August 01, 2017

The Hardest Battle : My Fight Against Depression

Percaya atau enggak, tulisan ini udah tersusun rapih semenjak delapan bulan yang lalu, tepatnya tanggal 17 Desember 2016. Saat itu akhirnya berhasil diselesaikan setelah kesekian kalinya mencoba menulis, yang selalu enggak selesai dan berujung sebagai draft. Ternyata menulis tentang topik ini lebih susah dibandingkan menulis hal - hal vulnerable tentang diri saya yang sebelumnya pernah saya tulis di blog ini. Mungkin karena saya merasa apa yang akan saya tulis disini bukanlah hal yang sepenuhnya positif  atau bisa bermanfaat bagi orang yang membacanya. Saya juga sempat bertanya ke beberapa orang terdekat saya tentang niat saya untuk menulis ini, tapi kata mereka saya lebih baik saya enggak menulis. Katanya, saya bisa kehilangan pembaca karena baginya selama ini saya terlihat sebagai orang yang selalu membawa pesan positif, terutama melalui berbagai tulisan yang saya buat disini. Katanya, orang - orang ingin selalu melihat sisi baik dan bagusnya aja, sesuai dengan apa yang mereka ekspektasikan. Tapi begitu mendengar cerita beberapa teman dan orang yang saya kenal di blog maupun Instagram tentang pengalaman yang serupa, terutama belakangan ini ketika berita bunuh diri kembali mencuat, hati saya kembali tergerak untuk mempublikasikan tulisan ini. Apa yang mereka utarakan membuat saya sadar bahwa terus menutupi tentang apa yang pernah saya alami setahun kemarin bukanlah suatu tindakan yang tepat. Memang postingan ini enggak bisa dibilang positif dan solutif, tapi seenggaknya mungkin dengan berbagi apa yang pernah saya alami ini bisa membuat orang - orang yang merasakan hal yang sama dengan yang saya rasakan menyadari bahwa mereka enggak sendirian. Bahwa apa yang terjadi dengan mereka bukanlah hal yang aneh, memalukan, dan perlu ditutupi.



Saya pun kaget dengan perubahan drastis dalam hidup saya, atau lebih tepatnya dengan diri saya sejak pertengahan Juli tahun lalu. Suatu hari saya tiba - tiba terbangun dengan sebuah perasaan enggak enak banget yang mengganjal di dalam hati saya. Kepala dan pundak saya terasa seperti menanggung beban sangat berat. Belum lagi perasaan takut dan khawatir yang berlebihan, yang terkadang bisa membuat saya benar - benar enggak bisa melakukan hal apapun. Disertai dengan perasaan hopeless bahwa enggak ada hal yang bisa saya lakukan untuk keluar dari perasaan cemas yang menyelimuti sekujur tubuh saya. Enggak lama sejak saya merasakan berbagai perubahan tersebut, tidur saya juga mulai terganggu. Saya sering terbangun secara tiba - tiba di tengah malam, dan ada kalanya disertai dengan perasaan panik, cemas, dan takut. Kadang saya bisa dengan mudahnya kembali tidur, kadang ada saatnya saya enggak bisa tertidur lagi. Padahal sebelumnya saya jarang banget ada gangguan tidur. Di saat yang hampir bersamaan, saya juga merasa mual terutama setiap kali bangun di pagi hari. Setelah tiga minggu terus - terusan seperti itu, saya putuskan untuk cek kondisi saya ini ke dokter. Dan saat itulah saya diberitahu bahwa apa yang saya alami ini karena saya stres hingga mempengaruhi kondisi fisik saya. Setelah dikasi obat anti mual, kondisi saya kembali seperti awal. Walaupun saat itu sebenarnya saya udah agak curiga bahwa apa yang saya alami saat itu bukan hanya sekedar stres. Tapi melihat bahwa saya masih bisa banyak tertawa dan mengendalikan mood saya supaya tetap baik. saya pun menganggap bahwa saat itu saya memang hanya sedang cemas terhadap beberapa hal besar yang akan datang.


Nyatanya, setelah semua itu satu persatu terlewati, bukannya kondisi saya semakin membaik malah semakin memburuk. Ada saatnya sih memang saya merasa bersemangat menjalani hidup dan kembali merasakan energi positif dari berbagai hal di sekitar saya. Ketika saya terbangun tanpa ada perasaan berat yang menyelimuti diri saya. Ketika saya bersepeda di pagi hari sambil menghirup udara dingin segar dan matahari pagi yang bersinar. Ketika kembali bertemu dan mengobrol dengan teman - teman saya maupun kenalan dengan orang - orang baru. Atau di momen - momen lainnya yang sebenarnya enggak ada yang begitu spesial, namun seketika saya merasa 'hidup kembali'. Tapi akhirnya saya sadar bahwa berbagai semangat yang saya rasakan tersebut hanya berlangsung sementara, malah kadang terasa berlalu begitu cepat. Tergantikan kembali dengan perasaan hampa dan pikiran negatif yang merasuki diri saya. Saya sempat menduga bahwa apa yang saya rasakan ini merupakan bagian dari mood swing yang terjadi ketika saya mau datang bulan. Namun ternyata saya bukan hanya merasakan ini ketika saya berada periode tersebut, tapi hampir setiap hari. Beneran setiap hari mood saya bisa berubah. Hari ini semangat. Besok cemas dan pesimis. Besoknya lagi semangat. Hingga perubahan itu bukan hanya dalam hitungan hari, tapi juga hitungan jam. Akhirnya saya menyadari bahwa ini bukan lagi sekedar PMS, tapi memang ada sesuatu yang lebih dari itu. Setelah membaca dari berbagai sumber, asumsi paling kuat saya hingga saat ini adalah depresi. Kata mereka yang juga mengalaminya, hidup mereka seperti ketika mereka terjerumus ke dalam sebuah lubang yang sangat dalam dan gelap seorang diri dan enggak menemukan cara untuk keluar. Dari pengalaman yang saya lalui, apa yang saya rasakan sesederhana bahwa saya enggak bisa lagi berpikir positif terhadap hidup dan diri saya. Sampai satu hal yang saya tanyakan pertama kali ketika saya bangun dan membuka mata adalah "kenapa gw masih hidup?"



Semenjak itu, entah udah berapa kali saya menangis secara tiba - tiba; tanpa mengenal waktu dan tempat. Di kamar, ruang kerja di kampus, kereta, toilet. Pagi hari saat baru bangun tidur, siang hari, sore, maupun tengah malam. Padahal sebelum memasuki masa ini, saya jarang banget nangis, apalagi tanpa alasan yang jelas. Dan dalam periode enam bulan ini, menangis tanpa alasan enggak hanya terjadi sekali-dua kali, tapi udah enggak terhitung lagi. Kalian bisa bilang saya cengeng, namun sejujurnya, saya pun enggak mengerti apa yang terjadi. Kadang saya bersyukur bahwa saya masih bisa menangis karena itu satu - satunya cara saya saat itu untuk bisa mengeluarkan perasaan dan emosi saya. Yang juga menunjukkan bahwa saya masih bisa mengekspresikan diri saya. Karena saya enggak bisa lagi mengeluarkan emosi saya ketika marah, excited, maupun sedih. Karena ketika saya lagi enggak beruntung, ada kalanya menangis pun enggak bisa lagi dilakukan. 

Perlahan - lahan saya pun melihat semakin banyak perubahan yang terjadi dalam diri saya. Saya mulai melakukan hal - hal yang berlawanan dengan apa yang biasa saya lakukan. Melihat kamar saya yang berantakan, saya enggak ada semangat untuk merapihkannya. Melihat papan to-do-list dan notebook saya kosong, saya enggak ada keinginan untuk mengisinya. Saya yang biasanya suka merencanakan segala sesuatunya dan organised, menjadi orang yang 'berantakan' dan enggak peduli lagi dengan jadwal harian saya. Hingga suatu ketika saya sempat lupa bahwa ada kelas yang harus saya ikuti, dan akhirnya baru tiba satu jam kemudian. Saya yang sangat peka terhadap apa yang saya konsumsi semenjak satu setengah tahun lalu saya menerapkan pola hidup sehat, kali ini ketertarikan saya untuk makan makanan yang enggak sehat muncul lagi dan dengan intensitas yang lebih tinggi dibandingkan biasanya. Bukan hanya itu, saya terus mencari makanan yang 'enggak sehat' dan saya enggak lagi peduli dengan apa yang masuk ke dalam tubuh saya. Sekalipun saya udah merasa kenyang atau malah enggak lapar, tapi diri saya menuntut saya untuk makan karena itu bisa membuat saya merasa lebih baik.


Saya menjadi orang yang sangat sensitif dengan kritik dan sikap orang lain terhadap saya. Saya mudah berprasangka buruk dengan apa yang orang lain pikirkan dan katakan tentang saya. Saya jadi semakin takut untuk berkomunikasi dengan orang - orang baru. Bahkan, saya juga enggak ingin banyak berkomunikasi dengan mereka yang udah lama saya kenal maupun yang baru saya kenal; baik komunikasi secara langsung (bertemu) maupun melalui text dan telefon. Jadi kalau saat itu ada orang yang menganggap saya anti sosial, mungkin saya enggak akan membantah. Karena memang terlihat seperti itu adanya. Saya yang biasanya selalu semangat mencoba hal baru; saya yang memiliki beribu mimpi; saya yang mudah dibuat bahagia oleh hal - hal kecil, kali ini semuanya hilang. Saya enggak lagi memiliki semangat melakukan hal baru. Saya enggak lagi tergiur dengan belahan dunia yang belum saya lihat. Saya bahkan enggak tau lagi tujuan hidup saya. Saat itu rasanya enggak ada satu hal pun yang membuat saya merasa excited untuk menanti masa depan saya. Saya yang sebelumnya merasa sangat percaya diri dan menerima diri saya sepenuhnya, saat itu saya mulai kehilangan kepercayaan diri. Hingga mencapai tahap dimana saya merasa sangat sedih dan malu setiap kali melihat diri saya di depan kaca. Wajah yang pucat dan menua. Lingkaran hitam yang sangat besar di sekitar mata. Tatapan kosong dan kelopak mata yang layu. Dalam masa itu, saya merasa hanya raga saya yang masih berfungsi, tapi jiwa saya udah enggak ada lagi.

Padahal selama dua puluh lima tahun hidup, saya udah sering mengalami berbagai jenis masalah yang beberapa diantaranya bahkan sangat berat untuk dihadapi. Sekalipun begitu, enggak ada satu pun dari permasalahan tersebut yang membuat saya merasa selemah dan enggak berdaya seperti ini. Kalau ditanya apa penyebab utamanya, saya masih belum yakin dengan jawabannya. Bisa jadi karena saat itu saya belum terbiasa dengan lingkungan dan orang - orang di kampus, ditambah kehidupan PhD yang memang cenderung sulit untuk memiliki social circle yang tetap; atau karena saya baru pindah tempat tinggal dengan kondisi yang sangat berat karena banyak menguras tenaga, pikiran, hingga tanpa sadar juga mempengaruhi mental saya; atau karena salah satu pembimbing saya yang sempat lepas tanggung jawab karena terlalu sibuk; atau karena saya sedang jenuh dan merasa stuck dengan riset yang sudah berbulan - bulan saya kerjakan tapi belum juga menunjukkan progress yang memuaskan; atau karena hubungan saya dengan beberapa orang terdekat saya saat itu sedang enggak enak. Tapi yang jelas semua itu merujuk ke satu hal yang sama, yaitu saya merasa bahwa saya sendirian. 



Jika sayang bilang saya merasa sendirian, kenyataannya memang seperti itu. Berbulan - bulan saya memendam semua permasalahan yang saya hadapi sendirian. Enggak ada satu orang pun yang tau selain kedua adik saya. Bahkan ada hari - hari dimana saya enggak lagi cerita ini ke mereka. Hingga saya mencapai satu titik dimana saya udah enggak kuat lagi dan hampir 'menyerah', di saat itu kedua orang tua dan juga kedua sahabat saya mulai menyadari ada yang enggak wajar dengan kata - kata saya. Dan akhirnya saya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi sejujurnya, menceritakan apa yang saya rasakan dan alami bukanlah suatu hal yang mudah. Apalagi ketika enggak ada orang terdekat saya yang melihat secara langsung kondisi saya sehari - hari disini. Dan dalam kasus saya ini, juga membuat siapapun yang mengetahuinya kaget karena mereka melihat saya baik - baik aja. Iya, tanpa saya sadari pun ternyata saya semakin mahir dalam mengendalikan muka dan emosi saya. Saya bisa tertawa di saat hati saya sedang enggak enak. Saya bisa menangis tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Saya bisa tersenyum di saat pikiran saya sedang cemas. Jadi saya pun enggak menyalahkan mereka yang tanggapannya pun hampir mirip semua. 

Mereka bukan hanya kaget dengan situasi saya ini, tapi mereka juga awalnya menganggap bahwa ini semua terjadi karena saya kurang bersyukur dan kurang mendekatkan diri ke Tuhan. Bahwa sebenarnya saya baik - baik aja. Bahwa sebenarnya masalah yang saya alami ini enggak seberapa dengan apa yang dialami oleh banyak orang lain yang menanggung masalah hidup lebih berat dibandingkan yang saya miliki. Bahwa tekanan dan perasaan negatif yang saya rasakan hanya karena pikiran saya yang sedang negatif. Karena yang mereka lihat adalah saya yang secara fisik, finansial, pekerjaan, dan kualitas hidup terlihat baik, bahkan lebih, dari kebanyakan orang. Saya yang masih single sehingga belum merasakan beban dalam mengurus rumah tangga. Saya yang masih memiliki orang tua, keluarga, sahabat, teman, dan bahkan saya pun sempat dibecandain oleh mereka, "kamu kan punya orang - orang yang kagum sama kamu". 

Tapi bukannya menenangkan saya, justru mendengar tanggapan mereka seperti itu membuat saya semakin malas untuk menceritakan kondisi saya ini. Karena saya merasa bahwa orang - orang terdekat saya aja enggak bisa memahami saya, lalu kepada siapa lagi saya bisa meminta bantuan? Tapi akhirnya saya sadar bahwa saya enggak bisa menyalahkan tanggapan awal mereka, karena memang saya pun awalnya beranggapan bahwa ini semua hanya terjadi bagi orang - orang yang kehilangan orang yang disayangi, kondisi ekonomi dan fisik yang kritis, serta hal - hal yang "terlihat" berat lainnya. Mereka lupa bahwa manusia adalah makhluk sosial paling kompleks yang enggak bisa dinilai dari apa yang terlihat. Dan dalam kasus saya ini, hal yang membuat saya depresi bukan satu atau dua hal, tapi banyak hal, baik faktor internal diri saya maupun faktor eksternal.



Untungnya terlepas dari semua yang saya alami tersebut, saya masih terus berusaha untuk mengubah perasaan dan kondisi ini supaya saya masih tetap seperti dulu. Ada beberapa hal yang sangat membantu dalam memulihkan kondisi saya dan membuat saya bisa bertahan hingga saat ini:

1. P3K 
Iya, masih ingat kan P3K alias Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan. Ini berlaku juga ketika lagi depresi. Coba inget - inget hal apa yang paling mudah kamu lakukan tanpa terlalu banyak bergantung dengan orang lain dan hal. Bagi saya, P3K ini adalah sholat dan makan! Rasanya jauh lebih tenang setelah menangis saat berdoa sambil memasrahkan semuanya kepada Tuhan dan setelah makan makanan yang saya suka. Meskipun saya tau bahwa terlalu sering melarikan perasaan cemas ke makanan yang saya makan akan memberikan dampak negatif dalam jangka panjang dan justru menambah permasalahan baru bagi saya nantinya, tapi jika memang ini bisa jadi pertolongan paling cepat untuk bisa membuat saya less anxious, then it doesn't matter anymore. Memang sih P3K ini enggak selalu bisa membantu atau membuat kondisi menjadi lebih baik, karena saya pun enggak jarang juga setelah sholat maupun makan tetep aja ujungnya hati saya enggak tenang. Makanya perlu diikuti juga dengan beberapa cara berikutnya.

2. Cerita ke orang - orang yang bisa membuat kamu nyaman (!!!!!)
Satu akar masalah dari depresi yang saya alami ini adalah bahwa saya udah terlalu lama memendam masalah - masalah yang saya lalui seorang diri. Tanpa saya sadari, saya menjadi orang yang semakin tertutup, hingga saya juga enggak pernah menceritakan masalah saya ke orang terdekat sekalipun.  Hal ini diperparah ketika saya jadi terlalu banyak self-talk dan semakin lama self-talk yang saya lakukan bukan ke arah positif melainkan ke arah negatif. Dan akhirnya ketika saya perlahan - lahan terbuka menceritakan semua masalah yang saya hadapi ke keluarga dan sahabat saya, saat itu pula saya berangsur - angsur mulai merasa lega. Kalo kata orangtua saya, akar depresi saya ini udah kaya benang kusut saking banyaknya. Alhasil setelah mengobrol dengan mereka, benang kusut tersebut satu persatu mulai terurai. Walaupun belum ada solusi dari semua permasalahan tersebut, tapi setidaknya dengan cerita ke mereka, ada pikiran dan pendapat lain yang bisa membantah pikiran negatif yang saya miliki.


3. Find Your Happiness
Salah satu hal yang paling penting dari ROH (Reproduction of Happiness) sebenarnya bukan hanya mengingatkan saya dengan hal - hal kecil yang membuat saya bahagia, tetapi lebih dari itu, adalah dengan ROH juga menyadarkan saya bahwa hal - hal yang sebelumnya enggak pernah membuat saya merasa bahagia ternyata bisa membuat saya bahagia. Apalagi semenjak saya membuat label khusus tentang #ROH di blog saya, saya jadi semakin semangat menceritakan berbagai hal tersebut. Lalu dengan menceritakannya disini otomatis saya mengingat sisi positif dan menyenangkan dari hal tersebut. Dan secara enggak langsung itu kembali membuat saya bahagia saat menulisnya disini. In other words, ROH membuat saya bisa melihat sisi positif dari kondisi eksternal di sekitar saya. Sesederhana membuat dan menyantap sarapan pagi, main dengan kucing, melihat pemandangan di luar kaca jendela kamar saya, mendapatkan bantuan dari orang yang enggak saya kenal, dan masih banyak hal lainnya yang terus menerus datang untuk menghangatkan jiwa dan hati saya.

4. Tackling Negative Thoughts with Distractions
Selama saya depresi, satu godaan terbesar adalah bangkit dari tempat tidur. Rasanya setiap saat saya hanya ingin di dalam kamar sendirian, bersembunyi di balik selimut. Tapi saya selalu berusaha untuk enggak seperti itu dan melakukan hal lain yang bisa mengalihkan pikiran saya. Karena setiap kali saya bersembunyi, setiap kali juga pikiran - pikiran buruk semakin banyak bermunculan. Mulai dari bersepeda, bikin furniture (untungnya saat itu saya masih sibuk membenahi apartemen baru saya), olahraga, hingga ngobrol dengan orang lain. Intinya yang bikin pikiran saya enggak 'kemana-mana'. And surprisingly, ada beberapa hal yang udah dari dulu saya lakukan tapi baru berasa 'manfaat lainnya' sekarang ini. Misalnya, meskipun udah ikut yoga dan zumba dari sejak lama dengan tujuan supaya sehat, saat itu justru bisa menjadi salah satu cara untuk mendistraksi pikiran saya. Selain itu saya yang biasanya enggak bisa terlalu lama bersosialisasi dengan orang lain terutama yang belum terlalu dekat, akhirnya enggak menolak untuk ketemu orang - orang baru dan mengobrol topik apapun. Karena bagi saya hampir setiap kali berkomunikasi dengan orang lain, membuat rasa pening di kepala saya serta perasaan mengganjal di hati saya perlahan - lahan menghilang dan berubah menjadi perasaan yang lega. Walaupun kadang semua ini hanya menjadi 'pelarian sesaat', tapi lumayan banget untuk menghilangkan perasaan cemas dan pikiran yang aneh - aneh dalam waktu sesaat.


5. Sharing with "The Survivors" 
Dalam keadaan depresi, sulit bagi saya untuk bisa menerima berbagai masukkan orang lain, terutama yang terkait dengan menyuruh saya untuk bersyukur dan mencoba untuk terus berpikiran positif. Karena saya tau diri saya yang selalu mencoba untuk positif, dan terutama dalam kasus saya ini, alasan utama saya depresi adalah saya menyalahgunakan kata - kata "positif" ini. Jadi ketika mereka menyuruh saya untuk bersyukur, melatih pikiran saya untuk positif, it just simply didn't work. Dan saya sadar bahwa salah satu cara yang paling ampuh adalah berbagi cerita dengan orang yang juga pernah mengalami depresi dan berhasil melewatinya. Dengan sharing masalah saya dan mendengar langsung masalah yang dihadapi orang lain, membuat saya merasa enggak sendirian dan justru kami sama - sama saling menyemangati satu sama lain untuk enggak menyerah dengan masalah yang kami hadapi. Bahkan saya yang biasanya lebih suka memahami orang lain dari membaca tulisan mereka, kali ini saya bisa bilang bahwa yang mampu membuat saya jauh lebih baik adalah ketika saya langsung bertemu dan mengobrol dengan orang lain, merasakannya dan melihatnya langsung. Saya beruntung karena salah seorang teman saya di Rotterdam saat itu bisa saya percayakan untuk cerita tentang depresi yang saya alami dan ternyata dia pun pernah mengalami hal yang sama.

6. Baca artikel tentang hal - hal serupa yang kamu alami 
Memang menceritakan hal sangat personal seperti ini memang bukan sesuatu yang mudah, makanya enggak mudah juga buat mendengar langsung cerita mengenai pengalaman depresi. Tapi beruntung banget saya hidup di jaman sekarang dimana internet bisa menjadi kunci dari segala permasalahan, termasuk depresi. Tinggal cari aja di Google "How to deal with depression" atau "mengatasi depresi", langsung banyak banget postingan yang bisa memberikan pengalaman orang - orang yang berhasil melewatinya. Salah satu postingan favorit saya adalah A Little Bit about Depression, From My Personal Experience 16 Things I've Learned From 16 Years of Dealing With Depression , dan Saya Pernah Ingin Bunuh Diri.



"The good news is, I didn't give up. I wanted to. Lots of times. But I didn't. And these days, life is brighter than ever" 

Hannah Sentenac

Saya tau apa yang saya katakan di postingan ini dan saran yang saya berikan belum tentu bisa dilakukan untuk setiap masalah dan setiap orang yang mengalami depresi, tapi saya harap apapun yang membuat kamu depresi, kamu bisa tetap mencari cara untuk terus berjuang melawannya. Karena segala masa - masa kelam itu pada akhirnya bisa tergantikan dengan hari - hari menyenangkan hanya ketika kamu terus berjalan dan berusaha untuk melewati masa - masa kelam tersebut :)

20 comments:

  1. Thank you for sharing this, Kak Ozu. To be frank, 4 bulan ini aku juga lagi berjuang ngadepin hal sama yang di bilang depresi ini. Ada kondisi dimana aku ga tidur sama sekali, dipaksain pun ga bisa lalu pasrah aja bingung mau ngapain. Bersosialisasi pun aku kayak menghindar, sampe-sampe ini aku deactive account instagram karena bingung mau ngapain sama pikiran lari ke negatif. Pikirannya "hidup ku kenapa sih gini banget?" terus terus terus. Bangun tidur nyesek gatau mau ngapain lalu jatuhnya nangis. 4 bulan ini pula aku ga cerita ke siapapun sampe minggu kemaren karena capek mendem kali ya? Aku cerita ke temen ku tentang apa yang aku rasain.
    Terlalu sensitif juga dengan apa yang orang fikirin tentang aku sekarang, jadi menghindar dan menjauh sementara.
    Sekarang ini lagi tahap terapi diri sendiri, dari sholat subuh ke masjid yang lumayan nge bangtu banget) padahal dulu jujur bangun subuh itu susah banget apalagi mau ke masjid.

    Jadi curhat jadinya, semangat ya kak. Kalo ke semarang kabarin akuuuuuu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iluuukkk!!! Rasanya kalo bisa pengen langsung aku peluk eratttt! Karena aku ngerti banget rasanya.. aku juga sempet di awal2 masa depresi rasanya jadi maleeeees banget ketemu dan komunikasi sama orang2, sampai aku pun sempet uninstall Instagram dan Whatsapp aku di hp.. tiap ada temen yang ngajakkin pergi, selalu aku tolak dengan berbagai alasan. Alhamdulillah kalo kamu udah mulai cerita ke teman kamu, dari pengalamanku pribadi dan yang aku baca2 juga, memang yang paling penting jangan sampai kamu terlalu lama pendem semuanya sendirian. Karena sebagaimanapun kamu doa & shalat, coba untuk distraksi pikiran, ngelakuin hal2 menyenangkan, tapi kalo kamu tetap mendam semua perasaan dan hal2 yang bikin kamu cemas, akan tetap susah untuk ke tahap recovery nya. Memang enggak mudah ya untuk mulai cerita, tapi aku pun selalu remind myself that it's the main way that can pull me out of the depression.

      Semangat terus ya Iluukk! Kalo mau cerita ke aku jangan sungkan2, email atau Line aku ajaa di @nazuragulfira. Semoga kita bisa ketemu secepatnya di semarang!!! *hugssss*

      Delete
  2. Melewati masa depresi buat saya tidak pernah mudah. Tetapi saya ingin tetap bertahan. Terima kasih Kak, postingan ini terasa relate sekali buat saya. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Presticilla! Indeed, depression is one of the hardest times in my life. Tapi aku bersyukur banget bisa terus bertahan dan berusaha buat "berjalan", karena akhirnya bisa sampai di titik dimana aku menemukan banyak kebahagiaan hidup yang enggak akan aku dapatkan kalo udah menyerah.

      Semoga hari - hari kamu semakin membaik yaaa! Terus semangat!! *hugsss*

      Delete
  3. Hai Kak Ozu,
    You described it really well. I know exactly how it feels like because I've been struggling with that phase as well. Aku juga udah melakukan semua step2 yang kakak mention diatas, even though aku ngerasa belum bener2 'recovery' hingga saat ini. Tapi setiap pagi, setiap aku bangun dari tidur, aku selalu berusaha meyakinkan diriku sendiri kalau "this too shall pass". Thank you for sharing, Kak Ozu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haiiii! siapapun kamu, makasih udah komentar disini :) Aku pun butuh waktu berbulan - bulan hingga bisa kembali ke diri aku sebelum mengalami depresi. Tapi saat itu aku tau bahwa segala sesuatunya butuh proses dan enggak ada yang bisa mengubah hidup kita kecuali yaa dari diri kita sendiri, so I have no other option but keep walking. Aku berharap semoga kamu bisa segera menemukan hari dimana hidup kembali terasa menyenangkan seperti sebelumnya, bahkan jadi jauh lebih baik *pelukkk* :)

      Delete
  4. Haii Ozuu

    To be frank, gw udah nulis panjang lebar diagonal lalu keapus -_- emosih. Anyway, good things nya it lift my mood jadi gw gak mellow haha (abisan semua tadi tulisannya bahasa Inggris rapih terstruktur lalu blar ilang~ beklah mari lebih ekspresip haha).

    So yap, gw pun ngalamin, dari lama, dari kecil malah (I have childhood issue regarding my family), dan pertanyaan soal existence dan suicidal itu sebenarnya sangat familar buat gw dan ga bisa gw itung jumlahnya. It has happened for years, until now. Yang bikin gw masih ada sebenernya karena gw pernah janji ke Allah buat ngasih gw idup pas gw udah bisa dibilang abis paru-parunya akibat TBC saat udah susah banget napas (should I regret my request back then?). Gw inget banget bilang semacem "gw belom kontribusi apa-apa, belom bikin bumi yg gw sayang lebih baik, i need to stay alive" . So here I am, trying to be responsible for my (foolish(?)) request.

    Ups and downs mah terus-terusan ya, apalagi gw literally gapunya bond sama keluarga, tapi yang mayan marah di 2013 selama setaunan gw turun 10 kilo (10 kilo nya selama 2 bulan pertama kayanya), makan kaya blackhole apapun gada yg stay, mual kalo liat foto/denger nama/denger kata/lewat lokasi, nangis ga kenal tempat (that's why gw aktif pake topi lagi eversince, buat nutupin kalo tiba2 kena "serangan"), gabisa mikir, GABISA NGIDE (dem, itu kan kerjaan gw) ~ sehingga gw terpaksa pake metode ATM (amati tiru modifikasi) karena kepala gw lumpuh gabisa mikir apapun yang baru. Bisa tidur 20 jam atau bahkan cuma 2 jam. Solat aja gabisa bantu. And I need to press willingness to hurt my self ~ it is an old habit I try to kill.

    Jadi, mengingat gw masih punya janji, dan gw butuh kerja, jadilah gw sebagai penggemar dan pengamat behavior manusia, mempelajari sumber dari segala sumber: otak itu sendiri. Berbekal pada pemikiran kita itu cuman a bunch of alchemy, gw mau memanipulasi gw sendiri. So I read a lot, collect a lot, dan namain hal ini #HappinessManifesto project. I need to be happy (not literally happy, but feeling better) even though it's temporary. so...when some hard times come and I am alone (most of the time), I know what to do to keep me sane. One of it by swimming everyday, intensively. Beberapa cheat sheet gw gw kumpulin di slide ini :https://www.slideshare.net/rahmaut/happiness-manifesto-introduction-78441481.

    Yah, terlepas dari gatau akan guna/ga slide nya, chin up! Paling ga, kalo sendirian banget, siapaun yg baca artikel ini atopun liat komen gw, hopefully my slides help you guys ^_^.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kyaaa kuterharu ka maut comment disini sampe rela dua kali ngetik lohh :') mungkin memang disuruh nulis apa adanya seperti dirimu sebenarnya yg selalu ekspresip kaakk :')

      Btw gw speechless banget baca cerita lo kak mautt... langsung mendadak malu gitu kalo dibandingin sama gw yang baru sekali ini ngalamin depresi dan baru dlm hitungan bulan, dan msh ada support dari keluarga tp sempet ngerasa udah selelah itu buat hidup... lemah bet ya kalo dipikirpikir~ :)) DUH, I've been there banget deh ngalamin masa2 kepala rasanya kaya lumpuh, enggak bisa fokus sama sekali dan itu bener2 enggak enak banget rasanya karena kerjaan gw sehari2 kan intinya mikir yaa. Jadi ajalah berasa beneran lumpuh sekujur tubuh karena ujungnya engga bisa ngapa2in.

      Anyway, Happiness Manifesto kamu kece sekali, keliatan niat pisan bikinnya! Selama ini ku cuma tau serotonin sm endorphin, meski sebenernya sih I've practically done those activities which can also boost the other two happy hormones... tp sekarang jd lbh aware buat lbh banyak ngasih asupan ke mereka. Maaciihh ka maut! :3 *tapi kupenasaran deh itu si slide Natalie Portman maksudnya apa yaa? :)))

      Last but not least, keep fighting yaa kaakk!! Ups and downs mah pasti adaa, namanya juga hidup ya ga bisa happy terus kaan.. tapi yg paling penting sama2 berjuanglah jng sampe kekurangan si serotonin dkk hingga msk ke lubang hitam yg sama lagii XD *kecup basah*

      Delete
    2. Ozu, terima kasih atas post-nya. Aku mengerti dengan apa yang kamu alami dan merasa terbantu dengan post ini karena ternyata nggak sedikit orang yang mengalami hal yang sama. Menurutku hal terberat buat aku selama mengalami depresi adalah admitting I have a problem. Karena ternyata berusaha untuk kuat di luar justru makin melemahkan diri aku di dalam. Jadi mungkin sebenarnya dengan membuat tulisan seperti ini bisa membantu untuk melepaskan banyak hal yang cuma muter-muter di kepala kita. So, I'm really touched and proud that you are able to really let go in this post.

      Aku juga mau terima kasih sama Maut, slidenya menarik sekali dan aku banyak belajar dari isinya. Aku selama ini paham cara memanipulasi diri yang Maut tulis tapi belum tau science di baliknya. Jadi seneng banget bacanya karena aku suka sekali dapat pengetahuan seperti ini. Semoga lebih banyak yang membaca post ini dan juga terbantu yaa. Semangat terus untuk Ozu dan Maut, I believe we can still make a lot of impact within the rest of our time :3

      Delete
    3. Kak Cupriiis! setuju banget sama kalimat ini --> "karena ternyata berusaha untuk kuat di luar justru makin melemahkan diri aku di dalam". memang yaa kalo dari yang aku baca2, sumber utama depresi terlepas apapun permasalahannya adalah we keep denying our problem and refuse to share it, entah merasa kita strong enough to handle it atau enggak enakan buat cerita ke orang lain.

      Aku enggak tau permasalahannya apa, tapi semoga bisa ada orang-orang di sekitar kak Cupris yang bisa membantu, at least buat mendengarkan tanpa judging (lebih bagus lagi kalo bisa sampai ikut cari solusi untuk masalah tsb). Keep your chin up kak! kisskiss!

      Delete
  5. Bener bgt zura, menghadapi depresi itu tidak semudah seperti apa kata orang yang hanya melihat. Jujur, kadang saya rada bete ketika mereka bilang semangat tanpa tahu kita sedang terpuruk dan diapain aj ga ngaruh, bahkan yang ada makin jatuh. Dan benar apa kata kamu, harus perbanyak salat dan mencari sumber kebahagiaan kita sendiri.Dan untungnya seorang introvert adalah bisa peka sama hal kecil disaat sendirian yang mgkn malah bs jadi penyemangat even itu sepele. Dan terus semangat zura untuk nulis2 hal kayak gini, karena bisa jadi tulisan kamu jadi penyemangat untuk orang dluar sana bahwa mereka ga sendirian saat depresi atau berada dalam titik terendah hidup. Aku pribadi masih ga berani share tulisan seperti ini, karena terlalu banyak pikiran yang ditakutkan. Tapi sepertinya harus dicoba. Keep inspiring Zura and sukses buat pHD km.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Agessty! Makasih yaa for all the kind words you said... berhasil bikin aku semakin tenang dan yakin udh publish tulisan ini. Semoga suatu hari nanti km jg bs yakin buat sharing pengalaman kamu, karena terlepas dari ada aja orang2 yg mikir negatif ttg tulisan kita, selalu ada orang2 yg jd lebih merasa positif dgn diri dan hidup mereka :)

      Delete
  6. Kak Ozu, ku terharu kamu akhirnya nulis ini :'). Anyway, aku sempet berhenti baca dan termenung sesaat waktu sampai kamu nyeritain kalau kamu ngalami fase males beberes berubah dll.

    Jujur, aku lagi seperti itu sekarang. But I don't call it depression. Mungkin aku lagi stres dan over work + over tuntutan sana-sini. Aku setiap hari tidur sekitar jam 1 sd 3. Dan bangun jam 7 atau 8. Bahkan aku alarm sholat subuh sering kelewat :(((. Aku merasa ga punya waktu untuk bebersih dan nata kamar 😢.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ernyyy, aku makin berani setelah baca postingan kamu.. makasih yaaa :')

      Hmm sebenarnya sih enggak melulu yaa males beberes itu jadi indikator depresi haha.. aku pun juga ada saatnya kalo lagi sibuk bgt pasti juga sempet keteteran buat beberes, cuma pasti pas lagi kosong langsung aku cepet2 beresin.. nah kalo waktu itu aku bener2 seenggak ada semangat gitu buat beberes dan menata kamar baru aku dlm jangka waktu yang cukup panjang. Semoga kamu segera ada waktu lowong yaa Ernyy dan bisa kembali berbenah :)

      Delete
  7. Kak ozu, inget gak waktu di pbc kemarin teti pernah bilang "Gak usah takut buat jujur bahkan ditulisan sendiri." Baca ini bikin terharu karena kak ozu udah jujur menunjukkan kalo gak semua manusia itu harus tampil sempurna bahkan di lini masa dan bikin aku makin termotivasi untuk kuat melewati hal-hal yang penuh tekanan akhir-akhir ini.

    Look at you now, kak! You passed it perfectly! Semoga kita selalu diberi cinta oleh Allah SWT, ya. ❤

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo tetiii! Iyaa, benar sekali apa yang kamu bilang :) meskipun sulit yaa awalnya untuk bisa jujur di tulisan kita sendiri, karena belum tentu semua orang bisa mengerti dan menerima kejujuran kita tsb.. tapi melihat setiap kali tulisan - tulisan tersebut bisa menolong beberapa orang yang kukenal maupun enggak, I feel so relieved.

      Aamiin makasih doa dan kata - kata baiknya. Semoga setiap hari selalu diberi kebaikan yang menguatkanmu yaa tetiii ❤

      Delete
  8. Zu, aku baru baca ini. Rasanya campur aduk pas baca, sad to know what you've been through, but also proud that you finally wrote this for everyone to read (I know it must have been HARD). Hope you're feeling better Zu, and thank you for opening up and sharing your experience :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dixie!!! Many thanks to you, the first person who inspired me to share about this! jujur, pertama kali mulai berani karena baca postingan di blog kamu loh, Dix. hehe. semoga kita enggak akan melewati masa - masa kelam ini lagi yaaa :')

      Delete