August 19, 2018

Engagement Story #2: Cincin & Seserahan

Kalau ditanya hal yang paling mudah diurus selama acara lamaran ini, maka jawabannya adalah berburu cincin serta seserahan! Terutama buat urusan cincin sih, mulai dari proses pencarian tempat membeli hingga pemilihan cincin, berlangsung sangat cepat. Mungkin karena kami berdua pada dasarnya enggak mau ribet dan ditambah saya juga sebenarnya bukan pemakai perhiasan, jadi begitu Ican bilang udah ketemu tempat yang direkomendasikan banyak orang, tanpa ba-bi-bu lagi kami langsung ke sana. Begitu sampai di Toko Emas Kenanga Cikini, ternyata memang ramai hingga kami perlu menunggu agak lama sampai giliran kami tiba. Secara gitu kan, ada beberapa pembeli sebelum kami yang butuh waktu lebih untuk memilih model cincin hingga menegosiasi harga. Sedangkan kami... rasanya enggak sampai setengah jam aja udah selesai. Ha! Dari awal ditanya Ican saya mau cincin seperti apa, sebenernya saya pun bingung karena bagi saya yang penting cincinnya simpel dan bisa aman serta nyaman untuk dipakai sehari - hari. Makanya enggak heran kan kalau cepat selesai :))


Sama halnya dengan pemilihan cincin, urusan seserahan pun Ican sangat membebaskan saya dalam memilih barang - barangnya selama itu akan sering saya pakai. Begitu udah ditetapkan kisaran budget untuk seserahan, langsung deh saya semangat banget merinci beberapa barang yang memang udah lama ada di dalam wish list saya! Kapan lagi kan bisa milih kado buat diri sendiri? Hihi. Oh iya, masalah seserahan ini memang personal dan sangat tergantung preferensi setiap orang sih, tapi bagi saya yang terpenting adalah kualitas dan fungsi barang ketimbang kuantitas. Jadi buat seserahan di luar makanan totalnya hanya lima box, sedangkan seserahan makanan totalnya enam box yang berisi makanan kesukaan saya. Selain itu saya juga enggak mengikuti "aturan" isi seserahan pada umumnya karena ada beberapa diantaranya yang enggak sesuai dengan keinginan dan kebutuhan saya. 

Sebenernya udah dari tahun lalu saya naksir banget dengan sandal uniknya Tigah. Cuma (lagi - lagi) karena harganya yang bagi saya udah di luar harga standar sebuah sandal, maka saya menuda buat beli. Jadi begitu diminta Ican buat list barang seserahan, Tigah ini termasuk barang pertama yang terbersit di pikiran saya. Oh iya, saran saya buat kamu yang ingin beli Tigah, sebaiknya beli langsung dari toko atau seenggaknya dicoba dulu. Dari pengalaman saya, ukurannya enggak ada yang benar - benar pas di kaki saya. Biasanya size saya antara 38 atar 39. Tapi begitu dipakai, 38 terlalu kecil sedangkan 39 kebesaran di kaki saya. 

Ini juga local brand lainnya yang udah masuk dalam wish list saya, bahkan sejak masih kuliah dulu! Ingat banget setiap ada orang yang punya salah satu modelnya s.rw, rasanya sirik. Haha! Abisnya lucu - lucu banget, mulai dari desainnya dengan pita besar, pistol (aslik ini kepikiran aja ya bikin tas dengan desain ada pistolnya), relic tote bag, hingga terakhir sih si fur ball, yang paling berhasil mengambil hati saya. Buat brand ini, saya juga menyarankan buat membelinya langsung di toko atau menggunakan ukuran yang udah ada. Karena dari pengalaman saya yang memesan custom made (ini alsannya karena yang small terlalu kecil sedangkan yang large terlalu besar, jadi saya minta yang medium), ternyata hasilnya enggak sesuai dengan ekspektasi saya. Beberapa jahitannya enggak rapih dan itu terlihat jelas banget. Sayang sekali padahal stok mereka di toko seperti HGL (Happy Go Lucky) itu sangat rapih dan bagus ketimbang yang punya saya. 

3. Lima
Selama ini kalau beli jam pasti selalu brand luar karena bagi saya belum ada local brand yang terbukti kualitasnya. Tapi Lima ini eksepsional. Pertamanya saya hanya jatuh hati dengan material kayu yang digunakan serta desainnya yang belum pernah saya lihat di brand mana pun. Begitu lihat review-nya pun banyak yang bilang kalau Lima lebih bagus ketimbang Woodka, yang sebenarnya udah bisa terlihat dari harga keduanya yang hampir berbeda dua kali lipat. Akhirnya saya tetap memilih Lima dan berharap bahwa dengan harganya yang udah mampu menyaingi harga brand luar, saya enggak dikecewakan oleh kualitasnya. 




4. Calla
Sebelumnya saya enggak pernah dengar tentang local brand ini sampai suatu ketika saya ke HGL buat mencari suit. Udah beberapa bulan ini, tepatnya setelah liat Cate Blanchett memakainya di Ocean's 8, saya semakin pengen punya sebuah suit. Saya sempat mengira bahwa akan mudah mencarinya secara gitu kan yaa sempat trend lagi dan rasanya selalu ada aja brand yang mengeluarkan salah satu koleksi mereka dengan sebuah suit. Tapi ternyata susah mencari yang fit dengan badan saya. Sampai akhirnya saya hampir menyerah dan malah menemukan houndstooth suit dari Calla ini. Senang! 

Meskipun belum lama saya tau brand ini, salah satu alasan saya memasukkan Koza adalah bisa membuat saya yang tadinya enggak suka dengan leather bag dengan tekstur ala crocodile leather malah jadi suka! Alasan lainnya adalah karena saya yang enggak terlalu suka clutch karena megangnya ribet, tapi malah jadi suka karena desain (yang juga jadi signature) Koza yang memiliki pengait tangan buat pegangan clutch bag-nya. Dan alasan terakhir adalah brand ini punya teman saya, jadi sekalian bantu usaha teman dan bantu promosiin ;)

Satu - satunya barang yang dipilih Ican buat saya tanpa ada intervensi dari saya adalah outerwear dari Taaronka ini. Berhubung saya memang penggemar kimono outerwear dan motifnya lucu, kenapa ditolak? Hehe. 



All photos were taken by Emer Photography and edited by me.

In general, Chloe ini termasuk salah satu brand yang saya kagumi sejak lama karena karakternya yang jika saya bayangkan sebagai seorang perempuan, ia seperti wanita muda yang classy, elegant, humble, dan independent. Salah satu produk yang bikin saya penasaran tapi ((((masih affordable)))) buat dibeli sekarang adalah parfum! Mumpung parfum saya baru aja habis, langsung aja saya bilang sama Ican kalau saya akan memasukkan parfum ini sebagai seserahan. Yaa semacam mengambil kesempatan dalam kesempitan lah ceritanya :))

8. Vans
Samalah yaa seperti beberapa kasus di atas, meskipun Vans udah lama juga jadi salah satu brand yang produknya ingin saya beli, saya masih belum rela mengeluarkan uang saya buat sepasang sepatu ini :)) Untunglah Ican sebagai pencinta sneakers agak insist buat membelikan saya sneakers dan menawarkan saya beberapa pilihan. Setelah compare dengan brand dan model lain, pilihan saya jatuh dengan original model Vans dengan warna yang sering saya pakai salam keseharian saya, mustard! 

Di saat kebanyakan teman saya udah pada punya beberapa tas Kate Spade, saya sampai sekarang masih terus mikir berulang kali buat beli dengan uang sendiri. Terlepas dari berbagai desain dan marketingnya yang memang selalu berhasil bikin saya semakin ingin punya satuuu aja tas dari brand ini. Soalnya masih sayang aja gitu ngabisin uang berjuta - juta hanya untuk beli tas yang saya tau justru akan jarang saya gunakan dan dikeluarkan untuk special occasion aja karena terlalu "sayang" (takut kotorlah, takut cepet rusaklah). Nah, cuma kebetulan banget tiga bulan yang lalu tiba - tiba aja ada surprise sale dari Kate Spade. Begitu saya liat diskonnya lumayan banget! Langsung deh saya pesan melalui Schatzbox supaya tinggal bayar dan langsung dapat barangnya tanpa pusing mikirin gimana caranya shipping atau nitip teman dari US. 

Untuk kotak cincin, saya pesan di Ate House sedangkan untuk seserahan saya pesan dari Atelier Seserahan. Dua - duanya memuaskan dan recommended tapi sayangnya cuma menerima pesanan di Bandung. 

July 30, 2018

Engagement Story #1: How It All Began

"Jadi tahun ini lamaran dulu? Kenapa engga langsung nikah aja?"
"Kan bisa akad dulu, resepsinya enggak apa - apa belakangan"
"Lebih cepat lebih baik loh, enggak baik ditunda - tunda"

Kira - kira begitulah kurang lebih beberapa komentar yang paling sering saya dengar selama enam bulan terakhir ini. Mulai dari yang awalnya baru sekedar rencana sampai ketika sudah bulat tekad saya dan Ican buat mengadakan acara tunangan tahun ini. Eh, enggak deng. Kalau dipikir - pikir lagi, malah komentar buat menyegerakan #IcanOzuHalal udah banyak terdengar semenjak tahun lalu. Lebih tepatnya ketika saya kembali ke Indonesia dan secara official melanjutkan kembali hubungan saya dengan Ican. Bukan cuma karena usia saya yang sudah melewati standar perempuan di Indonesia buat menikah, tetapi juga dengan kondisi saya sekarang yang agak berbeda (baca: sebelumnya single dan sedang ambil S3 di luar negeri) pastilah ada aja yang mikir takut ntar kenapa - kenapa lagi (baca: takutnya saya dan Ican putus lagi). Yaa intinya ketakutannya masih sama aja seperti yang pernah saya tulis di sebuah blog post tentang Perempuan, S3, dan Jodoh. Enggak, enggak ada yang salah kok. Mungkin diri saya lima tahun lalu juga akan melakukan hal serupa kalau melihat teman - teman saya yang udah lama menjalin hubungan dengan pasangannya, terus putus, terus balikan lagi. Dalam hal ini, saya pasti juga gregetan buat bilang, TUNGGU APALAGI SIH?!?! UDAH LANGSUNG NIKAH AJA LAAAH. Tanpa melihat lebih jauh kondisi pasangan tersebut.

Photo by Emer Photography. Edit by me. 

Sebenernya sih yaa, sebelum dikasih tau pun, saya yang-overthinking-dan-mudah-cemas ini sudah memikirkan apa rencana untuk tiga tahun ke depan. Bahkan sebelum saya dan Ican memutuskan buat balikan. Dari awal banget kami udah membahas beberapa hal krusial bagi hubungan kami, yang salah satunya adalah kapan menikah. Saat itu kami berdua setuju bahwa kami akan nikah setelah PhD saya selesai. Pun semisal ternyata kami akan menikah saat saya belum lulus, kami harus siap untuk mengganti status LDR jadi LDM (Long Distance Marriage). Sama halnya dengan manusia yang berbeda - beda, setiap pasangan juga punya prinsip, pemikiran, dan prioritas masing - masing. Bagi saya dan Ican, prinsip kami adalah menghormati dan mendukung pilihan yang sudah dipilih dan dijalankan satu sama lain sebelum kami dipertemukan kembali oleh semesta. Salah satunya adalah Ican mendukung saya untuk menyelesaikan PhD saya tepat waktu dengan hasil yang memuaskan bagi saya, sedangkan saya juga mendukung Ican untuk terus bekerja di tempat yang sudah ia pilih. Jadi dari awal memang enggak ada kata - kata buat "Oke, kita balikan, terus langsung menikah, terus Ican ikut Ozu ke Belanda atau Ozu ikut Ican ke Indonesia". Singkat cerita, rencana nikah kami saat itu masih menunggu saya selesai kuliah.    

Tapi ternyata enggak lama setelah kami bertemu di Indonesia tahun lalu, udah beberapa kali kepikiran buat menaikkan status hubungan kami tahun berikutnya (which is tahun ini). Saya enggak tau apakah ini sesuatu hal yang pasti dirasakan oleh setiap pasangan sebelum mereka menikah, tapi kami sudah berada di tahap sebegitu-yakinnya kalau memang ini udah saatnya untuk ke jenjang berikutnya. Saya pribadi sih mulai ngeh karena makin kesini setiap traveling tuh rasanya kepikiran "Duh pengen deh bisa ke sini juga bareng Ican". Bukannya kepikiran apa - apa, tapi lebih ke keinginan buat berbagi mata, pengalaman, dan kebahagiaan bersama ketimbang sendirian atau dengan teman. Terus beberapa bulan ini rasanya suka sedih sendiri kalau memposisikan sebagai Ican yang sering ke undangan, bukber, atau acara reuni sendirian dimana kebanyakan sahabatnya bawa pacar atau pasangan masing - masing. Padahal doi mah keliatannya santai aja dan enggak pernah ngeluh... cuma aku-nya aja yang baper :'( #duhinipostingankokjadibanyakcurcolnya #monmaapkulagipms #salahinajaterussipms #gapapalahyaa #daripadanyalahinorang. Ditambah pengaruh usia juga kali yaa, semakin tua rasanya semakin enggak mau berjauhan sama orang - orang tersayang (bukan cuma Ican tapi juga keluarga dan sahabat). Intinya mah, dari segi psikologis  memang udah perubahan gitu ketimbang diri saya yang sebelum - sebelumnya.

Photo by Emer Photography. Edit by me. 

Tapi tampaknya semesta memang belum mengizinkan kami untuk menikah di tahun ini. Pada akhir tahun lalu Ican baru aja pindah kerja di sebuah tempat yang ternyata memiliki peraturan yang belum membolehkan pegawainya untuk menikah sebelum keluar SK (Surat Keputusan) untuk pengangkatan pegawai tetap dan penempatan kerja. Sejujurnya saya sempat sedih juga sih begitu pertama kali mendengar dari Ican tentang peraturan tersebut. Eeeeh, enggak taunya sekarang saya bersyukur dan merasa bahwa itu jadi semacam pertanda dari Tuhan buat kami. Karena justru semakin kesini kami semakin yakin bahwa lamaran adalah jalan terbaik dengan kondisi kami berdua saat ini (yang masih menjadi #LDRfighter untuk satu setengah tahun ke depan) ketimbang menikah. Lagi - lagi ya, setiap pasangan punya preferensi masing - masing, termasuk saya dan Ican. Bagi kami yang udah lama akrab dengan LDR, dari yang awalnya cuma lintas kota sampai lintas benua (sampai dua kali pulaaa!), kami sama - sama berpikir kalau udah menikah nanti pengennya sebisa mungkin enggak berjauhan lagi. Kalau pun mentok - mentoknya terpaksa mesti LDM, seenggaknya masih di satu negara yang sama dan frekuensi ketemunya enggak sampai setahun cuma sekali. Dan meskipun ini enggak bisa digeneralisasi karena pengalaman setiap orang berbeda, tapi dari yang saya lihat, baca, dan dengar langsung dari cerita teman - teman saya, LDM apalagi buat newly wed itu rata - rata lebih berat ketimbang orang yang belum berstatus menikah. Walaupun belum pernah merasakannya langsung, dari sekarang aja saya udah bisa membayangkan sih kalau seandainya kami menikah dan harus berjauhan dalam waktu lama pasti akan terasa berkali lipat lebih berat karena enggak dipungkiri ada beberapa tanggung jawab dan kebutuhan yang berbeda dari sebelumnya.   

Photo by Emer Photography. Edit by me. 

"Terusss, kenapa tunangan sekarang?" 
"Kenapa tunangannya enggak nanti - nanti aja begitu udah dekat dengan tanggal pernikahan?"
"Wah, lama juga ya jarak dari lamaran ke akad dan resepsinya... enggak takut kenapa - kenapa?"

"Insya Allah menikahnya tahun depan", setiap mendengar jawaban saya tersebut ketika ditanya kapan nikah-nya, pasti ada aja yang kembali menanyakan salah satu pertanyaan di atas. Lagi - lagi, enggak ada yang salah dengan berbagai pertanyaan tersebut. Malahan sejujurnya nih, lima tahun yang lalu saya pernah mempertanyakan hal yang sama (meskipun cuma ngebatin doang sih) ketika salah seorang teman saya tunangan dan enggak berapa lama pergi kuliah ke luar negeri :)) Anywayyy, bagi kami sendiri alasan mengadakan engagement party tahun ini karena... yaa tanggung aja kalo enggak jadi. HAHA. Maksudnya kaaan ide untuk membuat hubungan kami lebih serius ke tahap selanjutnya (entah menikah atau tunangan) sudah ada dan sempat diobrolkan melalui pertemuan kedua keluarga dari akhir tahun lalu. Toh juga ini kan niat baik untuk selangkah menuju pernikahan. Jadi kenapa enggak dilanjutkan sekalian aja kan?

Memang sih yaa, jodoh enggak ada yang tau. Bisa aja kami dari awal udah siap, tapi ternyata ada unexpected variable yang pada akhirnya mengubah rencana kami, seperti kematian atau tiba - tiba saya amnesia atau Ican mendadak dipelet sama cewek lain sampai akhirnya hilang akal. Terlepas dari itu, sejujurnya kami berdua yang udah tau jelek - jeleknya diri kami masing - masing selama delapan tahun ini, yang udah pernah ngerasain beberapa kali putus nyambung sampe keluarga dan teman - teman kami gemes sendiri ngeliatnya, yang udah pernah coba ngejalin hubungan dengan orang lain tapi tau bahwa yang paling tepat buat kami berdua adalah kami berdua (ini gimana sih kalimatnya kok agak ngebingungin ya, tapi paham kan maksudnyaaa); memang merasa bahwa kali ini satu - satunya yang bisa menggagalkan hubungan kami hanyalah rencana Tuhan #kokagakgeligimanagituyabacanya #tapimemangbegituadanya. Karena kita enggak pernah tau kan yaa sebenernya rencana Tuhan itu apa. Apakah Tuhan memang meridhoi kami berdua atau sedang bermain - main dengan kami. Tapi sejauh ini, saya masih menjadi seorang avid believer bahwa apapun rencana Tuhan, itu adalah yang terbaik. Jadi melalui pengalaman ini jadi reminder buat kami supaya kembali tawakal dan yakin bahwa enggak ada standar yang sama untuk setiap individu maupun pasangan dalam menjalani hidup. Kalau memang jodoh, enggak akan kemana kok :') 

July 02, 2018

Sepuluh Hari Untuk Selamanya

Terkadang sebuah persepsi baru yang sebelumnya tidak terlihat karena kita terlalu sibuk memuaskan keinginan diri sendiri atau terlalu malas untuk mencoba memahami dari sudut pandang lain, akhirnya baru bisa terlihat dan dipahami hanya ketika kita kehilangan seseorang yang kita sayangSebelum tanggal 24 Mei 2018, saya enggak begitu merasa ada yang istimewa dari road trip saya dengan Bang Ardha pada pertengahan November 2017 lalu. Namun siapa sangka, enam bulan kemudian, perjalanan dan kunjungan abang saya tersebut menjadi sebuah perjalanan pertama yang bukan hanya meninggalkan kenangan bahagia, tapi juga kepedihan dan penyesalan. Banyak penyesalan yang terus menerus menggerogoti pikiran saya selama empat puluh hari ini. Seandainya saya bisa kembali ke hari di mana Bang Ardha datang ke Rotterdam, tentu saya akan berbisik ke diri saya saat itu. Zu, it's gonna be your last chance to meet him... So please, try to be the best little sister you could beTapi semua itu pada akhirnya hanya tinggal seandainya dan seharusnya, yang enggak ada satu dari penyesalan saya tersebut bisa diubah sampai detik ini. Salah satu pilihan yang tersisa adalah menceritakan apa yang saya lalui selama sepuluh hari terakhir bersama Bang Ardha. Agar suatu hari nanti jika ingatan ini semakin terbatas dan memori terakhir saya bersamanya semakin sirna, maka mungkin saja ketika membaca postingan ini seluruh ingatan tersebut akan kembali lagi.

Seperti sosoknya yang unik dan hampir enggak bisa dipisahkan dengan musik, rasanya saya pun ingin menceritakan perjalanan kami selama enam hari dengan beberapa lagu yang saya ambil dari sebuah playlist di iPod saya. Sebelumnya saya jarang banget memutar lagu pilihan saya di depan Bang Ardha. Bukannya kenapa - kenapa, sejujurnya saya suka merasa malu, takut selera lagu saya mengecewakan dia. Terdengar berlebihan sih ini, cuma seluruh anggota keluarga saya pun paham benar bahwa selera musik Bang Ardha udah next level banget. Kayanya seumur - umur saya mengenal orang, menurut saya yang bisa mendekati level musiknya Bang Ardha hanya Ayah, Uni Chica, dan Ican. Tapi kali itu, di hari keempat road trip kami, sudah kedua kalinya ia menawarkan buat memutar playlist saya. Yang awalnya "Zu, kalo lo mau puter lagu, sok aja ya" sampai akhirnya "Gw bosen nih sama playlist gw, gantian sama lagu - lagu lo aja, Zu". Dan ternyata diantara beberapa playlist yang dimainkan, satu - satunya yang diputar full dari lagu pertama hingga terakhir adalah playlist yang satu ini karena hampir setiap lagunya cocok dengan selera Bang Ardha. Saya sampai ingat komentarnya di saat playlist ini sedang diputar, "Wah, ternyata lagu - lagu lo enak juga ya, Zu". Maklum deh, mendapatkan sebuah pujian, apalagi soal musik dan fashion, dari Bang Ardha itu adalah sebuah pencapaian tersendiri :)) 

#1: Paris - Friendly Fires
One day, we're gonna live in Paris. I promise, I'm on it. And every night we'll watch the stars. 
They'll be out for us. And every night the city lights. They'll be out for us. 


Sebenarnya bukan Paris, tapi yang pasti adalah sebuah kota di Eropa, yang rencananya akan dijadikan tempat tinggal berikutnya. "Tahun depan gw kayanya bakal resign dari Nielsen buat ambil PhD nih, Zu", begitu kata Bang Ardha ketika kami bertemu dua hari sebelum saya kembali ke Rotterdam pada akhir September 2017. Saat itu dengan penuh semangat, Bang Ardha mengucapkannya beberapa kali, seraya meyakinkan dirinya kembali. Saya sendiri enggak begitu kaget saat mendengarnya. Dan saya yakin, bagi orang - orang yang mengenal Bang Ardha pasti sudah mengetahui bahwa tingkat kepintaran dan kecerdasannya enggak diragukan lagi. Istilahnya tuh kalau saya mendapatkan nilai bagus karena hasil belajar yang mati - matian, kakak saya ini bisa dapat nilai yang sama tanpa belajar. Jadi mendengar rencana tersebut, apalagi selama bertahun - tahun bergelut di dunia riset, mengambil PhD itu tampak seperti sebuah hal yang biasa

Lalu di tengah - tengah percakapan kami di hari itu, tiba - tiba Bang Ardha nyeletuk, "Eh, gimana kalo gw sekalian ke sana ya tahun ini ya buat liat - liat kampus? Sekalian jalan - jalan bareng lo, Zu... Mumpung gw lagi ada jatah cuti yang belum dipake nih". Awalnya saya sempat mengira bahwa itu hanya rencana impulsif kakak saya. Maksudnya, untuk orang sesibuk dan hardworking seperti dirinya, apalagi dengan posisinya saat itu yang sudah menjabat sebagai senior manager, saya tau banget kalau mengambil cuti dadakan untuk dua belas hari bukanlah hal yang mudah. Bahkan belum lama sebelum ide tersebut terucap, Bang Ardha juga sempat bilang kalau dia sedang cukup stress dengan beberapa deadline kerjaannya. Tapi ternyata sehari setelah saya sampai di Rotterdam, Bang Ardha mengabari bahwa dia sudah membeli tiket ke Amsterdam untuk akhir November. Saat itu, saya cukup kaget sekaligus heran. Salah satunya karena saya tau persis kalau kakak saya ini sama sulitnya dengan saya dalam urusan mengambil keputusan, alias plin - plan. Terlebih lagi karena rencana tersebut baru banget terlontar dari dirinya hanya dua hari sebelumnya. Nyatanya, enggak ada sedikit pun keraguan yang terlihat dalam percakapan kami di WhatsApp. Saat itu Bang Ardha hanya menanyakan kapan saya kosong, yang kemudian ditutup dengan kalimat, "See you soon, Bonzuuu!".


#2: You Get What You Give - New Radicals
You've got the music in you, don't let go. You've got the music in you, one dance left. 
This world is gonna pull through. Don't give up, you've got a reason to live. Can't forget. 
We only get what we give.


Semakin mendekati hari kedatangan Bang Ardha, sejujurnya perasaan saya mulai enggak menentu. Di satu sisi, I was undoubtedly happy. Yaiyalah, saya senang dan bersyukur banget selama dua setengah tahun di Belanda udah tiga kali dikunjungi tiga anggota keluarga saya di waktu yang berbeda - beda: Gladyz, Bunda, lalu sekarang Bang Ardha. Tapi di sisi lain, saya enggak bisa bohong kalau ada sebuah kekhawatiran apakah perjalanan ini akan berjalan baik seperti kedua perjalanan sebelumnya. Memang sih, sebelum ini saya udah pernah road trip bareng Bang Ardha di UK dan selama di perjalanan enggak ada rintangan yang berarti. Namun tetap ada beberapa hal kecil yang cukup mengganggu pikiran saya karena peraturan lalu lintas di Eropa dan UK kan berbeda, seperti left side car driving (yang kali ini baru dicoba oleh kakak saya), emission sticker EU, rambu dan etika di jalan, parkir, dan lainnya. Belum lagi kali ini kami akan lintas negara, yang mana ada beberapa peraturan berbeda di tiap negara yang kami tuju. Tapi berkat bantuan kedua teman saya yang udah sering road trip di Eropa (thanks Mas Andie dan Mba Vicky!) dan bersedia menjawab berbagai pertanyaan amatir kami, serta tingkat adaptasi Bang Ardha yang begitu cepat dalam menguasai mobil maupun jalan; alhamdulillah banget selama road trip ini enggak ada halangan yang berarti.

Bahkan sebelum perjalanan dimulai aja kami udah diberi rezeki yang enggak terduga: mobil yang kami sewa tiba - tiba di-upgrade dua kali lipat lebih bagus dengan membayar harga sewa yang sama. Jadi ceritanya sewaktu kami tiba di Sixt, rental car yang kami pilih, ternyata cuma ada satu mobil yang available di sana dikarenakan mobil yang lain sedang dipasang tire chains. Nah, seandainya kami telat beberapa menit, mungkin kami harus menunggu lebih lama untuk mobil berikutnya. Bahkan bisa jadi kami harus menunda road trip kami. Soalnya enggak lama setelah kami tiba, ada customer yang datang dan harus menunggu dengan ketidakpastian untuk mobil berikutnya. Tapi berhubung saya enggak begitu paham dunia otomotif dan enggak pernah jadi pengemudi, rasa senangnya lebih karena lega enggak harus menunggu lama dan satu lagi karena melihat kakak saya yang enggak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. "Wahhh, hoki banget sih kita, Bonz!", katanya dengan senyum lebar di wajahnya sambil mencoba beberapa fitur di mobil berwarna putih Renault seri Koleos. Ketika itu saya enggak langsung bilang ke Bang Ardha, tapi melihat kepribadiannya yang sangat generous, mungkin ini salah satu balasan dari semesta akan kebaikannya selama ini ke banyak orang. 




#3: Spoken - Pure Saturday 
Grass in front of us won't barry the road we passed like before. Wind blowing softly, caressing our empty heart. So we'll never be lonely anymore. We're taking the long path, our steps are moving together. Sunset is calling... sunset is calling again.


Kalau ditanya momen favorit selama perjalanan ini, bagi saya itu adalah saat di mana kami menyusuri jalan - jalan lokal ketimbang highway. Selama road trip ini kami memang lebih banyak mengambil highway karena biasanya lebih mudah, cepat, aman, dan tentunya precise di Google Maps. Namun untungnya ada beberapa kali di mana kami harus melewati jalan lokal yang pemandangannya jadi feast for the eyes bagi kami yang biasa tinggal di kota besar. Jika cuaca di luar sedang bersahabat, sesekali saya membuka sedikit kaca jendela, lalu menghirup dalam - dalam udara sejuk dan segar di luar yang seketika menyegarkan seisi otak saya. Di sela - sela kesempatan langka tersebut, ada saatnya kami sama - sama bernyanyi sambil menikmati mahakarya sang pencipta di sekitar kami. Seperti waktu di mana kami menghayati salah satu lagu lamanya Pure Saturday ini. 

 A word can hold the secret of the universeee... 
And silence is the hardest thing... for us to unveil. 
Hu-u-u-u-u-u... 
Together we'll reach happiness, part the ocean and through the sky... 
And silence is the hardest thing for us to unvei-e-i-e-i-e-i-l 

Ada juga kalanya jalanan yang kami lalui dipenuhi oleh kabut tebal dengan pepopohanan cemara yang beraneka ragam warnanya. Hijau tua, kuning muda, kuning tua, merah maroon; yang di ujung dedaunannya terlihat butiran - butiran air hujan yang sedang jatuh membasahi bumi semesta. Seraya memecah kesunyian, kami pun seketika menjadi Banda Neira abal - abal. Sementara Bang Ardha terdengar sangat cocok sebagai pengganti Ananda Badu karena pengalamannya juga menjadi vokalis Delay Monday, band yang dibuat olehnya bersama teman - teman kuliahnya. Sedangkan suara saya yang pas - pasan... jangan diharapkan bisa mengganti Rara Sekar! Enggak menjadi perusak suasana di sore yang indah itu aja sudah membuat saya sangat bersyukur, kok :)) 

 Semesta bicara... tanpa bersuara. Semesta ia... kadang buta aksara. 
Sepi itu indah-h-a-a, percayalah... Membisu itu... anugerah. 
Seperti hadirmu di kala gempa-a-a-a... jujur dan tanpa bersandiwara. 
Teduhnya seperti, teduhnya seperti... hujan di mimpi. Berdua-h-a-a, kita berlari 




#4: Quiet - John Mayer 
Midnight, lock all the doors and turn out the lights. Feels like the end of the world. There's not a sound. Outside the snow is coming down. Somehow I can't seem to find the quiet inside my mind. Daylight is climbing the walls. Cars start and feet walk the halls. The world awakes and now I'm saved. At least by the light of day. At least by the light of day. 


Sebenarnya ada satu kekhawatiran lainnya yang sempat terbersit di pikiran saya ketika kami memutuskan untuk road trip berdua, yang pada akhirnya sempat kejadian juga ketika memasuki hari kelima. Enggak bisa dipungkiri kalau lahir di keluarga dengan saudara yang banyak itu mau enggak mau membuat hubungan dengan masing - masing saudara saya akan berbeda 'porsinya'. Apalagi dengan kondisi saya yang anak "tengah", berbeda lima tahun dengan Bang Ardha dan empat tahun dengan Ali, juga mempengaruhi saya agak sulit awalnya untuk bisa dekat dengan grup atas atau bawah saya. Belum lagi kenyataan bahwa kami berenam enggak terus menerus menghabiskan waktu di rumah yang sama karena pendidikan yang kami tempuh berada di luar Jakarta, di waktu yang berbeda - beda juga. Ibaratnya begitu Bang Ardha udah kembali ke Jakarta, justru giliran saya yang ke Bandung. Sebuah alasan lainnya yang membuat kami agak sulit untuk bisa dekat. Sekalipun udah bisa sama - sama ngumpul di Jakarta, ketiga kakak saya langsung menikah dan berkeluarga di waktu yang berdekatan. Semenjak itu saya jadi lebih dekat dengan kedua adik saya karena lebih banyak waktu yang kami lalui bersama.  

Tapi November 2016 lalu, untuk pertama kalinya setelah entah beberapa tahun lamanya, akhirnya saya merasa kembali dekat dengan ketiga kakak saya, termasuk Bang Ardha. And for the first time in our lives, we finally let ourselves open up and be vulnerable to each other. 'Dekat' bukan hanya karena keberadaan fisik kami, tapi juga dalam arti kami bisa membuka perasaan satu sama lain. Walaupun tentunya belum semua hal bisa langsung kami ceritakan, melihat kakak saya udah mau menceritakan hal yang selama ini jarang dia tunjukkan aja, saya udah merasa senang. Jangankan menunjukkan vulnerability kami, kalau ditanya kapan kami berantem, yang mana satu sama lain blak-blakan bilang kesal; saya bisa menjawab itu cuma terjadi satu kali, tepatnya ketika saya masih SMA. Setelah itu kami enggak pernah sekalipun adu mulut atau bahkan hanya sekedar mengutarakan kekesalan kami. Kata Ayah Bunda, itu karena kami berdua adalah dua dari tiga anak di keluarga yang dikenal suka memendam perasaan.







Sayangnya, selain sifat kami tersebut, menurut 16 personality Myers Briggs pun hanya ada satu komponen yang sama dari personality kami berdua, yaitu sama - sama introvert yang sangat reserved dan privateSaya INFJ, Bang Ardha ISTP. Selebihnya yaa kami berdua sebenarnya saling bertolak belakang. Saya lebih menggunakan feeling, kakak saya menggunakan logika. Saya orangnya harus terencana, kakak saya spontaneous. Alhasil, perbedaan tersebut cukup mempengaruhi perjalanan kami kali ini. Saya yang biasanya udah harus menetapkan itinerary ternyata belum bisa segitunya fleksibel dalam menghadapi Bang Ardha yang cenderung mengikuti kondisi selama di perjalanan. Salah satu yang krusial sih ketika kami harus beberapa kali ganti kota, yang ujungnya cancel dan booking hotel dadakan. Selain basic personality kami, gaya traveling kami pun juga berbeda. Saya yang lebih suka mengeksplore sebuah tempat sambil foto - foto, kakak saya lebih suka belanja dan jalan - jalan santai. Jadi di saat kami berada di suatu kota, beberapa kali kami memutuskan untuk berpisah sesaat. Bang Ardha yang lebih memilih untuk mengunjungi toko tertentu yang menarik baginya, sedangkan saya berjalan keliling agar lebih banyak melihat sisi lain dari kota tersebut. Enggak ada yang salah sih dari berbagai perbedaan tersebut. Yang ada hanya kurang beruntung. Berbeda dengan perjalanan saya sebelumnya dengan Bunda dan Gladyz, yang pasti ada aja satu atau dua kota favorit yang meninggalkan kesan karena pengalaman kami dan karakteristik kotanya yang lovable; perjalanan kali ini enggak memberikan kesempatan tersebut. Dan di tiga hari terakhir sebelum kami tiba di penghujung perjalanan, terasa jelas perubahan suasana di sepanjang jalan yang kami lalui: lebih sunyi dan lebih panjang dari sebelumnya. Sama halnya dengan perubahan raut wajah kami yang menyiratkan kekecewaan. Entah kecewa dengan keadaan atau kecewa dengan diri sendiri atau kecewa satu sama lain, namun enggak ada satu pun dari kami yang akhirnya mengungkapkan kekecewaannya. 


#5: Pulang - Float
Dan lalu... rasa itu tak mungkin lagi kini tersimpan di hati. 
Bawa aku pulang, rindu. Bersamamu. 
Dan lalu... air mata tak mungkin lagi kini bicara tentang rasa. 
Bawa aku pulang, rindu. Segera. 
Dan lalu... sekitarku tak mungkin lagi kini, meringankan lara. 
Bawa aku pulang, rindu. Segera. 


Personally, saya suka Wroclaw dan Salzburg simply karena keduanya sama - sama kota kecil, cantik, dan saat kami berkunjung sedang diselenggarakan christmas market, yang keberadaannya terasa magical sekaligus memberi kehangatan di tengah - tengah temperatur yang semakin hari semakin menurun. Tapi sayangnya pengalaman yang kami dapatkan di kedua kota tersebut justru kurang menyenangkan. Ketika baru sampai di Wroclaw tiba - tiba aja saya sakit enggak jelas. Saat itu saking khawatirnya, Bang Ardha sempat menawarkan untuk enggak melanjutkan perjalanan selanjutnya dan kembali ke Rotterdam. Untungnya setelah istirahat seharian di Wroclaw, kondisi badan saya berangsur membaik. Sedangkan ketika di Salzburg justru kondisi Bang Ardha yang drop karena menyetir sendirian selama enam hari. Salah satu hal yang sebenarnya juga menjadi penyesalan saya sampai detik ini. Seandainya saya bisa menyetir saat itu, pasti bisa mengurangi keletihan yang kakak saya rasakan. Dan enggak menutup kemungkinan, terlepas dari sosoknya yang terlihat kuat, saat itu ia juga sedang mengalami rasa sakit di dalam tubuhnya yang enggak mau dirasa - rasa olehnya. Tapi Bang Ardha yang dari dulu selalu enggak mau nyusahin orang lain, selama di perjalanan ini pun enggak pernah sedikitpun mengeluh, selain di malam terakhir sebelum kami menuju Rotterdam. Saat itu sambil meminta maaf karena enggak jadi ke Halstatt, ia sempat mengeluh badannya sudah terlalu lelah.





Ketika perjalanan pulang dari Salzburg menuju Rotterdam, kami sempat singgah semalam di Frankfurt untuk sekalian bertemu Kak Yuyu, salah satu sahabatnya Bang Ardha yang juga kebetulan saat itu sedang ada business trip. Di situlah yang juga menyadarkan saya bahwa I wasn't yet trying to be the best sister I could be. Sosok Bang Ardha yang pendiam dan raut wajahnya yang letih dalam dua hari terakhir seketika berubah 180 derajat ketika kami bertemu Kak Yuyu. Benar - benar hilang, tergantikan oleh dirinya yang ceria. Di satu sisi saya lega melihat wajah kakak saya kembali ceria dan banyak ngobrol selama di perjalanan. Di sisi lain ada sedikit kekecewaan yang muncul karena sebagai adiknya sendiri saya enggak bisa terus menerus mengeluarkan sisi Bang Ardha tersebut selama sepuluh hari bersamanya, terutama di saat - saat terakhir kami bertemu. Seandainya saya terlahir sebagai orang yang extrovert, suka ngobrol dan expert dalam membuka topik pembicaraan baru, maybe there wouldn't be any road we passed in complete silence. Tapi diantara berbagai seandainya, ada satu yang benar - benar saya ingin ubah saat itu. Seandainya saya bisa lebih dewasa untuk bisa melihat beberapa hal dari sudut pandang Bang Ardha ketimbang sudut pandang saya, mungkin saya engga akan kecewa saat itu dan enggak mempengaruhi sikap saya yang terlihat lebih dingin ke kakak saya di hari - hari terakhir kami bertemu. No, we didn't fight nor badmouthing each other. But I wish we had one, rather than be in silence and pretending that we were fine. Karena mungkin menunjukkan kekesalan dan kekecewaan enggak selamanya salah. Mungkin jika saat itu kami bisa lebih terbuka satu sama lain, ketika di saat terakhir kami bertemu di Schiphol, saya akan banyak bertanya tentang hal - hal yang seharusnya saya tanya, kami akan berpelukan lebih erat, dan saya akan bilang "I love you, Bang... makasih udah nemenin aku di sini dan memberi salah satu road trip paling menyenangkan".  




#6: Rise and Shine - The Cardigans
I raise my head and whisper, "rise and shine". Rise and shine, my sister. I want to see the wounded moon. I want the sea to break through. I want it all to be gone tomorrow. So I've come to say goodbye...



There are places I'll remember all my life though some have changed. Some forever not for better some have gone and some remain. All these places had their moments. With lovers and friends I still can recall. Some are dead and some are living. In my life I've loved them all. 

Seperti yang tertulis dalam sepenggal lagu-nya Beatles, setiap kota yang pernah saya kunjungi bersama keluarga dan teman pasti akan meninggalkan memori tersendiri. Begitu juga dengan Wolfsburg, Berlin, Wroclaw, Auschwitz, Salzburg dan Frankfurt; mungkin sampai beberapa tahun - bahkan puluh tahun ke depan - akan terus mengingatkan saya akan perjalanan ini. Memori yang akan memberikan rasa sakit sekaligus kebahagiaan tersendiri bagi saya karena menjadi tempat di mana saya melewatkan waktu terakhir bersama Bang Ardha.

June 22, 2018

A Final Goodbye

It was Thursday four weeks ago when, for the first time in my life, I felt like I was living in a dream. Not a beautiful one that got me smiling after waking up, nor a creepy one that made me relieved that it was not real. But one which jolted me to awakening, instantly eliciting a pain within my heart that was so sharp, I found myself unable to go back to sleep after crying. "When would the day come? who would be the first to break my heart?" Such thoughts would enter my mind time and time again... until that day, when I eventually got the answer.

But this time, a reality felt like a dream and was even worse than the worst nightmares I had in my life. At first, that day was almost like any other day. I woke up in the afternoon, the habit that I built every Ramadhan in Europe to shorten the 18 hours fasting. Then I turned on the mobile data of my phone, the habit that I built after waking up, while waiting for the notifications that popped up when the internet was on. This was the moment when I had this bad feeling. I found there were already several missed calls from my sisters. Something that was unusual because it was from both of my sisters. But the worst moment was when I checked my family's group WhatsApp, and found the last chat that came from my father. All of a sudden, it felt like my heart was being pushed by tons of huge stones, then instantly crying out loud. It turned out to be the loudest and longest cry I have ever done in my life.


I never thought that it would be Bang Ardha, my older brother who was just above me, to be the first one who left our family. The one who has been well-known and adored by his family and friends for his "perfection". Even I was jealous of him because he was indeed the "golden kid" of the family. Intelligent (both academic and non-academic), athletic, and musically attuned; basically he's the gifted one who was good at everything he did. And yet, he stayed humble and never like to brag himself upon all his perfection. In addition to my admiration towards him in general, I was especially in awe of his perseverance. I can safely say that next to my parents, he was the strongest person I had ever known. He was a real fighter who tried his best to fight the battles that not everyone, including myself, could face, let alone won. 

In the end, though, he proved that while it might be his perfection that made him admired, it was his kindness that had earned him the love of many people and it was his strength that defined him for those who knew him well. And I think even God loves him so much that he was taken at the right time and also in the holy month (which is also 'his month'; Ardha means Anak Ramadhan). No words can describe how much I regret that the last time we met I didn't hug you so tight nor directly say to you that I really really really love you, Bang. I never thought I would experience a loss so deeply to the point that I almost felt like I was going back to the days when I was inside the black hole. But I know this isn't what you would want to see from there nor what you taught me. Besides, I'm an avid believer that God's plan is always better than our plans (I have already seen that, anyway). Well, see you on the other side, big bro! In the meantime, I'll see you in my dreams, Bang ❤

May 20, 2018

Early Melancholy Summer

There are times where I am overwhelmed by the beauty thuniverse has to offer. It feels as if I can take every single thing around me into my senses. The chirping of birds that is also the first sound I heain the morning. The morning sunlight that comes through the latticed window and reflected off of the mirrored cut-ins along my bedroom walls. The sound of wind rustling through the crepe myrtle trees and how it releases the flower petals, flying them away before eventually letting them fall to the earth. The summer breeze that gently kisses my face. The heavenly scents of lilacs in bloom. The wild flowers along the cycling path to campus, occasionally made more apparent by the afternoon sunlight. The shadow of dancing trees that accompany me while I cycle home. The park full of daisies and the ducks swimming on the pond within or sometimes just lazily lay on the grasses. The kindof sceneries that often brings particular images into my head which had surfaced long, long ago. I should be grateful with all the beauties that nature has given me. I should be completely pleased. But why is there also anguish when it is the time to celebrate such a colourful season? My mood blackened as a familiar, yet unpleasant feeling rises from an unknown place. I wonder what kind of sin I committed in my previous life that even in festive season like this, I'm being so melancholic? Part of me feelthe joy, but the other oddly feelmisery

April 29, 2018

April: The Month of Colors, Flowers, and Friends

Dari awal tahun 2018, saya udah punya feeling yang kuat bahwa waktu akan terasa semakin cepat di tahun ini. Lebih tepatnya sih begitu melihat PhD timeline untuk tahun ketiga ini yang terlihat seperti mengejar - ngejar saya saking banyak-nya target yang juga membutuhkan effort lebih tinggi dari tahun pertama dan kedua. Pada nyatanya, Januari dan Februari terasa berjalan lebih lama dari yang saya bayangkan. Kayanya ada pengaruh juga sih dengan kondisi cuaca dan temperatur yang masih sangat dingin dan bahkan masih bersalju di akhir Februari. Biasanya hard times feel longer than good times, ya kan? Sebaliknya, Maret dan April terasa berlalu begituuu cepat. April sih yang paling bikin saya sampai bilang, "hah, udah minggu terakhir aja nih?!". No kidding, the month has gone by so fast! Bahkan target saya untuk bisa publish lima blog post tiap bulan aja kayanya enggak tercapai nih di bulan ini (walaupun masih ada sedikit kemungkinan sih kalau saya kejar tiga hari ini, heheh). Baik karena riset yang lagi hectic maupun berbagai rencana dengan teman - teman saya, membuat otak ini udah terbagi - bagi fokusnya. Nah, mumpung hari ini adalah hari 'tenang' dan semua to-do-list saya udah dilakukan, saya akan sedikit memberi update tentang apa aja yang dilalui di bulan ini. Dan mengapa April menjadi salah satu bulan favorit saya di tahun ini, terlepas bahwa bulan ini merupakan awal dari musim semi yang sebenarnya.






Kalau diingat kembali betapa dinginnya akhir Maret lalu, rasanya masih enggak percaya di akhir pekan pertama April tiba - tiba aja temperatur naik hingga 25 derajat! Antara senang enggak senang sih. Di satu sisi senang karena akhirnya hangat dan bisa keluar cuma menggunakan satu layer pakaian, namun di sisi lain juga perubahan suhu yang drastis ini agak terlalu ekstrim bagi saya. Maksudnyaaa, enggak bisa gitu naik cuma sampai 22 derajat atau seenggaknya masih ada semilir angin jadi enggak panas banget. BM banget ya, hahah! :))) Anyway, di akhir pekan yang sama, saya dan beberapa teman program doktoral lainnya sudah merencanakan dari sebulan sebelumnya untuk pergi piknik. Lebih tepatnya sih saya dan Mba Vicky, yang sama - sama udah penat dengan riset kami dan enggak sabar pengen jalan - jalan. Haha! Pilihan piknik kali ini adalah Japanse Park, sebuah taman publik di Amstelveen yang terletak di suburb Amsterdam. Konon katanya sih taman ini memang dibuat sebagai simbol kerjasama antara Belanda dan Jepang yang sudah terjalin selama 400 tahun lamanya. Di taman ini juga, setiap awal April (kalau tahun ini jatuh di tanggal 7 April), diadakan Cherry Blossom Festival untuk merayakan datangnya musim semi dan juga sakura yang mulai bermekaran. Berhubung dari awal kami hanya berencana untuk 'hanami', maka kami memutuskan untuk datang tanggal 8 dengan harapan bahwa pengunjung yang datang di tanggal itu enggak sebanyak seperti hari sebelumnya.

Tapi nyatanya pengunjung yang datang di hari itu tetap aja banyak banget! Hampir di setiap spot pasti adaaa aja yang menggelar tikar (atau tanpa alas apa pun) di bawah pepohonan sakura yang berwarna putih dan merah muda. Entah hanya berdua, bersama keluarga atau teman - teman, yang jelas taman ini memang terasa hidup sekali. Ada yang langsung membuka bekal untuk makan siang (seperti kami, haha!), ada yang asik baca buku, ada yang tidur, ada yang main kesana kemari, ada yang foto - foto (meski susah sih buat dapat hasil full-body portrait yang bagus karena terlalu banyak orang *curcol*). Kami menghabiskan waktu di sana sekitar tiga jam dan lanjut ke Amazing Oriental di Delft yang paling lengkap dan terbesar seantero Belanda. Setibanya di sana, kami beli beberapa bahan untuk masak dan.... es krim Durian! Baru pertama kali saya coba es krim Durian di Belanda dan ternyata rasanya enakkk! Setelah itu lanjut ke Pempek Elysha di Den Haag yang terkenal di kalangan orang Indonesia di sini. Pokoknya lengkap banget rasa senangnya di hari itu. Padahal kalau dipikir kan cuma piknik dan makan di kota sekitar Rotterdam. Rupanya perpaduan piknik saat cuaca sedang cerah, teman - teman yang menyenangkan, sakura yang begitu cantik, serta makanan yang enak (ternyata) sudah cukup untuk membuat seisi kepala kembali refreshed dan hati menjadi senang :)





Rencana lainnya yang pasti saya lakukan setiap kali musim semi tiba, seenggaknya sih ketika di Inggris dulu dan dua tahun terakhir di Belanda, adalah sepedaan ke countryside. Semenjak di sini, saya ketagihan buat mengunjungi Lisse untuk tulip hunting. Secara gitu kan yaa di pertengahan April kota ini dipenuhi oleh berbagai ladang tulip lokal yang sedang bermekaran. Lucunya, secara enggak sengaja, saya selalu mengunjungi Lisse dengan tiga teman saya lainnya. Dua tahun lalu bersama teman Planologi (bisa dilihat di postingan ini), sedangkan tahun lalu (yang belum sempat saya posting di sini karena selalu ditunda mulu huhu) saya pergi bersama teman - teman dari IHS. Kali ini saya pergi dengan dua flatmate saya, Wulan dan Noni, serta Nelsa (temennya Wulan yang ternyata adalah teman SMA adik saya! Sungguh dunia sempit sekaliii).

Tapi bedanya, untuk pertama kalinya setelah melewati tiga kali musim semi di Belanda dan selalu bilang ke orang - orang kalau saya lebih suka sepedaan keliling Lisse ketimbang masuk ke Keukenhof yang sangat touristy, tahun ini saya memutuskan untuk melakukan sebaliknya. The one and only reason I did that was just for the sake of curiosity. Alias supaya enggak penasaran lagi aja bentuk taman dan rupa bunga - bunga yang ada di sana seperti apa. Yaaa sebenarnya sih sebelum ke sana juga udah liat foto teman - teman saya yang udah berkunjung lebih dulu. Jadi kurang lebih sebenarnya saya udah ada gambaran kalau si Keukenhof ini sebelas dua belas laaah sama Taman Bunga Nusantara di Puncak. Dan bener aja sih, memang mirip tapi ini versi yang lebih besar, ramai, dan jenis bunga yang ada pun lebih beragam.





Sebenarnya rencana awal kami sempat ingin bersepeda dari Leiden Central Station. Tapi mengingat pengalaman saya tahun lalu sepedaan dan berujung tepar duluan begitu nyampe Lisse, akhirnya kami memutuskan untuk ke Keukenhof aja dan menyewa sepeda di sana. Begitu sampai di Keukenhof yang saat itu super panas dan surprisingly lebih padat dari ekspektasi kami, membuat pergerakan kami pun juga lebih lambat dari rencana awal. Padahal harapan utama kami memilih hari Rabu untuk datang ke sana adalah supaya menghindari gerombolan turis. Eh, enggak taunya tetep aja ramai juga. Yasudahlah yaa memang sudah menjadi resiko mengunjungi salah satu world's top tourist attraction, heuuu! Lalu kesimpulannya, apakah worth it bayar 17 euro buat masuk Keukenhof? Hmm, sejujurnya dari awal sih ku  enggak mengharapkan apa - apa selain bisa foto ala - ala tanpa terlihat kucel dan jilbab berantakan. HAHAH. Karena agak susah yaa buat bisa terlihat cakep di foto kalo abis sepedaan *monmaap ku memang semureh itu aslinya, wkwk*. Selain itu juga ada beberapa spot lucu yang memang sengaja dibuat untuk background foto ala - ala. Tapi sisanya sih sejujurnya B(iasa) aja sih. Ku tetep menjadi tim "sepedaan keliling Lisse buat mengunjungi ladang tulip lokal" ketimbang masuk ke Keukenhof. Cuma yaa balik lagi sih, sekali seumur hidup bayar buat masuk ke sana rasanya enggak apa - apa. Biar enggak penasaran aja :)





Saya lupa pastinya kapan pembicaraan tentang rencana 'liburan bareng sebelum puasa' mulai muncul  antara saya dan Likha, junior saya di Planologi ITB yang saat ini lagi mengambil program master di jurusan yang sama dengan saya. Mulai dari awalnya ingin ke Southern France namun setelah pertimbangan ini-itu, malah jadi berbelok ke Italy. Berhubung masih ada satu kota yang dari dulu dimasukkan ke dalam bucket list saya dan belum sempat dikunjungi saat road trip Italy dua tahun lalu, maka saya setuju dengan ide ke sana. Apalagi masih sama - sama negara Mediterania, yang menyuguhkan dua hal utama yang enggak ada di Belanda: pegunungan dan pantai (perlu ditekankan definisi pantai di sini adalah pantai yang hampir mendekati "standar" laut yang ada di Indonesia). Dan sesungguhnya, seperti yang sudah saya ungkapkan berkali - kali di sini maupun di Instagram, melewati winter yang begitu dingin dan panjang membuat saya ingin sekali pergi ke pantai dan memiliki warna selain monokrom. Dan entah kenapa, setelah menonton Call Me by Your Name, hasrat untuk ke Italy semakin besar :))





Berhubung lagi sama - sama sibuk, rencana trip ini seperti 'antara ada dan tiada'. Sampai akhirnya awal April dibicarain lagi, kali ini bersama dua "Plano(logi) babes" lainnya yang juga ikut trip ini. Dan tanpa babibu kami langsung beli tiket pesawat yang paling murah. Alhamdulillah banget meskipun tinggal H-18, kami masih bisa menemukan tiket PP dari Belanda ke Italy dengan total 76 Euro! Padahal biasanya dengan harga segitu hanya untuk sekali jalan, bahkan enggak jarang bisa mencapai ratusan. Setelah itu kami pun mulai menyusun itinerary selama enam hari. Nah, karena dari awal tujuan utama saya hanya untuk ke Venice dan ingin melihat pantai, saya memutuskan buat extend di Venice hingga tiga malam. Sedangkan tiga Plano Babes lainnya sudah berangkat ke kota lain dan kami bertemu lagi di Cinque Terre pada hari keempat. Biasanya sih saya paling enggak mau ke tempat yang udah pernah saya kunjungi sebelumnya, tapi berhubung dua tahun lalu ketika saya ke Cinque Terre waktunya sangat terbatas dan kurang puas mengeksplore desa - desa di sana, saya pun setuju aja buat stay dua malam. Toh, pemandangan desa warna - warni dengan berlatarkan pegunungan hijau dan laut biru rasanya enggak akan pernah membosankan, yegak? Ahh, nanti deh di postingan terpisah akan saya ceritakan lebih banyak tentang perjalanan ke Italy ini yaa, terutama tentang Venice dan Burano! ;)





Kalau ada kata - kata yang menggambarkan cerita saya di bulan April tahun ini, maka saya memilih: warna, bunga, dan teman. Tiga hal yang berbeda tapi sama - sama bikin saya senang dan sudah lama saya nantikan sejak awal tahun ini. April membuat saya hampir lupa rasanya musim dingin yang begitu menusuk, begitu panjang, serta kadang membuat sekeliling saya terasa sangat sepi. Dan sejujurnya, ada perasaan sedih ketika mengetahui bahwa April akan segera usai. Ketika berbagai jenis bunga dengan rupa dan warna akan segera terganti dengan dedaunan hijau. Ketika angin semilir musim semi akan terganti dengan udara kering musim panas. Ketika waktu akan terasa lebih cepat berlalu hingga mencapai waktu di mana musim gugur hampir tiba dan segalanya akan kembali berubah. Tapi kata orang bijak, enggak usah terlalu banyak memikirkan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang maupun apa yang udah terjadi di masa lalu. "Be present and live in the moment", they said. Meskipun enggak bisa selalu dan sepenuhnya hidup dalam masa kini, April adalah salah satu waktu di mana saya banyak melalui hari untuk menikmati dan mensyukuri apa yang sedang saya rasakan, lihat dan hirup. Semoga April juga menyenangkan buat kalian, yaa! :)