu kami bertanya di toko yang persis berada di sebelah Kasagiya, dan ketika kami masuk hanya untuk bertanya dimana kedai ini, si ibu - ibu penjaga toko mukanya udah terlihat kecewa sekaligus malas huhu), akhirnya ketemu juga kedai yang yaa kalau dari luar memang mudah sekali untuk terlewati karena ukurannya yang kecil, tertutupi oleh tumbuhan berjalar daaan enggak ada papan nama dalam huruf alfabet! Hufttt. Anyway, tempat ini memang oke banget, karena berasa suasana Jepang tempo dulu, apalagi dengan ornamen kayu nya yang makin terasa tradisional. Dari hasil rekomendasi yang saya dapatkan akhirnya saya pesan Uji-kintoki. Walaupun overall rasanya enak, tapi karena saat itu suasananya dingin karena kami dalam keadaan basah-agak-kuyup dan di luar masih hujan deras, jadi semangkuk shaved-ice berukuran agak besar bisa dibilang kurang tepat untuk dipilih saat itu :(

Penampakan Kasagiya dari luar 

Uji-kintoki (yang di sebelah kiri), semacam es serut dengan green tea syrup dan di dalamnya ada mochi serta kacang merah. Yang di sebelah kanan lupa namanya (hee!), tapi sejenis juga, cuma beda rasa ajaa.  
Si pemilik kedai yang super ramah! 

Salah satu pojok kedai yang menurut saya paling fotogenic

• Prinz 

Salah satu kelemahan saya adalah ketika saya udah penasaran / suka / ambisius dengan satu hal, maka  pasti akan saya kejar, bagaimanapun caranya. Contoh kecilnya adalah ketika saya bela-belain mengunjungi toko buku yang sebenarnya letaknya jauh dari stasiun, berada di tengah - tengah permukiman, enggak banyak diketahui orang (bahkan karyawan Seven Eleven yang letaknya hanya berjarak beberapa ratus meter pun enggak tahu keberadaan toko buku ini!), dan again, enggak ada papan atau tanda yang menunjukkan nama tempat ini. Kalau aja saya enggak inget bentuk bangunannya, mungkin saya enggak akan menemukan tempat ini sekalipun saya udah berdiri di depannya. Jangan salahin saya, tapi salahin informasi yang saya dapat tentang tempat ini: "An art gallery, bookshop, garden and a library behind a minimalist facade". Coba, baca kalimatnya aja udah bikin penasaran kan? Yang terbayang pertama kali di benak saya adalah tempat ini semacam one-stop place gitu deh. Semua yang saya suka ada disini. Makanya saya bela - belain. Tapi... enggak taunya... mungkin nasib saya agak sial di hari itu, atau memang sesuatu yang terlalu dipaksakan itu memang enggak baik, saat saya datang kesana ternyata lagi ada acara private. Jadinyaa yang terbuka untuk publik hanya perpustakaanya aja, sedangkan untuk toko buku, taman dan art gallery nya ditutup :(( Tapi yang cukup menghibur adalah begitu melihat buku - buku di perpustakaan yang sebagian besarnya dalam bahasa Inggris (jarang banget ada toko buku yang seperti ini!), bahkan seinget saya enggak menemukan buku dalam Jepang ketika browsing buku disana. 






 • Gion

Selain kawasan Kiyomizu-dera, neighbourhood di Kyoto yang wajib dikunjungi adalah Gion. Seharusnya waktu yang paling tepat ke daerah ini adalah sore atau bahkan malam hari ketika para Geisha mulai keluar. Tapi dikarenakan kami udah berjanji ke Ayah-Bunda kalau enggak akan pulang diatas jam delapan, dan karena Gion udah searah dengan rute perjalanan kami dari Kiyomizu-dera, maka kami putuskan untuk mengunjungi distrik ini di siang hari. Walaupun masih sepi, tapi tetap menyenangkan kok jalan - jalan di sekitar daerah ini karena ada aja hal - hal yang menarik yang saya temui di jalan. Mulai dari sepasang kekasih (eaaa) yang lagi foto pre-wedding, para gadis sedang we-fie dengan Yukata mereka yang cantik, kantor pos yang super kawaii, bertemu Geisha... yang ternyata  wisatawan asing yang sedang mengikuti paket wisatawan untuk merasakan jadi seorang Geisha (huft!), hingga berbagai bangunan tradisional Jepang yang masih terlihat kokoh dan sangat terawat. Kalau ada kesempatan lagi untuk datang ke Kyoto, saya pasti akan mengunjungi Gion lagi, dengan lebih banyak sudut yang dijelajahi, menghabiskan waktu yang lebih lama dan tentunya berkunjung saat malam hari untuk lebih merasakan sisi lain kota ini.