Cerita di Musim Semi

Awalnya postingan ini ditujukan untuk membahas betapa menyenangkannya cuaca di sini selama tiga hari kemarin hingga membuat saya menghabiskan banyak waktu di luar rumah. Sepedaan keliling sembari mencari pepohonan yang sedang berbunga. Duduk santai sambil baca buku di taman. Jalan ke supermarket sambil jajan cemilan dan minuman segar. Dan mencoba untuk kembali menyukai lari sore. Namun ketika mengedit beberapa foto sambil merangkai kalimat, ada sesuatu yang mengganjal. Rasanya ada cerita lain yang ingin saya sampaikan, yang lebih dari sekedar basa - basi tentang cuaca atau pergantian musim. Sebuah cerita yang mungkin terlalu suram untuk diceritakan di suatu hari yang cerah di musim semi, apalagi disertai dengan foto warna - warni. Tapi anggap saja ini sebuah keanomalian yang normal seperti yang ditemukan di novel - novel Haruki Murakami.


Baru - baru ini saya mengobrol singkat dengan salah seorang sahabat lama. Kami jarang bertemu semenjak saya di Belanda, tapi hampir setiap kali pulang pasti kami janjian untuk berbagi cerita kehidupan masing - masing ketika makan malam atau ngopi sore. Sayangnya ketika saya pulang bulan lalu, kami enggak sempat ketemu sehingga saya enggak tau kabarnya selama kurang lebih setahun ini. Yang saya tau hanya sebatas apa yang terlihat di media sosialnya. Sampai akhirnya suatu hari saya melihat postingannya yang menyiratkan secara jelas bahwa kehidupannya masih sama seperti yang ia jalankan selama beberapa tahun kemarin. Di saat itu lah saya menyapanya kembali, menanyakan kabarnya. Setiap kali kami bertemu memang cerita kehidupannya hampir selalu sama dengan permasalahan yang itu - itu lagi. Di satu sisi ia sudah jenuh tapi di sisi lain belum menemukan jalan keluar. Hingga belakangan ini kondisi tersebut akhirnya membuatnya merasa malu dengan dirinya sendiri. Tapi di tengah - tengah keseriusan yang terkandung di dalam tulisannya itu, ia juga menyelipkan kalimat yang kurang lebih mengisyaratkan seperti ini: untuk sekarang, jika ingin melihat hal - hal yang menyenangkan, dia cukup melihat kehidupan saya saja. Saya paham benar itu adalah sebuah candaan yang biasa ia lontarkan setiap kali kami bertemu. Biasanya saya ketawa aja tanpa tersinggung karena saya tau itu hanya sebuah godaan antar teman. Tapi kali ini, untuk pertama kalinya, saya meringis. 






Beberapa bulan ini saya semakin merasa hidup saya seperti seekor hamster yang sedang berlari di dalam tread-wheel. Selalu berlari kesana kemari untuk mencari jalan keluar tapi berujung di tempat yang sama. Tiga tahun mengerjakan hal yang sama, melakukan rutinitas yang sama, menghadapi siklus kehidupan yang sama, menemukan problematika yang sama, mendapatkan solusi temporer yang sama, merasakan ketakutan yang sama, menangisi hal yang sama, merenungi hidup dari perspektif yang sama, lalu mencoba bangkit kembali dengan cara yang sama. Jika dipikir - pikir sebenarnya kami sama - sama berlari di tempat tanpa ada perubahan. Sama - sama menjalani kehidupan yang monoton dan stagnan. Bedanya hanya kemonotonan hidupnya mungkin terlihat jelas di mata orang lain, sedangkan kemonotonan hidup saya bisa disamarkan. Misalnya melalui foto - foto indah yang terpampang di postingan ini atau tulisan basa - basi tentang cuaca yang cerah dan pergantian musim yang lebih baik. Siapa yang tau jika dibalik foto atau tulisan yang terlihat menyenangkan tersebut ada sebuah kepedihan, kan?  






Tapi enggak kok. Semua pemandangan ini terlalu cantik hingga sayang rasanya untuk dinikmati dengan kepedihan :)) Dan sesungguhnya, ketika mengambil foto - foto ini, saya berharap April akan menjadi awal manis di mana semesta akan berbaik hati untuk bisa membuat pucuk hidup saya bermekaran dan menjulang seperti bunga - bunga di musim semi. Bulan ini selalu mengingatkan saya akan sebuah percakapan di akhir bulan Desember dengan salah seorang teman saya yang berkewarganegaraan Dutch. Saat itu saya baru beberapa bulan tinggal di sini dan saya sempat bilang ke dia kalau saya enggak sabar untuk segera tahun baru supaya bisa lebih semangat. Tapi saat itu dia langsung membantah. Katanya Januari akan sama saja dengan Desember. Bahkan lebih buruk karena temperatur akan semakin dingin disertai hari - hari mendung dan suram. April adalah permulaan yang sebenarnya. Begitu katanya. Ketika segalanya mulai hidup dan tumbuh kembali. Musim semi yang lebih banyak memberikan asupan serotonin dan dopamin lewat matahari yang bersinar lebih lama seharusnya akan meningkatkan kebahagiaan siapapun yang menerimanya. Dan setelah melewati April ketiga di sini, saya pun sepemahaman dengannya. Mungkin hanya sugesti atau hanya kebetulan tapi bulan ini selalu memberikan lebih banyak hari - hari penuh semangat ketimbang Januari, Februari, dan Maret. Saya pun mulai berharap di setiap bulan Desember agar waktu bisa dipercepat ke bulan April. Berharap bahwa seperti layaknya pepohonan yang mulai tumbuh dan berkembang di bulan ini, hidup saya pun akan seperti mereka. I once told myself, "Perhaps my life will be blossoming too in April this year"




6 Comments

  1. Kak, membaca tulisanmu selalu menyenangkan. Semoga seperti apa katamu, bulan April menjadi awal yang baik untuk seterusnya. BTW, foto-fotonya bikin aku auto senyum. Indah banget sih!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ernyyy, kamu selalu ngasih komen yang bikin aku senyum - senyum deh :)) musim semi bikin segalanya terlihat indah yaa!

      Delete
  2. Just as mine also blossoming this April, hehehe.. secercah harapan telah hadir...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yeaaay! Insya Allah yaa mbaa segera keluar tanggal defense :')

      Delete
  3. ya ampun suka banget baca blog kakak, keep blogging ya kak ozuuu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. aww, makasihh! Siap, diusahakan terus blogging hihi ;)

      Delete

Post a Comment