January 21, 2018

Kanelstang, Mogana & Darth Vader

21 Desember 2017. Akhirnya setelah mengudara selama satu setengah jam, nyampe juga saya di Copenhagen Airport! Eh enggak sih, sebenernya lebih dari satu setengah jam perjalanan. Kalo dihitung - hitung lagi, perjalanan saya dimulai dari tiga belas jam sebelumnya. Dimulai dari menginap beberapa jam di Eindhoven dan enggak bisa tidur nyenyak karena takut ketinggalan bus. Lalu pukul 05.35 saya berhasil naik bus paling pagi yang ternyata udah penuh banget sama orang - orang yang mau ke bandara juga, sampai berasa kaya di dalam Trans Jakarta pas lagi jam pulang kantor.  Di luar ekspektasi saya banget deh karena dikirain bakalan sepi berhubung hari ini weekday dan masih belum libur. Untungnya saya sampai bandara dengan aman sentosa hingga akhirnya bisa duduk tenang di pesawat. Setelah itu, saya lupa apa yang terjadi karena bahkan pesawatnya belum take off, saya udah keburu mengudara duluan alias ketiduran. HA. Kemudian terbangun karena sayup - sayup suara pengumuman bahwa dalam beberapa menit akan mendarat di Copenhagen Airport. Saya sampai enggak percaya bisa tidur senyenyak itu di dalam pesawat. Biasanya pasti kebangun karena posisi yang enggak enak, terutama kepala yang pasti berasa pegel. Yaa, mungkin kali ini saya memang  terlalu lelah :))


Jadi untuk menghemat waktu saya yang sedikit, rencana saya hari ini adalah langsung eksplore Kopenhagen ketimbang ke tempat Mas Marlo dulu yang berada di seberang sana. Berhubung males juga ya geret - geret koper kesana kemari dan bawa backpack yang lumayan berat, saya juga memutuskan untuk menitip beberapa barang saya di loker Copenhagen Central Station. Lumayanlah seenggaknya harganya masih masuk akal, yaitu DKK 80 atau sekitar 9 Euro buat 24 jam. Setelah itu saya langsung menuju Torvehallerne, semacam pasar modern yang di dalamnya ada macam - macam stall makanan dan minuman. Sesuai dengan rekomendasi orang - orang, hari pertama di Kopenhagen bisa simulai dengan sarapan disana. Pas bangetlah kalo gitu, perut saya udah krucuk - krucuk secara dari tadi belum makan apapun dan sekarang jam udah menunjukkan hampir pukul 11.00. Untungnya tempatnya pun enggak jauh dari Central Station. *Markicab! *mari kita cabut


Begitu sampai, saya langsung mencari Coffee Collective yang terkenal sebagai one of the best coffee shops in town. Bukan hanya rasanya tapi juga cerita dibaliknya yang menggunakan sistem perdagangan secara transparan dan langsung membeli biji kopi dari farmers di beberapa negara penghasil kopi, seperti Ethiopia, Kenya dan Brazil. Semacam fair trade gitulah yaa. Jadi enggak heran juga kalo harga kopi mereka pun lebih mahal. Untuk ukuran gelas yang lebih kecil dari standar 'tall' nya Starbucks, cafe latte yang saya beli dikenakan harga sekitar lima euro. Rasanya menurut saya memang enak sih meski saya enggak begitu merasakan adanya sesuatu yang istimewa dari kopi ini *maklum masih amatir dalam dunia perkopian :))

Anyway, teman kopi saya kali ini adalah Kanelstang, sebutan untuk Danish cinnamon twist yang terkenal sebagai salah satu resep tradisional Danish yang paling tua dan tentunya jadi ciri khas Danish. Sesuai rekomendasi yang saya temukan di internet, saya beli dari Laura's Bakery yang tepat berada di seberang Coffee Collective. Nah, berhubung saya termasuk penggila cinnamon bun, kali ini saya bisa ngerasain apa yang membuatnya spesial dari resep - resep cinnamon lainnya seperti Saint Cinnamon dan Cinnabon. Bukan hanya bentuknya yang tipis dan menyerupai persegi panjang, tetapi juga ada serpihan almond yang ditabur diantara vanilla icing dan cinnamon filling. Dan ternyata kadar manisnya juga enggak setinggi cinnamon bun lainnya yang pernah saya coba. Meski begitu, rasanya tetep cocok kok di lidah saya. Kalo kata Danish, dette er hyggelig!





Ditengah - tengah kesyahduan saya menikmati kopi dan kanelstang sambil melihat suasana jalanan di luar jendela, tiba - tiba ada perempuan berparas India datang menghampiri saya. Sebenarnya dari enggak lama saya duduk, saya udah merasa diliatin beberapa kali sama si mbaknya sih *geer banget hahah*. Tapi saya mikirnya sih karena kami sama - sama Asia dan saya yang sebelumnya sempet foto - foto kopi dan kanelstang saya initerlihat tipikal Asian banget alias foto makanan dulu sebelum mulai makan :)) "Sorry, but I've been very curious, are you Malaysian?", kata perempuan tersebut yang bernama Mogana. Nah kan, kegeeran saya terbukti karena ternyata inilah alasan dia dari tadi ngelirik saya karena mengira saya juga dari Malaysia. Tapi begitu tau saya dari Indonesia pun dia tetap senang karena selama tiga hari di Kopenhagen dia jarang bertemu dengan orang Asia. Dan tentunya berhubung ini solo trip pertama dia, bertemu solo traveler lainnya juga pasti memberikan kesenangan tersendiri. Kami berbincang cukup lama, kayanya sampai lebih dari setengah jam! Saya pun juga senang karena seumur - umur saya solo travel, ini baru pertama kalinya ketemu sesama solo travel perempuan dari Asia. Udah gitu, ketika tau Mogana juga lagi kuliah di Inggris, tepatnya di University of Liverpool, somehow mengingatkan saya ketika pertama kali solo travel saat masih muda dulu jadi mahasiswa di Inggris dulu :')


Setelah selesai makan dan mengelilingi Torvehallerne yang ternyata memiliki dua indoor market dan satu outdoor market, saya lanjut ke Copenhagen University Library yang hanya sepuluh menit jalan kaki menurut Gmaps. Sebenarnya saya sempat ragu untuk mengunjungi perpustakaan ini karena saat browsing, alamat yang tercantum ada beberapa versi. Selain itu enggak banyak informasi lainnya mengenai perpustakaan ini selain dari Wikipedia. Mungkin karena udah enggak digunakan dan mungkin juga karena enggak terbuka untuk publik secara ini sebenernya research library milik University of Copenhagen. Cuma karena saya udah terlanjut penasaran banget setelah melihat foto - fotonya yang bagus banget, saya memutuskan untuk tetap kesana. 

Sesampainya disana, saya cukup lega begitu melihat bangunannya masih ada. Tapi udah daritadi mondar - mandir, belum juga menemukan pintu masuknya. Mungkin karena muka dan gerak - gerik saya yang kelihatan lagi kebingungan, akhirnya ada dua orang laki - laki, yang ternyata staf di University of Copenhagen, menghampiri dan menanyakan keperluan saya. Setelah mengutarakan niat saya untuk mengunjungi perpustakaan, mereka langsung mengantarkan saya kesana. Dan ternyata perpustakaannya memang udah enggak dibuka untuk umum dan hanya bisa diakses dengan kartu staf universitas. Beruntung saat itu saya bertemu mereka, karena saya pun jadi bisa masuk ke dalam sebuah ruangan yang mengingatkan saya dengan salah satu ruangan kerja Eddie Redmayne di film Fantastic Beasts and Where To Find Them. Mau dilihat dari angle manapun, perpustakaan ini selalu bikin saya terkagum - kagum saat membidiknya lewat kamera. Pola di langit - langitnya. Perpaduan dinding berbata merah dan cokelat. Pilar - pilarnya. Bentuk lampunya. Tapi kalo disuruh pilih hal yang paling saya suka dari perpustakaan ini adalah reading spot yang dipisahkan oleh rak - rak buku dengan jendela besar di tengahnya. Apalagi disini ada beberapa bagian yang memiliki jendela dengan pemandangan berupa bangunan dengan berbagai bentuk dan warna yang berbeda. Berhubung saya termasuk tipe orang yang suka banget kerja di dekat jendela, begitu melihat spot ini rasanya langsung membayangkan pasti langsung produktif banget kerja disini tiap hari. Eh, atau malah sebaliknya ya, enggak bisa kerja karena sulit fokus karena pemandangan di luar jendela yang lebih menarik dilihat ketimbang layar laptop? :))




Udah puas mengagumi setiap sudut Copenhagen University Library, saya kembali melanjutkan perjalanan. Tapi kali ini ketimbang membuka Gmaps, saya mengikuti kemana kaki saya melangkah sekalipun sebenarnya  udah ada tujuan khusus di benak saya. Di kondisi tertentu seperti saat ini, dimana saya berada di jalanan yang dipenuhi oleh bangunan menarik, saya memilih untuk mengikuti instinct dan mata saya. Hingga saya mencapai jalan buntu atau tempat yang udah enggak terlihat menarik, baru deh saya buka Gmaps. Dan ternyata kaki saya saat itu lagi membawa ke arah yang benar *soalnya enggak jarang juga suka bawa ke jalan buntu. HAHA*. Jadi saat entah gimana akhirnya saya sadar bahwa saya berada di salah satu jalanan pedestrian terpanjang di Eropa dan juga yang paling terkenal di Kopenhagen, yaitu Strøget Street. Yang mana jalanan ini juga termasuk dalam daftar tempat yang ingin saya kunjungi di Kopenhagen! Selama menyusuri jalanan ini, personally saya enggak merasa ada hal yang istimewa karena arsitekturnya yang enggak jauh berbeda dari beberapa kota di Eropa yang pernah saya kunjungi sebelumnya. Bahkan ada saatnya saya merasa seperti di Den Haag! Cuma harus diakui sih, dekorasi natal di sepanjang jalan dan juga di jendela - jendela toko, restoran, dan kafe yang saya lewati, membuat kota ini terlihat lebih berwarna dan hidup dari jalanan di Rotterdam. Terus yang juga memorable bagi saya adalah begitu sampai di Stork Fountain, saya melihat kerumunan orang - orang. Dan ternyata disana tempat para street performers beraksi karena memang ini termasuk daerah touristic gitu. Salah satunya yang paling menarik adalah Darth Vader yang memainkan sebuah alat musik (yang saya enggak tau namanya apa tapi suaranya mirip accordion). Bagian yang paling menariknya adalah ketika dia mengubah ritme musiknya setiap kali ada orang yang memasukkan yang di salah satu cup yang udah tersedia, yaitu 'Faster', 'Slower', 'Happy', 'Sad', dan 'Epic'. Semuanya lucu, tapi yang jadi favorit saya sih begitu ada orang iseng yang masukkin koin dari satu cup ke cup lainnya dalam waktu berdekatan. Ritmenya udah enggak jelas tapi lucu! :))






Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya tiba juga di Nyhavn. Lagi - lagi saya merasa enggak ada yang terlalu spesial dari tempat ini. Mungkin karena pemandangan kaya gini udah sering saya liat di Belanda kali yaa, terutama di Rotterdam yang sama - sama port city. Jadinya udah biasa aja pas ngeliatnya. Maksudnya, bangunan warna - warni nya memang menarik dengan perpaduan berbagai bentuk perahu... tapi ya kitu we. Berhubung ini salah satu landmark dari Kopenhagen, kayanya enggak ada salahnya buat jalan menyusuri Nyhavn. And who can resist walking along the colourful buildings on a sunny day? Definitely not me! 

Jalan - jalan sore dilanjutkan sambil menuju Papiroen, temporary indoor market yang terkenal dengan street food-nya dan kebetulan besok adalah hari terakhir tempat tersebut dibuka. Di luar ekspektasi saya, ternyata selain jalannya lumayan jauh dari Nyhavn, begitu sampai disana saya harus menelan kekecewaan karena tempatnya biasa banget :( Bahkan sebenarnya di Rotterdam ada tempat dengan konsep yang mirip tapi lebih bagus dan enggak overpriced makanannya. Alhasil, saya pun cuma keliling sebentar dan langsung keluar lagi. Tadinya setelah ini saya masih ingin ke satu tempat lagi, yaitu Christiania. Tapi setelah dipertimbangkan kembali, kayanya lebih baik dilanjutkan besok aja karena badan saya udah terasa jompo banget. Perpaduan masih kurang tidur, jalan setengan hari, dan udara juga makin lama makin enggak nyantai dinginnya! Baiklah, mari pulang. Eh, maksudnya ke rumah Mas Marlo :))





2 comments:

  1. aaaahh serunya bagian ketemu orang lain lalu making friend trus jalan jalan sendirian . selalu bikin iri Ozuuu !

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi makasih mbaa! semoga kamu pun bisa punya kesempatan kaya gitu yaa :)

      Delete