Memasuki Tahun Ketiga Tinggal di Belanda

Bulan Februari ini merupakan indikasi bahwa saya sudah memasuki tahun ketiga menjalani program PhD, yang artinya juga udah dua tahun saya tinggal di Belanda. Meskipun sebelumnya saya udah pernah tinggal selama empat belas bulan di Inggris, yang sebenarnya enggak jauh berbeda dari Belanda, terutama jika membahas cuaca labil yang dimiliki kedua negara tersebut, sebenernya ada banyak hal baru yang saya lakukan dan menjadi kebiasaan saya hanya ketika dan semenjak saya tinggal disini. Entah karena perbedaan budaya. Entah karena perbedaan kota, yang mana dulu saya tinggal di kota kecil dan sekarang saya tinggal di kota besar. Entah karena perbedaan usia yang juga mempengaruhi beberapa kebiasaan. Entah karena dulu saya first-timer alias baru pertama kali tinggal di negeri orang, sedangkan sekarang saya udah kurang lebih paham gimana menyiasati tinggal di negeri orang. Entah karena dulu saya mengambil program master dengan jadwal kelas yang lebih padat dibandingkan program doktoral yang fleksibel terkait manajemen waktu. Entah karena dulu waktu saya yang sangat singkat untuk tinggal di Inggris, sedangkan disini berasa udah jadi warga tetap saking masih lamaaanya tinggal disini (meski sekarang udah mulai berasa sedih sih mikirin akhir tahun depan kemungkinan besar udah selesai dan for good ke Indonesia). Yang jelas, semua perbedaan tersebut berpengaruh dalam bagaimana saya menjalani kehidupan saya di Belanda, yang berbeda dari ketika saya tinggal di Inggris dulu, dan tentunya juga berbeda dengan ketika saya menjalani kehidupan saya sebelumnya di Indonesia.


• DUTCH 101 

Jadi ada beberapa kebiasaan yang khusus saya lakukan semenjak saya tinggal di Belanda karena: 1. enggak ada pilihan lain selain mengikutinya kalo enggak mau menyengsarakan diri sendiri dan tetap bisa bertahan hidup disini; 2. karena tanpa sadar terbawa oleh lingkungan dan kebiasaan orang - orang disini; 3. karena memang pada dasarnya saya suka dan udah cocok aja dengan diri saya.

1. Ekspektasi: "ku mau bersepeda cantik dengan keranjang lucu". Realita: "yang penting bisa bersepeda dengan nyaman!" 
Dengan budaya bersepeda yang sangat terkenal dan fasilitas yang sangat memadai untuk bersepeda, pastilah selama tinggal di Belanda saya juga akan bersepeda. Dan salah satu yang bikin excited sebelum datang kesini adalah membayangkan akan segera membeli sepeda lucu dengan keranjang kayu di depannya. Yaa kaya yang biasa dilihat di film - film atau foto - foto di Pinterest dan Tumblr gitu lah. Namun begitu sampai disini, saya baru memahami bahwa semua itu hanyalah sekedar angan belaka. Pertama, saya lupa bahwa ukuran badan Dutch pada umumnya cukup berbeda dengan ukuran standar orang Indonesia. Jadi ukuran standar sepeda disini ya gede - gede gitu deh. Jangankan pake keranjang kayu, tanpa keranjang apapun di depannya aja saya sering enggak stabil sepedaannya dengan menggunakan sepeda ukuran Dutch. Kedua, yang namanya kayu itu kan cenderung berat yaa dan jadinya kalo pasang keranjang kayu di depan sepeda itu mudah banget bikin setirnya enggak stabil. Makanya orang - orang disini juga lebih banyak yang menaruh keranjang di belakang sepeda ketimbang di depan. Dan alasan yang terakhir adalah berhubungan dengan iklim di Belanda yang cenderung berangin. Singkat cerita, disini saya jadi belajar bahwa dalam hidup ini enggak selalu yang kelihatan unyu dan menarik itu yang akan bikin kita nyaman. Karena bagi saya, ternyata justru Fobi (folding bike) yang enggak pernah saya mimpikan sebelumnya justru yang paling pas dengan kebutuhan saya :))


2. "Go Dutch": Ibarat orang Jawa yang dipaksa jadi orang Sumatera 
Kayanya akan banyak orang Indonesia yang setuju bahwa tinggal di Belanda itu pasti mengajarkan dua hal, yaitu menjadi orang yang lebih straightforward dan orang yang 'fair' (terutama soal uang)! Bahkan sampai ada sebutan sendiri untuk karakter orang Dutch yang kedua ini, yaitu "Go Dutch", yang artinya adalah bayar masing - masing. No offense dan enggak bermaksud rasis atau ngatain yaa, tapi kayanya kedua karakter itu kurang lebih juga mirip dengan image orang Sumatera pada umumnya, enggak sih? Ha! Meskipun saya ada darah Padang, tapi sejujurnya saya ini berhati Jawa banget sampai melebihi temen saya yang Jawa tulen, alias enggak enakan banget. Jadinya begitu tinggal di Belanda dan menghadapi kondisi dimana budaya disini berkebalikan dengan saya, rasanya itu yaa mirip dengan orang Jawa yang tinggal di Sumatera. Awalnya cukup sulit sih karena saya jadi sering menemukan diri saya kesel sendiri kenapa enggak bisa straightforward dan mesti enggak enakan banget. Tapi lama kelamaan ya jadi semakin bisa menyesuaikan diri. Saya enggak tau sih sejauh mana saya berubah, cuma saya mulai menyadari sih bisa lebih tegas dan straightforward ke daily supervisor saya yang susahnya minta ampun buat dimintain waktu buat ngasih feedback. Atau semakin bisa menolak ajakan teman saya buat pergi di saat saya lagi enggak mood buat keluar, serta bisa menagih uang "patungan" ke teman - teman saya tanpa merasa jadi orang yang pelit. Haha! 

3. Ngecek weather forecast sebelum keluar rumah adalah wajib hukumnya! 
Berbeda dari Inggris yang "cuma" bermasalah dengan hujan, Belanda juga punya masalah dengan anginnya yang gengges banget! Percayalah, saya adalah salah satu orang yang paliiiiing males ngecek weather forecast pada awalnya. Bahkan baru download di hp itu setelah setahun saya tinggal disini. Maksudnya yang "proper" weather forecast yaa. Kalo cuma yang liat temperaturnya berapa sih udah otomatis ada di hp. Padahal sebenernya yang paling penting itu adalah melihat kemana angin berhembus dan seberapa kuat anginnya. Karena pada akhirnya udara dingin dan sekalipun hujan rintik - rintik itu enggak akan begitu gengges kalo enggak ada angin. Alias faktor utama yang sering bikin jadi males keluar rumah, enggak jadi sepedaan, dan ganti baju jadi enggak cakep - cakep amat (karena pada akhirnya berantakan juga nyampe kampus gegara terhempas angin ditengah jalan). Oh iya, ini mengaca pada pelajaran saya di setahun pertama yang berani keluar rumah tanpa tau kondisi angin seperti apa, saya sarankan jangan pernah mengikuti kesalahan saya. Karena sering banget saya menemukan diri saya menyesal kenapa enggak mengecek weather forecast terlebih dahulu *meski pada akhirnya tetap diulangi berkali - kali* :)) 


4. Kebiasaan Dutch yang patut diacungi jempol
Salah satu hal yang sering banget bikin kami, para non-Dutch, terkagum sekaligus terheran - heran dengan para Dutch adalah kecintaan mereka dengan sepeda dan lari. Kecintaan mereka itu sampai ke tahap dimana masih ada aja loh orang - orang yang bersepeda dikala hujan, angin kencang (waktu itu saya pernah liat lumayan banyak yang masih sepedaan di kala anginnya mencapai 40km/hour) hingga saljuan yang saat itu dinginnya udah enggak nyantai banget! Oh iya, kebiasaan lainnya yang juga bikin saya geleng - geleng kepala adalah orang - orang Dutch yang suka banget sama lari. Bahkan mereka tetep lari selama winter dengan hanya menggunakan satu layer pakaian dan enggak jarang juga saya liat yang hanya menggunakan kaos dan celana pendek. Duh, enggak paham lagi kulitnya terbuat dari apa itu ya :( Selain itu saya juga sering banget papasan ketika lagi sepedaan dari kampus ke rumah dengan sekelompok orang yang lari bareng. Dan itu waktunya sekitar jam tujuh malam hingga sembilan malam. Sungguh patut ditiru sekali mereka ya meski kayanya saya enggak bisa mengikuti jejak mereka. Pernah dong baru - baru ini saya coba lari pake sweater dikala ada matahari yang cukup silau sampe saya pake sunglasses dan saat itu temperatur sekitar enam derajat. Tapi setelah itu badan langsung berasa enggak enak kaya masuk angin. Haha! 

5. Tiada bulan tanpa beli bunga 
Kecintaan orang - orang Londo Belanda terhadap bunga memang enggak bisa diragukan lagi. Bahkan dari abad enam belas aja mereka udah mengimpor tulip yang sebenernya berasal dari Turki dan berhasil menanam serta membudidayakan tulip di negara mereka. Hingga akhirnya bukan hanya sekarang tulip dikenal sebagai simbol negara ini, tapi juga Belanda merupakan salah satu produsen dan supplier terbesar untuk penjualan bunga di dunia (dan ini enggak hanya sebatas tulip). Makanya enggak heran deh kalo salah satu kebiasaan orang Belanda adalah membeli bunga untuk dijadikan dekorasi di rumah mereka. Dan ini juga adalah salah satu kebiasaan mereka yang dengan mudahnya saya terapkan! Meskipun dari dulu sebenernya saya udah penggemar bunga dan tanaman, tapi sebelum kesini saya jaraaaang banget beli bunga buat diri sendiri. Apalagi cuma buat dijadiin pajangan doang. Kaya sayang aja enggak sih ngeluarin seenggaknya lima puluh ribu buat bunga? Mending buat makan aja deh! Haha. Bahkan pas tinggal di Inggris sekalipun, saya juga enggak pernah mengalokasikan pengeluaran rutin tiap bulan untuk beli bunga. Tapi semenjak tinggal disini, setiap kali melewati para penjual bunga di outdoor market yang dulu pasti rutin saya kunjungi tiap minggunya dan melihat banyak orang lalu lalang sambil membawa bunga - bunga cantik dengan berbalutkan kertas cokelat, saya pun jadi tergoda buat membelinya. Entah kenapa terlihat cool aja di mata saya, jadi lebih berasa banget gitu tinggal di luar negeri, HAHAH *monmaap saya memang norak aslinya*. Alhasil yang awalnya cuma sesekali akhirnya sekarang saya mengalokasikan pengeluaran khusus buat beli bunga setiap bulannya. Karena ternyata memang ada kebahagiaan tersendiri saat membeli satu bucket penuh dengan bunga cantik dan menaruhnya di dalam vas di kamar. Setiap melihatnya selalu seneng dan enggak bosan sampai beneran layu. Malah sempat ada waktunya dimana kamar saya tanpa bunga gitu dan seketika jadi terlihat ada yang kurang dan lebih suram. 


6. Belanda = Indonesia di Eropa = hidup jadi lebih mudah?
Well... enggak bikin hidup lebih mudah juga sih. Tapi kalo bikin mudah cari makanan Indonesia dan Asia, jawabannya IYA BANGET! Saya ngerasain banget perbedaan intensitas masak dan makan makanan Indonesia ketika di Inggris dan di Belanda. Tapi ini juga mungkin dipengaruhi karena dulu saya tinggal di kota kecil yang cuma ada dua Asian shop dengan produk Indonesia yang terbatas. Inget banget deh dulu Indomie tuh masih jadi makanan yang langka. Sekarang mah boro - boro Indomie, beberapa jenis dan produk makanan Indonesia lainnya seperti kerupuk, rempeyek, tahu, tempe, saus sate, sambal; bisa didapat di beberapa supermarket umum. Yaa cuma buat rasa yang edible dan terjamin, untuk produk tertentu khususnya sambal, kecap, dan saus - sausan, mending beli di Asian supermarket/store aja yang menjual brand yang udah pasti enak. Terlepas dari berbagai kemudahan dalam mendapatkan makanan Indonesia, teteplah ada satu makanan yang masih langka banget disini, yaitu martabak manis keju! Ini masih mesti nunggu balik ke Indonesia dulu atau nunggu keajaiban ada orang yang berbakat bikin martabak kaya abang - abang Martabak Favorit :(

7. Tiada hari tanpa mengonsumsi dairy products 
Kayanya satu alasan lagi kenapa saya susah langsing selama disini adalah karena terlepas dari konsumsi organic & healthy products yang meningkat, banyak juga jenis makanan yang mudah banget bikin berat saya susah turun namun mudah naik. Salah satunya adalah dairy products yang juga dikenal sebagai salah satu simbol dan produk ekspor terbesar selain bunga. Bagi saya yang paling menggoda iman dan susaaah banget dikurangin itu adalah yoghurt dan koffiemelk (susu khusus buat kopi), yang hampir tiap hari pasti saya konsumsi seenggaknya sekali. Sedangkan susu dan butter untungnya udah cukup lama saya ganti dengan plant-based products, yang untungnya semakin kesini semakin banyak variasinya dan enggak kalah enak dengan dairy products. Oh iya, kalo mood lagi senggol bacok juga biasanya nambah lagi dairy products lainnya yaitu es krim dan keju. Haha! Tapi beneran sih ini juga yang bakalan saya kangenin banget kalo udah enggak tinggal di Belanda lagi. Makanya enggak salah kan kalo saya puas - puasin konsumsi dairy products mumpung masih disini :p 


8. Udara kering dan usia yang bertambah tua jadi nambah koleksi skincare products
Salah satu kebiasaan lainnya yang susah banget saya ubah adalah merawat kulit. Enggak sedikit orang yang tertipu begitu melihat wajah saya yang sekilas terlihat putih dan mulus *ini monmaap bukannya mau narsis ya*, mereka mengira saya tipe orang yang rajin facial atau seenggaknya menerapkan 10 Korean Beauty Steps *kibas jilbab dululah*. Padahal ini hanya salah satu anugerah Tuhan semata yang diberikan kepada saya dan juga yang sangat saya syukuri. Haha! Tapi mungkin begitu kali ya, karena jadi terbiasa dengan pikiran "ya, selama enggak ada jerawat atau muka enggak kenapa - kenapa, enggak perlu dirawat macem - macemlah", jadi malah kebablasan gitu terus. Padahal kan udah tau udara di Belanda (dan Eropa pada umumnya) lebih kering daripada udara di Indonesia yang humid, jadi harusnya udah otomatis kan yaa nambah skincare products, seenggaknya pake moisturiser lah paling minimal. Tapi enggak tuh, bagi saya butuh (lagi - lagi) setahun untuk mulai nambah beberapa beauty & skincare products. Itu pun karena saya akhirnya kapok dengan kulit tangan saya yang mudah luka karena terlalu kering dan ujung bibir yang juga sering luka dan pecah - pecah. Semenjak itu akhirnya saya mulai perlahan - lahan ganti dan nambah skin care products serta semakin disiplin (alias rajin) merawat kulit, meskipun enggak sampai ngikutin standar beauty routine nya orang - orang Korea sih. Hehe! Seenggaknya yang paling penting bagi saya adalah tetep menjaga kelembaban kulit dan rambut di negara yang kering ini. Beberapa diantaranya yang sejauh ini cocok dengan kulit kering saya adalah:

- Body Shop yang juga jadi produk favorit saya sejak SMA, terutama untuk body lotion dan body wash. Tapi semenjak disini saya juga rutin menggunakan Vitamin E Day Lotion dengan SPF 30 sebelum beraktivitas. 
- Vaseline lip jelly ini baru saya gunakan semenjak di Belanda karena setelah menggunakan beberapa brand lain untuk lip therapy. Karena ternyata yang paling bisa melembabkan bibir saya dalam waktu lama adalah Vaseline ini.
Viva Face Tonic & Milk Cleanser yang udah selalu saya gunakan rutin sejak duduk di bangku SMP untuk membersihkan wajah saya setelah seharian beraktivitas.
L'Oreal yang juga udah saya gunakan sejak di Indonesia untuk shampo dan conditioner tapi semenjak disini saya juga gunakan Oil-In-Cream dan Hair Mask. Buat rambut saya yang kering banget, tipe Extraordinary Oil ini yang paling cocok.
- Clinique Moisture Surge Intense Skin Fortifying Hydrator ini juga baru saya gunakan semenjak disini setelah merasa bahwa kayanya bergantung hanya dengan day cream dari Body Shop agak kurang melembabkan kulit saya terutama jika udah mulai sore hari. Makanya ini biasanya saya pakai dua kali, yaitu ketika pagi hari dan malam hari. Jadi ini juga saya gunakan untuk night cream sekalian.
- Originals Evening Primrose Oil ini adalah produk terakhir yang saya gunakan sebelum tidur yang fungsinya supaya lebih melembabkan kulit serta sekaligus relaksasi karena khasiatnya yang memang juga sering dijadikan sebagai aromaterapi. 
- Selain itu juga saya lebih rajin buat maskeran seenggaknya seminggu sekali, tapi belum ada brand tertentu yang jadi favorit saya sih karena bagi saya efeknya sama aja. Tapi baru - baru ini saya lagi coba masker Freeman.



9. "Mendingan jalan - jalan ke kota Eropa lainnya daripada main ke kota lain disini"
Begitulah yang sering dilakukan oleh saya dan teman - teman pendatang lainnya. Ketimbang jalan - jalan mengeksplore kota lain di Belanda, mendingan sekalian jalan ke negara lain yang lebih menarik dan dari segi transportation cost juga terkadang bisa lebih murah ketimbang ke kota lain disini. Tapi bagi saya yang tetap menyenangkan dari jalan - jalan di Belanda adalah ketika mau sekalian berpetualang naik sepeda sambil mengunjungi kota yang punya sesuatu yang iconic dan cuma ditemukan di negara ini. Mulai dari sepedaan di sekitar Lisse sambil hunting ladang tulip yang sedang berbunga, ngeliat langsung kincir angin di Kinderdijk atau Zaanse Schans, mengunjungi Zaandam si kota kecil yang lebih mirip mainan ketimbang real city dengan berbagai bangunan super menggemaskan (salah satunya adalah Inntel Hotel yang ada di foto ini), hingga Giethoorn yang merupakan desa kecil yang khusus dibuat untuk tujuan pariwisata. 

9 Comments

  1. Jadi pengen ke Belanda hehe. Sukses terus kuliahnya, kak! Btw, ku penasaran, belajar bhs Belandanya berapa kak? hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga bisa kesini juga yaa nanti! aamiin! :)

      aku ngambil buat level A1 disini bayar 250 euro dan itu course nya tiga bulan. Kayanya kalo ambil di Indonesia bisa lebih murah deh X)

      Delete
  2. Zuu suka posting yang ini, somehow inspired me to write one related to Milan. Anyway, last point; for me, the opposite, ku suka banget explore Italy! hahah. I've been to Netherland twice (including Rotterdam!), and I like it a lot! Tapi emang bener sih; banyak kota yang agak mirip-mirip ya.

    Love <3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Addinaaa! ku tunggu postingan tentang Milan! pasti banyak hal menarik juga disana dan terkait culture Italy juga. Nah itulah bedanyaa... ku pun kalo di Italy kayanya bakal banyak explore karena emang byk tmpt yang beda dan menarik.. enggak kaya di Belanda yang enggak ada apa2 dan cenderung mirip kota2nya :(

      Delete
  3. Lama ga mampir blog kak ozu. Mampir mulai postingan ini dan setuju kalau martabak itu ternyata salah 1 harta karun bangsa kita haha. Temenku dr prancis nyobain martabak dan habis itu hampir seminggu 3 kali beli karena dia tahu bakal sulit dan ga bisa bikin martabak di negaranya haha....

    ReplyDelete
  4. Subhanallah. saya suka banget setiap cerita di blog kakak, mengalir gitu dan berasa terjun langsung kedunia imajinasi hehe Jadi pengen kuliah s2 di belanda. Semogaa aamiinn

    ReplyDelete
  5. Subhanallah. saya suka banget setiap cerita di blog kakak, mengalir gitu dan berasa terjun langsung kedunia imajinasi hehe Jadi pengen kuliah s2 di belanda. Semogaa aamiinn

    ReplyDelete

Post a Comment