October 16, 2018

Engagement Story #4: The Day I Said...Yes?

Pagi itu saya terbangun dengan perasaan campur aduk. Padahal semua persiapan sudah lengkap, tapi tetap sulit untuk menghilangkan kecemasan dan rasa deg - degan yang menghinggap dari tiga hari sebelumnya. Sekitar jam tujuh pagi, sesuai dengan rundown dan juga kesepakatan kami, Benta memberi kabar kalau dia sudah di parkiran Rumah Saya. Awalnya saya ragu menghubungi Benta, yang hampir enggak pernah komunikasi sejak selesai PK (Persiapan Keberangkatan) LPDP tiga tahun lalu. Paling mentok ya sekedar memberi komen di Instagram. Tapi saya tau dua hal dari Benta: dia jago make-up dan tipe orang yang enggak ragu untuk membantu orang lain apalagi temannya. Jadi saya langsung kepikiran dengan Benta ketika Shasha, sepupu saya yang juga MUA favorit saya, ternyata udah di-book untuk acara lain di hari yang sama dengan lamaran saya. Hal lain yang membuat saya semakin respect dengan Benta adalah terlepas dari pertemanan kami yang sebenarnya bisa memberi celah buat lebih "fleksibel" memperlakukan saya, Benta tetap bersikap profesional. Bayangin aja saat hari H sebenarnya dia belum tidur sama sekali dan udah beberapa hari lembur kerja, tapi tetap datang tepat waktu dan hasil make-up nya tetap sebagus biasanya! :') Lalu enggak lama dari Benta datang, Rio beserta tim dari Emer Photography juga tiba di Rumah Saya untuk mendokumentasikan acara hari itu. Kalau Emer ini adalah bisnis sampingan Rio dan istrinya, Mecul, yang enggak lain adalah teman saya di Planologi ITB. Dengan kesamaan hobi dalam fotografi, akhirnya mereka membuat Emer yang khusus mendokumentasikan acara lamaran, akad, dan resepsi. Sayangnya di hari itu Mecul enggak bisa datang karena sedang ada pelatihan terkait pekerjaan utamanya.





Selama saya dimakeupin, tim Emer mengambil beberapa foto pakaian saya yang juga dibuat oleh teman saya. Kali ini yang membantu saya terkait kebaya adalah Nicil, junior saya di ITB yang saya kenal lewat unit Liga Film Mahasiswa (LFM). Sejujurnya saya ini buta banget dengan segala hal terkait jahit-menjahit pakaian, termasuk buat acara pernikahan. Bahkan beberapa kali dikasih bahan buat jadi bridesmaid, ujungnya selalu saya bikin di penjahit langganan Bunda yang sebenernya biasa aja. Tapi kali ini saya pengen yang beda, yang lebih kece gitulah. Haha. Cuma di sisi lain, saya juga enggak mau banyak effort buat mencari penjahit mana yang recommended. Intinya saya enggak mau susah nyari penjahit dan enggak mau mahal tapi mau hasilnya bagus dan terpercaya. Nah loh, banyak mau banget kan? :)) Untungnya saya kenal Nicil yang sejak lulus langsung fokus jadi fashion designer dan hasilnya enggak perlu diragukan lagi. Sama seperti ketika menghubungi Benta, saya pun awalnya sempat deg - degan begitu meminta Nicil. Apalagi kami udah lama banget putus kontaknya. Kami ketemu terakhir kali sekitar tujuh tahun yang lalu untuk photo-shoot Grasya, sebuah clothing line yang sempat dirintis oleh Nicil dan beberapa temannya. Eh, enggak taunya responnya positif banget, malah lebih dari ekspektasi saya. Dan buat hasilnya, enggak usah ditanya lagi, saya suka sekali! :))

Oke, sekarang udah siap semua. 







Perasaan campur aduk itu sempat hilang sesaat ketika saya sedang bersiap - siap. Tapi begitu waktu menunjukkan 10.15, perasaan itu kembali datang. Sekitar sepuluh menit sebelumnya, semua anggota saya sudah stand by di Rumah Joglo, sedangkan saya ceritanya "bersembunyi" di Rumah Utama. Kalau sesuai dengan yang tertera di rundown, keluarga Ican sudah seharusnya tiba di parkiran Rumah Saya. Dan benar aja, enggak lama kemudian dari jauh terdengar sayup - sayup suara Kak Tia yang menjadi MC acara ini, tanda bahwa keluarga Ican memang sudah datang. Di tengah - tengah menunggu acara yang sudah dimulai, saya justru kebingungan mau ngapain dan malah semakin cemas karena memikirkan bagaimana kondisi di sana. Untungnya ada keponakan saya, Azka, yang tiba - tiba datang menghampiri saya dan akhirnya menemani hingga tiba saatnya saya "keluar". Saya beruntung banget sih ditemani Azka, jadi bisa curcol soal kecemasan saya yang dibalas dengan jawaban simpel nan logis. Meskipun masih usia 8 tahun, Azka ini entah kenapa bisa dewasa banget, apalagi dengan pembawaannya yang terkadang cool dan berwibawa, bisa berhasil bikin saya tenang. Dan empat puluh menit pun akhirnya enggak terasa lama. Dari jauh terlihat sosok para bocah, yang enggak lain adalah keponakan - keponakan saya lainnya, Khalif, Reya, dan Moi; yang kemudian disusul oleh Bunda, Unicha, dan Gladyz. Di sini saya juga cukup kaget karena rencana awalnya hanya dijemput oleh Bunda dan Unicha. Tapi malah seneng sih karena kehadiran para bocah jadi membuat suasana semakin meriah. Apalagi ketika melihat wajah bingung-nya Reya begitu pertama kali melihat saya tanpa kacamata dan menggunakan make-up. Semakin membuat rasa cemas dan deg - degan saya hilang. 








Begitu saya sampai di Rumah Joglo, ternyata saat itu masih berlangsung sesi "tanya-jawab" yang sebelumnya diinisiasikan oleh Ayah. Jadi ceritanya untuk lebih mencairkan suasana, Ayah meminta Ican untuk menunjuk ketiga perwakilan dari keluarga dan sahabat saya untuk mengetes seberapa kenal Ican dengan saya. Akhirnya saat itu yang terpilih adalah Ali, Aldi, dan Fia. Dan kebetulan saat menjawab pertanyaan dari Fia, ada insiden lucu dimana Ican salah menyebut nama sahabat saya yang seharusnya 'Fia' jadi 'Anna'. Langsung aja seketika diceng-cengin karena lupa dengan dua sahabat saya! :)) Setelah puas ngegodain Ican, baru deh saya dipersilahkan untuk duduk. Nah, saat itu lah saya baru menyadari satu hal yang enggak terbersit sama sekali sebelumnya di pikiran saya. Bahkan enggak ada yang mengingatkan juga untuk memasukkan hal ini. Dan itu adalah jawaban saya ketika MC menanyakan, "Jadi bagaimana jawaban dari Ozu?". Saat itu saya terdiam dan bingung, karena Ican kan mengajukan pertanyaannya sebelum saya datang. Jadi menurut saya akan terdengar aneh kalau saya tiba - tiba jawab, "Iya, saya bersedia". Berasa kaya kegeeran gitu kan, wong enggak ditanya apa - apa kok tiba - tiba pede ngejawab bersedia jadi tunangan orang! :)) Seolah - olah terlihat jelas wajah kebingungan saya, Kak Tia menggoda saya dengan nyeletuk, "Wah ternyata masih enggak yakin nih dengan Ican". Di satu sisi bagus, sih jadi mencairkan suasana juga... cuma masalahnya, saya masih kebingungan menjawab. Saya mencoba bertanya ke Ayah dan Bunda yang berada di sebelah saya, tapi malah dicengin lagi. Sampai tiga kali digodain, akhirnya Kak Tia "menyerah" dan membantu saya untuk menjawab, yang akhirnya terlontar jawaban "Iya, saya menerima lamaran Ican". Walaupun sebenarnya masih terdengar aneh di telinga saya karena terkesan saya menjawab tanpa ditanya gitu, kan! Haha.

Dan akhirnya setelah itu acara kembali berjalan lancar dan syahdu, dengan sesekali celetukan seru dan meriah dari Kak Tia, hingga saatnya penutupan dan sesi foto bersama. 





All photos were taken by Emer Photography and edited by me.

Terlepas dari acara yang berjalan lancar dan sesuai rencana, ada beberapa pembelajaran yang saya dapatkan dari mengurus acara lamaran ini. Dan mungkin bisa bermanfaat buat kalian yang akan menyelenggarakan lamaran terutama dengan konsep yang serupa dengan kami :)

1. Mematangkan kembali konsep acara yang "intimate"
Mungkin karena baru kali ini konsep lamaran tanpa keluarga besar diadakan di keluarga saya dan Ican, jadi kami pun cukup bingung untuk menentukan pengaturan dalam beberapa hal. Pertama, mau berapa banyak sahabat yang akan diundang. Bagi saya dan Ican, kami awalnya hanya mau mengundang 10 orang sahabat tapi akhirnya setelah dihitung kembali, akhirnya kami mengundang 15 orang. Meskipun pada akhirnya ada yang udah konfirmasi enggak bisa datang, kami enggak menambah undangan karena memang yang ingin kami undang adalah teman - teman dekat kami.

Lalu hal lainnya adalah terkait seragam. Berhubung ini lamaran kecil, awalnya kami enggak merasa perlu membuat seragam dan bahkan make-up seadanya. Cuma setelah dipikir kembali, intimate bukan berarti enggak spesial. Dan salah satu cara untuk menjadikan acara ini lebih spesial adalah dengan menyeragamkan pakaian keluarga. Akhirnya kami setuju untuk menyeragamkan pakaian masing - masing keluarga dengan warna yang senada. Berhubung anggota keluarga saya cukup banyak, salah satu tips supaya enggak over budget adalah mencari bahan buat kakak dan adik saya di Thamrin City! Murah meriah. Keliatan bagus padahal murah ;)

Hal terakhir yang perlu diperhatikan, dan sempat missed dalam acara ini, adalah kesepakatan saya dan Ican untuk melibatkan sahabat kami sebagai "keluarga" atau "tamu". Kalau Ican dari awal sudah mengajak beberapa sahabatnya untuk ikut sebagai bagian dari rombongan, sedangkan saya mengira bahwa untuk prosesi awal hanya dihadiri oleh keluarga inti. Karena itulah saya membebaskan sahabat saya untuk enggak datang dari awal. Akhirnya karena miskom ini jadinya meskipun total sahabat kami yang datang sebenernya enggak beda jauh, tapi di awal acara memang terlihat cukup jomplang karena kebanyakan sahabat saya baru datang di tengah, penghujung, maupun setelah acara selesai. Alhasil keluarga saya sempat agak panik dan khawatir karena di awal acara sisi bagian saya terlihat "kosong" :))


2. Jangan sampai dipusingkan dengan hal - hal kecil!
Selama beberapa bulan sebelum hari H, setiap kali ditanya oleh keluarga dan sahabat saya tentang persiapan dan apa yang bisa mereka bantu, saya selalu menjawab "udah semua kok, enggak ada yang perlu dibantu lagi kayanya". Namun menjelang hari H, begitu kembali mengecek to-do-list, ternyata banyak yang belum dilakukan! Dan ternyata sebagian besarnya justru hal - hal kecil yang terlihat sepele, seperti make-up buat keluarga saya dan Ican, kotak seserahan buat makanan, pengaturan makanan supaya enggak basi, flashcards buat MC, sound system, pengaturan kotak seserahan, playlist acara, serta daftar para anggota keluarga dan sahabat yang hadir untuk diperkenalkan. Alhasil sisi panik saya keluar dan sehari sebelum acara tiba - tiba aja saya mual, lemas, dan sakit perut enggak jelas. Kayanya semua itu enggak akan kejadian kalau saya enggak menyepelekan hal - hal kecil dan mau "berbagi" tugas dengan orang - orang disekitar saya. Karena dengan berbagi tugas dari awal juga bisa sekalian mereview kembali jika ada yang kurang. 

3. Manfaatkan "karya" orang - orang di sekitarmu
Dari awal membuat acara ini, saya dan Ican udah kepikiran kalau bisa menggunakan jasa dari teman - teman kami yang berkecimplung di dunia kreatif. Alhasil, hampir setiap hal yang dipersiapkan untuk lamaran ini adalah hasil karya orang - orang di sekitar saya, baik teman, saudara, maupun kenalan dari keluarga/teman. Mulai dari venue, katering, fotografer, MUA, kebaya, hingga panitia kecil yang membantu keberjalanan acara ini. Satu - satunya vendor yang bukan dari relasi kami hanyalah dekorasi. Bagi kami rasanya lebih personal aja kalau yang menghandle adalah orang - orang yang kami kenal, karena bukan sekedar partner bisnis. Oh iya, selain membantu bisnis mereka, malah dengan ada hubungan kerabat juga bisa membantu kami "mengontrol" budget, loh :))

Baiklah, sekian cerita tentang acara tunangan saya dan Ican. Doakan supaya persiapan pernikahan kami tahun depan bisa berjalan lancar juga yaa! :)

September 20, 2018

Reproduction of Happiness #82: Redecorating My Room

Sejujurnya, setiap kali ada yang request buat roomtour kamar saya sekarang ini, saya suka bingung.  Bukannya enggak mau... tapi memang enggak ada yang menarik buat di-share. Ha! Selain kamar saya kali ini jauh lebih kecil ketimbang dua kamar sebelumnya, yang membuat saya harus mengurangi furniture di kamar, alasan lainnya adalah karena setahun ini saya belum menemukan semangat buat menghias dinding kamar saya. Antara belum ada ide dan capek setiap tahun mesti bongkar pasang dekorasi kamar :)) Jadi akhirnya yang bolak - balik saya dekor di kamar sekarang hanyalah tempat yang mudah untuk didekor (baca: enggak perlu ribet masang washi tape atau perekat). Selebihnya hanya dinding kamar yang diisi oleh beberapa kertas terkait riset saya, yang dipampang sebagai reminder buat saya dan bukan buat hiasan yang bisa dinikmati oleh orang lain... apalagi untuk dishare di blog atau Instagram :))


Sampai akhirnya udah dua minggu ini saya merasa sangat lelah. Dan di waktu yang bersamaan, merasa penat juga. Sepertinya gabungan antara kecapekan sebulan kemarin karena setiap hari dikejar - kejar waktu buat mengumpulkan laporan analisis ke pembimbing saya. Bahkan kecapekan yang awalnya hanya karena pikiran, lalu berdampak ke fisik karena pola tidur saya enggak bener. Sampai akhirnya merambat ke capek mental, yang juga membuat saya lelah untuk bersosialisasi dan interaksi dengan orang lain. Kalau udah gini, saya biasanya mageeeeer banget buat keluar apartemen. Bahkan dari kamar sekalipun rasanya kalau enggak penting - penting amat, ya enggak usahlah. Haha! Tapi, biasanya di saat seperti ini lah saya butuh mencari hal baru yang bisa dikerjakan, yang bukan berhubungan sama riset tapi tetap bermanfaat dan menyenangkan buat saya. Supaya kelelahan ini enggak berujung jadi hal negatif gitu maksudnya. Untungnya, di saat saya merasa penat dan sulit fokus mengerjakan riset; di saat saya lebih sering menghabiskan waktu di kamar; tiba - tiba muncul aja ide dan semangat buat melakukan sesuatu di kamar saya. Alhasil, sejak jumat lalu setelah saya mengumpulkan progress report ke pembimbing, saya memutuskan untuk kabur sejenak dari riset. Jadi aja deh, saya membongkar box berisi perlengkapan dekor dari kamar sebelumnya dan mengunjungi beberapa toko favorit buat membeli koleksi baru. Iya, setelah setahun lamanya, akhirnya saya kembali semangat mendekor kamar saya! :')






Bagi saya, rasanya sulit untuk mendekor semua bagian dalam satu waktu. Bahkan untuk kamar saya yang kecil seperti ini aja ternyata tetap butuh beberapa hari untuk menyelesaikannya. Salah satunya karena saya mengerjakannya ketika lagi lowong dan mood. Makanya sebenarnya proses redecoration ini udah mulai dicicil dari dua minggu lalu. Jadi saat itu hal pertama yang saya lakukan setelah pulang dari PhD excursion ke Freiburg dan Zurich adalah mengeluarkan string lights, postcard dari beberapa negara yang saya kunjungi, serta beberapa foto polaroid; yang ketiganya sudah menganggur di dalam box selama setahun ini. Enggak tau ada angin apa, tiba - tiba langsung semangat melakukan hal yang selama ini saya tunda karena mager. Kayanya selalu ada aja inspirasi yang datang setiap kali pulang dari trip ke tempat baru. He! Anyway, sebenernya sih enggak susah ya acara tempel - menempel ini, apalagi sebenernya ini tipe dekorasi andalan saya dari dulu. Kalau dilihat dari kedua kamar saya sebelumnya, ini dan ini, pasti ada aja dinding yang saya dekor dengan perpaduan polaroid, postcard, poster dengan washi tape. Cuma memang agak ribet sih dan butuh waktu agak lama buat mengerjakannya. Meski sekarang saya kembali mendapatkan hal yang enggak pernah gagal bikin saya senang: menyalakan string lights ketika senja mulai datang dan berganti menjadi malam. Seketika suasana di kamar langsung jadi syahdu. Ditambah juga bagi saya sudut ini seperti "Wall of Hope".  Karena setiap melihat foto dan gambar yang terpampang di dinding ini selalu mengingatkan saya akan dua harapan, yang meskipun bertolak belakang satu sama lain tapi saling melengkapi. Harapan untuk pergi menjelajahi sisi dunia yang belum saya kunjungi dan harapan untuk pulang bertemu dengan orang - orang tersayang.





Buat kamu yang mengikuti blog saya dari tahun lalu dan Instagram, mungkin udah familiar dengan beberapa foto di atas karena selama ini kalau posting foto kamar ya pasti antara meja kecil di dekat jendela dan dua rak kayu. Maklum, dari awal saya pindah ke apartemen ini cuma ada dua tempat ini yang rajin saya dekor dan (((secara estetika))) pantas untuk dishare. Haha! Walaupun alasannya mereka didekor adalah sesederhana karena barang yang saya beli selama ini cukup banyak sedangkan ruang di kamar saya terbatas, jadi lebih baik memanfaatkan setiap ruang yang ada. Namun, kali ini saya pun ingin mengganti dekorasi di kedua tempat tersebut. Misalnya, meja kecil di dekat jendela ini biasanya diisi dengan kombinasi beberapa pernak - pernik serta tanaman, entah houseplants atau rangkaian bunga segar. Tapi sekarang saya ganti jadi dried flowers. Lalu alas yang biasanya saya biarkan polos (tanpa alas); sekarang saya pasang taplak yang sengaja di bawa Bunda dari rumah supaya saya selalu ingat rumah. Selain itu, yang juga berbeda adalah pewangi ruangan. Sebelumnya saya selalu menggunakan scented candles, tapi sekarang lagi pengen coba diffuser. Ada juga beberapa barang yang sebelumnya disimpan akhirnya sekarang dikeluarkan lagi. Dan begitu juga sebaliknya, barang yang selama ini dipajang akhirnya disimpan lagi. Sedangkan untuk rak kayu, yang fungsi awalnya adalah menjadi rak buku, kali ini salah satu rak-nya harus dikorbankan menjadi tempat pakaian. Maklum, di musim transisi seperti sekarang ini, pakaian untuk musim panas dan musim dingin terpaksa dikeluarkan. Kalau udah begitu, pasti lemari kecil di kamar saya enggak akan muat menampung semua pakaian tersebut. Ternyata mengubah arrangement seperti itu aja bisa memberikan dampak yang cukup significant loh! Saya jadi merasa kamar saya lebih terlihat menyenangkan semenjak itu :)







Bisa dibilang "pusat" dari segala dekorasi yang ada di kamar saya terletak di dinding depan meja kerja. Mungkin karena saya banyak menghabiskan waktu di meja kerja, jadi otomatis yang paling sering terlihat ya dinding di depannya. Makanya biasanya saya alokasikan dinding ini untuk sebagai tempat reminder berbagai hal. Mulai dari organiser board, to-do-list, timeline buat PhD setahun ke depan, hingga research framework saya. Selain itu saya juga suka memasang beberapa kata - kata penyemangat yang simpel tapi langsung ngena begitu dibaca. Dan hal lain yang enggak bisa terlewatkan adalah artworks yang banyak saya ambil dari majalah Flow. Selain itu ada juga yang saya beli dari Sostrene Grene dan Hema, dua toko favorit saya buat membeli dekorasi murah meriah. Misalnya aja saya dapat artwork poster kelinci dan musang hanya 5.5 Euro di Sostrene Grene. Sedangkan di Hema saya beli frame lukisan kaktus hanya 4 Euro karena lagi diskon! Selain dua toko tersebut, saya juga suka banget ke XenosFlying TigerDille & Kamille, serta Primark Home. Pokoknya keenam toko tersebut selalu bikin saya bahagia deh setiap kali berkunjung kesana, meskipun juga mesti mengontrol diri supaya enggak impulsif. Terutama Sostrene Grene dan Dille & Kamille sih, yang setiap ke sana bawaannya selalu langsung bikin saya enggak sabar pengen punya rumah yang diisi dengan barang - barang mereka. Terlalu gemas! Nanti kapan - kapan akan saya share isi masing - masing toko ini ya. Karena udah kepikiran sejak lama sih, mengunjungi berbagai toko tersebut selalu memberikan kebahagiaan tersendiri buat manusia seperti saya ini yang mudah disenangi oleh hal - hal lucu :3