October 29, 2018

Porto: The Most Surprising One

Wow. Saya kaget sendiri begitu menyadari bahwa ternyata wacana saya buat menulis tentang perjalanan ke Portugal dan Spanyol sudah tertunda hampir setahun lamanya! Iya, akhir tahun lalu saya udah sempat menulis prolog tentang perjalanan ini, namun terputus karena enggak lama setelah itu saya malah terbawa mood buat menulis tentang solo trip ke Skandinavia. Eh, ternyata untuk menyelesaikan postingan Skandinavia aja udah butuh beberapa bulan! Belum lagi dengan berbagai hal baru yang datang dalam hidup saya, semakin terlupakanlah cerita tentang perjalanan ini. Padahal ini adalah salah satu perjalanan paling berkesan bagi saya, yang rasanya sayang untuk dilewatkan begitu aja. Dan lucunya, mood buat menulis perjalanan ini baru datang justru ketika saya sudah mau melakukan solo trip lagi. Sepertinya kali ini saya terlalu takut untuk menunda tulisan perjalanan ini lebih lama... karena jika saya enggak melakukannya sekarang, mungkin akan butuh waktu setahun lagi untuk kembali menulisnya.





Sejujurnya sih, Portugal enggak ada di dalam daftar prioritas negara yang ingin saya kunjungi di Eropa. Mungkin karena letaknya yang jauh di ujung barat Eropa, cenderung terisolasi, makanya membuat Portugal jadi terasa lebih asing. Jadi hampir pasti sih kalau bukan karena kebutuhan konferensi, saya enggak akan mengunjunginya secepat itu. Apalagi kalau belum mencoret beberapa negara lainnya yang lebih menarik buat saya. Tapi begitu mendengar nama Porto, saya langsung teringat Bhela, teman kuliah saya di ITB yang sempat mengambil kuliah master di sana beberapa tahun lalu. Dulu sewaktu Bhela masih kuliah di sana, saya sempat membaca beberapa postingan tentang Porto, yang juga akhirnya meyakinkan saya untuk berani mengambil conference di sana. Thanks to Bhela, dari cerita di blog-nya saya mendapatkan persepsi lain kalau ternyata Portugal, dibalik wajah asingnya, memiliki berbagai hidden treasure yang belum diketahui oleh banyak orang, terutama orang awam seperti saya ini.






Cuma ternyata baik blog Bhela maupun blog lainnya, belum bisa menjelaskan keistimewaan Porto yang sesungguhnya. Tetap aja begitu melihat Porto dalam wujud aslinya, amazement level saya langsung naik berkali lipat! Dan yang bikin saya lebih puas lagi, karena Bunda juga merasakan hal yang sama, bahkan hingga hampir dua tahun sejak kami berkunjung ke sana. "Wah ingat Porto, kota cantik yang paling enak rasanya". Begitu balasan Bunda ketika seminggu yang lalu menerima beberapa kiriman foto - yang juga terpampang di postingan ini. Meskipun awalnya beliau sempat bertanya "Dimana ini?", tepatnya sebelum saya mengeluarkan foto bacalhau. Ah, tampaknya bagi Bunda, ikan kod lebih berkesan ketimbang Livraria Lello - foto yang pertama kali saya kirim hingga membuat beliau sampai melontarkan pertanyaan tersebut. Tapi enggak salah sih, karena memang salah satu highlight perjalanan kali ini adalah m-a-k-a-n-a-n! Saya jadi ingat respon pertama kali dari Luciana dan Satya, kedua teman saya yang sudah sangat familiar dengan Portugal. "Poeti, please don't watch your weight during your trip!". Alias, mereka mengingatkan saya untuk enggak peduli dengan berat badan saya selama di sana karena makanan di sana begitu lezat dan murah! Kata mereka, tiga hal yang enggak boleh dilewatkan ketika di Portugal adalah bacalhau (ikan kod asin), pastel de nata (egg tart), dan wine. Tapi karena saya enggak bisa mencoba wine di sana, jadi yang saya rekomendasikan - selain bacalhau dan pastel de nata - adalah pastries. Apalagi buat kamu yang punya sweet tooth seperti saya, siap - siap dibuat ngiler setiap melewati pastry shop dengan jejeran berbagai bentuk kue dan roti yang rasanya ingin dicoba semua! 








Ngomong - ngomong soal respon Bunda soal foto yang saya kirim, sejujurnya bagi saya pun, makanan yang kami coba selama di Porto lebih berkesan dari sebuah toko buku yang menyandang gelar "one of the oldest and most beautiful bookshops in the world". Karena pada nyatanya, Livraria Lello lebih cocok dibilang sebagai tourist destination ketimbang toko buku. Dari foto yang saya upload di sini sih terlihat sepi, padahal aslinya... buat jalan aja susah! Apalagi begitu mau naik tangga, yang menjadi spot paling populer, ramainya bukan main oleh orang yang foto sana - sini. Not to mention, buat masuk ke toko ini, kami harus beli tiket seharga 4 euro! Tapi seenggaknya sih kami enggak perlu mengantri untuk masuk. Dari blog lain yang sempat saya baca, ternyata kalau lagi kurang beruntung mereka harus mengantri dulu hingga jumlah pengunjung di dalam sudah berkurang. Seandainya bukan menjadi destinasi para turis seperti sekarang, mungkin saya bisa lebih percaya dan paham kalau toko buku ini dulunya merupakan salah satu tempat yang menginspirasi J.K.Rowling saat beliau tinggal di Porto. 






I initially came to Porto just for attending a conference. But after spending five nights, I realised this city deserves more recognition than it does now. Delicious food (not to mention cheap), friendly people, pretty tiles, and stunning architecture. I'll definitely be back! 

October 23, 2018

Autumn Songs

Dua musim gugur sebelumnya, saya selalu ditemani dengan perasaan melankolis dari setiap elemen yang muncul selama musim ini. Udara dingin dengan sebuah aroma khas. Seperti bau asap dari cerobong rumah yang sedang menyalakan perapian untuk menghangatkan penghuninya di saat musim dingin. Warna dedaunan yang perlahan berubah menjadi kuning, merah, kuning kemerahan, merah kekuningan, hijau kemerahan, hijau kekuningan, kuning kecoklatan. Suara nyaring para dedaunan yang jatuh di jalan dan menetap di sana hingga kering lalu terinjak oleh kaki - kaki atau tergilas oleh ban - ban kendaraan roda empat dan roda dua.

Tapi kali ini, perasaan itu hanya datang sesaat dan sesekali saja. Bukan, bukan berarti saya tidak menikmati atau mensyukuri datangnya musim ini. Mungkin karena terlalu banyak hal yang ada di dalam pikiran saya saat ini sehingga saya jarang terbawa oleh suasana melankolis musim gugur. Dan terlepas dari foto - foto di blog ini yang terlihat warna - warni, sebenarnya cukup sulit mencari pepohonan kuning dan merah di Rotterdam. Perlu keberuntungan lebih untuk bisa menemukan tempat yang memiliki tipe pepohonan tersebut, karena sisanya didominasi oleh pepohonan hijau dan hijau kekuningan. Dan sama seperti musim gugur sebelum - sebelumnya, saya ingin memberi beberapa lagu yang lagi saya suka putar berulang kali di Spotify.






Early in the morning, 
Right before the break of day.
Lying here beside you, 
Trying to think of something to say.
You're gotta have to leave soon. 
So I'll give you this heart as well.
It means I'm gonna miss you. 
Every time.

'Cause I can't get used to letting you go.
When the tears roll down you face.
Let me tell you darling, 
We're gonna find a place.

Where we can lay low. 
Where we can get high.
Where we can run away, 
We can go today.
We can leave the world behind.

So honey, let's go. 
Let's do what we lost.
Do all the things that we've been dreaming of.

(Lay Low - David Benjamin)





Rows and flows of angel hair, 
And ice cream castles in the air,
And feather canyons everywhere.
I've looked at clouds that way.

But now they only block the sun,
And rain and snow on everyone.
So many things I would have done, 
But clouds got in my way.

I've looked at clouds from both sides now.
From up and down and still somehow,
It's cloud's illusions I recall.
I really don't know clouds at all.

I've looked at love from both sides now.
From give and take and still somehow.
It's love's illusions I recall.
I really don't know love at all.

Tears and fears and feeling proud, 
To say "I love you" right out loud.
Dreams and schemes and circus crowds, 
I've looked at life that way.

(Both Sides Now - Years & Years)





It's in smiles, 
A lover's eyes. 
It's in joy when in needs,
No disguise. 
It's in fairy tales and lullabies,
Stories that hold you. 
It's in hugs, 
Apple pies. 
It's in love that grows old,
 But never dies. 
These things, 
Make me glad to be alive. 

We will never be able to treasure life enough. 
When death comes, my heart is overcome. 
We will never be able to treasure life enough. 
When death comes, I start looking up. 

And it's in fall, 
When we are driving down the road,
And start to sing. 
And falling leaves,
And clear blue sky, 
And all the things we have made it through.... 

Dear heart stays sober, 
It's only October. 

(October - Gray)






October 16, 2018

Engagement Story #4: The Day I Said...Yes?

Pagi itu saya terbangun dengan perasaan campur aduk. Padahal semua persiapan sudah lengkap, tapi tetap sulit untuk menghilangkan kecemasan dan rasa deg - degan yang menghinggap dari tiga hari sebelumnya. Sekitar jam tujuh pagi, sesuai dengan rundown dan juga kesepakatan kami, Benta memberi kabar kalau dia sudah di parkiran Rumah Saya. Awalnya saya ragu menghubungi Benta, yang hampir enggak pernah komunikasi sejak selesai PK (Persiapan Keberangkatan) LPDP tiga tahun lalu. Paling mentok ya sekedar memberi komen di Instagram. Tapi saya tau dua hal dari Benta: dia jago make-up dan tipe orang yang enggak ragu untuk membantu orang lain apalagi temannya. Jadi saya langsung kepikiran dengan Benta ketika Shasha, sepupu saya yang juga MUA favorit saya, ternyata udah di-book untuk acara lain di hari yang sama dengan lamaran saya. Hal lain yang membuat saya semakin respect dengan Benta adalah terlepas dari pertemanan kami yang sebenarnya bisa memberi celah buat lebih "fleksibel" memperlakukan saya, Benta tetap bersikap profesional. Bayangin aja saat hari H sebenarnya dia belum tidur sama sekali dan udah beberapa hari lembur kerja, tapi tetap datang tepat waktu dan hasil make-up nya tetap sebagus biasanya! :') Lalu enggak lama dari Benta datang, Rio beserta tim dari Emer Photography juga tiba di Rumah Saya untuk mendokumentasikan acara hari itu. Kalau Emer ini adalah bisnis sampingan Rio dan istrinya, Mecul, yang enggak lain adalah teman saya di Planologi ITB. Dengan kesamaan hobi dalam fotografi, akhirnya mereka membuat Emer yang khusus mendokumentasikan acara lamaran, akad, dan resepsi. Sayangnya di hari itu Mecul enggak bisa datang karena sedang ada pelatihan terkait pekerjaan utamanya.





Selama saya dimakeupin, tim Emer mengambil beberapa foto pakaian saya yang juga dibuat oleh teman saya. Kali ini yang membantu saya terkait kebaya adalah Nicil, junior saya di ITB yang saya kenal lewat unit Liga Film Mahasiswa (LFM). Sejujurnya saya ini buta banget dengan segala hal terkait jahit-menjahit pakaian, termasuk buat acara pernikahan. Bahkan beberapa kali dikasih bahan buat jadi bridesmaid, ujungnya selalu saya bikin di penjahit langganan Bunda yang sebenernya biasa aja. Tapi kali ini saya pengen yang beda, yang lebih kece gitulah. Haha. Cuma di sisi lain, saya juga enggak mau banyak effort buat mencari penjahit mana yang recommended. Intinya saya enggak mau susah nyari penjahit dan enggak mau mahal tapi mau hasilnya bagus dan terpercaya. Nah loh, banyak mau banget kan? :)) Untungnya saya kenal Nicil yang sejak lulus langsung fokus jadi fashion designer dan hasilnya enggak perlu diragukan lagi. Sama seperti ketika menghubungi Benta, saya pun awalnya sempat deg - degan begitu meminta Nicil. Apalagi kami udah lama banget putus kontaknya. Kami ketemu terakhir kali sekitar tujuh tahun yang lalu untuk photo-shoot Grasya, sebuah clothing line yang sempat dirintis oleh Nicil dan beberapa temannya. Eh, enggak taunya responnya positif banget, malah lebih dari ekspektasi saya. Dan buat hasilnya, enggak usah ditanya lagi, saya suka sekali! :))

Oke, sekarang udah siap semua. 







Perasaan campur aduk itu sempat hilang sesaat ketika saya sedang bersiap - siap. Tapi begitu waktu menunjukkan 10.15, perasaan itu kembali datang. Sekitar sepuluh menit sebelumnya, semua anggota saya sudah stand by di Rumah Joglo, sedangkan saya ceritanya "bersembunyi" di Rumah Utama. Kalau sesuai dengan yang tertera di rundown, keluarga Ican sudah seharusnya tiba di parkiran Rumah Saya. Dan benar aja, enggak lama kemudian dari jauh terdengar sayup - sayup suara Kak Tia yang menjadi MC acara ini, tanda bahwa keluarga Ican memang sudah datang. Di tengah - tengah menunggu acara yang sudah dimulai, saya justru kebingungan mau ngapain dan malah semakin cemas karena memikirkan bagaimana kondisi di sana. Untungnya ada keponakan saya, Azka, yang tiba - tiba datang menghampiri saya dan akhirnya menemani hingga tiba saatnya saya "keluar". Saya beruntung banget sih ditemani Azka, jadi bisa curcol soal kecemasan saya yang dibalas dengan jawaban simpel nan logis. Meskipun masih usia 8 tahun, Azka ini entah kenapa bisa dewasa banget, apalagi dengan pembawaannya yang terkadang cool dan berwibawa, bisa berhasil bikin saya tenang. Dan empat puluh menit pun akhirnya enggak terasa lama. Dari jauh terlihat sosok para bocah, yang enggak lain adalah keponakan - keponakan saya lainnya, Khalif, Reya, dan Moi; yang kemudian disusul oleh Bunda, Unicha, dan Gladyz. Di sini saya juga cukup kaget karena rencana awalnya hanya dijemput oleh Bunda dan Unicha. Tapi malah seneng sih karena kehadiran para bocah jadi membuat suasana semakin meriah. Apalagi ketika melihat wajah bingung-nya Reya begitu pertama kali melihat saya tanpa kacamata dan menggunakan make-up. Semakin membuat rasa cemas dan deg - degan saya hilang. 








Begitu saya sampai di Rumah Joglo, ternyata saat itu masih berlangsung sesi "tanya-jawab" yang sebelumnya diinisiasikan oleh Ayah. Jadi ceritanya untuk lebih mencairkan suasana, Ayah meminta Ican untuk menunjuk ketiga perwakilan dari keluarga dan sahabat saya untuk mengetes seberapa kenal Ican dengan saya. Akhirnya saat itu yang terpilih adalah Ali, Aldi, dan Fia. Dan kebetulan saat menjawab pertanyaan dari Fia, ada insiden lucu dimana Ican salah menyebut nama sahabat saya yang seharusnya 'Fia' jadi 'Anna'. Langsung aja seketika diceng-cengin karena lupa dengan dua sahabat saya! :)) Setelah puas ngegodain Ican, baru deh saya dipersilahkan untuk duduk. Nah, saat itu lah saya baru menyadari satu hal yang enggak terbersit sama sekali sebelumnya di pikiran saya. Bahkan enggak ada yang mengingatkan juga untuk memasukkan hal ini. Dan itu adalah jawaban saya ketika MC menanyakan, "Jadi bagaimana jawaban dari Ozu?". Saat itu saya terdiam dan bingung, karena Ican kan mengajukan pertanyaannya sebelum saya datang. Jadi menurut saya akan terdengar aneh kalau saya tiba - tiba jawab, "Iya, saya bersedia". Berasa kaya kegeeran gitu kan, wong enggak ditanya apa - apa kok tiba - tiba pede ngejawab bersedia jadi tunangan orang! :)) Seolah - olah terlihat jelas wajah kebingungan saya, Kak Tia menggoda saya dengan nyeletuk, "Wah ternyata masih enggak yakin nih dengan Ican". Di satu sisi bagus, sih jadi mencairkan suasana juga... cuma masalahnya, saya masih kebingungan menjawab. Saya mencoba bertanya ke Ayah dan Bunda yang berada di sebelah saya, tapi malah dicengin lagi. Sampai tiga kali digodain, akhirnya Kak Tia "menyerah" dan membantu saya untuk menjawab, yang akhirnya terlontar jawaban "Iya, saya menerima lamaran Ican". Walaupun sebenarnya masih terdengar aneh di telinga saya karena terkesan saya menjawab tanpa ditanya gitu, kan! Haha.

Dan akhirnya setelah itu acara kembali berjalan lancar dan syahdu, dengan sesekali celetukan seru dan meriah dari Kak Tia, hingga saatnya penutupan dan sesi foto bersama. 





All photos were taken by Emer Photography and edited by me.

Terlepas dari acara yang berjalan lancar dan sesuai rencana, ada beberapa pembelajaran yang saya dapatkan dari mengurus acara lamaran ini. Dan mungkin bisa bermanfaat buat kalian yang akan menyelenggarakan lamaran terutama dengan konsep yang serupa dengan kami :)

1. Mematangkan kembali konsep acara yang "intimate"
Mungkin karena baru kali ini konsep lamaran tanpa keluarga besar diadakan di keluarga saya dan Ican, jadi kami pun cukup bingung untuk menentukan pengaturan dalam beberapa hal. Pertama, mau berapa banyak sahabat yang akan diundang. Bagi saya dan Ican, kami awalnya hanya mau mengundang 10 orang sahabat tapi akhirnya setelah dihitung kembali, akhirnya kami mengundang 15 orang. Meskipun pada akhirnya ada yang udah konfirmasi enggak bisa datang, kami enggak menambah undangan karena memang yang ingin kami undang adalah teman - teman dekat kami.

Lalu hal lainnya adalah terkait seragam. Berhubung ini lamaran kecil, awalnya kami enggak merasa perlu membuat seragam dan bahkan make-up seadanya. Cuma setelah dipikir kembali, intimate bukan berarti enggak spesial. Dan salah satu cara untuk menjadikan acara ini lebih spesial adalah dengan menyeragamkan pakaian keluarga. Akhirnya kami setuju untuk menyeragamkan pakaian masing - masing keluarga dengan warna yang senada. Berhubung anggota keluarga saya cukup banyak, salah satu tips supaya enggak over budget adalah mencari bahan buat kakak dan adik saya di Thamrin City! Murah meriah. Keliatan bagus padahal murah ;)

Hal terakhir yang perlu diperhatikan, dan sempat missed dalam acara ini, adalah kesepakatan saya dan Ican untuk melibatkan sahabat kami sebagai "keluarga" atau "tamu". Kalau Ican dari awal sudah mengajak beberapa sahabatnya untuk ikut sebagai bagian dari rombongan, sedangkan saya mengira bahwa untuk prosesi awal hanya dihadiri oleh keluarga inti. Karena itulah saya membebaskan sahabat saya untuk enggak datang dari awal. Akhirnya karena miskom ini jadinya meskipun total sahabat kami yang datang sebenernya enggak beda jauh, tapi di awal acara memang terlihat cukup jomplang karena kebanyakan sahabat saya baru datang di tengah, penghujung, maupun setelah acara selesai. Alhasil keluarga saya sempat agak panik dan khawatir karena di awal acara sisi bagian saya terlihat "kosong" :))


2. Jangan sampai dipusingkan dengan hal - hal kecil!
Selama beberapa bulan sebelum hari H, setiap kali ditanya oleh keluarga dan sahabat saya tentang persiapan dan apa yang bisa mereka bantu, saya selalu menjawab "udah semua kok, enggak ada yang perlu dibantu lagi kayanya". Namun menjelang hari H, begitu kembali mengecek to-do-list, ternyata banyak yang belum dilakukan! Dan ternyata sebagian besarnya justru hal - hal kecil yang terlihat sepele, seperti make-up buat keluarga saya dan Ican, kotak seserahan buat makanan, pengaturan makanan supaya enggak basi, flashcards buat MC, sound system, pengaturan kotak seserahan, playlist acara, serta daftar para anggota keluarga dan sahabat yang hadir untuk diperkenalkan. Alhasil sisi panik saya keluar dan sehari sebelum acara tiba - tiba aja saya mual, lemas, dan sakit perut enggak jelas. Kayanya semua itu enggak akan kejadian kalau saya enggak menyepelekan hal - hal kecil dan mau "berbagi" tugas dengan orang - orang disekitar saya. Karena dengan berbagi tugas dari awal juga bisa sekalian mereview kembali jika ada yang kurang. 

3. Manfaatkan "karya" orang - orang di sekitarmu
Dari awal membuat acara ini, saya dan Ican udah kepikiran kalau bisa menggunakan jasa dari teman - teman kami yang berkecimplung di dunia kreatif. Alhasil, hampir setiap hal yang dipersiapkan untuk lamaran ini adalah hasil karya orang - orang di sekitar saya, baik teman, saudara, maupun kenalan dari keluarga/teman. Mulai dari venue, katering, fotografer, MUA, kebaya, hingga panitia kecil yang membantu keberjalanan acara ini. Satu - satunya vendor yang bukan dari relasi kami hanyalah dekorasi. Bagi kami rasanya lebih personal aja kalau yang menghandle adalah orang - orang yang kami kenal, karena bukan sekedar partner bisnis. Oh iya, selain membantu bisnis mereka, malah dengan ada hubungan kerabat juga bisa membantu kami "mengontrol" budget, loh :))

Baiklah, sekian cerita tentang acara tunangan saya dan Ican. Doakan supaya persiapan pernikahan kami tahun depan bisa berjalan lancar juga yaa! :)