November 14, 2015

#ROH 4 : Watching Good Movies

Sama halnya dengan membaca buku, salah satu hal yang membuat saya suka menonton film adalah karena mereka bisa membawa saya untuk keluar dari kehidupan nyata dan masuk ke dunia lain yang seringkali berbeda dari kehidupan saya sehingga bisa memberikan sebuah perspektif baru. Apalagi kalau bagus dan sesuai dengan selera saya, pasti saya bisa benar - benar terbawa ke kehidupan yang ada di film dan buku tersebut hingga berhari - hari. And needless to say, mereka bisa membuat mood saya kembali membaik, entah dengan cara membuat saya tertawa, menangis tersedu - sedu atau justru karena terlalu amazed dengan film dan buku tersebut.

Tapi ada beberapa hal menyenangkan ketika menonton film yang enggak bisa saya dapatkan ketika membaca buku, seperti misalnya saat melihat wajah aktor dan aktrisnya (apalagi kalo memang jadi favorit, pasti makin semangat! hehe), berbagai macam backdrop (outfit maupun dekorasi) yang digunakan, serta lokasi syuting yang seringkali memberikan referensi baru buat dimasukkan ke bucket list. Dan yang enggak kalah menyenangkannya, melalui film yang saya tonton saya juga  banyak belajar tentang videografi. Misalnya, bagaimana si sinematografer bisa mengambil sudut pandang yang berbeda supaya bisa mendapatkan shot yang enggak membosankan bagi penonton, bagaimana cara si editor mengedit dari satu scene ke scene lain hingga penonton enggak sadar bahwa scene tersebut berasal dari shot yang berbeda, bagaimana pemilihan tone yang bagus sehingga bisa menciptakan efek film yang lebih menarik, bagaimana menyesuaikan scoring dengan scene supaya bisa memberikan feel yang kuat, serta hal - hal detail lainnya yang enggak bisa saya dapatkan ketika membaca buku. Berdasarkan hal - hal itu jugalah akhirnya saya memilih beberapa film yang baru saya tonton belakangan ini karena berhasil menyenangkan hati saya.

Note: Since I'm a fan of drama-comedy-romantic, all these movies below are mostly related to the genre :))


 • Not Another Happy Ending 
Dari awal saya melihat trailer film ini, saya udah jatuh hati dengan kedua pemeran utamanya dan penasaran dengan cerita tentang kehidupan Jane Lockhart (Karen Gillan), seorang up and coming novelist yang dengan novel pertamanya yang berhasil menyentuh hati banyak orang. Namun, masalah muncul saat Jane sulit untuk mengembangkan idenya dalam menulis novel keduanya. Tom (Stanley Weber), sang publisher, merasa bahwa Jane gets stuck karena dia lagi bahagia dan hanya bisa menulis dengan baik ketika sedih. Akhirnya Tom mencoba beberapa cara untuk membuat Jane kembali merasa sedih agar bisa menyelesaikan novelnya.

Di tengah - tengah cerita saya baru sadar bahwa ekspektasi saya terhadap film ini agak berbeda dengan awalnya. Tapi plot cerita yang biasa ini akhirnya bisa ter-cover dengan wajah very doll-nya Karen dan style-nya yang quirky yet fashionable, penampilan Stanley yang bikin hati meleleh sekaligus gemes setiap kali denger perpaduan aksen French-Scottish nya, berbagai backdrop yang membuat saya berbinar - binar (Jane's apartment and Tom's office are just too cool!), dan setting tempatnya yang hampir selalu menarik. Sebuah film yang tepat saat kamu lagi penat dan enggak mau banyak mikir saat menonton :3



• Liberal Arts 
Diantara film – film yang saya review disini, kayanya hanya film ini yang paling sederhana baik dari segi plot, backdrop, maupun sinematografinya. Tapi justru saya suka film ini karena bisa mengemas cerita romance yang sebenarnya cliche menjadi sesuatu yang extraordinary karena strong emotion and chemistry yang berhasil diciptakan oleh kedua pemeran utamanya. Basically, film ini menceritakan tentang romance antara Jesse (Josh Radnor), seorang alumni di Ohio Liberal Arts College, dengan Zibby (Elizabeth Olsen), seorang sophomore di kampus yang sama. Walaupun keduanya terpaut oleh usia yang cukup jauh yaitu 17 tahun, they fall for each other karena ketertarikan mereka yang sama dalam bidang literature dan musik. 

Entah karena topik pembicaraan antara Jesse dan Zibby yang selalu membahas segala sesuatu in a deeper way, cara mereka berkomunikasi yang intelligently romantic, atau juga karena pembawaan Zibby yang dewasa; yang akhirnya membuat saya sebagai penonton enggak merasa terusik sama sekali ketika melihat hubungan dengan jarak usia yang berbeda jauh. Selain itu, akting Elizabeth Olsen dan Josh Radnor yang natural and effortlessly funny juga menjadi salah satu hal yang membuat film ini jadi terasa menyenangkan untuk ditonton. Terlepas dari fakta bahwa memang mereka berdua adalah salah satu actor dan actress favorit saya, they both did a really good job! Bahkan Josh bisa melepas “topeng” Ted-nya di How I Met Your Mother yang udah merekat erat, serta Elizabeth bisa membuat saya lebih sering tertawa dibandingkan beberapa film dia lainnya. 


• Magic In The Moonlight 
Merasa sangat terkesan dan puas dengan "Midnight in Paris", sebuah film romantic comedy fantasy karya Woody Allen yang sempat membuat saya berhari - hari terlarut dalam ceritanya dan bahkan ketika saya ke Paris tiga tahun yang lalu sempat berharap akan mengalami magical experience yang sama (which was ridiculous!), saya pun berharap karyanya kali ini juga akan memberikan kepuasan yang sama. Set in the 1920's, film ini menceritakan tentang Charlie Crawford (Colin Firth), seorang world's famous magician yang selama ini udah mempelajari berbagai magic trick. Sampai akhirnya suatu hari ia bertemu dengan Sophie (Emma Stone), spiritualist yang mengaku bisa memiliki kontak dengan those in the beyond dan ingin membantu seorang janda kaya yang ingin bertemu dengan almarhum suaminya. Charlie yang enggak percaya dengan afterlife and spirit world, berusaha untuk menyelidiki kebenaran dari kekuatan Sophie tersebut.

Terlepas dari ceritanya yang enggak terlalu mengesankan bagi saya karena anti klimaks, kurang mampu membangun emosi, serta chemistry antara Colin dan Emma yang kurang saya dapatkan, this movie has some spotlights like the other Allen's movies. Seperti backdrop film dengan tema 1920's yang definitely one thing that would steal your attention while watching the movie. Film ini juga menggunakan color tone yang berhasil menciptakan kesan vintage and classic, serta memperkuat kesan glamour yang sesuai dengan cerita dan backdrop yang digunakan. Dan hal lain yang juga membuat film ini so-eyes-feasting adalah pemandangan Cote d'Azur yang terlalu cantik hingga membuat saya semakin enggak sabar untuk mengunjungi Southern France di suatu musim panas :3


 • God Help The Girl 
Agak berbeda dengan tema ketiga film sebelumnya, film ini enggak terlalu mengekspose romantic relationship, tapi lebih ke persahabatan dan teenage dream. Makanya lebih cocok ditonton buat kamu - kamu yang lagi menikmati masa - masa muda dan semangat meraih banyak mimpi. Apalagi bagi kamu yang suka Belle & Sebastian, film ini wajib ditonton karena penulis cerita sekaligus sutradara-nya adalah lead singer dari band ini, yaitu Stuart Murdoch. I'm not a big fan of them, but I love listening almost every songs in the movie.

Anyway, film ini menceritakan kehidupan Eve (Emily Brown) yang sedang dalam masa perawatan karena memiliki masalah depresi yang menyebabkan dia menderita anorexia. Salah satu cara untuk mengatasi masalahnya ini adalah dengan menulis lagu dan menyanyi. Suatu hari ketika Eve sedang kabur dari rumah sakit untuk menonton sebuah pertunjukkan musik, ia bertemu dengan James (Olly Alexander), penyanyi dan gitaris dari sebuah band kecil dan Cassie (Hannah Murray), James's guitar student. Singkat cerita, mereka bertiga menjalin persahabatan dan membentuk sebuah band indie. Namun, di tengah - tengah perjalanan mereka saat meraih mimpi dalam dunia musik, ada beberapa perbedaan pendapat yang menciptakan konflik diantara ketiganya.

This might not be a film that everyone could enjoy or understand. Plot yang suka tiba - tiba pindah dan beberapa bagian cerita yang berbeda lalu digabungkan menjadi satu, kadang membuat saya bingung. Di beberapa bagian film, saya juga sempat mengantuk dan bosan. Mungkin karena film ini sebenarnya lebih banyak menceritakan kehidupan band, seperti proses pembuatan band, lagu dan hal - hal lainnya yang terkait dengan karir dalam dunia musik, sementara itu saya enggak terlalu tertarik dengan kehidupan tersebut, jadinya agak membosankan bagi saya. TAPI, rasa bosan saya itu enggak berlangsung lama karena musical performance yang berhasil dibawakan dengan baik oleh para pemainnya, suara merdunya Emily Brown dan lagu - lagu Belle & Sebastian yang easy listening. Selain itu dengan melihat perjuangan Eve yang segitu besarnya untuk meraih mimpinya, berhasil membuat saya tersentuh juga. And oh, all the outfits are just sooooo tempting! Begitu selesai nonton film ini, besoknya saya langsung ke Pasar Senen buat thrifting. Hahaha.



• When Marnie Was There 
Oh, come on, do I really need a reason to watch this movie? Kayanya hampir semua film Ghibli yang saya tonton, none of them has ever been disappointing me! Dengan ciri khas gambar 2D-nya yang selalu menyenangkan untuk dilihat - I can't find words to describe it, but there's always this special feeling every time I watch them - serta ceritanya yang sangat kuat, Hayao Miyazaki selalu berhasil membuat saya terbawa ke dunia Ghibli hingga beberapa hari setelah saya menonton dan meninggalkan kesan yang mendalam. Meskipun kali ini bukan dibuat olehnya, tapi tetap aja kualitas ceritanya sama bagusnya dengan film - film Ghibli sebelumnya.

Menceritakan tentang Anna, seorang gadis introvert yang sulit untuk mendapatkan teman, sampai akhirnya ia bertemu dan berkenalan dengan Marnie di sebuah rumah tua. Anna yang enggak biasanya terbuka dengan orang lain, kali ini merasa nyaman untuk cerita tentang kehidupannya dengan Marnie. Singkat cerita, hubungan persahabatan mereka pun menjadi semakin erat sampai suatu ketika Marnie tiba - tiba menghilang. Sekilas, plot film ini terlihat biasa dan mudah ditebak endingnya. Bahkan  saya udah keburu kecewa dengan Ghibli karena enggak biasanya memproduksi film yang predictable. Namun semua itu berubah 180 derajat ketika mulai banyak hal - hal mengejutkan sekaligus membuat penasaran yang terjadi di tengah - tengah cerita. With a twist ending, film ini berhasil membuat saya yang awalnya merasa annoyed dengan persahabatan Anna dan Marnie yang menurut saya a bit too much, menjadi berbalik sedih dan hampir menangis (mungkin kalo saya enggak sempat berhenti menontonnya dan enggak skeptis duluan dengan ceritanya, saya bisa banget buat nangis!). Dan untuk kesekian kalinya, Ghibli berhasil membuat saya susah move on dengan filmnya :')

No comments:

Post a Comment