December 10, 2015

#ROH 13 : Good People

Happy people gain happiness from the people they are with. People who reflect the person you want to be. People who you are proud to know. People who you admire. People who bring out the best in you. People who you could tell them things and they won't judge you. 

Diantara sekian banyak nama - nama yang bisa dimasukkan ke dalam kategori "the most influential people who can reproduce PNGA's happiness", ada satu orang yang termasuk di dalamnya, yang sebenarnya enggak memiliki hubungan darah dengan saya dan bukan orang yang bertanggung jawab apalagi berkewajiban mengurus saya. Intinya sih bukan siapa - siapanya saya, tetapi malah termasuk orang yang paling sering direpotkan oleh saya. Seseorang yang sering memberi asupan kebahagiaan ke saya entah dengan kehadirannya yang mampu membuat saya merasa tenang, candaannya yang menghibur dan membuat saya tertawa, serta tindakan dan ucapannya yang dapat menyadarkan saya untuk melihat sisi baik dari diri saya. 


Sekitar delapan tahun yang lalu, saya mengenal Ichsan Fiqri Darmawan, atau biasa dikenal dengan Bocan, pertama kali saat kuliah sarjana di Planologi ITB. Awalnya perkenalan kami hanya sebatas junior dan senior yang memiliki nomor induk mahasiswa (NIM) yang sama. NIM Bocan adalah 15406057, sedangkan saya adalah 15407057. Siapa yang menyangka justru dari kesamaan NIM tersebut berujung pada pengenalan kami yang lebih dalam dan keterikatan yang lebih besar. Bukan hanya menjadi seseorang yang dapat berbagi tawa, tangis, amarah; seseorang yang mengenalkan saya kepada banyak hal - mulai dari pengalaman hidup, pemikiran, orang - orang, hingga tempat makan, musik, kegiatan, film, dan lainnya; seseorang yang menghibur dan menemani saya di kala suka dan duka; seseorang yang mampu menghadapi saya di saat terburuk dan terbaik saya. Tetapi lebih dari itu, Bocan juga telah mengajarkan banyak hal yang belum pernah saya dapatkan sebelumnya. 

Enggak sedikit orang yang menganalogikan saya dengan Bocan seperti langit dan bumi. Sekilas, karakter dan sifat kami berdua terlihat sangat berbeda. Mungkin orang yang enggak terlalu mengenal Bocan akan menganggap saya dan dia sebagai "angel and devil". Awalnya, saya pun termasuk salah satu orang yang termakan dengan "cover"-nya Bocan yang terkesan susah diatur dan selengean. Tapi seiring berjalannya waktu, saya menemukan banyak sisi lain dalam dirinya, yang sangat berbeda dari penampilan luarnya. Sisi yang seringkali membuat saya terkejut, namun diam - diam mengaguminya. Kalau dideskripsikan dalam sebuah kalimat, saya akan menggambarkannya sebagai seorang anak laki - laki polos yang kebaikannya melebihi orang - orang yang terlihat baik sekalipun. Melalui perkenalan saya dengan Bocan jugalah yang kembali menyadarkan saya bahwa kita enggak akan pernah bisa menyimpulkan antara orang baik dan enggak baik hanya dari perilaku dan perbuatan orang tersebut di depan umum. Justru, kebaikan sebenarnya berasal dari yang tidak tampak oleh mata. I can safely say that he's one of the most kind hearted people I have ever met.

Ketulusannya dalam mengerjakan kepentingan orang lain yang dilakukannya secara optimal dan tanpa pamrih, serta sering didahulukan di atas kepentingan dirinya sendiri. Kesabarannya dalam mengontrol emosinya ketika menghadapi suatu kondisi yang enggak pernah ia harapkan untuk terjadi. Kesetiaannya yang begitu besar kepada orang lain, terutama orang - orang yang disayanginya.  Kedewasaannya dalam memaafkan orang - orang yang pernah mengecewakannya, dan bahkan masih mampu bersikap baik kepada mereka. Kejujurannya dalam berkata, bersikap, serta bertindak yang dapat meyakinkan orang lain tanpa merasa takut untuk dibohongi olehnya. Keterbukaannya dalam berpikir membuatnya bisa menerima dan menghargai perbedaan dengan orang - orang yang enggak sependapat dengannya. Ketidakpeduliannya terhadap permasalahan - permasalahan kecil mampu mengeliminasi drama kehidupan. Semua hal - hal itulah, yang baik secara sadar atau enggak, telah diajarkan oleh seorang Ichsan Fiqri Darmawan kepada saya. Hal - hal yang membuat saya semakin kagum dengannya, sekaligus memotivasi saya untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik. I think that's one of the greatest things anyone could do to me.


3 comments: