December 27, 2015

#ROH 17 : Best Friends

Sebenarnya saya bukan termasuk orang yang suka memiliki hubungan yang membuat saya terlalu attached dengan orang lain, sekalipun dengan orang - orang terdekat saya. Apalagi di saat seperti ini, ketika saya akan pergi jauh dalam jangka waktu yang cukup lama, biasanya saya lebih memilih untuk menjaga jarak supaya nantinya enggak semakin merasa sedih dan "berat" ketika harus meninggalkan mereka. Di saat "strategi" ini berhasil diterapkan ke beberapa orang, masih ada beberapa orang lainnya yang justru membuat saya semakin nyaman. Diantara orang - orang yang termasuk di dalam kelompok kedua, salah satunya adalah kedua sahabat kecil saya ini. 



Empat belas tahun yang lalu saya bertemu dengan Fia dan Anna ketika kami, bersama dengan lima anak lainnya, sama - sama terpilih untuk mewakili Indonesia dalam sebuah pertukaran pelajar di Jepang. Menghabiskan waktu di suatu tempat yang sepenuhnya baru bagi kami, terpisah ribuan kilometer dari orang tua masing - masing; sempat mengalami culture shock ketika bertemu dengan ribuan peserta dari berbagai negara, maka enggak mengherankan kalau semua pengalaman itu justru memperat pertemanan kami. Mungkin karena saat itu enggak ada satu pun dari kami yang mengira bahwa pertemanan bocah - bocah yang baru aja lulus dari sekolah dasar, yang dipertemukan hanya dalam waktu beberapa bulan untuk sebuah acara yang berlangsung selama dua minggu, akan bertahan dalam jangka waktu yang panjang; hubungan kami akhirnya terputus begitu program tersebut selesai. 

Namun hal itu enggak berlaku bagi saya, Fia dan Anna. Meskipun persahabatan kami sempat hampir pupus oleh jarak dan kesibukan, terutama saat kami menempuh pendidikan di sekolah yang berbedabertemu dengan lingkungan dan teman baru; mempunyai kesibukan masing - masing; serta ketika saya dan mereka sempat tinggal di kota dan negara yang berbeda. Namun akhirnya kami bisa buktikan bahwa "sahabat kecil" itu benar adanya. Entah melalui telefon, bbm/whatsapp/line grup, menginap bareng, jalan - jalan, hingga memiliki diary bersama yang digilir secara bergantian untuk menjadi tempat bercerita kehidupan satu sama lain di saat kami terpisah jarak dan kesibukan masing - masing; semua itu yang menjadi cara kami supaya tetap bisa menjaga hubungan dan komunikasi kami dengan baik sampai saat ini. Bahkan akhirnya kami jadi bisa mempertemukan kembali dan berkumpul bersama keempat teman kami lainnya yang dulu sempat pergi ke Jepang.

Diantara keempat anak lainnya, Aldi yang paling sering jalan bertiga sama saya, Fia dan Anna (photo by Dika)

Dengan kepribadian yang berbeda - beda dan tumbuh di lingkungan pertemanan yang berbeda juga, sebenarnya sangat memungkinkan bagi saya, Fia dan Anna untuk menjauh. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya, semua perbedaan tersebut membuat kami belajar untuk bisa menerima perbedaan satu sama lain dan menghargainya. Bukan hanya komunikasi dan intensitas bertemu yang meningkat, kami juga lebih sering melakukan sebuah rutinitas yang sudah lama dilakukan dari kecil hingga lulus kuliah, yaitu menginap  di tempat tinggal kami secara bergantian. Menginap bareng menurut kami berarti: menonton film horor atau thriller (padahal kami bertiga sama - sama penakut, tapi entah kenapa kalau nonton film bareng di rumah bawaannya pengen yang serem - serem aja! hahaha), masak bareng, main kartu UNO/remi, mengobrol tentang berbagai hal sampai pagi, dan tentunya adalah makaaaan (secara gitu yaa kami bertiga pada suka makan. Haha!). Rasanya saya enggak pernah enggak merasa sedih ketika selesai menginap bareng dan udah saatnya saya pulang ke rumah atau mereka yang pulang ke rumah mereka masing - masing. Pasti langsung mendadak baper dan sepi gitu rasanya. Enggak heran kalau kegiatan menginap bareng bersama kedua sahabat saya ini menjadi salah satu hal yang bisa banget buat jadi refreshment di saat saya lagi jenuh. Karena itu juga yang membuat saya awalnya ingin menulis judul postingan ini secara lebih spesifik seperti "Sleepover with Besties" atau "Having Quality Time with My Best Friends". Namun setelah dipikir - pikir lagi, rasanya kok kurang pas ya. Karena sebenarnya makna kebahagiaan yang diberikan oleh mereka bukan hanya ketika kami menginap bareng atau menghabiskan waktu bersama dengan melakukan hal - hal menyenangkan. 


Their meanings are way beyond that. Mereka telah memberikan salah satu hal paling berharga, yaitu sebuah persahabatan yang tulus. Mereka hadir bukan hanya ketika ingin bersenang - senang, tetapi juga ketika saya sedang sedih, takut dan kesepian. Mereka enggak ragu - ragu untuk menjadi "bodyguard" saya di saat saya ingin berlindung, menunda untuk pulang ke rumah mereka hanya demi menemani saya yang sedang sendirian di apartemen, menghibur ketika saya sedang merasa sangat tertekan dengan pekerjaan, menyadarkan kesalahan saya tanpa menghakimi. Mereka mengerti sisi introvert saya dan enggak pernah memaksa saya untuk menceritakan sesuatu hingga saya sudah siap. Mereka mengerti bahwa saya sulit untuk menolak, sehingga meyakinkan berkali - kali bahwa saya melakukan sesuatu bukan karena rasa enggak enak, tapi karena keinginan saya sendiri. Dan masih banyak hal lainnya tentang diri saya yang sudah dipahami oleh mereka, yang terkadang belum dapat dipahami oleh orang lain dan bahkan saya sendiri. 

Mereka juga memberikan persahabatan yang penuh warna dan tawa. Hal yang membedakan mereka dengan kebanyakan teman perempuan saya lainnya adalah saya bisa melakukan banyak hal bersama mereka. Bukan cuma bisa diajak jalan - jalan ke mall, nyobain kafe baru, atau karaokean sampai berjam - jam; tetapi yang lebih pentingnya lagi, Anna dan Fia bisa banget buat diajak berpetualang bareng seperti backpacking ke beberapa kota di Indonesia, ngebolang ke pasar subuh di Senen, naik kapal Ferry di kelas ekonomi yang tidurnya sampai harus sebelahan sama kaki orang lain, trekking buat mengejar sunrise ke salah satu gunung yang ada di Jogja, dan masih banyaaaaak banget cerita perjalanan seru saya bersama mereka yang enggak bisa dijelaskan satu persatu disini. Oh iya, kedua sahabat saya ini juga paling sering membuat saya ketawa, entah itu berasal dari bakat natural mereka yang cocok banget jadi pelawak, maupun hal - hal "luar biasa" yang terjadi saat kami jalan bertiga. Dengan bersama mereka juga membuat saya jadi enggak malu buat melakukan sesuatu yang sebelumnya enggak akan saya lakukan. And I can't think of any greater happiness than being around with people who can make me laugh so hard and make ordinary things become extraordinary

Thank you Fi, Na, for fulfilling my childhood dreams and giving me one of the best things in life: a true friendship that lasts longer than others. Semoga rencana kita di tahun 2017 bisa terwujud yaa! I luph youuuu! :3

No comments:

Post a Comment