November 29, 2015

#ROH 10 : Analogue Camera

Salah satu barang yang enggak akan pernah bikin saya bosan, bahkan ketika sudah memakainya selama ratusan kali, adalah kamera analog. Bukan hanya bentuknya yang bikin gemes, tapi juga kepuasan yang diberikan oleh kamera analog yang enggak bisa didapatkan dari kamera digital. Mulai dari rasa penasaran saat menunggu hasil fotonya, serta kejutan - kejutan yang didapatkan saat melihat hasilnya yang unik. Karena itulah akhirnya saya memutuskan untuk menambah koleksi kamera analog saya dengan membeli Fujifilm Instax Mini 90 Neo Classic. Walaupun kali ini saya enggak perlu menunggu lama untuk melihat hasilnya, tetap aja ada excitement yang sama ketika melihat gambarnya muncul perlahan - lahan di kertas film. Sebenarnya ketertarikan saya terhadap kamera polaroid udah muncul sejak lama. Bahkan beberapa tahun yang lalu saya udah sempat memiliki salah satu seri polaroid original, yaitu Pink Polaroid 600 Cool Cam. Namun dikarenakan usia kamera tersebut memang sudah lama, jadi belum sempat saya pakai udah keburu rusak duluan. Di sisi lain saya masih kekeuh enggak mau membeli kamera polaroid seri Instax karena penampilan fisiknya yang biasa banget. HAHA. Memang kalau udah terkait dengan kamera, penampilan fisik itu penting banget bagi saya! Kalau dari bentuknya udah kurang asik, saat menggunakannya pun juga jadi kurang puas :)) Tapi pikiran saya akhirnya berubah ketika Fujifilm mengeluarkan seri instax terbarunya ini.  Dengan berbagai pertimbangan seperti fitur, harga kamera, kenyamanan operasional kamera, serta harga film yang relatif lebih murah dari kamera yang diproduksi oleh Polaroid dan Lomo, akhirnya saya memutuskan untuk membeli Instax Mini 90 ini. Bukan hanya penampilan fisiknya yang memberi kesan "retro", tetapi juga fitur advanced shooting mode yang menarik dan enggak dimiliki oleh series sebelumnya, yaitu party (foto dalam keadaan rendah cahaya dengan menggunakan flash tanpa menghilangkan background), kids (menangkap objek yang bergerak), landscape (foto objek dari ketinggian 10 feet sampai tidak terbatas), double exposure (foto dua shot yang berbeda di dalam satu film) dan bulb (foto suatu objek di cahaya yang sangat terbatas tanpa menggunakan flash).


Biasanya sebelum digunakan ke "lapangan", saya pasti mencoba kamera baru tersebut selama beberapa kali, sampai terbiasa menggunakannya. Kali ini eksperimen perdana dilakukan di apartemen saya dengan memfoto beberapa sudut tempat tinggal yang sudah saya huni selama hampir dua tahun ini. Yaa, sekalian sebagai ajang untuk mengenang tempat ini sebelum pindahan sebentar lagi :'( *mendadak mellow*.  Daaan, saya suka banget dengan hasil foto - fotonya! Beberapa kali saya ingin sharing foto apartemen saya, tapi selalu merasa kurang sreg gitu dengan hasilnya. Makanya kali ini saya senang sekali akhirnya bisa mendapatkan jepretan yang sesuai dengan keinginan saya: sederhana namun dramatis karena efek vintage dan nostalgic yang menjadi ciri khas kamera instan ini.











November 26, 2015

#ROH 9 : Writing

Sadar atau enggak, ada hal yang berbeda ketika melihat beberapa postingan blog saya belakangan ini. Yap, saya lebih bawel dari biasanya, alias isi blog saya didominasi oleh tulisan dibandingkan foto. Udah gitu panjang - panjang pula tulisannya! Hehehhe. Yaaa, walaupun sebelum ini saya masih aktif menulis di blog (menulis loh ya, bukan hanya sekedar membuat postingan), tapi intensitasnya jauuuh lebih meningkat sebulan belakangan ini. Entah karena mood saya yang lagi enggak karuan saat beberapa bulan kemarin sehingga mempengaruhi semangat buat menulis juga; atau saya yang sebenarnya merasa jenuh kebanyakan menulis dan melihat postingan di blog saya yang itu - itu aja; atau memang karena belakangan ini sedang banyak hal yang menarik untuk diceritakan; yang jelas semangat saya untuk menulis lagi menggebu - gebu sekali. Ini semakin saya rasakan terutama sejak membuat postingan tentang Reproduction Of Happiness (ROH). Kayanya selalu adaaa ajaaa pikiran yang tiba - tiba muncul untuk dituangkan ke dalam tulisan. Saking semangatnya menulis, sejauh ini udah ada 25 topik #ROH yang mana (baru) sembilan topik yang sudah published dan lima topik yang masih berupa draft karena belum selesai ditulis. Maklum, bagi saya menulis itu sangat tergantung mood & feeling. Kalau dari awal udah enggak ada kedua hal ini, mau saya berusaha seperti apapun juga tetap aja enggak akan bisa menulis. Malahan kalau tetap dipaksa menulis, mood saya jadi memburuk. Saya juga sering banget mengalami "pergantian mood" ketika menulis. Misalnya, ketika niat awal saya ingin menulis tentang topik A, malah akhirnya menulis topik B karena saat itu mendadak mood saya lebih cenderung di topik B. Lalu ketika udah stuck menulis tentang topik B, tiba - tiba dapat mood buat menulis topik C. Hal ini jugalah yang menyebabkan: 1. baru sedikit tulisan yang saya buat, padahal begitu banyak ide yang sudah mengendap di pikiran saya; 2. banyak topik yang masih belum selesai karena terlalu banyak hal yang ingin saya sampaikan, tapi enggak bisa langsung semuanya saya keluarkan; 3. tulisannya baru saya muat di blog padahal kegiatannya sudah berlangsung dari beberapa minggu, bulan, bahkan tahun sebelumnya.  Belum lagi setiap kali saya menulis sesuatu pasti saya harus baca dan edit berulang kali sebelum saya posting di blog. Walaupun seringkali tulisan yang sudah published pasti saya perbaiki lagi karena ada kesalahan kecil yang terlewat :))


Terkadang gemes juga sih saat punya banyak ide dan semangat buat menulis. Bukannya apa - apa, sejak semangat menulis saya jadi meningkat, intensitas saya untuk melakukan kegiatan lain jadi berkurang karena pikiran saya yang lebih tertuju untuk menulis. Kalau biasanya selama 45 menit perjalanan di kereta menuju kantor dan kembali ke tempat tinggal saya dihabiskan dengan membaca buku, sekarang saya gunakan untuk menulis di aplikasi blogger atau notes di hp saya. Begitu juga waktu senggang saya yang biasanya dialokasikan untuk melakukan berbagai kegiatan lain, sekarang saya lebih sering membuka laptop untuk menuangkan isi pikiran saya. Bahkan ketika sudah mengantuk sekalipun, saya masih menyempatkan diri untuk menulis dan ujung - ujungnya rela mengulur waktu tidur hanya karena ingin memenuhi hasrat menulis (seperti sekarang saya baru menyelesaikan postingan ini hingga pukul 01.30, padahal niat awalnya tidur pukul 22.30). Soalnya kalau enggak segera saya tuangkan ke dalam tulisan, biasanya pikiran - pikiran tersebut menghantui saya dan akhirnya malah jadi enggak bisa tidur, atau malah sampai terbawa mimpi karena masih kepikiran terus. HA! Oh well, semoga aja kebawelan saya enggak membuat kalian kapok untuk mampir ke blog ini yaaa! :)

You don’t have to be miserable to write. You do it because you have to. Because it gnaws away at your insides if you try to ignore it. Because if you don’t write, you might as well be dead.
           (Jane Lockhart, Not Another Happy Ending)

November 24, 2015

#ROH 8 : Volunteering

Salah satu hal yang udah lamaaaaaa banget saya tinggalkan terutama sejak kembali tinggal dan kerja di ibukota adalah volunteering. Memang butuh komitmen dan niat yang lebih besar ternyata untuk terus melakukan volunteering dengan rutinitas dan jarak tempuh di Jakarta yang kemana - mana enggak semudah dan sedekat di Bandung atau Bournemouth. Makanya saya senang banget akhirnya bisa terlibat kembali di kegiatan volunteering melalui program Kelas Inspirasi.

Mungkin banyak dari kalian udah familiar dan bahkan udah pernah menjadi sukarelawan di program ini. Tapi bagi kamu - kamu yang belum tau, program Kelas Inspirasi ini adalah sebuah kegiatan sukarela dari para pekerja profesional yang turun langsung untuk mengajar dalam sehari di beberapa sekolah dasar di berbagai daerah di Indonesia. Tujuannya adalah supaya para siswa SD ini bisa mengenal beragam profesi dan memotivasi mereka untuk meraih cita - cita mereka. Karena dari berbagai pengalaman para inspirator (sebutan bagi para volunteer yang mengajar), para siswa SD cenderung hanya memiliki cita - cita sebatas "guru, tentara, dokter dan pemain sepakbola". Makanya dengan program Kelas Inspirasi ini diharapkan mereka jadi mengenal lebih banyak profesi, serta menjadi semakin termotivasi untuk meraih cita - cita mereka. Selain itu, bagi para inspirator yang terlibat pun juga diharapkan dapat lebih peka terhadap pendidikan dasar di Indonesia setelah mengamati langsung kondisi pendidikan di sekolah - sekolah yang masih tertinggal.



Berhubung pekerjaan yang saya lakukan selama hampir dua tahun ini adalah mengajar, makanya awalnya saya sempat menganggap enteng kegiatan ini. Sampai akhirnya tiba hari briefing dimana para inspirator berkumpul dan dibagikan sebuah modul mengajar. Darisitu saya mulai menyadari ternyata mengajar anak kuliah dan anak SD itu sangatlah berbeda, baik dari segi cara menyampaikan materi maupun menghadapi perilaku siswa. Kalau biasanya saya cenderung menggunakan metode mengajar yang formal dan bisa banget buat "galak" kalo ada mahasiswa yang bandel, kali ini saya enggak bisa menerapkan cara dan sikap yang sama ketika menghadapi anak - anak SD ini. 

Semakin mendekati hari H, saya semakin panik dan cemas. Entah beberapa kali saya mengganti lesson plan (semacam acuan ketika dalam mengajar) dan slide presentasi yang akan saya tunjukkan. Saya sampai bolak balik konsultasi dengan ibu saya yang ahli di bidang pendidikan anak tentang cara mengajar anak - anak kelas 1 hingga 6 SD. Saya hanya takut materi yang saya sampaikan terlalu sulit untuk dipahami, atau justru terlalu mudah. Belum lagi saya juga sempat bingung memilih profesi mana yang lebih baik saya jelaskan nantinya. Apakah jadi dosen? Perencana kota? Perencana pariwisata?. Bahkan saking paniknya, saya sempat kepikiran untuk mundur. Sampai akhirnya saya baca beberapa blog yang menceritakan pengalaman seru mereka saat KI. Ternyata banyak juga dari mereka yang mengalami gejala yang sama seperti saya: deg - degan, bingung dan beberapa juga sempat punya pikiran untuk mengundurkan diri. Tapi akhirnya mereka tetap ikut dan mendapatkan pengalaman yang bikin mereka ketagihan untuk ikutan Kelas Inspirasi berikutnya. Darisitu semua kepanikan dan rasa takut saya perlahan menghilang. Tergantikan dengan semangat dan rasa penasaran untuk mendapatkan pengalaman pertama saya sebagai guru SD.





Saat hari H, saya kebagian jadi inspirator pertama yang mengajar kelas 2. Ternyata rasa deg - degan saya masih belum sepenuhnya hilang. "Saya harus gimana kalo ternyata apa yang saya sampaikan ini enggak menarik bagi mereka?". Berbagai pikiran pesimis saya kembali muncul. Namun untungnya kehadiran wali kelas dan salah seorang teman inspirator yang akan mengajar setelah sesi saya, Nopi, mampu menenangkan saya. Ketika saya masuk kelas, anak - anak sudah duduk dengan rapih di kursi mereka masing - masing. Walaupun belum ada perkenalan secara langsung, wajah mereka yang sumringah dan bersemangat sudah membuat saya jauh merasa tenang. Sebelum memperkenalkan diri, saya dan Nopi membagikan stiker untuk dituliskan nama setiap anak agar bisa memanggil nama mereka dengan mudah. Setelah selesai, sesuai dengan rencana awal saya yang ingin sedikit membuat suasana mencair, saya mengajarkan mereka tentang peraturan tepuk 1 - 2 - 3 yang saya dapatkan ketika PK LPDP (iya, saya emang enggak kreatif soal beginian!). "Tepuk 1: prok. Tepuk 2: prok - prok. Tepuk 3: ssssttt". Saya sempat mengulangi tepukan itu beberapa kali, sampai yang awalnya masih ada beberapa siswa yang kelepasan saat tepukan ketiga, mereka bisa serentak bilang "sssttttt". Disitu suasana kelas mulai jauh lebih santai dengan antusias mereka untuk fokus ke aba - aba tepukan yang saya berikan. 

Setelah suasana udah mulai mencair, saya memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama, kemudian meminta mereka untuk menebak profesi saya. Beberapa siswa ada yang menyebut saya sebagai dokter, tukang (haaa!), hingga guru. Perlahan saya mulai memberikan clue seperti "saya juga mengajar, tapi bukan guru". Awalnya mereka masih bingung. Lalu saya arahkan lagi, "Kalau guru mengajar siswa tingkat apa aja? SD...", lalu mereka mulai bisa mengikuti "SD, SMP, SMA". "Nah kalau guru yang mengajar mahasiswa apa namanya?". Zingggg. Seketika kelas diam. Membuat saya agak panik. Untungnya ada satu anak yang menjawab "Doseeen". Fyuhh. Saya merasa lega seketika, sampai ada salah seorang anak yang bertanya,  "Dosen itu yang kerjaannya bisnis profesional dan punya banyak uang kan?". Dengan kondisi saya yang antara kaget, takjub dan ingin ketawa, saya kembali menjelaskan profesi saya sebagai dosen yang sama halnya dengan guru, yaitu mengajar, namun perbedaannya adalah anak didik yang diajar sudah jauh lebih besar dari mereka. Selain itu, saya juga jelaskan tentang bidang ilmu yang saya ajari dengan menanyakan ke mereka terlebih dahulu tentang guru - guru yang mengajari mereka di setiap pelajaran. Dengan jawaban mereka yang mengatakan bahwa setiap mata pelajaran diajari oleh guru yang berbeda, saya juga menjelaskan bahwa saya pun mengajari hanya bidang tertentu, yaitu perencanaan kota. Disini saya baru menyadari bahwa perkiraan saya tentang tingkat pemahaman anak - anak kelas 2 SD agak berbeda, karena ternyata mereka masih belum terlalu familiar tentang pengertian rencana dan kota. Bahkan ketika saya menanyakan apa itu kota, mereka cenderung menjawab nama kota (seperti Jakarta, Bandung, Bogor), namun bukan deskripsinya. Setelah kembali menjelaskan pengertian rencana dan kota, saya mulai mengarahkan mereka untuk berpikir tentang elemen - elemen yang ada di kota seperti jalan, transportasi, fasilitas umum (e.g., terminal, stasiun, bandara, stadium), fasilitas sosial (e.g., sekolah, rumah sakit), taman, sungai, rel kereta api, dan lainnya. 

Untuk lebih memudahkan pemahaman mereka, saya juga memberikan slide dengan beberapa foto tentang kondisi kota yang bagus dengan yang buruk (misalnya yang satu menunjukkan kondisi macet, satunya lagi jalanannya lowong), lalu membiarkan mereka berpikir kondisi mana yang lebih baik menurut mereka. Disitulah saya menekankan fungsi perencana kota untuk membuat sebuah kota agar lebih nyaman untuk ditinggali dan mencegah masalah - masalah yang terjadi di kota. Setelah itu, saya meminta mereka untuk menggambar "kota impian" mereka di atas kertas kosong yang sudah saya berikan gambar jalan. Dalam seketika wajah mereka yang tadinya terlihat agak bingung dan mulai enggak fokus, langsung bersemangat kembali sambil mengeluarkan peralatan tulis dan pensil warna. Ada beberapa anak yang langsung banyak menggambar, tapi juga ada beberapa yang belum mulai mengerjakan karena bingung dan enggak percaya diri dengan gambarnya. Disitu saya coba membantu dengan menanyakan tempat apa yang biasa ia kunjungi dan meminta untuk menggambarkannya sebisa mereka. Sayangnya, belum selesai mereka menggambar, Nopi sudah memberikan aba - aba untuk mengganti sesi. Saat itu saya baru menyadari betapa cepatnya tiga puluh menit.




(courtesy of Kelas Inspirasi Bogor)

Kelas selanjutnya yang saya ajari adalah kelas 1. Sebelum masuk kelas ini, saya masih punya waktu istirahat sekitar 15 menit yang akhirnya saya manfaatkan dengan foto beberapa inspirator yang sedang mengajar, salah satunya inspirator yang udah mengajar sebelum saya di kelas 1. Dari penampakan sekilas aja udah terlihat berbeda banget, yaitu suasana kelas yang ramai. Wah, ternyata benar ucapan para inspirator yang saya baca bahwa anak - anak kelas 1 ini memang terkenal paling aktif diantara kelas lainnya!

Begitu saya masuk, sudah ada 2 guru pendamping yang berada di kelas. Saya memang sudah diingatkan bahwa metode mengajar yang digunakan untuk kelas ini harus lebih atraktif, seperti menyanyi, menari dan menggambar. Setelah memperkenalkan nama, saya coba mengajak mereka untuk menari bersama dari video yang ada di laptop saya. Mereka langsung terlihat sangat senang dan bergerak ke depan laptop untuk menari. Namun karena mereka jadi berebutan untuk melihat video dan ada beberapa anak yang mulai ricuh, saya memutuskan untuk memberhentikan video tersebut dan mengajak mereka untuk duduk dengan rapih di lantai. Akhirnya saya memberikan sebuah film animasi, Charlie in New Town, yang menceritakan tentang kondisi sebuah kota yang kurang nyaman, namun dengan perencanaan yang lebih hati - hati akhirnya pemerintah setempat bisa mengubah kota tersebut menjadi lebih rapih. Sebenarnya film ini juga mau saya berikan di kelas 2, tapi berhubung ada kendala di laptop saya waktu ingin menunjukkan film ini, makanya enggak jadi saya tunjukkan. Saat menonton film tersebut saya juga coba ajak mereka berpikir tentang film tersebut supaya pesan yang ingin saya sampaikan melalui film tersebut bisa dipahami oleh mereka. Sambil mem-pause dan me-rewind beberapa scene, saya menanyakan apa pendapat mereka tentang scene tersebut. "Sekarang Charlie lagi dimana? Gimana kondisinya?" "Lagi duduk di bus yang sesak dan udaranya kotor". "Ada apa aja di kota nya Charlie?" "Rumahhh, banyak gedung - gedung tinggi". "Kota yang ditinggali Charlie gimana keadaannya?" "Ramai sekali, banyak banget orang dan bangunannya". "Begitu sampai di rumah apa yang terjadi dengannya? Kelihatannya Charlie gimana?" "Kecapekan dan enggak senang". Itulah beberapa contoh pertanyaan sederhana yang saya lontarkan agar mereka lebih peka terhadap kondisi yang terjadi di film tersebut. Saya juga membandingkan suasana kota di awal film dan di akhir film yang menunjukkan suasana kota baru setelah adanya perencanaan yang lebih baik. Disitu juga terlihat Charlie enggak lagi mengendarai bus, tetapi bersepeda dengan wajah yang terlihat senang. Setelah anak - anak memahami hal tersebut, saya mulai memperkenalkan profesi saya sebagai perencana kota dan sama halnya dengan anak - anak kelas 2, saya juga membagikan kertas untuk menggambar kota impian mereka. Kali ini respon mereka lebih bersemangat, terlihat dari berbagai pertanyaan yang mereka ajukan ke saya saat mulai menggambar. "Bu, kalau saya mau gambar matahari dan awan boleh enggak?" "Kalau saya mau warnain jalannya enggak apa - apa?" "Saya boleh buat kolam ikan enggak, Bu?". Bahkan ada beberapa anak yang lebih peka ketika mereka melihat sebuah gambar yang bukan terlihat seperti jalan, yaitu rel kereta api. "Bu, kalau buat kereta api gimana caranya?". Dan masih banyak pertanyaan - pertanyaan lainnya yang diberikan oleh tiga puluh siswa di kelas 1 tersebut. Membuat saya ikutan enggak bisa diam selama mengajar di kelas :))




Yang paling menarik dari anak - anak kelas 1 ini bukan hanya energi positif dan semangat yang mereka tularkan ke saya, tapi kejutan - kejutan yang mereka berikan. Mulai dari tiba - tiba ada anak yang mengadu ke saya sambil menangis karena kursinya ditempati oleh murid lain, ada juga yang menangis karena enggak dibolehin meminjam pensil warna temannya, berantem karena gambarnya ditiru oleh teman sebangkunya, sampai ada juga yang menangis karena ingin pulang. Tapi terlepas dari itu semua, anak - anak ini sebenarnya sangat baik dan mudah diatur. Buktinya ketika saya mencoba untuk menenangkan dan membujuk murid lain untuk berbagi, mereka langsung kembali membaik dan mengerjakan tugas mereka. Hal lain yang juga membuat saya kagum dengan mereka adalah kesopanan dan kedisiplinan mereka. Ketika beberapa diantara mereka yang ingin meminjam pensil warna saya, pasti mengucapkan "Bu, saya boleh pinjam pensil warnanya?". Begitu juga setiap kali sudah selesai digunakan, mereka langsung mengembalikan ke kotaknya sambil mengucapkan terima kasih. Saking merasa nyamannya di kelas ini, saya benar - benar lupa untuk mengecek waktu hingga jam sudah menunjukkan bahwa saya sudah di kelas selama satu jam lebih! Satu hal lagi yang lebih membuat saya terharu adalah, setelah sesi kelas 1 ini selesai dan saya sedang mengajar di kelas 4, beberapa anak - anak kelas 1 ini masuk ke kelas dan menyampiri saya hanya untuk mencium tangan sebelum pulang. Bahkan ada yang menanyakan ke saya apakah besok saya akan datang lagi untuk mengajar, dan ketika saya menjawab bahwa saya hanya mengajar hari ini aja, sesaat raut wajah mereka agak kecewa namun kemudian mengucapkan terima kasih karena sudah mengajar. Saat itu saya semakin mengerti kenapa banyak inspirator yang ketagihan buat mengikuti Kelas Inspirasi ini :') 






Berbeda dengan di dua kelas sebelumnya yang cenderung menggunakan metode bermain, saat mengajar di kelas 4, 5, dan 6 saya lebih banyak menjelaskan dan mengajak diskusi. Di kelas "senior" ini saya juga banyak memberikan materi tentang bidang planologi. Misalnya ketika menonton film, saya bukan lagi menanyakan pemahaman mereka terhadapa setiap scene, tapi secara keseluruhan film tersebut. Saya juga mulai masuk ke ilmu planologi, salah satunya dengan menjelaskan bahwa dalam pembangunan suatu kota yang paling utama adalah jalan (kebetulan ada salah satu scene di film yang mendukung), karena tanpa adanya jalan, kita akan sulit untuk pergi kemana - mana. Makanya di film tersebut juga menunjukkan pembangunan di suatu kota yang paling utama adalah dari jalanannya dulu dan akhirnya pembangunan lain pasti mengikuti si jalan tersebut. Setelah itu beberapa slide perbandingan kota yang baik dan buruk, yang sebelumnya sudah ditunjukkan di kelas 2 juga saya tampilkan kembali. Namun kali ini saya juga meminta mereka untuk memikirkan permasalahan - permasalahan yang ada di kota mereka (seperti polusi, sampah, macet, dll) dan harapan terhadap kota mereka ke depannya. Adapun hal yang enggak saya jelaskan saat di kelas - kelas sebelumnya adalah peta rencana pembangunan kota yang pernah saya buat dan beberapa contoh peta tematik yang perlu diperhatikan saat merencanakan pembangunan sebuah kota. Untuk pembagian tugasnya, di kelas 4 dan 5 saya meminta mereka untuk menggambar kota impian namun di atas kertas yang benar - benar kosong, sehingga mereka belajar untuk membuat jalan sendiri. Sedangkan di kelas 6 saya meminta mereka untuk menggambar ruang atau bangunan tempat mereka melakukan pekerjaan yang sesuai dengan cita - cita mereka. 

Selain memberikan materi planologi, saya juga ingin lebih menanamkan semangat dan motivasi dalam mencapai cita - cita mereka tersebut, karena banyak yang menganggap bahwa anak - anak kelas 4 sampai 6 sudah lebih paham dan bisa diajak diskusi tentang profesi dan cita - cita. Disinilah saya baru menyadari bahwa memang ternyata pengenalan profesi sangat diperlukan terutama di kalangan anak - anak SD yang masih tertinggal seperti ini. Dari jawaban mereka memang kebanyakan ingin menjadi guru, dokter, polisi, dan pemain bola. Yang lucunya adalah ketika salah seorang anak menanyakan ke saya, "Bu, kalau saya mau jadi hacker gimana?". Saya terkaget - kaget dan kembali memastikan pertanyaannya tersebut. "Hacker apa maksudnya? Hacker internet?". Lalu ia mengangguk. Waduh. Saking kagetnya saya sempat speechless. Lalu saya bilang bahwa hacker itu bukanlah sebuah profesi yang baik karena itu sama saja dengan tindakan kriminal seperti mencuri. Anak kecil jaman sekarang udah lebih jago ya, sampai udah tau hacker segala -_- . Akhirnya sesi di beberapa kelas ini ditutup dengan membagikan "sertifikat cita - cita" yang berisi tentang pernyataan setiap siswa terkait dengan cita - cita mereka, sehingga mereka akan selalu ingat dan bersemangat untuk mencapainya. 



Para inspirator dari Rombel (Rombongan Belajar) 18 :)

Terima kasih Kelas Inspirasi atas kesempatannya berbagi pengalaman paling berkesan dan menyenangkan di tahun ini. Semoga suatu saat saya bisa kembali ikut di Kelas Inspirasi lainnya. Bagi kalian yang belum pernah ikut, yuk yuk segera daftar di Kelas Inspirasi. Bisa langsung dicek jadwal "Hari Inspirasi" di website Kelas Inspirasi

Selamat mengajar dan menikmati salah satu pengalaman terbaik-mu! :)

November 22, 2015

#ROH 7 : Listening Happy Playlist

Harus saya akui walaupun saya enggak berbakat dalam bidang musik (dari kecil hingga kuliah sempat bolak balik les piano, tapi tetep aja enggak lancar mainnya sampai sekarang. haha!), hidup dan kebahagiaan saya banyak bergantung pada hal yang satu ini, yaitu melalui lagu yang saya dengarkan. Bisa dibilang hampir tiap hari pasti saya dengerin lagu. Entah saat di perjalanan menuju kantor, saat membereskan kerjaan, sambil memasak, saat mengedit foto, dan belakangan ini saya lagi seneng banget dengerin musik sambil mandi terus ikutan nyanyi. Rasanya bikin mood saya langsung semangat di pagi hari gitu! Musik juga bisa memberikan pengaruh sangat signifikan terhadap beberapa kegiatan yang sedang saya lakukan. Misalnya seperti saat sedang lari atau olahraga, dalam perjalanan yang jauh, menulis, mengedit video dan membereskan kamar. Tanpa mendengarkan musik di saat melakukan hal - hal tersebut sama saja seperti makan kue tanpa disertai segelas minuman hangat. Kurang nikmat rasanya.


Kalau buku dan film bisa membawa saya ke kehidupan lain dengan berbagai cerita dari si pengarangnya, musik dengan sangat mudahnya membawa saya ke pikiran dan dunia saya sendiri. Apalagi kalau lagi enggak melakukan suatu kegiatan, saya pasti mudah banget terbawa, entah ke masa lalu, hal - hal yang sedang mengganjal di pikiran (biasanya pemikiran tertentu yang belum saya tuangkan ke dalam tulisan), atau dunia imajinasi saya (dulu saya sering banget punya ide buat menulis cerpen karena mendengarkan lagu - lagu tertentu). Bahkan ketika saya sedang mencoba untuk memahami lirik sebuah lagu, tanpa disadari di tengah - tengah sedang mendengarkan lagu tersebut, pikiran saya udah entah kemana dan ketika saya kembali sadar, playlist-nya udah berganti :)) Makanya saya termasuk orang yang sering enggak hafal lirik lagu, meskipun udah puluhan kali saya putar sekalipun. HAHA. Mungkin karena saya juga tipe orang yang bisa senang dengan suatu lagu bukan karena liriknya yang merepresentasikan kondisi saya atau yang bisa menyemangati saya, tapi justru chemistry yang saya dapat dari nada dan irama lagu tersebut.  Enggak heran ketika saya buat sebuah playlist yang lagi sering saya dengar, lagu - lagu yang ada di dalam playlist tersebut bisa random banget baik dari tema-nya maupun penyanyinya. Mulai dari yang tema percintaan, persahabatan, hidup sampai tema yang abstrak sekalipun. Begitu juga dengan penyanyi-nya, mulai dari band indie yang jarang diketahui oleh banyak orang sampai yang lagunya sering diputar di stasiun radio kesayangan anda *lol*.


Oh iya, bagi kamu yang lagi bosen dengerin lagu yang itu - itu aja, tapi bingung mau nyari lagu baru dimana, coba buka 8tracks deh. Sejak tiga tahun yang lalu, website ini jadi salah satu referensi saya untuk mencari lagu - lagu asik (terutama lagu - lagu indie) melalui playlist yang dibuat oleh orang lain sekaligus sebagai tempat untuk menyimpan playlist yang saya buat. Seperti belakangan ini ada beberapa lagu yang lagi senang banget saya dengarkan. Selalu berhasil membuat saya tenang dan kembali bersemangat ketika mendengarkannya :)

November 18, 2015

#ROH 6 : Learn Something New

Kayanya kamu yang punya sifat seperti saya - suka penasaran buat nyobain banyak hal baru, sering merasa bosan dengan kegiatan monoton, serta mudah excited dengan little things - bisa paham bagaimana menyenangkannya ketika melakukan kegiatan dan mempelajari suatu hal baru. Diantara sekian banyak hal yang pengen saya coba, salah satu hal yang udah lama bikin saya penasaran adalah berkebun. Entah kenapa, selalu aja ada kesenangan tersendiri setiap kali melihat tanaman - tanaman hijau, main di perkebunan, maupun mengunjungi farmer's market yang menjual berbagai hasil panen petani lokal. Sebenarnya waktu kecil dulu saya sempat diajarkan untuk menanam beberapa tanaman di rumah seperti cabe, tomat dan pepaya. Biasalah anak kecil, beberapa hari pertama semangat banget nyiramin dan ngecekin tanaman setiap sebelum pergi dan setelah pulang sekolah. Terus lama kelamaan lupa sendiri dan mesti diingetin sama pembantu rumah tangga saya, hahaha! Tapi saya enggak pernah lupa betapa senangnya saya saat melihat tanaman yang awalnya hanya bibit jadi tumbuh berkembang hingga terlihat daun, batang dan akhirnya mulai berbuah. Dan akhirnya setelah menunda sekian lama dan rasa bahagia itu saya rasakan lagi saat berkebun bersama teman - teman dari Indonesia Berkebun melalui salah satu acara mereka, Akademi Berkebun. 

Ketertarikan saya dengan Indonesia Berkebun ini sebenarnya udah muncul cukup lama, yaitu saat komunitas ini mulai nge-hits di tahun 2011. Tapi karena saya hobi menunda mengerjakan hal - hal yang kelihatannya enggak memiliki urgensi tinggi dan bisa dilakukan "nanti" (padahal bisa sampai empat tahun "nantinya". heeu!), jadinya saya baru beneran ikutan sekarang saat ketertarikan saya yang semakin besar terhadap konsep urban farming. Sebuah konsep berkebun dengan menggunakan lahan tidur atau tertinggal (vacant land) di kawasan perkotaan. Urban farming ini sendiri udah sangat berkembang dan bahkan menjadi salah satu solusi untuk merevitalisasi urban decay dan menghidupkan kembali ruang terbuka hijau di beberapa negara seperti US (awal muncul dan berkembangnya konsep ini), Australia, UK dan Belanda. 


Akademi berkebun yang saya ikuti kali ini dilakukan seharian penuh dari jam 9 pagi sampai 5 sore di sekretariat Indonesia Berkebun yang berada di kawasan BSD. Sebelum berkunjung ke perkebunan, kami diberi pembekalan tentang dasar - dasar berkebun. Mulai dari yang paling dasar banget seperti pengenalan berbagai jenis pupuk dan fungsinya masing - masing, bedanya benih dan bibit (hayo, tau enggak?), cara membuat media tanah dan pengolahan lahan yang benar, mencabut tanaman saat panen, hingga tahapan budidaya sayuran organik. Selain itu para peserta juga diperkenalan dengan berbagai inovasi urban farming yang bisa dilakukan di ruang yang kecil hingga besar. Intinya sih banyak banget ilmu baru yang saya dapatkan melalui kegiatan ini. Enggak menyangka kalau banyak hal yang perlu dipelajari sebelum berkebun. Padahal kalo dilihat sekilas, berkebun itu kelihatannya kegiatan yang sederhana yaa!

Saya bahkan baru sadar kalo selama ini persepsi saya tentang tanaman organik itu salah. Karena selama ini saya termasuk orang yang menganggap bahwa cara tau fisik sayuran dan buah-buahan organik itu kalo mereka terlihat "ada bolong - bolongnya". Dengan asumsi bahwa ulat aja bisa makan, berarti sayurannya aman. Eh taunya saya "tertipu" dengan omongan itu! Duhhh. Padahal yang dimaksud dengan sayuran organik adalah sayuran yang tidak mengandung residium, seperti pestisida, bahan kimia berbahaya, dan logam berat. Jadi dalam proses menanam dan mengelolanya harus terhindar dari si residium ini. Dan secara kasat mata sebenarnya enggak terlalu berbeda (kecuali mungkin yang udah snagat expert dalam hal ini) antara yang organik dengan yang bukan. Makanya, salah satu cara untuk mengetahui sayuran dan buah-buahan organik adalah melalui sertifikasi, yang biasa digunakan oleh si penjual untuk menempelkan label "organik" di sayuran atau buah-buahannya. Dan untuk mendapatkan sertifikasi itu bisa mencapai jutaan bahkan belasan juta rupiah. Jadi enggak heran ya kalo sayur dan buah yang biasa kita temui dengan label "organik" akan lebih mahal harganya dibandingkan dengan yang enggak berlabel. Terus jadinya gimana dong? Masa mau hidup sehat harus mahal? Yaa makanya salah satu caranya adalah melalui urban farming ini di lahan tertidur sekitar kita. Yang paling mudah sih sebenarnya memanfaatkan lahan tertidur di halaman rumah. Jadi dengan berkebun sendiri, kita bisa memastikan bahwa apa yang masuk ke dalam tubuh kita memang minim dari residium. Keliatannya sih gampang ya, tapi kenyataannya memang butuh waktu dan komitmen yang kuat untuk melakukannya. Saya pun sampai sekarang juga belum bisa menerapkan ini kok :))


Nah, lanjut lagi ceritanyaa.

Menjelang pukul 3 sore, kami mulai siap - siap untuk menuju perkebunan yang berada di belakang apartemen. Begitu sampai di kebun, saya langsung excited melihat beberapa baris kebun bayam dan kangkung, serta berbagai pot yang berisi bibit sayur - sayuran. Agenda pertama adalah menyemai benih kangkung dan bayam. Yang lucunya, saat menyemai benih, orang - orang pada berebut pengen merasakannya. Tapi giliran diminta sukarelawan buat menanam bibit sawi menggunakan pupuk urea, sedikit banget yang mau coba! Hahaha. Berhubung lagi semangat berlebihan sekaligus penasaran, jadilah saya mencoba bagaimana cara menanam bibit di dalam pot dengan menggunakan pupuk urea. Lagi - lagi, walaupun terlihat mudah dan sepele, ternyata tetap ada beberapa teknik yang harus diperhatikan ketika menanam benihnya supaya tumbuh dengan benar. Dan terlepas dari fakta dibalik pupuk urea tersebut *y'know how it's made, don't ya?*, tetap menyenangkan loh main kotor - kotoran gitu, bahkan sama sekali enggak tercium aroma yang aneh - aneh. Hahaha. 

Agenda selanjutnya yang paling ditunggu - tunggu adalah harvesting! Ini juga kelihatannya mudah, tapi ada tekniknya tersendiri baik dari bentuk tangan kita ketika memegang si tanaman tersebut, maupun saat mencabutnya dari tanah yang harus dilakukan secara perlahan - lahan. Berbeda sih pasti rasanya ketika panen tanaman yang dari awal kita rawat dengan tanaman yang tiba - tiba udah "jadi". Tapi tetep aja tuh pada semangat banget pas memanen kangkung dan bayam *termasuk saya!*, sampai pada berebutan kaya lagi dibagikan voucher belanja MAP aja! Hahaha. Oh iya, kita juga bisa bawa pulang kangkung dan bayam yang udah dipanen. Dengan hanya membayar 10ribu, kita bisa mendapatkan 1 kg bayam. Murah banget kaan? *bahkan saya enggak menyangka 1 kg bayam itu benar - benar sebanyak itu!*. Setelah capek bermain di kebun, lalu membersihkan tangan dan kaki yang penuh dengan tanah, akhirnya saatnya kami istirahat sambil menikmati semangka yang udah disajikan di saung kecil dekat kebun. Rasanya priceless banget! Disitu saya juga semakin sadar betapa beratnya menjadi petani yang setiap harinya harus mengurus padi dan tanaman lainnya dengan lahan yang jauh lebih besar dari ini. Saya aja yang baru "main" di kebun kurang dari 2 jam udah merasa capek banget, gimana mereka yang menghabiskan belasan bahkan puluhan jam tiap minggunya. Hal ini juga kembali mengingatkan saya untuk sebisa mungkin membeli produk dari hasil petani lokal.

Terima kasih buat Indonesia Berkebun yang udah berbagi wawasan berkebun serta pengalaman yang menyenangkan. Semoga dalam waktu dekat saya bisa mulai mengaplikasikan ilmu - ilmu yang saya dapat :)) Oh iya, bagi kamu yang penasaran dan ingin bergabung dengan Indonesia Berkebun, bisa cek website mereka atau langsung ke akun twitter dan facebook masing - masing komunitas berkebun yang ada di daerah kamu (fyi, saat ini Indonesia Berkebun udah memiliki jejaring di 30 daerah, kamu bisa liat daftarnya di sini). Selamat berkebun! 

November 17, 2015

#ROH 5 : You! Yes, you!

Sebenarnya udah lama banget saya pengen bilang ini, tapi selalu saya urungkan niat ini karena takut terkesan pamer dan juga malu karena sebenarnya saya masih enggak ada apa - apanya dibandingkan dengan blogger lain yang punya readers dan followers yang jauh lebih banyak dari saya. Tapi sekarang saya bodo amat orang lain mau bilang apa, karena kali ini saya udah enggak tahan lagi. Enggak tahan ingin mengungkapkan rasa terima kasih, syukur sekaligus rasa haru karena selama ini telah mendapatkan banyak support melalui text message, email, maupun komentar di blog. Mulai dari orang - orang yang I barely know sampai enggak kenal sama sekali. Mulai dari yang sekedar memberikan kata - kata semangat, mengatakan bahwa blog saya menginspirasi mereka, hingga ada juga yang cerita cukup banyak tentang hidup mereka dan bagaimana saya bisa memotivasi mereka. Ada yang hanya sekali menyapa saya, ada juga yang beberapa kali menyapa untuk sekedar menanyakan kabar dan memberikan semangat, serta ada juga yang bela - belain untuk ketemu in person. Bahkan ada juga beberapa yang sampai mengirimkan bingkisan kepada saya, yang bukan untuk dipromosikan ke orang lain, tapi karena memang niat mereka yang ingin memberikan sesuatu ke saya. Saya juga sangat berterima-kasih kepada beberapa pihak yang dengan baiknya telah menginformasikan blog saya sehingga bisa dikunjungi oleh banyak pembaca. Yang membuat saya senang bukan karena statistik blog saya yang mendadak lebih tinggi dari biasanya, tapi karena melihat postingan saya yang (ternyata) bermanfaat bagi orang lain. Padahal selama ini saya sering merasa blog ini enggak banyak memberikan informasi yang berguna bagi pembaca karena apa yang saya share disini kebanyakan (bahkan sebagian besarnya) adalah tentang pemikiran, hidup dan diri saya. Namun, melihat semua dukungan - dukungan tersebut membuat saya tersadarkan bahwa dengan berbagi pengalaman dan sudut pandang dalam hidup kita juga udah bisa memberikan manfaat bagi orang lain :)

Mungkin ini terdengar norak dan berlebihan, tapi sejujurnya, setiap kali mendapatkan dukungan moral itu rasanya selalu membuat saya berkaca - kaca saking enggak pahamnya kenapa orang - orang ini begitu baik ke saya. Mereka juga sekaligus menjadi pengingat bagi saya untuk selalu berbuat baik kepada siapapun. Berbuat baik disini bukan berarti memberikan bantuan yang besar atau dalam bentuk materi, tetapi kebaikan - kebaikan kecil yang sering terlupakan seperti tersenyum, selalu mengucapkan kata - kata wajib "maaf, permisi, terima kasih", memberikan response ketika ada yang bertanya, serta memberikan perhatian berupa ucapan selamat dan semangat. Because we never know that little spark of kindness can make a big difference to someone's day.

Thank you, once again for reading my blog and supporting me throughout. I hope you will have greater things to come in life :')

November 14, 2015

#ROH 4 : Watching Good Movies

Sama halnya dengan membaca buku, salah satu hal yang membuat saya suka menonton film adalah karena mereka bisa membawa saya untuk keluar dari kehidupan nyata dan masuk ke dunia lain yang seringkali berbeda dari kehidupan saya sehingga bisa memberikan sebuah perspektif baru. Apalagi kalau bagus dan sesuai dengan selera saya, pasti saya bisa benar - benar terbawa ke kehidupan yang ada di film dan buku tersebut hingga berhari - hari. And needless to say, mereka bisa membuat mood saya kembali membaik, entah dengan cara membuat saya tertawa, menangis tersedu - sedu atau justru karena terlalu amazed dengan film dan buku tersebut.

Tapi ada beberapa hal menyenangkan ketika menonton film yang enggak bisa saya dapatkan ketika membaca buku, seperti misalnya saat melihat wajah aktor dan aktrisnya (apalagi kalo memang jadi favorit, pasti makin semangat! hehe), berbagai macam backdrop (outfit maupun dekorasi) yang digunakan, serta lokasi syuting yang seringkali memberikan referensi baru buat dimasukkan ke bucket list. Dan yang enggak kalah menyenangkannya, melalui film yang saya tonton saya juga  banyak belajar tentang videografi. Misalnya, bagaimana si sinematografer bisa mengambil sudut pandang yang berbeda supaya bisa mendapatkan shot yang enggak membosankan bagi penonton, bagaimana cara si editor mengedit dari satu scene ke scene lain hingga penonton enggak sadar bahwa scene tersebut berasal dari shot yang berbeda, bagaimana pemilihan tone yang bagus sehingga bisa menciptakan efek film yang lebih menarik, bagaimana menyesuaikan scoring dengan scene supaya bisa memberikan feel yang kuat, serta hal - hal detail lainnya yang enggak bisa saya dapatkan ketika membaca buku. Berdasarkan hal - hal itu jugalah akhirnya saya memilih beberapa film yang baru saya tonton belakangan ini karena berhasil menyenangkan hati saya.

Note: Since I'm a fan of drama-comedy-romantic, all these movies below are mostly related to the genre :))


 • Not Another Happy Ending 
Dari awal saya melihat trailer film ini, saya udah jatuh hati dengan kedua pemeran utamanya dan penasaran dengan cerita tentang kehidupan Jane Lockhart (Karen Gillan), seorang up and coming novelist yang dengan novel pertamanya yang berhasil menyentuh hati banyak orang. Namun, masalah muncul saat Jane sulit untuk mengembangkan idenya dalam menulis novel keduanya. Tom (Stanley Weber), sang publisher, merasa bahwa Jane gets stuck karena dia lagi bahagia dan hanya bisa menulis dengan baik ketika sedih. Akhirnya Tom mencoba beberapa cara untuk membuat Jane kembali merasa sedih agar bisa menyelesaikan novelnya.

Di tengah - tengah cerita saya baru sadar bahwa ekspektasi saya terhadap film ini agak berbeda dengan awalnya. Tapi plot cerita yang biasa ini akhirnya bisa ter-cover dengan wajah very doll-nya Karen dan style-nya yang quirky yet fashionable, penampilan Stanley yang bikin hati meleleh sekaligus gemes setiap kali denger perpaduan aksen French-Scottish nya, berbagai backdrop yang membuat saya berbinar - binar (Jane's apartment and Tom's office are just too cool!), dan setting tempatnya yang hampir selalu menarik. Sebuah film yang tepat saat kamu lagi penat dan enggak mau banyak mikir saat menonton :3



• Liberal Arts 
Diantara film – film yang saya review disini, kayanya hanya film ini yang paling sederhana baik dari segi plot, backdrop, maupun sinematografinya. Tapi justru saya suka film ini karena bisa mengemas cerita romance yang sebenarnya cliche menjadi sesuatu yang extraordinary karena strong emotion and chemistry yang berhasil diciptakan oleh kedua pemeran utamanya. Basically, film ini menceritakan tentang romance antara Jesse (Josh Radnor), seorang alumni di Ohio Liberal Arts College, dengan Zibby (Elizabeth Olsen), seorang sophomore di kampus yang sama. Walaupun keduanya terpaut oleh usia yang cukup jauh yaitu 17 tahun, they fall for each other karena ketertarikan mereka yang sama dalam bidang literature dan musik. 

Entah karena topik pembicaraan antara Jesse dan Zibby yang selalu membahas segala sesuatu in a deeper way, cara mereka berkomunikasi yang intelligently romantic, atau juga karena pembawaan Zibby yang dewasa; yang akhirnya membuat saya sebagai penonton enggak merasa terusik sama sekali ketika melihat hubungan dengan jarak usia yang berbeda jauh. Selain itu, akting Elizabeth Olsen dan Josh Radnor yang natural and effortlessly funny juga menjadi salah satu hal yang membuat film ini jadi terasa menyenangkan untuk ditonton. Terlepas dari fakta bahwa memang mereka berdua adalah salah satu actor dan actress favorit saya, they both did a really good job! Bahkan Josh bisa melepas “topeng” Ted-nya di How I Met Your Mother yang udah merekat erat, serta Elizabeth bisa membuat saya lebih sering tertawa dibandingkan beberapa film dia lainnya. 


• Magic In The Moonlight 
Merasa sangat terkesan dan puas dengan "Midnight in Paris", sebuah film romantic comedy fantasy karya Woody Allen yang sempat membuat saya berhari - hari terlarut dalam ceritanya dan bahkan ketika saya ke Paris tiga tahun yang lalu sempat berharap akan mengalami magical experience yang sama (which was ridiculous!), saya pun berharap karyanya kali ini juga akan memberikan kepuasan yang sama. Set in the 1920's, film ini menceritakan tentang Charlie Crawford (Colin Firth), seorang world's famous magician yang selama ini udah mempelajari berbagai magic trick. Sampai akhirnya suatu hari ia bertemu dengan Sophie (Emma Stone), spiritualist yang mengaku bisa memiliki kontak dengan those in the beyond dan ingin membantu seorang janda kaya yang ingin bertemu dengan almarhum suaminya. Charlie yang enggak percaya dengan afterlife and spirit world, berusaha untuk menyelidiki kebenaran dari kekuatan Sophie tersebut.

Terlepas dari ceritanya yang enggak terlalu mengesankan bagi saya karena anti klimaks, kurang mampu membangun emosi, serta chemistry antara Colin dan Emma yang kurang saya dapatkan, this movie has some spotlights like the other Allen's movies. Seperti backdrop film dengan tema 1920's yang definitely one thing that would steal your attention while watching the movie. Film ini juga menggunakan color tone yang berhasil menciptakan kesan vintage and classic, serta memperkuat kesan glamour yang sesuai dengan cerita dan backdrop yang digunakan. Dan hal lain yang juga membuat film ini so-eyes-feasting adalah pemandangan Cote d'Azur yang terlalu cantik hingga membuat saya semakin enggak sabar untuk mengunjungi Southern France di suatu musim panas :3


 • God Help The Girl 
Agak berbeda dengan tema ketiga film sebelumnya, film ini enggak terlalu mengekspose romantic relationship, tapi lebih ke persahabatan dan teenage dream. Makanya lebih cocok ditonton buat kamu - kamu yang lagi menikmati masa - masa muda dan semangat meraih banyak mimpi. Apalagi bagi kamu yang suka Belle & Sebastian, film ini wajib ditonton karena penulis cerita sekaligus sutradara-nya adalah lead singer dari band ini, yaitu Stuart Murdoch. I'm not a big fan of them, but I love listening almost every songs in the movie.

Anyway, film ini menceritakan kehidupan Eve (Emily Brown) yang sedang dalam masa perawatan karena memiliki masalah depresi yang menyebabkan dia menderita anorexia. Salah satu cara untuk mengatasi masalahnya ini adalah dengan menulis lagu dan menyanyi. Suatu hari ketika Eve sedang kabur dari rumah sakit untuk menonton sebuah pertunjukkan musik, ia bertemu dengan James (Olly Alexander), penyanyi dan gitaris dari sebuah band kecil dan Cassie (Hannah Murray), James's guitar student. Singkat cerita, mereka bertiga menjalin persahabatan dan membentuk sebuah band indie. Namun, di tengah - tengah perjalanan mereka saat meraih mimpi dalam dunia musik, ada beberapa perbedaan pendapat yang menciptakan konflik diantara ketiganya.

This might not be a film that everyone could enjoy or understand. Plot yang suka tiba - tiba pindah dan beberapa bagian cerita yang berbeda lalu digabungkan menjadi satu, kadang membuat saya bingung. Di beberapa bagian film, saya juga sempat mengantuk dan bosan. Mungkin karena film ini sebenarnya lebih banyak menceritakan kehidupan band, seperti proses pembuatan band, lagu dan hal - hal lainnya yang terkait dengan karir dalam dunia musik, sementara itu saya enggak terlalu tertarik dengan kehidupan tersebut, jadinya agak membosankan bagi saya. TAPI, rasa bosan saya itu enggak berlangsung lama karena musical performance yang berhasil dibawakan dengan baik oleh para pemainnya, suara merdunya Emily Brown dan lagu - lagu Belle & Sebastian yang easy listening. Selain itu dengan melihat perjuangan Eve yang segitu besarnya untuk meraih mimpinya, berhasil membuat saya tersentuh juga. And oh, all the outfits are just sooooo tempting! Begitu selesai nonton film ini, besoknya saya langsung ke Pasar Senen buat thrifting. Hahaha.



• When Marnie Was There 
Oh, come on, do I really need a reason to watch this movie? Kayanya hampir semua film Ghibli yang saya tonton, none of them has ever been disappointing me! Dengan ciri khas gambar 2D-nya yang selalu menyenangkan untuk dilihat - I can't find words to describe it, but there's always this special feeling every time I watch them - serta ceritanya yang sangat kuat, Hayao Miyazaki selalu berhasil membuat saya terbawa ke dunia Ghibli hingga beberapa hari setelah saya menonton dan meninggalkan kesan yang mendalam. Meskipun kali ini bukan dibuat olehnya, tapi tetap aja kualitas ceritanya sama bagusnya dengan film - film Ghibli sebelumnya.

Menceritakan tentang Anna, seorang gadis introvert yang sulit untuk mendapatkan teman, sampai akhirnya ia bertemu dan berkenalan dengan Marnie di sebuah rumah tua. Anna yang enggak biasanya terbuka dengan orang lain, kali ini merasa nyaman untuk cerita tentang kehidupannya dengan Marnie. Singkat cerita, hubungan persahabatan mereka pun menjadi semakin erat sampai suatu ketika Marnie tiba - tiba menghilang. Sekilas, plot film ini terlihat biasa dan mudah ditebak endingnya. Bahkan  saya udah keburu kecewa dengan Ghibli karena enggak biasanya memproduksi film yang predictable. Namun semua itu berubah 180 derajat ketika mulai banyak hal - hal mengejutkan sekaligus membuat penasaran yang terjadi di tengah - tengah cerita. With a twist ending, film ini berhasil membuat saya yang awalnya merasa annoyed dengan persahabatan Anna dan Marnie yang menurut saya a bit too much, menjadi berbalik sedih dan hampir menangis (mungkin kalo saya enggak sempat berhenti menontonnya dan enggak skeptis duluan dengan ceritanya, saya bisa banget buat nangis!). Dan untuk kesekian kalinya, Ghibli berhasil membuat saya susah move on dengan filmnya :')

November 11, 2015

#ROH 3: Rainy Days

Have I ever told you that I’m an admirer of rain?


Sejak kecil saya selalu merasa adanya keterikatan dengan hujan. Saya enggak bisa menjelaskan seperti apa keterikatan tersebut, but there's this kind of feeling that somehow could bring me back to my childhood. Sebuah perasaan dan kenangan yang terbentuk ditengah - tengah antara ingatan dan imajinasi saya sewaktu kecil. Bukan hanya itu, hujan juga memberikan perasaan nyaman yang menyelimuti saya dikala ia datang. Dulu setiap kali sedang bosan atau suasana hati lagi enggak enak, saya sering ke beranda rumah dan duduk disana untuk beberapa lama hanya untuk melihat suasana langit yang mendung, merasakan angin sejuk yang menerpa wajah saya, mendengar tetesan hujan yang jatuh di atap, dan menghirup aroma di udara yang muncul ketika air hujan tersebut beradu dengan tanah. Kata mereka, hujan membuat suasana hati menjadi ikutan mendung. Bagi saya, hujan justru memberikan banyak inspirasi untuk menulis dan berimajinasi. Entah saat saya sedang dalam perjalanan ditemani oleh alunan musik maupun ketika di kamar dengan selimut dan segelas cokelat hangat, yang pasti ketika melihat guyuran hujan membasahi seisi kota, pikiran saya sulit untuk tetap berada disini. 

Dan rasanya senang sekali melihat hujan kembali datang dalam beberapa hari ini, setelah sekian lama menghilang ditelan oleh teriknya matahari. Selamat datang, musim hujan! I’ve been missing you for quite a while. Mari kita mengeluarkan payung dan sweater yang sudah berdebu karena terlalu lama disimpan dalam lemari :3

November 08, 2015

#ROH 2: Kitchen Experiments

Setelah dipikir - pikir, udah lama banget rasanya saya enggak pernah bereksperimen di dapur dan nyobain resep baru. Bahkan kayanya terakhir saya nyobain resep makanan baru itu di awal tahun ini deh. Padahal walaupun saya bukan ahli di dapur, tapi mencoba resep makanan atau minuman baru adalah salah satu hal yang menyenangkan bagi saya. Apalagi kalau ternyata hasilnya enak dan sesuai yang ada di resep acuannya, wah, rasa bahagianya jelas berbeda dari yang saya dapatkan ketika melakukan hobi saya lainnya *tsaaah* *kibas jilbab* . Tapi entah sejak kapan, semangat saya untuk coba resep dan bermain - main di dapur itu semakin lama semakin menghilang. Sampai akhirnya saya menemukan 'mainan' baru ini yang kembali memunculkan semangat saya untuk bereksperimen dengan berbagai resep yang belum pernah saya coba sebelumnya :)


Mau dikasih topping muesli atau enggak, Berry Nach ini tetep yummy!

Sejak menerapkan pola hidup baru, saya jadi jauh lebih sering mengkonsumsi sayur dan buah - buahan setiap harinya. Walaupun masih belum bisa meninggalkan makanan favorit saya lainnya seperti roti dan cokelat, tapi pasti setiap dua atau tiga hari sekali saya belanja buah untuk stok cemilan di rumah dan bekal ke kantor. Sedangkan untuk sayur, saya lebih sering mengandalkan sayur tumis dan gado - gado yang dijual di kantin. Awalnya saya enggak merasa ada yang salah dengan konsumsi sayur dan buah - buahan saya. Ehmm. Okay, saya sadar sih bahwa sayur tumis itu menggunakan minyak yang saya enggak tau udah berapa kali dipakai dan bumbu kacang yang berlimpah di gado - gado yang saya makan itu sebenarnya kurang baik. Tapiii kan tapi kaaan, tetep aja itu sayur - sayuran dan lebih bergizi dari makanan yang lain yang juga ditumis dan dikasih bumbu kacang *kebiasaan denial, haha!*. Sampai akhirnya di akhir bulan Agustus kemarin, saya melihat postingan Instagram salah satu teman saya, Nadia (@baiqnadia). Entah kenapa saat itu saya tertarik banget melihat beberapa postingan Nadia tentang green smoothie yang dia buat. Padahal sebelumnya saya udah sempat melihat postingan tentang green smothie ini dari beberapa instagrammer dan blogger, tapi enggak terbersit sekalipun untuk membuatnya. Puncaknya sih ketika saya iseng - iseng buka blognya Nadia dan menemukan salah satu postingannya yang membahas tentang manfaat dari green smoothie ini.

Berikut salah satu penjelasan yang saya copy langsung dari blognya Nadia (http://baiqnadia-baiqnadia.blogspot.co.id):
Smoothie hijau atau green smoothie ini memang berbeda dengan jus biasa. Smoothie lebih bertekstur, karena bahan utamanya adalah sayuran berdaun (mis: bayam, caisim, kale, pakcoy, daun wortel, parsley, seledri, brokoli, dll) dan tidak disaring sama sekali, ooo yikes! Namun rasa langu dari sayuran hijau teredam dengan campuran buah segar pengendali  rasa (mis: pepaya, stroberi, nanas, pisang, dll). 
Quick story behind it ... Ramuan ini *ceilah ramuan* ditemukan oleh seorang pegiat raw food bernama Victoria Boutenko. Victoria telah mencoba berbagai opsi makanan mentah untuk menyelamatkan diri dan keluarganya yang sakit-sakitan, it was like ‘there is no other way, you change to a better, healtier lifestyle or die’. Wihhh... lebay ya, tapi ya memang begitu keadaan keluarga Boutenko saat itu. Thankfully, beberapa percobaan (terhadap diri sendiri dan keluarganya) dan penelitiannya berhasil, dan telah dibukukan dan jadi world wide best-selling books. Meski begitu, setelah enam tahun mengonsumsi murni makanan mentah, kondisi kesehatan keluarganya mulai mengalami degradasi. 
Lho? Apa yang salah? 
Ternyata, makanan mentah yang selama ini mereka makan tidak cukup memenuhi kebutuhan utama mereka. Umbi-umbian, salad dengan mayones dan saus yang lezat, ternyata jika dikonsumsi terus-menerus dalam waktu yang lama tanpa pendamping yang cukup, malah akan menimbulkan efek kebalikan pada tubuh. Victoria pun mencari informasi baru, sampai akhirnya ia mendalami tentang diet simpanse. Simpanse, hewan yang paling mirip dengan manusia ini ternyata tidak hanya makan buah. Lebih dari 50% dietnya terdiri dari sayuran berdaun hijau, bunga, dan biji. Sementara untuk manusia, makanan seperti itu sangat sulit dimakan mentah-mentah dan dalam dosis besar setiap hari. Victoria yang sebelumnya hampir putus asa menemukan cara untuk bisa makan sayuran berdaun hijau tanpa mengolahnya dengan minyak atau margarin, menemukan bahwa membuat smoothie dengan sayuran hijau sangat lezat jika dicampur dengan buah. It’s refreshing! Bahkan tanpa gula dan pemanis buatan sekalipun.
Smoothie hijau yang halus meringankan kerja lambung, juga memastikan asam lambung berada pada kadar yang pas. Manfaat dari klorofil yang terdapat dalam sayuran hijau mampu melawat radikal bebas dan sel-sel jahat dalam tubuh. Serat dalam sayur dan buah membantu membersihkan usus, melancarkan pencernaan secara alami, dan menyuplai stok serat, sehingga tak ada lagi sembelit dan kulit kusam.
Supaya enggak bosen, green smoothie ini juga bisa disajikan dengan buah - buahan tambahan dan muesli 

Ternyata dalam prakteknya, walaupun udah dikasih tau kalo rasa sayuran di green smoothie ini enggak akan terasa karena didominasi oleh rasa dari buah - buahan, tetap aja saya deg - degan saat pertama kali cobain bikin green smoothie dengan menggunakan resep: bayam merah, pisang dan air jeruk. Maklum aja, selama ini saya enggak pernah terpikir sekalipun untuk minum sayur! Tapi akhirnya setelah mencoba resep tersebut, saya malah ketagihan buat green smoothie ini setiap dua hari sekali (FYI, green smoothie yang saya buat takarannya untuk 1 liter atau sekitar 3 gelas, dan saya biasanya minum 2 gelas/hari, jadi masih ada sisa 1 gelas lagi buat hari berikutnya). Selain rasanya enak, mudah dan cepat dibuat (cocok buat kamu yang kerja kantoran, karena proses pembuatannya yang hanya butuh waktu 15 - 20 menit), bikin enggak cepet bosen dengan konsumsi sayur dan buah yang sama, dan terlebih lagi, khasiat dari green smoothie ini memang terasa banget! Bukan cuma bikin badan saya langsung segar seketika, pencernaan semakin lancar, tetapi saya juga semakin jarang sakit. Walaupun beberapa kali rasanya badan saya akan 'tumbang' karena kecapekan, tapi alhamdulillah banget akhirnya enggak pernah jadi sakit. Oh iya, bagi beberapa orang, efek green smoothie ini juga bikin mereka enggak gampang lapar sampai beberapa jam setelah minum. Nah, yang ini enggak terlalu berlaku buat saya, karena sejam atau paling lama dua jam setelah itu pasti bawaannya selalu pengen ngunyah lagi :))

Diminum pagi atau sore hari, sama - sama bikin seger badan

Selama dua bulan ini saya udah nyobain beberapa resep. And here are the most favorite of mine:

Baby Kiban
3 baby pakcoy
2 pisang
2 kiwi
1 gelas susu kedelai
Es batu (sesuai selera)
Blend sampai halus semua bahan diatas

atau

3 baby pakcoy
2 pisang cavendish
2 kiwi
5 jeruk (ambil airnya aja)
1 1/2 gelas air
Es batu (sesuai selera)

Berry Nach
1 ikat bayam merah
10 strawberry
2 pisang cavendish
1 gelas susu kedelai atau 1 1/2 gelas air
Es batu (sesuai selera)
Blend sampai halus semua bahan diatas

Bronana
1 bonggol brokoli
3 pisang cavendish
1 lemon (ambil airnya aja)
1 1/2 gelas air
Blend sampai halus semua bahan diatas

Meeny-Greeny 
1 buah apel greeny smith
1 ikat bayam hijau
2 kiwi
3 jeruk (ambil airnya aja)
1 1/2 gelas air
Es batu (sesuai selera)
Blend sampai halus semua bahan diatas

Catatan: 

1. Bagi kamu yang masih newbie dengan green smoothie dan masih takut untuk "minum sayur", coba ganti air dengan susu kedelai, susu almond atau yoghurt. Selain teksturnya lebih lembut dari yang menggunakan air, rasa sayurannya pun juga semakin enggak ada.

2. Kalau kamu merasa green smoothie yang kamu buat masih kurang manis, bisa tambahkan perasan air jeruk atau madu.

3. Dari pengalaman saya, menaruh sayuran di bagian paling bawah blender justru bikin blender cepet rusak. Saya sempat masukkin bayam di paling bawah, dan akibatnya blender saya lebih keras bekerjanya hingga sempat mengeluarkan asap! Jadi memang langkah terbaik adalah memasukkan air dulu, lalu meletakkan potongan buah - buahan di paling bawah blender, baru kemudian sayur - sayuran dan es batu.

4. Coba cari resep green smoothie lebih banyak lagi supaya semakin semangat! Untuk acuan resep, bisa buka http://simplegreensmoothies.com ; atau follow instagram @thesunshineeatery @elsas_wholesomelife @nadyahutagalung @yoear . Warn you, beberapa akun tersebut akan membuat kamu ngiler dan pengen nyobain green smoothie dengan resep mereka!

Eh iya, kalo kalian punya resep green smoothie favorit, boleh bangetlah dibagi - bagi infonya ke saya yaa. Semoga postingan ini bukan hanya menjadi reminder buat saya, tapi juga bisa bermanfaat buat kalian yang membaca. Selamat mencobaaa! :D

November 04, 2015

#ROH 1: Meeting New People

Saya termasuk orang yang beruntung saat kuliah dulu pernah berada diantara orang - orang dan lingkungan yang membuat saya untuk aktif terlibat di berbagai kegiatan kepanitiaan dan organisasi. Karena saya yang dulunya cenderung sulit untuk beradaptasi, sekarang jadi mulai terbiasa bertemu dan menghadapi berbagai orang - orang baru untuk masuk ke dalam hidup saya dan menjalin pertemanan dengan mereka. Bukan, bukan hanya mempengaruhi karakter dan kepribadian saya. Dan bukan hanya mendapatkan banyak teman dan keluarga baru. Tetapi terlebih lagi adalah pengalaman dan memori yang luar biasa, yang membuat masa - masa kuliah saya menjadi salah satu bagian terindah dalam hidup saya. Segala kesibukan, pengorbanan, rasa capek, konflik, penat, hingga tawa canda saat menjalani masing - masing dari kegiatan tersebut selama beberapa bulan sampai akhirnya berhasil melewati dan menyelesaikannya, adalah suatu kebahagiaan tersendiri buat saya. Dan kali ini lagi - lagi saya termasuk salah satu orang yang beruntung karena ternyata dengan lolos seleksi sebuah program beasiswa, saya bukan hanya mendapatkan kesempatan untuk merealisasikan mimpi saya, tetapi juga kesempatan untuk mendapatkan sebuah kebahagiaan yang sudah sempat saya lupakan selama kurang lebih empat tahun belakangan ini, serta kesempatan untuk bertemu dengan banyak orang - orang baru yang menginspirasi saya



Pernah enggak sih kalian punya banyak hal yang ingin diungkapkan, tapi enggak tau harus mulai darimana? Itu yang saya rasakan sejak minggu lalu ketika mulai menulis tentang kegiatan Persiapan Keberangkatan (PK), sebuah kegiatan pembekalan yang diadakan untuk para penerima beasiswa LPDP sebelum mereka mulai kuliah dan berangkat ke negara tujuan studi masing - masing. Entah udah berapa kali saya edit postingan ini karena setiap kali membaca ulang tulisan yang dibuat rasanya masih enggak pas di hati. Sebenarnya begitu banyak hal yang ingin saya tulis tapi saya bingung bagaimana menceritakannya. Kalau saya ceritakan semuanya, bisa - bisa postingan ini jadi rekor postingan terpanjang di blog saya, saking banyaknya hal yang ingin diceritakan :)) 

Dari yang awalnya kesal karena disibukkan oleh berbagai tugas yang hampir selalu diberikan setiap minggu selama tiga bulan sebelum kegiatan PK dimulai, yang jumlah tugasnya melebihi ospek mahasiswa baru, yang bukan cuma menyita pikiran tapi juga membuat hp saya hampir error karena setiap harinya jumlah chat di beberapa grup WhatsApp - yang dibuat khusus untuk kegiatan ini - pasti selalu ratusan bahkan pernah sampai seribu (!). Dari yang awalnya merasa apatis dengan angkatan karena merasa euphoria dan semangat buat menjalani kegiatan semacam ini jelas udah lewat masanya bagi angkatan tua seperti saya. Dari yang awalnya merasa malas mengikuti PK dan pengen cepat - cepat selesai karena udah capek menghadapi berbagai tugas dan berbagai drama *upsss* yang melanda selama kegiatan pra-PK. Sampai akhirnya tepat sebulan yang lalu saya baru benar - benar merasakan bahwa acara PK ini adalah salah satu hal terbaik yang saya dapatkan di tahun ini. 



Dimasukkan ke dalam satu angkatan dengan 120 orang dari berbagai penjuru daerah di Indonesia, menjalani berbagai perjuangan bersama mereka selama tiga bulan lebih, hingga kemudian dipertemukan selama enam hari di satu tempat, lalu kembali melanjutkan perjuangan sampai hari penutupan acara itu rasanya seperti diberikan suntikan semangat ke dalam kehidupan saya (duh, ini bahasanya terdengar berlebihan banget ya hahaha). But it truly comes from the most honest part of myself. Rasanya udah lama banget sejak terakhir kali saya bertemu dengan sekumpulan orang - orang yang bisa membuat saya nyaman untuk menyapa dan mengajak ngobrol duluan (biasanya kalo di lingkungan baru saya cenderung menunggu disapa dan diajak ngobrol, haha!). Orang - orang yang hobinya bikin ketawa mulu karena berbagai kelakuannya yang aya - aya wae, yang bikin gemes pihak panitia karena susah diatur, yang kalo dari pembawaannya enggak keliatan bahwa mereka itu sebenarnya adalah orang - orang hebat yang memiliki keunggulan di bidangnya masing - masing, yang membuat saya sempat minder sekaligus terkagum - kagum, yang berhasil menyadarkan saya untuk terus bisa menjadi seseorang yang lebih baik supaya enggak kalah hebat dari mereka, dan yang bikin saya susah move on padahal udah sebulan dari sejak acara PK berlangsung. 


Iya, semua rasa kesal yang saya rasakan di awal kegiatan pra-PK akhirnya hilang tanpa bekas. Justru saya enggak bisa membayangkan apa yang terjadi seandainya enggak ada kegiatan pra-PK, seandainya kami semua langsung dikumpulkan selama enam hari tanpa ada perkenalan, komunikasi dan perjuangan melalui WhatsApp dan kopdar, seandainya kegiatan PK enggak sepadat itu hingga membuat jatah tidur hanya 10 jam selama enam hari, seandainya saya enggak ditunjuk jadi koordinator video angkatan, seandainya teman - teman satu tim videografer enggak bisa diajak kerjasama dengan baik, seandainya dua teman video editor saya enggak se-woles dan enggak punya sense of humor dan editing taste yang sama seperti saya, seandainya teman - teman angkatan saya bukan orang - orang yang saya temui sekarang, seandainya enggak ada pembicara yang sangat menginspirasi seperti Pak Ucok dan Bu Corina, seandainya enggak ada acara outbond ke Bandung, seandainya panitia yang sedang in-charge bukanlah panitia yang saya temui sekarang. Seandainya semua itu enggak ada, mungkin enam hari ini enggak akan sangat mengesankan dan meninggalkan kesan mendalam untuk saya. Terima kasih kepada para panitia yang telah merancang semua kegiatan PK-43 ini, dan tentunya Jivakalpa yang telah menjadi sebuah angkatan yang sangat menyenangkan :')


"Kejahatan PK adalah ketika mempertemukan kita sebagai orang asing dari seluruh Indonesia, lalu memisahkan kita ke seluruh penjuru dunia disaat kita sudah merasa sebagai satu keluarga." 

(Mohammad Kamilludin)