November 24, 2015

#ROH 8 : Volunteering

Salah satu hal yang udah lamaaaaaa banget saya tinggalkan terutama sejak kembali tinggal dan kerja di ibukota adalah volunteering. Memang butuh komitmen dan niat yang lebih besar ternyata untuk terus melakukan volunteering dengan rutinitas dan jarak tempuh di Jakarta yang kemana - mana enggak semudah dan sedekat di Bandung atau Bournemouth. Makanya saya senang banget akhirnya bisa terlibat kembali di kegiatan volunteering melalui program Kelas Inspirasi.

Mungkin banyak dari kalian udah familiar dan bahkan udah pernah menjadi sukarelawan di program ini. Tapi bagi kamu - kamu yang belum tau, program Kelas Inspirasi ini adalah sebuah kegiatan sukarela dari para pekerja profesional yang turun langsung untuk mengajar dalam sehari di beberapa sekolah dasar di berbagai daerah di Indonesia. Tujuannya adalah supaya para siswa SD ini bisa mengenal beragam profesi dan memotivasi mereka untuk meraih cita - cita mereka. Karena dari berbagai pengalaman para inspirator (sebutan bagi para volunteer yang mengajar), para siswa SD cenderung hanya memiliki cita - cita sebatas "guru, tentara, dokter dan pemain sepakbola". Makanya dengan program Kelas Inspirasi ini diharapkan mereka jadi mengenal lebih banyak profesi, serta menjadi semakin termotivasi untuk meraih cita - cita mereka. Selain itu, bagi para inspirator yang terlibat pun juga diharapkan dapat lebih peka terhadap pendidikan dasar di Indonesia setelah mengamati langsung kondisi pendidikan di sekolah - sekolah yang masih tertinggal.



Berhubung pekerjaan yang saya lakukan selama hampir dua tahun ini adalah mengajar, makanya awalnya saya sempat menganggap enteng kegiatan ini. Sampai akhirnya tiba hari briefing dimana para inspirator berkumpul dan dibagikan sebuah modul mengajar. Darisitu saya mulai menyadari ternyata mengajar anak kuliah dan anak SD itu sangatlah berbeda, baik dari segi cara menyampaikan materi maupun menghadapi perilaku siswa. Kalau biasanya saya cenderung menggunakan metode mengajar yang formal dan bisa banget buat "galak" kalo ada mahasiswa yang bandel, kali ini saya enggak bisa menerapkan cara dan sikap yang sama ketika menghadapi anak - anak SD ini. 

Semakin mendekati hari H, saya semakin panik dan cemas. Entah beberapa kali saya mengganti lesson plan (semacam acuan ketika dalam mengajar) dan slide presentasi yang akan saya tunjukkan. Saya sampai bolak balik konsultasi dengan ibu saya yang ahli di bidang pendidikan anak tentang cara mengajar anak - anak kelas 1 hingga 6 SD. Saya hanya takut materi yang saya sampaikan terlalu sulit untuk dipahami, atau justru terlalu mudah. Belum lagi saya juga sempat bingung memilih profesi mana yang lebih baik saya jelaskan nantinya. Apakah jadi dosen? Perencana kota? Perencana pariwisata?. Bahkan saking paniknya, saya sempat kepikiran untuk mundur. Sampai akhirnya saya baca beberapa blog yang menceritakan pengalaman seru mereka saat KI. Ternyata banyak juga dari mereka yang mengalami gejala yang sama seperti saya: deg - degan, bingung dan beberapa juga sempat punya pikiran untuk mengundurkan diri. Tapi akhirnya mereka tetap ikut dan mendapatkan pengalaman yang bikin mereka ketagihan untuk ikutan Kelas Inspirasi berikutnya. Darisitu semua kepanikan dan rasa takut saya perlahan menghilang. Tergantikan dengan semangat dan rasa penasaran untuk mendapatkan pengalaman pertama saya sebagai guru SD.





Saat hari H, saya kebagian jadi inspirator pertama yang mengajar kelas 2. Ternyata rasa deg - degan saya masih belum sepenuhnya hilang. "Saya harus gimana kalo ternyata apa yang saya sampaikan ini enggak menarik bagi mereka?". Berbagai pikiran pesimis saya kembali muncul. Namun untungnya kehadiran wali kelas dan salah seorang teman inspirator yang akan mengajar setelah sesi saya, Nopi, mampu menenangkan saya. Ketika saya masuk kelas, anak - anak sudah duduk dengan rapih di kursi mereka masing - masing. Walaupun belum ada perkenalan secara langsung, wajah mereka yang sumringah dan bersemangat sudah membuat saya jauh merasa tenang. Sebelum memperkenalkan diri, saya dan Nopi membagikan stiker untuk dituliskan nama setiap anak agar bisa memanggil nama mereka dengan mudah. Setelah selesai, sesuai dengan rencana awal saya yang ingin sedikit membuat suasana mencair, saya mengajarkan mereka tentang peraturan tepuk 1 - 2 - 3 yang saya dapatkan ketika PK LPDP (iya, saya emang enggak kreatif soal beginian!). "Tepuk 1: prok. Tepuk 2: prok - prok. Tepuk 3: ssssttt". Saya sempat mengulangi tepukan itu beberapa kali, sampai yang awalnya masih ada beberapa siswa yang kelepasan saat tepukan ketiga, mereka bisa serentak bilang "sssttttt". Disitu suasana kelas mulai jauh lebih santai dengan antusias mereka untuk fokus ke aba - aba tepukan yang saya berikan. 

Setelah suasana udah mulai mencair, saya memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama, kemudian meminta mereka untuk menebak profesi saya. Beberapa siswa ada yang menyebut saya sebagai dokter, tukang (haaa!), hingga guru. Perlahan saya mulai memberikan clue seperti "saya juga mengajar, tapi bukan guru". Awalnya mereka masih bingung. Lalu saya arahkan lagi, "Kalau guru mengajar siswa tingkat apa aja? SD...", lalu mereka mulai bisa mengikuti "SD, SMP, SMA". "Nah kalau guru yang mengajar mahasiswa apa namanya?". Zingggg. Seketika kelas diam. Membuat saya agak panik. Untungnya ada satu anak yang menjawab "Doseeen". Fyuhh. Saya merasa lega seketika, sampai ada salah seorang anak yang bertanya,  "Dosen itu yang kerjaannya bisnis profesional dan punya banyak uang kan?". Dengan kondisi saya yang antara kaget, takjub dan ingin ketawa, saya kembali menjelaskan profesi saya sebagai dosen yang sama halnya dengan guru, yaitu mengajar, namun perbedaannya adalah anak didik yang diajar sudah jauh lebih besar dari mereka. Selain itu, saya juga jelaskan tentang bidang ilmu yang saya ajari dengan menanyakan ke mereka terlebih dahulu tentang guru - guru yang mengajari mereka di setiap pelajaran. Dengan jawaban mereka yang mengatakan bahwa setiap mata pelajaran diajari oleh guru yang berbeda, saya juga menjelaskan bahwa saya pun mengajari hanya bidang tertentu, yaitu perencanaan kota. Disini saya baru menyadari bahwa perkiraan saya tentang tingkat pemahaman anak - anak kelas 2 SD agak berbeda, karena ternyata mereka masih belum terlalu familiar tentang pengertian rencana dan kota. Bahkan ketika saya menanyakan apa itu kota, mereka cenderung menjawab nama kota (seperti Jakarta, Bandung, Bogor), namun bukan deskripsinya. Setelah kembali menjelaskan pengertian rencana dan kota, saya mulai mengarahkan mereka untuk berpikir tentang elemen - elemen yang ada di kota seperti jalan, transportasi, fasilitas umum (e.g., terminal, stasiun, bandara, stadium), fasilitas sosial (e.g., sekolah, rumah sakit), taman, sungai, rel kereta api, dan lainnya. 

Untuk lebih memudahkan pemahaman mereka, saya juga memberikan slide dengan beberapa foto tentang kondisi kota yang bagus dengan yang buruk (misalnya yang satu menunjukkan kondisi macet, satunya lagi jalanannya lowong), lalu membiarkan mereka berpikir kondisi mana yang lebih baik menurut mereka. Disitulah saya menekankan fungsi perencana kota untuk membuat sebuah kota agar lebih nyaman untuk ditinggali dan mencegah masalah - masalah yang terjadi di kota. Setelah itu, saya meminta mereka untuk menggambar "kota impian" mereka di atas kertas kosong yang sudah saya berikan gambar jalan. Dalam seketika wajah mereka yang tadinya terlihat agak bingung dan mulai enggak fokus, langsung bersemangat kembali sambil mengeluarkan peralatan tulis dan pensil warna. Ada beberapa anak yang langsung banyak menggambar, tapi juga ada beberapa yang belum mulai mengerjakan karena bingung dan enggak percaya diri dengan gambarnya. Disitu saya coba membantu dengan menanyakan tempat apa yang biasa ia kunjungi dan meminta untuk menggambarkannya sebisa mereka. Sayangnya, belum selesai mereka menggambar, Nopi sudah memberikan aba - aba untuk mengganti sesi. Saat itu saya baru menyadari betapa cepatnya tiga puluh menit.




(courtesy of Kelas Inspirasi Bogor)

Kelas selanjutnya yang saya ajari adalah kelas 1. Sebelum masuk kelas ini, saya masih punya waktu istirahat sekitar 15 menit yang akhirnya saya manfaatkan dengan foto beberapa inspirator yang sedang mengajar, salah satunya inspirator yang udah mengajar sebelum saya di kelas 1. Dari penampakan sekilas aja udah terlihat berbeda banget, yaitu suasana kelas yang ramai. Wah, ternyata benar ucapan para inspirator yang saya baca bahwa anak - anak kelas 1 ini memang terkenal paling aktif diantara kelas lainnya!

Begitu saya masuk, sudah ada 2 guru pendamping yang berada di kelas. Saya memang sudah diingatkan bahwa metode mengajar yang digunakan untuk kelas ini harus lebih atraktif, seperti menyanyi, menari dan menggambar. Setelah memperkenalkan nama, saya coba mengajak mereka untuk menari bersama dari video yang ada di laptop saya. Mereka langsung terlihat sangat senang dan bergerak ke depan laptop untuk menari. Namun karena mereka jadi berebutan untuk melihat video dan ada beberapa anak yang mulai ricuh, saya memutuskan untuk memberhentikan video tersebut dan mengajak mereka untuk duduk dengan rapih di lantai. Akhirnya saya memberikan sebuah film animasi, Charlie in New Town, yang menceritakan tentang kondisi sebuah kota yang kurang nyaman, namun dengan perencanaan yang lebih hati - hati akhirnya pemerintah setempat bisa mengubah kota tersebut menjadi lebih rapih. Sebenarnya film ini juga mau saya berikan di kelas 2, tapi berhubung ada kendala di laptop saya waktu ingin menunjukkan film ini, makanya enggak jadi saya tunjukkan. Saat menonton film tersebut saya juga coba ajak mereka berpikir tentang film tersebut supaya pesan yang ingin saya sampaikan melalui film tersebut bisa dipahami oleh mereka. Sambil mem-pause dan me-rewind beberapa scene, saya menanyakan apa pendapat mereka tentang scene tersebut. "Sekarang Charlie lagi dimana? Gimana kondisinya?" "Lagi duduk di bus yang sesak dan udaranya kotor". "Ada apa aja di kota nya Charlie?" "Rumahhh, banyak gedung - gedung tinggi". "Kota yang ditinggali Charlie gimana keadaannya?" "Ramai sekali, banyak banget orang dan bangunannya". "Begitu sampai di rumah apa yang terjadi dengannya? Kelihatannya Charlie gimana?" "Kecapekan dan enggak senang". Itulah beberapa contoh pertanyaan sederhana yang saya lontarkan agar mereka lebih peka terhadap kondisi yang terjadi di film tersebut. Saya juga membandingkan suasana kota di awal film dan di akhir film yang menunjukkan suasana kota baru setelah adanya perencanaan yang lebih baik. Disitu juga terlihat Charlie enggak lagi mengendarai bus, tetapi bersepeda dengan wajah yang terlihat senang. Setelah anak - anak memahami hal tersebut, saya mulai memperkenalkan profesi saya sebagai perencana kota dan sama halnya dengan anak - anak kelas 2, saya juga membagikan kertas untuk menggambar kota impian mereka. Kali ini respon mereka lebih bersemangat, terlihat dari berbagai pertanyaan yang mereka ajukan ke saya saat mulai menggambar. "Bu, kalau saya mau gambar matahari dan awan boleh enggak?" "Kalau saya mau warnain jalannya enggak apa - apa?" "Saya boleh buat kolam ikan enggak, Bu?". Bahkan ada beberapa anak yang lebih peka ketika mereka melihat sebuah gambar yang bukan terlihat seperti jalan, yaitu rel kereta api. "Bu, kalau buat kereta api gimana caranya?". Dan masih banyak pertanyaan - pertanyaan lainnya yang diberikan oleh tiga puluh siswa di kelas 1 tersebut. Membuat saya ikutan enggak bisa diam selama mengajar di kelas :))




Yang paling menarik dari anak - anak kelas 1 ini bukan hanya energi positif dan semangat yang mereka tularkan ke saya, tapi kejutan - kejutan yang mereka berikan. Mulai dari tiba - tiba ada anak yang mengadu ke saya sambil menangis karena kursinya ditempati oleh murid lain, ada juga yang menangis karena enggak dibolehin meminjam pensil warna temannya, berantem karena gambarnya ditiru oleh teman sebangkunya, sampai ada juga yang menangis karena ingin pulang. Tapi terlepas dari itu semua, anak - anak ini sebenarnya sangat baik dan mudah diatur. Buktinya ketika saya mencoba untuk menenangkan dan membujuk murid lain untuk berbagi, mereka langsung kembali membaik dan mengerjakan tugas mereka. Hal lain yang juga membuat saya kagum dengan mereka adalah kesopanan dan kedisiplinan mereka. Ketika beberapa diantara mereka yang ingin meminjam pensil warna saya, pasti mengucapkan "Bu, saya boleh pinjam pensil warnanya?". Begitu juga setiap kali sudah selesai digunakan, mereka langsung mengembalikan ke kotaknya sambil mengucapkan terima kasih. Saking merasa nyamannya di kelas ini, saya benar - benar lupa untuk mengecek waktu hingga jam sudah menunjukkan bahwa saya sudah di kelas selama satu jam lebih! Satu hal lagi yang lebih membuat saya terharu adalah, setelah sesi kelas 1 ini selesai dan saya sedang mengajar di kelas 4, beberapa anak - anak kelas 1 ini masuk ke kelas dan menyampiri saya hanya untuk mencium tangan sebelum pulang. Bahkan ada yang menanyakan ke saya apakah besok saya akan datang lagi untuk mengajar, dan ketika saya menjawab bahwa saya hanya mengajar hari ini aja, sesaat raut wajah mereka agak kecewa namun kemudian mengucapkan terima kasih karena sudah mengajar. Saat itu saya semakin mengerti kenapa banyak inspirator yang ketagihan buat mengikuti Kelas Inspirasi ini :') 






Berbeda dengan di dua kelas sebelumnya yang cenderung menggunakan metode bermain, saat mengajar di kelas 4, 5, dan 6 saya lebih banyak menjelaskan dan mengajak diskusi. Di kelas "senior" ini saya juga banyak memberikan materi tentang bidang planologi. Misalnya ketika menonton film, saya bukan lagi menanyakan pemahaman mereka terhadapa setiap scene, tapi secara keseluruhan film tersebut. Saya juga mulai masuk ke ilmu planologi, salah satunya dengan menjelaskan bahwa dalam pembangunan suatu kota yang paling utama adalah jalan (kebetulan ada salah satu scene di film yang mendukung), karena tanpa adanya jalan, kita akan sulit untuk pergi kemana - mana. Makanya di film tersebut juga menunjukkan pembangunan di suatu kota yang paling utama adalah dari jalanannya dulu dan akhirnya pembangunan lain pasti mengikuti si jalan tersebut. Setelah itu beberapa slide perbandingan kota yang baik dan buruk, yang sebelumnya sudah ditunjukkan di kelas 2 juga saya tampilkan kembali. Namun kali ini saya juga meminta mereka untuk memikirkan permasalahan - permasalahan yang ada di kota mereka (seperti polusi, sampah, macet, dll) dan harapan terhadap kota mereka ke depannya. Adapun hal yang enggak saya jelaskan saat di kelas - kelas sebelumnya adalah peta rencana pembangunan kota yang pernah saya buat dan beberapa contoh peta tematik yang perlu diperhatikan saat merencanakan pembangunan sebuah kota. Untuk pembagian tugasnya, di kelas 4 dan 5 saya meminta mereka untuk menggambar kota impian namun di atas kertas yang benar - benar kosong, sehingga mereka belajar untuk membuat jalan sendiri. Sedangkan di kelas 6 saya meminta mereka untuk menggambar ruang atau bangunan tempat mereka melakukan pekerjaan yang sesuai dengan cita - cita mereka. 

Selain memberikan materi planologi, saya juga ingin lebih menanamkan semangat dan motivasi dalam mencapai cita - cita mereka tersebut, karena banyak yang menganggap bahwa anak - anak kelas 4 sampai 6 sudah lebih paham dan bisa diajak diskusi tentang profesi dan cita - cita. Disinilah saya baru menyadari bahwa memang ternyata pengenalan profesi sangat diperlukan terutama di kalangan anak - anak SD yang masih tertinggal seperti ini. Dari jawaban mereka memang kebanyakan ingin menjadi guru, dokter, polisi, dan pemain bola. Yang lucunya adalah ketika salah seorang anak menanyakan ke saya, "Bu, kalau saya mau jadi hacker gimana?". Saya terkaget - kaget dan kembali memastikan pertanyaannya tersebut. "Hacker apa maksudnya? Hacker internet?". Lalu ia mengangguk. Waduh. Saking kagetnya saya sempat speechless. Lalu saya bilang bahwa hacker itu bukanlah sebuah profesi yang baik karena itu sama saja dengan tindakan kriminal seperti mencuri. Anak kecil jaman sekarang udah lebih jago ya, sampai udah tau hacker segala -_- . Akhirnya sesi di beberapa kelas ini ditutup dengan membagikan "sertifikat cita - cita" yang berisi tentang pernyataan setiap siswa terkait dengan cita - cita mereka, sehingga mereka akan selalu ingat dan bersemangat untuk mencapainya. 



Para inspirator dari Rombel (Rombongan Belajar) 18 :)

Terima kasih Kelas Inspirasi atas kesempatannya berbagi pengalaman paling berkesan dan menyenangkan di tahun ini. Semoga suatu saat saya bisa kembali ikut di Kelas Inspirasi lainnya. Bagi kalian yang belum pernah ikut, yuk yuk segera daftar di Kelas Inspirasi. Bisa langsung dicek jadwal "Hari Inspirasi" di website Kelas Inspirasi

Selamat mengajar dan menikmati salah satu pengalaman terbaik-mu! :)

7 comments:

  1. assalamu'alaikum kaka.. semoga makin berjaya dan terus menginspirasi dengan cerita journeynya yang inspiratif.. kak, foto2yang kakak share kok bersih2 bngetya kak ya, kalo boleh tau kakak motretnya nggunain kamera ap ya kak ya?

    ReplyDelete
  2. Haloo! Makasih yaa udah baca blog aku hehe. Ini aku fotonya pake kamera DSLR Sony A550 :D

    ReplyDelete
  3. salam kak. aduh fotonya keren2 dan ceritanya sangat menginspirasi. aku mau tnya nih kak soal lectures abroad.

    ReplyDelete
  4. Asslmuallaikum.trimaksih kk msukan n crta2nya .saya adalah salah satu mahasiswaakhir .saya k pgn bgt sprt kk .mlnjutkn pascasarjana d luar negri .mksh atas motivasi nya .y walaupun daerah kami ini jarang dikenal orang.tp saya bangga .klu saya asli akamsi(anak kampung sini) daerah saya di Tanjungpinang kepulauan riau. Mhn d share y kk .untuk info slnjt nya .trimakasih kk .slm anak melayu keturunan minang hahahahaha ...

    ReplyDelete
  5. stidaknya aku punya gambaran nantinya pas KElas Inspirasi gimana.
    Trima kasih banyak buat sesi berbagi kisahnya ya mbakk hhee

    ReplyDelete