February 16, 2016

Rotterdam: Through The Lens of A Newcomer

Padahal baru dua minggu absen, tapi rasanya kok kaya udah lama banget ya enggak menulis di blog hehe. Sebenarnya banyaaaaak banget loh yang ingin saya ceritakan sejak saya pindah ke Belanda. Tapi karena masih sibuk mengurus berbagai macam keperluan baik kuliah maupun untuk menjadi warga sementara disini, jadinya setiap kali mau mulai menulis selalu terganggu dengan hal lain. Ujung - ujungnya saya jadi lebih sering posting foto di Instagram saking gemesnya pengen cerita tapi enggak bisa blogging. Ha! 

Mungkin bagi kalian yang mengikuti Instagram saya udah tau kalau saya saat ini tinggal di sebuah kota bernama Rotterdam. Tapi saya yakin, masih sedikit dari kalian yang familiar tentang kota ini. Sejujurnya kalau bukan karena saya sekolah disini, mungkin sampai sekarang saya masih belum tau bahwa Rotterdam adalah salah satu kota yang paling berpengaruh di dunia karena kedudukannya yang bukan hanya sebagai kota kedua terbesar di Belanda setelah Amsterdam, tetapi juga pelabuhan terbesar di Eropa yang membuatnya menjadi "pintu masuk" penghubung antara Eropa dengan dunia. Bahkan saya sempat kaget loh kalau ada kota di Eropa yang isinya bangunan - bangunan modern seperti ini!


The World's Capital of Architecture

Seperti kebanyakan kota - kota dunia lainnya, Rotterdam juga merupakan kota yang hampir seluruh bagiannya dibom hingga rata akibat dari Perang Dunia Kedua. Terlepas dari banyaknya korban jiwa dan kerusakan yang dihasilkan dari bombing tersebut, sebenarnya hal ini justru membawa keberuntungan tersendiri bagi Rotterdam. Pemerintah setempat melihatnya sebagai sebuah kesempatan besar untuk memperbaiki masalah - masalah perkotaan yang sebelumnya dimiliki oleh kota ini - seperti salah satunya lingkungan kota yang padat dan kumuh - sehingga bisa menjadi titik awal bagi pembangunan kota yang lebih baik. Dan udah bisa ditebak kaan, kalau pada saat itu jugalah pemerintah memutuskan untuk membangun kembali kota ini dengan rencana konstruksi yang baru dan sangat berbeda dari sebelumnya, yaitu mengisinya dengan bangunan yang modern. Tentunya rencana ini dijalankan dengan melakukan preservasi dan konservasi area yang masih terselamatkan dari bom. Alhasil, walaupun sekarang sebagian besar area di Rotterdam sudah dipenuhi oleh gedung - gedung modern, masih ada sebagian kecil neighborhood yang diisi dengan arsitektur tua khas Eropa. Hingga saat ini setiap kali saya mengeksplore bagian kota yang belum saya kunjungi, pasti selalu aja ada gedung yang berhasil membuat saya terpana dengan arsitekturnya :')







The Reasons Why I Love Rotterdam

I'm not fond of big city, but this one is exceptional. Selain perencanaan kotanya yang baik dan arsitekturnya yang inovatif, pemerintah Rotterdam juga sangat memperhatikan bagaimana supaya kota ini bisa terus berkelanjutan dan memberikan kenyamanan untuk masyarakatnya hingga di masa yang akan datang. Mulai dari transportasi publiknya yang beragam (selain memiliki bus dan metro, Rotterdam juga terkenal sebagai kota yang memiliki tram paling bagus di Eropa), jalur sepeda dan pedestrian yang sangat nyaman, arsitekturnya yang dirancang supaya hemat energi, hingga pengelolaan air bersih dan limbahnya (kalau ini bukan hanya di Rotterdam aja, tapi Belanda memang terkenal sebagai salah satu negara yang memiliki water management terbaik di dunia).

Makanya enggak heran kaaan, walaupun populasinya cukup padat (sekitar tujuh juta jiwa), selama dua minggu tinggal disini saya enggak pernah merasakan polusi, kesumpekan dan kesibukan kota besar yang bisa saya rasakan ketika di London (I'm sorry, but I need to say this!), Paris, Bandung, apalagi Jakarta :p. And maybe that's why I don't mind to live in this city till' the next for years! Malahan saya sekarang beryukur banget tinggal di kota ini (soalnya pertama kali tau kalau Rotterdam itu adalah kota besar, saya sempat patah hati karena udah membayangkan tinggal di kota kecil dengan lingkungan dan arsitektur yang khas Eropa) karena begitu banyak kemudahan yang saya dapatkan dengan tinggal di kota besar seperti ini. Mulai dari akses transportasi ke berbagai kota di Belanda maupun negara lainnya di Eropa; makanan Indonesia (beneran deh, walaupun saya udah tau sebelumnya kalau makanan Indonesia sangat mudah didapatkan di negara ini, saya tetap aja shock melihat betapa mudahnya mendapatkan Belibis *bukan iklan*, kerupuk udang, lumpia, bubble tea, bakpao, dan masih banyak makanan Indonesia dan Asia lainnya yang enggak bisa saya sebutkan satu per satu!); rekreasi gratis ke taman dan berbagai jenis museum; nyobain kafe dan coffee shop yang ngehits; belanja atau window shopping ke toko buku (senang banget disini ternyata banyak toko buku independen, yeay!), vintage & thrift shop, vinyl store, farmer's market, sampai furniture store yang murah meriah (IYA, disini banyak toko ala - ala IKEA yang super lucu dengan harga yang bahkan lebih murah dari IKEA!!!!); atau sekedar jalan - jalan menikmati berbagai hip urban scene dan sisi kreatif kota ini.

So now you know why I love this city so much even though I've only been here for two weeks!







The Green City

Bukan hanya pemerintah-nya aja yang fokus untuk membangun kota ini supaya lebih ramah lingkungan, rupanya masyarakat lokal pun juga mulai banyak yang menerapkan konsep "green city" dengan gaya hidup mereka. Pertama, urban gardening yang semakin banyak dilakukan mulai dari di rumah, lahan kosong hingga di rooftop sebuah gedung (atau biasa dikenal dengan green rooftop).   Mungkin karena itu juga yang membuat sangat mudah menemukan berbagai benih yang dijual di banyak toko dengan harga yang murah. Kedua, makanan sehat dan organik tersebar dimana - mana! Saya benar - benar enggak menyangka kalau bisa sangat mudah menemukan berbagai makanan sehat dan organik baik di supermarket maupun independent shop. Dan terlebih lagi, semua itu dijual dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan di Indonesia. Contoh paling sederhana adalah granola dan muesli. Saya yang biasanya mesti irit - irit mengkonsumsi salah satu produk granola dari Bali yang harganya sekitar 80ribu, disini dengan jumlah yang sama bisa hanya dibeli dengan harga 30ribu; atau chia seeds yang bisa mencapai ratusan ribu di Indonesia, disini bisa dibeli hanya dengan 50ribu! Ternyata orang - orang di seluruh dunia saat ini memang lagi berlomba untuk menjalankan pola hidup sehat, termasuk di Rotterdam sekalipun. Makanya semenjak disini saya semakin semangat buat menjalankan hidup sehat :))






Sepertinya itu dulu yang bisa saya ceritakan tentang kota ini, secara masih banyakkk banget sisi kota ini yang belum dijelajahi oleh saya. Postingan selanjutnya dan selanjutnya, sampai entah kapan, pasti  masih akan seputar Rotterdam (yaa mungkin diselingi oleh postingan lain sih hihi). Jangan bosan - bosan membaca postingan tentang kota ini yaa! :3

February 01, 2016

Begroeting, N.


Kalau dipikir – pikir hidup itu lucu dan selalu berhasil membuat saya gemas dengan berbagai kejutan yang diberikannya. Ini bukanlah pertama atau kedua atau ketiga kalinya saya mengalaminya. Yang jelas, tanpa disadari, sejak sepuluh tahun yang lalu hingga hari ini, semesta sepertinya sudah memberikan beberapa pertanda kepada saya tentang sebuah hubungan antara saya dengan Negara Van Oranje ini. Diantara berbagai pilihan tempat makan untuk merayakan ulang tahun saya ke-16, pilihan saya jatuh pada HEMA. Padahal saya bukan penggemar makanan atau punya minat tertentu dengan budaya Belanda. Bahkan bisa dibilang rasa ketertarikan saya terhadap negara ini dibandingkan negara lainnya di Eropa, berada di beberapa peringkat terbawah. Hal ini dibuktikan dengan tiga tahun yang lalu saat saya merencanakan Euro-trip. Diantara 7 negara Eropa tujuan saya, enggak terbersit sekalipun untuk memasukkan negara ini. Sekalipun orang – orang mengatakan bahwa dengan melamar aplikasi visa ke Belanda akan memudahkan kemungkinan untuk menerima visa Schengen; saya tetap bersikeras untuk enggak melamar visa ke kedutaan Belanda di UK karena saya memang enggak tertarik untuk mengunjunginya. Dan ujung – ujungnya lamaran visa saya ditolak mentah – mentah oleh Kedutaan Perancis dan Swiss. Kemudian hal lainnya adalah saat saya sedang mencari ide untuk nama secondhand shop yang ingin saya jalani. Setelah mencari beberapa nama, akhirnya pilihan saya jatuh pada sebuah kata yang berasal dari bahasa Dutch. Padahal saat itu saya memilihnya hanya karena diantara berbagai bahasa yang saya translate, kata yang paling pas didengar dan mudah diingat adalah Tweedehands. Lalu kali ini, rencana saya ke Inggris akhirnya berubah menjadi ke negara ini dengan beberapa pertimbangan dan perubahan rencana ketika sedang mempersiapkan sekolah saya sejak tahun lalu. 
For whatever reason the universe has brought me here, I hope this is the beginning of something big and wonderful.  


So, hello, Netherlands. I know we're gonna have a good time :)