February 11, 2018

Reproduction of Happiness #76: Muse

Meskipun saya belum nonton Dilan, saya bisa relate perasaan orang - orang yang posting betapa bahagia, berbunga - bunga, kesemsem, senyam - senyum sendiri setelah menontonnya. Terlebih lagi mereka yang sampai jadi fans dadakan Iqbal yang kayanya enggak kalah keren dari karakter yang dia mainkan di film tersebut. Karena saat ini saya pun sedang merasakan semua perasaan tersebut dengan seorang aktor yang awalnya bermula dari salah satu karakternya di sebuah drama. Padahal saya ini termasuk orang yang jaraaang banget punya idola yang bikin saya terus kepikiran tiap hari, hingga saya rela menghabiskan waktu saya berhari - hari buat bikin tulisan yang super panjang tentang seseorang yang udah pasti enggak akan baca tulisan saya ini. Seperti ada sisi lain dari diri saya yang ngeceng - cengin saya sambil ketawa cekikikan dan bilang "Makanyaaa, jangan suka ngebatin. Sekarang kena karmanya kan!". Yaa begitulah, seperti biasa, karma selalu datang untuk memberikan saya jawaban akan pertanyaan - pertanyaan tertentu yang sempat atau beberapa kali terbersit di pikiran saya karena saya gagal memahaminya. Tapi seenggaknya kali ini karma yang datang bukan bikin saya nangis tapi justru senyam - senyum sendiri tiap hari. Terima kasih semesta, karma kali ini berhasil membuat hidupku lebih berwarna :'))

Jadi ceritanya sebelum ini, setiap kali liat orang yang bisa segitunya ngefans sama idola mereka tuh saya enggak bisa memahami perasaan dan pemikiran mereka. Seperti di luar logika saya aja. Enggak usah jauh - jauh, contohnya ada di depan mata saya sendiri kok :)) Adik perempuan saya yang memang kayanya udah dilahirkan sebagai fangirl (saking dari dulu selalu adaaa aja orang yang dia idolakan) sampai pernah bikin saya kesel banget sama seorang penyanyi karena melihat kelakuan adik saya yang menurut saya berlebihan banget mengidolakannya. Bayangin aja dong, sewaktu masih tinggal bareng sama adik saya, hampir tiap hari selalu adaaa aja topik baru yang dia ceritakan tentang penyanyi tersebut ke saya. Kaya enggak pernah abis gitu bahan pembicaraannya kalo udah ngebahas idolanya. Belum lagi melihat effort dia yang segitu besarnya. Salah satu contoh "kecil" adalah adik saya yang suka banget jajan ini pernah dong bikin dia rela enggak jajan dan memangkas pengeluaran dia lainnya selama berbulan - bulan demi bisa datang ke hampir setiap acara yang ada idolanya. Disitulah kadang saya mempertanyakan kok bisa ya para fans seperti adik saya itu bisa sampe segitunya suka sama seseorang atau beberapa orang yang sebenernya enggak mereka kenal secara langsung. Maksudnya beneran SAMPE SEGITUNYA, yang bisa menyisihkan banyak waktu, tenaga, pikiran dan juga bahkan uang, demi bertemu dengan idola mereka; baik secara langsung maupun sebatas di dunia maya. Dan seperti yang bisa kalian liat sendiri, akhirnya sekarang saya sudah menemukan jawabannya. Lebih tepatnya merasakan langsung jawabannya. HA.

Image source: GQ Korea

Terakhir kali saya mengidolakan seseorang, yang sampai menghabiskan waktu hampir tiap hari buat cari informasi tentang idola saya dan untuk terus update kehidupan mereka, kayanya waktu saya SMA deh. Lebih tepatnya ketika saya masih segitunya ngefans sama Olsen Twins. Tapi begitu mereka perlahan - lahan mulai menghilang dari media dan sulit sekali untuk cari informasi tentang kehidupan terbaru mereka, saya pun mulai berhenti kepoin mereka. Semenjak itu hingga "baru - baru ini" saya belum pernah lagi kagum dengan seseorang yang saya lihat hanya dari layar laptop atau media sosial mereka hingga bikin saya rela menghabiskan banyak waktu saya hanya untuk ngepoin mereka. Meskipun saya punya beberapa idola, hanya sesekali aja ngepoin mereka dan enggak pernah sampai yang bikin saya jadi terus menerus kepikiran gitu. Bahkan biasanya kalo saya segitunya kepincut sama aktor dan/atau aktris dari sebuah film atau drama, paling cuma bertahan hingga enggak lebih dari dua minggu. Dan setelah sekian lama hingga saya lupa bahwa ternyata masih ada loh sisi saya yang seperti ini, baru pertama kalinya saya kembali geleng - geleng kepala sendiri karena waktu saya habis terbuang dan mudah banget terdistraksi karena seseorang yang belum lama saya kenal dan itu pun cuma liat dari layar laptop! DUH.

Dari yang awalnya cuma kepoin akun Instagram dia sampe ke postingan pertamanya, masih wajarlah. Terus kepoin di Youtube semua BTS drama terbaru dia yang baru saya tonton dan abis itu cari video - video lainnya tentang dia. Hmm, masih oke jugalah. Coba nonton beberapa film dia yang lain dan juga salah satu episode Running Man yang ada dia-nya. Yaa masih dimaklumi lah. Tapi sampe ngelike Facebook Page, log-in ke Twitter yang sampe mesti reset password karena udah saking lamanya enggak buka demi kepoin doi yang memang masih aktif ngetweet (padahal kebanyakan tweetnya juga enggak paham karena dalam Korean), hingga yang udah di luar akal adalah sampai join di international fanbase dia. Wedew, kayanya sekarang "level fangirling" saya udah sama level dengan adik saya nih. Haha! Enggak cuma itu, sampai sekarang saya juga menghabiskan cukup banyak waktu saya buat baca kehidupan dia sebelum saya mengenalnya *asek* dari website si international fanbase tersebut. Lalu sekarang saya menulis panjang lebar di blog saya hanya untuk menuangkan kekaguman saya terhadap seorang aktor Korea yang bernama Uhm Hong-Sick atau lebih dikenal dengan Yoo Ah-In, who I've been fangirling over for almost a month now! Oke, baru tiga minggu sih. Jadi mungkin masih wajar kalo saya masih head over heels for him. Kita lihatlah yaa sampai kapan ini berlanjut. Apakah hanya kekaguman sesaat atau memang jadi idola baru saya yang bisa menggantikan Olsen Twins? Bisa jadi yang kedua sih... secara gitu yaa sekarang saya udah berangan - angan buat ke Seoul supaya bisa ke Studio Concrete dan nongkrong disana. Karena denger - denger disanalah kesempatan terbesar buat bisa ketemu langsung dengan yang punya art gallery tersebut :))

A Memorable Character

Image source: yooahinsikseekland.wordpress.com

Pertama kali saya tau Yoo Ah-In adalah saat nonton Chicago Typewriter, yang saya tonton sekitar tiga minggu lalu. Disitu dia memainkan dua karakter yang bertolak belakang banget. Karakter dia yang pertama, Han Se Joo, sebenernya karakter yang sempet bikin saya ilfil dan bisa dipastikan kalo dia cuma memainkan satu karakter itu, saya enggak akan suka sama dia. Bukan cuma karena disitu dia annoying, tapi juga secara fisik bagi saya biasa aja. Malah bukan tipe cowok yang bisa bikin saya kesemsem karena model rambutnya yang cepak dan outfitnya yang sering banget bikin dia keliatan jadi fashion victim. Cuma diantara itu semua yang paling bikin saya pengen geplak dia berkali - kali sih sebenernya mimik dan pembawaan dia yang songong bin annoying.

TAPI, di karakter dia yang kedua, Seo Hwi Young, itulah yang bikin saya klepek - klepek dan salah satu alasan kenapa saya semangat nonton Chicago Typewriter sampai akhir. Bahkan sampai sekarang, masih sering aja pas lagi capek kerja atau enggak mood ngapa - ngapain, satu hal yang pasti bikin hepi adalah ngulang scene yang ada si Seo Hwi Young itu berkali - kali. Mulai dari penampilannya yang mencapai tahap kesempurnaan paling haqiqi, mulai dari potongan rambut, kacamata, outfit ala 'Great Gatsby'. Perlu dikasih awards nih buat semua pihak yang bisa transform Ah-In jadi Seo Hwi Young. Tapi yang paling bikin saya sampe ke tahap "bang, ade udah siap nikah kok" adalah pembawaan si karakter tersebut yang bukan hanya cerdas, thoughtful, misterius, kalem, karismatik, idealis tapi juga sesekali usil-belagu-ngeselin gemes gitu. Dan hal lain yang paling bikin karakter ini ngena di hati saya adalah the way he showed his love ke orang - orang yang dia sayang, baik sahabatnya maupun wanita yang dia sayang. Saya masih sulit menuangkannya ke kata - kata, tapi yang jelas jarang banget saya temukan di kebanyakan film, apalagi drama Korea. Kayanya ini pertama kalinya saya segitu sukanya sama seorang karakter sampai berkali - kali ngulang video, ngeliatin gif, sampai ngesave di laptop saya. Duh, lama - lama hayati bisa kena serangan jantung deh nih bang Seo :"))

Image source: yooahinsikseekland.wordpress.com

Dan selama saya menonton 16 episode Chicago Typewriter, hanya dalam beberapa scene saya bisa menyadari bahwa kedua karakter tersebut diperankan oleh orang yang sama. Padahal di film itu sendiri, sebenarnya mereka itu dimainkan satu orang yang sama walaupun memang sebenarnya di film itu si karakter pertama semacam reinkarnasinya si karakter kedua. Tapi nyatanya, saya baru bisa menemukan kemiripan antara karakter pertama dan kedua hanya setelah beberapa kali mengulang scene tertentu. Banyak yang berpendapat bahwa perbedaan itu terutama disebabkan karena style kedua karakter tersebut yang dibuat sangat berbeda. Saya setuju, cuma bagi saya yang paling membuat saya merasa bahwa kedua karakter tersebut berbeda adalah mimik dan tatapan mata Ah-In yang berbeda ketika memainkan Han Se Joo yang super ngeselin dan ekspresif dengan Seo Hwi Young yang kalem dan misterius. Jadi bukan hanya sekedar outfit, hairstyle, gesture, dan pembawaan secara general; tapi justru yang paling susah adalah bagaimana enggak mengeluarkan mimik dan tatapan mata yang sama ketika memainkan masing - masing karakter. Disitu saya mulai mikir, "Wuih, boleh juga nih orang bisa megang dua karakter tapi bagi saya sesusah itu buat menganggap bahwa dua karakter tersebut dimainkan satu orang yang sama". Ternyata oh ternyata, setelah kepoin Ah-In lebih jauh, barulah saya memahami bahwa bukan saya doang yang memiliki pemikiran yang sama. Karena ternyata si abang satu ini memang udah dikenal sebagai one of the Korea's best actors.

An Open Minded Artist

Image source: yooahinsikseekland.wordpress.com

Jadi saya punya kebiasaan kalo udah suka sama karakter di film yang saya tonton dan segitu sukanya, saya pasti langsung kepo kehidupan aktor aslinya dari media sosial mereka. Karena sama kaya kebanyakan orang pada umumnya, media sosial meskipun enggak selalu bisa jadi tolak ukur seseorang, tapi seenggaknya ada sesuatu hal baru yang bisa kita ketahui dari seseorang dari media sosialnya. Nah tapi kebanyakan, terutama aktor Korea, lumayan sering bikin saya ilfil setelah kepoin Instagram mereka. Bukannya apa - apa, saya memang pribadi punya pendapat tersendiri soal orang yang suka selfie maupun posting terlalu banyak foto diri mereka, baik perempuan maupun laki - laki. Dan kayanya salah satu hal yang justru disukain dan cukup menjadi tuntutan para seleb Korea dari para fans mereka adalah memajang selfie atau foto diri mereka. Di luar ekspektasi saya yang udah sempat menduga dia juga tipikal artis Korea pada umumnya, ternyata begitu liat akunnya, saya langsung tau bahwa he is the extraordinary one. Ketimbang menemukan banyak foto diri dia, justru yang saya liat adalah foto - foto yang bikin bingung sekaligus nampak penuh arti dengan caption yang kadang juga semakin bikin bingung (entah karena dalam Korean atau memang terlalu sulit untuk dimengerti makna dibalik caption tersebut). Cuma berhubung ku ini keseringan tertarik dengan orang - orang yang sulit ditebak, maka ketimbang ilfil, ku justru semakin penasaran dengan sosok asli Yoo Ah-In 

Image source: Yoo Ah-In's Instagram

Dan ternyata enggak heran sih dia mengingatkan saya sedikit dengan teman - teman saya dari jurusan seni rupa dan desain, karena dia ternyata sangat into art sampai bikin sebuah art gallery bernama Studio Concrete. Lewat art gallery ini, Ah-In dan beberapa temannya bukan cuma mendukung budding artists dengan menyediakan creative space, tapi juga mereka mendesain produk mereka sendiri salah satunya yang paling terkenal adalah 1TO10 Series T-Shirt. Selain film dan art, ternyata Ah-In juga punya unique taste in music dilihat dari referensi lagu dan penyanyi yang dia posting di Instagram dan yang dikumpulkan oleh para fans-nya dari berbagai referensi. Mulai dari David Bowie sampai penyanyi Korean dan French yang enggak saya kenal; dengan berbagai genre dari jazz hingga electro. Dan ternyata setelah menyelidiki lebih lanjut, dia juga sosok yang menghargai tulisan sebagai sebuah karya yang sama pentingnya dengan film dan seni. Ini bisa dilihat dari beberapa tulisan yang dia quote dari penulis favorit dia yang juga diposting di akun Instagramnya. Intinya, apa yang dia posting di Instagram membuat saya semakin penasaran dengan sosok Yoo Ah-In karena bagi saya keliatan jelaslah dia bukan tipe aktor yang mengikuti tuntutan dunia selebriti. 

An Extraordinary Actor

Image source: Sikseekers

Kebiasaan saya yang kedua adalah coba menonton film lain yang dia perankan. Apalagi begitu tau kalo dia udah banyak memenangkan awards sebagai best actor, ya semakin tertariklah saya untuk melihat akting dia. Meski sebenernya saya udah ngeliat bakat dia ini di Chicago Typewriter, sekalianlah pengen liat muka Ah-In sebelum Han Se Joo dan Seo Hwi Young tuh kaya apa sih. Daaaan, sejauh ini saya udah nonton tiga film dia: Punch, Veteran dan Likes for Likes; saya bisa bilang enggak ada satu pun karakter yang saya bisa relate satu sama lain. Tapi yang paling bikin saya kagum selain akting dia sebagai Seo Hwi Young, adalah peran dia di Veteran. Wah, ini saya sampe enggak sanggup lanjutin filmnya loh setelah 30 menit nonton hanya karena aktingnya yang memang bisa bikin sampe saya lupa dengan karakter dia lainnya karena melihat Jo Tae-Oh yang segitu jahatnya dan seribu kali jauh lebih ngeselin dari Han Se Joo. Nah dengan penampilannya yang juga mirip dengan beberapa penampilan Ah-In aslinya (potongan rambutnya Jo Tae-Oh sempat dipake juga sama Ah-In ketika datang ke beberapa event), saya jadi semakin melihat mereka satu orang yang sama di film tersebut. Dan rasanya sedih aja ngeliat orang yang awalnya saya suka banget dan kagumi tiba - tiba jadi berbalik jahat dan bisa saya benci. Disini sekaligus jadi titik dimana saya kekaguman saya dengan Yoo Ah-In udah lepas dari bayang - bayang Seo Hwi Young karena saya suka dengan Yoo Ah-In sebagai diri dia dan bukan karakternya. Lalu dua kalimat terakhir ini kenapa jadi kaya ngungkapin perasaaan ke gebetan ya ketimbang ke idola :)) . OH IYA, satu hal lain yang juga bikin saya wow adalah begitu tau dia jadi main character di sebuah  upcoming movie "Burning", yang diangkat dari Haruki Murakami's short story yang berjudul "Barn Burning"! Duh, pokoknya semakin saya tau banyak hal tentang Ah-In, semakin bikin saya senang karena tampaknya kali ini saya bisa mengidolakan seseorang yang hidup di dunia nyata ketimbang hanya karakter fiksi.

A Thoughtful Person

Image source: GQ Korea

Seiring berjalannya waktu dan semakin banyaknya informasi yang saya dapatkan tentang Ah-In, semakin saya kagum karena sisi lain dari dia. Jadi ibaratnya yang tadinya kepincut hanya dari karakter di sebuah drama, lalu mengaguminya sebagai seorang public figure dengan segala talenta kehipsteran dan kehebatannya, sekarang saya kagum karena melihat dia sebagai seorang manusia biasa yang enggak sempurna. Salah satunya adalah kontroversi Ah-In dengan Megalia, sebuah radical feminist community di Korea, hanya karena sebuah tweets enggak penting dari ghost account. Begitu baca kontroversi ini menyadarkan saya bahwa orang - orang judgemental yang suka membesarkan hal kecil jadi masalah yang besar itu ternyata enggak hanya happening di Indonesia aja ya. Ha! Anyway, setelah itu banyak yang menyayangkan reaksi Ah-In yang menanggapi komen para haters dia. Awalnya saya juga begitu, merasa kaya kok si abang ternyata mudah senggol bacok gitu orangnya ya. Tapi akhirnya saya paham bahwa sebenernya dia melakukan itu bukan karena terpancing emosi semata, tapi karena dia seseorang yang tau kapan saatnya dia harus fight back untuk meluruskan hal - hal tertentu, terutama yang menyangkut perspektif banyak orang. Dalam kasus ini keliatan jelas dua hal, even bagi saya yang enggak gitu paham - paham amat soal feminism, bahwa orang - orang tersebut memanfaatkan feminism sebagai topik untuk menyerang Ah-In atau orang - orang tersebut memang udah menyalahartikan definisi dan konsep feminism. Disini Ah-In mengeluarkan pemikiran dan argumen dia tentang arti sebuah feminism dengan straightforward tapi cerdas dan bukan cuma asal ngomong. Dan ini membuat saya kagum banget karena enggak banyak orang terutama public figure yang mau mengambil resiko seperti itu, yang mau memperjuangkan hal - hal tertentu sekalipun dia harus menunjukkan sisi lain dia yang bikin enggak sedikit orang jadi bisa berbalik membenci dia.

Di titik itulah yang bikin saya melihat sisi lain dirinya sebagai seorang manusia yang punya komitmen tinggi untuk tetap jadi diri dia sendiri dan enggak takut buat menunjukkan bahwa there's something interesting about his personality. Padahal bagi saya sekalipun yang cuma orang biasa, dan saya yakin banyak orang juga yang seperti ini, rasanya masih susah banget buat menunjukkan sisi lain yang enggak mau saya tunjukkan karena takut enggak bisa diterima oleh orang lain. Selain itu dia juga enggak takut untuk memperlihatkan sisi vulnerable dia dengan berbagai tulisan yang dia share di media sosial dan wawancara dengan berbagai media salah satunya yang paling saya suka adalah wawancara-nya dengan GQ Korea. Biasanya di tengah - tengah saya mengidolakan seseorang, yang paling lama jadi idola saya adalah pasti orang - orang yang thoughtful. And from what he has shown to the public, Ah-In is absolutely one of them. Wuih, ini berasa saya udah kenal dia puluhan tahun aja ya padahal belum juga sebulan :))

Image source: GQ Korea

Semenjak membaca tentang opininya terkait kontroversi dengan Megalia dan berbagai kritik dari beberapa pihak yang ditujukan buat dirinya setelah itu, saya jadi banyak membaca tulisan Yoo Ah-In, baik pemikiran luas dia yang berhubungan dengan isu - isu sosial terutama feminism, human rights dan media maupun tulisannya tentang his philosophy and perspective on life. Salah satu tulisan favorit yang bikin saya semakin kagum dengan Ah-In dan juga bukti betapa thoughtful-nya dia, adalah tulisan yang dia buat di Facebook-nya, yang berjudul "The Cries of My Generation". Dan ini beberapa part yang paling mengena di saya:
My uncomfortable cry is a resistance against this inconvenient world/society and my weakness. I am not against this world, but against myself kneeling down [against my submission] to this world. Everyone puts on the same mask like a safety helmet and thinks in the same way, with the same facial expression, in the same clothes, speaks in the same manner, and behaves like others, pursuing the same boring world. I wish to stir such the same boring society. I have a confidence that while I’m subjected to all the blames [while I’m accepting/bearing all the blames], I believe that such alternative existence or action with sincerity could change the world.  
I do not wish for comfort, recognition and understanding. I’m willing to strike through the border of the mysterious/uncharted world of untouchable landmines, endure the painful risk of stumbling from the persistent pursuit of the strangers [witch-hunters] rather than feeling secured living happily in slavery. 
The bratty kid who defends himself with his noisy voice is dead. I’m no longer opposed to the general public as the object of the struggle, instead I want to join hand with substantial people in the same spirit [comrades] and wish to go together to find a new world. I will express myself through my performance/acting skills, through my essays/writings, through the “celebrity disease” that I’ve developed as an entertainer at my age, the tax that I should pay, the little bit of popularity that I carry, and through my pitiful desire to become the center of attention. And in all the way I can I will console/comfort, communicate and unite with the outside world. So, I’m shouting to the world. 
Please, don’t ask “how dare you?/what are you?”, but rather “how are you/how do you do?”. We are living in this era of absurdity that left us “dumbfounded”. Rather than putting up the sticky make-up creepy photoshopped selfie of a hard-edged stubborn man, I prefer myself having a flexible and innocent heart of an eight grade student. I believe the social media (SNS) works to correspond my opinion better than keeping the easy but inconvenient silence, appearing superficially and attacking people. So, which one is a waste of life? 
And this is the main reason why I have a strong feeling that this big admiration towards him is more than just a momentary fangirling thingy. Because thoughtful people are always my favourite kind of people... but those, who are also able to convey their beautiful thoughts into beautiful pieces of writing, they undoubtedly become my muse. At this point, I can clearly see that Yoo Ah-In belongs to the latter one. 



"It’s okay if all my dreams don’t come true by the time I’m twenty-five; thirty-five is fine, and forty-five is, too. And I thought it was much better to protect myself and proceed slowly than to lose myself in the effort to shorten that time."

Yoo Ah-In

6 comments:

  1. Yoo ah in waktu meranin Seo Hwi young itu emang bikin klepek-klepek! Baru tahu lho kalo dia extraordinary orangnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa kaaan ga kukuh liat Seo Hwi Young :') aku pun enggak nyangka ternyata aslinya Yoo Ah In sangat menarik orangnya :')

      Delete
  2. What's up friends, its fantastic post concerning cultureand entirely defined, keep it up
    all the time.

    ReplyDelete
  3. Kak... tolong respon emailku penting

    ReplyDelete
  4. Welcome to the fangirls' world, mbak Nazu! \^0^/ LOL, saya yang udah tujuh tahun lebih mantengin drama korea dan boygrup-boygrupnya ini berarti senior mbak Nazu. *lah

    ReplyDelete
  5. Wah, baru baca. Mirip saat aku ngidolain nicholas saputra :))

    ReplyDelete