April 24, 2017

Prague : The (Not So) Fairytale City

Bagi kebanyakan orang, Praha termasuk salah satu kota favorit mereka di Eropa. Kecantikan dan suasana romantis yang dimiliki kota ini bahkan sering disamakan dan dianggap mampu menyaingi Paris. Beberapa menyebutnya sebagai 'The Fairytale City' karena suasananya yang juga magical, membuat siapapun yang mengunjungi Praha seperti sedang berada di sebuah negeri dongeng. Saya enggak menyangkal. Beberapa sudut kota ini memang terasa seperti dipenuhi fairy magic dust. Namun dari pengalaman yang saya lalui selama di kota ini, rasanya julukan negeri dongeng terlalu berlebihan. Bahkan awalnya impresi yang saya dapatkan cukup buruk hingga membuat saya bertanya - tanya mengapa banyak orang terkesan dengan kota ini. Ya, saya mempertanyakannya saat hari pertama tiba di kota ini dari Berlin. Saat itu saya dan Gladyz baru aja tiba di terminal bus. Sekitar kurang dari sepuluh menit kami turun dari bus, mengambil barang - barang kami dari bagas bus, lalu berjalan keluar terminal; tiba - tiba Gladyz panik karena dompetnya hilang. Duh! Baru kali ini saya mengalami langsung kecopetan saat melakukan perjalanan di Eropa. Kami pun sempat panik. Tapi akhirnya setelah menenangkan diri dan mencoba melihat dari sisi positif-nya. Misalnya dengan berpikir bahwa "untung sebelumnya saya enggak jadi ngasih yang tambahan ke Gladyz jadi sisa cash yang ada di dompetnya pun enggak terlalu banyak". Atau dengan berpikir "alhamdulillah, masih bersyukur bahwa bukan dompet saya yang diambil". Ini bukan karena ego saya, tapi memang saat itu perjalanan kami masih panjang dan secara finansial perjalanan ini bergantung pada saya. Yang lebih bersyukurnya lagi, seenggaknya bukan hp adik saya yang diambil... kalo enggak dia pasti udah manyun aja sepanjang perjalanan :))








Hal lainnya yang sempat membuat saya dan Gladyz merasa agak ilfil dengan Praha (pada awalnya) adalah cuaca yang sangat panas dan terik di hari kedatangan kami. Belum lagi kami sempat salah mengambil tram dan baru sadar setelah melewati beberapa stop. Dengan bahasa yang sangat asing bagi kami dan tanpa adanya petunjuk dalam bahasa Inggris, kami pun mencoba bertanya dengan salah satu warga disana. Yang lebih apesnya lagi, orang yang kami tanyakan bukan hanya enggak membantu, tetapi juga berbicara dalam Hungarian dengan nada yang ketus seolah sedang marah. Bzzz. Lalu dengan letak apartemen Airbnb kami yang bukan berada di tengah kota (yang merupakan bagian tercantik kota ini), daerah di sekitar kami cenderung dipenuhi oleh bangunan - bangunan yang modern tapi enggak menarik sama sekali dari penampakan luarnya. Baru deh saat kami mengunjungi bagian Old Town baru menyadari kecantikan Praha, lalu bisa bergumam "Oh, jadi ini yang membuat banyak orang jatuh cinta sama kota ini" :))

Tapi pengalaman yang enggak enak di hari pertama kami datang, masih aja terus berlanjut. Saat kami sedang terpana oleh bangunan - bangunan cantik berwarna pastel dan terus berjalan memasuki gerbang Charles Bridge, tiba - tiba ada aroma kue yang sangaaaaat menggugah selera. Ternyata di dekat kami ada sebuah toko kecil dimana salah satu pegawainya sedang memanggang Trdelnik, atau dikenal sebagai Chimney Cake. Karena saat itu kami juga lagi lapar dan itu adalah pertama kalinya kami melihat kue tersebut (jadi agak norak gitu), akhirnya kami membelinya. Meski saat itu saya curiga kok harganya mahal banget. Tapi ya gapapalah sekali - kali nyoba kue ini kan jarang ditemuin. Eh terus enggak lama kami berjalan memasuki bagian pusat kota, ternyata banyak banget toko yang menjual kue ini... Dan udah bisa ketebaklah yaa, harganya pun setengah harga di toko yang kami temukan sebelumnya! 

Terlepas dari pengalaman enggak enak kami di hari pertama, sebenarnya ada beberapa hal yang menyenangkan dan berkesan bagi saya selama di Praha. Nanti akan saya ceritakan di postingan berikutnya ya! ;)






April 23, 2017

Conversations With Mom #5

Unlike other several conversations we have had, this particular conversation is actually the one that I really want to change. If only I could rewind time to the day when we had that conversation. It was actually very short, and indeed the shortest one, but I personally feel like it holds deeper meaning than any other conversations I had with her. Maybe because of that reason, it takes time for me to publish the conversation here. Most probably because they are more personal than any of our conversations that I have written here, and I wasn't sure if I could properly convey them into words and not feel insecure afterwards. But now after some time, I have never felt this sure to publish it here.


The first thing she did when she arrived at my apartment was unpacking her luggage to take out all the things she brought all the way from Indonesia for me. Then she gave me was this beautiful purple box that was wrapped with glossy white ribbons.

"Ozuuuuu.... this is a birthday present for you", she gave it to me with a wide smile and cheerful tone.

I actually didn't expect any present, not even from her. So I was a bit surprised at that time.  

"Awww.. thank you, Mom", I reflectively hugged her.  It's weird that even though my mom has always given me birthday presents almost every year, only this time I felt awkwardly shy. 
"Come on, open it", she said with excitement

I untied the ribbon and opened the box. Inside was a plaid black-and-white dress. Then there was a grey knitted culotte which lied under it. Two things that are well suited with my type.

"These are so pretty! Thank you Mom", I kissed her on the cheek.

She smiled, but the kind of smile that wasn't entirely happy. Indeed, there was a hint of uneasiness.

"You are welcome... don't be sad anymore, okay? Because whenever you sad, I get sad too"

I smiled and nodded, trying to not feel nor appear overly sentimental, and I also had a feeling that she was attempting to do the same. Otherwise, we would cry together. 

"How do you feel now?" she asked me while I was examining the clothes, whether it fits to my body that had gained more weight.
"I'm fine, Mom...."
"Are you sure? Because you don't seem like it"

 I fold the clothes and put them on a drawer. 

"I think I have told you already a few times before that I would never be like how I used to be.... everything that has been broken won't be the same anymore, Mom.. It also applies to my happiness..."

I knew I shouldn't have told her this statement. Partially because I wasn't sure about the answers, but mainly because at that time my mom had just arrived. And she went all the way to come here just to support me. And I should have had at least made an extra effort to cover my true feelings in front of her. I should have tried to seem happier than I was.  

"That's why I also told you that the reason it all happened is not because I have been in the down period of my PhD... not because I haven't settled yet in here... and not also because I don't have someone to  make me feel complete... it's all about me. There were times when I spent too much time with myself and that's how I started thinking so many things about me and about life itself. I started to blame and underestimate myself. I started to assume that there were some changes within me that will not make me revert to who I used to be... no matter how hard I try"

I didn't know exactly how she responded to all my awful words that came up, but all I remembered was she just kept quiet.

"But at least, I think I'm used to this condition... so now, every time I start to feel anxious and overwhelmed, I always try to use more of my logic and control my mind... because only then I would not exaggerate my feelings"


That was the answer of the me who was still confused about my feelings, who was still unsure about my problems, and who was still recovering from my depression. But two months had passed, and everything has changed, including my life and my perspective towards everything that happened during those seven darker months. I wish my mother would ask me again this time. Even though I'm sure the reason she never asked about my feelings again since the past two months is most probably because she knew already that her daughter is already back to the one she has always known for twenty six years. But only, only if I could turn back the time, I would definitely answer it in a complete different way.

So, by the time she asked me, "How do you feel now?"

I would say,"I've never been better, Mom. I think this time is one of the happiest times in my life... because I finally got all the answers that I kept questioning myself in the past few months"

And maybe she would ask, "What answers?"

"Answers of many things I wasn't certain of, like the reasons why I experienced the worst nightmare in my life... but what is the most relieving answers are to know that there is nothing wrong with me and to disprove my thought that I could never fully recover and be back to the same person I used to be"

And I can imagine she would say, "Of course... I'm the one who told you  so many times that it all happened because you had so many problems that you kept only to yourself... and the effects became so much worse than it should, because at the same time, you kept blaming yourself as one of the main reason of those problems..."

"Yes, you are right, Mom... I'm sorry for being so stubborn"

I can imagine how she would agree with this statement, as I have always been a stubborn person. "Yes, you are very stubborn... I even gave you an article about self-rumination from a well-known psychological journal, but you kept denying it and telling me that I was wrong"

I remembered the first time I finally opened up to my parents about what I had been through and how they analysed me like psychologists (which they are). No long after that day, she told me that I was experiencing what psychologists referred to as 'self-rumination'. Basically, it was the 'wrong way' to cope with problems. People who experience rumination would be too much focused on the negative assumptions of their problems that came from their emotions. They tend to blame themselves too much about those problems, which is actually the opposite act of what they are supposed to do. This could lead to more negative effects, including depression, rather than direct them to solutions. To me, who has passed through those problems, it all makes sense. Indeed, it was exactly what I experienced at the time. But it wasn't so easy for me to be so logical when I was in that position.

"I know... I made everything worse by doing so much self-talk to an extent that I assumed so many possibilities other than those problems, including of how I see myself. But now, when each of those problems has been solved one by one, I can see my condition at that time in a much clearer way... I can safely say that I was just unlucky, and yet it's just an inevitable part of our life when many unfortunate things happened unexpectedly at the same time... But I'm grateful, very grateful, that they didn't kill me, and so it all only made me stronger"

Maybe had I told her directly back then, I can imagine we would both be crying. With big relief in our hearts. 

April 09, 2017

#ROH 65 : Photoshopping

Dari awal saya memiliki blog ini, salah satu hal yang paling sering menjadi pelampiasan saya selain mengeluarkan pikiran dan perasaan melalui tulisan dan foto, adalah berbagi hasil eksperimen dengan menggunakan aplikasi favorit saya sepanjang masa, yaitu Adobe Photoshop. Meskipun sebenarnya enggak bisa dibilang ahli juga karena penggunaan saya cenderung hanya untuk basic editing, namun karena saya udah terbiasa menggunakannya selama kurang lebih dua belas tahun, jadi yaa udah terlalu nyaman untuk pindah ke aplikasi lainnya. Kalau menggunakan hp biasanya saya juga suka mengedit foto dengan VSCO. Tapi berhubung saya enggak tau cara men-download aplikasi VSCO di laptop dan cukup ribet untuk memindahkan file dari hp (android) ke laptop (macbook) saya, jadi kalau untuk blog saya masih hampir selalu menggunakan Adobe Photoshop. Nah, tumben banget dari minggu lalu saya udah kepikiran pengen main - main dengan aplikasi ini selain dari penggunaan saya seperti biasanya. Berhubung saat ini saya lagi centil pengen menampilkan foto ala - ala di blog (heu!) dan kebetulan dua Eurotrip saya terakhir memang cukup banyak foto ala - ala yang masih layak untuk di-upload di blog (ha!), jadi hari ini semangat deh buat ngubek foto lama. Sekalian juga sih karena udah lama enggak menggunakan Photoshop selain hanya untuk mengatur warna dasar foto, akhirnya saya memutuskan untuk mengedit beberapa foto tersebut dengan layout yang agak berbeda dari biasanya. Ini ceritanya sih sekalian melampiaskan keinginan saya untuk kerja di majalah yang belum kesampaian hingga sekarang :))










April 08, 2017

#ROH 64 : Post-crossing

Sejujurnya saling bertukar postcards atau post-crossing bukanlah hal favorit saya. Meskipun saya suka mengumpulkan postcard setiap kali traveling atau setiap kali melihat ada yang postcard yang menarik, biasanya saya mengumpulkannya hanya untuk menjadikannya sebagai pajangan atau pengingat akan tempat tertentu. Saya sih enggak keberatan dan tetap merasa senang kalau ada yang mengirimkan kartu pos ke saya, hanya saja saya seringkali merasa mager untuk mencari kantor pos (apalagi kalau lagi traveling). Selain itu kadang saya juga suka bingung sih apa yang mau ditulis di dalam ruang untuk menulis yang sangat terbatas di dalam sebuah kartu pos. Ujung-ujungnya merasa seperti basa - basi atau malah aneh gitu yang ditulis. Heu! Namun suatu hari saya tiba - tiba aja kepikiran untuk mengirimkan kartu pos secara random. Maksudnya memang tanpa terpikirkan siapa yang ingin saya kirim. Alasannya? Enggak ada... hanya karena ingin aja. Pernah enggak sih kamu merasa sedang sangat menikmati hidup yang kamu miliki saat ini sehingga kamu ingin berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Nah itu yang saya lakukan melalui post-crossing ini.  Memang hanya ingin menulis dan berbagi dengan orang yang mungkin saya kenal tapi udah jarang berkomunikasi atau orang yang sama sekali saya enggak kenal.



Alhasil, tepat seminggu lalu saya meng-upload di Instagram story saya, meminta siapa aja yang tartarik untuk dikirimkan postcard agar mengirimkan pesan melalui postingan saya tersebut. Karena memang dari awal saya hanya membatasi 10 postcards, maka dalam waktu 40 menit ketika sudah mencapai 10 orang yang akan saya kirimkan, langsung saya hapus postingan saya tersebut. Hasilnya lumayan banget, beberapa adalah teman saya sendiri tapi udah lama banget enggak ketemu, beberapa adalah teman online saya alias orang - orang yang saya kenal melalui blog namun belum pernah ketemu langsung, dan beberapa adalah orang yang belum saya kenal. Ternyata menyenangkan loh menulis pesan singkat yang berbeda di sebuah kartu pos. Apalagi belakangan ini saya udah jarang menulis dengan tangan, jadi semakin seru aja ketika menulisnya hehe.  



Enggak seberapa sih berbaginya, cuma saya berharap yang menerimanya akan merasa senang ketika menerima kartu pos dari saya seperti rasa senang yang saya dapatkan ketika membeli kartu pos - menulis pesan - mengirimkannya di sebuah box di kantor pos; atau ketika saya menerima sesuatu yang jarang saya lakukan dari orang yang jarang atau belum pernah saya temui secara langsung :)

April 03, 2017

A Room That Takes (Its) Time

Diantara berbagai kamar yang pernah saya tempati sebelumnya, bisa dibilang kamar saya yang satu ini memiliki paling banyak cerita. Dibalik foto - foto yang saya tampilkan di postingan ini, ada makna yang jauh lebih dalam dari hanya sekedar kamar yang dipenuhi oleh pernak - pernik ala Pinterest. Makanya untuk kali ini saya memberikan judul yang berbeda dari biasanya: a room that takes time. Karena memang membutuhkan proses yang panjang untuk mencapai titik dimana saya akhirnya bisa merasa bersemangat untuk mendekor dan puas dengan hasilnya sampai saya posting disini. Singkatnya, akhirnya saya bisa merasa nyaman dengan tempat ini. Bukan hanya proses untuk membangun dan mengisi setiap sudutnya yang membutuhkan waktu lebih lama dari biasanya, tetapi yang lebih penting adalah menerima segala kekurangannya. Wah, terdengar berlebihan ya? Tapi bagi saya, sebagai seseorang yang sangat butuh privasi dan mengganggap kamar saya sebagai tempat yang paling penting dimanapun saya berada, ketika dihadapi dengan kondisi dimana saya enggak merasa nyaman dengan kamar saya sendiri sama saja seperti enggak ada tempat untuk bersandar ketika sedang lelah, atau tempat bersembunyi ketika sedang ingin menghilang. Dan harus saya akui bahwa salah satu faktor utama yang membuat saya sempat down beberapa bulan yang lalu adalah karena saya kehilangan tempat itu. Tempat yang menjadi ruang privasi saya; tempat yang membuat saya nyaman seperti berada di rumah; tempat yang membuat saya bersemangat untuk berkreasi.

Kondisi kamar saya saat ini

Kamar saya sebelum ada division antara living room dan kamar saya

Semua berawal dari ide salah satu flatmate saya ketika pertama kali kami mengunjungi apartemen ini untuk membagi living room yang sangat luas ini menjadi sebuah kamar tambahan agar bisa mengurangi biaya sawa apartemen kami. Dari awal mendengarnya, sebenarnya saya enggak yakin dengan ide tersebut. Tapi di sisi lain, karena teman saya tersebut arsitek dan dia meyakinkan saya bahwa rencana tersebut pasti berhasil, akhirnya saya setuju. Saat itu, saya pun juga masih ada kesempatan untuk memilih kamar, yang sebenarnya bisa aja saya pilih kamar yang sudah tersedia dan menjadikan kamar-kamaran ini untuk flatmate saya lainnya yang saat itu belum datang. Tapi begitu melihat lantai kayu dengan pemandangan di luar jendela yang enggak pernah bosan untuk dilihat, ternyata lebih menarik dibandingkan kamar satu-nya lagi yang juga memiliki jendela besar namun langsung berhadapan dengan jalan koridor apartemen sehingga sulit untuk bagi saya yang berhijab untuk terus membuka tirai jendela tersebut. Ditambah dengan karpet hitam yang menghiasi kamar tersebut, tentu aja lantai kayu rustic ini lebih menarik.





Ternyata dugaan saya benar. Sekalipun memungkinkan untuk membuat room division, dalam proses pembuatannya benar - benar menyita waktu dan energi. Dalam dua bulan pertama, hampir setiap minggu saya pasti mengunjungi beberapa toko hardware dan furniture untuk mencari, membandingkan, dan membeli bahan untuk division dan perlengkapan kamar yang berkualitas namun tetap sesuai dengan tenaga dan budget. Kalau dengan kondisi tersebut dilakukannya bersama orang - orang yang udah dikenal baik seperti keluarga atau teman, mungkin enggak akan jadi masalah yaa. Tapi ketika melakukan semua hal tersebut dengan orang yang baru kenal, bebannya pun jadi bertambah dua kali lipat karena dalam waktu yang bersamaan juga beradaptasi untuk mengenal sifat dan karakter satu sama lain. Makanya saya sempat menyesal dengan keputusan pindah ke apartemen ini hingga bulan kelima saya tinggal disini. Mulai dari keputusan saya untuk tinggal dengan orang lain (apalagi ini orang yang baru aja saya kenal) ketimbang rencana tinggal sendiri di studio; hingga keputusan saya memilih apartemen yang unfurnishedwhich means everything started from scratch. Dari lantai di bagian bawah apartemen yang mesti dipasangi karpet hingga setiap furniture yang ada di dalam apartemen ini harus kami isi sendiri. Tapi yang menjadi beban paling berat bagi saya adalah menghadapi sebulan pertama tinggal dengan kondisi kamar terbuka. Karena living room ini langsung berhadapan dengan dapur, jadi merupakan focal point yang pasti selalu dikunjungi oleh flatmates saya di waktu yang juga cukup sensitif. Salah satunya yaitu saat bangun tidur, tau - tau udah ada orang yang baru dikenal berdiri di depan saya atau malah beberapa kali dibangunin kucing di depan mata, tuh rasanya..... sesuatu :))






Permasalahan lainnya yang muncul ketika sudah dibangun division pun adalah kenyataan bahwa tanpa adanya pintu dan kedap suara, saya merasa kamar ini bukan seperti kamar. Melainkan living room dengan dibatasi oleh papan kayu. Jadi awalnya masih awkward gitu kalau flatmate saya sedang di living room dan saya di dalam kamar namun kami enggak berinteraksi, karena sama aja rasanya seperti berada di dalam ruangan yang sama tanpa komunikasi. Tapi sekarang sih saya udah merasa nyaman sekalipun pintu saya masih berupa tirai dan dindingnya masih berupa satu lapis kayu tanpa kedap suara. Karena selain memang udah terbiasa dengan kondisi seperti ini, faktor lainnya adalah hubungan saya dengan kedua flatmate saya pun semakin dekat, sehingga sekalipun kami melewati kondisi seperti itu enggak terasa awkward lagi. Dan sejujurnya meskipun saya enggak mau mengulangi hal ini untuk kedua kalinya, saya enggak lagi menyesali keputusan saya untuk berani tinggal dengan orang yang baru dikenal dan juga keputusan untuk pindah ke apartemen yang unfurnished. Banyak pembelajaran dan pengalaman yang saya dapatkan. Salah satunya adalah belajar untuk lebih memahami proses, dalam hal ini adalah menerima perubahan yang terus berlangsung dari waktu ke waktu. Bahkan dengan pengalaman ini bisa membantu saya untuk lebih memahami topik riset saya tentang placemaking. Sebuah konsep untuk membuat sebuah tempat menjadi lebih bermakna dan memberikan hubungan yang kuat antara tempat tersebut dan penghuni/pengguna-nya, sehingga bukan hanya menjadikan tempat tersebut nyaman secara fisik, tetapi juga dari aspek sosialnya. Sedangkan untuk bisa membuat sebuah tempat menjadi benar - benar bermakna bagi seseorang, orientasinya bukan pada hasil akhir, tapi justru proses yang terus menerus agar tempat tersebut selalu 'hidup'. By constantly making and remaking my own room, I have a much higher level of appreciation and attachment with it than the previous one where everything was provided at once. 






Pembelajaran lain yang saya dapatkan yaa tentu aja pengalaman yang kayanya enggak mungkin saya lalui jika bukan karena kamar yang saya tempati sekarang. During the process, I have learned new things that may never be gained if I didn't involve in making my bedroom and the furnitures. How to use drill and electric screwdriver, what type of woods that are suitable for furniture, and the fact that us girls (me and my flatmate) could bring five big wood boards by stairs to third floor! Not to mention, I also learn how to make various furnitures, from desk, shelves, drawer to bed. I won't say I enjoy the whole process of making it, karena bagi orang seperti saya yang sangat lemah dalam mengukur, mengerjakan hal - hal yang bersifat teknis dan mekanis, sometimes it stresses me out. Seperti drawer yang ada di kamar saya, di bagian paling bawahnya kosong tanpa ada bagian laci seperti bagian atasnya karena saya terbalik masangnya, alhasil udah enggak bisa diapa-apain lagi. And for the wooden clothing shelf, I wasted four hours on it! Karena saat udah mau selesai, saya baru menyadari bahwa ada fondasinya yang salah dan alhasil harus dirombak lagi ke tahap kedua dari awal. Ujungnya, saya baru mengerjakan lagi keesokkan harinya dengan bantuan flatmate saya.  Now, whenever I see the furnitures in my room, they gently remind me of every effort and sacrifice that I did. And this is what most probably satisfies and fulfils me with my room now. 




Hingga saat ini pun saya masih dalam proses mengerjakan kamar saya. Selain belum ada pintu dan lapisan kedap suara karena kami semua lagi sama - sama sibuk dan sulit mencari waktu yang senggang saat ini (oh well, a curtain doesn't look that bad and I'm used to living with a bit of noise after all), dalam beberapa bulan ke depan saya harus kembali menata ulang kamar saya karena akan saya sewakan selama beberapa bulan ke depan saat saya pulang untuk mengambil data riset. Tapi seenggaknya untuk saat ini semuanya udah terasa nyaman. Alhamdulillah :)

March 27, 2017

#ROH 63 : Evening Walk

Ada satu hal yang dari dulu cukup sulit saya terima dari menjadi seorang perempuan, yaitu masa - masa sebelum dan saat datang bulan. Meskipun saya termasuk yang beruntung enggak mengalami rasa sakit atau kram saat menjalaninya (karena saya tau beberapa teman saya ada yang sampai pingsan karena menahan rasa sakitnya), bagi saya mengalami mood swing yang enggak bisa diatur itu sama aja enggak enaknya dengan kram. Sama - sama bikin enggak bisa produktif, sulit untuk fokus, dan bawaannya cranky mulu. And the most annoying thing is knowing that it's something beyond my control. Bisa sih dibantu dengan menyibukkan diri sehingga enggak terlalu terbawa oleh perasaan, atau sesederhana memakan cokelat atau makanan. Tapi ada saatnya semua itu enggak berhasil dan harus mencari cara lain. Seperti hari ini, tiba - tiba menjelang sore hari saya enggak mood untuk ngapa - ngapain. Akhirnya saya putuskan untuk baca buku di taman dan dilanjutkan jalan - jalan sore di sekitar apartemen saya. Mumpung cuaca hari ini sangat mendukung untuk pergi ke luar. Bukan hanya sinar matahari sore dengan kadar yang 'pas', tetapi juga enggak ada angin *ini nih yang sering jadi masalah kalau disini, haha! Jalan - jalan sore kali ini semakin menyenangkan karena sekarang sudah resmi memasuki musim semi sejak tanggal 21 Maret kemarin. Mata pun dimanjakan oleh bunga - bunga yang sedang bermekaran, dan bisa ditebak, saya kembali ke apartemen dengan perasaan yang lebih lega dan tenang.