July 29, 2014

An Unforgettable Trip To Bromo

Perasaan saya aja atau memang semakin tahun semakin banyak aja orang yang ke Bromo yaa? Rasanya selalu ada dua sisi diri saya yang bertentangan setiap melihat postingan foto entah teman saya, saudara saya maupun orang lain saat mereka kesana. Di satu sisi saya merasa malas karena it's overrated dan kebayang pasti banyak banget turis disana! Sedangkan di sisi lain, saya penasaran dengan keindahan Bromo saat ini (secara gitu yaa sekali-kalinya saya kesana saat saya masih kecil huhu). Tapi karena sudah membulatkan tekad untuk pergi kesana tahun ini dan ditambah ada beberapa teman saya yang setuju mau pergi juga kesana, akhirnya bulan lalu saya kembali melihat keindahan gunung ini. Namun kali ini dengan sepasang mata yang lebih menghargai keindahannya dibandingkan mata seorang anak kecil berusia sepuluh tahun yang sebenarnya lebih memilih untuk melanjutkan tidur daripada melihat hasil karya-Nya yang memiliki keindahan tanpa batas waktu dan ruang.

Di postingan ini saya enggak akan banyak membahas tentang Bromo karena saya yakin sebagian besar yang membaca ini pasti udah pernah kesana dan kalaupun belum kesana setidaknya udah menjadi rahasia umum apa aja yang ada disana. Kali ini saya akan bercerita tentang "keseruan" perjalanan saya menuju Bromo. Walaupun mungkin enggak penting bagi kalian, tapi bagi saya ada banyak hal yang rasanya terlalu sayang untuk dilupakan begitu aja *siiik*. Tetapi seriusan deh, ini semacam trip yang enggak terlupakan tapi enggak mau diulangi lagi! haha.


Jadi ceritanya dari awal merencanakan trip ini, saya dan beberapa teman saya yang lain mau pergi bersama - sama dari Jakarta untuk menonton Jazz Gunung. Ternyata pas mendekati hari H, saya dan salah satu teman saya enggak bisa ikut menonton karena kami ada urusan pekerjaan yang berbeda tetapi masalahnya sama, yaitu di hari teman - teman saya yang lainnya pergi ke Surabaya, saya dan teman saya ini masih di luar kota karena urusan pekerjaan masing - masing. Akhirnya kami memutuskan untuk menyusul aja, namun kami mengambil ke Malang karena lebih dekat dari tempat kami. Setelah mempertimbangkan berbagai hal, akhirnya kami setuju untuk menggunakan motor sewa dari Malang dan mengambil rute Malang - Bromo dibandingkan rute Probolinggo yang biasa dilewati oleh kebanyakan orang yang mau ke Bromo. Alasannya adalah 1. lebih mudah, 2. lebih hemat, 3. karena rute Malang - Bromo lebih dekat dibandingkan Probolinggo - Bromo dari posisi kami saat itu. Namun entah kami yang terlalu cuek, terlalu berani, terlalu berjiwa risk taker dan adventurer (kayanya sih kalau yang ini bukan alasannya hehe), terlalu menggampangkan atau bahkan terlalu bodoh, kami masih santai - santai aja di Malang hingga sekitar pukul tujuh malam baru berangkat dari Malang Kota dengan berbekal smartphone dan Google Maps aja! Padahal kenyataannya adalah 1. teman saya baru pertama kali ke Bromo, 2. saya ke Bromo saat tiga belas tahun yang lalu yang mana enggak tau apa - apa, 3. Malang - Bromo adalah rute yang jarang dilewati, 4. kami enggak tau bagaimana kondisi jalan yang akan kami lewati nanti, 5. anak SD pun tau kaliiii yang namanya keluar malam hari itu berbahaya apalagi di tempat yang asing! 




Setelah Google Maps mulai mengarahkan kami ke sebuah gang kecil, suasana hiruk pikuk dan kemacetan kota pun 180 derajat berubah menjadi suasana pedesaan yang sangat sunyi. Cahaya terang benderang yang berasal dari lampu jalanan, bangunan serta mobil - mobil yang ada di jalanan pun  berubah menjadi cahaya seadanya yang hanya berasal dari lampu rumah penduduk setempat. Semakin menjauhi pusat kota, semakin sedikit kehidupan yang terlihat. Hampir tidak ada pula kendaraan yang lalu lalang di jalanan kecil yang kami lalui. Sebaliknya, semakin banyak pepohonan dan lahan kosong yang ada di sekitar kami. Akhirnya setelah setengah jam lebih, kami memutuskan untuk bertanya ke penduduk lokal yang ada. "Walah, jalanan ini susah nyampe ke Bromo karena nantinya hanya ada hutan dan rawa. Rawan dek. Lebih baik cari jalan lain". Karena masih enggak percaya (tepatnya sih karena sayang udah terlanjur jalan jauh sekaligus takut mendengar bahwa memang jalan kami salah heee), akhirnya kami tetap melanjutkan perjalanan sampai kami menemukan penduduk lokal lainnya. Daaan, jawabannya kurang lebih sama dan merujuk ke sebuah inti bahwa jalan yang kami lalui ini terlalu rawan! 





Satu hal yang paling disyukuri saat situasi mulai menegang adalah bahwa kami (ternyata) enggak membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan jalur yang benar untuk membawa kami ke Bromo. Tapi berita buruknya adalah saat itu jam sudah menunjukkan pukul sembilan dan perkiraan waktu tempuh untuk sampai kesana adalah sekitar tiga sampai empat jam! Di sisi lain, udah enggak memungkinkan buat menunda perjalanan kami hingga besok pagi. Akhirnya dengan modal nekat dan berdoa, kami lanjutkan perjalanan kami fufufu.  

Udara malam yang semakin menusuk terutama ketika semakin mendekati daerah pegunungan, beberapa kali melewati jalan tanpa lampu jalan dan hanya ada pepohonan di sepanjang kiri dan kanan jalan, atau melewati desa yang terlihat tanpa penduduk, terkadang cukup menciutkan nyali saya. Tetapi enggak ada yang lebih membuat jantung saya mau copot dibandingkan ketika teman saya menyadari bahwa ban belakang motor kami kempes, sedangkan perjalanan kami masih jauh!! Beberapa kali kami melewati desa, tetapi enggak ada satupun bengkel atau penambal ban yang masih buka saat itu. Ditambah pula dengan jalanannya yang kadang enggak bagus dan berbatu serta menanjak, semakin membuat kami deg - degan enggak karuan! Entah keberuntungan memang masih di sisi kami atau Tuhan terlalu sayang dengan kami, setelah pantang menyerah terus berjalan, akhirnya kami sampai di suatu desa dimana ada penduduk lokal yang mau "mengantarkan" kami ke penginapan teman - teman kami, dengan satu motor mereka dan menggunakan satu motor sewaan kami. Namun karena saya dan teman saya waspada (yaa secara kami enggak tau apakah mereka baik atau enggak, dan kalau kami pisah motor takutnya kami diculik atau ada hal - hal enggak enak lainnya), akhirnya kami memutuskan untuk satu motor bertiga! Nah itu juga perjuangan sih secara sempit - sempitan di motor dengan menghadapi kondisi jalanan yang "naik - turun". Akhirnya setelah sekitar dua puluh menit, kami tiba di penginapan dan dengan aman bergabung kembali dengan teman - teman kami lainnya. And that's the end of our unforgettable night trip! OH IYA, pesan dari cerita saya ini adalah kalau mau mengambil rute Malang - Bromo ini sebaiknya (dan seharusnya) dilakukan pada pagi atau siang hari, serta jangan pernah menganggap enteng sebuah trip apapun dan kemanapun itu!!




4 comments:

  1. hallo kak ozu minal aidzin walfaidzin mohon maaf lahir batin hehe, wah aku juga pernah naik motor dan selalu dari malang (iyalah rumah saya di malang ngapain muter dulu ke probolinggo).

    kalo malem emang gelap total dan serem kak, sodara-sodara saya aja sering ketemu yang halus halus (halah) kalo brgkt malam, dan mereka suka menggoda. saya brgkt malam naik mobil pernahnya.

    kalo naik motor berangkat abis subuh dari rumah jadi pas jalan rawan-rawannya udah agak pagian paling nggak udah ada cahaya :D

    tapi kak ozu beruntung juga dapet pengalaman super seru! Btw foto-fotonya bagus sekaliiiii :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gheaa, minal aidin wal faidzin juga yaa :)

      eh iya ya kamu kan dari malang ya pasti sering ke bromo lewatin rute inii. parah sihh kalo aku jadi sodara kamu, ga tau lagi deh naik motor malem2, udah gitu ngeliat yang begituan! *untungnya aku sm temenku ga ada yang ngeliat aneh2 huhu*

      okaay, well noted ghe, yang pasti kesana harus udah ada matahari yaa! tapi kayanya aku cukup sekali ini aja deh ke bromo naik motor hahaha.

      makasii gheaaa. sering2 ngeblog dongg X)

      Delete
  2. OZU KAMU SUDAH GILA...!!! :((( SEREM banget tau gaaa....kalo ada apa2 gimana??!!! *langsung jiwa ibu2x kumat*

    ITU temen kamu laki atau perempuan? Lain kali jangan gegabah ya...! Sungguh bacanya aja sampe deg2an x))))

    ReplyDelete
    Replies
    1. HEHEHEHHEE X))) emang uunn, serem banget! aku juga ga nyangka bisa seberani (baca: sebodoh) itu! huhuhu. engga gitu lagi deehh.

      laki - laki sih uun untungnya, jadi kalo ada apa2 ada yang bisa ngelindungin duluan haha *padahal mah kalo udah kaya gitu kondisinya udah ga peduli laki2 perempuan* :p

      Delete