July 19, 2017

#ROH 69 : Beaches

Ada banyak alasan mengapa dulu saya enggak begitu suka pantai. Matahari yang sangat terik dengan disertai udara pesisir yang panas. Belum lagi butiran pasir yang mengganggu, entah saat terbawa oleh angin dan menusuk ke mata, atau saat tercampur oleh air yang kemudian terasa lengket di kulit. Satu - satunya yang bikin saya suka ke pantai yaa karena kalo difoto memang lebih bagus karena efek cahaya yang sangat terang, membuat saya selalu ingin foto ala - ala majalah yang menampilkan keindahan musim panas di pantai - lengkap dengan summer outfit - setiap kali ke pantai. Haha! Tapi mungkin Tuhan ingin membuat saya menyukai segala bentuk kekayaan alam milik-Nya secara adil, yang membuat saya mengunjungi pantai dengan intensitas yang lebih sering daripada ke gunung. Malah dari lima tahun terakhir ini saya selalu dekat dengan pantai. Yaa dikelilingi oleh orang - orang yang penyuka pantai dan laut, yaa pernah tinggal di kota kecil pinggir pantai. Alhasil, setiap tahun saya pasti mengunjungi pantai. Bahkan ada saat dimana empat tahun berturut - turut saya mengunjungi beberapa pantai berbeda di Indonesia, yang akhirnya darisitulah saya mulai menyukai pantai dan seisinya.




Kesukaan saya ini semakin menjadi - jadi ketika saya ke Belanda dari Februari tahun lalu. Selama satu setengah tahun, saya baru ke pantai satu kali, itu pun di Den Haag dan bagi saya enggak terlalu menarik (apalagi jika dibandingkan pantai di Indonesia, jauhlah! heu). Baru deh saat itu saya sadar betapa saya merindukan pantai pasir putih dan crystal clear water, yang tersebar luas di negara saya sendiri. Aneh, tapi baru kali ini saya segitu merindukan pantai dan laut, hingga penantian dua bulan rasanya lamaaa banget! Makanya begitu akhirnya ke Tanjung Aan minggu lalu dan melihat pantai ini yang subhanallah cantik-nya, apalagi saat itu sedikit sekali pengunjung yang datang, beneran sebahagia itu rasanya!!!! Sayang, karena saat itu kami mengejar beberapa tempat, hanya sebentar menikmati pantai ini. Semoga aja masih ada kesempatan lagi untuk main ke pantai cantik lainnya :')



July 09, 2017

My Favourite Things in Prague

Terlepas dari berbagai kejadian enggak enak yang kami alami ketika pertama kali sampai di Praha, harus saya akui bahwa sebenarnya banyak hal menarik yang dimiliki oleh kota ini, hingga akhirnya berhasil mengubah impresi buruk yang sempat saya miliki terhadap Praha dan bagi saya kota ini tetap menjadi salah satu kota yang wajib dikunjungi di Eropa.

Untuk itinerary Praha, saya dan Gladyz banyak mendapatkan inspirasi dari dua sumber, yaitu Use It , sebuah peta lokal yang diberikan oleh host Airbnb kami, dan satu lagi adalah Stay.com, sebuah website yang berupa kumpulan itinerary para pengguna website tersebut, namun sayangnya sekitar dua bulan yang lalu website tersebut sudah resmi ditutup. Bukan hanya merekomendasikan tempat - tempat yang wajib dikunjungi first time visitor, tapi juga banyak hidden treasure yang kami temui dari kedua sumber tersebut. Dari kedua sumber tersebut, berikut ini adalah beberapa hal yang paling saya suka dari Praha:


 Novy Svet 





• Shakespeare & Sons 





• Old Town






• Petrin Hill •  


 • Lennon Wall 


• Kul'atak Restaurant 


• City Tram 


 • Chimney Cake 



June 30, 2017

#ROH 68 : Film Rolls

Seminggu yang lalu saat lagi beberes kamar tiba - tiba aja kepikiran pengen membuka salah satu box yang isinya barang - barang lama. Eh, ternyata ada beberapa rol film yang sebenarnya udah lamaaa banget pengen saya cuci tapi enggak disempet - sempetin sampai akhirnya tersimpan entah hingga berapa tahun lamanya. Kebetulan, belakangan ini saya memang lagi kangen banget main sama kamera, terutama analog dan lomo. I must admit that sometimes being an adult makes me forget about life's little pleasures. Jadi ketika menemukan rol film ini bawaannya seneng banget, berasa langsung kaya jadi diri saya saat masih muda dulu yang selalu enggak sabar pengen segera bawa rol film yang saya punya ke Seni Abadi, tempat langganan untuk mencuci rol film dari masa muda dulu #eaaa. Maklum deh, dalam hati saya pun penasaran.... sebenarnya ini rol dari jaman kapan, sih?! :))


Begitu tadi siang saya ambil hasil fotonya, pertama kali melihatnya saya malah terkaget - kaget sendiri. Iyalah, enggak nyangka banget ternyata rol film tersebut berasal dari tahun yang berbeda - beda. Mulai dari jamannya masih kuliah di Bandung tahun 2011, lalu ketika musim panas tahun 2013 saat masih kuliah di UK, dilanjutkan dengan mengunjungi kakak perempuan saya di US pada tahun 2014, hingga yang terakhir adalah tahun 2015 ketika sedang berlibur ke Gili Trawangan. Enggak paham lagi dengan diri saya sendiri, kenapa bisa ada rol yang belum diproses dalam kurun waktu selama itu, hingga lebih dari enam tahun lamanya. Haha! 

Meskipun cukup sedih juga karena enggak semua foto ternyata hasilnya bagus, bagi saya salah satu kebahagiaan sederhana yang udah cukup lama saya lupakan adalah ketika menunggu film diproses dengan perasaan deg - degan, dan kemudian dibuat heran sekaligus lega begitu melihat hasilnya. To be able to shoot things without thinking and be amazed by the results, is what makes me believe that films will never be dead nor be replaced by any digital cameras and editing apps











June 26, 2017

#ROH 67 : Kampung

Di tengah - tengah tumpukkan rasa bahagia yang saya dapatkan semenjak pulang ke Indonesia satu setengah bulan yang lalu, ada satu hal yang udah lama saya rindukan, yaitu berkunjung ke kampung.  Mungkin karena dari kecil hingga sekarang saya selalu tinggal di kota besar dan enggak pernah merasakan 'mudik' atau punya 'kampung halaman', jadi main - main ke kampung itu rasanya selalu menyenangkan. Beruntung, dari jamannya duduk di bangku sekolah dasar hingga kerja, pasti selalu ada aja kegiatan yang membuat saya berkunjung ke berbagai kampung di Indonesia. Jadi bisa kebayang kan semenjak satu setengah tahun terakhir ini ketika saya sama sekali enggak ada kesempatan mengunjungi kampung, rasanya seneng banget bisa berkunjung lagi. Meski awalnya saya agak enggak yakin akan menyukai kehidupan kampung kota seperti saya menyukai kampung di pedesaan, namun nyatanya kunjungan saya ke beberapa kampung kota kali ini sama - sama menyadarkan saya kembali dengan makna kesederhanaan. Sederhana secara materi, bersikap, maupun dalam melangkah. Berbeda sekali dari kehidupan kota yang apa - apa serba konsumtif, terburu - buru, dan individualis. 






Memang, kampung kota yang saya maksud termasuk kampung - kampung yang sudah mengalami perubahan positif, baik secara fisik lingkungan maupun mental sosial masyarakat yang menempatinya. Saya paham bahwa kampung - kampung yang saya kunjungi ini masih memberikan pemandangan yang enak dilihat oleh mata, entah itu berupa karya seni yang menarik, jalanan kampung yang di beberapa bagiannya terlihat bersih dan tertata rapih, hingga senyum yang diberikan oleh warga setempat kepada orang asing yang tiba - tiba berjalan menyusuri dan mengamati kondisi tempat tinggal mereka tersebut. Tapi jujur, terlepas dari rasa bangga atas semangat dan kreativitas mereka yang nampak dari beberapa sudut di ruang publik kampung yang lebih tertata untuk mengganti kesan kumuh, masih banyak rumah yang tidak layak huni dengan infrastruktur dasar yang masih belum bisa dikatakan memadai. Salah satu yang paling prihatin adalah ketika saya mengunjungi salah satu kampung dimana terdapat sebuah gang yang setiap rumah-nya memiliki ukuran rata - rata 25 meter persegi dan dihuni oleh lebih 3 KK (Kepala Keluarga) dengan total jiwa per rumah bisa mencapai 10 hingga 12 orang!






Namun, apa yang saya lihat adalah wajah - wajah yang masih mampu tertawa, menikmati hidup mereka yang tentu aja enggak semua orang bisa menikmatinya. Ada kebahagiaan tersendiri ketika melihat anak - anak disana yang terlihat asik mengobrol dan bermain tanpa menggunakan peralatan elektronik. Mereka menggunakan buku, lapangan bola, ular tangga, layang - layang hingga permainan tradisional lainnya untuk bermain. Ketika melihat beberapa warga asik mengobrol dan menikmati waktu santai mereka di ruang publik kampung yang enggak lain adalah bangku kayu panjang di sudut - sudut gang kampung. Ketika melihat hasil kerja kolektif warga untuk terus menjadikan kampung mereka menjadi tempat yang lebih layak huni dan menyenangkan, meski mereka sepenuhnya sadar bahwa harus melalui perjuangan yang sangat besar dan jalan yang panjang untuk bisa mencapai standar hidup yang layak. Ketika melihat wajah - wajah dan mendengar kata - kata penuh harapan agar apa yang saya lakukan ini bisa membantu mereka untuk mencapai taraf kehidupan yang lebih baik. Kebahagiaan yang saya rasakan itu bukan hanya membuat saya senang, tapi juga membuat saya lebih bersyukur dengan segala kehidupan yang saya miliki saat ini, serta menambah asupan semangat; bahwa di tengah - tengah kerisuhan yang terjadi di negara ini, masih banyak masyarakat yang optimis dan berpikiran positif terhadap tanah air mereka.