September 20, 2018

Reproduction of Happiness #82: Redecorating My Room

Sejujurnya, setiap kali ada yang request buat roomtour kamar saya sekarang ini, saya suka bingung.  Bukannya enggak mau... tapi memang enggak ada yang menarik buat di-share. Ha! Selain kamar saya kali ini jauh lebih kecil ketimbang dua kamar sebelumnya, yang membuat saya harus mengurangi furniture di kamar, alasan lainnya adalah karena setahun ini saya belum menemukan semangat buat menghias dinding kamar saya. Antara belum ada ide dan capek setiap tahun mesti bongkar pasang dekorasi kamar :)) Jadi akhirnya yang bolak - balik saya dekor di kamar sekarang hanyalah tempat yang mudah untuk didekor (baca: enggak perlu ribet masang washi tape atau perekat). Selebihnya hanya dinding kamar yang diisi oleh beberapa kertas terkait riset saya, yang dipampang sebagai reminder buat saya dan bukan buat hiasan yang bisa dinikmati oleh orang lain... apalagi untuk dishare di blog atau Instagram :))


Sampai akhirnya udah dua minggu ini saya merasa sangat lelah. Dan di waktu yang bersamaan, merasa penat juga. Sepertinya gabungan antara kecapekan sebulan kemarin karena setiap hari dikejar - kejar waktu buat mengumpulkan laporan analisis ke pembimbing saya. Bahkan kecapekan yang awalnya hanya karena pikiran, lalu berdampak ke fisik karena pola tidur saya enggak bener. Sampai akhirnya merambat ke capek mental, yang juga membuat saya lelah untuk bersosialisasi dan interaksi dengan orang lain. Kalau udah gini, saya biasanya mageeeeer banget buat keluar apartemen. Bahkan dari kamar sekalipun rasanya kalau enggak penting - penting amat, ya enggak usahlah. Haha! Tapi, biasanya di saat seperti ini lah saya butuh mencari hal baru yang bisa dikerjakan, yang bukan berhubungan sama riset tapi tetap bermanfaat dan menyenangkan buat saya. Supaya kelelahan ini enggak berujung jadi hal negatif gitu maksudnya. Untungnya, di saat saya merasa penat dan sulit fokus mengerjakan riset; di saat saya lebih sering menghabiskan waktu di kamar; tiba - tiba muncul aja ide dan semangat buat melakukan sesuatu di kamar saya. Alhasil, sejak jumat lalu setelah saya mengumpulkan progress report ke pembimbing, saya memutuskan untuk kabur sejenak dari riset. Jadi aja deh, saya membongkar box berisi perlengkapan dekor dari kamar sebelumnya dan mengunjungi beberapa toko favorit buat membeli koleksi baru. Iya, setelah setahun lamanya, akhirnya saya kembali semangat mendekor kamar saya! :')






Bagi saya, rasanya sulit untuk mendekor semua bagian dalam satu waktu. Bahkan untuk kamar saya yang kecil seperti ini aja ternyata tetap butuh beberapa hari untuk menyelesaikannya. Salah satunya karena saya mengerjakannya ketika lagi lowong dan mood. Makanya sebenarnya proses redecoration ini udah mulai dicicil dari dua minggu lalu. Jadi saat itu hal pertama yang saya lakukan setelah pulang dari PhD excursion ke Freiburg dan Zurich adalah mengeluarkan string lights, postcard dari beberapa negara yang saya kunjungi, serta beberapa foto polaroid; yang ketiganya sudah menganggur di dalam box selama setahun ini. Enggak tau ada angin apa, tiba - tiba langsung semangat melakukan hal yang selama ini saya tunda karena mager. Kayanya selalu ada aja inspirasi yang datang setiap kali pulang dari trip ke tempat baru. He! Anyway, sebenernya sih enggak susah ya acara tempel - menempel ini, apalagi sebenernya ini tipe dekorasi andalan saya dari dulu. Kalau dilihat dari kedua kamar saya sebelumnya, ini dan ini, pasti ada aja dinding yang saya dekor dengan perpaduan polaroid, postcard, poster dengan washi tape. Cuma memang agak ribet sih dan butuh waktu agak lama buat mengerjakannya. Meski sekarang saya kembali mendapatkan hal yang enggak pernah gagal bikin saya senang: menyalakan string lights ketika senja mulai datang dan berganti menjadi malam. Seketika suasana di kamar langsung jadi syahdu. Ditambah juga bagi saya sudut ini seperti "Wall of Hope".  Karena setiap melihat foto dan gambar yang terpampang di dinding ini selalu mengingatkan saya akan dua harapan, yang meskipun bertolak belakang satu sama lain tapi saling melengkapi. Harapan untuk pergi menjelajahi sisi dunia yang belum saya kunjungi dan harapan untuk pulang bertemu dengan orang - orang tersayang.





Buat kamu yang mengikuti blog saya dari tahun lalu dan Instagram, mungkin udah familiar dengan beberapa foto di atas karena selama ini kalau posting foto kamar ya pasti antara meja kecil di dekat jendela dan dua rak kayu. Maklum, dari awal saya pindah ke apartemen ini cuma ada dua tempat ini yang rajin saya dekor dan (((secara estetika))) pantas untuk dishare. Haha! Walaupun alasannya mereka didekor adalah sesederhana karena barang yang saya beli selama ini cukup banyak sedangkan ruang di kamar saya terbatas, jadi lebih baik memanfaatkan setiap ruang yang ada. Namun, kali ini saya pun ingin mengganti dekorasi di kedua tempat tersebut. Misalnya, meja kecil di dekat jendela ini biasanya diisi dengan kombinasi beberapa pernak - pernik serta tanaman, entah houseplants atau rangkaian bunga segar. Tapi sekarang saya ganti jadi dried flowers. Lalu alas yang biasanya saya biarkan polos (tanpa alas); sekarang saya pasang taplak yang sengaja di bawa Bunda dari rumah supaya saya selalu ingat rumah. Selain itu, yang juga berbeda adalah pewangi ruangan. Sebelumnya saya selalu menggunakan scented candles, tapi sekarang lagi pengen coba diffuser. Ada juga beberapa barang yang sebelumnya disimpan akhirnya sekarang dikeluarkan lagi. Dan begitu juga sebaliknya, barang yang selama ini dipajang akhirnya disimpan lagi. Sedangkan untuk rak kayu, yang fungsi awalnya adalah menjadi rak buku, kali ini salah satu rak-nya harus dikorbankan menjadi tempat pakaian. Maklum, di musim transisi seperti sekarang ini, pakaian untuk musim panas dan musim dingin terpaksa dikeluarkan. Kalau udah begitu, pasti lemari kecil di kamar saya enggak akan muat menampung semua pakaian tersebut. Ternyata mengubah arrangement seperti itu aja bisa memberikan dampak yang cukup significant loh! Saya jadi merasa kamar saya lebih terlihat menyenangkan semenjak itu :)







Bisa dibilang "pusat" dari segala dekorasi yang ada di kamar saya terletak di dinding depan meja kerja. Mungkin karena saya banyak menghabiskan waktu di meja kerja, jadi otomatis yang paling sering terlihat ya dinding di depannya. Makanya biasanya saya alokasikan dinding ini untuk sebagai tempat reminder berbagai hal. Mulai dari organiser board, to-do-list, timeline buat PhD setahun ke depan, hingga research framework saya. Selain itu saya juga suka memasang beberapa kata - kata penyemangat yang simpel tapi langsung ngena begitu dibaca. Dan hal lain yang enggak bisa terlewatkan adalah artworks yang banyak saya ambil dari majalah Flow. Selain itu ada juga yang saya beli dari Sostrene Grene dan Hema, dua toko favorit saya buat membeli dekorasi murah meriah. Misalnya aja saya dapat artwork poster kelinci dan musang hanya 5.5 Euro di Sostrene Grene. Sedangkan di Hema saya beli frame lukisan kaktus hanya 4 Euro karena lagi diskon! Selain dua toko tersebut, saya juga suka banget ke XenosFlying TigerDille & Kamille, serta Primark Home. Pokoknya keenam toko tersebut selalu bikin saya bahagia deh setiap kali berkunjung kesana, meskipun juga mesti mengontrol diri supaya enggak impulsif. Terutama Sostrene Grene dan Dille & Kamille sih, yang setiap ke sana bawaannya selalu langsung bikin saya enggak sabar pengen punya rumah yang diisi dengan barang - barang mereka. Terlalu gemas! Nanti kapan - kapan akan saya share isi masing - masing toko ini ya. Karena udah kepikiran sejak lama sih, mengunjungi berbagai toko tersebut selalu memberikan kebahagiaan tersendiri buat manusia seperti saya ini yang mudah disenangi oleh hal - hal lucu :3

September 04, 2018

Reproduction of Happiness #81: Ordinary Things

Sabtu lalu, saya bersepeda ke centrum (pusat kota) untuk sekedar menikmati hal - hal yang sudah lama enggak saya lakukan. Maklum, enggak setiap akhir pekan saya bisa ke centrum. Apalagi mengingat jaraknya yang cukup jauh dari tempat tinggal saya. Entah itu bersepeda atau naik transportasi publik, dua - duanya memakan waktu sekitar 30 menit. Cukup jauh kan? Itu pun saya bersepeda dengan sudah mengambil jalan pintas. Melewati taman besar di dekat apartemen saya, lalu terusss aja mengikuti jalur sepeda sampai bertemu pom bensin Esso, kemudian lalu belok kiri dan lurus terus sampai akhirnya muncul di Coolsingel. Sebuah district di pusat kota yang berisi toko - toko serta kafe yang selalu menggugah selera saya untuk mencobanya suatu hari nanti. Oh iya, sebelum tiba di Coolsingel, saya pasti melewati Avenue Concordia. Ini adalah salah satu neighborhood yang enggak pernah enggak menyita perhatian saya karena suasananya, bangunannya, dan hal lain yang tidak bisa dijelaskan, yang membuat tempat ini istimewa. Banyak orang bilang kalau ini salah satu neighborhood tercantik di Rotterdam. Dan saya pun tidak menyangkalnya. 
Sambil terus mengayuh, seperti biasanya, saya berusaha melihat ke sekeliling saya, memperhatikan apa yang kadang sering terlewati tanpa sadar. Sampai akhirnya saya tiba di suatu plaza, yang di dekatnya ada sebuah toko roti terkenal, Jordy’s Bakery. Nah kan, entah ini tokonya baru pindah atau saya aja yang beberapa kali melewati jalanan ini tapi enggak sadar kalau mereka buka cabang di sini? Langsung aja saya berhenti dan memakirkan sepeda di depannya. Begitu masuk, tanpa ragu saya memesan favorit saya, Cheesecake Brownie, untuk take away. Sebenarnya saya belum lapar. Tapi bisa jadi alasan untuk berhenti karena ini kali pertama saya ke toko mereka yang di sini. Biasanya saya membeli di cabangnya. Ternyata tempatnya lebih nyaman! Desainnya minimalis tapi terasa sekali suasana home-bakery. Entah kenapa, langsung mengingatkan saya dengan Mom's Bakery di Bandung. Terlepas dari tempat mereka yang sebenarnya enggak ada mirip - miripnya sama sekali. 
Saya kembali mengayuh sepeda hingga akhirnya sampai di destinasi pertama saya hari ini, yaitu Blaak Market. Saya udah pernah menjelaskan tentang pasar ini di postingan ini, yang terkait dengan #ROH juga. Sekilas, enggak ada yang istimewa dari pasar yang menjual beragam macam keperluan dari A - Z, dari keju, sayuran, buah, bunga, ikan, pakaian, hingga perkakas rumah tangga. Tapi bagi saya yang jarang bisa menikmati keberadaan open-air market seperti ini di Indonesia dan juga fakta bahwa berbagai sayuran dan buah - buahan di sini lebih segar dan murah ketimbang di supermarket, pastilah ada kebahagiaan tersendiri ketika berbelanja di sini. Cuma satu hal yang kurang sreg: pasar ini sangat ramai sekali! Saya suka ramai, tapi enggak seperti ini yang sampai harus berdempetan untuk berjalan melewati lautan manusia. Apalagi dengan matahari yang terik dan temperatur yang kembali ke 20-an, saya enggak mau berlama - lama di luar. Langsung aja saya mencari beberapa barang yang udah ada di dalam daftar belanja saya. Terong. Kacang Panjang. Pisang. Lemon. Hmm, oke. Selesai! Iya, karena dari awal saya sudah berencana untuk ke tempat lain, saya sengaja untuk tidak kalap belanja hal di luar list saya :))

Kerongkongan saya sudah mulai terasa kering. Waktunya untuk segera ke sebuah kafe kecil yang  sudah lama saya taksir tapi belum juga saya kunjungi. Namanya Sherlock’s Place. Letaknya dekat dengan Blaak Market. Lebih tepatnya berada di belakang sebuah gereja tua, Laurenskerk, yang juga merupakan satu - satunya gereja Gothic yang tersisa di Rotterdam setelah World War II. Saya lupa pastinya kapan, tapi suatu kali saya sempat berjalan melewati kafe kecil yang dari luar terlihat nyaman untuk dikunjungi, meski hanya seorang diri. Dari luar terlihat ada beberapa orang sedang mengobrol, sambil menikmati sinar matahari yang sempat hilang selama beberapa hari kemarin. Begitu saya masuk, ternyata sepi! Ahhh, lega. Di meja yang satu, ada dua orang yang sedang mengobrol, sedangkan di meja lainnya diisi oleh seorang nenek yang sedang asik membaca buku. Lalu di seberangnya ada seorang wanita tengah baya yang sedang duduk sambil melihat ke arah saya,  kemudian berdiri menghampiri saya untuk memberikan menu. Sebelum melihat menu pun, saya sudah tau apa yang mau saya pesan. Tapi mengecek kembali hanya untuk make sure bahwa minuman yang ingin saya pesan memang tersedia. Saya berdiri dan menghampiri wanita tersebut untuk memberi tahu pesanan saya, yang dibalas, "Someone will come to your table". Sambil memegang lengan saya, ia tersenyum. Saat itu, saya agak bingung kenapa enggak langsung dipesan olehnya. Padahal sebelumnya saya udah bilang ingin memesan ijs melk koffie. Namun, akhirnya sebelum wanita tersebut beranjak pergi, saya baru menyadari bahwa ia juga seorang customer, yang terlihat sudah sangat dekat dengan pemilik kafe ini. Sebelum pergi, ia kembali tersenyum. Saya ingin meminta maaf, tapi akhirnya saya urungkan niat saya. Mungkin ia bisa memahami kenapa saya awalnya mengira dia adalah pemilik tempat ini.


Enggak menyangka, kurang lebih 45 menit saya duduk di kafe tersebut. Padahal hanya membaca majalah Flow yang tersedia di kafe tersebut. Ehm, lebih tepatnya hanya melihat foto dan gambar yang ada di dalamnya karena sayangnya majalah tersebut dalam Dutch, bukan yang versi English. Dilanjutkan menulis tentang hal yang sempat terlupakan dan tiba - tiba datang dalam benak saya. Kemudian melihat sebentar ke sisi lain kafe ini yang mana ada sebuah rak cukup besar berisi beberapa buku bekas dan pernak - pernik lainnya. Oke, sudah saatnya pulang! Destinasi saya untuk hari ini sudah dikunjungi semua.

Tapi ternyata... belum selesai, deng. Dasar emang mudah terbujuk oleh rasa penasaran saya sendiri. Begitu di jalan pulang dan melewati salah satu vintage store kesukaan saya, Tony's Garage Sale, ternyata kini sudah berubah nama menjadi Old North Interiors. "Ada apa ini? Baiklah, mari cek ke dalam!", begitu pikir saya. Ternyata tetap sama seperti sebelumnya. Tetap menggemaskan. Yang berubah hanyalah susunannya. Selain itu, tempat untuk furniture menjadi lebih luas, sedangkan tempat untuk menjual pakaian menjadi lebih kecil. Mungkin mereka ganti nama karena untuk menunjukkan bahwa saat ini mereka lebih fokus ke furniture. Mungkin.


Akhirnya saya melanjutkan perjalanan pulang. Kali ini beneran pulang. Mengayuh, mengayuh, mengayuh. Dan akhirnya sampai di Kralingse Bos, taman terbesar di Rotterdam, yang juga menunjukkan kalau apartemen saya sudah dekat. Mungkin sekitar lima menit bersepeda. Taman yang udah seperti hutan. Ibaratnya kalau di Bandung seperti Tahura Juanda, kalau di Bogor seperti Kebun Raya Bogor. Kebayang kan? Jadi ini bukan seperti taman kota biasanya. Sambil melewati, saya melihat keluarga yang sedang berjalan menyusuri pinggir danau. Anak kecil bermain sepeda bersama ibunya. Sepasang kekasih yang sedang rebahan di atas kain yang sengaja digelar untuk menjadi alas. Seorang perempuan yang sedang bersandar di salah satu pohon sambil menikmati pemandangan di danau di depannya. Dan saat itu, saya terinspirasi untuk melakukan hal yang sama. Udah lama juga enggak duduk santai di taman ini. Rasanya terakhir kali itu sekitar hampir lima bulan yang lalu, sebelum Ramadhan. Waktu yang tepat untuk menikmati cuaca yang sedang bagus, sambil melanjutkan kembali buku yang sudah sejak dua bulan lalu saya beli tapi belum juga selesai dibaca.
Saya enggak tau bagaimana kamu, tapi bagi saya, ada masa di mana saya merasa penat dengan rutinitas yang sebagian besarnya dilakukan hanya untuk bertahan hidup dan bekerja. Entah udah berapa lama saya lupa untuk menikmati hal - hal kecil di sekeliling saya. Terutama ketika kembali ke Indonesia dan hidup di Jakarta, disibukkan oleh urusan ini dan itu. Begitu kembali ke Rotterdam pun, meski saya bisa bernafas kembali, menikmati perjalanan dari apartemen - kampus - apartemen yang mungkin bagi sebagian orang sebenarnya membosankan, tapi saya sangat menikmatinya. Hembusan angin sejuk yang menunjukkan bahwa musim panas segera berakhir, suara pepohonan hijau lebat yang bergemuruh setiap kali diterpa angin, paparan cahaya matahari pagi dan sore, pemandangan rumah - rumah baru dengan arsitektur lama. Tapi tentu saja, terkadang ada saatnya saya ingin menikmati kebahagiaan sederhana yang lebih dari itu. Karena apa pun akan kehilangan sisi istimewanya jika dilakukan terus - menerus, apalagi setiap hari. Jadi enggak ada salahnya melakukan hal - hal biasa yang jarang kita lakukan... karena mungkin mereka bisa menjadi hal yang luar biasa di waktu tertentu. 

September 02, 2018

Engagement Story #3: Preparation & Decoration

Dari pertama kali membicarakan konsep lamaran, saya dan Ican setuju kalau kami hanya ingin menyelenggarakannya secara sangat sederhana dan hanya keluarga inti saja. Namun sekitar satu setengah bulan sebelum acara berlangsung, Bunda dan Unicha memberikan sebuah ide lain agar prosesi ini terasa lebih "spesial" dibandingkan pertemuan keluarga inti saya dan Ican yang sebelumnya sudah dilakukan beberapa kali. Ide dari mereka saat itu adalah mengundang sahabat kami berdua. Memang sih dari keluarga saya merasa bahwa acara ini baiknya mengikuti "budaya" yang sudah ada, yaitu mengundang keluarga besar masing - masing. Tapi karena sebuah alasan yang sangat personal, saya dan Ican kekeuh bahwa kami hanya akan mengundang keluarga inti aja. Di sisi lain, kami menyetujui ide untuk membuat acara ini lebih istimewa namun tetap stick dengan rencana awal, yaitu intimate. Maka kami hanya mengundang lima belas teman - teman terdekat dan yang masih sering komunikasi dengan kami. Di situlah, akhirnya beberapa rencana langsung diubah. Konsep yang awalnya cuma mau keluarga inti dan enggak pake dekor yang macem - macem serta katering ala dengan jumlah sangat minim, tiba - tiba berubah cukup drastis. Katering yang awalnya cuma buat kurang dari 20 orang sekarang jadi buat 70 orang. Dekor pun juga lebih "heboh" karena tempat yang digunakan juga lebih besar; sementara kalau tanpa dekor akan terasa kosong banget.


Begitu diputuskan untuk membuat acara lamaran ini jadi lebih besar, saya langsung memutuskan untuk mencari venue. Jujur sih, meskipun jumlah orang yang diundang sebenarnya enggak sebanyak itu, saya udah kebayang betapa repotnya beberes rumah sebelum dan setelah acara. Lagipula, setelah dihitung - hitung cost dan benefitnya, lamaran di tempat lain lebih less cost dan more benefit. Dan begitu udah fix akan mengadakan di luar rumah, tempat pertama yang ada di pikiran saya adalah Rumah Saya, sebuah wedding venue yang dimiliki oleh Tante Siska (adik kandung dari Bunda). Sekaligus menjadi tempat lamaran kakak perempuan saya sebelas tahun yang lalu. Tapi saya enggak langsung booking karena beberapa pertimbangan, salah satunya adalah udara panas Jakarta terutama di siang hari bisa menjadi kendala buat tempat semi-outdoor seperti Rumah Saya. Meskipun sebenarnya saya udah jatuh hati banget, terutama ketika melihat rumah joglo nya yang terlihat sederhana namun elegan karena ada sentuhan kayu dan ornamen Jawa. Langsung terbayang deh memadukan tema rustic dengan tempat ini pasti akan cocok. 

Alternatif lainnya adalah beberapa restoran dengan konsep peranakan di daerah Menteng. Rasanya ada deh sekitar enam restoran yang sudah ada di dalam daftar pilihan saya dan empat di antaranya sempat saya telefon. Sedangkan dua lainnya langsung saya coret begitu tau harga-nya yang sudah di luar budget. Singkat cerita, setelah kembali mempertimbangkan cost-benefit keempat restoran tersebut, ternyata skor terbesar tetap di Rumah Saya. Akhirnya saya langsung mengabari Tante Siska untuk booking tempat. Sementara itu, saya juga langsung menetapkan pilihan katering yang sebelumnya juga sempat heboh mencari ke beberapa vendor. Buat katering, saya pilih Amanda Catering, karena termasuk paling affordable dan yang pasti udah terpercaya di lidah Bunda karena  sudah jadi langganan beliau dari dulu. Bukan hanya karena pemiliknya adalah Tante Pongky, tetangga beliau dulu, tapi juga memang makanannya terbukti enak. 





Katering dan venue udah beres, sekarang tinggal fokus ke dekorasi. Di luar perkiraan saya loh, justru menemukan vendor dekorasi yang paling tepat adalah bagian tersulit dari persiapan tunangan ini. Dari sekitar sepuluh vendor dekorasi yang saya hubungi, hanya ada dua vendor yang akhirnya sampai ke tahap tatap muka karena dari hasil percakapan kami di WhatsApp ternyata hanya mereka yang masih dalam budget saya. Vendor pertama adalah Adams Catering & Decoration. Kami sempat membuat arrangement di pagi hari, yang sengaja saya sesuaikan dengan jadwal mereka. Eh, enggak taunya, begitu saya sampai di tempat mereka, sudah ada client yang datang lebih dulu sebelum saya. Akhirnya saya dan Bunda menunggu sampai satu jam lebih, namun belum ada tanda - tanda meeting mereka akan segera berakhir. Di sisi lain, selama saya menunggu pun dari pihak mereka enggak terlihat ada effort untuk membuat kami merasa nyaman. Bahkan terlihat merasa bersalah pun enggak ada sama sekali. Saat itulah saya merasa bahwa kok perlakuan mereka seperti menunjukkan bahwa "saya lebih butuh mereka", ketimbang "kita sama - sama saling butuh". Jadi yaa saya putuskan buat mencari vendor lainnya, yang sampai akhirnya ketemu dengan Mae Decoration. Ternyata enggak butuh lama buat sampai "deal". Dan yang paling penting, kali ini perlakuannya jauh lebih baik ketimbang beberapa vendor sebelumnya :)


Satu hal yang paling saya suka dari Mba Irma, sang pemilik Mae Decoration, adalah komunikasinya yang bikin saya nyaman banget buat diskusi dari awal saya menghubungi beliau hingga akhir acara. Saya merasakan banget perbedaan cara komunikasi dengan beberapa vendor, termasuk dengan Adam Decoration, yang mana dari awal tuh enggak membuat saya merasa welcomed. Jadi saya pun merasa segan buat nanya banyak. Padahal di satu sisi saya juga masih bingung setiap ditanya mereka konsep seperti apa yang saya inginkan. Ternyata enggak mudah loh menjelaskan yang saya mau, meskipun saya udah tau bahwa tema dasarnya adalah rustic. Hal lainnya yang membuat saya kurang sreg dari vendor lainnya adalah, ketimbang menyesuaikan budget saya dengan dekorasi, mereka langsung membuat perhitungan sesuai yang mereka inginkan, yang udah ketebak kalau harga mereka udah di luar budget saya. Nah, kalau Mba Irma ini berbeda. Pertama kali saya mengontak beliau, Mba Irma langsung meminta saya untuk mengisi form berisi beberapa hal terkait preferensi saya. Termasuk di dalamnya juga ada kolom buat hal spesifik yang saya mau, yang jadi kesempatan untuk menginfokan bahwa saya ada maksimal budget untuk dekorasi. HEHE. Selain itu, cara Mba Irma mencari tau konsep rustic apa yang saya inginkan (karena rustic itu sendiri juga banyak jenisnya) dan apa yang cocok dengan Rumah Saya, juga enggak membuat saya bingung. Pokoknya dari awal semuanya udah clear gitu. Makanya proses sampai saya yakin buat deal dengan Mae Decoration pun enggak butuh waktu yang lama.




All photos were taken by Emer Photography and edited by me.

Selama prosesnya pun, Mba Irma ini sabar banget menghadapi saya yang double BM, aka Budget Minim tapi Banyak Mau. Pengen dekorasinya bagus tapi enggak mau keluar uang lebih dari yang udah saya alokasikan. Hahaha! Dan kali ini saya beruntung. Perpaduan konsep awal yang saya ajukan serta pendekatan dan kreativitas Mba Irma, masukkan serta bantuan dari Tante Siska, serta fasilitas Rumah Saya yang pada dasarnya udah lengkap; akhirnya budget dekorasi pun bisa di-pas-pas-in. Meskipun harus saya akui, awalnya saya cukup khawatir karena vendor dekorasi ini adalah satu - satunya yang saya pilih bukan atas rekomendasi orang lain atau karena hubungan kerabat. Hanya karena random aja liat beberapa vendor yang ada di The Bride Dept dan Bridestory. Eh, enggak taunya, justru yang sebenarnya enggak banyak ekspektasi malah dekorasi ini jadi highlight dari acara tunangan saya dan Ican. Alhamdulillah :)