October 03, 2015

Kyoto's Guide (Part One)

Semakin sering saya melakukan perjalanan, saya semakin yakin bahwa mengunjungi tempat - tempat bersejarah dan budaya bukanlah minat saya. Hal ini sebenarnya udah saya sadari sejak saya kecil, ketika Bunda mengajak berkeliling di Bangkok waktu saya berusia sekitar sembilan tahun, hampir sebagian waktu kami dihabiskan dengan mengunjungi satu tempel ke tempel lain dan museum tentang Thailand. Semenjak itu, memori saya tentang kota tersebut agak kurang baik, alias saya menganggap kota tersebut membosankan karena perjalanan saya saat itu kurang terasa nikmat. Bukan apa - apa, karena memori yang terekam di otak saya adalah bagian Bangkok yang sepanjang sudut kota-nya hanya ada Buddhist temple aja! -___-" . Tapi karena udah dibiasakan dari kecil oleh Bunda saya untuk selalu mengunjungi tempat - tempat bersejarah dan museum, serta paradigma masyarakat yang masih menganggap bahwa ketika kita melakukan perjalanan itu perlu mengunjungi tempat - tempat tersebut untuk mengetahui lebih dalam tentang budaya dan sejarah lokal, alhasil cukup membuat saya jadi feel guilty ketika enggak mengunjungi tempat - tempat tersebut. Padahal saya tau dari lubuk hati saya yang terdalam, I'm not interested with it.

Sebaliknya, saya semakin yakin tertarik dengan tempat - tempat authentic yang bisa membuat saya merasa attached atau menimbulkan "sense of place". Sedikit penjelasan, sense of place ini adalah sebuah perasaan yang muncul karena ada keterikatan antara manusia dengan suatu tempat, entah itu dari memori masa kecil, atau perasaan yang muncul karena imajinasi kita ketika sebelumnya melihat atau mengetahui sesuatu tentang tempat tersebut dari film, komik, novel, lagu dan media lainnya. Sehingga ketika secara langsung kita mengunjungi tempat tersebut, ada sebuah perasaan nyaman layaknya ketika kamu menemukan atau kembali pulang ke "rumah". Dan setelah melakukan perjalanan beberapa kali, saya sangat menyadari bahwa perasaan tersebut muncul ketika saya terlibat dengan aktivitas masyarakat lokal and their everyday lives. Only those places that have certain charm which can fulfil my former imagination and picture what it was like to live there. Dan bisa ditebak bahwa tempat - tempat tersebut bukanlah tempat yang menjadi objek wisata (kecuali yang terkait dengan masa kecil saya secara langsung, seperti Disney, Ghibli dan berbagai kenangan masa kecil lainnya). THE POINT IS, jangan heran ketika membaca perjalanan saya di Kyoto. yang terkenal dengan berbagai tempelnya, saya justru hanya mengunjungi satu (iya, satu!) dan sisanya saya habiskan untuk mengunjungi neighbourhood, toko buku, kafe kecil, lingkungan perumahan dan sudut - sudut kota lainnya yang bisa memberikan saya gambaran tentang kehidupan sehari - hari masyarakat lokal disana. Dan tentunya, memunculkan keterikatan batin dan memberikan rekaman serta kenangan tentang kota cantik dan rendah hati ini kepada saya.

 • Kiyomizu-dera & Surroundings 

Diantara berbagai temple yang ada di Kyoto, hanya Kiyomizu-dera yang bisa menarik saya untuk berkunjung. Mungkin selain fotonya yang terlihat menarik (saya melihat foto teman saya ketika berkunjung di musim gugur, tempat ini terlihat jauuuh lebih cantik!), letaknya yang berada di lingkungan yang asri (di kaki bukit) dan dikelilingi dengan two of Kyoto's most attractive streets, Ninen-Zaka and Sannen-Zaka, cukup membuat saya penasaran. Dan hasilnya, sesuai denga ekspektasi saya, tempat ini sangat worth visiting! Hanya ada satu hal yang saya sesali, yaitu enggak membawa payung! Padahal hari - hari sebelumnya, saya selalu membawa payung ketika jalan - jalan. Tapi hari itu, entah kenapa kami merasa sangat yakin cuaca akan selalu cerah. Alhasil, ketika baru aja berjalan - jalan sebentar memasuki Sannen-Zaka, hujan mengguyur Kyoto dan saya pun enggak sempat banyak memfoto, karena fokus untuk mencari tempat berteduh (!). Padahal menikmati hujan di bawah payung dan berjalan di lingkungan ini akan sangat menyenangkan sekali, karena berjalan disini terasa seperti kembali ke Jaman Edo dengan bentuk rumah dan jalanan-nya yang masih sangat tradisional dan ditambah dengan anak - anak muda yang memakai baju Yukata untuk merayakan musim panas. Terlepas dari itu semua, tempat ini paling berhasil memikat hati saya di Kyoto :')    
Sudut foto paling mainstream di Kiyomizu-dera Temple

Jalanan favorit di Ninnen-Zaka Street

Sedikit bagian yang terfoto di Sannen-Zaka Street

Sepanjang jalan dari Kiyomizu-dera menuju Sannen-Zaka dan Ninen-Zaka juga enggak kalah menarik! Tapi disini lebih padat karena banyak turis yang baru mengunjungi Kiyomizu-dera 

 • Kasagiya 

Untuk menemukan tempat ini bukan secara kebetulan atau asal dipilih sebagai tempat berteduh ketika hujan mulai deras mengguyur Sannen-Zaka dan Ninen-Zaka. Justru sebenarnya kami bisa aja mencari tempat berteduh yang udah kami temui sebelum - sebelumnya saat mencari kedai kecil ini. Tapi karena saking besarnya rasa penasaran saya karena udah mendapatkan beberapa rekomendasi tentang suasana dan makanan di tempat ini, saya dan Gadis tetap berjalan terus menerobos hujan *halah*, sambil mencari tempat ini. Setelah beberapa kali bertanya ke beberapa orang yang berbeda di beberapa restoran yang berbeda pula (yang terakhir itu kami bertanya di toko yang persis berada di sebelah Kasagiya, dan ketika kami masuk hanya untuk bertanya dimana kedai ini, si ibu - ibu penjaga toko mukanya udah terlihat kecewa sekaligus malas huhu), akhirnya ketemu juga kedai yang yaa kalau dari luar memang mudah sekali untuk terlewati karena ukurannya yang kecil, tertutupi oleh tumbuhan berjalar daaan enggak ada papan nama dalam huruf alfabet! Hufttt. Anyway, tempat ini memang oke banget, karena berasa suasana Jepang tempo dulu, apalagi dengan ornamen kayu nya yang makin terasa tradisional. Dari hasil rekomendasi yang saya dapatkan akhirnya saya pesan Uji-kintoki. Walaupun overall rasanya enak, tapi karena saat itu suasananya dingin karena kami dalam keadaan basah-agak-kuyup dan di luar masih hujan deras, jadi semangkuk shaved-ice berukuran agak besar bisa dibilang kurang tepat untuk dipilih saat itu :(

Penampakan Kasagiya dari luar 

Uji-kintoki (yang di sebelah kiri), semacam es serut dengan green tea syrup dan di dalamnya ada mochi serta kacang merah. Yang di sebelah kanan lupa namanya (hee!), tapi sejenis juga, cuma beda rasa ajaa.  
Si pemilik kedai yang super ramah! 

Salah satu pojok kedai yang menurut saya paling fotogenic

• Prinz 

Salah satu kelemahan saya adalah ketika saya udah penasaran / suka / ambisius dengan satu hal, maka  pasti akan saya kejar, bagaimanapun caranya. Contoh kecilnya adalah ketika saya bela-belain mengunjungi toko buku yang sebenarnya letaknya jauh dari stasiun, berada di tengah - tengah permukiman, enggak banyak diketahui orang (bahkan karyawan Seven Eleven yang letaknya hanya berjarak beberapa ratus meter pun enggak tahu keberadaan toko buku ini!), dan again, enggak ada papan atau tanda yang menunjukkan nama tempat ini. Kalau aja saya enggak inget bentuk bangunannya, mungkin saya enggak akan menemukan tempat ini sekalipun saya udah berdiri di depannya. Jangan salahin saya, tapi salahin informasi yang saya dapat tentang tempat ini: "An art gallery, bookshop, garden and a library behind a minimalist facade". Coba, baca kalimatnya aja udah bikin penasaran kan? Yang terbayang pertama kali di benak saya adalah tempat ini semacam one-stop place gitu deh. Semua yang saya suka ada disini. Makanya saya bela - belain. Tapi... enggak taunya... mungkin nasib saya agak sial di hari itu, atau memang sesuatu yang terlalu dipaksakan itu memang enggak baik, saat saya datang kesana ternyata lagi ada acara private. Jadinyaa yang terbuka untuk publik hanya perpustakaanya aja, sedangkan untuk toko buku, taman dan art gallery nya ditutup :(( Tapi yang cukup menghibur adalah begitu melihat buku - buku di perpustakaan yang sebagian besarnya dalam bahasa Inggris (jarang banget ada toko buku yang seperti ini!), bahkan seinget saya enggak menemukan buku dalam Jepang ketika browsing buku disana. 






 • Gion

Selain kawasan Kiyomizu-dera, neighbourhood di Kyoto yang wajib dikunjungi adalah Gion. Seharusnya waktu yang paling tepat ke daerah ini adalah sore atau bahkan malam hari ketika para Geisha mulai keluar. Tapi dikarenakan kami udah berjanji ke Ayah-Bunda kalau enggak akan pulang diatas jam delapan, dan karena Gion udah searah dengan rute perjalanan kami dari Kiyomizu-dera, maka kami putuskan untuk mengunjungi distrik ini di siang hari. Walaupun masih sepi, tapi tetap menyenangkan kok jalan - jalan di sekitar daerah ini karena ada aja hal - hal yang menarik yang saya temui di jalan. Mulai dari sepasang kekasih (eaaa) yang lagi foto pre-wedding, para gadis sedang we-fie dengan Yukata mereka yang cantik, kantor pos yang super kawaii, bertemu Geisha... yang ternyata  wisatawan asing yang sedang mengikuti paket wisatawan untuk merasakan jadi seorang Geisha (huft!), hingga berbagai bangunan tradisional Jepang yang masih terlihat kokoh dan sangat terawat. Kalau ada kesempatan lagi untuk datang ke Kyoto, saya pasti akan mengunjungi Gion lagi, dengan lebih banyak sudut yang dijelajahi, menghabiskan waktu yang lebih lama dan tentunya berkunjung saat malam hari untuk lebih merasakan sisi lain kota ini. 





No comments:

Post a Comment