August 08, 2016

Florence, 1 Mei 2016.

Pertama kali melihat foto - foto Florence saat membuat itinerary, satu hal yang paling menarik perhatian saya adalah Ponte Vecchio, sebuah jembatan tua yang dari luarnya terlihat unik dengan berbagai jendela warna - warni yang menghiasi hampir sepanjang jembatan tersebut. Bagi saya jembatan ini menarik karena saat itu saya baru menyadari bahwa replika jembatan ini yang pernah saya lihat langsung ketika mengunjungi Tokyo DisneySea setahun yang lalu, ternyata sama persis dengan aslinya. Hanya satu hal yang membedakan antara Ponte Vecchio asli dengan versi replikanya, yaitu keberadaan para pedagang yang menjual berbagai macam jenis barang dagangan mulai dari perhiasan, lukisan, souvenir, hingga berbagai produk fashion yang terbuat dari kulit. Ya, para pedagang ini lah yang membuat versi aslinya terasa lebih hidup daripada yang saya temui di Tokyo DisneySea.  







Tujuan pertama kami sesampainya di Florence adalah mengunjungi Uffizi Gallery yang saat itu tanpa sepengetahuan kami ternyata tutup. Padahal sebelumnya saya udah kesenangan saat membaca informasi di website mereka yang menyatakan bahwa para pengunjung bisa mengunjungi galeri ini secara gratis pada setiap hari Minggu pertama di setiap bulannya. Akhirnya dengan sedikit merasa kecewa, perjalanan dilanjutkan dengan mengelilingi tourist spots, lalu makan siang di Mercato Centrale. Sebuah pasar tradisional yang baru direnovasi menjadi pasar modern dan kali ini terlihat lebih mirip food court di kebanyakan mal di Jakarta. Setelah itu tujuan berikutnya adalah berburu 'kulit' di Porcellino Market. Berhubung Florence memang terkenal dengan produksi leather goods-nya, lumayan banget saya dapat dompet kulit hanya dengan harga 20! :') Dengan sisa waktu yang kami miliki sambil menunggu sunset, yaitu sekitar satu jam, saya putuskan untuk menikmati sore hari sendirian dengan mengeksplore bagian kota yang belum sempat dikunjungi. Dan akhirnya hari kami ditutup dengan mengabadikan pemandangan Florence sebelum matahari terbenam. Saat itu, ketika melihat keindahan kota ini, sempat membuat saya berhenti bernafas sesaat. Terlalu takjub dengan apa yang terlihat dari kedua mata saya saat itu.






Ada satu hal yang saya sadari ketika mengunjungi Florence. Setelah beberapa kali berkunjung ke kota yang berbeda, saya akhirnya memahami bahwa enggak setiap kota yang berhasil memikat hati saya dan jutaan pengunjung lainnya adalah kota yang ingin saya jadikan sebagai tempat tinggal. Dan Florence adalah salah satu dari kota di Eropa yang termasuk ke dalam daftar tersebut selain Barcelona, Praha, dan Budapest. Bagi saya meskipun berbagai kota tersebut undoubtedly one of the best destinations I've ever visited, mereka hanya cocok sebagai tempat untuk melepas penat dalam beberapa hari. Tapi jika dijadikan sebagai tempat untuk kuliah atau kerja, rasanya saya akan merasa bosan untuk tinggal di kota - kota tersebut. Walaupun harus saya akui sih, berkunjung ke Florence hanya dalam waktu setengah hari adalah suatu hal yang kurang tepat. Sekilas, kota ini memang terlihat kecil. Namun sebenarnya, untuk memahami apa yang dimiliki kota yang sering dipuji - puji dengan gelarnya sebagai one of the world's true cultural, artistic, and architectural gems, mulai dari Michelangelo, da Vinci, Gucci, Roberto Cavalli, hingga Galileo; tentunya membutuhkan waktu yang lebih lama dari itu.








2 comments:

  1. Fotonya selaluuu deh. Thanks udah bikin aku seolah ikut ke Florence haha. Kalau belum bisa ke sana sendiri, yaudah lewat foto dan tulisan dulu :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasihhh Erny! kamu juga selaluuu baik :')

      Delete