November 18, 2015

#ROH 6 : Learn Something New

Kayanya kamu yang punya sifat seperti saya - suka penasaran buat nyobain banyak hal baru, sering merasa bosan dengan kegiatan monoton, serta mudah excited dengan little things - bisa paham bagaimana menyenangkannya ketika melakukan kegiatan dan mempelajari suatu hal baru. Diantara sekian banyak hal yang pengen saya coba, salah satu hal yang udah lama bikin saya penasaran adalah berkebun. Entah kenapa, selalu aja ada kesenangan tersendiri setiap kali melihat tanaman - tanaman hijau, main di perkebunan, maupun mengunjungi farmer's market yang menjual berbagai hasil panen petani lokal. Sebenarnya waktu kecil dulu saya sempat diajarkan untuk menanam beberapa tanaman di rumah seperti cabe, tomat dan pepaya. Biasalah anak kecil, beberapa hari pertama semangat banget nyiramin dan ngecekin tanaman setiap sebelum pergi dan setelah pulang sekolah. Terus lama kelamaan lupa sendiri dan mesti diingetin sama pembantu rumah tangga saya, hahaha! Tapi saya enggak pernah lupa betapa senangnya saya saat melihat tanaman yang awalnya hanya bibit jadi tumbuh berkembang hingga terlihat daun, batang dan akhirnya mulai berbuah. Dan akhirnya setelah menunda sekian lama dan rasa bahagia itu saya rasakan lagi saat berkebun bersama teman - teman dari Indonesia Berkebun melalui salah satu acara mereka, Akademi Berkebun. 

Ketertarikan saya dengan Indonesia Berkebun ini sebenarnya udah muncul cukup lama, yaitu saat komunitas ini mulai nge-hits di tahun 2011. Tapi karena saya hobi menunda mengerjakan hal - hal yang kelihatannya enggak memiliki urgensi tinggi dan bisa dilakukan "nanti" (padahal bisa sampai empat tahun "nantinya". heeu!), jadinya saya baru beneran ikutan sekarang saat ketertarikan saya yang semakin besar terhadap konsep urban farming. Sebuah konsep berkebun dengan menggunakan lahan tidur atau tertinggal (vacant land) di kawasan perkotaan. Urban farming ini sendiri udah sangat berkembang dan bahkan menjadi salah satu solusi untuk merevitalisasi urban decay dan menghidupkan kembali ruang terbuka hijau di beberapa negara seperti US (awal muncul dan berkembangnya konsep ini), Australia, UK dan Belanda. 


Akademi berkebun yang saya ikuti kali ini dilakukan seharian penuh dari jam 9 pagi sampai 5 sore di sekretariat Indonesia Berkebun yang berada di kawasan BSD. Sebelum berkunjung ke perkebunan, kami diberi pembekalan tentang dasar - dasar berkebun. Mulai dari yang paling dasar banget seperti pengenalan berbagai jenis pupuk dan fungsinya masing - masing, bedanya benih dan bibit (hayo, tau enggak?), cara membuat media tanah dan pengolahan lahan yang benar, mencabut tanaman saat panen, hingga tahapan budidaya sayuran organik. Selain itu para peserta juga diperkenalan dengan berbagai inovasi urban farming yang bisa dilakukan di ruang yang kecil hingga besar. Intinya sih banyak banget ilmu baru yang saya dapatkan melalui kegiatan ini. Enggak menyangka kalau banyak hal yang perlu dipelajari sebelum berkebun. Padahal kalo dilihat sekilas, berkebun itu kelihatannya kegiatan yang sederhana yaa!

Saya bahkan baru sadar kalo selama ini persepsi saya tentang tanaman organik itu salah. Karena selama ini saya termasuk orang yang menganggap bahwa cara tau fisik sayuran dan buah-buahan organik itu kalo mereka terlihat "ada bolong - bolongnya". Dengan asumsi bahwa ulat aja bisa makan, berarti sayurannya aman. Eh taunya saya "tertipu" dengan omongan itu! Duhhh. Padahal yang dimaksud dengan sayuran organik adalah sayuran yang tidak mengandung residium, seperti pestisida, bahan kimia berbahaya, dan logam berat. Jadi dalam proses menanam dan mengelolanya harus terhindar dari si residium ini. Dan secara kasat mata sebenarnya enggak terlalu berbeda (kecuali mungkin yang udah snagat expert dalam hal ini) antara yang organik dengan yang bukan. Makanya, salah satu cara untuk mengetahui sayuran dan buah-buahan organik adalah melalui sertifikasi, yang biasa digunakan oleh si penjual untuk menempelkan label "organik" di sayuran atau buah-buahannya. Dan untuk mendapatkan sertifikasi itu bisa mencapai jutaan bahkan belasan juta rupiah. Jadi enggak heran ya kalo sayur dan buah yang biasa kita temui dengan label "organik" akan lebih mahal harganya dibandingkan dengan yang enggak berlabel. Terus jadinya gimana dong? Masa mau hidup sehat harus mahal? Yaa makanya salah satu caranya adalah melalui urban farming ini di lahan tertidur sekitar kita. Yang paling mudah sih sebenarnya memanfaatkan lahan tertidur di halaman rumah. Jadi dengan berkebun sendiri, kita bisa memastikan bahwa apa yang masuk ke dalam tubuh kita memang minim dari residium. Keliatannya sih gampang ya, tapi kenyataannya memang butuh waktu dan komitmen yang kuat untuk melakukannya. Saya pun sampai sekarang juga belum bisa menerapkan ini kok :))


Nah, lanjut lagi ceritanyaa.

Menjelang pukul 3 sore, kami mulai siap - siap untuk menuju perkebunan yang berada di belakang apartemen. Begitu sampai di kebun, saya langsung excited melihat beberapa baris kebun bayam dan kangkung, serta berbagai pot yang berisi bibit sayur - sayuran. Agenda pertama adalah menyemai benih kangkung dan bayam. Yang lucunya, saat menyemai benih, orang - orang pada berebut pengen merasakannya. Tapi giliran diminta sukarelawan buat menanam bibit sawi menggunakan pupuk urea, sedikit banget yang mau coba! Hahaha. Berhubung lagi semangat berlebihan sekaligus penasaran, jadilah saya mencoba bagaimana cara menanam bibit di dalam pot dengan menggunakan pupuk urea. Lagi - lagi, walaupun terlihat mudah dan sepele, ternyata tetap ada beberapa teknik yang harus diperhatikan ketika menanam benihnya supaya tumbuh dengan benar. Dan terlepas dari fakta dibalik pupuk urea tersebut *y'know how it's made, don't ya?*, tetap menyenangkan loh main kotor - kotoran gitu, bahkan sama sekali enggak tercium aroma yang aneh - aneh. Hahaha. 

Agenda selanjutnya yang paling ditunggu - tunggu adalah harvesting! Ini juga kelihatannya mudah, tapi ada tekniknya tersendiri baik dari bentuk tangan kita ketika memegang si tanaman tersebut, maupun saat mencabutnya dari tanah yang harus dilakukan secara perlahan - lahan. Berbeda sih pasti rasanya ketika panen tanaman yang dari awal kita rawat dengan tanaman yang tiba - tiba udah "jadi". Tapi tetep aja tuh pada semangat banget pas memanen kangkung dan bayam *termasuk saya!*, sampai pada berebutan kaya lagi dibagikan voucher belanja MAP aja! Hahaha. Oh iya, kita juga bisa bawa pulang kangkung dan bayam yang udah dipanen. Dengan hanya membayar 10ribu, kita bisa mendapatkan 1 kg bayam. Murah banget kaan? *bahkan saya enggak menyangka 1 kg bayam itu benar - benar sebanyak itu!*. Setelah capek bermain di kebun, lalu membersihkan tangan dan kaki yang penuh dengan tanah, akhirnya saatnya kami istirahat sambil menikmati semangka yang udah disajikan di saung kecil dekat kebun. Rasanya priceless banget! Disitu saya juga semakin sadar betapa beratnya menjadi petani yang setiap harinya harus mengurus padi dan tanaman lainnya dengan lahan yang jauh lebih besar dari ini. Saya aja yang baru "main" di kebun kurang dari 2 jam udah merasa capek banget, gimana mereka yang menghabiskan belasan bahkan puluhan jam tiap minggunya. Hal ini juga kembali mengingatkan saya untuk sebisa mungkin membeli produk dari hasil petani lokal.

Terima kasih buat Indonesia Berkebun yang udah berbagi wawasan berkebun serta pengalaman yang menyenangkan. Semoga dalam waktu dekat saya bisa mulai mengaplikasikan ilmu - ilmu yang saya dapat :)) Oh iya, bagi kamu yang penasaran dan ingin bergabung dengan Indonesia Berkebun, bisa cek website mereka atau langsung ke akun twitter dan facebook masing - masing komunitas berkebun yang ada di daerah kamu (fyi, saat ini Indonesia Berkebun udah memiliki jejaring di 30 daerah, kamu bisa liat daftarnya di sini). Selamat berkebun! 

7 comments:

  1. Mbak, how to join the community? Aku penasaran sama berkebun. Pingin memanfaatkan lahan sebelah rumah meski tanahnya udah tandus, banyak sampah plastik juga dan saya yg kurang tlaten. Tapi tetep penasaran dan pingin coba memanfaatkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbaa coba cek ini http://indonesiaberkebun.org/networks/ . Kalo ada komunitas berkebun di deket tempat tinggal mba, langsung aja cek twitter dan fb mereka. Hampir tiap minggu komunitas2 berkebun itu pasti ada kegiatan kook. Terus langsung aja hubungin cp nya deeh. Selamat mencoba mba yunita! Semoga berhasil memanfaatkan lahannya :)

      Delete
  2. ozuu btw #ROH ini apa sih? penasaraaan hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. miraaa #ROH itu semacam project iseng2an aku ajaa buat nulis tentang hal2 yang buat aku seneng hehehe. kaya happiness challenge gitu miirr :D

      Delete
  3. Makasi mbaa Nazuu infonya...jadi pengen ikut komunitas ini loh mba. Krn daerah saya hampir seluruh masyarakat petani. Tapi mungkin ilmu yang kami gunakan d pertanian warisan berbeda dengan yang di terapkan d komunitas berkebun mbaa yaa☺. Sukses terus mbaa yaa. Ga sabar nggu ROH Selanjutnya...😀😀😁

    ReplyDelete
  4. Makasi mbaa Nazuu infonya...jadi pengen ikut komunitas ini loh mba. Krn daerah saya hampir seluruh masyarakat petani. Tapi mungkin ilmu yang kami gunakan d pertanian warisan berbeda dengan yang di terapkan d komunitas berkebun mbaa yaa☺. Sukses terus mbaa yaa. Ga sabar nggu ROH Selanjutnya...😀😀😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo mba Nurul! iyaa coba dicari aja mbaa komunitas berkebun ini, mungkin aja ada di sekitar daerahnya mba.. Nah itu, saya kurang paham juga sih mba perbedaannya secara saya enggak terlalu familiar dengan berkebun ini hihi. Sukses juga buat mba yaaa :D

      Delete