July 31, 2017

#ROH 71 : Morning (Sunlight & Air)

Sebagai orang yang biasanya baru beraktivitas siang hari, memiliki kesempatan untuk bisa menikmati udara pagi dan (apalagi) melihat matahari terbit di depan mata adalah suatu hal yang sangat berharga. Enggak berlebihan kan jika kemarin begitu diajak pergi ke Ranca Upas untuk melihat matahari terbit, dalam hati saya langsung jingkrak - jingkrak kesenengan. Sekalipun udara Bandung lebih sejuk dan bersih ketimbang Jakarta, tetap aja belakangan ini saya butuh menghirup udara segar. Bukan, bukan udara pagi yang sudah tercampur dengan asap polusi kendaraan bermotor, tetapi oksigen bersih yang rasanya ingin saya hirup sedalam - dalamnya hingga mereka bisa bertahan lama di dalam paru - paru saya sebelum tergantikan oleh polusi. Oksigen yang mampu menyegarkan kembali otak saya yang sudah sulit untuk diajak bekerja. Dan akhirnya setelah sekian lama mengharapkan bisa pergi ke tempat yang menawarkan udara pegunungan yang dingin dan segar, kemarin pagi saya bisa kembali merasakannya.






Sejujurnya saya enggak terlalu berekspektasi untuk melihat matahari terbit di Ranca Upas, karena memang dari awal yang lebih saya nantikan adalah udara dingin dan segar ala pegunungan. Eh, enggak taunya begitu sampai disana, begitu banyak hal menyenangkan yang saya temukan. Langit berwarna biru-keunguan disertai taburan bintang yang terlihat begitu jelas. Pemandangan matahari terbit beserta cahayanya yang berpadu dengan kumpulan kabut pagi di sebuah lapangan hijau. Warna - warni tenda kecil yang dengan latar belakang bukit - bukit hijau. Hanya saat itu saya baru bisa memahami keindahan tempat ini hingga jadi salah satu tempat favorit untuk camping dan foto prewed... karena memang bagus banget!

Pokoknya kuucapkan terima kasih sekali untuk Bocan & Ryan yang udah menyetir dari Bandung ke Ciwidey (dan sebaliknya), Nami yang memiliki ide cemerlang dan mengajak ke tempat ini, serta Indung yang sudah meminjamkan coat dan syal sehingga aku enggak kedinginan dan bisa foto kece disini :')






July 29, 2017

#ROH 70 : Traveling with My Best Friends

Padahal baru Jumat dua minggu yang lalu, saya dan kedua sahabat saya pergi berlibur bersama ke Lombok tapi rasanya udah seperti berbulan - bulan yang lalu! Saking terlalu cepatnya liburan kami, which is memang hanya dua setengah hari, itu pun hari terakhir hanya bisa menikmati breakfast di hotel dan leyeh - leyeh sebentar sebelum kembali ke bandara. Tapi terlepas dari kurang panjangnya waktu liburan kami, saya pribadi merasa senang banget akhirnya liburan yang udah direncanakan dan ditunggu - tunggu dari tahun lalu untuk bisa traveling ke luar kota bertiga lagi bisa tercapai juga! Soalnya terakhir kami traveling bareng yang agak jauh itu yaa dua tahun yang lalu saat kami memutuskan untuk ke Jogja, setelah sebelumnya udah pernah ke Semarang dan Kiluan bareng - bareng. Dan setiap kali kami pergi berlibur pasti selalu yang bernuansa alam dan adventurous, karena pada dasarnya kami memang pembolang (bocah petualang) dan penyuka alam! Cuma kali ini kami pengen suasana yang berbeda, yaitu merasakan slow travel dengan menginap di hotel mahal yang jauh di luar budget kami biasanya. Jadilah akhirnya kami memutuskan untuk menggabungkan kedua konsep traveling tersebut. Hari pertama kami habiskan dengan berlelah - lelah dahulu kemudian hari kedua baru berleha - leha :))





Begitu sampai di Lombok, kami bersama supir rental langsung menuju destinasi pertama yaitu, Bukit Merese dan Pantai Tanjung Aan! Dikarenakan tempat ini yang paling jauh berada di ujung selatan Lombok dan kedua tempat ini yang paling kami hindari untuk mengunjunginya saat siang bolong, maka kami jadikan kedua tempat ini sebagai tujuan paling awal. Selama perjalanan kami disuguhkan beberapa bukit yang setiap kali melihat bukit baru di depan mata, pasti langsung menebak, "Bukit Merese yang itu ya pak?". Kayanya si bapake pun udah lelah menjawab enggak kepada para gadis - gadis yang udah enggak sabar melihat langsung pemandangan antara bukit hijau dan laut biru yang menyatu di satu tempat tersebut. Dan memang ternyata subhanallah banget pemandangannya! Bahkan foto - foto yang saya tampilkan di blog maupun Instagram, ataupun yang saya temukan di internet, enggak ada yang bisa benar - benar mendekati kecantikan aslinya! Kami beruntung karena saat itu matahari terik tapi angin berhembus dengan sejuknya. Selain itu di Tanjung Aan pun sepiiii banget, jadi berasa private beach gitu. Andaikan waktu kami lebih lama, pasti udah sibuk berenang kesana-sini :))





Destinasi selanjutnya adalah Desa Sade, yang letaknya enggak jauh dari kedua tempat tersebut. Personally, saya merasa enggak ada yang begitu istimewa dari tempat yang memang udah touristic sekali. Bukan hanya dipenuhi oleh wisatawan yang berkunjung, tetapi masyarakat lokal disana terlihat sudah sangat bergantung dengan pariwisata. Jadi apa - apa serba dikomersialkan oleh warga setempat. Cuma ada satu hal yang berkesan dari tempat ini, yaitu ketika saya foto dengan kamera Instax, beberapa warga disana terlihat amazed dengan foto yang keluar secara instan. Alhasil saat itu ada dua warga yang minta difoto dengan kamera saya dan melihat betapa girangnya mereka saat melihat foto mereka keluar, menurut saya itu adalah momen yang priceless

Nah baru deh penutup jalan - jalan di hari pertama, sekaligus yang juga udah ditunggu - tunggu oleh kami adalah Benang Kelambu! Dari foto di internet aja udah kebayang betapa rindang dan sejuknya tempat ini, dan benar aja, dingin banget airnya! Meskipun begitu, pada akhirnya rasa dingin air tersebut enggak menjadi penghalang bagi kami untuk berenang dan main air selama hampir dua jam! Bagi saya ini juga jadi salah satu highlight dari perjalanan kami, karena bisa dibilang saat disinilah kami menghabiskan waktu paling lama, mengeksplore setiap bagian di air terjun ini. Yaa main ke bagian belakang air terjun kecil, yaa video sambil menyelam berulang kali, yaa berdiri dan duduk diatas arus air. Dan lagi - lagi, saat itu enggak begitu banyak wisatawan yang berkunjung, membuat kami semakin merasa leluasa untuk bermain, sampai akhirnya kami menyerah karena udah enggak sanggup sama air dan udara yang semakin sore semakin dingin. 





Sesuai dengan rencana awal kami, hari kedua khusus dilalui untuk berleyeh-leyeh di Svarga, hotel yang udah menarik hati kami sejak pertama kali liat di booking.com. Jadi sejak pagi kami setelah pindah hotel dari Sweet Peach Hotel ke Svarga, kerjaan kami hanya tidur - tiduran di kamar, lalu keluar sebentar untuk makan di pinggir pantai Senggigi yang sayangnya enggak menarik sama sekali, dan kembali lagi ke hotel saat matahari sudah tidak begitu terik. Saat itulah kami memutuskan untuk ke kolam renang untuk menikmati pemandangan infinity pool dari atas hotel. Terlepas dari matahari yang ternyata masih terik, enggak berapa lama dari itu kami kedatangan tamu, yang enggak lain adalah blog readers saya yang berdomisili di Lombok, Eva dan Pipit. Senang banget karena mereka bela-belain untuk datang ke hotel dan membawa beberapa bungkus makanan dan minuman khas Lombok! Akhirnya kami mengobrol sampai sekitar kurang lebih satu setengah jam. Beneran enggak kerasa banget apalagi dengan pembawaan Eva dan Pipit yang seru sambil berbagi cerita tentang Lombok yang belum kami ketahui. Makasih banyak ya Va, Pit!!! 

Setelah itu malam terakhir kami ditutup dengan kembali berenang dan menikmati langit malam Lombok sambil bersenda gurau hingga kelelahan, tanda kami harus kembali ke kamar.  Semoga suatu hari nanti bisa kembali ke pulau ini dan mengeksplore lebih banyak tempat - tempat seru :')





July 19, 2017

#ROH 69 : Beaches

Ada banyak alasan mengapa dulu saya enggak begitu suka pantai. Matahari yang sangat terik dengan disertai udara pesisir yang panas. Belum lagi butiran pasir yang mengganggu, entah saat terbawa oleh angin dan menusuk ke mata, atau saat tercampur oleh air yang kemudian terasa lengket di kulit. Satu - satunya yang bikin saya suka ke pantai yaa karena kalo difoto memang lebih bagus karena efek cahaya yang sangat terang, membuat saya selalu ingin foto ala - ala majalah yang menampilkan keindahan musim panas di pantai - lengkap dengan summer outfit - setiap kali ke pantai. Haha! Tapi mungkin Tuhan ingin membuat saya menyukai segala bentuk kekayaan alam milik-Nya secara adil, yang membuat saya mengunjungi pantai dengan intensitas yang lebih sering daripada ke gunung. Malah dari lima tahun terakhir ini saya selalu dekat dengan pantai. Yaa dikelilingi oleh orang - orang yang penyuka pantai dan laut, yaa pernah tinggal di kota kecil pinggir pantai. Alhasil, setiap tahun saya pasti mengunjungi pantai. Bahkan ada saat dimana empat tahun berturut - turut saya mengunjungi beberapa pantai berbeda di Indonesia, yang akhirnya darisitulah saya mulai menyukai pantai dan seisinya.




Kesukaan saya ini semakin menjadi - jadi ketika saya ke Belanda dari Februari tahun lalu. Selama satu setengah tahun, saya baru ke pantai satu kali, itu pun di Den Haag dan bagi saya enggak terlalu menarik (apalagi jika dibandingkan pantai di Indonesia, jauhlah! heu). Baru deh saat itu saya sadar betapa saya merindukan pantai pasir putih dan crystal clear water, yang tersebar luas di negara saya sendiri. Aneh, tapi baru kali ini saya segitu merindukan pantai dan laut, hingga penantian dua bulan rasanya lamaaa banget! Makanya begitu akhirnya ke Tanjung Aan minggu lalu dan melihat pantai ini yang subhanallah cantik-nya, apalagi saat itu sedikit sekali pengunjung yang datang, beneran sebahagia itu rasanya!!!! Sayang, karena saat itu kami mengejar beberapa tempat, hanya sebentar menikmati pantai ini. Semoga aja masih ada kesempatan lagi untuk main ke pantai cantik lainnya :')



July 09, 2017

My Favourite Things in Prague

Terlepas dari berbagai kejadian enggak enak yang kami alami ketika pertama kali sampai di Praha, harus saya akui bahwa sebenarnya banyak hal menarik yang dimiliki oleh kota ini, hingga akhirnya berhasil mengubah impresi buruk yang sempat saya miliki terhadap Praha dan bagi saya kota ini tetap menjadi salah satu kota yang wajib dikunjungi di Eropa.

Untuk itinerary Praha, saya dan Gladyz banyak mendapatkan inspirasi dari dua sumber, yaitu Use It , sebuah peta lokal yang diberikan oleh host Airbnb kami, dan satu lagi adalah Stay.com, sebuah website yang berupa kumpulan itinerary para pengguna website tersebut, namun sayangnya sekitar dua bulan yang lalu website tersebut sudah resmi ditutup. Bukan hanya merekomendasikan tempat - tempat yang wajib dikunjungi first time visitor, tapi juga banyak hidden treasure yang kami temui dari kedua sumber tersebut. Dari kedua sumber tersebut, berikut ini adalah beberapa hal yang paling saya suka dari Praha:


 Novy Svet 





• Shakespeare & Sons 





• Old Town






• Petrin Hill •  


 • Lennon Wall 


• Kul'atak Restaurant 


• City Tram 


 • Chimney Cake